Health Education in Disaster Risk Reduction

Artikel ini membahas penyakit menular pasca bencana dengan review delapan bencana besar yang pernah terjadi di Indonesia. Ketika di pengungsian, berbagai penyakit muncul akibat kacaunya situasi dan kurangnya sarana yang memadai. Penyakit yang paling banyak muncul adalah penyakit yang ditularkan dari air dan udara; diantaranya diare, hepatitis A dan E, campak, malaria, tetanus, dan DBD. Penyakit menular tersebut harus diwaspadai dan dipantau ketika bencana terjadi. Salah satu solusi yang dijelaskan dalam artikel ini adalah penting untuk melakukan integrasi pendidikan kesehatan terkait bencana baik di sekolah dan lingkungan masyarakat. Misalnya menyusun perencanaan mengurangi risiko bencana berbasis masyarakat termasuk penyebaran informasi dan membentuk komunitas atau desa tangguh bencana. Selengkapnya Klik Disini

Artikel selanjutnya berkaitan dengan artikel di atas dan masih dengan wilayah Indonesia. Artikel ini membahas penguatan komunitas tangguh bencana, faktor kontribusi dari kolaborasi antara sekolah dan komunitas di area terdampak tsunami Aceh. Peneliti beranggapan bahwa saat ini sekolah memiliki peluang besar untuk membangun kemitraan dengan otoritas pendidikan, komite sekolah, orang tua/ keluarga, komunitas dan pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan ketahanan terhadap bencana. Keefektifan kolaborasi sekolah dan komunitas ini adalah adanya kepemimpinan, kepercayaan, fasilitas dan struktur, sumber dana, pengembangan kapasitas, kesadaran semua pihak, peraturan dan kebijakan yang didapatkan dari pemerintah, masyarakat dan lembaga swasta. Selengkapnya Klik Disini

Edisi kali ini juga kami menyuguhkan laporan dari Sigi, dimana pendampingan Caritas dan PKMK pada dinas kesehatan kabupaten Sigi berjalan baik dan bermanfaat. Dalam perjalanan pendampingannya, ditemukan sejumlah potensi bencana di Sigi. Harapannya, dinas kesehatan disaster plan yang tengah disusun dapat menjawab kebutuhan penanganan bencana di lapangan. Selengkapnya  Klik Disini

Reportase Konferensi TOPCOM Malaysia 2019

Table Top Exercise & Communication in Disaster Medicine (TOPCOM) merupakan konferensi internasional tahunan yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Selayang, Departemen Darurat dan Trauma berkolaborasi dengan beberapa lembaga dan organisasi lain. Konferensi ini dilaksanakan pada 1 – 6 Juli 2019 di UiTM Selayang Campur, Selangor Malaysia. Pra konferensi dimulai pada 2 hari pertama (1 – 2 Juli) mencakup berbagai topik perawatan kritis, perawatan pra rumah sakit dan trauma, kedokteran taktis dan sebagainya. Kemudian dilanjutkan 4 hari berikutnya (3 – 6 Juli) sesi khusus “Temu Para Ahli” dimana peserta dapat berinteraksi langsung dengan pembicara internasional yang ahli dan berkenaan dengan pengobatan darurat dan manajemen bencana.

Konferensi ini juga menyajikan Table Top Exercise untuk memfasilitasi diskusi dan analisis konstruktif dari berbagai situasi darurat yang umumnya terjadi saat bencana. Sebuah skenario dijelaskan kepada peserta pelatihan yang kemudian akan memutuskan tindakan apa yang akan mereka ambil. Konferensi ini akan menantang pemikiran lebih dari 400 peserta secara internasional dari semua bidang perawatan kesehatan dan manajemen darurat. Selengkapnya bisa dibaca di https://www.topcommalaysia.com.  Tim Pokja Bencana Kesehatan FK – KMK UGM yang terdiri dari perwakilan  Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK dan  RSUP Dr. Sardjito juga ikut serta menghadiri konferensi ini. Mereka juga akan presentasi oral dan poster. Reportasi kegiatan konferensi akan kami sajikan di website bencana kesehatan setiap harinya. Reportase konferensi selengkapnya Klik Disini

 

Reportase Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia

dony monarno ketua bnpn

dony monarno ketua bnpn

PKMK – Bogor. Pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia atau PIT IABI diawali dengan laporan ketua panitia, Lilik Kurniawan ST. MSi (Sekretaris IABI) yang melaporkan sejarah perjalanan IABI dimulai dari PIT 1 dengan deklarasi pembentukan IABI, dilanjutkan PIT IABI ke – 2 di UGM, berturut – turut selanjutnya di Bandung, Jakarta, Padang dan terakhir di Bogor ini. Selanjutnya, Bupati Bogor dalam pidatonya menyampaikan bahwa kepedulian pemkab Bogor terhadap bencana ini sangat besar. Hampir setiap tahun bencana alam terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya, bupati mempunyai target dalam 5 tahun kedepan harus terbentuk minimal 200 desa siaga bencana di wilayah Bogor.

Selengkapnya Klik Disini

Sukarelawan Spontan Dalam Respon Bencana Perkotaan

http://www.balipost.com/wp-content/uploads/2018/01/balipostcom_banjir-di-perkotaan-diduga-ini-pemicunya_01-696x464.jpg

Respons spontan dengan mengorganisir diri sendiri, kelompok sukarela yang “muncul” dan individu adalah ciri umum dari bencana perkotaan. Kegiatan mereka termasuk pencarian dan penyelamatan, mengangkut dan mendistribusikan pasokan bantuan, dan menyediakan makanan dan minuman untuk para korban dan pekerja darurat. Namun, aktor informal jarang dimasukkan ke dalam bencana formal dan perencanaan kemanusiaan. Artikel ini meninjau keadaan pengetahuan saat ini mengenai sifat dan skala kegiatan yang muncul di seluruh dunia, dampaknya dalam jangka pendek dan panjang, tantangan yang terkait dengannya dalam konteks yang berbeda, dan pelajaran untuk praktik kemanusiaan perkotaan di masa depan. Artikel ini diterbitkan di Sage Journals pada 2017.  Selengkapnya Klik Disini

Tinjauan Penanggulangan Krisis Kesehatan 2017

buku tinjauan penanggulangan bencana

buku tinjauan penanggulangan bencana

Selamat berjumpa kembali pembaca website bencana kesehatan. Pengantar website bencana kesehatan akhir bulan ini membahas tinjauan penanggulangan krisis kesehatan oleh Pusat Krisis Kemenkes Indonesia pada 2017. Setiap tahunnya Indonesia dilanda bencana dengan jenis bencana hampir sama yaitu gunung meletus, banjir, gempa, tsunami dan longsor. Rentetan gempa terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dua tahun terakhir ini. Kejadian tersebut tentu tidak bisa dihindari namun harus terus diupayakan kesiapsiagaan bencana dan pengembangan penanganan bencana belajar dari kejadian sebelumnya. Informasi terbaru gempa dengan magnitudo 7,7 SR mengguncang wilayah Maluku pada Senin, 24 Juni 2019.

Bagaimana upaya penanggulangan krisis pada 2017? Tinjauan ini mengulas kembali gambaran krisis kesehatan pada 2017 dan bagaimana upaya dukungan klaster kesehatan nasional serta lesson learnt penanggulangan krisis kesehatan.   Pada 2017 seluruh kejadian tanggap darurat krisis kesehatan diakibatkan karena bencana skala daerah, sehingga upaya Kemenkes memberikan dukungan serta fasilitasi daerah dalam melakukan upaya penanggulangan krisis kesehatan. Upaya tersebut meliputi upaya koordinasi, pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit, penyehatan lingkungan, penyiapan air bersih dan sanitasi yang berkualitas, pelayanan kesehatan gizi, pengelolaan obat bencana, kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, dan penatalaksanaan korban meninggal serta pengelolaan informasi kesehatan. Selengkapnya Tinjauan penanggulangan krisis kesehatan 2017 Klik Disini

Hal – hal yang harus diperbaiki belajar dari penanggulangan krisis kesehatan pada2017 adalah perlu ada review dan penguatan kebijakan terkait SOP pemanfaatan Dana Siap Pakai (DSP) maupun Bantuan Tidak Terduga (BTT) bagi sektor kesehatan saat tanggap darurat dan kebijakan terkait penyakit kronis di lingkungan pengungsian. Hal penting lainnya adalah peningkatan kapasitas dalam melakukan manajemen bencana termasuk di dalamnya untuk menyusun rencana kontijensi bidang kesehatan. Kedua hal tersebut telah menjadi isu penting dan program skala prioritas pemerintah daerah di daerah rawan bencana.

Penggunaan Dana Siap Pakai (DSP)

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2019/04/28/abbf59b9-703a-4924-868e-3a29bc5d2786_169.jpeg?w=780&q=90

Salah satu komitmen pemerintah dalam penanggulangan bencana adalah mengalokasikan Dana Siap Pakai (DSP) yang dapat digunakan pada tahap tanggap darurat bencana hingga batas waktu tanggap darurat berakhir. DSP digunakan sesuai dengan kebutuhan tanggap darurat diantaranya untuk pencarian dan penyelamatan korban, pertolongan darurat, evakuasi korban bencana, kebutuhan air dan sanitasi, pelayanan kesehatan dan sebagainya. penggunaan DSP untuk pelayanan kesehatan dapat digunakan untuk pengadaan obat – obatan, pengadaan peralatan hygiene, dan transportasi untuk distribusi obat.

Siapa pengguna DSP? Pengguna DSP ini adalah lembaga yang mempunyai tugas pokok dan fungsi penanggulangan bencana seperti BNPB, BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten/ Kota dan perangkat daerah yang memiliki tugas dan fungsi penanggulangan bencana (khusus bagi daerah yang belum memiliki BPBD). Pemerintah/ Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/ Kota yang terkena bencana dapat mengusulkan bantuan DSP kepada Kepala BNPB dengan menyampaikan laporan kejadian, jumlah korban, kerusakan, kerugian dan bantuan yang diberikan. Informasi selengkapnya terkait pedoman DSP di sini. Pedoman penggunaan DSP belum tersosialisasikan secara merata di beberapa daerah, beberapa BPBD belum memahami penggunaan DSP ini. Meskipun demikian BNPB terus berupaya untuk memaksimalkan penggunaan DSP ini pada saat bencana terjadi. Seperti berita yang dilansir dari Tribun News, BNPB menyalurkan DSP Rp. 2,2 Miliar untuk penanganan banjir Bengkulu, 1,15 miliar untuk banjir Sulawesi Selatan dan 1,15 miliar untuk banjir Sentani.

Selengkapnya Klik Disini

Reportase Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia

dony monarno ketua bnpn

dony monarno ketua bnpn

PKMK – Bogor. Pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia atau PIT IABI diawali dengan laporan ketua panitia, Lilik Kurniawan ST. MSi (Sekretaris IABI) yang melaporkan sejarah perjalanan IABI dimulai dari PIT 1 dengan deklarasi pembentukan IABI, dilanjutkan PIT IABI ke – 2 di UGM, berturut – turut selanjutnya di Bandung, Jakarta, Padang dan terakhir di Bogor ini. Selanjutnya, Bupati Bogor dalam pidatonya menyampaikan bahwa kepedulian pemkab Bogor terhadap bencana ini sangat besar. Hampir setiap tahun bencana alam terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya, bupati mempunyai target dalam 5 tahun kedepan harus terbentuk minimal 200 desa siaga bencana di wilayah Bogor.

Selengkapnya Klik Disini

Fakta Arus Mudik 2019 dan Banjir Sulawesi Tenggara

https://statik.tempo.co/data/2018/06/24/id_714218/714218_720.jpg

Selamat berjumpa kembali pembaca website bencana kesehatan, semoga setelah libur hari raya semakin semangat melakukan aktivitas. Pengantar website minggu ini akan membahas bagaimana kondisi arus mudik lebaran dan banjir Sulawesi Tenggara. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumardi memberikan evaluasi mudik Lebaran 2019. Budi menyatakan banyak kabar gembira mengenai perjalanan arus mudik dimana warga tidak mengalami macet parah, misalnya beberapa warga menceritakan dari Jakarta ke Semarang hanya 6 jam, Jakarta ke Palembang 8,5 jam, Jakarta ke Solo 8 jam dan sebagainya. Budi juga menambahkan angka kecelakaan pada arus mudik 2019 mengalami penurunan lebih dari 50%. Informasi linimasa fakta dan data arus mudik selengkapnya  di

Selengkapnya Klik Disini

https://asset.kompas.com/data/todaysphoto/2018/foto/73f614858444241bddf143/p_1560074940570-banjir-di-konawe.jpg

Selanjutnya informasi cuaca buruk yang melanda Sulawesi Tenggara. Sejak Sabtu (1/6/2019) hujan deras mengguyur Sulawesi Tenggara menyebabkan 4 kabupaten terendam banjir yaitu Kolaka Timur, Konawe Utara, Konawe dan Konawe Selatan. Kabupaten terparah adalah Konawe Utara dimana terdapat 8 desa yang terisolasi. Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB menyatakan bahwa 8 desa tersebut belum bisa dijangkau karena akses yang putus dan derasnya aliran air. Jumlah pengungsi mencapai 4.089 orang dan rumah rusak sebanyak 58 unit. Jembatan jalur Trans Sulawesi di Kabupaten Konawe Utara putus akibat banjir dan memutuskan aliran listrik serta akses informasi warga. Pemda Konawe Utara masih terus melakukan evakuasi warga yang rumahnya terendam banjir. 

Selengkapnya Klik Disini

 

Reportase Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Bandar Lampung

hdp am 1

hdp am 1

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek adalah salah satu rumah sakit yang terkena dampak tsunami 22 Desember 2018, tsunami yang disebabkan oleh letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menghantam pesisir Banten dan Lampung, Indonesia. Tidak hanya itu, kejadian gawat darurat sehari – hari, krisis kesehatan, dan bencana lainnya juga akan berdampak pada RSUD Dr. H Abdul Moeloek karena merupakan rumah sakit rujukan provinsi dari 15 Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung. Hal ini mendasari kebutuhan RSUD Dr. H. Abdul Moeloek untuk mempersiapkan Hospital Disaster Plan (HDP)-nya.

Selengkapnya Klik Disini

Gempa Jogja 27 Mei 2006

http://jogja.semberani.com/wp-content/uploads/2016/08/Gempa-italia.jpg

Selamat bertemu kembali pembaca website bencana kesehatan. Hari Senin ini tepat 27 Mei mengingatkan kita pada Gempa Jogja 27 Mei 2006. Tepat 13 tahun gempa yang berpusat di Kabupaten Bantul silam menewaskan ribuan jiwa. Gempa Bumi tersebut tektonik  kuat kurang lebih pukul 05:55:03 WIB selama 57 detik berkekuatan 5,9 pada skala Richter. Mengulas kembali kekacauan yang terjadi pada gempa Jogja 2006, warga panik dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Berbagai relawan datang untuk memberikan bantuan termasuk PKMK UGM bidang bencana kesehatan. Laporan kegiatan oleh PKMK UGM pada masa itu bisa dibaca kembali di laman berikut.

Selengkapnya Klik Disini

Selanjutnya berikut hasil penelitian oleh Mid-America Earthquake Center tentang Yogyakarta Earthquake, penelitian membahas dampak gempa terhadap sosial, ekonomi, lingkungan, pendidikan serta rekomendasi perbaikan. Selengkapnya Klik Disini. Belajar dari gempa Jogja 2006 semua pemerintah daerah terus memperbaiki manajemen penanganan bencana. Sekilas perkembangan persiapan penanggulangan bencana DIY sudah dibahas pada pengantar website bencana minggu lalu pada rapat koordinasi teknis klaster kesehatan di DIY. Regulasi Klaster Kesehatan oleh Dinas Kesehatan akan ditingkatkan menjadi SK Gubernur.