Carbondioksida

co2

co2

Gas CO2 adalah gas yang normal terdapat dalam darah manusia tetapi kadar yang tinggi menimbulkan dampak yang serius yang dapat menyebabkan kematian. Inhalasi udara dengan kadar CO2 dapat meningkatkan kadar CO2 dalam darah. Inhalasi udara dengan CO2 dengan kadar tinggi dapat menimbulkan dampak antara lain gejala keracunan ringan CO2 seperti kedutan otot, penurunan aktivitas otak, kulit memerah (flushing), dan tekanan darah meningkat. Bila kadar CO2 dalam darah meningkat maka akan terasa nyeri kepala, letargi, peningkatan denyut nadi, denyut jantung tidak teratur, panik, nyeri dada, mual, muntah, nyeri perut, halusinasi, kejang, penurunan kesadaran, dan berakhir kematian.

Tabel. Efek yang timbul pada inhalasi CO2 tergantung pada kadar CO2

 

CO2

Efek

1%

RR meningkat (37%)

1,6%

Mv naik 100 %

2%

RR meningkat 50% ,aliran darah ke otak meningkat

3%

Toleransi terhadap exercise menurun

5%

MV meningkat 200% , RR meningkat 100 %,pusing, bingung, sesak

7,2%

RR meningkat hingga 100%, pusing, bingung, sesak

8-10%

Pusing,bingung, sesak berkeringat dan tunnel vision

10%

Sangat sesak, muntah, disorientasi, hypertensi, kehilangan kesadaran

 co2-cycle

Karbon diambil dari atmosper dengan berbagai cara seperti proses fotosintesis tumbuhan, pada permukaan laut ke arah kutub dimana air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut, dan pelapukan batuan silikat. Sementara karbon kembali ke atmosfer melalui resfirasi atau hembusan nafas makhluk hidup, melalui pembusukan binatang dan tumbuhan, asap pembakaran bermotor, fosil, dan batubara, jika permukaan laut menjadi lebih hangat maka CO2 kembali terlepas ke atmosfer dan proses erupsi vulkanik atau letusan gunung berapi. Pada proses alam yang normal, pengambilan dan pengembalian CO2 tidak akan berdampak apapun, bisa dikatakan 0. Namun, pada kondisi yang berlebihan terutama misalnya kepadatan hasil pembakaran pada kendaraan bermotor dan batubara sedangkan tumbuhan tidak mampu menyerapnya maka terjadilah ketidakseimbangan CO2 di atmosfer. Juga pada saat kejadian bencana gunung berapi, dimana gas CO2 yang berlebihan akan berdampak pada masyarakat disekitarnya.

Sumber:

Williams SN, Schaefer SJ, Calvache VML, Lopez Dina. Global carbon dioxide emission to the athmosphere by volcanoes. Geochimica et cosmochimica acta 56(4); 1765-1770. 1992.

Berner Robert, Lasaga Antonio. The carbonate-silicate geochemical cycle and its effect on atmospheric carbon dioxide over the past 100 million years. American Journal of Science 283; 641-683. 1983.

 


Hidrogen Sulfida

shs

shsGas H2S adalah rumus kimia dari gas Hidrogen Sulfida yang terbentuk dari dua unsur Hidrogen dan satu unsur Sulfur. Satuan ukur gas H2S adalah PPM (part per milion). Gas H2S disebut juga gas telur busuk, gas asam, asam belerang atau uap bau.

Gas H2S terbentuk akibat adanya penguraian zat-zat organik oleh bakteri. Oleh karena itu gas ini dapat ditemukan di dalam operasi pengeboran minyak/gas dan panas bumi, lokasi pembuangan limbah industri, peternakan atau pada lokasi pembuangan sampah dan pada beberapa kejadian gunung meletus atau retakan tanah.

 

Gas H2S mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. Tidak berwarna tetapi mempunyai bau khas seperti telur busuk
  2. Jenis gas beracun
  3. Dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi LEL (Lower Explosive Limit)
  4. Berat jenis gas H2S lebih berat dari udara sehingga akan cenderung terkumpul di daerah yang rendah atau permukaan tanah.
  5. Dapat larut dalam air
  6. Bersifat korosif

 

Efek fisik gas H2S terhadap manusia tergantung dari beberapa faktor, diantaranya

adalah :

  1. Lamanya waktu seseorang berada di lingkungan yang terpapar H2S
  2. Frekuensi (seringnya) seseorang terpapar H2S
  3. Besarnya konsentrasi H2S
  4. Daya tahan seseorang terhadap paparan H2S

Pada tingkat paparan yang ringan maka H2S dapat menyebabkan gejala-gejala antara lain sakit kepala atau pusing, lesu, hilang nafsu makan, korosifnya menyebabkan rasa kering pada hidung, tenggorokan, dan dada, batuk batuk, dan kulit terasa perih. Proses terjadinya keracunan pada tubuh manusia ketika kondisi normal, seseorang bernafas dengan menghirup udara yang terkandung oksigen sebagai salah satu bagian udara bebas, selain nitrogen dan unsur-unsur lainnya. Oksigen sangat dibutuhkan manusia untuk proses oksidasi di dalam tubuh. Oksigen yang masuk ke dalam paru-paru akan dibawa oleh darah ke seluruh tubuh termasuk ke otak. Jika seseorang menghirup udara yang telah tercampur dengan gas H2S maka komposisi oksigen yang masuk ke dalam tubuh akan berkurang, sehingga kinerja otakpun akan terganggu. Tingkat konsentrasi gas H2S di otak yang semakin tinggi akan mengakibatkan lumpuhnya saraf pada indera penciuman dan hilangnya fungsi kontrol otak pada paru-paru. Akibat fatalnya adalah paru-paru akan melemah dan berhenti bekerja, sehingga seseorang dapat hilang kesadaran dan meninggal dalam ukuran waktu tertentu.

 

Tabel. Tingkat Konsentrasi H2S dan Efeknya pada Manusia

 

Tingkat H2S (PPM)

Efek pada Manusia

0,13

Tercium bau kadang-kadang

4,6

Mudah terdeteksi karena bau mulai tercium

10

Mulai iritasi pada mata dan mata mulai berair

27

Bau sangat menyengat dan mengganggu

100

Batuk-batuk, iritasi mata dan indera pencium tidak berfungsi lagi

200-300

Pembengkakan mata dan rasa kering di tenggorokan

500 – 700

Hilang kesadaran dan mematikan dalam waktu 1 jam

>700

Hilang kesadaran dengan cepat dan berlanjut kematian

 

Sumber:

Reiffenstein RJ, Hulbert WC, Roth SH. Toxicology of hydrogen sulfide. Pharmacology and Toxicology Journal 32; 109-134. 1992.

Li L, Moore PK. Putative biological roles of hydrogen sulfide in health and desease: a breath of not so fresh air?. Trends in Pharmacological Sciences 29(2); 84-90. 2008.

Chunyu Zhang, Junbao Du, Dingfang Bu, Xiuying Tang, Chaoshu Tang. The regulatory effect of hydrogen sulfide on hypoxic pulmonary hypertension in rats. Biochemical and Biophysical Research Communications 302 (4); 810-816. 2003.

Jepang Pasca Bencana Tsunami 2011

tsunami-jepang1

tsunami-jepang1

Sebelas Maret 2011 adalah masa kelam bagi negara Jepang. Adapatasi dan mitigasi yang siapkan untuk menghadapi bencana benar-benar terjadi. Namun, diluar dugaan bencana yang terjadi diluar perkiraan. Penghalang pantai tidak mampu menahan laju gelombang laut yang menghantam darat hingga berkilo meter. Gempa berkekuatan 8,5 skala richter pada siang menjelang sore hari waktu setempat telah mengakibatkan tsunami yang memporak-porandakan kota Fukushima, Miyagi, dan Iwata. Sepekan dilaporkan bahwa korban mencapai 24.124 jiwa dengan 9.408 meninggal dunia, 14.716 dinyatakan hilang, dan 2.746 mengalami luka-luka.

Bencana ini juga menyebabkan retaknya dinding reactor nuklir Jepang yang mengancam radiasi nuklir bagi masyarakat sekitarnya. Masyarakat jepang hingga diungsikan sejauh 30 kilometer dari tempat dan skrining radiasi pun dilakukan bagi semua korban dan masyarakat. Meski demikian, Jepang tetap tegak berdiri menyelamatkan diri. Tidak banyak yang meragukan bahwa Jepang pasti bisa bengkit dari keterpurukan, termasuk Indonesia yang yakin dalam tiga bulan Jepang bisa kembali pulih.

Pemulihan pasca bencana tsunami Jepang sangat cepat. Pada masa tanggap darurat, pemerintah daerah berfokus untuk menyelamatkan korban dengan segera. Manajemen tanggap darurat Jepang cepat dan terkoordinir. Masyarakat tidak banyak mengeluh dan mengikuti semua instruksi dengan baik meski kondisi fisik dan mental mereka sangat lelah. Satu komando untuk tanggapdarurat berhasil dilakukan oleh Jepang. Satuan komando diperlukan pada tanggap darurat. Keadaan bencana tidak menghapuskan manajemen meskipun yang bersifat formal biasanya terabaikan pada saat bencana.

Terkait kebocoran reactor nuklir di Fukushima juga mengundang kekaguman dunia, dimana aksi evakuasi dan skrining dilakuan dengan cepat. Bahkan karyawan PLTN Fukushima dengan etos kerja yang tinggi cepat tanggap memperbaiki kerusakan reactor. Padahal mereka sangat berisiko terkena dampak radiasi. Etos kerja bangsa Jepang memang tidak diragukan lagi.

Adaptasi mitigasi bencana yang dilakukan Jepang dikatakan berhasil. Kemampuan Jepang untuk mempersiapkan diri terhadap bencana terlihat dari pelatihan-pelatihan dan simulasi yang kerap dilakukan sejak bangku sekolah dasar hingga masyarakat tentang bagaimana bertindak ketika bencana terjadi. Pada saat gempa, masyarakat Jepang telah dilatih untuk tidak panik. Kini, ketika gempa terjadi masyarakat Jepang saling bantu membantu untuk keluar gedung sehingga tidak terlihat saling berebut untuk keluar. Selain itu, persiapan Jepang menghadapi bencana terlihat juga dari pondasi bangunan yang didirikannya. Pada gempa dan tsunami tahun 2011 bahkan tidak ada gedung bertingkat yang runtuh melainkan hanya retak.

tsunami-jepang

Gambar di atas menunjukkan kemajuan Jepang tiga bulan pasca tsunami. Kesiapan, kecepatan, dan kemandirian Jepang dalam menghadapi bencana menjadi refleksi bagi Indonesia. Bagaimana adapatasi dan mitigasi Indonesia terhadap bencana yang sering atau bahkan sudah bisa diramalkan terjadinya? Lalu bagaimana sistem komando tanggapdarurat bencana agar tidak terjadi tumpang tindih instruksi yang berdampak pada lambatnya penanganan korban bencana?

Benarkah Climate Change Permasalahan Kesehatan Masyarakat?

Perubahan cuaca telah terjadi saat ini. Baik disadari atau tidak. Lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya selalu berinteraksi dengan cuaca. Perubahan cuaca akan mempengaruhi kehidupan di dalamnya. Seperti atap melindungi rumah, terjadi kebocoran atau kerusakan pada atap akan mempengaruhi kehidupan penghuninya, misalnya atap yang bocor menyebabkan lantai basah ketika musim penghujan, sinar matahari masuk ke dalam rumah, lama kelamaan menyebabkan dinding berjamur, dan membuat penghuni terganggu. Cuaca dunia seperti atap dunia, bahkan lebih dari itu, interaksi cuaca dengan lingkungan dan manusia bahkan lebih dekat.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, menjadi masalah kesehatan masyarakat. Ada populasi yang merasakan dampak dari perubahan cuaca, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik disadari atau tidak, tetapi bagi yang sadar ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus dicegah dampak buruknya.

Essay yang ditulis Maria Nilsson, Birgitta E, Rainer Sauerborn, Peter Byass, yang berjudul Connecting the Global Climate Change and Public Health Agendas memberikan gambaran umum kepada kita bagaimana interaksi manusia, lingkungan, dan perubahan cuaca. Selain itu tulisan ini secara gamblang juga menjalaskan dan mempersuasi bagaimana agenda global dalam menghadapi perubahan cuaca. Ada sebuah gambar menarik di dalam tulisan ini mengenai hubungan perubahan cuaca dengan kesehatan sekaligus upaya-upaya yang bisa dilakukan individu hingga global dalam menghadapi perubahan cuaca agar tidak berdampak buruk.

Tiga kesimpulan yang dapat kita tangkap yakni:

  1. Perubahan cuaca adalah masalah kesehatan masyarakat. Pengaruh lingkungan pada sektor lingkungan secara tidak langsung akan berdampak pada masyarakat, terutama pada masyarakat rentan seperti masyarakat miskin, anak-anak, dan lansia.
  2. Kesehatan masyarakat dan perubahan cuaca sangat berhubungan, sebaliknya perilaku manusia juga berdampak pada perubahan lingkungan sehingga pencegahan dampak perubahan cuaca memerlukan perubahan perilaku manusia.
  3. Aksi terhadap dampak perubahan cuaca bagi masyarakat sangat dibutuhkan. Kolaborasi antara top down dan bottom up, pemerintah dan masyarakat untuk sama-sama mencegah perubahan cuaca ekstrim dan dampaknya.

 

Sumber:

Nilsson Maria, Evenga°rd Birgitta, Sauerborn Rainer, Byass Peter. Connecting the global climate change and public health agendas. PLoS Med 9(6): 1-3. 2012.

 

Risk Perception terhadap Kejadian Bencana : Indonesia dan Jepang

Risk Perception terhadap Kejadian Bencana : Indonesia dan Jepang

Oleh Madelina

Berada pada jalur ring of fire membuat Indonesia akrab dengan kejadian bencana. Lebih dari dua kejadian bencana terjadi di Indonesia setiap harinya. Tercatat bahwa selama Januari 2013 telah terjadi bencana sebanyak 120 kejadian di berbagai daerah di Indonesia, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Meski mengalami penurunan, bencana masih banyak terjadi pada Februari yang mencapai 87 kejadian. Bencana yang terjadi diantaranya banjir, tanah longsor, dan puting beliung masih mendominasi.

Bencana kembali terulang kembali, seolah-olah hal biasa yang terjadi. Bahkan di Indonesia yang dikenal sebagai negara tropis yang hanya memiliki dua musim, saat ini juga terkenal dengan “musim banjir” pula. Sadar atau tidaknya masyarakat bahwa mereka berada di daerah yang rawan bencana merupakan indikator keberhasilan dari sosialiasai Risk Perception. Bencana akan dianggap kejadian alam biasa jika masyarakat menganggap itu bukan bencana yang senantiasa mengintai harta benda bahkan nyawa dan keluarga. Inilah pentingnya konsep Risk Perception. Orang akan cenderung bertindak sesuai dengan persepi yang dimilikinya.

Sebaiknya seluruh masyarakat Indonesia belajar dari masyarakat Jepang. Jepang memiliki daerah yang jauh lebih kecil dari Indonesia dan parahnya hampir di seluruh wilayah Jepang berisiko besar terhadap gempa dan tsunami. Berbeda dengan Indonesia yang masih memiliki daerah yang setidaknya lebih aman terhadap bencana (seperti Kalimantan). Namun, pemerintah dan masyarakat Jepang memiliki kewaspadaan dan persepsi yang sama mengenai bencana. Bencana dianggap sesuatu yang terjadi secara spontan dan akan membahayakan jiwa jika tidak ditanggapi dengan tepat. Maka tidak heran proses mitigasi dan adaptasi Jepang terhadap bencana sangat baik, seperti membangun pondasi gedung yang tahan gempa, pemantauan gempa aktif, sistem awareness yang baik dan disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat, serta pendidikan penyelamatan jiwa ketika bencana sejak TK.

Uniknya lagi, Jepang juga dikenal dengan negara yang masih menganut agama  dan kepercayaan. Masyarakat Jepang percaya bahwa gunung berapi misalnya memiliki seorang Dewa penjaga. Sehingga kejadian gunung meletus bisa saja dianggap peringatan atau kemarahan Dewa. Meski demikian, masyarakat jepang juga memahami risk perception mengenai bencana yang disosialisasikan pemerintahnya. Masyarakat Jepang percaya adanya Dewa, mereka selalu melakukan pemujaan untuk menghindari kemarahan dewa. Di sisi lain mereka juga percaya dengan risiko bencana, untuk itu mereka mempersiapkan diri dengan latihan tanggap darurat bencana dan simulasi jika terjadi bencana. Dua sisi persepsi yang saling bertolak belakang tetapi mereka “mengawinkannya” dengan baik, seharusya Indonesia juga bisa seperti itu.

Proses Perubahan Iklim yang berdampak pada Kesehatan Manusia

Oleh Madelina
Sumber: Patz JA dan Kovarts RS (2002) 

PKMK – Pembahasan perubahan iklim (climate change) adalah pembahasan mengenai perubahan signifikan dari iklim yang menetap dalam jangka waktu yang lama (satu dekade) dan seterusnya (IPCC, 2001). Perubahannya kerap diukur melalui perubahan masa lampau, misalnya perubahan temperatur udara, ketinggian permukaan air laut, ketebalan selaput es dan salju, serta kejadian ekstrim lainnya. Sehingga pembahasan mengenai efek perubahan iklim selalu berbicara pada dampak atau impact bukan sebuah efek akut atau output.

Penuturan mengenai dampak perubahan iklim bagi kesehatan manusia berada pada tingkatan impact. Gambar di atas berusaha menjelaskan dampak perubahan iklim bagi penurunan kesehatan masyarakat. Setelah terjadi perubahan secara ekstrim yang mempengaruhi lingkungan tempat tinggal manusia, misalnya kemarau yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan, sumber air bersih berkurang, beberapa mikrooganisme meningkat perkembangbiakannya, setelah itu baru dirasakan dampaknya bagi manusia, misalnya kelaparan, kasus gizi kurang, dan meningkatnya kejadian penyakit infeksi.

Penyakit diare merupakan penyakit yang signifikan meningkat insidennya ketika terjadi peningkatan temperatur 1°C baik pada musim kemarau maupun musim penghujan. Curah hujan meningkat menyebabkan kejadian banjir di beberapa tempat yang berakibat meningkatnya penyebaran penyakit melalui air seperti kolera dan diare. Pada saat musim kemarau terjadi juga dimana sumber air bersih berkurang dan higien sanitasi buruk yang adekuat menyebabkan peningkatan kejadian diare.

Perubahan iklim menyebabkan belahan bumi lain mengalami pemanasan dan belahan yang lain mengalami pendinginan. Pemasanan dan pendinginan yang tidak seimbang mempengaruhi spesies yang hidup didalamnya, khususnya nyamuk yang peka terhadap perubahan cuaca. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Afrika Selatan tahun 2010 diketahui bahwa terjadi peningkatan kejadian malaria seiring peningkatan temperatur selama 20 tahun.

Konsekuensi perubahan iklim adalah tantangan signifikan bagi lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia. Semuanya saling berhubungan tetapi yang merasakan dampaknya tetaplah manusia sebagai makhluk hidup di dalamnya. Kesadaran dalam penanggulangan dan pencegahannya harus melibatkan interaksi dari ketiganya.

 

Daftar rujukan:

  • IPCC. Climate change 2000. Special Report on Methodological and technological Issues in technology Transfer. Metz B, Davidson OR, Van Rooijen S and Wie McGrovy. New York: Cambridge University Press. 2001.
  • Patz JA, Kovats RS. Hots spots in climate change and human health. British medical Journal; 325:1094-1098. 2002.
  • Keman Soedjajadi. Perubahan iklim global, kesehatan manusia dan pembangunan berkelanjutan. Jurnal Kesehatan Lingkungan; 3 (2):195-204. 2007.

Dampak Climate Change Bagi Kesehatan Anak

Review oleh Madelina

Climate change tidak berpengaruh akut dan langsung pada status kesehatan masyarakat. Namun, dampak climate change telah dirasakan akhir-akhir ini. seperti penelitian yang dilakukan oleh Adeboyejo, Lirvhuwani, dan Shonisani yang dipublikasikan Maret 2012 dengan judul Impact of Climate Change on Children’s Health in Limpopo Province, South Africa. Penelitian mencoba mencari pengaruh climate change terhadap kejadian penyakit pada anak 0-13 tahun. Kemudian,  dikumpulkan data cuaca dan rekam penyakit anak di rumah sakit selama 20 tahun (1990-2010).

Penelitian ini menghasilkan bahwa statistik cuaca menunjukkan pemanasan dan curah hujan tinggi yang fluktuatif tetapi cenderung mengalami peningkatan selama 20 tahun ini, terutama pada daerah subtropis. Sedangkan insiden penyakit pada anak didominasi penyakit infeksi dan pernapasan. Insiden tertinggi adalah diare (42,4 persen), infeksi pernafasan (31,3 persen), asma (6,6 persen), dan malaria (6,5 persen). Setiap peningkatan suhu akan berdampak 1,329 kali terhadap insiden penyakit. Analisis regresi menunjukkan kemungkinan terjadinya peningkatan pada penyakit diare dan infeksi pernafasan dari 2010 hingga 2050 (prevalensi rate 0.08-0,14). Fakta ini memberikan peringatan kepada pemerintah dan seluruh masyarakat bahwa climate change berbahaya bagi kesehatan anak.

Upaya utama yang dilakukan adalah bagaimana menyebarluaskan awareness kepada masyarakat bahwa climate change merupakan tantangan bagi kesehatan. Dengan demikian, masyarakat menjadi paham dan sadar bahwa perilaku (pemborosan energi listrik) dan aktivitas (emisi gas bermotor) yang tidak berwawasan lingkungan akan berdampak pada pemanasan global yang mempengaruhi climate change. Selain itu, peran keluarga juga perlu ditingkatkan dalam hal pengajaran higien sanitasi pada anak, terutama untuk mencegah penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan.

Pada tingkat yang lebih tinggi, peran pemerintah sangat besar untuk membuat kebijakan dalam rangka mitigasi dan adaptasi dampak climate change. Beberapa diantaranya, kebijakan pembatasan emisi gas bermotor dan industri, kebijakan deforestasi dan reboisasi, serta penyehatan lingkungan untuk mengurangi insiden penyakit diare.

Penelitian ini telah membuktikan bahwa climate change sudah terjadi di daerah Afrika Selatan. Sebaiknya, climate change tidak saja berdampak pada kesehatan manusia tetapi lebih dulu berdampak pada pertanian, sosio ekonomi, dan kehidupan. Hal ini bukan hanya menjadi peringatan bagi Afrika Selatan melainkan juga daerah tropis, Indonesia misalnya.

 

Sumber:

Thompson AA, Matamaie Lirvhuwani, Kharidza SD. Impact of climate change on children’s health in Limpopo Province, South Africa. International Journal of Enviromental Research and Public Health, 9:831-854. 2012.

Langkah Adaptasi Mitigasi Bencana di Indonesia

merapi-meletus

Oleh: Madelina

merapi-meletus

PKMK – Indonesia akrab dengan kejadian bencana, hal ini tidak boleh membuat Indonesia “biasa” dengan bencana. Bencana tetaplah bencana yang medatangkan dampak buruk jika Indonesia tidak siap menghadapinya. Suatu hazard atau hal-hal natural yang terjadi pada alam yang menyebabkan bencana memang tidak bisa dicegah. Gunung meletus tetap akan meletus pada waktunya. Namun, diperlukan upaya manusia untuk berusaha membuat sesuatu yang natural itu tidak menjadi bahaya bagi dirinya. Misalnya, mengevakuasi diri dan keluarga yang jauh dari kemungkinan aliran larva dan gas awan panas. Bisa juga dengan membuat saluran larva agar tidak melebar ke pemukinan warga dengan luas. Dengan demikian, gunung tetap meletus, tetapi minim korban akibatnya.

Banyak bencana yang dihadapi Indonesia pasti memberikan pelajaran dan pengalaman. Kebangkitan pasca bencana selanjutnya adalah mendeteksi apa yang akan terjadi kemudian, apakah bencana serupa akan berulang atau akan ada bencana baru lainnya lagi. Lalu menjawab dimana kira-kira bencana itu akan terjadi, kapan waktunya, bagaimana terjadinya, dan harus bagaimana manusia disekitarnya. Hal inilah yang harus dijawab sebagai upaya kita melakukan Risk Assessment. Selanjutnya melakukan manajemen risiko bencana.

Berdasarkan hasil Seminar Nasional Perubahan Iklim di Indonesia : Manajemen Risiko Bencana akibat Perubahan Iklim (29/12/2012) di UGM Yogyakarta, diperoleh fakta bahwa penting sekali melakukan adaptasi mitigasi bencana di Indonesia sebagai berikut :

  1. Mampu memprediksi dan mengurangi risiko bencana seawal mungkin
  2. Mengetahui risiko dari kemungkinan bencana dan melakukan tindakan pencegahan
  3. Membangun kesadaran luas terhadap bencana