Fakta Meninggalnya Pasien Suspect Virus Corona di Semarang, Gangguan Napas Berat dan Pulang dari Spanyol

KOMPAS.com – Seorang pasien pria suspect Virus Corona (Covid-19) yang dirawat di RSUP Kariadi Semarang, Jawa Tengah meninggal dunia karena gangguan napas berat.

Ia meninggal hari Minggu (23/2/2020) setelah diisolasi sejak 19 Februari 2020.

Pasien tersebut baru pulang ke Indonesia pada 12 Februari 2020 setelah melakukan perjalanan dari Spanyol dan transit di Dubai.

Saat tiba di Tanah Air, dia menunjukkan gejala demam, batuk, pilek, dan sesak nafas.

Ia pun menjalani perawatan di ruang isolasi iCU RSUP Kariadi hingga meninggal dunia karena gangguan napas berat.

Jenazah dibungkus plastik sebelum dikremasi

Jenazah pasien pria suspect Virus Corona dibungkus plastik sebelum dikremasi.

Menurut Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Kariadi Semarang Agoes Oerip Poerwoko Hal tersebut dilakukan sesuai prosedur.

“Pada saat memandikan jenazah pasien, petugas memakai alat pelindung diri dari baju, masker, kacamata, topi sesuai prosedur. Area jalan ke kamar mayat juga kita bebaskan. Lalu jenazahnya diberi penutup terbungkus plastik untuk memastikan agar tak menular ke keluarganya,” kata Agoes saat diwawancarai di rumah sakit, Rabu (26/2/2020).

Sementara itu Ketua Tim Penanggulangan Bencana RSUP Dr. Kariadi, dr. RP Uva Utomo., SpKF mengatakan jenazah dibungkus plastik agar virus pada mayat tidak menular ke petugas medik.

“Jadi, mayat itu dibungkusnya dengan plastik, kalau dengan kain masih ada pori-pori kecil, karena ukuran virus itu sangat kecil, kan kalau dengan pasltik jadi tidak menyebar di udara,” ujar Uva saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (26/2/2020).

Ia menjelaskan tidak hanya jenazah dengan suspect corona saja yang mendapat perlakuan dikremasi dengan plastik, melainkan jenazah pasien yang terinfeksi virus kategori airbone.

Setelah dibungkus plastik, mayat tersebut dimasukkan ke dalam peti dan dilarang untuk dibuka lagi.

“Dari dia meninggal itu, jika masih ada di rumah sakit itu masih aman, kalau dia sudah keluar dari rumah sakit itu sebetulnya dalam waktu 4 jam segera dimakamkan,” ujar Uva.

Untuk petugas yang memasukkan jenazah ke dalam peti juga mengenakan alat pelindung diri seperti pakaian khusus dan masker N95.

Setelah itu baru pembakaran jenazah bisa dilakukan

 

Virus Corona, Pemberlakuan Karantina, dan Larangan Perjalanan ke Korea Selatan

KOMPAS.com – Merebaknya kasus virus corona atau Covid -19 di Korea Selatan (Korsel) membuat sejumlah negara mewaspadai Negeri Gingseng tersebut.

Terlebih jumlah infeksi di Korsel telah meningkat lebih dari 20 kali sejak minggu lalu.

Pada Rabu (26/2/2020) sore waktu setempat, kasus Covid-19 mencapai 1.146 kasus dengan 12 kematian di Korea Selatan.

Berbagai kebijakan diterapkan pada warga negaranya, seperti larangan masuk ke Korsel, pembatasan ketat pada turis yang berangkat ke Korsel, dan lain-lain.

Dilansir Korea Herald, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan mulai Kamis (27/2/2020) akan melarang masuknya warga negara asing yang telah mengunjungi kota Daegu dan tetangganya Cheongdo.

Daegu dan Cheongdo merupakan wilayah paling parah yang dihantam virus corona di Korea Selatan.

Hingga Rabu (26/2/2020), negara-negara ini telah memberlakukan larangan masuk ke Korsel:

  • Nauru
  • Mikronesia
  • Vietnam
  • Kepulauan Solomon
  • Singapura
  • Kiribati
  • Tuvalu
  • Bahrain
  • Yordania
  • Irak
  • Israel
  • Kuwait
  • Mauritius.

Ada juga negara yang telah berhenti membuat larangan masuk, tapi memberlakukan pembatasan ketat pada siapapun yang masuk Korea Selatan.

Pembatasan tersebut seperti pemeriksaan medis wajib dan karantina.

Negara-negara tersebut adalah sebagai berikut:

  • Taiwan
  • Thailand
  • Inggris
  • Kazakhstan
  • Kyrgyzstan
  • Tajikistan
  • Turkmenistan
  • Oman
  • Qatar
  • Uganda.

Sejumlah negara menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke Korea Selatan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengeluarkan peringatan perjalanan atau travel advisory tertinggi di Korea Selatan.

Rekomendasinya adalah bagi turis Amerika agar menghindari perjalanan yang tidak perlu ke negara itu.

Perancis juga meningkatkan travel advisory tingkat dua untuk Korea Selatan.

Warga negaranya disarankan untuk menghindari perjalanan yang tidak penting ke Korsel.

Karantina tanpa pemberitahuan

Bahkan ada yang memberlakukan tindakan karantina terhadap turis dari Korea Selatan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Hal yang dilakukan China itu memicu kemarahan.

Pada Selasa (25/2/2020), pihak berwenang Weihai, provinsi Shandong memberlakukan karantina wajib 14 hari.

Itu diberlakukan pada 167 penumpang yang tiba dalam penerbangan dari Korea Selatan.

Sebelumnya China sempat mengritik kebijakan negara-negara lain karena membatasi perjalanan.

Tapi pada akhirnya China melakukan hal yang sama dan di Weihai adalah pertama kalinya.

Weihai bukan satu-satunya kota China yang mengambil tindakan pencegahan seperti itu.

Pembatasan serupa juga dilakukan oleh pemerintah Qingdao di Shandong dan Shenyang di provinsi Liaoning.

Dunia Darurat COVID-19! Ini 39 Negara di Mana Corona Menyebar

Dunia Darurat COVID-19! Ini 39 Negara di Mana Corona Menyebar

Jakarta, CNBC Indonesia – Corona makin meluas. Bukan cuma di China, kini 39 negara mengonfirmasi adanya kasus COVID-19, di negeri tersebut.

Dalam sehari ada empat negara baru yang melaporkan kasus corona di negerinya. Di benua Eropa, Austria, Kroasia dan Swiss mengumumkan adanya kasus positif COVID-19 sementara di Afrika, Aljazair juga melaporkan hal yang sama.

Rata-rata kasus melibatkan Italia. Di mana Austria, Kroasia dan Swiss misalnya memiliki perbatasan yang langsung dengan Italia sedangkan Aljazair mendapat virus dari warga Itali yang tengah berada di negeri itu.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Italia merupakan negara Eropa yang terdampak corona paling parah. Bahkan per Selasa (25/2/2020) pukul 06:00 WIB dari data arcGis.com, Italia mengonfirmasi 322 kasus dengan jumlah kematian 11 orang.

Di seluruh dunia, ada 80.413 kasus. Korban meninggal berjumlah 2.708 sementara korban pulih ada 27.879 orang.

Melihat dampak corona yang kian meluas, Amerika Serikat (AS) bahkan tengah bersiap menghadapi penyebaran virus corona. Nancy Messonnier, seorang pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, mengatakan kepada wartawan bahwa data penyebaran virus selama sepekan terakhir telah meningkatkan harapan akan penularan di Amerika.

“Gangguan pada aktivitas sehari-hari mungkin parah,” katanya.

Sekretaris Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS juga meminta Senat AS untuk menyetujui anggaran US$ 2,5 miliar. Dana ini diperlukan untuk memperluas sistem pengawasan virus corona, membantu pengembangan vaksin dan meningkatkan stok peralatan pelindung.

Sementara itu WHO mendesak negara-negara untuk meningkatkan persiapan. “Pikirkan virus ini akan muncul besok. Jika kamu tidak berpikir seperti itu, kamu tidak akan siap,” kata Bruce Aylward, kepala misi gabungan WHO-China terkait wabah corona.

Berikut peta penyebaran lengkap corona, sebagaimana dirangkum CNBC Indonesia, Rabu (26/2/2020):

1. China: 77.660 (Hong Kong: 84 Makau:10)
2. Korea Selatan: 977
3. Italia: 322
4. Jepang: 170
5. Singapura: 91
6. Iran: 95
7. AS: 53
8. Thailand: 37
9. Taiwan: 31
10. Bahrai: 23
11. Australia: 22
12. Malaysia: 22
13. Jerman: 17
14. Vietnam: 16
15. Prancis: 14
16. Uni Emirat Arab: 13
17. Inggris: 13
18. Kanada: 11
19. Kuwait: 9
20. Spanyol: 6
21. Filipina: 3
22. India: 3
23. Rusia: 2
24. Oman: 2
25. Austria: 2
26. Kroasia: 1
27. Afganistan: 1
28. Nepal:1
29. Kamboja: 1
30. Israel: 1
31. Belgia: 1
32. Libanon: 1
33. Finlandia: 1
34. Swedia: 1
35. Irak: 1
36. Mesir: 1
37. Sri Lanka: 1
38. Swiss: 1
39. Aljazair: 1
40. Lainnya (Kapal Pesiar Diamond Princess: 691)

Makin Ganas! Dalam Sehari, 4 Negara Baru Laporkan Kena Corona

Makin Ganas! Dalam Sehari, 4 Negara Baru Laporkan Kena Corona

Jakarta, CNBC Indonesia – Corona semakin menjadi momok menakutkan di luar China. Dalam sehari, ada empat negara baru yang melaporkan kasus corona di negerinya.

Di benua Eropa, Austria, Kroasia dan Swiss mengumumkan adanya kasus positif COVID-19, Selasa (25/2/2020). Sementara di Afrika, Aljazair juga melaporkan hal senada di hari yang sama.

Rata-rata kasus melibatkan Italia. Austria, Kroasia dan Swiss misalnya memiliki perbatasan yang langsung dengan Italia. Bahkan beberapa warga bekerja di negeri Pizza itu.

Di Italia kasus corona memang meningkat signifikan dalam empat hari terakhir. Dari data arcGis Selasa, kasus corona menjadi 280 orang dan tujuh dikabarkan meninggal.

Lombardy, yang menjadi pusat penyebaran corona di negeri itu. Sejak saat itu beberapa kota diisolasi di negeri tersebut. Sejumlah event termasuk pertandingan sepak bola Serie A dibatalkan.

Sementara WHO mengatakan epidemi ini telah mencapai puncaknya di China. Namun situasi memburuk kala kini corona menjalar di luar negeri Tirai Bambu dan menyebabkan 40 kematian global.

Austria

Austria melaporkan ada dua pasien yang terinfeksi berusia 24 tahun. “Mereka dikarantina di rumah sakit Innsbruck, di ibu kota Tyrol, yang berbatasan dengan Italia,” kata Gubernur Tyrol Guenther Platter sebagaimana dikutip dari AFP.

Belum jelas bagaimana keduanya tertular. Meski dikabarkan menderita demam tinggi, kini kondisi keduanya dikabarkan stabil.

Australia berbatasan langsung dengan Italia. Salah satunya adalah wilayah Lombardy, yang menjadi pusat penyebaran corona di negeri itu.

Kroasia

Selain Austria, negeri lainnya yakni Kroasia juga melaporkan kasus corona pertama di wilayah Balkan itu. Seorang pria tertular corona setelah kembali dari Italia.

“Telah dikonfirmasi pasien pertama COVID-19,” kata Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic.

Menurutnya pasien masih muda dan menunjukkan gejala ringan. Ia tertular setelah menghabiskan beberapa waktu di Milan dan kini dirawat di Zagreb.

Kroasia menjadi rentan terhadap corona karena banyaknya warga yang bekerja di Italia. Pemerintah mengaku bersiap-siaga untuk setiap kemungkinan.

Aljazair

Pihak berwenang Aljazair akhirnya melaporkan kasus corona pertama di negeri itu. Sama seperti Kroasia, penderita melakukan perjalanan ke Italia 17 Februari lalu.

“Satu kasus dikonfirmasi positif untuk corona, dari dua yang diduga (suspect), berkebangsaan Italia,” kata Kementerian Kesehatan Afrika Utara itu sebagaimana dikutip AFP.

Televisi lokal mengatakan pasien sudah diisolasi. Pemerintah Aljazair memperketat pengawasan dari semua titik masuk negeri itu.

Swiss

Pemerintah Swiss mengonfirmasi pria berusia 70 tahun terinfeksi corona. Sebagaimana ditulis Strait Times, pria tersebut berada di wilayah Ticino, dekat perbatasan Italia.

“Pria yang terinfeksi berada di Italia sekitar 10 hari dan berpartisipasi dalam sebuah kegiatan di dekat Milan,” ujar otoritas setempat.

Namun demikian belum diketahui dengan detil bagaimana ia terinfeksi. Saat ini, Swiss masih memeriksa 70 suspect lain. Bukan cuma dari Ticino, mereka yang diperiksa juga berasal dari wilayah Berne dan Basel.

Kasus WN Jepang, Beda Klaim Kemenkes dan Penjelasan WHO soal Corona

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto dalam jumpa pers di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (10/2/2020). KOMPAS.com/Dian Erika Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto dalam jumpa pers di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (10/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemberitaan seorang warga negara Jepang positif terjangkit virus corona sepulangnya dari Indonesia direspons Kemenkes dengan pernyataan yang membingungkan publik. 

Itu karena pernyataan Kemenkes berbeda dengan penjelasan badan kesehatan dunia atau WHO.

Pernyataan ini berawal dari kasus yang menimpa seorang pasien pria yang merupakan warga negara Jepang.

Diberitakan Kompas.com, Minggu (23/2/2020), pasien pria yang dinyatakan positif virus corona tersebut berusia 60-an tahun.

Dia bekerja sebagai staf fasilitas perawatan lansia di Jepang.

Disebutkan, pria ini sempat mengunjungi sebuah institusi kesehatan pada 12 Februari 2020 setelah mengalami “gejala-gejala seperti flu”.

Setelah diperiksa, ia kembali ke rumah karena tidak didiagnosa mengidap pneumonia.

Pada 13 Februari dan 14 Februari 2020, ia kembali bekerja dan berada di rumah.

Lalu, pada 15 Februari 2020, pria itu berkunjung ke Indonesia bersama keluarganya dalam rangka liburan.

Beberapa hari setelah berada di Indonesia, pria itu kembali ke Jepang pada 19 Februari 2020.

Saat itu dia mengalami kesulitan bernapas yang parah dan disebut mengalami “kondisi serius”. Pria itu diduga terjangkit corona. 

Respons Kemenkes

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan, virus corona yang diberitakan menular kepada pria Jepang itu bukanlah jenis Covid-19.

Informasi ini, kata dia, berdasarkan komunikasi antara Kemenkes dan otoritas kesehatan Jepang.

“Ternyata setelah diperiksa yang bersangkutan tertular virus Corona tipe II (SARS CoV-2). Data ini berdasarkan komunikasi dengan otoritas kesehatan Jepang. Kami hari demi hari kan komunikasi terus ya,” ujar Yuri saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/2/2020).

Sehingga, klaim Yuri, pria Jepang tersebut dipastikan tidak tertular virus corona tipe baru yang menjadi wabah saat ini atau Covid-19.

“Kalau yang menjadi wabah saat ini kan Covid-19. Sementara itu, ada ahli yang mengatakan perbedaan antara Covid-19 dengan virus SARS CoV-2 itu sampai 70 persen, ” jelas Yuri.

Meski demikian, Yuri menuturkan Kemenkes tetap menelusuri bagaimana korelasi kedua virus ini.

“Sebab ini kan bukan virus yang ada di sini. Masih ditelusuri apakah ini seasonal flu atau apa. Makanya ini kita terus komunikasi dengan otoritas kesehatan Jepang ya, ” tegas Yuri.

#Kronologi pria Jepang tertular virus versi Kemenkes

Achmad Yurianto lantas menjelaskan kronologi identifikasi penularan virus terhadap pria Jepang tersebut.

Pria itu sebelumnya mengeluh sakit pada saluran pernapasan sebelum 12 Februari lalu berobat ke rumah sakit.

Oleh dokter, pria tersebut dianggap tak perlu dirawat sebab kondisi dia dinyatakan masih baik.

Menurut Yuri, pria itu hanya diberi obat dan diizinkan pulang.

Pada 13 Februari pria itu masih masuk kerja.

“Kemudian pada 14 Februari, dia libur tidak bekerja. Lalu pada 15 Februari, beserta keluarga dia berangkat ke Bali sampai 19 Februari,” papar Yuri.

Lalu, ketika pulang kembali ke Jepang, pria itu merasa tidak enak badan.

Pada 22 Februari, dia kembali berobat ke rumah sakit.

“Kemudian oleh dokter diputuskan harus dirawat. Kemudian saat dirawat dia diperiksa. Ternyata ditemukan (tertular) virus SARS CoV-2. Kondisinya sekarang sudah membaik, ” kata Yuri.

Yuri juga menampik dugaan bahwa pria asal Jepang itu tertular SARS CoV-2 di Indonesia.

Sebab, menurut catatan pria itu sudah mengeluh sakit sebelum 12 Februari.

“Tidak ada virus yang inkubasinya langsung. Saat datang ke Indonesia kan dia sudah sakit dan minum obat. Mengapa pas datang ke Indonesia dia (badannya) tidak panas? Sebab dia sudah minum obat,” tambah Yuri.

Pandangan WHO soal SARS CoV-2

Penjelasan Achmad Yurianto di atas kemudian memancing reaksi Publik.

Sebagian menganggap pernyataan Yuri di atas menyalahi penjelasan yang sebelumnya telah ditetapkan secara resmi oleh WHO.

Dalam situs resmi WHO, Covid-19 atau coronavirus disease dijelaskan sebagai nama penyakit yang sedang mewabah saat ini.

Sementara itu, SARS-COV-2 adalah nama virus yang menyebabkan Covid-19.

Kemudian, virus corona atau coronavirus adalah kelompok virus yang menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari batuk pilek biasa hingga SARS dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV).

Untuk strain baru yang belum pernah diidentifikasikan sebelumnya pada manusia, diberikan istilah novel coronavirus (nCOV) seperti nama lama SARS-CoV-2 yaitu 2019-nCOV.

WHO menjelaskan bahwa virus memang sering kali memiliki nama yang berbeda dengan panyakit yang disebabkan.

Sebagai contoh, HIV adalah nama virus yang menyebabkan penyakit AIDS.

Virus diberi nama berdasarkan struktur genetikanya untuk memfasilitasi perkembangan tes diagnostik, vaksin dan pengobatan.

Kemenkes beda sikap dengan WHO

Kompas.com kembali meminta penjelasan kepada Achmad Yurianto setelah respons publik terhadap penjelasan sebelumnya.

Ketika dihubungi pada Senin sore, Yuri tetap menyatakan SARS CoV-2 berbeda dengan virus Covid 19 yang menjadi wabah corona saat ini.

Yuri mengakui jika penjelasannya ini berbeda dengan penjelasan dari informasi resmi WHO.

“Itu kan kan ada di website WHO, saya pun sudah baca itu. Namun, saya juga mendapat referensi dari sejumlah pakar virus yang menyatakan bahwa virus Covid-19 yang selama ini menyebabkan sakit itu ada perbedaan hampir 70 persen dengan virus SARS CoV-2,” jelas Yuri kepada Kompas.com.

Sehingga, Yuri mengakui bahwa ada dua pemahaman dalam hal ini.

Kemenkes sendiri, kata dia, tidak mempersoalkan perbedaan ini.

“Kami tidak mempersoalkan ini beda apa enggak. Bagi kami soal kewaspadaannya,” tegas Yuri.

Sehingga, saat ini Kemenkes telah meminta Dinas Kesehatan Bali untuk melakukan pengumpulan, analisis kondisi dan analisis data secara terus- menerus (surveilens) secara aktif.

Caranya, dengan melakukan contact tracking terhadap daerah mana saja yang pernah dikunjungi oleh pria asal Jepang saat berada di Bali.

“Kami melakukan kontak tracking. Selama orang Jepang ini di Bali dia kemana saja gitu. Daerah mana saja yang dia datangi,” tambah Yuri.

Eropa Panik Timur Tengah Siaga, Italia Karantina 12 Kota

Para ahli memperingatkan virus corona saat ini telah mencapai batas menuju titik kritis menyusul ledakan kasus di sejumlah negara dalam beberapa hari terakhir, termasuk tiga kematian di Italia dan empat lainnya terinfeksi di Inggris. Fakta ini memicu kepanikan di Eropa.

Terakhir Austria menghentikan semua perjalanan kereta dari dan menuju Italia yang juga memerintahkan 50.000 warga di 12 kota untuk tidak keluar rumah setelah 150 orang diketahui terinfeksi.

Karnaval Venice terpaksa dibatalkan.

Dikutip dari DailyMail, Senin (24/2/2020) direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut  Italia mengonfirmasi kematian pertama akibat virus corona Jumat kemarin.

Kenaikan tajam kasus corona yang  terjadi di Iran dan Korea Selatan menjadikan  jumlah orang yang terinfeksi secara global melonjak hingga 79.166 hari ini termasuk 2.470 kematian. Meski Uni Eropa menyerukan untuk  “tidak perlu panik”, sejumlah pakar kesehatan memperingatkan dalam 24 jam terakhir dunia menuju titik krisis corona.

Austria tutup jalur kereta dari dan menuju Italia.

Paul Hunter, profesor kedokteran dari Universitas East Anglia mengatakan, klaim penurunan jumlah penderita  corona di Cina yang dimulai sejak  Desember tak sebanding dengan perkembangan kasus global akhir pekan ini yang sangat memprihatinkan.

Italia misalnya memerintahkan 50.000 warga tidak keluar rumah selain membatalkan Karnaval Venesia dan menunda pertandingan sepak bola Liga Serie A sebagai upaya menahan sebaran corona.

Sebelumnya Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyatakan “siaga penuh” setelah 161 kasus baru corona dilaporkan awal pekan ini dan satu kematian lagi sehingga total warga Negergi Ginseng yang terinfeksi menjadi 763 orang dan tujuh orang tewas.

Sebaran corona di Italia.

Jumlah kematian yang yang naik menjadi delapan di Iran juga mendorong larangan perjalanan dari negara-negara tetangga. Dr. Robin Thompson, peneliti junior epidemiologi matematika dari University of Oxford kepada The Guardian mengatakan, “Ini tahap penting wabah corona. Isolasi cepat bahkan untuk kasus ringan di daerah yang terkena dampak juga krusial untuk pencegahan transmisi antar-manusia di Eropa.  Pedoman kesehatan ini harus  dipatuhi.”

Pada hari Minggu, Presiden Cina Xi Jinping mengakui epidemi corona sebagai  “darurat kesehatan terbesar” dalam sejarah Negeri Tirai Bambu. Mengkuti langkah Cina, Italia dan Iran kini mulai menerapkan langkah yang sebelumnya hanya dilakukan di Cina di mana puluhan juta warga “dikarantina” di provinsi Hubei, pusat penyebaran wabah.

“Ini krisis bagi kami dan ujian besar,” ujar Xi melalui pidato  yang disiarkan televisi pemerintah. Dalam pengakuan yang jarang terjadi saat  pertemuan koordinasi perang melawan virus corona, Xi menambahkan Cina harus belajar dari setiap kekurangan selama penanganan.

Siaga corona di jalanan Italia.

“Perang corona” di Korea Selatan.

Sejauh ini WHO memuji Beijing terkait penanganan epidemi corona, tapi kritik tetap mengarah pada Cina yang dinilai membungkam peringatan dini dari seorang dokter yang kemudian meninggal karena virus yang sama.

Sementara itu infeksi corona di Korea Selatan hampir tiga kali lipat akhir pekan ini dan menjadikannya negara dengan jumlah infeksi corona tertinggi di luar Cina, selain kasus kapal pesiar Diamond Princess.

Sekitar setengah dari kasus di Korea Selatan terkait dengan sekte Gereja Shincheonji Yesus di kota Daegu di mana ribuan anggotanya dikarantina. Kepanikan virus corona juga merambah catwalk setelah beberapa peragaan busana di Milan Fashion Week dibatalkan atau digelar secara tertutup dan yang lainnya memanfaatkan live streaming.

Petugas medis membawa pasien corona di Italia. 

Sebagian besar kasus corona di Italia terkonsentrasi di Codogno, sekitar 43 mil dari Milan. Negara  tetangga Slovenia pun meminta wisatawan yang kembali dari resor ski Italia untuk mewaspadai gejala corona. Italia menjadi negara Eropa pertama yang melaporkan kasus kematian akibat corona  pada hari Jumat.

Dua kematian lainnya dilaporkan menyusul hingga Perdana Menteri Giuseppe Conte meminta warga mematuhi semua saran dari otoritas kesehatan. Peningkatan kasus dalam dua hari terakhir di Eropa ini diakuia juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia, Tarik Jasarevic.

Tak itu saja, yang juga mengkhawatirkan tidak semua kasus yang dilaporkan memiliki kaitan epidemiologi yang jelas seperti riwayat perjalanan ke Cina atau kontak dengan kasus yang dikonfirmasi.

Sejumlah pesumo menuju venue even dengan bermasker.

Jasarevic menambahkan, “Pada tahap ini, kita perlu fokus pada membatasi penularan dari manusia ke manusia lebih lanjut.” Mencegah sebaran Iran memerintahkan penutupan sekolah, universitas, dan pusat kebudayaan di 14 provinsi setelah delapan kematian akibat corona atau paling banyak di luar Asia Timur.

Wabah corona di Iran mulai ramai awal pekan lalu dengan jumlah warga terinfeksi menjadi 43. Lonjakan ini mendorong Iran melakukan pembatasan perjalanan regional. Perdana Menteri Armenia Nikol Pachinian juga mengatakan pihaknya menutup perbatasannya dengan Iran dan menangguhkan penerbangan. Seperti pemerintah Italia, dia juga meminta warga untuk tidak panik.

Namun Prof. Hunter dari East Anglia mengatakan situasi di Iran memiliki implikasi besar bagi Timur Tengah. “Iran tidak memiliki sumber daya dan fasilitas yang secara memadai mampu mengidentifikasi kasus dan mengelolanya dengan optimal jika jumlah kasusnya besar,” katanya.

Para pendukung Lazio ikut terdampak krisis corona di Italia.

Pakistan dan Turki pun mengumumkan penutupan penyeberangan darat dengan Iran sementara Afghanistan menunda semua perjalanan ke Negeri Seribu Mullah tersebut. Di Cina wabah corona sejauh ini terkonsentrasi di Wuhan, tempat virus diyakini berasal tepatnya pasar hewan.

Saat ini dilaporkan tingkat infeksi Cina telah melambat, tapi metode perhitungan yang beberapa kali berubah memicu keraguan akurasi data. Ada juga kekhawatiran Cina masih kesulitan mendeteksi virus.

Gigi dan Bella Hadid meninggalkan Italia bersama sang ibu, Yolanda.

Dan Jepang kemarin mengonfirmasi seorang penumpang wanita yang awalnya dinyatakan negatif dan diperbolehkan meninggalkan kapal pesiar Diamond Princess ternyata positif terinfeksi.

Demikian pula di Israel, pihak berwenang mengonfirmasi warga negara Israel kedua yang kembali dari kapal yang sama dinyatakan positif. Mereka termasuk di antara 11 warga Israel yang diizinkan meninggalkan kapal dan pulang setelah awalnya dinyatakan negatif.

Ambulans membawa pasien corona di Korea Selatan.

Kritik dialamatkan pada pemerintah Jepang menyusul penanganan kasus corona di kapal pesiar yang dikarantina di Yokohama. Minggu kemarin penumpang ketiga dikonfirmasi kementerian kesehatan Jepang meninggal. Empat warga Inggris yang kembali dari Diamond Princess pada hari Sabtu juga dinyatakan positif.

Terakhir sebuah klip postingan sejumlah kru India Diamond Princess mengungkapkan ketakutan dan kepasrahan. Beberapa begitu frustrasi hingga meyakini pada akhirnya semua penumbang akabn terinfeksi jika evakuasi tidak dilakukan bagi mereka yang negatif virus corona.

Editor: Mia Fahrani

Purwakarta Siaga Bencana Hingga Juni 2020

SEJAK Januari 2020 hingga Selasa (25/2/2020), setidaknya ada sebanyak 12 kejadian tanah longsor yang dilaporkan terjadi di Kabupaten Purwakarta. Pemerintah daerah setempat menetapkan status siaga bencana tersebut hingga akhir Juni 2020 mendatang.

“Dari awal Januari hingga hari tadi terjadi 12 kali bencana tanah longsor baik skala kecil maupun sedang. Tapi alhamdulilah tidak ada korban jiwa,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Purwakarta, Wahyu Wibisono, Selasa (25/2/2020).

Bencana longsor dilaporkan paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Bojong. Ia tidak menyebutkan jumlahnya namun menurutnya longsor di sana dipengaruhi kondisi permukaan tanahnya yang berbukit dan labil, ditambah dengan faktor cuaca buruk.

Hujan yang terjadi hampir sepanjang hari menyebabkan tanah di bawah jalan beton longsor di Desa Kutamanah Kecamatan Sukasari Kabupaten Purwakarta. Longsor juga merusak bangunan rumah warga di dekatnya.

“Satu rumah yang rusak milik keluarga Dedi yang terdiri dari tiga anggota keluarga,” ujar Wahyu seperti ditulis wartawan “PR”, Hilmi Abdul Halim.

Ia menegaskan tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut meskipun waktu kejadian sekitar pukul 3.00 dini hari. Menurutnya, kerusakan hanya terjadi pada salah satu bagian rumah dengan kategori ringan.

Meski demikian, penghuni rumah tersebut mengaku khawatir mengalami longsor susulan karena kondisi tanahnya yang dinilai masih labil.

Potensi bencana longsor susulan juga mengancam jalan beton penghubung desa itu karena badan jalan mengalami retakan cukup parah.

“Bagian bawah jalan terkikis tanahnya,” kata Wahyu berdasarkan laporan petugas di lapangan.

Editor: Lucky M. Lukman

sumber: www.galamedianews.com

30 Desa di Karawang Terendam Banjir, 9.514 Warga Mengungsi

KARAWANG, KOMPAS.com – Banjir terjadi di 30 desa di 14 kecamatan di Karawang, Selasa (25/2/2020).

Sekretaris Daerah (Sekda) Karawang Acep Jamhuri mengatakan, ketinggian air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga 2 meter.

Banjir terjadi akibat curah hujan tinggi, serta drainase tersumbat dan syphon tersumbat sampah.

Wilayah yang dilanda banjir yakni Kecamatan Kutawaluya, Jayakerta, Cilebar, Telukjambe Barat, Rengasdengklok, Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel, Karawang Timur, Pedes, Karawang Barat, Cikampek, Telukjambe Timur, dan Cilamaya Wetan.

“Banjir tertinggi di Desa Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan dengan ketinggian 30 sentimeter hingga 2 meter, BMI, dan Desa Karangligar,” kata Acep.

Dandim 0604 Karawang Letkol Inf Medi Haryo Wibowo mengatakan, banjir mengakibatkan 10.529 rumah warga terendam dan 32.961 orang terdampak.

Sementara warga yang mengungsi sebanyak 9.514 jiwa dari 3.111 yang tersebar di 14 titik.

“Perum BMI, Dawuan Tengah, Purwasari Regency, Dengklok (Rengasdengklok) merupakan wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak. Evakuasi dilakukan sejak malam hingga pagi tadi,” kata Medi.

Medi menyebut pihaknya bersama Polri dan Pemkab Karawang bersama-sama melakukan penanganan banjir.

“Kami akan rapat koordinasi penanggulangan bencana bersama Pak Sekda dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait untuk segera lakukan langkah penanggulangan banjir,” katanya.

Rabu Pagi, Sejumlah Wilayah di Jakarta Masih Terendam Banjir

Rabu Pagi, Sejumlah Wilayah di Jakarta Masih Terendam Banjir

Suara.com – Banjir Jakarta hingga Rabu (26/2/2020) pagi masih terpantau menggenangi sebagian wilayah di Ibu Kota. Hal itu terpantau dari laporan TMC Polda Metro Jaya melalui Twitter resminya TMCPoldaMetro.

Salah satu wilayah yang masih tergenang banjir adalah Jalan Perintis Kemerdekaan Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Di wilayah ini banjir setinggi 15-20 cm masih menggenang.

“05.25 Situasi jalan di Tl Perintis masih tergenang air setinggi 15 – 20 cm, untuk kendaraan roda dua dan roda empat sudah dapat melintas, tetap menjaga keselamatan diri dan berhati-hati,” tulis akun TMC Polda Metro Jaya.

Sementara banjir dengan ketinggian 40-50 cm juga masih menggenangi kawasan di depan KBN Cakung. Sehingga jalur tersebut hanya bisa dilalui kendaraan besar jenis truk.

ASM FK-KMK 2020

Dalam Rangka Annual Scientific Meeting (ASM)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan (FK-KMK)
Universitas Gadjah Mada

 Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK-KMK UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan seminar mengenai:

 UPAYA SINKRONISASI KETAHANAN KESEHATAN DENGAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA DAN KRISIS KESEHATAN: STUDY KASUS CORONA VIRUS DAN ANTRAKS


PENGANTAR

Banyak ancaman baik alam, non alam maupun keduanya yang dapat mengancam ketahanan kesehatan (Health Security) di Indonesia. Untuk itulah, sejak 2005 Indonesia telah berkomitmen dalam implementasi International Health Regulation (IHR) hingga saat ini. Menyadari bahwa upaya pengendalian ancaman ketahanan kesehatan meliputi koordinasi, komitmen, penyusunan kerangka kerja hingga investasi maka berbagai upaya telah dilakukan diantaranya kepemimpinan Indonesia dalam Global Health Security Agenda (GHSA) serta pelaksanaan Joint External Evaluation (JEE) oleh tim eksternal tahun 2017, hingga asesmen pembiayaan ketahanan kesehatan ditingkat nasional dan sub nasional tahun 2019.

Namun, diawal tahun 2020, ketahanan kesehatan kita diuji dengan dampak bencana alam (Banjir yang terjadi di Jakarta serta banjir bandang di beberapa daerah di Indonesia) serta bencana non alam (munculnya antrax di Gunung Kidul DIY dan ancaman Corona Virus). Menghadapi hal tersebut, sektor kesehatan telah berupaya diantaranya dengan penyelidikan kasus dan penetapan KLB antrax, begitu juga dengan virus corona yakni dengan penguatan sistem surveilans, ditetapkannya kesiapsiagaan point of entry dan fasilitas kesehatan, bahkan upaya evakuasi dan karantina telah dilakukan.

Tentunya pelaksanaan ketahanan kesehatan tidak bisa hanya dilakukan ditingkat nasional saja, justru implementasi penting ada di sub-nasional (Provinsi, Kabupaten/kota). Berdasarkan hal tersebut, World Bank dan PKMK FK-KMK UGM telah melakukan penelitian analisis pembiayaan ketahanan kesehatan di tingkat sub nasional tahun 2019, dimana Provinsi DIY dan Jawa Timur menjadi tempat penelitian yang didasarkan pada kasus Antrak dan Difteri yang pernah terjadi sebelumnya. Secara garis besar memang ketahanan kesehatan belum sepopuler isu ketahanan pangan ditingkat sub nasional.

Untuk itu, dalam setting Annual Scientific Meeting FK-KMK UGM menarik untuk mengangkat isu ketahanan kesehatan, bencana dan krisis kesehatan. Bagaimana konsep pelaksanaannya? Bagaimana sinkronisasi satu sama lain hingga ketingkat kabupaten/kota? Apa hasil penelitiannya? Dan bagaimana perkembangannya menggunakan studi kasus Antraks dan Corona Virus? akan di bahas pada seminar kali ini.

 

PEMBICARA DAN PEMBAHAS

  • Peneliti Kajian Pembiayaan Ketahanan Kesehatan: Studi Kasus di DIY dan Provinsi Jawa Timur
  • Peneliti Bencana Kesehatan, PKMK-FK-KMK UGM
  • Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan
  • Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan
  • Pusat Determinant Kesehatan Kementerian Kesehatan
  • Senior Health Specialist, World Bank Indonesia

 

WAKTU, TEMPAT DAN JADWAL KEGIATAN

Hari/ Tanggal       : Kamis, 2 April 2020
Waktu                : 09.00 – 12.30 WIB
Tempat              : Auditorium Tahir Lantai 1, FK-KMK UGM (Onsite) dan Jakarta (webinar)

Waktu Kegiatan
08.00 – 08.50 Registrasi
08.50 – 09.00 Pembacaan Safety Briefing

09.00 – 09.20

Pembukaan

  • Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FKKMK UGM:
    dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K)
  • Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan FKKMK UGM:
    Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed,Sp.Og(K),PhD

09.20- 09.40

Paparan hasil penelitan Kajian Pembiayaan Ketahanan Kesehatan: Studi Kasus di DIY dan Provinsi Jawa Timur

Oleh Peneliti PKMK FK-KMK UGM

 

09.40 – 10.10

 

10.10 – 10.40

 

10.40 – 11.10

 

11.10 – 11.40

Seminar

Konsep Pengendalian Penyakit dan Kejadian Luar Biasa: Studi Kasus Antrax dan Corona Virus
Oleh Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan

Penanganan krisis kesehatan akibat bencana alam dan non alam studi kasus Banjir Jakarta dan Corona Virus
Oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

Internasional Health Regulation
Oleh Senior Health Specialist, World Bank Indonesia

Arah Ketahanan Kesehatan Indonesia
Oleh Pusat Determinant Kesehatan Kementerian Kesehatan

11.40 – 12.20 Tanya Jawab
12.20 – 12.30 Penutup

 

PESERTA

  • Dosen-dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
  • Konsultan dan tenaga ahli dalam manajemen bencana di sector kesehatan
  • Mahasiswa S1-S2
  • Praktisi

 

BIAYA KEPESERTAAN

  • Peserta perorangan onsite sebesar Rp. 250.000,00 dan peserta webinar Rp. 200.000,00.
  • Peserta kelompok atau instansi via webinar sebesar Rp. 1.000.000,00 dengan catatan sertifikat maksimal untuk 10 orang.

 


INFORMASI PENDAFTARAN

Administrasi    : Maria Lelyana / 0811101977 / [email protected]
Konten          : Happy R Pangaribuan /085358727172/ [email protected]

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp/Fax      : 0274 – 549425
Website Bencana Kesehatan: www.bencana-kesehatan.net