Gempa Sukabumi Rusak 202 Rumah, 3 Luka, 173 Mengungsi

Jakarta, CNN Indonesia — Gempa dengan magnitudo (M) 4,9 di Sukabumi membuat 173 warga mengungsi dan tiga orang terluka. Selain itu, gempa mengakibatkan 202 rumah rusak.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa M 4,9 mengguncang Sukabumi pada Selasa (11/3) pukul 17.18, dengan pusat gempa di 23 kilometer arah Timur Laut Kota Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa itu membuat sejumlah kerusakan. Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi pun membuat tenda pengungsian untuk menampung penduduk yang rumahnya rusak.

“Mereka mendirikan tenda untuk menampung 173 warga Kampung Cipicung, Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Agus Wibowo, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/3).

Ia merinci rumah yang rusak di Sukabumi mencapai 202 unit. Itu terdiri dari rumah rusak berat (RB) 48 unit, rusak sedang (RS) 91 unit, dan rusak ringan (RR) 63.

“Dampak kerusakan rumah tersebar di Kecamatan Kalapanunggal, Cidahu dan Kabandungan,” lanjutnya.

Total kerusakan rumah di Kalapanunggal berjumlah 166 unit dengan rincian RB 41 unit, RS 75 dan RR 50. Rumah rusak di Kecamatan Cidahu mencapai 11 unit (rumah RS 7 unit dan RR 4 unit).

Kecamatan Kabandungan memiliki total rumah rusak berjumlah 25 unit, RB 7 unit, RS 9 dan RR 9. Satu masjid di kecamatan ini juga mengalami kerusakan dengan kategori sedang.

Selain Sukabumi, Agus menyebut gempa juga menimbulkan kerusakan tempat tinggal di Bogor. BPBD Kabupaten Bogor mencatat total kerusakan rumah di Kecamatan Pamijahan, Bogor, mencapai 20 unit, dengan rincian rumah RB 7 unit, RS 9 dan RR 4 unit.

Untuk Sukabumi sendiri, Kepala Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna menyebut ada lima kecamatan yang melaporkan kerusakan akibat gempa.

“Lima kecamatan tersebut adalah Kalapanunggal, Parakansalak, Cikidang, Cidahu dan Kabandungan,” kata di Sukabumi, Selasa.

Terkait korban, Agus menyebut BPBD Sukabumi tak mencatat ada korban jiwa.

“BPBD mencatat tiga orang luka ringan. Mereka telah mendapatkan perawata di klinik kesehatan terdekat. Tidak ada korban jiwa pascagempa yang dirasakan kuat sekitar 5 detik di Kabupaten Sukabumi ini,” tuturnya.

10 Penyebab Banjir dan Solusi untuk Mengatasinya, Wajib Diperhatikan

Merdeka.com – Banjir merupakan suatu kondisi di mana terjadi luapan air yang berlebih yang mengakibatkan terendamnya suatu wilayah. Banjir adalah air dalam volume besar yang dapat menggenangi sebuah daerah.

Banjir dapat dikatakan sebagai aliran air yang tidak dapat tertampung lagi oleh sungai, aliran air, dan saluran irigasi yang lainnya. Biasanya air banjir merupakan air yang berasal dari sungai atau hujan lebat yang terus menerus sehingga dapat menyebabkan luapan.

Saat bencana ini terjadi, banyak orang kehilangan harta benda mereka, bahkan dapat menimbulkan korban jiwa. Karena hal tersebut, sudah sepatutnya kita sebagai manusia menjaga alam agar tidak ada lagi terjadinya banjir yang akan merugikan banyak orang.

Untuk mengetahui apa saja penyebab banjir, berikut ini merdeka.com merangkum 10 penyebab banjir dan solusi untuk mengatasinya yang dilansir dari berbagai sumber.

1. Penebangan Hutan Liar

Penebangan hutan secara liar merupakan salah satu penyebab banjir yang sangat umum. Penebangan hutan menjadikan lahan resapan air akan sangat berkurang dan dapat menimbulkan bencana seperti banjir ataupun tanah longsor.

Adanya daerah resapan air merupakan hal yang sangat penting dan dapat mencegah terjadinya bencana banjir tersebut. Oleh karena itu, sudah kewajiban kita tetap menjaga kelestarian hutan kita dan tidak menyebabkan hutan gundul yang dapat mengakibatkan banjir.

2. Sampah yang Dibuang Sembarangan

Penyebab banjir yang sering kita tidak sadari adalah kebiasaan akan membuang sampah sembarangan. Sampah yang dibuang sembarangan contohnya di sungai, akan dapat mengakibatkan mampetnya aliran air dan akibatnya air sungai akan meluap.

Hal tersebut menjadi sebuah pemicu terjadinya banjir yang dapat merugikan masyarakat ataupun menimbulkan kerugian harta benda ataupun korban jiwa.

3. Pemukiman yang Dibangun di Bantaran Kali

Penyebab banjir biasanya adalah kurang tertatanya pemukiman penduduk yang berada di daerah bantaran sungai. Hal negatif yang dapat timbul akibat hal tersebut adalah dapat membuat pendangkalan sungai karena kebiasaan buang sampah yang dilakukan para warganya dan dibuang langsung ke sungai.

Selain itu, keadaan tanah di sekitar kiri dan kanan bangunan bisa saja ambles dan menutup sisi-sisi sungai. Hal tersebut menyebabkan penyempitan aliran sungai dan rawan akan terjadinya banjir.

4. Daerah yang Memiliki Dataran Rendah

Biasanya banjir akan timbul pada daerah-daerah yang memiliki kontur tanah yang rendah. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa air akan mengalir dari tempat yang datarannya tinggi ke tempat yang datarannya lebih rendah. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya banjir akan lebih besar.

5. Curah Hujan yang Cukup Tinggi

Penyebab banjir dan solusi untuk mengatasinya yang berikutnya adalah tingginya intensitas curah hujan di suatu daerah. Jika hujan lebat terjadi telah berlarut-larut dalam waktu yang lama akan sangat berpotensi terjadi banjir. Terutama pada daerah-daerah yang juga memiliki kontur tanah yang rendah.

6. Pengaturan Drainase yang Diubah Tanpa Mengindahkan Amdal

Drainase merupakan salah satu infrastruktur yang penting bagi suatu kota dalam mencegah terjadinya banjir. Biasanya drainase banyak diubah tanpa mengindahkan amdal. Hal tersebut banyak terjadi di daerah perkotaan.

Daerah hutan atau rawa seharusnya juga dapat berguna untuk mengatasi banjir. Namun pada realitanya, banyak lahan yang telah dialih fungsi menjadi mall atau gedung-gedung perkantoran.

Penyeimbangan antara pembangunan di daerah kota dan kawasan drainase kota sebaiknya perlu dilakukan agar dapat mencegah terjadinya banjir.

7. Salah Sistem Kelola Tata Ruang

Kesalahan pada sistem tata kelola ruang di daerah perkotaan biasanya seringkali menyebabkan sering terjadinya banjir. Dengan adanya kesalahan tersebut, biasanya air akan sulit menyerap ke dalam tanah dan menyebabkan aliran air menjadi lambat. Sementara pada musim penghujan, air yang datang ke daerah tersebut akan lebih banyak jumlahnya dari biasanya sehingga dapat cepat menyebabkan banjir.

8. Tanah yang Tidak Mampu Menyerap Air

Ketidakmampuan tanah dalam melakukan penyerapan air biasanya disebabkan karena berkurangnya lahan hijau atau lahan terbuka lainnya yang ada di perkotaan. Hal tersebut mengakibatkan air masuk ke dalam saluran, sungai, danau, ataupun selokan. Apabila tempat-tempat tersebut sudah meluap, dapat dipastikan bahwa air yang meluap mengakibatkan banjir.

9. Pemakaian Air Tanah yang Tinggi

Penyebab banjir yang selanjutnya adalah adanya pemakaian air tanah yang tinggi. Potensi banjir di perkotaan biasanya disebabkan oleh mobilitas yang tinggi dan pembangunan yang pesat sehingga menyebabkan kebutuhan air di kota jauh lebih tinggi.

Pada faktanya, penggunaan air tanah yang masih dapat memunculkan problem baru, yakni permukaan tanah menjadi turun. Hal tersebut dikarenakan oleh jumlah air tanah yang berkurang. Permukaan tanah yang mengalami penurunan akan memperbesar risiko terjadinya banjir.

10. Tinggal di Daerah Resapan Air

Bagi sebuah perkotaan, daerah resapan air merupakan suatu kunci untuk mencegah terjadinya banjir. Namun kebanyakan saat ini daerah resapan air di perkotaan telah beralih fungsi sebagai pemukiman warga. Akibatnya daerah resapan air akan semakin sedikit dan akan memicu potensi banjir lebih tinggi pada saat datangnya musim penghujan.

Bertambah, Pemerintah Umumkan 19 Orang Positif Terinfeksi Virus Corona di Indonesia

Trubus.id — Pemerintah melalui juru bicara nasional terkait penanganan virus corona (Covid-19) Achmad Yurianto mengungkapkan, jumlah kasus terkonfirmasi positif virus corona (covid-19) di Indonesia bertambah 13 kasus dari sebelumnya. Dengan demikian jumlah kasus menjadi 19 kasus dengan pasien termuda berusia 16 tahun dan pasien tertua berusia 59 tahun.

Dari jumlah tersebut, Yuri mengatakan, diantara pasien tersebut ada warga negara asing (WNA) yang dirawat di rumah sakit di Indonesia.

“Jumlah kasus yang terkonfirmasi positif sebanyak 19. Ini adalah penjumlahan dari yang sudah dirilis diawal dari pasien nomor 1 dan nomor 6. Hari ini saya menyampaikan nomor 7 sampai 19,” kata Yuri dalam konferensi pers terkait Covid-19 di Istana Negara, Senin sore (9/3).

Yuri menyebutkan tujuh dari tiga belas kasus baru tersebut berasal imported case, yakni yang bersangkutan memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara yang telah terjangkit covid-19. Setelah kembali ke Indonesia, beberapa hari kemudian menujukkan gejala yang mengarah ke penyakit covid-19.

“Sudah (ditelusuri) dari 3 negara. Yang pasti dari negara yang terinfeksi,” tuturnya lewat keterangan tertulis Kementerian Kesehatan.

Di samping imported case, penambahan 6 kasus positif merupakan hasil tracing dan tracking dari 6 kasus positif sebelumnya yang merupakan bagian dari kluster Jakarta. Mereka saling terkait termasuk 2 WNA yang juga terkonfirmasi positif.

“Yang pertama kita identifikasi sebagai kasus 07, perempuan (59 tahun) kondisinya sakit ringan-sedang dan stabil. Kasus ini adalah imported case, yang bersangkutan baru kembali dari luar negeri dan beberapa saat menunjukkan gejala ke arah covid-19 kemudian dilakukan pemeriksaan baik dengan PCR maupun Genom sekuensing hasilnya positif. Selanjutnya kasus 08, laki-laki (56 tahun) pasien ini tertular kasus 07 karena memang suami istri,” jelas Yuri.

Untuk diketahui bahwa tracing dan tracking merupakan langkah pemerintah untuk mempercepat penelusuran dan penemuan kasus untuk melakukan pemeriksaan serta meyakinkan guna mendapatkan kasus positif maupun negatif dalam konteks kedaruratan masyarakat bukan dalam konteks protokol perawatan penderitanya. Keberhasilan pengendalian penyakit ini adalah bagaimana memutuskan rantai penularan dengan cara melakukan isolasi terhadap kasus yang positif.

“Bagi kita sekali lagi saya tekankan, status positif atau bukan itu tidak akan banyak berpengaruh pada rawatan pasiennya, tetapi lebih cenderung pada bagaimana antisipasi penularannya, karena tentunya kita harus melakukan contact tracing sehingga kita bisa dengan cepat mencari, menemukan, dan mengisolasi, supaya tidak ada sumber penularan lagi di masyarakat yang semakin membuat tidak terkendalinya sebaran dari penyakit ini. Ini yang penting,” terangnya.

Dengan bertambahnya jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 di Indonesia, Yuri mengatakan pihaknya mendapatkan arahan dari Presiden Joko Widodo agar masyarakat tetap tenang namun selalu waspada. Mengingat penyakit ini memiliki gejala ringan bahkan asimptomatik.

“Kami sudah mendapat arahan lagi dari Presiden bahwa masyarakat diminta untuk tetap tenang karena kecenderungan penyakit ini sekarang secara klinis tidak seperti yang kita bayangkan di Wuhan,” pungkasnya.

Ini Sebabnya Angka Kematian akibat Virus Corona Berbeda di Tiap Negara

Jakarta – Secara global, angka kematian akibat virus corona COVID-19 ada di sekitar angka 3,4 persen. Namun bila dilihat di tiap negara, terdapat variasi yang sangat beragam.

Kenapa mortalitas atau tingkat kematian akibat virus corona bisa berbeda-beda?

“Itu kan sebenarnya dikaitkan dengan banyaknya jumlah kasus (COVID-19) yang ditemukan,” kata Ketua Pokja Penyakit Infeksi New Emerging dan Reemerging RSPI Sulianti Saroso dan dokter yang merawat pasien, dr. Pompini Agustina, SpP, di RSPI Sulianti Saroso pada detikcom, Senin (9/3/2020).

“Selain itu, tergantung pada beratnya kasus yang ditemukan. Dan itu (penyebab) yang sampai saat ini diketahui ya,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang berbeda, Ahli Penyakit Tropik dan Infeksi dari RS Ciptomangunkusumo (RSCM), dr Erni Juwita Nelwan, SpPD, mengatakan sampai saat ini mortalitas atau kematian akibat virus corona masih terbilang rendah. Dari sekian ratus pasien yang menjalani perawatan, persentase kematian masih rendah dan banyak pasien sudah dipulangkan atau rawat jalan.

“Untuk nCoV itu kalau kita lihat nggak sampai 5 persen kematiannya dan itupun kematiannya tidak dapat dikaitkan langsung dengan virus ini karena diduga meninggalnya justru karena komorbid atau penyakit penyerta yang sudah ada di pasien,” kata dr Erlina Burhan, SpP, spesialis paru dari RS Pusat Persahabatan beberapa waktu lalu.

Meski angka kematiannya cukup rendah, penularannya tetap harus diwaspadai saat ini. Hal ini mengingat kegiatan manusia yang cepat dan beragam, bisa membuat kasus infeksi ini meningkat.

Menkes Lantik Jubir Virus Corona Covid-19 Achmad Yurianto Jadi Dirjen P2P Kemenkes

Sekretaris Ditjen P2P Kemenkes Achmad Yurianto

Jakarta

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, melantik dr Achmad Yurianto sebagai Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menggantikan Anung Sugihantono yang telah pensiun dari jabatannya. Saat ini dr Yuri, sapaan akrabnya, juga ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai juru bicara Istana untuk perkembangan virus corona Covid-19.

“Kalau Covid kan tetap tugas khusus,” kata dr Yuri kepada media saat dijumpai di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (9/3/2020).

Meski diberi tugas khusus oleh Presiden Jokowi, ia melihat masalah kesehatan di Indonesia masih cukup banyak yang belum terselesaikan.

“Melanjutkan. Sekarang kita Covid pasti, DBD juga. Kita masih punya masalah dengan tbc, malaria,” imbuhnya.

Saat ini memang masyarakat tengah dihebohkan dengan adanya wabah virus corona yang sudah menulari enam orang WNI. Untuk itu, Kemenkes mengimbau untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan agar tidak mudah tertular virus.

“Germas itu paling penting, tinggal bagaimana mengubah jadi sosialisasi menjadi membudayakan germas,” tutupnya.

Coronavirus: Schools could close to tackle virus outbreak

The first minister told the BBC’s Politics Scotland they may have to consider closing schools and delaying non-urgent hospital procedures.

But she stressed that their decisions would be “really strongly underpinned” by scientific advice.

Eighteen people have so far tested positive for the Covid-19 virus in Scotland.

Ms Sturgeon said she expected the number to rise “perhaps rapidly in the days to come”.

“It is now likely that we are facing a significant outbreak of coronavirus across the UK,” she added.

However, the “vast majority” of infected people would experience only very mild symptoms and would not need hospital treatment.

Experts are currently working to contain the spread of the virus in Scotland.

The first minister said that when that “ceases to be possible” action will be taken to slow down its spread.

If they can reduce the number of infected people at any one time, that will reduce the pressure on the health service.

She admitted school closures “could be considered” in a bid to slow the spread of the virus but no decisions have been taken.

“There are balances – quite difficult balances – and quite difficult judgements to be made here,” Ms Sturgeon said.

“We have some of the best scientists in the country looking at the kind of measures that would have the greatest impact on slowing down the spread of the virus.

“That has to be balanced by how practical those measures are to implement and, of course, the society and economic impact.

“There are some careful judgements that politicians and ministers will have to take but the focus is on doing everything we possible can to slow down the spread of this.”

Coronavirus in Scotland

  • 1,939Negative test results

  • 18Positive test results

  • 273Positive cases in UK

  • 2Deaths in the UK

  • 100,000Approximate positive cases globally

  • 3,500 Approximate deaths globally

Source: WHO figures

Work to increase capacity in hospitals could include the postponement of non-urgent procedures.

They are also considering opening facilities which are not routinely used, asking retired healthcare workers to return to work, and procuring additional equipment.

On the issue of welfare payments, the first minister said the Scottish government would do what it could within its powers to support the most vulnerable people affected by the virus

She said ministers were holding “good discussions” with the UK government on issues including the relaxation of Universal Credit.

“We don’t want people who are doing the right thing – self-isolating to limit the spread of the virus – being sanctioned in terms of their benefits.”

Earlier, on Sky News’ Sophy Ridge On Sunday, Ms Sturgeon said the need for more funding for the NHS was “inevitable”.

Chancellor Rishi Sunak is preparing to deliver the UK Budget on Wednesday. He told the BBC’s Andrew Marr programme the NHS will get “whatever resources it needs”.

Tagana dinilai sebagai ujung tombak penanganan bencana

Jakarta (ANTARA) – Taruna Siaga Bencana (Tagana) dinilai sebagai ujung tombak dalam upaya penanganan bencana di Tanah Air sehingga keberadaannya patut mendapatkan apresiasi, kata Menteri Sosial Juliari P. Batubara. “Tagana patut mendapat apresiasi yang tinggi karena pengabdiannya dalam penanganan bencana,” katanya saat memimpin rapat evaluasi penanganan bencana di wilayah Jabodetabek yang diikuti 250 relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan ucapan tersebut sebagai apresiasi yang paling tulus dan penghargaan yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Aset Kementerian Sosial, lanjutnya, paling berharga saat kebencanaan adalah relawan Tagana.

Menurut dia, tidak ada yang lebih berharga dari Tagana bagi Kementerian Sosial khususnya pada saat bencana melanda.

“Oleh karena itu, saya mewakili Kementerian Sosial izinkan sekali lagi untuk menyampaikan penghargaan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk teman-teman Tagana semua. Karena tanpa Tagana pastinya Menteri Sosial tidak bisa apa-apa pada saat bencana,” katanya.

Sejak menjabat sebagai Mensos, Juliari bisa melihat langsung pengabdian banyak tagana yang semua dalam keadaan yang siaga dan dalam keadaan “in action”.

“Jadi bukan dalam keadaan yang seliweran tanpa koordinasi, bisa kita nilai semua dalam keadaan siaga dan ‘in action’,” kata Ari.

Ari mengatakan bahwa bencana di Indonesia sifatnya permanen jadi tidak mungkin tidak ada bencana.

“Apakah itu banjir, gempa, letusan gunung berapi, kemudian juga bencana alam bencana sosial juga tetap kita harus waspada dan siaga,” katanya.

Oleh karena itu, ungkapnya, sudah sangat pantas apabila kehadiran tagana ini bisa meringankan atau meminimalisasi bertambah beratnya atau bertambah korban pada saat bencana terjadi karena Tagana ini lahir dari “community base disaster management” yang berasal dari masyarakat.

Rapat evaluasi penanganan bencana yang melibatkan 250 Tagana tersebut juga dihadiri oleh Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat, Dirjen Pemberdayaan Sosial Pepen Nazarudin, Dirjen Rehabilitasi Sosial Edy Suharto, dan Kepala BP3S Syahabuddin.

Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa kedepan bukan hanya jumlah anggota Tagana yang dirawat tapi kualitas ditingkatkan. Jumlah Tagana terutama harus bertambah begitu juga Tagana Madya dan Tagana Pratama.

“Tagana Madya menjadi tagana utama yang semula Pratama menjadi Madya. Inilah penjenjangannya yang harus diperkuat,” kata Politisi PDIP tersebut.

Ombudsman Usul Indonesia Punya Dana Abadi Hadapi Bencana

Liputan6.com, Jakarta – Anggota Ombudsman RI Alamsyah Saragih mengusulkan agar pemerintah mulai mengumpulkan dana abadi untuk digunakan ketika negara menghadapi masalah-masalah krusial, seperti wabah hingga bencana alam.”

Kita agak kurang serius membangun yang namanya sovereign wealth fund, dana yang dikumpulkan untuk hal-hal seperti ini, bencana, serangan wabah, dan menjamin masa depan,” kata Alamsyah  di Jakarta, Minggu (8/3/2020).Langkah ini, sudah dilakukan misalnya oleh China. Dalam kurun waktu 16 tahun, negeri tirai bambu itu berhasil mengumpulkan hingga USD 900 miliar.

“Yang diambil sekian persen dari SDA yang dieksploitasi, dari hutan, dan dari aspek-aspek eksploitasi lain yang memang mereka peruntukan untuk mengantisipasi apabila ada bencana alam dan ada hal-hal yang krusial seperti ini,” sambungnya.

Indonesia, memang sudah ada mekanisme pengumpulan dana abadi. Tapi masih kecil dan tidak berfokus pada tujuan spesifik.”Ada di bawah Kementerian Keuangan dan terlalu banyak. Dia (China) bisa bangun satu rumah sakit hanya dalam sekian hari karena dananya di cukup. Kita menangani bencana di Palu saja sampai hari ini orang masih tinggal di hunian sementara (Huntara),” tegas dia.

Dia pun berharap, pemerintah harus sudah mulai mengumpulkan dana semacam itu. Dan itu pun nanti bakal digelontorkan ketika Indonesia menghadapi situasi genting, seperti bencana alam maupun wabah.”Kalau kita istilahnya semacam dana abadi yang hanya bisa dikeluarkan apabila presiden tanda tangan. Seperti di China juga perdana menteri dan presiden tanda tangan baru keluar dan kemudian bangun rumah sakit dengan cepat,” urai dia.

Jika menilik kemampuan SDM dalam menghadapi Covid-19, Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Hanya memang dukungan dari segi anggaran yang harus dikuatkan.”Apakah orang Indonesia mampu? Mampu. Itu rumah sakit di Wuhan, arsiteknya anak Malang. Dari kapasitas kita bisa, tapi resource itu memang harus kita tabung,” ujar dia.

Dari APBN

Menanggapi usulan tersebut, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengatakan bahwa sejauh ini pemerintah sudah mengalokasikan anggaran dari APBN untuk menangani berbagai masalah, seperti bencana alam dan wabah. Dana tersebut dialokasikan ke BNPB.

“Kayak di (Karantina WNI) Natuna memang ditangani langsung oleh BNPB. Kemudian di Departemen Keuangan ada alokasi dana yang disiapkan dalam rangka menghadapi masalah-masalah atau bencana-bencana, wabah seperti Corona maupun bencana alam,”

Ngabalin mengakui bahwa dari segi jumlah anggaran memang belum terlampau besar. Meski demikian, dia menegaskan, khusus untuk penanganan Covid-19, dananya sudah disiapkan pemerintah.

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com

Pemerintah Sebut Pasien Sembuh dari Corona Bisa Tertular Lagi

Jakarta, CNN Indonesia — Juru bicara pemerintah khusus penanganan wabah Virus Corona Achmad Yurianto mengatakan pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 bisa saja kembali tertular.

“Jadi bukan penyakit kambuh, tapi ketularan lagi,” kata Yurianto di di Kompleks Istana Kepresidenan, Minggu (8/3).

Oleh karena itu, kata dia, edukasi tentang virus ini penting bagi masyarakat agar senantiasa berhati-hati dan waspada. Misalnya, penggunaan masker jika sedang sakit, rajin mencuci tangan, dan beberapa tindakan preventif lainnya.

“Kita harus tetap hati-hati karena penyakit ini pada awalnya tidak tunjukan gejala yang berat,” ujarnya.

Di sisi lain, Yurianto menyampaikan suspect Corona yang kemudian dinyatakan negatif bakal diminta untuk melakukan self isolate atau mengisolasi diri. Hal itu juga berlaku bagi pasien dalam pengawasan (PDP).

“Beberapa kasus yang kemudian PDP negatif dan sudah boleh pulang, maka langkah berikutnya kita akan melakukan self isolate,” ucap Yuri.

Self isolate yang dimaksud itu yakni pasien diminta untuk berada di dalam rumah selama 14 hari. Selama itu, kata Yurianto, yang bersangkutan diminta untuk menggunakan masker dan mengurangi kontak dekat dengan keluarga.

[Gambas:Video CNN]

Yurianto menuturkan selama 14 hari pihak Dinas Kesehatan setempat ataupun puskesmas perlu melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien tersebut.

“Kalau baik semua dan kita nyatakan tidak masalah maka bisa bersosialisasi seperti biasa,” ujarnya.

Diketahui, sejumlah pasien Virus Corona di sejumlah negara dinyatakan sembuh. Namun, beberapa di antaranya kembali tertular.

Kronologi dan Urutan Munculnya 6 Orang Positif Virus Corona di Indonesia

KOMPAS.com – Kabar mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan bagi kita di Indonesia muncul sejak Senin (2/3/2020) lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya pasien yang positif virus corona dan mengidap Covid-19.

Ada dua orang pasien Covid-19 dalam kasus pertama yang terjadi di Tanah Air, yaitu seorang perempuan berusia 31 tahun (kasus 1) dan ibunya yang berusia 64 tahun (kasus 2).

Menurut Jokowi, virus corona itu didapat dari warga negara Jepang yang sempat melakukan perjalanan di Indonesia. Dia kemudian menularkan itu ke pasien Kasus 1, lalu virus corona itu sampai ke pasien Kasus 2.

Pemerintah kemudian men-tracing atau melakukan penelusuran dengan skema klaster untuk mengantisipasi persebaran virus ini.

Hasilnya, hingga Minggu malam diketahui ada enam pasien yang positif Covid-19 dan 21 orang masuk dalam kategori suspect.

Lima orang di antaranya diketahui berasal dari klaster Jakarta, yang masih terkait dengan Kasus 1. Mereka dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta.

Adapun, pasien Kasus 6 merupakan salah satu awak kapal pesiar Diamond Princess, yang merupakan salah satu lokasi persebaran terbesar virus corona. Pasien 6 dirawat di RSUP Persahabatan, Jakarta.

Pada 14 Februari 2020, WNI berusia 31 tahun diduga terjangkit virus corona saat berada di sebuah restoran di Jakarta. Dia tertular dari warga Jepang yang saat itu juga sedang di tempat yang sama.

WNI dan warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia itu diketahui melakukan kontak cukup dekat atau close contact.

Kontak yang dimaksud dekat adalah jarak yang memungkinkan virus itu menular.

Pasien 1 itu kemudian melakukan kontak dengan Pasien 2, yang merupakan ibunya. Sang ibu tertular virus corona saat sedang merawat anaknya yang sakit.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebutkan bahwa dua orang itu tinggal di Depok, Jawa Barat.

Bagaimana hubungan Pasien 1 dengan warga Jepang diketahui?

Dua hari kemudian, 16 Februari 2020, ibu dan anak itu melakukan pemeriksaan di rumah sakit di Depok. Saat itu, keduanya hanya diminta untuk rawat jalan.

Pada 26 Februari 2020, kondisi keduanya belum membaik dan mereka meminta untuk rawat inap karena merasa batuknya tidak kunjung reda.

Kemudian, pada 28 Februari 2020, terdapat informasi ke Tanah Air bahwa warga Jepang itu positif Covid-19 saat kembali ke Malaysia.

Pemerintah kemudian menelusuri aktivitas warga Jepang itu, termasuk siapa saja yang dia temui. Hingga kemudian, hal ini membuat ditemukan keterkaitannya dengan Pasien 1.

Adakah persebaran virus corona dari penemuan Kasus 1?

Setelah penemuan Kasus 1 dan Kasus 2, pemerintah terus melakukan tracing dengan menelusuri aktivitas mereka.

Hingga kemudian, ada dugaan virus corona itu tersebar di lokasi yang sama saat Kasus 1 melakukan kontak dekat dengan warga Jepang, di sebuah restoran di Jakarta Selatan.

Penelusuran dilakukan dengan metode klaster, yaitu mencari orang-orang yang berada di lokasi yang sama, yaitu di restoran itu pada 14 Februari 2020.

Kasus 3 dan Kasus 4 itu diketahui berada di lokasi yang sama dengan Kasus 1, dan ada kemungkinan tertular Covid-19 di saat yang sama.

Hal yang perlu dicatat adalah belum diketahui apakah penularan itu langsung dari warga Jepang atau dari pasien dalam kasus 1

Lalu, bagaimana pemerintah mendapatkan pasien berikutnya yang positif Covid-19?

Awalnya, pemerintah menelusuri dan mendapatkan 80 pengunjung dan orang yang berada di restoran itu pada 14 Februari 2020.

Berikutnya, dilakukan screening hingga kemudian dikerucutkan menjadi 20 orang yang diminta untuk pendalaman.

Sebanyak 20 orang itu dicari tahu seberapa dekat kontak yang dilakukan. Hasilnya, ada tujuh pasien yang dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di RSPI Sulianti Saroso, pemerintah kemudian memastikan ada tiga pasien lagi yang mengidap Covid-19, yaitu Kasus 3, 4, dan 5.

Bagaimana dengan Kasus 6?

Pemerintah menyebut bahwa Kasus 6 tidak terkait dengan klaster Jakarta. Dia merupakan awak kapal pesiar Diamond Princess yang sebelumnya menjadi salah satu lokasi besar persebaran virus corona.

Diamond Princess hingga Minggu malam menempati peringkat ketujuh sebagai lokasi dengan kasus Covid-19 terbanyak.

Kapal ini tercatat memiliki 696 kasus, dan berada di bawah China, Italia, Korea Selatan, Iran, Perancis, Jerman. Data lihat dalam situs ini.

Pasien 6 merupakan laki-laki yang kini dirawat di RSUP Persahabatan.