Gempa 5,0 SR Guncang Lampung

Gempa 5,0 SR Guncang Lampung

13 September 2011 | 08:57 wib

Provinsi Lampung diguncang gempa bumi berkekuatan 5 pada skala Richter (SR) Selasa (13/9) dinihari sekitar 01.24 WIB. Informasi dari situs BMKG, pusat gempa berada di lepas pantai sebelah barat daya kota Lampung dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Adapun, posisi gempa berada pada 6.28 lintang selatan – 103.79 bujur timur, dan kedalaman 10 kilometer. Lokasi pusat gempa bumi tersebut berjarak 189 kilometer sebelah barat daya ibu kota Provinsi Lampung, Bandarlampung serta berjarak sekitar 337 kilometer sebelah barat daya Jakarta.

Pusat gempa bumi tersebut juga bejarak 171 kilometer di sebelah tenggara Bintuhan, Bengkulu.

Sumber: Jakarta, CyberNews.
( Andika Primasiwi / CN26 / JBSM )

Kekeringan Landa Ratusan Hektare Sawah di Trenggalek

Kekeringan Landa Ratusan Hektare Sawah di Trenggalek



TRENGGALEK – Ratusan hektare lahan pertanian di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, saat ini dilaporkan ikut terdampak bencana kekeringan yang melanda kawasan tersebut sejak akhir bulan Juli lalu.

“Ya, dampak langsung musim kemarau sudah berlangsung hampir sebulan lebih. Saat ini saluran irigasi debit airnya sangat kecil, bahkan untuk bisa mendapatkan air saja, kami terpaksa harus melakukannya secara bergilir, itupun tidak tentu semua kebagian,” kata salah seorang petani di Kecamatan Gandusari, Djuwari, Selasa (13/9).

Ia menyebut, dampak langsung bagi kalangan petani akibat bahaya kekeringan yang mulai melanda daerahnya selama beberapa pekan terakhir, adalah sulitnya memenuhi kebutuhan air sawah lantaran banyak aliran sungai desa/irigasi yang mengering.

Untuk mengatasinya, sebagian besar petani terpaksa menggunakan mesin pompa disel untuk menyedot air dari dalam tanah. Tindakan darurat yang dilakukan kebanyakan petani di dataran itu adalah untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman produksi mereka yang terlanjur disemai.

Namun, konsekwensi dari penggunaan alat penyedot air bawah tanah tersebut, ongkos produksi petani menjadi membengkak/berlipat. Jika dalam kondisi normal ongkos produksi keseluruhan hanya dikisaran Rp2 juta hingga Rp5 juta, misalnya, pada musim kemarau biayanya bisa berlipat menjadi Rp7 juta hingga Rp10 juta.

“Kalau dibandingkan antara yang menggunakan saluran irigasi dengan yang menggunakan mesin, ya tentu jauh lebih mahal pakai pompa, karena butuh uang sewa dan lain sebagainya,” tutur Djuwari.

Dikonfirmasi menganai fakta kekeringan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Disperhutbun) Kabupaten Trenggalek, Joko Surono membenar kondisi tersebut. Ia bahkan menyebutkan bahwa potensi kekeringan lahan pertanian di wilayahnya diprediksi akan menyebar ke seluruh kecamatan.

“Semua (14) kecamatan di daerah ini rawan kekeringan. Mayoritas sawah di Trenggalek ini adalah sawah tadah hujan, sehingga ketika musim kemarau tiba, hampir dipastikan banyak yang kesulitan air,” terang Joko.

Untuk meminimalisasi dampak kekeringan tersebut, kata Joko Surono, saat ini pihaknya mulai membantu petani dengan mengirimkan sejumlah mesin pompa disel.

“Untuk sumber air yang masih ada airnya kami coba bantu dengan mesin pompa, tapi jumlahnya tidak banyak. Selain itu, petani juga sudah kami imbau agar pada musim kemarau ini untuk mengganti jenis tanamannya dari padi ke palawija. Hal ini sekaligus untuk memutus mata rantai serangan hama wereng yang sempat mewabah beberapa waktu lalu,” imbuhnya.

Sementara itu, bagi petani yang tetap ingin menanam padi dianjurkan untuk menerapkan metode tanam padi SRI (“system of rice intensification”), yakni dengan menggunakan pupuk organik, seperti pelepah pisang, sekam, jerami, pupuk kandang, serta pupuk organik lainnya.

“Sistem SRI ini sudah kami sosialisasikan dan masyarakat saya yakin juga banyak yang mengetahui, dengan pola tanam SRI ini akan mengurangi kebutuhan tanaman terhadap air,” terang Joko Surono.

Joko berharap, produksi padi dan tanaman lainnya di Kabupaten Trenggalek tahun ini tidak mengalami penurunan yang signifikan, meskipun terjadi kekeringan serta seranga hama wereng di sejumlah kecamatan.(Ant)

Sumber: Sinar Harapan

Banjir di India Tewaskan 16 Orang

Banjir di India Tewaskan 16 Orang

Senin, 12 September 2011 14:03
NEW DELHI– Jutaan warga kehilangan tempat tinggalnya dan 16 orang tewas dalam banjir bandang di negara bagian Orissa, India.

Hujan deras menghantam sekira 2.600 desa yang berada di 19 distrik di Orissa. Hujan deras tersebut akhirnya memicu banjir. Beberapa sungai termasuk di antaranya Sungai Mahanadi meluap dan airnya membanjiri jalanan di kota. Sebanyak 61 ribu warga akhirnya dievakuai.

“Kapal Angkatan Laut dari Kota Vishakhapatnam dan helikopter melakukan operasi gabungan untuk mengirimkan bantuan-bantuan,” ujar Komisaris Bantuan Khusus Mohapatra, seperti dikutip BBC, Senin (12/9/2011).

Helikopter mengangkut bahan pangan dan hampir sebanyak 1.400 kapal membawa bantuan lainnya untuk para korban bencana banjir tersebut.

Para pejabat di India berharap situasi di negaranya akan segera membaik setelah hujan deras ini berakhir dan tingkat ketinggian air di Sungai Mahanadai mulai menurun. Akibat listrik padam, warga India juga tidak dapat memasak selama dua hari dan mereka sangat mengandalkan bantuan tersebut.

Sementara itu di Pakistan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah turun tangan dalam mengatasi banjir yang melanda bagian selatan negara tersebut.

Lebih dari 130 orang dikabarkan sudah tewas dalam banjir di Provinsi Sindh, Pakistan. Badan PBB untuk urusan anak-anak (UNICEF) menyatkaan, sekira 2,5 juta anak-anak di Pakistan menjadi korban banjir.

Saat ini, Pakistan juga masih memulihkan diri akibat bencana banjir tahun lalu. Bantuan akan sangat dibutuhkan oleh Pakistan sebelum situasi menjadi semakin buruk.(rhs)

USGS: Gempa 6,0 SR Gempa Vanuatu

USGS: Gempa 6,0 SR Gempa Vanuatu

Hong Kong: Gempa dengan kekuatan 6,0 pada skala Richter mengguncang lepas pantai Vanuatu, Senin (12/9)  pukul 07.37 waktu Beijing atau 06.37 WIB). Begitulah yang berhasil terpantau U.S. Geological Survey.

Gempa berpusat di sebelah barat-daya ibu kota Vauatu, Port-Villa, atau terletak 18,1386 derajat Lintang Selatan dan 167,8999 derajat Bujur Timur dengan kedalaman satu kilometer.

Continue reading

Kebakaran Lereng Gunung Sumbing

Kebakaran hutan jati terjadi di dua daerah di Indonesia. Kebakaran tersebut terjadi akibat munculnya titik api karena musim kemarau. Senin (12/9) dini hari, kebakaran terjadi di Desa Pucang Gading Hargomulyo, Kokap, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Api melahap hutan jati dan hutan mahoni. Api bahkan tersebar di beberapa titik dan masih berkobar terus hingga dini hari tadi. Sementara, Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dan Perhutani belum juga mengirimkan bantunan pemadam.

Continue reading

Gempa Guncang Timor dan Kepulauan Talaud

Gempa Guncang Timor dan Kepulauan Talaud

Minggu, 11 September 2011 | 14:01 WIB JAKARTA l SURYA Online

Gempa mengguncang dua wilayah berbeda di Indonesia, Minggu (11/9/2011) ini. Pertama, gempa berkekuatan 4,6 skala Richter menggoyang daerah Timor pukul 08.09.11 waktu setempat dan kedua, gempa berkekuatan 4,8 SR mengguncang Kepulauan Talaud pukul 09.58.59 waktu setempat. USGS (US Geological Survey) hari Minggu menyebutkan, gempa di wilayah Timor berkekuatan 4,6 SR berpusat di lokasi 10,422 Lintang Selatan dan 123,908 Bujur Timur dengan kedalaman 20,6 km. Jarak pusat gempa Timor 45 km sebelah tenggara Kupang, 275 km barat daya dari Dili, Timor Leste; 303 km sebelah tenggara Ende; dan 798 km barat laut Darwin, Australia. Sementara itu, gempa yang menggoyang Kepulauan Talaud berpusat di 3,524 Lintang Utara dan 126,845 Bujur Timur dengan kedalaman 71,8 km. Jarak pusat gempa Kepulauan Talaud 308 km sebelah utara Ternate, Maluku; 314 km timur laut Manado, Sulawesi Utara; 947 km barat daya Koror, Palau; dan 1.384 km sebelah tenggara Manila, Filipina.

Sumber: Surya.co.id

Gunung Lokon Beraktivitas Kembali

Gunung Lokon Beraktivitas Kembali

Nasional / Minggu, 11 September 2011 11:40 WIB

Tomohon: Pos pengamatan mencatat rentetan gempa tektonik di kawah Tompaluan, Gunung Lokon, Sumatra Utara. Sejak tanggal 1 hingga 10 September, petugas mencatat sedkitnya 31 kali gempa tektonik dari gunung tersebut. Staf Pos Pengamatan Gunung Lokon dan Mahawu, Ferry, mengatakan rentetan gempa tak menjadi penyebab terjadinya letusan. Gempa hanya berkaitan dengan pergeseran lempengan bumi. Mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WITA, Ahad (11/9), pihaknya mencatat satu kali gempa tektonik jauh, satu kali gempa vulkanik dalam, dan satu kali gempa vulkanik dangkal. Frekuensi gempa vulkanik lebih sedikit ketimbang kemarin, yakni tiga kali. Ia menuturkan bila frekuensi gempa vulkanik cukup banyak, maka akan ada kemungkinan Gunung Lokon meletus. “Letusan bisa saja terjadi bila gempa vulkanik yang berupa suplai energi terus terakumulasi dan tidak dikeluarkan. Namun, aktivitas vulkanik Gunung Lokon yang kita pantau setiap hari terjadi pelepasan energi melalui letusan-letusan berskala kecil,” paparnya. (Ant/RRN)

Sumber: Metrotvnews.com

Zona Bencana Jepang Berubah

Zona Bencana Jepang Berubah

Padang Ekspres • Sabtu, 10/09/2011 12:17 WIB

Enam Bulan Pascatsunami

Tokyo, Padek—Gempa bumi dahsyat berkekuatan 9 skala Richter (SR) dan tsunami yang memorak-porandakan timur laut Jepang pada 11 Maret lalu sudah enam bulan berlalu. Meski pemerintah menuai banyak kecaman karena dinilai terlalu lamban dalam mengatasi bencana nasional tersebut, sebenarnya upaya rehabilitasi dan rekonstruksi tidak jalan di tempat. Pemulihan mulai terlihat di beberapa titik.

Bahkan, koran Inggris Daily Mail edisi online kemarin (9/9) secara implisit memuji cepatnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-gempa di Jepang. Sejumlah kantor berita asing juga memublikasikan foto-foto terakhir pasca-gempa dan tsunami kemarin.

Menurut Anna Edwards, koresponden Daily Mail, ribuan warga yang tewas dan ribuan jasad lain yang hilang tidak akan pernah kembali. Demikian juga dengan puluhan ribu bangunan dan banyak harta benda yang tersapu gelombang laut setinggi 8 meter tersebut. Tetapi, dia memuji semangat warga Jepang yang tidak pernah surut. Masa berduka dan meratapi kepergian orang-orang terdekat sudah berakhir. Kini, mereka mulai bangkit dan memupuk harapan baru.

Dia menuturkan, setelah proses evakuasi jenazah korban dihentikan beberapa bulan lalu, tersedia kesempatan bagi pemerintah dan warga Jepang untuk berbenah. ’’Genangan air yang semula merendam ribuan gedung kini sudah surut. Sampah yang dulu menggunung juga sudah bersih. Bahkan, rumput dan tanaman tertentu sudah mulai tumbuh,’’ terang Edwards.     

Meski begitu, warga masih enggan meninggalkan tempat penampungan. Kebocoran nuklir di PLTN Fukushima Daiichi, sekitar 250 kilometer timur laut Tokyo, menjadi alasan utama mereka untuk tak kembali ke tempat tinggal masing-masing. Krisis nuklir yang berkepanjangan itu pula yang memaksa Perdana Menteri (PM) Naoto Kan lengser pada 26 Agustus lalu dan kemudian digantikan Yoshihiko Noda (mantan menteri keuangan dalam kabinetnya).

Meskipun sesekali mengunjungi tempat tinggal mereka untuk sekadar menyingkirkan reruntuhan bangunan, warga enggan menetap di lingkungan sama. Apalagi, pemerintah belum mengizinkan mereka kembali ke rumah. Terutama, warga yang semula tinggal dekat PLTN. Zona 20 kilometer di sekeliling PLTN itu harus tetap menjadi kawasan steril. Sebab, paparan radiasi masih cukup tinggi.

Kota Futuba yang berjarak sekitar 19 kilometer dari PLTN Fukushima pun kini menjadi kota hantu.  Kekacauan masih terlihat jelas di kota tersebut. Tempat tinggal dan harta yang ditinggalkan warga saat tsunami melanda pun masih tetap berada di tempat masing-masing. Sejak krisis nuklir melanda, tak seorang pun diizinkan memasuki kota tersebut. Ternak dan binatang peliharaan yang tertinggal pun terpaksa dibiarkan mati karena radiasi atau kelaparan.

Suasana di Futaba itulah yang lantas menghantui Naoto Kan. Sebelum mundur, dia sempat dihantui bayangan Tokyo yang tak bisa ditinggali lagi alias tak berpenghuni. PM Yoshihiko Noda minta maaf atas terjadinya  krisis nuklir. (jpnn)