Lolos Skrining Uji Klinis Vaksin Covid-19, Ridwan Kamil Disuntik Pertama Besok

TEMPO.CO, Bandung – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan sudah mendapatkan hasil skrining dan dinyatakan memenuhi syarat sebagai relawan uji klinis vaksin Covid-19. Dia terdaftar di antara dua ribuan relawan untuk uji klinis vaksin yang dikembangkan Sinovac Biotech, perusahaan farmasi asal Cina, di Kota Bandung.

Uji klinis itu dilakukan PT Bio Farma yang kemudian menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. “Tadi saya dilaporkan, saya negatif Covid-19, Alhamdulillah, sehingga besok saya lolos untuk melakukan penyuntikan pertama di Puskesmas Garuda,” kata dia, di Bandung, Kamis 27 Agustus 2020.

Ridwan Kamil mengatakan, pemberian vaksin akan dilakukan 2 kali. Besok, Jumat, 28 Agustus 2020, penyuntikan pertama, dan 14 hari lagi penyuntikan kedua. Dari dua kali penyuntikan itu kemudian akan dilakukan pemeriksaan darah.

“Dicek apakah imunitas saya naik 90 persen. Kalau betul berhasil, berarti tujuan tercapai. Sehingga bisa menjadi bukti, mulailah diproduksi vaksin di Bio Farma,” kata dia yang memiliki nomor urut 1 untuk vaksinasi besok.

Ridwan Kamil menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai tahapan awal untuk mengikuti uji klinis vaksin itu di Puskesmas Garuda, Selasa lalu. Ikut melakukan bersamanya adalah Kapolda Inspektur Jenderal Rudy Suifahriadi, Pangdam III/Siliwangi Mayor Jenderal TNI Nugroho Budi Wiryanto, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Ade Eddy Adhyaksa, serta empat anggota masyarakat lain.

“Dalam kunjungan pertama ini, prosedurnya adalah utamanya pemeriksaan kesehatan untuk memastikan bahwa kami bisa lolos masuk ke tahap kedua, atau istilahnya di phase 1, yang akan dilaksanakan 3 hari dari sekarang,” kata Ridwan Kamil, dalam konferensi pers, Selasa.

Ridwan Kamil mengaku sengaja memilih lokasi puskesmas tersebut untuk menunjukkan dirinya tidak berbeda dengan masyarakat lain yang menjadi relawan dalam uji klinis tersebut. “Kami ingin menunjukkan bahwa menangani pandemi ini butuh kebersamaan. Kebersamaan dan kekompakan adalah kunci kemenangan, dan kami bersama masyarakat. Makanya kami pilih tempat pengetesan di Puskesmas,” kata dia.

Seperti relawan lainnya, Ridwan Kamil mendapat penjelasan seputar uji klinis dari tim bentukan Fakultas Kedokteran Univerisitas Padjadjaran. Total akan ada 5 kali kunjungan ke Puskesmas Garuda yang wajib di ikuti oleh Ridwan Kamil dalam 6 bulan masa uji klinis vaksin Covid-19 berlangsung. Kunjungan pertama Selasa itu dinamai Phase 0 atau P0.

“Selama P0 ini, atau kunjungan pertama, kami di cek kondisi kesehatan. Dari mulai tinggi badan, berat badan, wawancara riwayat kesehatan, kemudian pengecekan oleh stetoskop tubuh kami khususnya di wilayah dada untuk memastikan kondisi awal memungkinkan,” kata Ridwan Kamil menerangkan.

Relawan uji klinis lainnya juga menjalani tes usap, atau swab PCR untuk memastikan tidak terpapar virus corona. Seluruh relawan juga menandatangani surat perjanjian untuk suka-rela mengikuti seluruh proses tahapan uji klinis.

“Sudah lebih dari 2 ribuan yang mendaftarkan diri sebagai relawan, tapi hanya akan dipilih 1.620 (orang) sesuai kriteria. Karena dalam perjalanan mungkin nanti ada 1-2 yang tidak lanjut karena satu dan lain hal,” kata Ridwan Kamil menuturkan ulang penjelasan yang diterima.

Ridwan Kamil mengatakan, dirinya sengaja bersama pejabat Forkominda mengikuti uji klinis vaksin Covid-19 tersebut untuk meyakinkan masyarakat, sekaligus menepis tudingan miring atas vaksin tersebut. Ridwan Kamil optimistis dengan vaksin Covid-19 Sinovac yang dinilainya lebih menguntungkan karena proses produksinya nanti akan melibatkan Bio Farma.

“Harapan saya ke masyarakat, tolong percaya, tolong yakin bahwa ini proses yang paling baik, dan Insya Allah paling murah dibanding proses lain karena diproduksi oleh industri yang ada di Jawa Barat sendiri,” kata Ridwan Kamil.

Karyawan Starbucks Korea Selatan Tidak Tertular Covid-19, Bukti Masker Lindungi dari Virus Corona

KOMPAS.com – Puluhan pengunjung gerai kopi Starbucks di Korea Selatan terinfeksi Covid-19 dari seorang wanita.

Dilaporkan Bloomberg, Selasa (25/8/2020), wanita dengan virus corona sedang mengunjungi kafe Starbucks yang berada di utara kota Seoul.

Setelah beberapa hari, lebih dari 20 orang pengunjung yang mengunjungi kafe tersebut di hari yang sama dinyatakan positif Covid-19.

Uniknya, seluruh karyawan kafe tersebut tak tertular virus corona yang sedikitnya menyebabkan 27 pengunjung positif Covid-19.

Diketahui para karyawan kafe tersebut tetap mengenakan masker, sehingga mereka lolos dari penularan virus yang telah menyebabkan lebih dari 18.700 orang di Korea Selatan terinfeksi SARS-CoV-2.

Sebelumnya, pada 8 Agustus lalu, di kota Paju, Korea Selatan, juga dilaporkan penyebaran virus corona baru SARS-CoV-2 begitu cepat di ruang tertutup.

Bukti manfaat penggunaan masker wajah maupun masker non-medis lainnya di kalangan otoritas kesehatan masih saja terus terjadi.

Penyebaran virus corona yang menginfeksi 27 orang di kafe Starbucks di Korea Selatan telah menunjukkan bukti yang nyata.

Di mana orang-orang di dalam kafe ber-AC saling terhubung, kemudian tertular virus hanya dari seorang yang positif memiliki SARS-CoV-2.

Bukti telah menunjukkan lagi bahwa penggunaan masker sangatlah penting untuk melindungi mereka dan mengurangi potensi penyebaran virus penyebab Covid-19.

“Kejadian ini bicara banyak tentang peran penting masker. Masker mungkin tidak memberikan perlindungan 100 persen, tetapi tidak ada yang seefektif itu,” kata Ma Sang Hyuk, dokter penyakit menular anak di Changwon Fatima Hospital, Korea Selatan.

Pejabat setempat berasumsi bahwa sebagian besar pelanggan tidak konsisten saat memakai masker, ketika mereka makan dan minum di gerai kopi tersebut.

“Virus dapat menyebar di mana orang tidak memakai masker saat makan atau minum, seperti yang terjadi di Starbucks di Paju,” kata Jung Eun-kyeong, kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Korea.

Saran penggunaan masker di tempat umum

Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) sendiri juga telah menyarankan penggunaan masker untuk melindungi dari Covid-19, agar dikenakan saat berada di tempat umum.

Seperti dikutip dari BBC, penggunaan masker non-medis sangat penting, ketika jarak sosial tidak memungkinkan membantu menghentikan penyebaran virus SARS-CoV-2.

Masker dapat membantu mencegah droplet atau tetesan dari orang yang mungkin memiliki virus, saat mereka batuk, berbicara maupun bersin.

Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pemerintah harus mendorong masyarakat untuk memakai masker, saat berada di tempat umum seperti transportasi umum, toko, atau lingkungan terbatas dan ramai lainnya.

Dr Maria Van Kerkhove, kepala ahli teknis WHO untuk Covid-19 merekomendasikan agar orang-orang memakai masker kain atau masker non-medis.

“Masker kain harus terdiri dari setidaknya tiga lapisan bahan yang berbeda, agar efektif,” kata WHO.

Kluster Covid-19 di Starbucks sedikitnya menyebabkan sekitar tiga lusin lebih kasus di luar keda kopi pada 24 Agustus lalu.

Sedikitnya ada 3.000 kasus baru yang muncul dan mendorong pemerintah Korea Selatan untuk memperketat peraturan jarak fisik (physical distancing).

Selain gerai kopi Starbucks, beberapa hot spot virus corona juga bermunculan di wilayah metropolitan Seoul, dan otoritas setempat mewajibkan semua warganya untuk mengenakan masker, baik di luar atau di dalam ruangan.

Happy Hypoxia Syndrome, Gejala ‘Tersembunyi’ Covid-19

Jakarta, CNN Indonesia — Sesak napas menjadi salah satu gejala Covid-19. Namun, sebuah studi menemukan, pasien yang dinyatakan positif Covid-19 bisa mengalami happy hypoxia syndrome. Nama terakhir merupakan kondisi saat seseorang tak mengalami kesulitan bernapas meski kadar oksigen dalam tubuh sangat rendah.

“Kondisi ini sangat membingungkan bagi dokter karena sangat bertentangan dengan konsep biologi dasar,” ujar penulis studi penelitian Martin J Tobin yang merupakan dokter spesialis paru, mengutip Science Direct.

Dalam beberapa kasus, lanjut Tobin, pasien malah terasa nyaman, tidak terganggu sama sekali, bahkan bisa beraktivitas. Padahal, dalam tingkatan yang parah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.

Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini melibatkan 16 pasien Covid-19 dengan kadar oksigen yang sangat rendah, tapi tanpa sesak napas.

“Saat kadar oksigen turun, otak [pasien Covid-19] tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah, di mana pasien biasanya akan merasakan sesak napas,” kata Tobin.

Happy hypoxia syndrome dikenal juga dengan istilah ‘silent hypoxemia’. Hipoksemia sendiri didefinisikan sebagai penurunan kadar oksigen dalam darah. Saat oksigen mulai berkurang, seseorang umumnya akan mengalami sesak napas. Pada tingkat terendah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.

Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Pada kasus yang parah, infeksi ini bisa mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap paru-paru. Tingkat oksigen dalam darah yang sangat rendah ditemukan pada beberapa pasien Covid-19.

Mengutip Healthline, hipoksemia umumnya dapat disebabkan oleh berbagai kondisi pernapasan seperti asma, pneumonia, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Hipoksemia juga terkadang dapat terjadi pada bayi baru lahir dengan kelainan atau penyakit jantung bawaan. Bayi prematur juga rentan mengalami hipoksemia.

Orang yang mengalami hipoksemia umumnya akan menunjukkan beberapa gejala seperti sesak napas, batuk atau mengi, sakit kepala, detak jantung cepat, merasa bingung, serta warna biru pada kulit, bibir, dan kuku.

DIY Akan Tutup Posko Dukungan Gugus Tugas COVID-19

SuaraJogja.id – Pemda DIY akan menutup Posko Dukungan Gugus Tugas COVID-19 DIY. Pembubaran posko di tingkat DIY, beranggotakan para relawan yang biasanya ikut memakamkan jenazah pasien COVID-19 ini, rencananya mulai diberlakukan pada September 2020 mendatang.

Kebijakan tersebut diberlakukan dari hasil evaluasi penanangan COVID-19 di DIY, termasuk dalam menyiapkan regulasi dan kebijakan terkait revisi kelima Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 ( COVID-19) tentang pemakaman jenazah pasien COVID-19.

“Setelah konsolidasi beberapa waktu terakhir, kita perlu memgantisipasi hal hal yang lain terkait ketugasan di BPBD, maka saatnya dikembalikan ke fungsinya,” ungkap Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di DIY Biwara Yuswantana di Pesonna Tugu Yogyakarta, Selasa (25/8/2020).

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY tersebut, posko pendukung tersebut sudah dibuka selama enam bulan terakhir sejak Maret 2020, saat kasus positif COVID-19 mulai terkonfirmasi muncul di DIY.

Posko tersebut dibuka atas peran para relawan, SAR, TRC, MDMC, dan lainnya yang menjadi bagian dari sekretariat gugus tugas Pemda DIY, yang kemudian berubah menjadi posko terpadu.

Posko pendukung tersebut awalnya berperan melakukan penyemprotan disinfektan ke masyarakat.

Kinerja mereka bertambah memakamkan jenazah seiring adanya pasien COVID-19 yang meninggal dunia karena banyak masyarakat yang belum memahami protokol pemakaman pasien COVID-19.

Untuk itu setelah ditutup, tugas dan fungsi posko nantinya akan diserahkan ke masing-masing lembaga, termasuk gugus tugas di masing-masing kabupaten/kota.

Rumah sakit, dinas kesehatan, dan gugus tugas di tingkat kabupaten hingga desa yang bertugas melakukan pengantaran dan pemakaman jenazah pasien COVID-19.

“Provinsi akan memastikan segala situasi berjalan dengan baik melalui supervisi dan cipta kondisi dalam konteks penanganan [COVID-19] yang komprehensif. Jadi kita akan kembali ke [fungsi] reguler seperti biasanya. Tentu apabila ada celah dan kendala maka gugus tugas akan menangani itu,” tandansya.

Biwara menambahkan, meski posko pendukung ditutup, para relawan tetap bisa ikut berperan menangani COVID-19 maupun bencana lain di gugus tugas tingkat kabupaten/kota hingga ke level desa.

Apalagi, masih ada potensi bencana yang terjadi di DIY selain pandemi COVID-19, seperti kekeringan dan banjir.

Selain itu, saat ini sudah mulai ada permintaan penanganan kekeringan di tingkat masyarakat.

Karenanya, dibutuhkan koordinasi semua pihak untuk mulai mengantisipasi potensi-potensi bencana yang terjadi di DIY.

“Relawan juga punya tugas lain seperti penanganan kekeringan atau secara periodik menghadapi musim hujan,” imbuhnya.

Pemberian Vaksin Covid-19 Disiapkan Gratis dan Berbayar, Ini Penjelasan Erick Thohir

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Erick Thohir mengatakan, pemerintah telah menyiapkan rencanan program pemberian vaksin Covid-19 pada 2021.

Ia menjelaskan, pemerintah akan menyelenggarakan vaksin gratis menggunakan data BPJS Kesehatan.

“Vaksin bantuan pemerintah di mana melalui budget APBN dan data BPJS Kesehatan, nanti ada istilahnya vaksin gratis secara massal yang diharapkan di awal tahun depan (2021),” kata Erick dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Kamis (27/8/2020).

Namun, Erick mengatakan, vaksin subsidi pemerintah tidak tersedia untuk semua masyarakat. Sebab, saat ini kondisi keuangan negara disebut terus mengalami penurunan.

Masyarakat yang terdata di BPJS Kesehatan pun tidak seluruhnya mendapatkan layanan vaksin gratis.

“Kami mengusulkan bila memungkinan untuk masyarakat bisa membayar vaksin mandiri untuk yang mampu,” ujar Erick.

“Jadi yang terdata di BPJS Kesehatan, tapi dengan tingkat daya beli berapa harus mandiri. Ini upaya kita juga untuk menekan upaya cashflow pemerintah,” tuturnya.

Ia menjelaskan, saat ini pemerintah telah menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), G42 dan perusahaan asal China, Sinovac dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Menurut Erick, Indonesia bisa mendapatkan 30 juta vaksin yang bisa diberikan untuk 15 juta orang di akhir tahun 2020.

Sementara itu, pemerintah masih terus menyusun kesepakatan kerja sama pengadaan vaksin untuk 2021.

“Untuk tahun 2021 sendiri, total komitmen ini kita masih meng-arrange, ada yang 290 juta sampai 340 juta,” ucapnya.

Erick melanjutkan, vaksin Covid-19 yang dikembangkan G42 dan Sinovac diberikan sebanyak dua kali untuk satu orang.

Vaksin diberikan dalam jeda waktu dua minggu. Vaksin Covid-19 yang dikembangkan saat ini masih bersifat jangka pendek.

“Kami tekankan ada dua kali dosis penyuntikan dengan jeda dua minggu. Sebagai catatan, vaksin untuk Covid-19 yang ditemukan hari ini jangkanya masih enam bulan sampai dua tahun,” ujar Erick.

Dia mengatakan, uji klinis vaksin Covid-19 ini masih terus dilakukan.

Sinovac saat ini tengah melakukan uji klinis tahap tiga di Indonesia, Bangladesh, Arab Saudi, dan Turki. Di Indonesia, Sinovac bekerja sama dengan PT Bio Farma.

Sementara itu, G42 melakukan uji klinis sendiri di UEA. Erick menjelaskan, Indonesia mengirim tim ke UEA utnuk memantau uji klinis tersebut. G42 diketahui bekerja sama dengan PT Kimia Farma.

Erick pun menegaskan, pemerintah terus berupaya menjalin kerja sama dengan berbagai negara lainnya untuk mengembangkan vaksin Covid-19.

Selain itu, pemerintah tetap berusaha agar Indonesia dapat menemukan vaksin secara mandiri.

“Kita harapkan kita juga bisa menemukan vaksin Merah Putih sendiri. Karena dari pengalaman kita jg punya kapasitas itu. Tapi karena ini penyakit baru ktita belum bisa mendapatkan teknologi yang disampaikan,” kata dia.

Vaksin Covid-19 Moderna Sukses Hasilkan Antibodi, Harganya?

A sign marks an entrance to a Moderna, Inc., building, Monday, May 18, 2020, in Cambridge, Mass. Moderna announced Monday, May 18, 2020, that an experimental vaccine against the coronavirus showed encouraging results in very early testing, triggering hoped-for immune responses in eight healthy, middle-aged volunteers.(AP Photo/Bill Sikes)

Jakarta, CNBC Indonesia – Moderna mengumumkan hasil uji klinis vaksin Covid-19 yang diujicobakan kepada orang tua dan lansia sukses hasilkan antibodi penawar. Lantas bila dijual berapa harga vaksin ini?

Vaksin ini sukses hasilkan antibodi setelah dilakukan uji kepada 10 orang berusia 56 tahun hingga 70 tahun serta 10 orang yang berusia 71 tahun ke atas. Vaksin ini juga tidak menunjukkan efek samping yang membahayakan.

Beberapa pasien cuma melaporkan kelelahan, menggigil, sakit kepala dan nyeri di tempat suntikan. Sebagian besar gejala hilang dalam dua hari, ujar Moderna seperti dikutip dari CNBC International, Kamis (27/8/2020).

 

Pada uji klinis sebelumnya, vaksin Covid-19 buatan Moderna juga sukses menciptakan antibodi pada mereka yang berusia 18 tahun hingga 56 orang. Tidak ditemukan juga efek samping yang membahayakan pada relawan.

Nah, jika dipasarkan berapa harga vaksin Moderna? CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan vaksin ini dijual dengan harga US$32 hingga US$37 per dosis pada sebagian orang. Bila dirupiahkan harganya setara Rp 468 ribu per dosis.

Banyak para ahli memprediksi butuh 2 dosis sekali suntik agar tubuh kebal terhadap virus corona. Jadi kemungkinan dibutuhkan dana Rp 936 ribu per orang.

Stephane Bancel mengungkapkan selama pandemi, vaksin mRNA buatan Moderna akan dijual di bawah nilai wajarnya. Namun setelah pandemi berakhir harganya akan mengikuti harga pasar dan disesuaikan harga vaksin komersial lainnya.

“Kami akan bekerja dengan pasar,” ujarnya kepada CNBC International.

7 Nakes Terpapar Covid-19, RS Pratama Yogya Berhentikan Sementara Layanan IGD

TRIBUNJOGJA.COM – Layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RS Pratama Kota Yogyakarta dihentikan sampai dengan 30 Agustus setelah tujuh tenaga medisnya terpapar Covid-19.

Ketujuhnya didapat dari hasil tracing terhadap dua orang karyawan yang lebih dulu dinyatakan positif.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, tujuh orang tersebut masing-masing berstatus dokter (2), perawat (4) dan tenaga rekam medis (1).

Sampai sejauh ini, seluruhnya masih menjalani perawatan intensif di RS Pratama Yogyakarta.

“Semuanya dirawat di rumah sakit, karena menunjukkan gejala ya, meski beberapa gejalanya hanya ringan saja,” katanya, saat dikonfirmasi Rabu (26/8/2020).

Heroe berujar, kasus muncul setelah pihaknya melakukan tracing terhadap dua karyawan yang lebih dulu dinyatakan positif.

Total terdapat 103 orang, meliputi pegawai maupun tenaga kesehatan, yang mengikuti swab test masal.

Dari jumlah tersebut, didapat tujuh orang yang tertular.

Dengan adanya kasus anyar ini, Pemkot pun mengalihkan pelayanan IGD RS Pratama, menuju RSUD Kota Yogyakarta, untuk keperluan sterilisasi menyeluruh, atau disinfektisasi selama dua hari ke depan.

Ia mengatakan, instalasi baru beroperasi lagi mulai 30 Agustus mendatang.

“Sembari menunggu hasil tracing dan swab test terhadap pegawai dan nakes yang sampai saat ini masih terus kita lanjutkan dan semakin diperluas,” tambahnya.

Heroe menjelaskan, perluasan tersebut dilakukan dengan menambah jangkauan tracing terhadap para pengunjung RS Pratama, terutama pasien IGD, sejak 5 Agustus silam.

Pihaknya pun bakal mengundang beberapa orang yang masuk dalam data, untuk ditelusuri lebih lanjut.

“Terutama yang merasakan gejala, harus segera periksa. Kalau tanpa gejala pun harus isolasi mandiri. Kita hitung hari-hari yang berpotensi kapan saja, kita coba hubungi beberapa orang yang perlu tracing, supaya sebarannya dapat terkendali,” tandasnya.

“Selain itu, kita juga melakukan evaluasi terhadap protokol di IGD, karena setiap kasus harus di-review, apakah ada titik lemah, atau kekurangan. Tapi, untuk saat ini kita belum bisa menyimpulkan,” tambah Wakil Wali Kota.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Tri Mardoyo memastikan, dua orang karyawan yang lebih dulu dinyatakan positif Covid-19, tidak terpapar dari pasien.

Ia mengatakan, satu di antara dua orang tersebut punya mobilitas tinggi karena berasal dari Karanganyar.

“Jadi, yang bersangkutan memang sering bolak-balik dari Yogyakarta ke Karanganyar, sehingga mungkin dari situ dia tertularnya, bukan dari pasien,” jelas Tri.

Keaktifan Dokter dan Peneliti di Media Sosial Redam Hoaks Covid-19

Jakarta: Hoaks terkait virus korona (covid-19) di media sosial kerap meresahkan masyarakat. Keaktifan para dokter dan peneliti untuk memberikan edukasi di media sosial diyakini efektif meredam hoaks tersebut.
 
“Saya ada buat satu panduan, judulnya Panduan Penggunaan Media Sosial untuk Dokter. Jadi, kita butuh lebih banyak scientist (dan dokter) yang aktif di media sosial untuk dapat memberikan informasi secara langsung dan mudah dipahami oleh masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Komunikonten Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria, dalam keterangan pers di BNPB, Rabu, 19 Agustus 2020.
 
Kehadiran peneliti dan dokter di media sosial dapat menciptakan interaksi dengan pengguna lain. Edukasi secara sederhana ini diyakini mendorong keinginan masyarakat untuk menyebarkan informasi yang benar.”Mereka dengan sukarela akan menjadi buzzer (mendengungkan informasi) dari para scientist,” ujar Hariqo.
 
Salah satu informasi yang perlu diedukasi oleh peneliti dan dokter ialah penggunaan sarung tangan sekali pakai atau surgical gloves. Beberapa masyarakat kedapatan menggunakan sarung tangan medis itu saat berkegiatan di luar rumah.
 
Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Budi Santoso menyebut penggunaan sarung tangan apa pun kurang efektif. Virus akan tetap menempel di sarung tangan.
 
“Ketika menggunakan surgical gloves, virus yang ada di tangan itu akan tetap menempel pada barang-barang yang lain. Sebenarnya tidak serta-merta memutus rantai penularan,” kata Budi.
 
Masker masih menjadi alat pelindung diri (APD) bagi masyarakat untuk mencegah penularan virus korona. Masyarakat yang benar-benar memerlukan sarung tangan untuk pekerjaan bisa diganti dengan sarung tangan plastik.
 
“Bayangkan bila surgical gloves itu digunakan masyarakat, stoknya pasti akan berkurang. Seperti pada saat awal mula pandemi covid-19 di Indonesia, di mana masker beda sangat kekurangan. Nah, itu bisa terjadi lagi pada surgical gloves bila semua orang akhirnya menggunakan itu,” kata Budi.

Jutaan Anak Berisiko Tinggi Terinfeksi Covid-19

KOMPAS.com – Penyebaran virus corona secara global, masih terus bertambah dari hari ke harinya.

Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 22.292.658 (22,2 juta) kasus hingga Rabu (19/8/2020).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 15.035.489 (15 juta) pasien telah sembuh, dan 783.348 orang meninggal dunia.

Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 6.473.821, dengan perincian 6.411.878 pasien dengan kondisi ringan dan 61.943 dalam kondisi serius.

Berikut 10 negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak:

1. Amerika Serikat, 5.653.509 kasus, 174.951 orang meninggal, total sembuh 3.006.009.

2. Brasil, 3.411.872 kasus, 110.019 orang meninggal, total sembuh 2.554.179.

3. India, 2.766.626 kasus, 53.023 orang meninggal, total sembuh 2.036.703.

4. Rusia, 932.493 kasus, 15.872 orang meninggal, total sembuh 742.628.

5. Afrika Selatan, 592.144 kasus, 12.264 orang meninggal, total sembuh 485.468.

6. Peru, 549.321 kasus, 26.658 orang meninggal, total sembuh 374.019.

7. Meksiko, 525.733 kasus, 57.023 orang meninggal, total sembuh 359.347.

8. Kolombia, 489.122 kasus, 15.619 orang meninggal, total sembuh 312.323.

9. Cile, 388.855 kasus, 10.546 orang meninggal, total sembuh 362.440.

10. Spanyol, 384.270 kasus, 28.670 orang meninggal.

 

Indonesia

KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Mural yang dibuat oleh petugas prasarana dan sarana umum (PPSU) bertemakan kewaspadaan virus Corona atau Covid-19 terlihat di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2020). Mural tersebut memperlihatkan petugas medis membawa sebuah peti yang mengingatkan warga agar selalu waspada dengan Covid-19 dan mencegahnya dengan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan).

Kasus virus corona di Indonesia tercatat juga mengalami peningkatan, baik dari jumlah kasus, sembuh, maupun yang meninggal dunia.

Hingga Selasa (18/8/2020) pukul 12.00 WIB, kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 1.673. Sehingga jumlahnya saat ini menjadi 143.043 orang.

Sedangkan untuk kasus sembuh, juga ada penambahan sebanyak 1.848 orang.

Penambahan itu sekaligus menjadikan total pasien yang telah sembuh menjadi 96.306 orang.

Namun, pasien yang meninggal dunia karena infeksi Covid-19 ini juga ikut bertambah sebanyak 70 orang.

Maka, jumlah pasien yang meninggal dunia kini jumlahnya menjadi 6.277 orang.

Australia

Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan Australia mengamankan akses vaksin virus corona potensial yang menjanjikan.

Mengutip Al Jazeera, Selasa (18/8/2020), negara akan memproduksinya dan menawarkan dosis gratis untuk seluruh penduduk

PM Morrison mengatakan Australia telah mencapai kesepakatan dengan perusahaan farmasi Swedia-Inggris AstraZeneca untuk menerima vaksin Covid-19, yang dikembangkannya dengan Universitas Oxford.

“Vaksin Oxford adalah salah satu yang paling maju dan menjanjikan di dunia, dan berdasarkan kesepakatan ini kami telah mengamankan akses awal untuk setiap orang Australia,” katanya.

“Jika vaksin ini terbukti berhasil, kami akan langsung memproduksi dan memasok vaksin dengan cara kami sendiri dan membuatnya gratis untuk 25 juta warga Australia,” tambahnya.

Korea Selatan

Ketua kelompok pembelot Korea Utara Kuensaem, Park Jung-oh (kiri), saat diwawancarai media ketika menyiapkan paket bantuan berupa botol plastik isi beras dan masker ke Korea Utara. Foto diambil di Seoul, Korea Selatan, pada 18 Juni 2020.REUTERS/KIM HONG-JI Ketua kelompok pembelot Korea Utara Kuensaem, Park Jung-oh (kiri), saat diwawancarai media ketika menyiapkan paket bantuan berupa botol plastik isi beras dan masker ke Korea Utara. Foto diambil di Seoul, Korea Selatan, pada 18 Juni 2020.

Masih dari sumber yang sama, Korea Selatan memperketat pembatasan di wilayah Seoul untuk mengatasi lonjakan kasus virus corona.

Korea Selatan telah memerintahkan penutupan kelab malam, museum, restoran prasmanan dan melarang pertemuan besar di dalam dan sekitar Seoul.

Hal itu menyusul kekhawatiran akan ledakan kasus baru Covid-19 yang dapat memicul gelombang besar kedua.

Korea Selatan kini melakukan pendekatan dengan metode “lacak, uji dan obati” untuk mengekang penyebaran virus corona.

Namun, kini pemerintah Korea Selatan juga harus berjibaku dalam memerangi klaster baru yang sebagian besar terkait dengan kasus di acara keagamaan.

Irlandia

Serupa dengan Korea Selatan, Irlandia juga meningkatkan pembatasan karena kasus virus corona di dalam negeri yang melonjak.

Irlandia telah secara signifikan memperketat pembatasan virus corona secara nasionalnya untuk mencoba mengendalikan lonjakan kasus.

Juga, mendesak semua orang untuk membatasi pengunjung ke rumah mereka, menghindari transportasi umum dan orangtua untuk membatasi kontak mereka.

Lonjakan kasus selama tiga minggu terakhir, setelah Irlandia memiliki salah satu tingkat infeksi terendah di Eropa selama beberapa minggu, mendorong kasus kumulatif 14 hari per 100.000 populasi menjadi 26 orang.

Hal itu menyebabkan untuk pertama kalinya penguncian dengan skala lokal diterapkan pada minggu lalu.

WHO

Sebuah sekolah dasar dibuka kembali dengan para murid memakai masker pelindung, menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Nagasaki, selatan Jepang, Senin (11/5/2020), dalam foto yang diambil oleh Kyodo.ANTARA FOTO/Kyodo/via REUTERS Sebuah sekolah dasar dibuka kembali dengan para murid memakai masker pelindung, menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Nagasaki, selatan Jepang, Senin (11/5/2020), dalam foto yang diambil oleh Kyodo.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan lebih dari 800 juta anak di seluruh dunia kekurangan fasilitas cuci tangan dasar di sekolah mereka.

Hal itu menempatkan mereka pada peningkatan risiko tertular virus corona ketika sekolah dibuka kembali.

Sebuah laporan bersama yang diterbitkan minggu lalu oleh WHO, UNICEF, dan PBB, mengungkapkan bahwa 43 persen sekolah di seluruh dunia kekurangan fasilitas untuk mencuci tangan dasar dengan sabun dan air pada 2019.

Artinya, hal tersebut berdampak pada 818 juta anak, dengan lebih dari sepertiganya ada di benua Afrika.

Di negara kurang berkembang, tujuh dari 10 sekolah tidak memiliki fasilitas cuci tangan dasar, dan setengah dari semua sekolah kekurangan sanitasi dasar dan layanan air.

Pemerintah Siapkan Dana Rp 55 Triliun untuk Produksi Vaksin Covid-19

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah telah menyiapkan anggaran hingga Rp 55 triliun untuk penyediaan vaksin Covid-19. Pendanaan tersebut terbagi menjadi Rp 5 triliun di 2020 dan kisaran Rp 40-50 triliun pada 2021.

“Pemerintah sudah akan menganggarkan untuk penyediaan vaksin sebesar 30-40 juta di Bio Farma. Pemerintah memberikan pendanaan Rp 5 triliun tahun ini, dan tahun depan mungkin bisa disiapkan Rp 40-50 triliun,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi video, Rabu, 12 Agustus 2020.

Saat ini, kata Airlangga, PT Bio Farma yang telah menggandeng perusahaan Cina Sinovac Biotech Ltd, tengah melaksanakan uji klinis fase 3 untuk 1.600 orang. Nantinya vaksin ini ditargetkan untuk diproduksi dengan kapasitas 120 juta dosis per tahun.

Selain PT Bio Farma, PT Kalbe Farma bersama dengan Genexine Consortium Korea Selatan juga tengah memasuki uji coba fase 2 dengan 300-500 orang. “Lalu juga kerja sama dengan CEPI dan Melinda Gates Foundation akan dilaksanakan, dan royek vaksin merah putih. Sehingga, di bulan Januari sudah ada vaksin yang dilaksanakan untuk masyarakat,” ujar Airlangga.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan, selain bekerja sama dengan negara lain, pemerintah juga berupaya mengembangkan vaksin sendiri. Caranya dengan mengembangkan isolat virus Covid-19 yang ada di Indonesia.

Pengembangannya dilaksanakan oleh Lembaga Eijkman, BPPT, LIPI, BPOM, Menristek, dan universitas-universitas di Tanah Air. “Saya berharap vaksin Merah Putih tersebut dapat diselesaikan pertengahan tahun 2021 mendatang,” ujar Jokowi lewat instagramnya @jokowi, Rabu, 12 Agustus 2020.

Adapun saat ini, Indonesia bekerja sama dengan Sinovac, Uni Emirat Arab di G20, dan dengan Korea Selata dalam pengembangan vaksin Covid-19. Indonesia terlibat dalam uji klinis tahap III vaksin hasil kerjasama dengan Sinovac Biotech, perusahaan farmasi asal Cina.

Kemarin, Jokowi meninjau langsung pelaksanaan uji klinis tahap III terhadap bakal vaksin Covid-19 di Gedung Eijkman, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung.

Hasil uji vaksin yang melibatkan sebanyak 1.620 relawan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal pengembangan dan penemuan vaksin Covid-19 yang ditargetkan tercapai akhir tahun ini. “Kerja sama ini demi secepat-cepatnya kita bisa melakukan vaksinasi untuk seluruh rakyat Indonesia,” kata Jokowi.