Ombudsman Usul Indonesia Punya Dana Abadi Hadapi Bencana

Liputan6.com, Jakarta – Anggota Ombudsman RI Alamsyah Saragih mengusulkan agar pemerintah mulai mengumpulkan dana abadi untuk digunakan ketika negara menghadapi masalah-masalah krusial, seperti wabah hingga bencana alam.”

Kita agak kurang serius membangun yang namanya sovereign wealth fund, dana yang dikumpulkan untuk hal-hal seperti ini, bencana, serangan wabah, dan menjamin masa depan,” kata Alamsyah  di Jakarta, Minggu (8/3/2020).Langkah ini, sudah dilakukan misalnya oleh China. Dalam kurun waktu 16 tahun, negeri tirai bambu itu berhasil mengumpulkan hingga USD 900 miliar.

“Yang diambil sekian persen dari SDA yang dieksploitasi, dari hutan, dan dari aspek-aspek eksploitasi lain yang memang mereka peruntukan untuk mengantisipasi apabila ada bencana alam dan ada hal-hal yang krusial seperti ini,” sambungnya.

Indonesia, memang sudah ada mekanisme pengumpulan dana abadi. Tapi masih kecil dan tidak berfokus pada tujuan spesifik.”Ada di bawah Kementerian Keuangan dan terlalu banyak. Dia (China) bisa bangun satu rumah sakit hanya dalam sekian hari karena dananya di cukup. Kita menangani bencana di Palu saja sampai hari ini orang masih tinggal di hunian sementara (Huntara),” tegas dia.

Dia pun berharap, pemerintah harus sudah mulai mengumpulkan dana semacam itu. Dan itu pun nanti bakal digelontorkan ketika Indonesia menghadapi situasi genting, seperti bencana alam maupun wabah.”Kalau kita istilahnya semacam dana abadi yang hanya bisa dikeluarkan apabila presiden tanda tangan. Seperti di China juga perdana menteri dan presiden tanda tangan baru keluar dan kemudian bangun rumah sakit dengan cepat,” urai dia.

Jika menilik kemampuan SDM dalam menghadapi Covid-19, Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Hanya memang dukungan dari segi anggaran yang harus dikuatkan.”Apakah orang Indonesia mampu? Mampu. Itu rumah sakit di Wuhan, arsiteknya anak Malang. Dari kapasitas kita bisa, tapi resource itu memang harus kita tabung,” ujar dia.

Dari APBN

Menanggapi usulan tersebut, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengatakan bahwa sejauh ini pemerintah sudah mengalokasikan anggaran dari APBN untuk menangani berbagai masalah, seperti bencana alam dan wabah. Dana tersebut dialokasikan ke BNPB.

“Kayak di (Karantina WNI) Natuna memang ditangani langsung oleh BNPB. Kemudian di Departemen Keuangan ada alokasi dana yang disiapkan dalam rangka menghadapi masalah-masalah atau bencana-bencana, wabah seperti Corona maupun bencana alam,”

Ngabalin mengakui bahwa dari segi jumlah anggaran memang belum terlampau besar. Meski demikian, dia menegaskan, khusus untuk penanganan Covid-19, dananya sudah disiapkan pemerintah.

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com

Pemerintah Sebut Pasien Sembuh dari Corona Bisa Tertular Lagi

Jakarta, CNN Indonesia — Juru bicara pemerintah khusus penanganan wabah Virus Corona Achmad Yurianto mengatakan pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 bisa saja kembali tertular.

“Jadi bukan penyakit kambuh, tapi ketularan lagi,” kata Yurianto di di Kompleks Istana Kepresidenan, Minggu (8/3).

Oleh karena itu, kata dia, edukasi tentang virus ini penting bagi masyarakat agar senantiasa berhati-hati dan waspada. Misalnya, penggunaan masker jika sedang sakit, rajin mencuci tangan, dan beberapa tindakan preventif lainnya.

“Kita harus tetap hati-hati karena penyakit ini pada awalnya tidak tunjukan gejala yang berat,” ujarnya.

Di sisi lain, Yurianto menyampaikan suspect Corona yang kemudian dinyatakan negatif bakal diminta untuk melakukan self isolate atau mengisolasi diri. Hal itu juga berlaku bagi pasien dalam pengawasan (PDP).

“Beberapa kasus yang kemudian PDP negatif dan sudah boleh pulang, maka langkah berikutnya kita akan melakukan self isolate,” ucap Yuri.

Self isolate yang dimaksud itu yakni pasien diminta untuk berada di dalam rumah selama 14 hari. Selama itu, kata Yurianto, yang bersangkutan diminta untuk menggunakan masker dan mengurangi kontak dekat dengan keluarga.

[Gambas:Video CNN]

Yurianto menuturkan selama 14 hari pihak Dinas Kesehatan setempat ataupun puskesmas perlu melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien tersebut.

“Kalau baik semua dan kita nyatakan tidak masalah maka bisa bersosialisasi seperti biasa,” ujarnya.

Diketahui, sejumlah pasien Virus Corona di sejumlah negara dinyatakan sembuh. Namun, beberapa di antaranya kembali tertular.

Kronologi dan Urutan Munculnya 6 Orang Positif Virus Corona di Indonesia

KOMPAS.com – Kabar mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan bagi kita di Indonesia muncul sejak Senin (2/3/2020) lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya pasien yang positif virus corona dan mengidap Covid-19.

Ada dua orang pasien Covid-19 dalam kasus pertama yang terjadi di Tanah Air, yaitu seorang perempuan berusia 31 tahun (kasus 1) dan ibunya yang berusia 64 tahun (kasus 2).

Menurut Jokowi, virus corona itu didapat dari warga negara Jepang yang sempat melakukan perjalanan di Indonesia. Dia kemudian menularkan itu ke pasien Kasus 1, lalu virus corona itu sampai ke pasien Kasus 2.

Pemerintah kemudian men-tracing atau melakukan penelusuran dengan skema klaster untuk mengantisipasi persebaran virus ini.

Hasilnya, hingga Minggu malam diketahui ada enam pasien yang positif Covid-19 dan 21 orang masuk dalam kategori suspect.

Lima orang di antaranya diketahui berasal dari klaster Jakarta, yang masih terkait dengan Kasus 1. Mereka dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta.

Adapun, pasien Kasus 6 merupakan salah satu awak kapal pesiar Diamond Princess, yang merupakan salah satu lokasi persebaran terbesar virus corona. Pasien 6 dirawat di RSUP Persahabatan, Jakarta.

Pada 14 Februari 2020, WNI berusia 31 tahun diduga terjangkit virus corona saat berada di sebuah restoran di Jakarta. Dia tertular dari warga Jepang yang saat itu juga sedang di tempat yang sama.

WNI dan warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia itu diketahui melakukan kontak cukup dekat atau close contact.

Kontak yang dimaksud dekat adalah jarak yang memungkinkan virus itu menular.

Pasien 1 itu kemudian melakukan kontak dengan Pasien 2, yang merupakan ibunya. Sang ibu tertular virus corona saat sedang merawat anaknya yang sakit.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebutkan bahwa dua orang itu tinggal di Depok, Jawa Barat.

Bagaimana hubungan Pasien 1 dengan warga Jepang diketahui?

Dua hari kemudian, 16 Februari 2020, ibu dan anak itu melakukan pemeriksaan di rumah sakit di Depok. Saat itu, keduanya hanya diminta untuk rawat jalan.

Pada 26 Februari 2020, kondisi keduanya belum membaik dan mereka meminta untuk rawat inap karena merasa batuknya tidak kunjung reda.

Kemudian, pada 28 Februari 2020, terdapat informasi ke Tanah Air bahwa warga Jepang itu positif Covid-19 saat kembali ke Malaysia.

Pemerintah kemudian menelusuri aktivitas warga Jepang itu, termasuk siapa saja yang dia temui. Hingga kemudian, hal ini membuat ditemukan keterkaitannya dengan Pasien 1.

Adakah persebaran virus corona dari penemuan Kasus 1?

Setelah penemuan Kasus 1 dan Kasus 2, pemerintah terus melakukan tracing dengan menelusuri aktivitas mereka.

Hingga kemudian, ada dugaan virus corona itu tersebar di lokasi yang sama saat Kasus 1 melakukan kontak dekat dengan warga Jepang, di sebuah restoran di Jakarta Selatan.

Penelusuran dilakukan dengan metode klaster, yaitu mencari orang-orang yang berada di lokasi yang sama, yaitu di restoran itu pada 14 Februari 2020.

Kasus 3 dan Kasus 4 itu diketahui berada di lokasi yang sama dengan Kasus 1, dan ada kemungkinan tertular Covid-19 di saat yang sama.

Hal yang perlu dicatat adalah belum diketahui apakah penularan itu langsung dari warga Jepang atau dari pasien dalam kasus 1

Lalu, bagaimana pemerintah mendapatkan pasien berikutnya yang positif Covid-19?

Awalnya, pemerintah menelusuri dan mendapatkan 80 pengunjung dan orang yang berada di restoran itu pada 14 Februari 2020.

Berikutnya, dilakukan screening hingga kemudian dikerucutkan menjadi 20 orang yang diminta untuk pendalaman.

Sebanyak 20 orang itu dicari tahu seberapa dekat kontak yang dilakukan. Hasilnya, ada tujuh pasien yang dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di RSPI Sulianti Saroso, pemerintah kemudian memastikan ada tiga pasien lagi yang mengidap Covid-19, yaitu Kasus 3, 4, dan 5.

Bagaimana dengan Kasus 6?

Pemerintah menyebut bahwa Kasus 6 tidak terkait dengan klaster Jakarta. Dia merupakan awak kapal pesiar Diamond Princess yang sebelumnya menjadi salah satu lokasi besar persebaran virus corona.

Diamond Princess hingga Minggu malam menempati peringkat ketujuh sebagai lokasi dengan kasus Covid-19 terbanyak.

Kapal ini tercatat memiliki 696 kasus, dan berada di bawah China, Italia, Korea Selatan, Iran, Perancis, Jerman. Data lihat dalam situs ini.

Pasien 6 merupakan laki-laki yang kini dirawat di RSUP Persahabatan.

Berapa Lama Virus Corona Bisa Hidup di Permukaan Benda?

KOMPAS.com – Hasil penelitian memastikan bahwa virus corona menyebar lewat droplet pernapasan (percikan kecil air liur) yang melayang ke udara ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin.

Droplet itu bisa mengenai orang yang berada di dekat orang yang terinfeksi corona, atau jatuh ke permukaan benda-benda di sekitarnya. Lantas, berapa lama virus itu akan hidup di permukaan benda? Susah untuk memastikannya.

Namun demikian, menurut salah satu penelitian, virus bisa bertahan beberapa jam hingga sembilan hari pada suhu yang hangat.

Penelitian lain juga menyebutkan, Covid-19 kemungkinan bisa menyebar melalui feses, seperti halnya penyakit tifus. Ini berarti, jika seseorang yang terinfeksi virus ini tidak mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar, maka tangannya yang kotor itu akan membuat virusnya tertinggal di pegangan pintu, tombol lift, ataupun pegangan di kendaraan umum.

Itu sebabnya, sangat penting bagi kita untuk selalu menjaga kebersihan tangan dengan mencucinya di bawah air mengalir menggunakan sabun.

Permukaan benda-benda di tempat umum memang menjadi salah satu titik berkumpulnya bakteri dan kuman.

Studi tahun 2018 menemukan, bakteri penyebab penyakit dari usus manusia dan feses bisa ditemukan di hampir semua permukaan yang sering disentuh orang di tempat umum.

Hampir semua produk tisu yang mengandung disinfektan mengklaim bisa membunuh 99,9 persen kuman, dan di dunia yang sempurna hal itu benar.

“Covid-19 adalah virus yang mengandung lemak (lipid), yang berarti bisa dengan mudah dibunuh dengan penyeka mengandung disinfektan,” kata Dr Charles Gerba, profesor mikrobiologi dan imunologi dari Universitas Arizona.

Namun, menurut Gerba, kita tidak hidup di dunia yang sempurna. Kebanyakan orang tidak menggunakan penyeka tersebut dengan benar sehingga tidak efektif.

Sebagai contoh, sebuah penelitian menunjukkan, walau tisu mengandung disinfektan bisa menghapus bakteri dari permukaan, tetapi patogen itu bertahan dalam tisunya. Jika tisu itu dipakai ulang, bakterinya akan berpindah ke lokasi baru. Untuk mencegahnya, segera buang tisu setelah dipakai.

Baca juga: 7 Langkah Cuci Tangan yang Efektif Singkirkan Kuman

Ilustrasi bersinMilanMarkovic Ilustrasi bersin

Selain memperhatikan kebersihan permukaan benda, cara paling efektif menghindari paparan kuman adalah dengan tidak sering-sering menyentuh wajah. Rata-rata orang menyentuh wajahnya 23 kali dalam satu jam.

“Jangan malas mencuci tangan secara benar, semua permukaan dan sela jari harus digosok dengan sabun. Jangan lupa juga untuk mengeringkannya karena virus bisa bertahan di tangan yang basah,” kata Dr Robert Amler, mantan pimpinan di CDC Amerika.

Berapa Lama Virus Corona Bisa Hidup di Permukaan Benda?

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Berapa Lama Virus Corona Bisa Hidup di Permukaan Benda?”, https://lifestyle.kompas.com/read/2020/03/05/075240720/berapa-lama-virus-corona-bisa-hidup-di-permukaan-benda.

Editor : Lusia Kus Anna

Kemenkes: Penanganan Wabah Corona telah Lampaui Status KLB

Kemenkes: Penanganan Wabah Corona telah Lampaui Status KLB

Jakarta, CNN Indonesia — Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto menyatakan penanganan virus corona (covid-19) berada di atas kejadian luar biasa (KLB).

Achmad selaku juru bicara pemerintah terkait virus corona menyebut penanganan penyebaran virus ini sudah masuk siaga darurat pandemi.

“Jauh sebelum ditetapkan KLB kami sudah melaksanakan kegiatan siaga darurat pandemi covid-19. Itu jauh lebih tinggi kedudukannya dari KLB,” kata Achmad kepada CNNINdonesia.com, Rabu (4/3).

Achmad menjelaskan penanganan covid-19 masuk dalam ranah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Virus corona ini masuk ke dalam bencana nonalam.

Menurutnya, penerapan siaga darurat pandemi dimulai sejak ratusan WNI yang dijemput dari Wuhan, China menjalani karantina dan observasi di Pulau Natuna, Kepulauan Natuna.

“Itu sudah ada keputusannya menteri. Sudah menjadi acuan. itu lebih tinggi daripada kejadian luar biasa,” ujarnya.

“Kalau KLB itu berbicara tentang situasi lokal, enggak mungkin KLB se-Indonesia. (Misalnya) KLB DBD, itu khas daerah,” katanya menambahkan.

Namun, Achmad mengatakan tak ada istilah siaga satu, siaga dua, ataupun siaga tiga dalam penanganan virus corona. Penanganan ini juga mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan Dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia.

“Kami langsung mengerahkan seluruh potensi maksimal,” ujarnya.

Sampai saat ini ada dua pasien dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Kedua orang itu adalah ibu dan anak yang sedang dalam isolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta.

Kemudian enam pasien suspect corona juga berada di RSPI Jakarta. Mereka pun menjalani pemeriksaan dan diisolasi sejak kemarin.

Selain itu, pemerintah juga sedang melakukan karantina dan observasi ratusan WNI dari dua kapal pesiar di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu. (fra)

Kemenkes: Penanganan Wabah Corona telah Lampaui Status KLB

Batam, CNN Indonesia — Rumah sakit khusus penyakit menular yang akan dibangun di Pulau Galang, Batam, ditargetkan bisa menampung hingga 1.000 pasien penyakit menular termasuk terjangkit virus corona.

Hal itu diungkapkan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat meninjau lokasi yang menjadi tempat pembangunan rumah sakit tersebut, ex camp Vietnam, Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (4/4).

Di gerbang lokasi tersebut, tertulis Kawasan Wisata P. Galang (Ex Camp Vietnam).

“Rencananya kita akan membangun atau merenovasi dengan kapasitas 1.000 pasien. Selain itu kita akan siapkan ruang isolasi sesuai aturan kesehatan 2 persen dari jumlah kamar itu,” kata Hadi kepada wartawan. 

“Jadi kita akan siapkan ruang isolasi sebanyak 50 kamar,” ujarnya lagi.

Hadi meninjau lokasi pembangunan rumah sakit bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, menindaklanjuti rencana pemerintah seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, membangun rumah sakit untuk penyakit menular di Pulau Galang.

Bangunan bekas pengungsian Vietnam adalah bekas penampungan pencari suaka asal Vietnam yang kini difungsikan sebagai tempat wisata sejarah. Lokasinya berjarak sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Batam.

Panglima TNI, Menteri PUPR dan rombongan tiba di lokasi sekitar 10.30 WIB. Mereka meninjau lokasi bekas rumah sakit yang ada di eks kamp Vietnam dan beberapa lokasi lainnya. Rombongan berada di lokasi selama satu jam.

“Pulau Galang ini yang kita pilih, selain kita punya tempat observasi di Natuna,” katanya.

Pemerintah akan merenovasi bangunan bekas rumah sakit yang masih ada. Bangunan yang berada di dalam kawasan ex camp Vietnam ini masih berdiri kokoh dan hanya perlu perbaikan di beberapa bagian. 

Usai melalukan peninjauan, Panglima TNI, Menteri PUPR dan rombongan langsung meninggalkan lokasi tersebut sekitar 11.30 WIB.

Pembangunan rumah sakit khusus penyakit menular di Pulau Galang adalah salah satu respons dari pemerintah terhadap virus corona.

Saat ini sudah dua warga negara Indonesia (WNI) yang dinyatakan positif mengidap corona. Keduanya adalah warga Depok, Jawa Barat, yang kini dirawat di ruang isolasi RSPI Sulianto Saroso.

Selain dua orang itu, RSPI Sulianti Saroso mengungkap ada tujuh orang lain yang berada dalam status pengawasan. (les/wis)

Gunung Merapi Erupsi, Tinggi Kolom Abu 6.000 Meter

Gunung Merapi Erupsi, Tinggi Kolom Abu 6.000 Meter

Jakarta, CNN Indonesia — Gunung Merapi kembali erupsi pada pukul 05.22 WIB, Selasa (3/3). Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan erupsi di seismogram dengan amplitudo 75 milimeter dan durasi 450 detik.

BPPTKG juga mengamati tinggi kolom erupsi ± 6.000 meter dari puncak dan awan panas guguran ke arah hulu K. Gendol dengan jarak maksimum 2 kilometer. Arah angin saat erupsi ke utara.

Gunung di perbatasan Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta ini masih berstatus level 2 atau waspada sejak 21 Mei 2018.

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 kilometer dari puncak Merapi, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.

 Erupsi ini bukan pertama kali. Sebelumnmya Merapi juga erupsi pada 13 Februari 2020. Namun erupsi kali ini diyakini lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Pada erupsi sebelumnya, masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 3 kilometer dari Gunung Merapi. Sebab potensi kemunculan awan panas lahar hingga material vulkanik tetap harus diwaspadai meski erupsi sudah berhenti.

Gubernur Jawa Barat Bentuk Crisis Center Corona di Depok

Depok, CNN Indonesia — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bakal membentuk crisis center di Depok untuk mengantisipasi penyebaran virus corona (Covid-19). Tim Crisis center bakal dipimpin langsung oleh Wali Kota Depok Mohammad Idris.

“Besok Kota Depok akan membentuk Covid-19 crisis center,” kata orang yang akrab disapa Emil itu di Balai Kota Depok, Jawa Barat, Senin (2/3).

Diketahui, kasus virus corona pertama diidap oleh dua warga Depok yang tertular dari warga negara Jepang. Ada pula 70 perawan RS Mitra Keluarga Depok yang dipantau lantaran sempat berinteraksi dua warga positif mengidap virus corona.

Crisis center juga akan dibentuk di tempat lain di Jawa Barat. Namun, Emil belum menentukan lokasi yang tepat.

Emil mengatakan bahwa crisis center dibentuk guna mendapat informasi yang benar dan akurat. Crisis center juga bakal melakukan penanganan kasus yang berkaitan dengan virus corona.

“Nah saya juga akan buat hal yang sama di Jawa Barat,” kata dia.

Emil lalu menjelaskan bahwa dua warga Depok yang positif mengidap virus corona tertular di Jakarta. Bukan di Depok.

Dia bicara demikian berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Pemerintah Kota Depok.

“Fakta per hari ini yang bisa disampaikan tentunya dua WNI yang ber-KTP Depok itu terinfeksinya di Jakarta, bukan di Depok kira-kira begitu,” kata Emil.

Meski begitu, kediaman warga positif terinfeksi Covid-19 tetap akan diisolasi. Itu akan tetap dilakukan guna mencegah penyebaran virus ke warga sekitar.

“Dalam hitungan hari mungkin setelah di-treatment oleh tim dari Brimob itu juga akan selesai sehingga warga sekeliling diminta tetap beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Stok Sembako dan Masker

Emil memastikan pasokan sembako bakal terus ada untuk masyarakat Jawa Barat usai ditemukan kasus virus corona perdana di Indonesia.

Supply dan demand sembako kita normal-normal saja ya,” kata Emil.

Dia meminta warga agar tidak panik. Emil berharap masyarakat tidak berebut sembako di supermarket hanya untuk ditimbun di rumah.

Tak hanya persediaan sembako, Emil juga mengimbau agar tidak membeli masker dalam jumlah besar. Dia merujuk pada ucapan Menkes Terawan Agus Putranto yang mengatakan masker hanya perlu dipakai oleh orang sakit.

Jika masker-masker dibeli oleh mereka yang sehat, Emil kasihan dengan warga yang benar-benar sakit dan membutuhkan. Dia cemas warga yang sakit justru malah tidak dapat membeli masker lantaran stok habis.

Emil lalu meminta masyarakat tetap menjaga kesehatan. Dia yakin virus corona tidak akan menginfeksi tubuh seseorang yang sehat.

“Ini urusannya dengan imunitas. Jadi kalau kita menduga-duga orang sehat kemudian ada interaksi dia, gimana konfirmasi ya kecuali dia ada gejala,” kata dia.

Kemenkes Telusuri 50 WNA Kelompok Dansa Pasien Corona Depok

Jakarta, CNN Indonesia — Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto menyatakan bakal menelusuri kelompok dansa yang sempat kontak dengan pasien asal Depok dan warga negara Jepang yang positif virus corona (covid-19).

Achmad menyebut ada sekitar 50 orang Warga Negara Asing (WNA) yang ikut dalam kelompok dansa tersebut.

“Sekarang kami sedang coba tracking kelompok party-nya, kelompok dansanya. Ini sedang kami cari karena banyak warga beberapa negara. Kami tracking untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Achmad di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Senin (2/3).

Sesuai kronologi kegiatan pasien, kata Achmad, pasien yang berusia 31 tahun awalnya mengeluh batuk dan demam pada 16 Februari tepat dua hari setelah mengikuti dansa pada 14 Februari 2020. Pasien kemudian sempat berobat namun berdasar rujukan dokter dinyatakan tak perlu dirawat.

Alih-alih membaik, lanjut Achmad, kondisi pasien memburuk. Ia pun dirawat ibunya di rumah yang belakangan juga positif corona.

“Ibunya ketularan demam, maka dua-duanya memutuskan minta dirawat di rumah sakit. Jadi pada 27 Februari ibu dan anak dirawat di RS. Pada 28 Februari, WN Jepang itu telepon dan konfirmasi kena covid-19,” terangnya.

Ibu dan anak itu pun lantas menjalani pemeriksaan intensif dan dinyatakan positif corona. Achmad mengatakan, keduanya saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Suroso, Jakarta.

“Jadi hari itu diperiksa dan hari itu confirmed positif. Kondisi saat ini baik-baik saja, tetap aktivitas meski diisolasi,” ucapnya.

Presiden Joko Widodo sebelumnya telah mengumumkan keberadaan dua WNI yang positif corona. Dua WNI itu diduga terinfeksi setelah bertemu dengan seorang warga negara Jepang yang dinyatakan positif corona.

Mereka kontak dengan berdansa saat WN Jepang tersebut berkunjung ke rumah ibu dan anak itu di Depok, Jawa Barat. Kedua WNI itu kini dirawat di RSPI Sulianto Suroso, Jakarta Utara. RSPI Sulianti Saroso dipilih karena memiliki spesialisasi infeksi penyakit menular. Rumah sakit itu juga memiliki perawatan ruang isolasi yang lengkap.

Mencapai Ketahanan Banjir Kota di Masa Depan

 

Hasil awal konsorsium penelitian Urban Flood Resilience dipresentasikan dan dibahas, dengan pekerjaan yang dilakukan dengan latar belakang ketidakpastian di masa depan sehubungan dengan perubahan iklim dan meningkatnya urbanisasi. Mengadopsi pendekatan sistem secara keseluruhan, tema utama termasuk mengembangkan pendekatan adaptif untuk desain rekayasa fleksibel aset pengelolaan banjir abu – abu dan biru-hijau yang digabungkan; mengeksploitasi potensi sumber daya stormwater perkotaan melalui panen air hujan, pemodelan perkotaan dan interoperabilitas (kapabilitas produk/sistem); dan menyelidiki interaksi antara perencana, pengembang, insinyur, dan masyarakat pada berbagai skala dalam mengelola risiko banjir. Pekerjaan ini memproduksi alat pemodelan baru berbasis bukti yang luas untuk mendukung kasus untuk infrastruktur multifungsi yang memberikan banyak manfaat lingkungan, sosial dan ekonomi, sekaligus meningkatkan ketahanan banjir perkotaan dengan menyatukan manajemen stormwater dan infrastruktur hijau. Artikel ini dipublikasikan pada 2019 di jurnal MDPI

Selengkapnya KLIK DISINI