Pemkot Tangerang Petakan Titik Rawan Banjir

TANGERANGNEWS.com–Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memetakan titik-titik rawan banjir di wilayah Kota Tangerang. 

Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah mengatakan pemetaan dilakukan Dinas PUPR untuk mengantisipasi terjadinya banjir. 

“Ada, sudah dipetakan. Rencananya PU mau ekspos. Tapi saya belum sempat baru tadi saya minta mereka ekspos rencananya,” ujarnya, Kamis (24/9/2020). 

Arief tak merinci di mana saja titik-titik rawan banjir yang dipetakan. Sebab, masih belum dipublikasikan Dinas PUPR. 

Titik rawan banjir yang di Kota Tangerang diketahui berada di Kecamatan Periuk dan Kecamatan Ciledug. 

Petugas Dinas PUPR Kota Tangerang saat melakukan normalisasi saluran air di kawasan Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

 

Menurut Arief, Dinas PUPR juga saat ini sedang fokus melakukan normalisasi saluran-saluran air. 

“Jadi sekarang PU terus melakukan normalisasi saluran, sungai,” katanya. 

Arief menambahkan dalam proses normalisasi petugas menemukan banyaknya sampah di saluran-saluran air. 

“Rata-rata buang sampah sembarangan. Kita imbau ya jaga kebersihan lah jadi jangan sampai masyarakat ngeluh banjir,  tersumbat, padahal yang buang sampahnya masyarakat juga,” pungkasnya. (RMI/RAC)

HEADLINE: Hujan Ekstrem dan Banjir di Jakarta hingga Sukabumi, Langkah Penanganannya?

Liputan6.com, Jakarta – Hujan yang mengguyur Jakarta dan wilayah sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Sukabumi pada Senin sore hingga malam (21/9/2020), menyebabkan duka bagi sebagian warga. 

Di Sukabumi, Jawa Barat, hujan deras yang mengguyur mengakibatkan puluhan rumah dan kendaraan bermotor di kecamatan Cicurug, Cidahu dan Cibadak hanyut terbawa arus banjir. Hujan juga merendam sekitar 85 rumah di kawasan tersebut. Akibarnya sebanyak 299 kepala keluarga atau 1.210 orang harus mengungsi.

Tak cukup itu, hujan deras yang berujung banjir dan longsor di Sukabumi juga merenggut dua korban jiwa. Hasyim (60) warga Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan dan Jeje (60) warga Kampung Aspol, Kelurahan Cicurug ditemukan tak bernyawa setelah terbawa arus banjir. Kedua jenazah korban ditemukan di aliran Sungai Cicatih, Sukabumi, Selasa (22/9/2020) siang.

Di Bogor, hujan deras memutus Jalan Pancawati, Desa Pancawati, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Senin (21/9/2020) sekitar pukul 17.00 WIB. Tebing setinggi kurang lebih 20 meter di kawasan tersebut l ongsor dan menutup seluruh badan jalan. Material longsor bahkan sempat menyeret satu keluarga yang sedang melintas. Beruntukng, warga bersama BPBD Kabupaten Bogor dan Pemerintah Desa Pancawati gerak cepat melakukan evakuasi, nyawa satu keluarga yakni Emi (27), Anggun (9), Acep (30), Wita (14), Upik (19), Eva (13) dan Kiranti (15) akhirnya selamat.

Cerita serupa muncul dari Ibu Kota Jakarta. Guyuran air langit sejak Senin sore membuat sejumlah ruas jalan di Jakarta tergenang dengan ketinggian beragam. Air bahkan sempat menggenangi jalan protokol seperti Sudirman dan Thamrin, meski tidak lama akhirnya surut. 

Namun, ancaman banjir justru membayangi dari daerah yang lebih tinggi, yakni Bogor. Banjir kiriman yang beberapa kali telah terjadi kembali dipastikan akan terulang. Sebab, Senin pukul 18.18 WIB Bendung Katulampa sudah menyentuh 250 cm. Katulapampa Siaga 1. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun mewanti-wanti warga Jakarta yang tinggal di sekitaran Kali Ciliwung bersiap-siap menyambut tamu tak diundang tersebut.

Dan sesuai prediksi, air kiriman mengguyur Jakarta, Selasa dini hari. Banjir kiriman menggenangi sekitar 56 RT di Jakarta di Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Ketinggian air bervariasi dari 10 hingga 100 sentimeter. Hingga Selasa siang, banjir juga menggenangi 20 ruas jalan di Jakarta.

Rendaman banjir juga membuat sejumlah warga Jakarta harus mengungsi. Sumber BNPB menyebutkan, ada 30 Kepala keluarga atau 104 orang mengungsi di sejumlah titik yang disediakan akibat banjir di Ibu Kota.

Wakil Gubenur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan, pihaknya meminta warga Jakarta untuk bersiap menghadapi anomali cuaca yang terjadi di sejumlah negara, termasuk Indonesia saat ini. Biasanya curah hujan tinggi yang bisa berdampak banjir di Jakarta, terjadi pada Desember-Januari hingga Maret, namun dengan adanya anomali cuaca saat ini, hujan bisa mengguyur lebih cepat dan menyebabkan banjir seperti yang terjadi saat ini.

“Masyarakat harus bersiap di samping terus menjaga kebersihan lingkungan tidak membuang sampah. Kita minta masyarakat menbantu untuk membersihkan selokan atau tempat lain sehingga aliran air terus bisa mengalir ke sungai dan kita teruskan ke laut,” ujarnya, Selasa (22/9/2020).

Ariza mengaku, pihaknya sudah menyiapkan dan 54 ekskavator, beko dan sebagainya untuk melakukan pengerukan sepanjang tahun sungai-sungai dan waduk yang ada di Jakarta.

“Pengerukan ada 13 sungai di Jakarta. kemudian waduk situ yang ada di Jakarta. Mengerahkan 54 ekskavator sepanjang hari tidak berhenti,” ujarnya.

Selain itu, sambung Reza, Pemprov DKI juga melakukan terobosan dengan membuat sodetan yang bisa mengalihkan air agar tidak terjadi banjir. 

“Di tahun anggaran ini kami akan adakan mobile pompa untuk bisa digunakan ketika banjir. Untuk mengatur dan alihkan genangan banjir,” sambungnya.

Reza menambahkan, untuk banjir kali ini pihaknya sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, di antaranya adalah dokter yang bertugas memantau kesehatan warga yang terdampak banjir.  

Reza memastikan penanganan pengungsi banjir yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta merujuk pada protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran Covid-19. 

“Sudah disiapkan titik pengungsi, jumlah dua kali lipat dari biasa. BPBD telah siapkan titik-titik atau tempat pengungsian dengan jumlah lebih besar,” pungkasnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, pihaknya sudah mengintruksikan sejumlah kepala daerah di Jawa Barat untuk menyiapkan program antisipasi menghadapi bahaya banjir dan longsor, seperti yang berjadi di Sukabumi saat ini.  

“Turut prihatin kepada Kab Sukabumi terkait bencana banjir bandang. Dukungan dan bantuan sudah dikirim ke sana via pak Wagub @ruzhanul dan BPBD Jabar,” ujar Ridwan Kamil dikutip dari akun Instagramnya, Selasa (22/9/2020).

Pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan, tahun ini musim hujan datang lebih awal dari perkiraan. Jika sebelumnya diprediksi BMKG musim penghujan akan turun akhir Oktober, kenyataannya saat ini sudah hujan.

“Pemprov Jawa Barat melalui Dinas PU sejak dua minggu lalu sudah memulai program antisipasi banjir. Mudah-mudahan bisa efektif,” pungkasnya.

Waspada Klaster Pengungsian Banjir, Ini Saran dari Satgas Covid-19

JAKARTA – Memasuki musim penghujan menjadi kekhawatiran sendiri munculnya klaster baru penyebaran virus corona atau Covid-19. Dalam hal ini masyarakat rentan tertular di posko-posko pengungsian bagi mereka yang rumahnya terdampak banjir.

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, kebersihan lokasi pengungsian akan menjaga para pengungsi dari penyakit-penyakit lainnya yang bisa disebabkan oleh musim hujan. Beberapa diantaranya demam berdarah dengue, lepra, tifus, diare dan penyakit kulit.

“Semua penyakit ini dapat menurunkan imunitas sehingga masyarakat menjadi rentan tertular Covid-19. Jika tidak memungkinkan menjaga jarak, maka sebisa mungkin pemerintah setempat memastikan adanya sirkulasi udara yang baik, sinar matahari yang cukup dan memastikan kebersihan lokasi pengungsian,” kata Wiku dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (24/9/2020).

Pasalnya, masyarakat yang terdampak banjir harus tinggal di lokasi pengungsian sehingga terjadi kerumunan di lokasi-lokasi tersebut. Lokasi pengungsian katanya berpeluang menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Namun, kedisiplinan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat dengan memakai masker, menjaga jarak serta mencuci tangan termasuk menjaga kebersihan dapat menekan potensi penularan tersebut,” ujar Wiku.

Disisi lain, Wiku menyatakan, pada klaster perkantoran ada peran kantor yang bisa membantu pemerintah. Dalam hal ini, perkantoran perlu transparan melaporkan kasus Covid-19 di lingkungannya kepada dinas kesehatan setempat.

Lalu, kata Wiku, melakukan trading lanjutan untuk menjaring kontak erat dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat.

Kantor juga harus memberi swab gratis bagi daftar kontak erat. Jika ditemukan kasus positif tambahan , segera merujuk dengan berkoordinasi dengan dinas kesehatan.

Maka harus dirujuk ke rumah sakit khusus menangani Covid-19 dan biaya ditanggung pemerintah. Baik peserta BPJS Kes ataupun belum menjadi peserta termasuk warga negara asing (WNA).

“Bagi karyawan yang negatif, harus diperkenankan dirumah (WFH). Jika ditemukan kasus positif dalam jumlah banyak, maka kantor tersebut ditutup sementara untuk dilakukan disinfeksi,” kata Wiku.

(kha)

Banjir Bandang di Tengah Musim Kemarau, Mengapa Bisa Terjadi?

Sejumlah desa di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat terendam banjir. Banjir membuat beberapa akses jalan terputus dan sejumlah lokasi terisolir. Ratusan warga juga telah mengungsi ke daratan yang lebih tinggi.

KOMPAS.com – Banjir bandang menerjang beberapa wilayah di Sukabumi, Jawa Barat, Senin (21/9/2020) sekitar pukul 17.00 WIB.

Peristiwa tersebut terjadi saat sejumlah daerah di Sukabumi diguyur hujan dengan intensitas tinggi beberapa jam. Hingga Selasa (22/9/2020), setidaknya 11 desa dan 11 kampung yang terdampak.

Masing-masing yakni, Kecamatan Cicurug meliputi Desa Cisaat (Kampung Cipari), Pasawahan (Cibuntu), Cicurug (Aspol), Mekarsari (Kampung Nyangkowek dan Kampung Lio) dan Bangbayang (Perum Setia Budi).

Kecamatan Parungkuda meliputi Desa Langensari (Kampung Bojong Astana) dan Kompa (Bantar).

Kecamatan Cidahu yakni Desa Babakanpari (Kamping Bojong Astana), Podokkaso Tengah (Bantar), Jayabakti (Cibojong) dan Cidahu.

Selain itu, 133 kepala keluarga (KK) atau 431 jiwa terdampak banjir bandang.

Sejumlah warga mengungsi ke tempat saudara dan tetangga terdekat.

Sementara itu, kerusakan akibat banjir bandang mencakup rumah rusak berat 47 unit, rusak sedang 41 dan rusak ringan 45.

Secara umum, wilayah Indonesia belum memasuki musim penghujan.

Lantas, mengapa banjir bandang bisa terjadi ketika belum masuk musim penghujan?

Potensi hujan tidak selalu saat musim penghujan

Kepala Subbid Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Agie Wandala Putra mengatakan, potensi hujan lebat tidak semata terjadi pada periode musim hujan.

Dan hal itu, lanjut Agie, perlu diedukasikan kepada masyarakat.

“Termasuks saat ini ketika kita baru memasuki masa peralihan sudah terdapat energi atsmofer yang cukup besar yang dapat membuat hujan memiliki intensitas tinggi,” kata Agie saat dihubungi Kompas.com, Rabu (23/9/2020).

Agie menambahkan, itu menunjukkan betapa uniknya wilayah Indonesia yang berada benua maritim tropis dan melimpahnya curah hujan tetapi perlu juga memahami behaviour hujan ekstrem.

Jika ditinjau dari analisis meteorologi, hujan lebat yang terjadi pada Senin, 21 September 2020 sore hingga Selasa, 22 September 2020 dini hari, terjadi karena beberapa faktor.

Faktor-faktor

istimewa Sejumlah desa di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat terendam banjir. Banjir membuat beberapa akses jalan terputus dan sejumlah lokasi terisolir. Ratusan warga juga telah mengungsi ke daratan yang lebih tinggi.

Pertama, terpantaunya gangguan gelombang ekuator.

“Yakni gelombang Equatoria Rossby di Jawa bagian Barat yang mampu meningkatkan proses pembentukan awan di wilayah Banten, Jawa Barat dan Jabodetabek,” ucap Agie.

Kedua, adanya anomali suhu muka laut atau peningkatan suhu muka laut dibandingkan dengan normalnya.

Hal ini terjadi di perairan Selatan Banten-Jawa Barat yang memberikan suplai uap air untuk pembentukan awan-awan hujan di wilayah Jawa Bagian Barat, khususnya di Jabodetabek.

Ketiga, terpantaunya pola pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi).

“Faktor ketiga terjadi di Jawa Barat yang meningkatkan proses pembentukan awan hujan khususnya di Jabodetabek,” katanya lagi.

Terakhir, atmosfer yang labil di Jawa bagian Barat yang dapat mengintensifkan proses pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek.

Hal-hal tersebut, kata Agie, mengakibatkan terjadi hujan dengan intensitas curah hujan dan volumnya sangat tinggi dan dalam periode singkat.

“Ini yang berkaitan sebagai pemicu banjir bandang, meskipun kita harus lihat bagaiman kondisi permukaan tanah apakah mampu menampung jumlah curah hujan tersebut atau tidak. Seperti yang terjadi di Sukabumi,” jelasnya.

Banjir Bandang Sukabumi, Status Darurat Ditetapkan 7 Hari

Sejumlah relawan gabungan mengevakuasi material kayu yang terbawa pasca  banjir bandang di  Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (22/9/2020). Data sementara yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dampak akibat banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Cicurug, Senin (21/9), mengakibatkan 12 rumah hanyut dan 85 rumah terendam. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat pascabanjir bandang pada awal pekan ini. Status darurat akan berlangsung selama tujuh hari terhitung sejak 21-27 September 2020. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati mengatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Sukabumi bersama tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, dan dinas kabupaten terkait telah melakukan penanganan darurat. Tim gabungan ini juga mendirikan dapur umum untuk para korban banjir.

“Tim gabungan juga melaksanakan upaya darurat lainnya seperti pertolongan, penyelamatan, pencarian dan evakuasi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).

Raditya juga menjelaskan pembersihan banjir bandang telah dilakukan menggunakan cara manual dibantu dengan alat berat berupa dump truck untuk mengangkut material lumpur.

“Pemerintah daerah setempat mengerahkan dua unit, milik Dinas PU Kabupaten Sukabumi satu unit, dan Kodim 1 unit,” katanya.  

Hingga Selasa (22/9), BNPB mencatat ada tiga kecamatan terdampak banjir dengan 11 desa dan 11 kampung. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Cicurug, Kecamatan Parungkuda, dan Kecamatan Cidahu.

Di Kecamatan Cicurug ada lima desa dan lima kampung terdampak banjir, meliputi Desa Cisaat (Kampung Cipari), Pasawahan (Cibuntu), Cicurug (Aspol), Mekarsari (Kp. Nyangkowek dan Kp. Lio) dan Bangbayang (Perumahan Setia Budi).

Lalu di Kecamatan Parungkuda dua desa dan dua kampung terdampak, meliputi Desa Langensari (Kampung Bojong Astana) dan Kompa (Bantar).

Di Kecamatan Cidahu tercatat empat desa dan empat kampung terdampak, antara lain Desa Babakanpari (Kamping Bojong astana), Podokkaso Tengah (Bantar), Jayabakti (Cibojong) dan Cidahu. 

Sementara total keluarga terdampak berjumlah 133 Kartu Keluarga atau 431 jiwa, sejumlah warga juga diketahui mengungsi ke saudara dan tetangga terdekat.

Catatan kerusakan akibat banjir bandang mencakup rumah rusak berat (RB) 47 unit, rusak sedang (RS) 41, rusak ringan (RR) 45, jembatan RB 5 dan TPT 1.

Rumah RB di Kecamatan Cicurug sebanyak 36 unit, Cidahu 10 dan Parungkuda 1, sedangkan rumah RS di Kecamatan Cicurug 34 unit dan Cidahu 7 unit.   

Sebelumnya

terjadi pada Senin (21/9) pukul 17.00 WIB. Banjir terjadi karena intensitas hujan tinggi dan Sungai Citarik-Cipeuncit meluap.

Akibat banjir bandang, tiga warga dilaporkan hilang terseret arus banjir. Dua diantaranya ditemukan tim gabungan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu lainnya masih dalam pencarian. Tim gabungan telah menyusun rencana lanjutan untuk mencari korban hilang dengan membentuk 12 tim dan perluasan titik pencarian.

Untuk hari ini Rabu (23/9), Raditya mengatakan BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca wilayah Provinsi Jawa Barat masih berpotensi hujan dengan disertai kilat atau petir dan angin kencang. 

“Masyarakat diimbau selalu waspada terhadap potensi bahaya hidrometeorologi seperti angin kencang atau angin puting beliung, banjir, banjir bandang dan tanah longsor,” kata Raditya.

Anies Minta Peringatan Dini Disiarkan Satu Hari Sebelum Banjir Datang

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Ingub Nomor 52 Tahun 2020 tentang Percepatan Peningkatan Sistem Pengendalian Banjir di Era Perubahan Iklim. Di Ingub tersebut Anies minta peringatan dini disiarkan sebelum banjir datang.

“Membangun sistem deteksi dan peringatan dini kebijakan banjir serta sistem penanggulangan bencana banjir yang antisipasif, prediktif, cerdas, dan terpadu,” tulis Anies dalam ingub tersebut, seperti dilihat detikcom, Rabu (23/9/2020).

Dalam hal penanggulangan banjir, Anies meminta Pemprov DKI memberikan deteksi dan peringatan dini. Peringatan dini harus diberikan selambatnya 1 hari sebelum banjir.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dibantu oleh Dinas Sumber Daya Air, dan Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik menyusun sistem deteksi dan peringatan dini kejadian banjir, yang dapat dimonitor secara daring serta dapat memprediksi dan mengumumkan potensi kebanjiran selambat-lambatnya 1 hari sebelum kejadian, dengan target September 2020,” ujar Anies.

Seperti diketahui, Anies Baswedan ingin meningkatkan sistem pengendalian banjir dengan mengeluarkan ingub tersebut. Dalam ingub tersebut, Anies menulis terjadi peningkatan intensitas hujan akibat perubahan iklim. Maka perlu percepatan peningkatan sistem pengendalian banjir.

“Diperlukan percepatan peningkatan sistem pengendalian banjir yang responsif, adaptif, dan memiliki resiliensi atas risiko banjir yang dihadapi saat ini, dan di masa yang akan datang, baik dari segi peningkatan infrastruktur fisik maupun infrastruktur sosial,” ujar Anies dalam ingub tersebut.

Waspadai, Ternyata Covid-19 Menyebar Lebih Mudah dari yang Dikira

KOMPAS.com – Sejak masa awal pandemi Covid-19 merebak, salah satu perdebatan yang kerap muncul adalah kemungkinan virus corona menyebar lewat udara atau tidak.

Dalam laporan resmi yang diunggah pada awal Juli lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan virus corona memang bisa menyebar melalui udara.

Namun, masih banyak pihak yang meragukan kesimpulan tersebut.

Nah, belum lama ini, laporan WHO yang menyatakan kemungkinan penyebaran virus corona lewat udara juga didukung oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Di situs resminya, CDC menyebutkan virus corona dapat menyebar melalui tetesan liur (droplet) atau partikel kecil yang diproduksi seseorang saat bernapas.

“Virus di udara, termasuk Covid-19 paling menular dan mudah menyebar,” demikian penjelasan dalam situs CDC.

Sebelum panduan itu diperbarui, CDC menyatakan, Covid-19 diperkirakan menyebar saat seseorang berada dalam jarak dekat dengan orang lain, sekitar dua meter.

CDC juga menyebutkan, Covid-19 bisa menyebar lewat tetesan pernapasan saat seseorang yang terinfeksi virus berbicara dan mengalami batuk atau bersin.

Penjelasan di laman tersebut diperbarui pada Jumat (18/9/2020).

Covid-19 menyebar lewat tetesan pernapasan atau partikel kecil seperti aerosol yang dihasilkan saat seseorang yang terinfeksi virus batuk, bersin, bernyanyi, berbicara, atau bernapas.”

Partikel tersebut dapat memicu infeksi ketika terhirup oleh hidung, mulut, saluran udara, dan paru-paru.

“Ini dianggap sebagai cara utama penyebaran virus,” demikian penjelasan yang tertulis.

Laman CDC pun menambahkan, ada bukti tetesan pernapasan dan partikel bisa bertahan di udara dan terhirup orang lain, serta menyebar lebih dari jarak dua meter.

“Secara umum, ruangan tertutup tanpa ventilasi yang baik meningkatkan risiko ini.”

Dengan penjelasan itu, CDC lalu memperbarui pedoman untuk melindungi diri dan orang lain.

Sebelumnya, mereka menyarankan setiap orang agar menjaga jarak fisik sekitar dua meter, mencuci tangan, rutin membersihkan, dan mendisinfeksi permukaan, serta menggunakan masker saat berada di sekitar orang lain.

Saat ini, pembaruan pedoman menyebutkan agar setiap orang menjaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain apabila memungkinkan. 

Lalu, meminta orang untuk memakai masker serta membersihkan dan mendisinfeksi permukaan.

Selengkapnya

Prediksi Bill Gates & WHO Kapan Corona Berakhir di Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia – Warga dunia terus mempertanyakan kapan pandemi Covid-19 berakhir dan hidup normal. Bill Gates dan World Health Organization (WHO) mencoba memprediksinya.

Pendiri Microsoft Bill Gates virus Covid-19 berakhir dan hidup normal pada 2021. Ada dua hal yang mendasari prediksi ini. Yakni, vaksin corona sudah ditemukan dan corona yang tak mampu bertahan di bumi selamanya.

“Jika persetujuan vaksin akan datang di awal 2021 … maka pada musim panas mendatang AS akan mulai normal kembali. Dan, pada akhir tahun, aktivitas kita bisa dibilang normal,” ujarnya dikutip dari Fox News, Selasa (22/9/2020).

Ia pun menambahkan akhir terbaik kasus mungkin ada di 2022. Tapi ia tetap optimis di 2021 angkanya akan terus menurun signifikan.

Bagi WHO hidup normal akan terjadi pada 2022. Chief Scientist WHO Soumya Swaminathan mengatakan kendala yang dihadapi saat ini ketersediaan vaksin. Asosiasi vaksin yang mengumpulkan vaksin dan menyalurkannya ke negara-negara secara adil, Covax WHO, hanya bisa menyediakan ratusan juta hingga pertengahan tahun depan.

“Orang membayangkannya di bulan Januari Anda memiliki vaksin untuk seluruh dunia dan semuanya akan mulai kembali normal. Bukan begitu cara kerjanya,” katanya dikutip dari South China Morning Post.

Ia pun menilai, pertengahan 2021 adalah waktu yang realistis bagi vaksin siap pakai. Soalnya, awal 2021 adalah masa dunia melihat apakah uji coba yang dilakukan produsen vaksin sukses atau tidak.

“Semua uji coba yang sedang berlangsung, memiliki tindak lanjut selama setidaknya 12 bulan, jika tidak lebih lama,” katanya.

Produksi VaksinFoto: Produksi Vaksin dalam kondisi normal (Ist)

“Itu adalah waktu yang biasa Anda lihat untuk memastikan Anda tidak mengalami efek samping jangka panjang setelah beberapa minggu pertama.”

CEO Serum Institute of India Adar Poornawalla mengatakan Covid-19 bisa mengancam manusia hingga 2024. Masalahnya ketersediaan vaksin bagi seluruh warga dunia.

Adar Poornawalla mengatakan perusahaan farmasi belum meningkatkan kapasitas produksi untuk memvaksinasi penduduk dunia secara cepat. Ia menghitung jika vaksin Covid-19 butuh 2 dosis per orang dibutuhkan 15 miliar vaksin.

“Ini akan memakan waktu empat hingga lima tahun sampai semua orang di planet ini mendapat vaksin,” ujarnya kepada Financial Times.

Serum Institute of India merupakan salah satu pembuat vaksin terbesar di dunia, perusahaan memproduksi 1,5 miliar dosis vaksin per tahun untuk digunakan di lebih dari 170 negara guna melindungi penduduk dari penyakit menular seperti polio, campak, dan influenza.

9 Pedagang Positif Covid-19 dan 2 Meninggal, 2 Pasar di Pati Ditutup Total

Liputan6.com, Pati – Pasar Kayen dan Pasar Bulumanis, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ditutup total sementara. Sebab, di dua pasar tersebut diketahui terdapat sembilan orang pedagang terkonfirmasi positif Covid-19 dan dua orang meninggal dunia.

Bupati Pati, Haryanto mengatakan, kedua pasar ditutup selama tiga hari, yakni tanggal 19-21 September 2020. Selama itu, dilakukan sterilisasi dan disemprot disinfektan untuk mengantisipasi agar persebaran virus Corona di lingkungan pasar tidak semakin meluas.

“Pasar kami tutup sementara karena terdapat dua orang yang meninggal dunia. Mereka pedagang kecambah yang menempati los pasar,” ujar Haryanto saat ditemui sejumlah awak media, Minggu (20/9/2020).

Haryanto menyebut, dua orang pedagang yang meninggal berusia diatas 60 tahun. Berasal dari Pasar Kayen yang hasil swabnya belum keluar. Adanya hal itu, pihaknya juga melakukan penelusuran kontak erat ke keluarga dan kerabat dari kedua pedagang tersebut.

“Kami telah melakukan rapid test ke pedagang yang lainnya. Sebanyak 85 orang di rapid test, 20 di antaranya reaktif,” katanya

Lebih lanjut, Haryanto menyampaikan, dari 20 yang reaktif itu akan di tes swab hari Senin.

“Karena hotel Kencana penuh, mereka kami minta untuk isolasi mandiri dulu sambil menunggu perkembangan,” katanya.

20 Pedagang Reaktif

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati yang diwakili Kepala Bidang Pasar, BJ Ishrony menyampaikan, Pasar Bulumanis juga ditutup sebagai tindak lanjut adanya dua pedagang pasar Kayen yang meninggal dunia.

Ishrony membeberkan, 120 pedagang pasar Bulumanis telah mengikuti rapid test massal di UPTD Margoyoso I. Hasilnya, 20 pedagang reaktif rapid test dan setelah di test swab terdapat sembilan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Langkah cepat Pemkab itu menindaklanjuti adanya informasi seorang pedagang yang sakit. Diduga karena terpapar Covid-19,” kata Ishrony.

Diketahui, pada Selasa (1/9/2020) hingga Rabu (2/9/2020) lalu pasar Bulumanis juga telah ditutup karena adanya pedagang yang reaktif usai mengikuti rapid test massal.

Klaster Penyebaran Covid-19 Meluas di Pesantren Kendal

KENDAL, AYOSEMARANG.COM — Setelah ada klaster pusat perkantoran, pelayanan publik, pasar tradisional dan pertokoan kini klaster-klaster baru penularan covid-19 di Kendal meluas. Kini muncul klaster di pondok pesantren, rumah makan dan yang terkecil di lingkungan rumah tangga.

“Ini yang menjadikan angka positif covid 19 terus meningkat, ada klaster-klaster baru penularan covid. Mulai dari rumah makan, warung hingga pondok pesantren. Bahkan dilingkungan rumah tangga juga kini menjadi klaster baru,” jelas Sekda Kendal Moh Toha saat memberikan keterangan Senin (21/09/2020).

Sekda menjelaskan ada dua pondok pesantren di Kendal yang sudah menjadi klaster penyebaran, yakni pondok pesantren di wilayah Patean dan Kendal. 

“Bahkan di salah satu pesantren jumlah yang terpapar positif covid mencapai 14 orang. Kita akan meminta keterangan dari pengasuh pondok pesantren, apakan akan tetap melaksanakan pendidikan tatap muka atau menghentikan dan mengembalikan santri ke rumah masing-masing,” imbuhnya.

Penyebaran covid-19 di Kabupaten Kendal dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan. Bila dalam satu hari rata-rata 10 warga yang terpapar, tetapi sekarang meningkat menjadi 20 orang dalam satu hari yang dinyatakan positif.  

Toha menambahkan, perkembangan penyebaran korona di Kabupaten Kendal terus meningkat. Hingga kemarin jumlah yang terpapar korona 768 orang dan meninggal 47 orang. 

“Kondisi itu sangat mengkhawatirkan. Jika dibuat persentase angkanya antara lima hingga enam persen,” tambahnya. 

Pemkab Kendal, lanjutnya, telah melaksanakan penegakan bagi warga yang abai menerapkan protokol kesehatan, seperti tidak menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Mereka yang melanggar diberi sanksi sosial seperti membersihkan sampah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya.

“Kami juga memberlakukan denda administrasi sebesar Rp20 ribu. Hal itu sesuai dengan Perbup Nomor 67 Tahun 2020,” terang Toha. 

Menurutnya, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, kesadaran warga dalam penerapan protokol kesehatan perlu ditingkatkan. Tempat-tempat yang bisa menimbulkan klaster baru penyebaran korona, seperti pasar yang beraktifitas tanpa menggunakan masker akan diperingatkan. 

“Kami berencana menaikkan denda minimal Rp50 ribu dan batas tertinggi sesuai Peraturan Bupati Nomor 67 Tahun 2020. Kami akan memberlakukan penegasan jam malam. Sudah disepakati jam malam maksimal pukul 21.30,” tegasnya.

Tim gugus sendiri nantinya akan berubah menjadi satuan tugas berdasarkan surat edaran Mendagri, satuan tugas ini akan dibuat hingga tingkat desa. Untuk menekan angka positif covid pemerintah juga berencana melaksanakan penegasan jam malam, yang akan diatur surat edaran bupati. Jam malam nanti diberlakukan dengan maksimal warga keluar dan berkerumun di tempat umum hingga pukul 21.30 WIB

“Kita juga akan memberikan informasi kepada masyarakat terkait  jumlah kasus terpapar covid agar masyarakat tahu. Nantinya akan dipasang papan informasi disejumlah titik agar masyarakat tidak menyepelekan protokol kesehatan,” pungkasnya.