Gempa Tiga Hari Beruntun, Situbondo Dikirimi Seismograf
SITUBONDO, KOMPAS.com — Tingginya intensitas gempa tektonik dalam tiga hari terakhir di wilayah Situbondo, Jawa Timur, mendapat perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jawa Timur. Stasiun Geofisika Kelas II Tretes telah mengirim seismograf single station tipe TDS-III ke Situbondo untuk mendeteksi episentrum gempa.
Alat untuk mendeteksi gempa tersebut dipasang di belakang kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Situbondo. “Gempa di Situbondo ini tergolong agak unik karena disertai dengan suara dentuman dan gerakan kecil,” ujar Benni Sipollo, Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Tretes, Senin (9/4/2012).
Ia mengatakan, intensitas gempa yang terjadi sangat tinggi karena dalam beberapa hari terakhir ini sudah terjadi 17 kali gempa. Meski tak menimbulkan kerusakan material karena kekuatan gempa kecil, hal tersebut mendapat perhatian serius. “Kami langsung mendapat instruksi atasan di Bali untuk memasang alat pendeteksi gempa di Situbondo,” katanya.
Menurut dia, gempa yang terjadi di Situbondo sudah sampai pada tipe swarm atau sekumpulan gempa dengan skala kecil-kecil II-IV MMI.
Selain diiringi suara dentuman, gerakannya juga ke atas dan bawah. Goyangan ke atas dan bawah itu biasa disebut gelombang sekunder.
“Karena itulah, warga diimbau tidak terlalu panik karena gempa di Situbondo tidak akan menimbulkan kerusakan,” ujar Benni.
Ia menambahkan, suara dentuman akibat gempa itu sering kali terjadi di daerah patahan bumi. Suara dentuman itu sendiri muncul sebagai energi akibat desakan lempengan bumi yang mengarah ke daerah patahan.
“Awalnya, kami menduga sumber gempa ada di dasar laut. Namun, setelah dilakukan plotting, ternyata sumber gempa itu ada di darat, yakni sekitar 10 kilometer arah utara kota Situbondo,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, saat ini intensitas gempa cenderung menurun dengan kekuatan sekitar 1,7 skala Richter. Gempa tersebut terakhir terjadi pada Senin sekitar pukul 01.20.
Post Comment