Purwakarta Siaga Bencana Hingga Juni 2020

SEJAK Januari 2020 hingga Selasa (25/2/2020), setidaknya ada sebanyak 12 kejadian tanah longsor yang dilaporkan terjadi di Kabupaten Purwakarta. Pemerintah daerah setempat menetapkan status siaga bencana tersebut hingga akhir Juni 2020 mendatang.

“Dari awal Januari hingga hari tadi terjadi 12 kali bencana tanah longsor baik skala kecil maupun sedang. Tapi alhamdulilah tidak ada korban jiwa,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Purwakarta, Wahyu Wibisono, Selasa (25/2/2020).

Bencana longsor dilaporkan paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Bojong. Ia tidak menyebutkan jumlahnya namun menurutnya longsor di sana dipengaruhi kondisi permukaan tanahnya yang berbukit dan labil, ditambah dengan faktor cuaca buruk.

Hujan yang terjadi hampir sepanjang hari menyebabkan tanah di bawah jalan beton longsor di Desa Kutamanah Kecamatan Sukasari Kabupaten Purwakarta. Longsor juga merusak bangunan rumah warga di dekatnya.

“Satu rumah yang rusak milik keluarga Dedi yang terdiri dari tiga anggota keluarga,” ujar Wahyu seperti ditulis wartawan “PR”, Hilmi Abdul Halim.

Ia menegaskan tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut meskipun waktu kejadian sekitar pukul 3.00 dini hari. Menurutnya, kerusakan hanya terjadi pada salah satu bagian rumah dengan kategori ringan.

Meski demikian, penghuni rumah tersebut mengaku khawatir mengalami longsor susulan karena kondisi tanahnya yang dinilai masih labil.

Potensi bencana longsor susulan juga mengancam jalan beton penghubung desa itu karena badan jalan mengalami retakan cukup parah.

“Bagian bawah jalan terkikis tanahnya,” kata Wahyu berdasarkan laporan petugas di lapangan.

Editor: Lucky M. Lukman

sumber: www.galamedianews.com

30 Desa di Karawang Terendam Banjir, 9.514 Warga Mengungsi

KARAWANG, KOMPAS.com – Banjir terjadi di 30 desa di 14 kecamatan di Karawang, Selasa (25/2/2020).

Sekretaris Daerah (Sekda) Karawang Acep Jamhuri mengatakan, ketinggian air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga 2 meter.

Banjir terjadi akibat curah hujan tinggi, serta drainase tersumbat dan syphon tersumbat sampah.

Wilayah yang dilanda banjir yakni Kecamatan Kutawaluya, Jayakerta, Cilebar, Telukjambe Barat, Rengasdengklok, Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel, Karawang Timur, Pedes, Karawang Barat, Cikampek, Telukjambe Timur, dan Cilamaya Wetan.

“Banjir tertinggi di Desa Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan dengan ketinggian 30 sentimeter hingga 2 meter, BMI, dan Desa Karangligar,” kata Acep.

Dandim 0604 Karawang Letkol Inf Medi Haryo Wibowo mengatakan, banjir mengakibatkan 10.529 rumah warga terendam dan 32.961 orang terdampak.

Sementara warga yang mengungsi sebanyak 9.514 jiwa dari 3.111 yang tersebar di 14 titik.

“Perum BMI, Dawuan Tengah, Purwasari Regency, Dengklok (Rengasdengklok) merupakan wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak. Evakuasi dilakukan sejak malam hingga pagi tadi,” kata Medi.

Medi menyebut pihaknya bersama Polri dan Pemkab Karawang bersama-sama melakukan penanganan banjir.

“Kami akan rapat koordinasi penanggulangan bencana bersama Pak Sekda dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait untuk segera lakukan langkah penanggulangan banjir,” katanya.

Jakarta Banjir Melulu, Ini Dia Biang Keroknya

Jakarta – Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengungkapkan penyebab wilayah Jakarta dan sekitarnya rentan banjir setiap kali hujan deras. Salah satu alasan terkuat yang menyebabkan Jakarta mudah banjir adalah karena banyaknya daerah resapan tanah yang diambil alih menjadi bangunan.

“Daerah-daerah resapan sudah mulai tertutup oleh bangunan, drainase juga tidak jalan,” ujar Dirjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah Kementerian ATR/BPN Budi Situmorang ditemui di Gedung Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Salah satu daerah resapan yang menjadi sorotan adalah Kawasan Puncak Bogor. Tanah di kawasan ini kini sudah banyak dipakai untuk membangun vila. Untuk itu, Kementerian ATR/BPN bertekad untuk mengembalikan fungsi lahan di sana menjadi daerah resapan air, dengan cara memperbanyak penanam pohon di wilayah tersebut.

“Menurut informasi dari hulu ada persoalan juga karena di puncak kan sudah banyak (tanah) yang jadi vila. Untuk itu, kita sudah mulai dari hulu, sudah ada rencana kita mau menanam kembali (pohon) karena vila-vila di sana besar-besar,” katanya.

Menurut Budi, di kawasan tersebut sebenarnya pembangunan bangunan komersil hanya diberi jatah sebesar 20% lahan, akan tetapi kenyataannya jumlah bangunan di kawasan itu kebanyakan telah melebih jatah tersebut.

“Yang kita syaratkan cuma 20% sesuai tata ruangnya. Kalau lebih dari situ kita akan bongkar dan umumnya itu vila-vila. Sesuai kebijakan Pak Menteri (Sofyan Djalil), agar ada win-win solution, dan tidak terjadi pembongkaran, maka nanti kita akan minta mereka yang lahan-lahannya masih kosong agar ditanamkan pohon-pohon,” tambahnya.

Demikian pula dengan bangunan-bangunan di Jakarta. Untuk bangunan-bangunan yang tidak memiliki hak milik yang jelas, akan dibongkar agar dapat dialihfungsikan sebagai kawasan serapan air.

“Iya (bakal dibongkar) sesuai Undang-Undang nomor 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pemerintah bisa mencabut hak kalau untuk penyelenggaraan bencana,” tutupnya.

Rabu Pagi, Sejumlah Wilayah di Jakarta Masih Terendam Banjir

Rabu Pagi, Sejumlah Wilayah di Jakarta Masih Terendam Banjir

Suara.com – Banjir Jakarta hingga Rabu (26/2/2020) pagi masih terpantau menggenangi sebagian wilayah di Ibu Kota. Hal itu terpantau dari laporan TMC Polda Metro Jaya melalui Twitter resminya TMCPoldaMetro.

Salah satu wilayah yang masih tergenang banjir adalah Jalan Perintis Kemerdekaan Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Di wilayah ini banjir setinggi 15-20 cm masih menggenang.

“05.25 Situasi jalan di Tl Perintis masih tergenang air setinggi 15 – 20 cm, untuk kendaraan roda dua dan roda empat sudah dapat melintas, tetap menjaga keselamatan diri dan berhati-hati,” tulis akun TMC Polda Metro Jaya.

Sementara banjir dengan ketinggian 40-50 cm juga masih menggenangi kawasan di depan KBN Cakung. Sehingga jalur tersebut hanya bisa dilalui kendaraan besar jenis truk.

Integrasi Pengetahuan Pribumi untuk Praktek Pengurangan Risiko Bencana melalui Pengetahuan Ilmiah: Kasus dari Kepulauan Mentawai, Indonesia

https://i0.wp.com/www.otoritasnews.co.id/wp-content/uploads/2017/10/mentawai-1.jpg?resize=696%2C464&ssl=1

Studi ini mengeksplorasi pentingnya pengetahuan masyarakat adat dalam  pengurangan dan respons risiko bencana. Banyak penelitian yang  menyoroti kebutuhan untuk mengintegrasikan pengetahuan tersebut dengan sains modern. Berdasarkan penelitian etnografi di masyarakat adat di Kepulauan Mentawai Indonesia, penelitian ini mengeksplorasi kategorisasi pengetahuan asli dalam proses integrasi. Untuk itu, data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam sementara data sekunder dikumpulkan dari dokumen yang relevan, termasuk buku, artikel, situs website dan laporan pemerintah serta LSM. Temuan menunjukkan bahwa pengetahuan asli diperoleh melalui pengamatan panjang dan interaksi dengan bencana. Meskipun sebagian dari pengetahuan ini didasarkan pada keberhasilan di daerah lain, beberapa kearifan lokal sepenuhnya lokal, homogen dan dibagi di antara anggota masyarakat. Juga ditetapkan bahwa kearifan lokal dapat diorganisasikan secara bermakna ke dalam sejumlah kategori, dan bahwa kearifan lokal yang bersifat teknis lebih mungkin diintegrasikan dengan pengetahuan ilmiah. Penelitian ini bersifat eksploratif dan mendekati masalah pengetahuan masyarakat adat dari sudut pandang masyarakat adat itu sendiri. Pendekatan ini harus direplikasi dan diperluas di masyarakat adat lainnya. Artikel ini dipublikasikan pada 2019 di International Journal of Disaster Management.

Selengkapnya KLIK DISINI

Memori Banjir dalam Ketahanan Masyarakat

https://cdn-image.bisnis.com/posts/2020/01/01/1185972/banjir.jpg

Banjir yang dihadapi Jakarta bukanlah peristiwa baru. Pengalaman banjir di Jakarta seharusnya bisa menjadi pembelajaran untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap banjir. Namun beberapa media menunjukkan kritikan masyarakat terhadap pemerintah DKI, masyarakat menganggap pemerintah DKI Jakarta gagal menangani banjir. Kacaunya konsep penataan ruang karena banyaknya pembangunan infrastruktur yang tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan hidup juga disebut salah satu penyebab banjir Jakarta. Daerah yang rawan banjir seharusnya menjadikan banjir sebagai masalah rutin, terlepas dari kejadian banjir yang sebenarnya. Penelitian ini menekankan pentingnya pengetahuan banjir informal/ lokal/ awam, memori banjir dan sejarah banjir dalam mengembangkan ketahanan masyarakat terhadap banjir. “Memori banjir berkelanjutan” dipahami sebagai fokus masyarakat, arsip, mengintegrasikan pengalaman individu dan kolektif dan strategi penanganan untuk masa depan. Konsep memori banjir dan pengetahuan dapat dikembangkan di dalam masyarakat – melalui diskusi dimana berbagai pakar dan suara lokal dapat berpartisipasi. Pengetahuan lokal juga menawarkan prediksi dan keprihatinan tentang karakter dan dampak banjir di masa depan berdasarkan pengamatan sebelumnya dari segi geografis, ekonmis, kesehatan dan kebijakan pemerintah. Lebih jauh lagi, mengingat pola banjir masa lalu dapat menanamkan pemahaman tentang perubahan risiko residual dan persepsi terhadap perubahan lingkungan. Selengkapnya KLIK DISINI

Selengkapnya KLIK DISINI

Buku Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCoV)

buku pedoman kesiapsiagaan ncov corona virus 2019

buku pedoman kesiapsiagaan ncov corona virus 2019

Pedoman ini ditujukan bagi petugas kesehatan sebagai acuan dalam melakukan kesiapsiagaan menghadapi 2019-nCoV. Pedoman ini bersifat sementara karena disusun dengan mengadopsi pedoman sementara WHO sehingga akan diperbarui sesuai dengan perkembangan penyakit dan situasi terkini. Pada buku pedoman ini dijelaskan mengenai: Surveilans dan Respon, Manajemen Klinis, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, Pengelolaan Spesimen dan Konfirmasi Laboratorium, Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat.

Selengkapnya KLIK DISINI

ASM FK-KMK 2020

Dalam Rangka Annual Scientific Meeting (ASM)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan (FK-KMK)
Universitas Gadjah Mada

 Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK-KMK UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan seminar mengenai:

 UPAYA SINKRONISASI KETAHANAN KESEHATAN DENGAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA DAN KRISIS KESEHATAN: STUDY KASUS CORONA VIRUS DAN ANTRAKS


PENGANTAR

Banyak ancaman baik alam, non alam maupun keduanya yang dapat mengancam ketahanan kesehatan (Health Security) di Indonesia. Untuk itulah, sejak 2005 Indonesia telah berkomitmen dalam implementasi International Health Regulation (IHR) hingga saat ini. Menyadari bahwa upaya pengendalian ancaman ketahanan kesehatan meliputi koordinasi, komitmen, penyusunan kerangka kerja hingga investasi maka berbagai upaya telah dilakukan diantaranya kepemimpinan Indonesia dalam Global Health Security Agenda (GHSA) serta pelaksanaan Joint External Evaluation (JEE) oleh tim eksternal tahun 2017, hingga asesmen pembiayaan ketahanan kesehatan ditingkat nasional dan sub nasional tahun 2019.

Namun, diawal tahun 2020, ketahanan kesehatan kita diuji dengan dampak bencana alam (Banjir yang terjadi di Jakarta serta banjir bandang di beberapa daerah di Indonesia) serta bencana non alam (munculnya antrax di Gunung Kidul DIY dan ancaman Corona Virus). Menghadapi hal tersebut, sektor kesehatan telah berupaya diantaranya dengan penyelidikan kasus dan penetapan KLB antrax, begitu juga dengan virus corona yakni dengan penguatan sistem surveilans, ditetapkannya kesiapsiagaan point of entry dan fasilitas kesehatan, bahkan upaya evakuasi dan karantina telah dilakukan.

Tentunya pelaksanaan ketahanan kesehatan tidak bisa hanya dilakukan ditingkat nasional saja, justru implementasi penting ada di sub-nasional (Provinsi, Kabupaten/kota). Berdasarkan hal tersebut, World Bank dan PKMK FK-KMK UGM telah melakukan penelitian analisis pembiayaan ketahanan kesehatan di tingkat sub nasional tahun 2019, dimana Provinsi DIY dan Jawa Timur menjadi tempat penelitian yang didasarkan pada kasus Antrak dan Difteri yang pernah terjadi sebelumnya. Secara garis besar memang ketahanan kesehatan belum sepopuler isu ketahanan pangan ditingkat sub nasional.

Untuk itu, dalam setting Annual Scientific Meeting FK-KMK UGM menarik untuk mengangkat isu ketahanan kesehatan, bencana dan krisis kesehatan. Bagaimana konsep pelaksanaannya? Bagaimana sinkronisasi satu sama lain hingga ketingkat kabupaten/kota? Apa hasil penelitiannya? Dan bagaimana perkembangannya menggunakan studi kasus Antraks dan Corona Virus? akan di bahas pada seminar kali ini.

 

PEMBICARA DAN PEMBAHAS

  • Peneliti Kajian Pembiayaan Ketahanan Kesehatan: Studi Kasus di DIY dan Provinsi Jawa Timur
  • Peneliti Bencana Kesehatan, PKMK-FK-KMK UGM
  • Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan
  • Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan
  • Pusat Determinant Kesehatan Kementerian Kesehatan
  • Senior Health Specialist, World Bank Indonesia

 

WAKTU, TEMPAT DAN JADWAL KEGIATAN

Hari/ Tanggal       : Kamis, 2 April 2020
Waktu                : 09.00 – 12.30 WIB
Tempat              : Auditorium Tahir Lantai 1, FK-KMK UGM (Onsite) dan Jakarta (webinar)

Waktu Kegiatan
08.00 – 08.50 Registrasi
08.50 – 09.00 Pembacaan Safety Briefing

09.00 – 09.20

Pembukaan

  • Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FKKMK UGM:
    dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K)
  • Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan FKKMK UGM:
    Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed,Sp.Og(K),PhD

09.20- 09.40

Paparan hasil penelitan Kajian Pembiayaan Ketahanan Kesehatan: Studi Kasus di DIY dan Provinsi Jawa Timur

Oleh Peneliti PKMK FK-KMK UGM

 

09.40 – 10.10

 

10.10 – 10.40

 

10.40 – 11.10

 

11.10 – 11.40

Seminar

Konsep Pengendalian Penyakit dan Kejadian Luar Biasa: Studi Kasus Antrax dan Corona Virus
Oleh Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan

Penanganan krisis kesehatan akibat bencana alam dan non alam studi kasus Banjir Jakarta dan Corona Virus
Oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

Internasional Health Regulation
Oleh Senior Health Specialist, World Bank Indonesia

Arah Ketahanan Kesehatan Indonesia
Oleh Pusat Determinant Kesehatan Kementerian Kesehatan

11.40 – 12.20 Tanya Jawab
12.20 – 12.30 Penutup

 

PESERTA

  • Dosen-dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
  • Konsultan dan tenaga ahli dalam manajemen bencana di sector kesehatan
  • Mahasiswa S1-S2
  • Praktisi

 

BIAYA KEPESERTAAN

  • Peserta perorangan onsite sebesar Rp. 250.000,00 dan peserta webinar Rp. 200.000,00.
  • Peserta kelompok atau instansi via webinar sebesar Rp. 1.000.000,00 dengan catatan sertifikat maksimal untuk 10 orang.

 


INFORMASI PENDAFTARAN

Administrasi    : Maria Lelyana / 0811101977 / [email protected]
Konten          : Happy R Pangaribuan /085358727172/ [email protected]

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp/Fax      : 0274 – 549425
Website Bencana Kesehatan: www.bencana-kesehatan.net 

Awas! Riset Sebut 2/3 Warga Bumi Berpotensi Terinfeksi Corona

Awas! Riset Sebut 2/3 Warga Bumi Berpotensi Terinfeksi Corona

Jakarta, CNBC Indonesia – Penularan virus corona telah meningkat signifikan di China. Seorang ilmuwan penyakit menular memperingatkan segala sesuatunya bisa berubah di luar kendali, dua pertiga populasi di dunia bisa tertular.

Hal itu disampaikan oleh Ira Longini, penasihat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sedang mendalami penularan virus di China. Dia memperkiran, akan ada miliaran populasi yang terinfeksi, dari hitungan resmi WHO saat ini.

“Jika virus menyebar di wilayah China, aktivitas di China termasuk wilayah karantina yang dihuni oleh puluhan juta orang, juga harus dihindari,” jelas Ira seperti ditulis Bloomberg, pekan ini.

Pasalnya, kata Longini yang juga sebagai Direktur Pusat Statistik dan Penyakit Infeksi Kuantitatif di Universita Florida, mengatakan, proses karantina memungkinkan dalam memperlambat penyebaran virus. Tapi virus bisa cepat merebak di China dan sekitarnya sebelum terjadi proses karantina.

Jumlah korban terinfeksi virus corona di China per Minggu (16/2/2020) ini, sudah 69.000 ribu orang lebih. Angka kematian pagi tadi juga mencapai 1.666 orang.

Penelitian yang dilakukan Longini didasarkan pada data yang menunjukkan bahwa setiap orang yang terkena virus, biasanya menularkan penyakitya ke dua sampai tiga orang lainnya.

“Tes kesehatan yang tidak cepat dilakukan, juga sulit untuk melacak penyebarannya,” kata Longini melanjutkan.

Meskipun ada cara untuk mengurangi penularan infeksi virus corona hingga setengahnya, tapi tetap saja sepertiga populasi di dunia akan tertular. Kecuali ada perubahan transmisinilitas pengawasan dan penahanan virus bisa bekerja dengan baik.

“Mengisolasi kasus dan mengkarantina kontak [orang terinfeksi virus corona] tidak akan menghentikan virus ini,” kata Longini

Gabriel Leung, seorang profesor kesehatan di Universitas Hong Kong juga mengatakan hal serupa, hampir dua pertiga populasi di dunia bisa tertular virus corona, jika dibiarkan tidak terkendali.

Kendati demikian, perkiraan penyebaran virus corona merupakan bagian dari kemungkinan yang terjadi, seiring dengan epidemi yang masih berlangsung.

HEADLINE: Indonesia Jadi Sorotan Dunia Lantaran Belum Ada Virus Corona, Tidak Terdeteksi?

Liputan6.com, Jakarta Bermula dari Wuhan, China, virus corona baru (2019-nCoV) menyebar ke sejumlah negara. Termasuk, yang berada ‘selemparan batu’ dari Indonesia seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, juga tetangga lintas samudera,  Australia.

Hingga kini, yang dilaporkan di Tanah Air. Itu yang jadi pertanyaan banyak ahli. Ada apa dengan Indonesia, mengapa negeri ini tak terjamah wabah?

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto beberapa kali menegaskan, belum ditemukan kasus positif Virus Corona di Indonesia. Sejumlah kasus suspect (dugaan), kata dia, akhirnya terbukti negatif.

Ketika 238 warga negara Indonesia (WNI) dievakuasi dari ground zero Virus Corona 2019-nCoV pada 2 Februari lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menegaskan tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan gejala infeksi. 

Belum adanya kasus terkonfirmasi Virus Corona di Indonesia membuat masyarakat lega. Di sisi lain, sejumlah pihak was-was. 

Mengutip laman the Sidney Morning Herald, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, Indonesia harus berbuat lebih banyak untuk mempersiapkan kemungkinan wabah Virus Corona. Belum dilaporkannya satu kasus positif dari negara berpenduduk 270 juta ini justru memicu khawatir.

WHO berharap, Indonesia bisa meningkatkan pengawasan, deteksi kasus, dan persiapan di fasilitas kesehatan yang ditunjuk jika wabah tiba.

Menurut perwakilan WHO di Indonesia, Dr Navaratnasamy Paranietharan, Indonesia telah mengambil “langkah konkret” termasuk penyaringan di perbatasan internasional dan menyiapkan rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani kasus-kasus potensial. “Namun Kementerian diharapkan dapat berbagi lebih banyak informasi dengan publik dalam beberapa hari terakhir.”

“Masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan di bidang pengawasan dan deteksi kasus aktif (Virus Corona), dan persiapan fasilitas kesehatan yang ditunjuk sepenuhnya untuk mencegah infeksi dan mengedepankan langkah-langkah pengendalian untuk dapat mengatasi beban pasien yang berat dari dugaan atau konfirmasi kasus (dalam hal ini jika terjadi skenario wabah),” katanya.

Pekan lalu, Sidney Morning Herald mengungkapkan bahwa Indonesia belum memiliki alat tes khusus untuk mendeteksi Virus Corona baru ini dengan cepat. Tapi sebaliknya, otoritas medis telah mengandalkan tes pan-coronavirus yang secara positif dapat mengidentifikasi semua virus dalam keluarga Corona (termasuk flu biasa, SARS dan MERS) pada seseorang.

Pengurutan gen kemudian dilakukan untuk secara positif mengkonfirmasi kasus Virus Corona baru, yang juga dikenal sebagai Coronavirus Wuhan, dan seluruh proses dapat memakan waktu hingga lima hari.