Studi jangka panjang ini membentuk kerangka kerja yang berkelanjutan dan tangguh untuk meningkatkan kapasitas organisasi dan kemampuan beradaptasi, berdasarkan pemikiran adaptif, untuk sistem pencegahan bencana sekolah (school disaster prevention system/ SDPS) untuk institusi akademik yang terletak di daerah potensial bencana alam. Karena pergerakan lempeng benua dan efek depresi tropis, bencana sering terjadi di Taiwan. Kami menetapkan kerangka konseptual di bawah aspek ketahanan organisasi untuk SDPS untuk lembaga sekolah yang terletak di daerah bencana potensial di bawah kerangka eksperimen pilihan (CE). Peneliti kemudian mengevaluasi heterogenitas perspektif staf pada program mitigasi bencana adaptif, seperti yang diungkapkan oleh preferensi mereka dan memperkirakan efek marjinal yang terkait dengan berbagai skenario potensial untuk program semacam itu. Kami menemukan bahwa mengintegrasikan kepedulian pemangku kepentingan tentang masalah lingkungan, bekerja sama dengan latihan pemerintah daerah, memberikan pelatihan untuk menjadi sukarelawan bantuan bencana dan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melaksanakan proyek pencegahan dan perlindungan bencana adalah semua karakteristik program yang valid. Kajian ini juga menegaskan adanya heterogenitas preferensi peserta untuk pengelolaan adaptif dalam konteks SDPS, yang dibuktikan dengan sikap kesediaan mereka terhadap keikutsertaan dalam kursus pendidikan dan pelatihan, partisipasi dalam pelaksanaan proyek pencegahan dan perlindungan bencana serta menjalani pelatihan menjadi relawan penanggulangan bencana. Secara khusus, program transformasi pencegahan bencana potensial yang mewujudkan fitur – fitur ini dikaitkan dengan kemauan marjinal tertinggi untuk bekerja (MWTW). Hasil ini dapat membantu dalam pengembangan dan implementasi kerangka evaluasi untuk strategi manajemen berbasis organisasi dalam konteks SDPS.
Reportase Dialog Kebijakan Rapid Review of Research Evidence on COVID-19 : The Efectiveness of Incident Command System (ICS) Implementation during th COVID-19 Pandemi
Kegiatan ini bertujuan untuk diseminasi hasil sementara rapid review dan untuk mendapatkan masukan dari para instansi terkait untuk pengembangan studi. Kajian ini dilaksanakan atas dasar bahwa efektivitas sistem komando untuk bencana non alam seperti pandemi PKMK FK – KMK UGM bekerja sama dengan COCHRANE Indonesia melakukan kajian koordinasi penanganan COVID-19 khususnya bagaimana efektivitas ICS dalam penanganan COVID-19. Sesi awal dimulai dengan tim rapid review yang menyampaikan bagaimana pendekatan ICS ini diterapkan di Indonesia
Manajemen Bencana dan Teknologi Baru
Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teknologi yang muncul (emerging technologies/ ET) berdampak pada peningkatan kinerja dalam proses manajemen bencana (disaster management/ DM) dan, secara konkret, dampaknya terhadap kinerja menurut berbagai fase siklus manajemen bencana (kesiapsiagaan, respons, pemulihan, dan mitigasi). Hasil penelitian ini menyoroti bagaimana ET mendorong kesiapan dan ketahanan sistem tertentu ketika berhadapan dengan fase yang berbeda dari siklus DM. Simulasi dan pengurangan risiko bencana merupakan bidang relevansi utama dalam penerapan emerging technologies pada penanganan bencana. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal Emerald.
Pentingnya Pendidikan Tentang Bencana dan Kondisi Darurat
Bencana dan keadaan darurat telah meningkat di seluruh dunia. Dewasa ini, dengan kemajuan teknologi, memperoleh pengetahuan dan penerapannya dalam ranah tindakan dianggap sebagai satu-satunya cara yang efektif untuk mencegah bencana atau mengurangi dampaknya. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau pentingnya pendidikan dan pengaruh berbagai metode pendidikan terhadap pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan pada orang – orang yang rentan. Untuk tujuan ini, beberapa artikel yang diindeks di Database PubMed, Web of Science, Google Scholar, Scopus, Science Direct, dan ProQuest telah dicari. Pencarian terbatas pada artikel yang ditinjau dalam bahasa Inggris yang diterbitkan antara tahun 1990 dan 2017. Pendidikan kebencanaan bertujuan untuk memberikan pengetahuan diantara individu dan kelompok untuk mengambil tindakan untuk mengurangi kerentanan mereka terhadap bencana. Selama beberapa dekade terakhir, masalah bahwa orang yang terlatih dapat bersiap menghadapi bencana dan merespons dengan baik telah diselidiki secara ekstensif. Berdasarkan hasil, pendidikan bencana adalah alat yang fungsional, operasional, dan hemat biaya untuk manajemen risiko. Berdasarkan beberapa bukti, penting bagi masyarakat rentan untuk belajar tentang bencana. Ada berbagai metode untuk mendidik orang – orang yang rentan, tetapi tidak ada metode yang lebih baik dari yang lain. Orang yang terlatih dapat melindungi diri mereka sendiri dan orang lain dengan lebih baik. Dalam kaitan ini, perencanaan dan perancangan program pendidikan yang komprehensif diperlukan bagi masyarakat untuk menghadapi bencana. Artikel ini dipublikasikan pada 2019 di jurnal NCBI
Public health implications of multiple disaster exposures
Berbagai bencana dapat mempengaruhi kesehatan mental, kesehatan fisik, dan kesejahteraan. Dampak bencana akan semakin tinggi jika terjadi bencana ganda (multiple disaster) seperti terjadinya gempa pada masa pandemi. Tentu penanganan bencana ganda tersebut harus memperhatikan prosedur penanganan bencana saat pandemi dan melibatkan banyak sektor. Artikel ini mengidentifikasi 150 kajian ilmiah yang menganalisis bagaimana implikasi kesehatan masyarakat dalam penanganan bencana ganda. Implikasi kesehatan masyarakat tersebut terkait dengan perubahan fasilitas pelayanan kesehatan, perubahan persepsi risiko publik, dan tanggapan pemerintah terhadap berbagai bencana. Temuan identifikasi menyajikan tentang pemulihan masyarakat dan tantangan metodologis untuk mempelajari berbagai bencana, dan arah untuk penelitian masa depan. Terdapat kebutuhan mendesak pada program intervensi yang disesuaikan dengan skenario bencana ganda, dimana potensi kebutuhan untuk kesiapsiagaan, respon dan kegiatan pemulihan dikaitkan dengan bahaya yang berbeda-beda. Di semua kasus yang teridentifikasi, rumah sakit yang terkena dampak semaksimal mungkin berfungsi meskipun ada kesulitan logistik dan kapasitas terbatas. Sistem kesehatan juga benar-benar diuji dalam penanganan bencana ganda.
Menilai Pentingnya Faktor Kesiapsiagaan Bencana untuk Manajemen Risiko Bencana Berkelanjutan

Terkait dengan prognosis bencana di masa depan terkait dengan perubahan iklim, manajemen risiko bencana (Disaster Risk Management/ DRM) menjadi salah satu elemen penentu pembangunan berkelanjutan. Kemungkinan melibatkan masyarakat umum dalam implementasi DRM saat ini sedang menjadi topik yang sering dibicarakan. Secara khusus, kesiapsiagaan penduduk untuk keterlibatan masyarakat dipertanyakan dan, oleh karena itu, pemahaman tentang kondisi yang memfasilitasi kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana sangat menentukan. Artikel ini menyajikan hasil penelitian yang menyelidiki factor – faktor yang mempengaruhi (1) kesiapsiagaan objektif penduduk, serta (2) persepsi subjektif tentang kesiapsiagaan kita terhadap bencana. Analisis statistik menemukan bahwa kedua sisi kesiapsiagaan masyarakat bergantung terutama pada pengalaman mereka dengan bencana, kesadaran akan risiko yang mungkin terjadi dan prosedur yang tepat untuk menyelesaikan situasi, dan potensi ekonomi rumah tangga. Hasilnya menekankan perlunya mendukung proses peningkatan kesadaran akan risiko dan kemungkinan prosedur pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat sebelum bencana, termasuk kelompok yang lebih rentan secara ekonomi. Di bidang ini, kolaborasi otoritas yang bertanggung jawab dan masyarakat umum sangat diinginkan. Oleh karena itu, studi ini dan hasil – hasilnya dapat berfungsi sebagai dukungan untuk membuat kebijakan manajemen resiko bencana dan pembangunan berkelanjutan. Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di jurnal MDPI
Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat Lokal
Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM) memberdayakan masyarakat untuk terlibat aktif dan proaktif dalam penanggulangan bencana. Pelibatan masyarakat merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penanggulangan bencana, terutama mengingat nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat itu sendiri seperti nilai agama dan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengimplementasikan model CDM berbasis agama dan kearifan lokal masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia. Dengan menggunakan desain Research and Development (R&D) dengan model generik adaptif Creswell dari Gall dan Borg, peneliti membuat, mengimplementasikan dan mengevaluasi model PBBM berbasis agama dan kearifan lokal beberapa nagari (desa) di Sumatera Barat yang rawan bencana alam. Temuan penelitian pada tahap perumusan model telah dilakukan, dielaborasi dan dikembangkan dengan memasukkan nilai-nilai lokal seperti ritual dan upacara, bersama dengan hukum adat yang mengatur perilaku, dan memperkuat kohesi sosial agar lebih aplikatif, praktis dan efektif dalam manajemen Bencana. Selanjutnya dilakukan uji kuantitatif agar model ini memiliki nilai kepraktisan dan efektifitas untuk diterapkan pada masyarakat lain di setiap daerah bencana. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal NCBI
Menuju Rekonseptualisasi Fase Manajemen Risiko Bencana
Cara bencana dikelola, atau bahkan salah dikelola, sering digambarkan secara diagram sebagai “siklus bencana”. Aspek siklus dari konsep manajemen bencana (risiko), yang terdiri dari berbagai fase operasional, dalam beberapa tahun terakhir, telah dikritik karena mengkonseptualisasikan dan mewakili bencana dengan cara yang terlalu sederhana yang biasanya dimulai dengan “peristiwa” bencana dan kemudian mengarah ke bencana, lalu bencana lagi. Pemikiran siklus seperti itu telah terbukti tidak terlalu berguna untuk kompleksitas yang terkait dengan pemahaman bencana dan risikonya. Makalah ini bertujuan untuk menyajikan konseptualisasi alternatif dari fase Manajemen Risiko Bencana, dengan cara yang dapat lebih baik dalam mempertimbangkan akar penyebab yang mendasari yang menciptakan tingkat kerentanan yang berbeda. Makalah konseptual yang dikembangkan, melalui tinjauan literatur dan diskusi antara penulis, sebagai tandingan dari “siklus bencana” yang meluas. “Heliks Manajemen Risiko Bencana (DRM)” disajikan sebagai cara alternatif untuk mengkonseptualisasikan fase – fase DRM. Konseptualisasi heliks fase DRM yang disajikan dalam makalah ini sengaja disajikan untuk memulai diskusi (bukan sebagai titik akhir) tentang cara terbaik untuk menjauh dari kendala “siklus bencana”. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di Research Gate
Pendampingan Online: Penyusunan Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit
Hospital disaster plan diamanatkan dalam UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang salah satu bunyinya: Rumah sakit mempunyai kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Namun, penyusunan hospital disaster plan (HDP) yang terkendala di rumah sakit akan menyebabkan sulitkan operasionalisasi manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM menyelenggarakan Pelatihan dan Pendampingan HDP pada Mei hingga Juli 2022. Kegiatan ini intensif dilakukan secara online dengan biaya 5 juta Rupiah per instansi (5 orang/ instansi).
Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Daerah

Kegiatan ini merupakan lanjutan kegiatan Peningkatan Kapasitas Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) di daerah yang diselenggarakan pada tahun lalu. Pada 2021 lalu telah dilaksanakan rangkaian kegiatan mulai dari pengkajian kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan KKM sampai pengayaan terkait materi ICS dan PHEOC. Hasil reviewmenunjukkan bahwa kapasitas umum untuk KKM masih perlu dikembangkan dan diperlukan kapasitas khusus dalam menyusun rencana penanggulangan bencana daerah. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan online dan offline mengenai Dinas Kesehatan Disaster Plan Dinkes Disaster Plan (DDP) dan bagaimana integrasinya dengan PHEOC. Harapannya agar peran PHEOC di daerah oleh dinas kesehatan semakin kuat dan pondasi struktur penanganan bencana di daerah terbangun. Dinas kesehatan akan difasilitasi untuk menyusun perencanaan DDP dan organisasi PHEOC daerah, mengevaluasi rangkaian kegiatan dan merencanakan penanggulangan bencana alam, non alam, krisis dan kedaruratan kesehatan masyarakat menggunakan pendekatan dinkes disaster plan di daerah.

