PKMK – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada bersama jejaring Academic Health System (AHS) Universitas Gadjah Mada mengadakan Pelatihan “Potensi Pembentukan Emergency Medical Team (EMT) AHS UGM untuk Mendukung Kebijakan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK)” pada 2-3 Agustus 2023 di Ruang Diskusi Lantai 2 Gedung Tahir Foundation FK-KMK UGM.
Framing Liputan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Media Online
Media memiliki peran yang signifikan sebagai sumber informasi bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana dan membantu meminimalkan risiko bencana. Meneliti bagaimana media membingkai informasi bencana membantu memahami kuantitas dan kualitas informasi tentang bencana. Gempa bumi dan Tsunami di Indonesia merupakan bencana yang menimbulkan kerugian dan duka yang sangat besar, dan bagaimana media menggambarkan dan membingkai tragedi tersebut telah mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat terhadap bencana. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bagaimana media lokal membingkai informasi tentang Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh dan Palu dengan menggunakan model framing Urs Dahinden untuk menganalisis tema bingkai di media massa. Temuan menunjukkan liputan bencana lebih negatif, lebih fokus pada jumlah korban, kerugian material, dan ketidakmampuan pemerintah dalam tanggap bencana. Kesiapsiagaan bencana dibingkai melalui lensa perspektif agama dan kurang pada pengetahuan ilmiah atau bagaimana menanggapi bencana di masa depan dengan lebih baik. Artikel ini dipublikasikan pada 2023 di International Journal of Disaster Management
Rangkaian Pre Fornas dan Fornas JKKI XIII Topik Manajemen Bencana Kesehatan 2023
Pokja Bencana FK-KMK UGM bekerjasama dengan Divisi Bencana Kesehatan PKMK UGM kembali hadir dalam rangkaian Forum Nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) XIII.
Forum Nasional JKKI XIII mengambil tema “Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Menjalankan Kebijakan Transformasi Sistem Kesehatan Nasional dan UU Kesehatan” bertempat di Yogyakarta, 25-27 September 2023.
Pre Forum Nasional JKKI XIII telah digelar pada Selasa, 19 September 2023 secara hybrid bertempat di Auditorium Lantai 8 Gedung Tahir Foundation FK-KMK UGM dalam topik Workshop Penyusunan Puskesmas Disaster Plan yang memberikan pelatihan penyusunan dokumen Puskesmas Disaster Plan kepada Puskesmas se Indonesia, terutama daerah jejaring AHS UGM (Kota dan Kabupaten di Provinsi DIY, serta Kabupaten Klaten).
Kemudian, pada 26 September 2023 akan digelar seminar hybrid bertajuk Integrasi Kebijakan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) dalam Kerangka UU Kesehatan 2023 dengan Rencana Kontijensi Kesehatan di Daerah. Seminar ini akan membahas bagaimana realisasi dan integrasi kebijakan TCK yang telah berjalan selama satu tahun dengan renkon penanggulangan bencana di daerah.
Reportase: Seminar Awal Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Kota Yogyakarta
Pada Selasa (1/8/2023) BPBD Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Negeri Veteran Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan seminar bertajuk “Seminar Awal Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Kota Yogyakarta” bertempat di Hotel Tjokro Style pada pukul 08.30-12.30 WIB. Seminar dihadiri oleh pemangku kebijakan dan jejaring penanggulangan bencana mulai dari Pemerintah Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinar P3AP2, Dinas Perdagangan, Dinas Dukcapil, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, PDAM, PMI, Polres dan Kodim, Kwarcab, BMKG, BPPTKG, PDM dan PCNU, BPKAD, Satpol PP, ORARI dan RAPI, serta akademisi dari berbagai universitas. FK-KMK UGM turut hadir dalam acara tersebut, diwakili oleh Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM.
Kunjungan Davao Medical School Philippine : Ingin Belajar Kegiatan dan Kurikulum Bencana Kesehatan di FK-KMK UGM
Pada Sabtu, 29 Juli 2023, Dekanat Fakultas Kedokteran, bagian kurikulum dan Tim Pokja Bencana FK-KMK UGM menerima kunjungan dari perwakilan Davao Medical School Philippine di Ruang Diskusi Lantai 2 Gedung Tahir Foundation, FK-KMK UGM. Tujuan utama kunjungan untuk studi banding kurikulum kebencanaan bagi mahasiswa program S1. Kegiatan diawali dengan sambutan oleh perwakilan dekanat, yakni dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D yang menyebutkan tentang kesamaan letak geografis dan profil risiko bencana alam antara Indonesia dan Filipina. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari perwakilan Davao Medical School Philippine, Dr. Ma Victoria Lim yang menuturkan tujuan kedatangan sekaligus menyampaikan terima kasih atas perkenanan FK-KMK UGM menerima kunjungan.
Desain dan Ketahanan Bencana: Menuju Peran Desain dalam Mitigasi dan Pemulihan Bencana
Makalah ini mengkaji bagaimana wacana dan praktik desain dapat diterapkan untuk mengurangi dampak merusak dari bencana alam (tidak) dan memandu pemulihan pasca bencana yang tangguh. Terintegrasi dengan analisis sistem, desain dapat memberikan jendela inovatif untuk memahami kompleksitas pengurangan dan pemulihan risiko bencana, serta jembatan konseptual untuk cara baru membangun ketahanan sosial-ekonomi dan fisik di masyarakat yang terkena dampak bencana. Namun, keterampilan pemikir sistem dan desain utama, seperti arsitek, perencana kota, dan arsitek lanskap, jarang digunakan, meskipun kapasitas mereka ditujukkan untuk bekerja dengan masyarakat yang rentan atau terkena dampak bencana untuk mengembangkan respons spasial terpadu untuk memandu pengurangan risiko bencana dan pembangunan kembali jangka panjang setelah bencana. Makalah ini membahas kelalaian dalam manajemen bencana dan pendidikan desain melalui tinjauan penelitian tentang kontribusi desain untuk masalah bencana dan memberikan studi kasus kurikulum dan pendekatan pedagogis yang tepat untuk membangun kapasitas untuk meningkatkan kontribusi ini. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di jurnal MDPI
Pedoman Nasional Penanggulangan Krisis Kesehatan 2023
Pengantar website minggu ini membagikan buku Pedoman Nasional Penanggulangan Krisis Kesehatan 2023 yang diterbitkan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan. Buku ini berisi bagaimana konsep dan aktivasi klaster kesehatan dan Health Emergency Operation Center (HEOC), tenaga cadangan, logistik kesehatan, standar pelayanan minimal klaster kesehatan, kaji kebutuhan pasca bencana, sistem informasi, antisipasi insiden korban massal, dan pemberdayaan masyarakat. Konsep pengelolaan krisis kesehatan melalui tiga tahapan saat pra krisis kesehatan, saat darurat kesehatan dan pasca krisis kesehatan dimana menitikberatkan kegiatan pengurangan risiko krisis kesehatan. Konsep tenaga cadangan sudah diregistrasi berbasis aplikasi website dan melalui tahap kredensialing, kemudian diberikan pembinaan tenaga cadangan. Ketika terjadi darurat krisis kesehatan, tenaga cadangan akan mendapatkan notifikasi dan penetapan mobilisasi di daerah terdampak. Pengelolaan logistik saat krisis kesehatan diperlukan monitoring dan evaluasi secara komprehensif dimulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, penggunaan,pengendalian, pencatatan dan pelaporan sampai dengan penghapusan. Standar Pelayanan Minimal Klaster Kesehatan membahas jenis dan mutu pelayanan dasar yang berhak diperoleh setiap penduduk secara minimal dalam kondisi darurat kesehatan.
Triase Saat Bencana
Triase dilaksanakan untuk mengetahui pasien yang menjadi prioritas utama untuk cepat ditangani, memilah pasien berdasarkan kondisi kegawatan pasien (gawat darurat, gawat, tidak gawat dan meninggal). Triase dilakukan ketika menghadapi korban massal pasien dimana dalam kondisi bencana dikenal dengan “triase bencana”. Keputusan untuk menerapkan triase bencana melibatkan komponen tambahan alokasi sumber daya, karena dengan kondisi bencana kemungkinan besar kebutuhan untuk melakukan triase lebih besar daripada kapasitas sumber daya yang ada. Membuat transisi ke triase bencana, mengalihkan fokus ke populasi terdampak dan menerapkan proses alokasi sumber daya memerlukan persetujuan dan tata kelola yang tepat. Terlepas dari jenis bencananya, triase harus menangani semua sumber permintaan untuk perawatan kritis, tidak hanya permintaan yang terkait dengan peristiwa lonjakan itu sendiri. Misalnya, setelah bencana alam atau serangan terorisme yang menyebabkan masuknya pasien trauma, sistem triase juga harus mampu mengalokasikan sumber daya perawatan kritis secara adil kepada pasien dengan kondisi medis yang tidak terkait dengan insiden tersebut, seperti gagal napas akibat sindrom gangguan pernapasan akut karena sepsis atau wanita dengan perdarahan pasca persalinan. Ada beberapa pertimbangan utama saat merencanakan dan memberikan triase. Pertimbangan ini termasuk keputusan penting tentang siapa yang harus dipilih untuk melakukan triase, apakah triase harus dilakukan oleh individu atau tim, apakah mereka harus mengikuti protokol atau bertindak berdasarkan intuisi klinis mereka, dan terakhir, jika menggunakan protokol, berdasarkan apa protokol tersebut. Artikel berikut membahas apa itu triase saat bencana, siapa yang melakukan, bagaimana melakukannya dan kapan harus dilakukan triase. Klasifikasi triase yang paling umum didasarkan pada lokasi dan tingkat perawatan dimana triase dilakukan. Triase primer terjadi di lapangan dengan tujuan menentukan prioritas penanganan di tempat kejadian dan transportasi pasien ke rumah sakit. Tujuan dari triase sekunder bervariasi tergantung pada sifat insiden tersebut. Triase tersier terjadi di dalam rumah sakit dengan tujuan memprioritaskan pasien, dan jika diperlukan mengalokasikan sumber daya, untuk perawatan definitif (operasi atau prosedur radiologi intervensi) dan perawatan intensif (terapi penunjang kehidupan).
Point of Care Testing (POCT) when Disaster
Rumah sakit perlu memiliki perencanaan penanggulangan bencana rumah sakit yang baik untuk meminimalisir kekacauan saat terjadi bencana. Rumah sakit juga harus siap menghadapi masalah kesehatan yang muncul pada pengungsi pasca bencana. Laboratorium klinik di rumah sakit memiliki peran penting dalam kondisi bencana. Laboratorium harus memiliki persiapan pra bencana dan pasca bencana. POCT memiliki potensi yang sangat besar sebagai alat pemeriksaan laboratorium darurat baik di rumah sakit maupun di lokasi bencana untuk menjaga keselamatan pasien. POCT didefinisikan sebagai alat tes diagnostik laboratorium yang digunakan dalam situasi bencana secara efektif. Rumah sakit harus mempersiapkan POCT untuk mengatasi keterbatasan sumber listrik, SDM, dan situasi bangunan yang tidak memungkinkan menggunakan laboratorium diagnostic analyzer. POCT tersebut cocok untuk dibawa kemana saja baik di dalam rumah sakit maupun ke lokasi bencana dengan menggunakan kendaraan. Keuntungan menggunakan POCT adalah hasil pemeriksaan cepat bermanfaat bagi dokter yang merawat pasien, sehingga dapat menganalisis perkembangan kondisi pasien. Penggunaan POCT tidak perlu menggunakan tenaga khusus yang berpendidikan ilmu laboratorium tetapi dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan lainnya.
Public health emergency preparedness (PHEP): a framework to promote resilience
Keadaan darurat dan bencana berdampak pada kesehatan masyarakat. Penyakit menular terus berkembang, pandemi COVID-19 yang baru saja dihadapi menyebabkan morbiditas dan mortalitas dengan penyebaran penyakit yang sangat cepat. Mendefinisikan kesiapsiagaan berdasarkan evidence based masih menjadi tantangan, karena kurangnya bukti untuk menginformasikan pengurangan risiko bencana (PRB) untuk kesehatan masyarakat.Sebelum terjadi pandemi, peningkatan pengetahuan masih berfokus penanganan penyakit menular dalam scope endemi atau kasus luar biasa. Kesenjangan pengetahuan yang ada dengan kerangka kerja PHEP seharusnya seimbang untuk mencerminkan konteks dinamis dan sosial dari kedaruratan kesehatan masyarakat dan sistem kesehatan masyarakat yang kompleks. Intervensi berorientasi ketahanan untuk PHEP telah diusulkan dengan mempertimbangkan kompleksitas konteks darurat dan kompleksitas latar belakang yang harus memandu strategi dalam membingkai ulang PHEP. Makalah berikut menyajikan kerangka kerja yang diturunkan secara empiris dan diinformasikan secara teoritis untuk kesiapsiagaan darurat untuk menginformasikan praktik badan kesehatan masyarakat lokal/regional. Hasil yang ditampilkan mendeskripsikan elemen penting dari sistem kesehatan masyarakat yang tangguh dan bagaimana elemen tersebut berinteraksi sebagai sistem adaptif yang kompleks. Kerangka kerja ini mengidentifikasi 11 elemen penting dari sistem kesehatan masyarakat yang tangguh dan bagaimana elemen tersebut berinteraksi sebagai sistem adaptif yang kompleks. Kerangka kerja berkaitan dengan semua aspek manajemen darurat – meliputi kesiapan, respons dan pemulihan – dan promosi kapasitas adaptif untuk mendukung ketahanan di antara lembaga kesehatan masyarakat lokal/regional.
