Satu Jenazah Korban Gempa Cianjur Kembali Ditemukan

JawaPos.com–Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan, satu jenazah korban gempa Cianjur ditemukan tim SAR gabungan pada hari ke-10 proses pencarian, Rabu (30/11) petang. Sehingga, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 328 orang.

”Jadi hari ini (30/11) ada penambahan penemuan korban meninggal tertimbun longsor satu orang, sehingga korban meninggal dunia bertambah satu menjadi 328 jiwa,” kata Herman seperti dilansir dari Antara di Pendopo Kantor Bupati Cianjur, Rabu (30/11).

Untuk korban hilang yang masih dalam proses pencarian pada hari ke-10, lanjut dia, sebanyak 12 orang. Sedangkan untuk korban luka akibat gempa Cianjur sebanyak 595 orang dan korban luka berat sebanyak 61 orang yang masih dirawat di rumah sakit.

Pada hari ke-10, bupati juga sudah mengeluarkan surat terkait pengungsian kepada camat dan kepala desa sudah bisa pulang ke rumahnya masing-masing. Dengan catatan rumahnya tidak berbahaya atau masih layak dihuni.

”Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut aktivitas gempa bumi di wilayah Cianjur terus melemah dan frekuensinya semakin jarang. Warga sudah dapat kembali ke rumah masing-masing, dengan catatan kondisi bangunan rumahnya tidak mengalami kerusakan struktur,” ujar Herman Suherman.

Bupati Herman memutuskan, proses pencarian korban gempa bumi di Kabupaten Cianjur, yang seharusnya berakhir pada Rabu (30/11), diperpanjang selama tiga hari ke depan atau hingga Sabtu (3/12). ”Kami Kabupaten Cianjur telah membuat usul penambahan waktu tiga hari ke depan. Mohon doanya, mudah-mudahan dalam waktu tiga hari ini. Mohon doa agar cuaca baik dan Basarnas bisa menemukan warga yang hilang sebanyak 12 jiwa,” kata Herman Suherman.

Perpanjangan waktu pencarian korban gempa Cianjur itu diputuskan karena hingga Rabu (30/11), masih ada 12 warga hilang yang belum ditemukan.

Bupati Cianjur mengatakan, surat usul perpanjangan proses pencarian jenazah korban gempa Cianjur telah ditandatangani. ”Sudah saya tanda tangani, mulai 1 sampai 3 Desember. Tapi kalau besok yang 12 orang ini ketemu, perpanjangan dihentikan. Tapi kalau satu hari, dua hari belum ketemu dilanjutkan sampai hari ketiga,” tutur Herman.

UPDATE Gempa Cianjur: 328 Meninggal, 12 Masih Hilang, 109.386 Mengungsi

KOMPAS.com – Penanganan dan pencarian korban gempa Cianjur terus dilakukan hingga perpanjangan pertama yang berakhir pada Rabu (30/11/2022).

Sejauh ini, pos komando (posko) Penanganan Darurat Bencana Gempa Cianjur mencatat sebanyak 328 orang meninggal dan 12 lainnya masih dinyatakan hilang dan masuk Daftar Pencarian (DP).

Untuk menyelesaikan Daftar Pencarian tersebut, Posko memutuskan untuk memperpanjang masa pencarian korban hilang selama 3 hari, terhitung mulai 1-3 Desember 2022.

Perpanjangan daftar pencarian tersebut bukanlah tanpa asalan, terlebih ahli waris masih mengharapkan ditemukannya korban yang masih hilang.

Hal itu diungkapkan oleh Bupati Cianjur Herman Suherman dalam keterangan pers, dikutip dari rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (30/11/2022) malam.

“Kami Kabupaten Cianjur telah membuat usulan penambahan waktu tiga hari ke depan,” kata dia.

Selain menyampaikan perihal update pencarian korban, Bupati Cianjur juga kembali menyampaikan imbauan untuk warga yang rumahnya tidak rusak dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Segera secara bertahap, warga dapat kembali ke rumah, tentunya yang rumahnya tidak rusak,” katanya lagi.

Sedangkan apabila rumahnya rusak ringan hingga sedang, warga dapat melihat kondisinya dan segera melakukan perbaikan.

Data sementara untuk rumah rusak sebanyak 17.864 unit hingga Rabu (30/11/2022) pukul 15.00 WIB.

Perinciannya yakni rusak berat 4.376 unit, rusak sedang 5.306 unit, dan rusak ringan 8.182 unit.

Saat ini, pihaknya telah menyiapkan 3 lahan yang akan dimanfaatkan sebagai relokasi warga terdampak gempa.

109.386 warga masih mengungsi

Daerah relokasi tersebut imbuhnya berada di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Cianjur.

“Lahan di Desa Sirnagalih dipilih setelah adanya rekomendasi dari BMKG terkait keamanan terhadap potensi baaya baik potensi bahaya geologi maupun hidrometeorologi,” paparnya.

Luas lahan relokasi yang dipersiapkan di Sirnagalih mencapai 2,5 hektar dengan peruntukan 200 unit rumah tipe 36.

Di lain pihak, perwakilan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP)/Basarnas wilayah Jawa Barat Jumaril juga menyatakan kesiapannya, terutama terkait sumber daya guna memperpanjang pencarian korban hilang.

Sementara itu, operasi pencarian pada Rabu (30/11/2022), petugas gabungan berhasil mengevakuasi satu korban meninggal dunia di Kampung Cicadas.

Diketahui, pada Rabu (30/11/2022) tim memfokuskan pencarian di tiga lokasi yakni di wilayah Cijedil, warung Shinta, dan Kampung Cicadas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Dari hasil pendataan yang dilakukan, warga yang masih mengungsi mencapai 109.386 jiwa. Data tersebut diambil pada Rabu (30/11/2022) pukul 15.00 WIB, dan tersebar di 451 titik, dengan perincian 351 di pos pengungsian dan sisanya mandiri.

Gempa Cianjur: Setidaknya 162 orang meninggal, ‘sebagian besar korban anak-anak’, pemerintah prioritaskan penggalian di reruntuhan bangunan

Sebagian besar korban meninggal akibat gempa di Cianjur, Jabar, diperkirakan adalah anak-anak.

“Kebetulan waktunya [gempa] bersamaan [anak-anak] mengaji di madrasah diniyah dan masjid-masjid,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy, Selasa (22/11).

Hal itu disampaikan Muhadjir usai menggelar rapat koordinasi dengan berbagai toritas terkait di Cianjur, Jabar.

Adapun jumlah korban meninggal, Muhadjir mengakui “belum bisa dipastikan”.

Namun, “untuk angka sementara, sekitar 162 orang meninggal dunia,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyatakan setidaknya 162 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka.

Hal itu disampaikan Ridwan Kamil melalui akun Twitter pada Selasa (22/11) dini hari.

Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/11) siang, Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, korban meninggal dunia 103 jiwa di Kabupaten Cianjur.

Adapun korban luka-luka 377 orang di Kabupaten Cianjur, satu orang di Kabupaten Bandung.

Lainnya, satu orang mengalami luka-luka berat dan sembilan orang terluka ringan di Kabupaten Sukabumi. Adapun dua orang luka ringan di Kabupaten Bogor.

Disebutkan, warga mengungsi bertambah menjadi 7.060 jiwa yang tersebar di beberapa titik.

Sementara dilaporkan ada 3.075 rumah rusak ringan, 33 rumah rusak sedang, serta 59 rumah rusak berat.

Mengapa gempa terus terjadi di Indonesia?
Gempa Afghanistan, Aceh, Sulteng, Lombok dan gempa-gempa mematikan di dunia dalam satu abad terakhir
Prioritas selamatkan korban dari timbunan
Sebanyak 2.345 rumah rusak berat dan sekitar 13.400 warga mengungsi akibat gempa di Cianjur, Jawa Barat.

Untuk penanganan pascagempa hari ini, Selasa (22/11), Menteri Muhadjir mengatakan akan memprioritaskan penyelamatan korban yang kemungkinan masih tertimbun reruntuhan bangunan karena banyak bangunan yang hancur akibat gempa.

“Basarnas sudah menyanggupi hari ini timbunan-timbunan yang diduga kuat ada korban, terutama korban hidup, itu akan diselesaikan hari ini. Dengan demikian maka untuk korban yang masih hidup mudah-mudahan masih bisa diselamatkan secepat mungkin,” kata Muhadjir.

Selain upaya penyelamatan korban dengan menggali timbunan, pemerintah juga berupaya membuka akses jalan yang tertutup longsor. Muhadjir mengatakan ada dua jalan yang yang terisolasi, yaitu satu jalan nasional dan jalan kabupaten.

Pembukaan akses jalan itu ditargetkan selesai hari ini, sehingga kendaraan bisa kembali melintas.

“Kapolda sudah janji, untuk jalan nasional itu tiga setengah jam, sehingga tiga setengah jam ke depan jalan itu sudah bisa dilewati. Begitu juga jalur untuk kabupaten, kita usahakan ditangani secara simultan,” ujar Muhadjir.

Dengan target itu, kemungkinan akses jalan yang tertutup akan bisa dilalui kembali pada siang hari, setelah pukul 12.00 siang.

“Ada satu jembatan yang putus, itu akan segera saya minta, saya informasikan kepada menteri PUPR utuk segera dibangun jembatan darurat,” tambah Muhadjir.

Sementara akses jalan darat masih tertutup timbunan longsor, BNPB sudah menyiapkan satu unit helikopter untuk mendistribusikan bantuan. Dari informasi yang diterima BNPB, ada dua desa yang masih terisolasi.

“Masyarakat yang mungkin masih berada di tempat-tempat terisolir, itu bisa kita dorong untuk kebutuhan logistiknya,” kata Kepala BNPB Suharyanto.

Dia juga mengimbau masyakarat agar tetap tenang dalam menghadapi musibah ini dan tidak perlu mengkhawatirkan kerugian materi karena pemerintah akan membantu.

“Bagi masyarakat yang rumahnya rusak berat, itu akan diganti oleh pemerintah. Jadi selesai tanggap darurat, masuk tahap rehabilitasi-rekonstruksi, baru membangun rumah-rumah masyarakat yang rusak berat,” uajr Suharyanto.

Sementara itu untuk fasilitas umum lainnya, seperti sekolah dan masjid, itu juga akan dibangun kembali oleh kementerian terkait.

‘Masya Allah, ini apa?’ – kisah warga yang terdampak gempa
Salah satu warga yang terdampak gempa di Kelurahan Bojongherang mengaku masih kaget sekaligus was-was akan potensi gempa susulan.

Eneng Rosidah, 58, sedang menelepon keluarganya ketika gempa berkekuatan 5,6 itu mengguncang.

“Lagi ngobrol gitu, ‘masya Allah ini apa?’ Kaget ada yang jatuh dari dinding. Di belakang perabotan pada jatuh, astaghfirullah. Terus [berlindung] di bawah meja, takut ada yang jatuh dari atas. Mau lari keluar, takut keburu jatuh di pikiran saya. Gemetaran sampai dua jam, soalnya saya sudah tua, sudah lemah,” jelas Eneng.

Di Bojongherang, Eneng mengatakan tidak ada korban jiwa. Namun sejumlah rumah warga rusak ringan hingga rusak berat akibat guncangan gempa. Rumah Eneng adalah salah satu yang rusak ringan.

Tidak lama setelah gempa, listrik pun mati hingga malam hari. Setelahnya aliran air juga ikut mati.

Warga kini harus melewati malam pertama pasca-gempa dengan kondisi gelap gulita.

Gempa Cianjur
Selain itu, Eneng mengatakan banyak warga memilih untuk tidur di luar rumah karena was-was akan gempa susulan.

“Orang-orang pada di depan rumah, di halaman rumah, sudah pada ngungsi di depan, takut ada susulan, makanya.. yah orang-orang ketakutan,” kata Eneng kepada BBC News Indonesia.

Hingga Senin (21/11) malam sekitar pukul 19.00 WIB, BMKG mencatat telah terjadi 62 kali gempa susulan, meski instensitas gempa susulan semakin kecil.

BBC News Indonesia juga telah menghubungi salah satu warga di Desa Cugenang, salah satu desa yang paling terdampak parah oleh gempa. Namun dia mengatakan belum bisa berbicara karena “situasinya masih sangat darurat”.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sudah mengatakan angka korban diperkirakan bertambah.

Pada Senin siang, jumlah yang meninggal 56 orang.

“Karena masih banyak warga terperangkap di tempat-tempat kejadian, kita asumsikan yang meninggal dan luka-luka pun akan bertambah seiring waktu,” kata Ridwan dalam kunjungannya ke Cianjur, dikutip dari Kompas TV.

Ridwan menggambarkan situasi di lapangan “masih chaos” dan warga di tempat kejadian “masih dilanda ketakutan” sehingga penanganan darurat banyak dilakukan di luar ruangan.

“Dijahit kepalanya, dijahit kakinya dilakukan di lapangan. Tindakan menormalisasi, ada yang stres, menangis, ada yang kepalanya baru dijahit dan sebagainya,” jelas Ridwan.

Dikutip dari Detik.com, pantauan di lokasi menunjukkan bahwa korban gempa terus berdatangan ke RSUD Cianjur. Instalasi Gawat Darurat (IGD) disebut kewalahan menampung pasien.

Para pasien digambarkan terpaksa menjalani perawatan di halaman rumah sakit.

“Rata-rata korban mengalami luka di bagian kepala hingga tangan. Tidak sedikit korban merupakan anak-anak,” tulis laporan itu dikutip dari Detik.com pada Senin (21/11).

Aliran listrik dan akses telekomunikasi di sejumlah lokasi terdampak juga sempat padam, meski di lokasi penanganan medis sudah mulai menyala.

Sejumlah ruas jalan, salah satunya jalur akses antara Kota Cianjur dengan Puncak pun tertutup longsor dan pohon tumbang.

Ridwan Kamil pun mengatakan telah meminta TNI-Polri memberikan data terkait dampak gempa di banyak daerah di Cianjur “yang terpencil”.

Juru bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Endra Atmawidjaja mengatakan sedang memobilisasi personel dan alat berat ke lokasi untuk membersihkan akses jalan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan korban meninggal banyak dilaporkan di tiga kecamatan, yakni Cilaku, Cianjur, dan Cugenang.

Sejumlah bangunan juga rusak, mulai dari rumah, pondok pesantren, gedung pemerintahan, sekolah, hingga RSUD Cianjur.

BNPB menyatakan akan segera mengaktifkan posko penanganan bencana dan membawa logistik untuk para pengungsi.

“Kalau kita lihat kerusakannya cukup masif, berdasarkan pengalaman gempa sebelumnya, dapat kami perkirakan masyarakat yang harus mengungsi cukup banyak sehingga kami akan siapkan logistik seperlunya, tenda-tenda, dan untuk aktifkan posko kami akan dorong anggaran dana siap pakai,” jelas Suharyanto.

Gempa bumi bermagnitudo 5,6 terjadi pada Senin (21/11) pukul 13.21 WIB.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan pusat gempa berlokasi di Sukalarang, Sukabumi, Jawa Barat pada kedalaman 11 kilometer.

Menurut BMKG, gempa yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar Cimandiri.

Karakter gempa dangkal ini lah yang menurut BMKG membuat dampaknya begitu merusak.

Getaran gempa terasa di wilayah Cianjur, Garut, Sukabumi, Bandung, hingga Jakarta.

Hingga pukul 15.00 WIB, BMKG mencatat telah terjadi 15 kali gempa susulan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga mengingatkan bahaya ikutan berupa longsor akibat guncangan gempa di tengah musim hujan.

“Kami mohon waspadai juga apabila sedang hujan, mohon tidak berada di dekat lereng atau menghindari dari bantaran sungai yang dikhawatirkan berpotensi mengalami banjir bandang,” kata Dwikorita.

UPDATE Korban Gempa Cianjur: 162 Orang Meninggal, Mayoritas Anak-anak

KOMPAs.com – Sebanyak 162 orang meninggal dunia akibat gempa yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022). 

Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan anak-anak.

Masih dari data yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, disebutkan pula ada 326 warga luka-luka dan 13.784 orang mengungsi. Lokasi pengungsian tersebar 14 titik.

“Tercatat di call center BPBD ada 162 yang meninggal dunia. Mayoritas yang meninggal dunia adalah anak-anak, kita sangat prihatin,” ucap Emil, sapaan akrabnya, di Pendopo Bupati Cianjur, Senin malam pukul 21.30 WIB.

Emil menyebut, banyak korban anak karena saat kejadian banyak siswa sekolah yang sedang belajar di madrasah atau pesantren.

Emil belum mendapat data pasti berapa jumlah anak yang menjadi korban gempa bermagnitudo 5,6 itu.

“Nah, per malam ini kita masih mengklasifikasi persentasenya, tapi laporan di lapangan selalu menyebutkan secara kualitatif mayoritas anak-anak,” tuturnya.

Sementara rumah rusak dengan skala 60-100 persen berjumlah 2.345 unit.

Selain itu ada 2-3 lokasi jalan yang terisolasi. Sementara jalan nasional dilaporkan sudah kembali normal.

Namun, pihaknya belum mendapat laporan lebih lanjut terkait lima mobil yang terperangkap.

Dilaporkan juga dua gardu listrik padam dan hanya satu yang berfungsi.

Terasa hingga Jakarta, Gempa Sukabumi Hari Ini Dipicu Sesar Cimandiri

Suara.com – Gempa Sukabumi yang terjadi Senin siang (21/11/2022) dan terasa hingga Jakarta dan Bandung rupanya dipicu oleh aktivias sesar Cimandiri.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menjelaskan bahwa gempa terkini itu berpusat di Sukalarang, Sukabumi, Jawa Barat itu adalah gempa dangkal dari Sesar Cimandiri.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar Cimandiri,” terang Daryono.

Gempa itu sendiri berkekuatan 5,7 dengan kedalaman 11 km. Episenter gempa terletak pada koordinat 6,86 derajat Lintang Selatan dan 107,01 derajat Bujur Timur atau tepatnya berlokasi di darat wilayah Sukalarang.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip).

Gempa ini, lanjut Daryono, terasa kuat di Kota Cianjur, Garut, Cimahi, Lembang, Bandung, Bogor, Rangkasbitung, Jakarta, Depok hingga Tangerang Selatan.

Hingga pukul 13.50 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 9 aktivitas gempabumi susulan dengan magnitudo terbesar 4.0.

Belum diketahui adanya korban baik manusia maupun material akibat gempa Sukabumi ini. Meski demikian di media sosial sudah ada sejumlah video yang menggambarkan bangunan-bangunan rubuh di daerah Cianjur, yang masih perlu diperiksa kebenarannya.

 

Detik-detik Gempa Cianjur Bikin Warga Sukabumi Panik

Cianjur – Gempa 5,6 Magnitudo Guncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Bahkan guncangan gempa darat tersebut terasa hingga beberapa daerah di Jakarta Barat dan Jakarta.

Informasi yang dihimpun detikJabar, gempa yang terjadi pada pukul 13.21 WIB itu berpusat di 6.84 LS-107.05 BT dengan kedalaman pusat gempa 10 kilometer.

“Gempa ini berpusat di Cianjur utara, titiknya sama dengan tiga gempa semalam. Ini gempa susulan yang semalam,” ujar Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur Rudi Labis, Senin (21/11/2022).

Pantauan detikJabar di Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, gempa itu membuat masyarakat panik. Sopir angkutan kota (angkot), orang tua dan anak-anak berhamburan di tengah jalan.

“Keluar, keluar, gempa,” seru warga.

Salah satu warga Kabandungan, Juandi (60) mengatakan, gempa itu dirasakan cukup besar. Mulanya ia sedang membeli pakan burung di toko terdekat, kemudian tembok toko terlihat bergerak kencang.

“Lagi pesan pakan burung, kelihatan tembok itu bergerak ke atas ke bawah. Dilihat keluar pada ramai, ada gempa gede banget,” kata Juandi.

Dia berencana akan langsung pulang ke rumah dan memastikan keluarganya selamat tak terdampak gempa. “Belum nanya kabar orang rumah, sekarang saya mau langsung pulang ke rumah,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala BPBD Kota Sukabumi Imran Wardhani mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih memonitoring wilayah dengan menerjunkan tim.

“Sementara kita sedang meluncurkan tim ke berbagai lokasi untuk monitoring. Masyarakat agar tetap tenang dan diimbau tidak panik, pastikan mendapatkan informasi di kanal resmi. Cek lokasi bangunan, apabila ada retakan maka harus diberikan penguatan,” kata Imran.

(yum/yum)

BPBD Sebut Ada Peran Sumur Resapan Kala DKI Tak Banjir Saat Masih Hujan

Jakarta –  Hujan terus mengguyur Jakarta sejak dini hari hingga jelang siang ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengklaim belum ada banjir sampai saat ini, kecuali genangan kurang dari 40 cm.

BPBD DKI menyampaikan informasi terbaru pada Kamis (17/11/2022) per pukul 09.55 WIB. Kondisi hujan mengakibatkan kenaikan status siaga Pos Cipinang Hulu menjadi Siaga 3 (Waspada) serta genangan di beberapa titik.

“BPBD mencatat saat ini terdapat dua ruas jalan tergenang dan 2 RT atau 0,007 persen dari 30.470 RT yang ada di wilayah DKI Jakarta,” kata Kepala BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji dalam keterangan tertulis.

Adapun data wilayah terdampak sebagai berikut:

Jakarta Barat terdapat 2 RT yang terdiri dari:
Kelurahan Kembangan Utara
– Jumlah: 1 RT
– Ketinggian: 25 Cm
– Penyebab: Curah hujan tinggi

Kelurahan Joglo
– Jumlah: 1 RT
– Ketinggian: 20 Cm
– Penyebab: Curah hujan tinggi

Jalan Tergenang terdapat 2 ruas jalan:
1. Jl Strategi Raya, Kel. Joglo, Kec. Kembangan, Jakarta Barat
Ketinggian: 20 cm
2. Jl Hiu, Kel. Penjaringan, Kec. Penjaringan. Jakarta Utara
Ketinggian: 25 cm

Sumur Resapan Punya Andil

Untuk menangani dan mencegah banjir BPBD DKI mengerahkan personel memonitor setiap lokasi, berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga DKI, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI. Penanganan dilakukan dengan penyedotan genangan dan memastikan tali air berfungsi dengan baik.

“Genangan ditargetkan surut dalam waktu cepat,” kata Isnawa.

Mantan Wakil Wali Kota Jakarta Selatan ini menjelaskan ada banyak faktor yang punya andil mencegah banjir meski Jakarta diguyur hujan sejak dini hari. Kebetulan, hujan hari ini tidak terlalu deras meski durasinya panjang sampai sekarang. Sumur resapan alias drainase vertikal bisa menyerap air sehingga risiko banjir bisa diminimalkan.

“Yang pasti ribuan vertical drainage berfungsi, tali air berfungsi,” kata Isnawa. Dia menjelaskan fungsi sumur resapan ada dua, yakni menjaga air tanah sekaligus meminimalkan potensi banjir dan genangan.

Selain itu, dia juga menyebut titik banjir menjadi lebih diminimalkan berkat pengerukan kali atau waduk, keberadaan ruang limpah sungai, sodetan, penurapan, dan pembersihan saluran air. Pasukan warna-warni juga berjasa, yakni pasukan oranye (PPSU), pasukan biru (Dinas SDA), pasukan kuning (Dinas Bina Marga), hingga pasukan hijau (Dinas Pertamanan dan Hutan Kota).

“Kita berterima kasih sama PPSU, sama petugas-petugas yang rutin merawat-membersihkan saluran got-got dan lain-lain sehingga air tidak ada hambatan,” kata Isnawa.

316 rumah warga tergenang akibat banjir di Mukomuko

Mukomuko (ANTARA) – Banjir telah menyebabkan 316 rumah warga tergenang di beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mukomuko Ramdani di Mukomuko, Jumat, banjir menggenangi permukiman warga di wilayah Kecamatan Ipuh, Kecamatan Lubuk Pinang, Kecamatan Air Manjuto, Kecamatan XIV Koto, dan Kecamatan Air Rami.

Ia mengatakan bahwa sebagian warga yang terdampak banjir mengungsi dan sebagian lagi memilih bertahan di rumah mereka.

Menurut dia, tim BPBD sudah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan pemerintah desa untuk mendata dampak banjir dan membantu penanganan banjir.

Tim BPBD, TNI, kepolisian, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa, ia melanjutkan, juga sudah turun ke lokasi banjir untuk membantu warga yang terdampak bencana.

Ramdani meminta warga tetap waspada karena hujan masih turun dan bisa memperparah keadaan.

Ribuan Jiwa Terdampak Banjir, Palangka Raya Tetapkan Status Tanggap Darurat

Foto udara area permukiman warga yang terendam banjir di Jalan Anoi, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (17/11/2022). Pemerintah Kota Palangka Raya menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama 14 hari ke depan karena sebanyak 17 kelurahan di kota itu terendam banjir akibat intensitas hujan yang tinggi sehingga luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan terus meluas. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/foc.

Palangka Raya – Sebanyak 17 kelurahan di Kota Palangka Raya terendam banjir. Pemkot menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama 14 hari.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, banjir luapan Sungai Kahayan yang dipicu oleh faktor cuaca tersebut merendam 1.733 unit rumah dan mengakibatkan 2.388 kepala keluarga (KK) serta 8.544 jiwa di kota itu terdampak banjir. 

Pemerintah Kota Palangka Raya menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama 14 hari ke depan karena sebanyak 17 kelurahan di kota itu terendam banjir akibat intensitas hujan yang tinggi sehingga luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan terus meluas.  

COVID-19 Meroket, Pakar Sebut Belum Perlu Naikkan Level PPKM

Liputan6.com, Jakarta – Perkembangan kasus COVID-19 Tanah Air terus menanjak dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan penambahan kasus baru COVID-19 akhir-akhir ini di rentang 4.000 – 8.000, seperti kasus baru tanggal 15 November yang menembus angka 7.893 dan 16 November 2022 di angka 8.486.

Walau ada kenaikan kasus baru COVID-19, Guru Besar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Amin Soebandrio menilai Level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) belum perlu dinaikkan.

Dalam hal ini, PPKM Level 1 di seluruh wilayah Indonesia, yang diperpanjang 8 November sampai dengan 21 November 2022 untuk Jawa – Bali serta Luar Jawa – Bali akan berlaku mulai tanggal 8 November sampai 5 Desember 2022 dapat terus dilanjutkan.

“Menjawab pertanyaan, apakah perlu naik Level PPKM yang lebih tinggi? Saya kira tidak. Karena kita lihat di rumah sakit juga kita mengamati kunjungan di Instalasi Gawat Darurat (IGD)-nya terkait dengan COVID-19 ini sudah sangat menurun,” terang Amin saat diskusi ‘Perkembangan Pandemi di Indonesia dan Gejala pada Pasien COVID-19’ yang disiarkan dari Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta pada Rabu, 16 November 2022.

“Kemudian ruang-ruang perawatan untuk COVID-19 juga di rumah sakit-rumah sakit sudah sangat dikurangi. Bahkan beberapa rumah sakit kita sudah meniadakan (ruang perawatan COVID-19) ya.”

Berdasarkan data keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Ratio/BOR) COVID-19 yang dihimpun Satgas COVID-19 per 10 November 2022, BOR tingkat nasional saat ini di angka 10 persen dengan 57.000 tempat tidur tersedia.

Ada lima provinsi dengan persentase BOR COVID-19 tertinggi, yaitu Sumatera Selatan di angka 22,83 persen, Yogyakarta di angka 20,45 persen, Sulawesi Barat di angka 18,95 persen, Kalimantan Timur di angka 16,98 persen, dan Jawa timur di angka 15,19 persen.

sumber: https://www.liputan6.com