Banjir Telan Korban Jiwa, Walhi Kritik Kampanye Gubernur ‘Riau Green’

Banjir di Riau (Foto: Antara Foto/FB Anggoro)

Pekanbaru – Banjir di Riau menelan 2 korban jiwa. LSM lingkungan, Walhi, mengkritik program Gubernur Riau Syamsuar yang mengampanyekan ‘Riau Green’.

“Tapi kita berharap tak hanya sekadar slogan saja, harus ada bukti nyata lewat program-program riil. Bukan hanya sekadar retorika semata. Belum genap setahun menjabat, dalam kasus banjir ini sudah 2 nyawa manusia melayang. Gubernur Riau harus lihat fakta ini,” kata Direktur Walhi Riau Riko Kurniawan kepada detikcom, Jumat (13/12/2019).

Menurutnya, banjir tahunan terjadi karena rusaknya kawasan tangkap air di sekitar sungai. Untuk itu, pemerintah diminta tegas menindak perusak lingkungan.

Setiap musim penghujan maka banjir dan sekarang dua nyawa balita melayang di Riau. Saat musim kemarau, maka kebakaran hutan pun terjadi. Inilah siklus tahunan yang selalu dihadapi masyarakat,” ucapnya.

Banjir yang terjadi di sejumlah kabupaten di Riau, kata Riko, merupakan imbas rusaknya kawasan tangkapan air. Hutan alam yang dulu hijau di bantaran sungai dan bagian hulu sudah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit serta permukiman penduduk.

“Kawasan konservasi di Riau, seperti Bukit Rimbang Baling di Kabupaten Kuansing, sudah banyak dijarah kayunya. Hutan lindung Mahato, di Rohul, juga sudah jadi permukiman dan kebun sawit,” kata Riko.

Dengan hancurnya kawasan hutan sebagai tangkapan air, sambungnya, banjir saban tahun kian parah di Riau. Ditambah lagi bagian hilir sungai kawasan gambut sebagai resapan air juga sudah banyak jadi hutan tanaman industri dan kebun sawit.

“Sudah tidak ada keseimbangan alam lagi. Imbasnya, kita sendiri yang merasakannya akibat deforestasi secara signifikan di Riau,” kata Riko.

Sebagaimana diketahui, bocah usia 4 tahun di Kabupaten Rohul tewas terseret banjir. Menyusul kembali anak berusia 2 tahun juga tewas karena banjir di Kabupaten Kuansing.

Laporan 4th Regional Collaboration Drill ARCH Project

h2 rcd

h2 rcd

ARCH Project adalah singkatan dari ASEAN Regional Capacity on Disaster Health Management, yang merupakan proyek peningkatan kapasitas regional ASEAN dalam manajemen bencana kesehatan untuk mewujudkan one ASEAN one Response, yang dilaksanakan oleh ASEAN, JICA dan National Institute of Emergency Medicine/ NIEM Thailand. ARCH project sudah dimulai sejak 2016 dan direncanakan akan terus berjalan hingga 2025. Ada tiga tahapan yakni tahap pertama 2016 – 2019 yang kegiatannya bertujuan untuk peningkatan kapasitas koordinasi regional ASEAN dan masing – masing negara ASEAN, tahap dua 2019 – 2021 yang kegiatannya bertujuan untuk menetapkan mekanisme yang disepakati dari tahap 1, terakhir tahap tiga yakni 2021 hingga 2015 yang kegiatannya bertujuan untuk memperkuat mekanisme.

Reportase Lengkap

Manajemen Mitigasi Bencana Indonesia dalam Project ARCH

Pengantar website minggu ini akan membahas dua artikel tentang penyelenggaraan Fourth Regional Collaborative Drill, Project Strengthening the ASEAN Regional Capacity on Disaster Health Management (ARCH). Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI bekerjasama dengan Japan lnternational Cooperation Agency (JICA) dan National lnstitute of Emergency Medicine (NIEM) Thailand melaksanakan kegiatan ini pada 25 – 29 November 2019, bertempat di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Denpasar. Pokja Bencana FK – KMK UGM dan PKMK FK – KMK UGM Divisi Bencana Kesehatan juga terlibat membantu Kemenkes dalam proses persiapan dan pelaksanaan kegiatan tersebut. Artikel pertama menyebutkan Indonesia telah memiliki manajemen mitigasi bencana yang istimewa sehingga menjadikan Indonesia sebagai role model mitigasi bencana di lingkungan negara – negara ASEAN. Keistimewaan tersebut terletak pada kerja tim (team work) dari berbagai instansi dan lembaga yang terlibat baik pemerintah, TNI, Polri, akademisi dan organisasi non pemerintah lainnya.

selengkapnya KLIK DISINI

Artikel selanjutnya terkait Karangasem sebagai tempat yang dipilih dalam praktek lapangan ARCH. Dalam catatan sejarah Karangasem menyimpan potensi bencana yang sangat besar. Aktivitas Gunung Agung paling dahsyat adalah Erupsi pada 1963 yang menimbulkan banyak korban, kemudian pada November 2017 juga terjadi peningkatan aktivitas Gunung Agung. Pada artikel ditegaskan bahwa seluruh komponen terkait harus membangun koordinasi yang kuat dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Melalui ARCH ini diharapkan dapat mendorong manajemen pusat dan daerah memaksimalkan kesiapan masyarakat, petugas kesehatan, dan relawan saat menghadapi bencana terutama dalam hal menangani bidang kesehatan. 

selengkapnya KLIK DISINI

Laporan Kegiatan Pelatihan Manajemen Pos Klaster Kesehatan dalam Bencana

pos1

Laporan Kegiatan

Pelatihan Manajemen Pos Klaster Kesehatan dalam Bencana

Yogyakarta, 9 Desember 2019


pos1

Pelatihan ini diselenggarakan untuk mendukung koordinasi dan pelaksanaan bantuan medis serta manajemen bencana ke depannya, FK – KMK UGM berencana melakukan penjaringan minat anggota bencana baik di dalam lingkup FK – KMK UGM maupun AHS UGM, manajemen dan dukungan medis. Peserta berasal dari AHS UGM (RSUP Sardjito, RS UGM, RSPAU Hardjulukito, RSUD Wates, RSUP Klaten); Pokja bencana FK – KMK UGM; Departemen FK – KMK UGM dan PKMK UGM. Hal ini juga mendukung rencana strategis Kementerian Kesehatan untuk mempersiapkan Emergency Medical Team (EMT) nasional Indonesia.

Pelaksanaan

Acara dibuka oleh dr Handoyo Pramusinto selaku ketua Pokja Bencana kemudian disusul dengan pengarahan oleh dr. Awalia Febriana, PhD, Sp. KK mewakili Wakil Dekan Bidang Alumni FK – KMK UGM. Mereka menyampaikan manajemen dalam penangan bencana penting untuk dikembangkan karena selama ini sumber daya manajemen masih sedikit.

Penyampaian materi pertama tentang Disaster Management oleh dr. Handoyo Pramusinto. Pemateri menyampaikan sekilas bencana yang pernah terjadi di Indonesia mulai dari tsunami Aceh hingga bencana Palu. Pokja Bencana selalu terlibat membantu penanganan korban bencana. Sejak 2010 sudah ada kurikulum manajemen bencana di level S1 di FK – KMK UGM dimana melalui kurikulum tersebut diharapkan mahasiswa aware bagaimana sikap ketika terjadi bencana. Pokja bencana juga mengembangkan modul atau pelatihan kepada rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya terkait manajemen bencana bidang kesehatan. Capacity building untuk tim manajemen perlu dilakukan secara terus menerus. Materi selengkapnya KLIK DISINI

Materi kedua terkait Public Health Emergency dalam Manajemen Bencana oleh dr. Hendro Wartatmo. Aktivitas penanggulangan bencana ada medical support dan management support. Tim medis ini sangat banyak namun tim manajemen masih sedikit. Tim medis sekarang yang akan diberangkatkan telah menggunakan standar. Penanganan pada masa respon tergantung dengan persiapan yang sudah dilakukan. Public Health Response ini dilakukan dengan pendekatan klaster kesehatan. Pendekatan klaster ini adalah pendekatan manajemen. Pokja bencana mulai memberikan managemen support itu sejak gempa Padang 2009. Modalitas relawan tim medis Pokja Bencana adalah pengetahuan teknis, kesiapan fisik dan motivasi. Materi selengkapnya KLIK DISINI

pos2

Dok. PKMK FK-KMK “Penyampaian materi Disaster Manajemen (kiri) dan materi Public Health Emergency (kanan)”

Materi ketiga tentang Manajemen Klaster Kesehatan oleh dr. Bella Donna. Klaster kesehatan adalah salah satu komponen klaster nasional/ klaster kesehatan ini terdiri dari 6 sub klaster kesehatan dan 3 tim. Konsep klaster kesehatan ini karena butuh koordinasi, kolaborasi dan integrasi. EMT adalah sekelompok tenaga bantuan kesehatan di wilayah yang terkena dampak bencana. kriteria dan kapasitas standar minimal tenterntu (terintegrasi dan kredensialing). Materi selengkapnya KLIK DISINI

Materi keempat terkait Data dan Informasi Kesehatan Saat Bencana oleh Madelina Ariani, MPH. Salah satu pendampingan di klaster kesehatan adalah terkait pengelolaan data dan informasi. Data informasi awal kejadian disampaikan oleh dinkes segera setelah kejadian awal krisis kesehatan diketahui. Data informasi penilaian kebutuhan cepat disampaikan segera setelah laporan awal krisis kesehatan diterima. Beberapa formulir yang ada di data dan informasi adalah alur relawan, formulir registrasi EMT, alur harian data dan informasi. Materi selengkapnya KLIK DISINI

pos 3

Dok. PKMK FK-KMK “Penyampaian materi Manajemen Klaster Kesehatan (kiri) dan materi Data dan Informasi (kanan)”

Sesi Diskusi :

  1. Salah satu kendala dari kami adalah transportasi dari udara ke daerah. Ketika tim hendak berangkat ke daerah terkendala di penjadwalan pesawat dan pemeriksaan logistik. Apakah sudah ada MoU dengan pesawat komersil?
    • dr. Handoyo : Sekarang ini seharusnya kita sudah mempersiapkan MoU termasuk dengan TNI dan juga maskapai. Di Malaysia ada MoU dengan maskapai, sehingga jika ada kepentingan tim dan nasional yang membutuhkan trasnportasi udara. Kita masih bersifat on the spot, memang perlu MoU termasuk MoU dengan relawan, misalnya dengan fakultas kedokteran, fakultas keperawatan.
    • dr. Mei Neni Sitaresmi : yang membedakan kita dengan tim yang lain adalah kita tidak hanya menyediakan tim medis tetapi juga dari segi manajemen. Terkadang kita juga kesulitan untuk mengirimkan tim, sehingga kita penting melakukan handover atau regenerasi tim yang siap ditugaskan. Ketika ada pelatihan kita juga sering diminta sebagai fasilitator. Kita juga sudah ada memiliki draft MoU, namun MoU itu harus lebih tinggi olrh Rektor, Bupati, TNI. MoU ini juga terkait dengan pengabdian masyarakat.
  2. Antara posisi kantor dinas kesehatan dengan pos klaster kesehatan itu mungkin agak jauh. Sebaiknya dimanakan tempat yang pas untuk membuka klaster kesehatan ini?
    • dr. Bella Donna : Pos klaster kesehatan itu bisa di dekat wilayah yang terdampak. Jika dinas kesehatannya cenderung aman maka pos klaster kesehatan bisa dibangun di halaman kantor dinkes. Tempatnya sebaiknya berdekatan dengan dinkes. Untuk penempatan tim medis, ditempatkan di tempat yang aman. Kecuali tim medis memiliki kompetensi untuk pencarian.
  3. Keterlibatan Dinkes dalam pelayanan gizi. Apakah staf gizi itu dilibatkan juga dalam manajemen ini?
    • Madelina Ariani, MPH : Staf gizi juga dilibatkan dalam manajemen. Kadang staf kita tidak terlibat karena perencanaan saat bencana terjadi tidak ada. Pengalaman rekam medik di Lombok itu muncul minggu ketiga, mereka menganggap kalau mereka bukan dokter atau perawat jadi tugasnya apa. Artinya mereka tidak paham apa yang menjadi tugas mereka. Karena tidak ada perencanaan mereka saat bencana terjadi.

pos 4

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Latihan mebuat peta respon”

Selanjutnya pembagian kelompok untuk praktek pengisian formulir dan pembuatan peta respon. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dimana setiap kelompok didampingi oleh satu fasilitator. Fasilitator menyediakan skenario kejadian bencana, peserta membuatkan peta respon sesuai dengan scenario tersebut. Dalam skenario digambarkan situasi bencana pada hari pertama, berapa banyak tim relawan yang datang, jumlah korban, dan fasilitas kesehatan yang terdampak. Peserta sangat aktif bertanya dan tertarik dengan pembuatan peta respon ini. Kegiatan ditutup dengan pembagian surat kesediaan peserta untuk terlibat dalam tim manajemen dan siap untuk diberangkatkan jika terjadi bencana.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Solok Selatan perpanjang masa tanggap darurat banjir bandang

Solok Selatan perpanjang masa tanggap darurat banjir bandang

Padang Aro (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, memperpanjang masa tanggap darurat bencana banjir bandang selama 14 hari hingga Kamis (19/12).

“Berdasarkan hasil rapat dengan pimpinan dan forkompimda masa tanggap darurat bencana banjir bandang diperpanjang 14 hari ke depan sampai dengan 19 Desember,” kata Komandan Tanggap Darurat Yulian Efi didampingi Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan Richi Amran, di Padang Aro, Kamis.

Ia mengatakan, keputusan perpanjangan masa tanggap darurat setelah melalui berbagai pertimbangan diantaranya kondisi cuaca yang terus hujan.

Selain itu katanya, masyarakat yang terdampak banjir bandang masih takut kembali ke rumah, pembukaan akses transportasi juga masih berjalan serta adanya jembatan darurat yang masih dikerjakan dan masih terdapat pengungsi.

Ia menjelaskan, saat ini masih ada beberapa akses jalan yang belum bisa dilalui serta jembatan darurat belum selesai.

Sedangkan untuk dapur umum, katanya, tidak diaktifkan lagi pada perpanjangan masa tanggap darurat dan pendistribusian bantuan langsung dilakukan ke lapangan dengan koordinator posko utama.

Saat ini jumlah pengungsi ada 34 kepala keluarga dengan 203 jiwa di dua titik lokasi yaitu Manggih sebanyak tujuh kepala keluarga dengan 28 Jiwa dan balai adat 27 kepala keluarga (KK) dengan 175 jiwa.

Pemerintah juga menyiapkan posko cadangan di SD 19 Sapan Salak dan akan diaktifkan bila cuaca hujan dengan jumlah 85 KK.

Banjir bandang dan longsor di wilayah itu terjadi pada Rabu (20/11) pukul 21.00 WIB, Jumat (22/11) pukul 20.00 WIB dan Minggu (24/11) pukul 22.00 Wib akibat curah hujan cukup tinggi dengan durasi lama sedangkan kapasitas sungai kecil dan tanah labil.

Akibat banjir dan banjir bandang yang melanda Solok Selatan 1.184 kepala keluarga dengan 6.898 jiwa terdampak dan beberapa daerah sempat terisolasi.

Dua Desa di Singkil Terkurung Banjir

Dua Desa di Singkil Terkurung Banjir

Dua desa itu, berada di daerah aliran sungai Singkil. Tempat menyatunya sungai-sungai dari kabupaten/ kota tetangga yang bermuara di laut Singkil. Desa Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, terisolasi lantaran akses jalan ke sana terendam banjir. Kendaraan roda dua dan empat sama sekali tidak bisa melintas. Akses masuk dua desa itu, hanya bisa melalui sungai menggunakan perahu. Dengan jarak tempuh, mencapai sejam lebih dari ibu kota Aceh Singkil.

Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL – Banjir menyebabkan penduduk dua desa di Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, terisolasi, Kamis (5/12/2019).

Masing-masing Desa Rantau Gedang dan Desa Teluk Rumbia.

Dua desa itu, berada di daerah aliran sungai Singkil.

Tempat menyatunya sungai-sungai dari kabupaten/ kota tetangga yang bermuara di laut Singkil.

Desa Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, terisolasi lantaran akses jalan ke sana terendam banjir.

Kendaraan roda dua dan empat sama sekali tidak bisa melintas.

Akses masuk dua desa itu, hanya bisa melalui sungai menggunakan perahu.

Dengan jarak tempuh, mencapai sejam lebih dari ibu kota Aceh Singkil.

“Banjir bertambah dalam dan besar,” kata Pukak Dragon penduduk Rantau Gedang melalui sambungan telepon.

Banjir menggenangi wilayah Aceh Singkil, sejak tiga hari lalu.

Sempat surut sebelum kembali naik tadi malam.

Banjir tersebut merendam ratusan rumah serta merusak fasilitas umum.

Diberitakan sebelumnya, hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Singkil, tidak hanya menyebabkan banjir.

Tetapi menyebabkan kerugian material.

Berupa rusaknya fasilitas umum dan milik warga.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil, Kamis (5/12/2019) kerugian akibat banjir menyebabkan jembatan serta rumah penduduk rusak.

Rinciannya jalan antar desa di daerah Cikala, Kecamatan Suro, tertimbun longsor.

Kemudian bangunan BUMDes di Desa Blok VI Baru Kecamatan Gunung Meriah, roboh.

Dampak kerugian material lainnya, kepala jembatan menuju Desa Lae Sipola, Kecamatan Singkohor amblas.

“Kendaraan roda empat tidak bisa lewat serta menghambat aktivitas masyarakat dan anak sekolah,” kata Kepala BPBD Aceh Singkil, Mohd Ichsan.

Banjir merendam wilayah Aceh Singkil, sejak tiga hari lalu.

Banjir sempat surut, sebelum kembali naik tadi malam.

Bahkan di Kecamatan Singkil, sebaran banjir meluas.

Selain meluas kedalaman banjir bertambah dalam.

Diberitakan sebelumnya, banjir yang merendam wilayah Aceh Singkil, meluas, Kamis (5/12/2019).

Di Kecamatan Singkil, banjir yang tadinya hanya merendam empat desa bertambah menjadi lima desa.

Masing-masing Desa Ujung Bawang, Pemuka, Pea Bumbung, Rantau Gedang dan Teluk Rumbia. 

Di Desa Pemuka banjir mulai masuk lewat tengah hari ini. Padahal paginya air belum masuk.

Sehingga banjir masuk ke lantai rumah. Padahal rumah penduduk sudah dibangun tinggi dari tanah. 

“Banjir sudah masuk ke rumah, ketinggiannya bertambah,” kata Mansur penduduk Pea Bumbung.

Meluasnya banjir di ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, tersebut lantaran air yang tadinya merendam wilayah hulu sungai sudah masuk. Sebab Singkil berada di muara sungai.

Sementara itu banjir di daerah hulu sungai seperti di Kecamatan Suro, sudah surut. Kecuali di Simpang Kanan dan Cingkam, Gunung Meriah, masih menggenang namun ketinggiannya berkurang. 

Banjir ibu kota Aceh Singkil ini merupakan kiriman dari daerah hulu sungai. Di Singkil sendiri sepanjang hari hujan tidak turun. (*)

Laporan 4th RCD ARCH Project 2019

h1 rcd

Laporan

4th Regional Collaboration Drill ARCH Project

25-28 November 2019

Bali, Indonesia


ARCH Project adalah singkatan dari ASEAN Regional Capacity on Disaster Health Management, yang merupakan proyek peningkatan kapasitas regional ASEAN dalam manajemen bencana kesehatan untuk mewujudkan one ASEAN one Response, yang dilaksanakan oleh ASEAN, JICA dan National Institute of Emergency Medicine/ NIEM Thailand. ARCH project sudah dimulai sejak 2016 dan direncanakan akan terus berjalan hingga 2025. Ada tiga tahapan yakni tahap pertama 2016 – 2019 yang kegiatannya bertujuan untuk peningkatan kapasitas koordinasi regional ASEAN dan masing – masing negara ASEAN, tahap dua 2019 – 2021 yang kegiatannya bertujuan untuk menetapkan mekanisme yang disepakati dari tahap 1, terakhir tahap tiga yakni 2021 hingga 2015 yang kegiatannya bertujuan untuk memperkuat mekanisme.

Regional collaboration drill (RCD) keempat yang baru dilaksanakan pada 24 – 28 November 2019 lalu di Bali merupakan salah satu kegiatan ARCH Project tahap pertama, sebelumnya sudah ada tiga kali RCD yang dilaksanakan di Thailand, Vietnam, dan Filipina, sedangkan pada 2020 akan dilaksanakan di Myanmar. Tujuan RCD secara umum adalah untuk menguji SOP ASEAN seperti proses pre deployment melalui Web EOC AHA Centre, pengembangan komprehensif tim, dan penjaminan mutu kualitas/ quality assurance. Sedangkan tujuan khusus Indonesia adalah untuk menguji mekanisme penanggulangan bencana nasional diantaranya pengelolaan bantuan luar negeri, mekanisme reception and departure center, dan draft SOP Indonesia tentang EMT gabungan atau composite EMT.

Kerjasama Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dan FK – KMK UGM dalam ARCH sudah dimulai sejak 2018. Saat itu, pada salah satu meeting ARCH Indonesia menyanggupi menjadi tuan rumah penyelenggaraan RCD yang keempat. Setelah itu sejak awal 2019, FK – KMK UGM mendampingi Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan untuk persiapan penyelenggaraan. Tidak hanya itu, Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan juga melibatkan banyak unit di Kementerian Kesehatan, organisasi profesi kesehatan, LSM, perhimpunan, dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Akhirnya, usaha dan upaya yang telah dilakukan tidak mengkhianati hasil, pada RCD keempat ARCH Project ini, Indonesia mendapat apresiasi yang baik dari ASEAN dan Mentor bahkan tujuan khusus Indonesia berhasil dicapai dan menjadi draft untuk SOP ASEAN ke depannya.

Sangat menarik bukan untuk menyimak lebih lengkap Reportase harian kegiatan ini? Silakan

{slider title=”Reportase hari 1: 25 November 2019″ class=”grey” open=”false”}

h1 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan:
Foto Bersama Delegasi ASEAN Member State (AMS)

            Kegiatan dibuka dengan penyampaian sambutan dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Direktur Project NIEM, dan Pemerintahan Provinsi Bali. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan seluruh peserta. Peserta yang hadir berasal dari 10 negara yaitu Lao PDR, Cambodia, Indonesia, Singapore, Myanmar, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Brunei Darusalam. EMT yang ikut dalam satu tim beranggotakan 5 orang per negara.

Materi pertama disampaikan oleh Bidang Evaluasi dan Informasi Pusat Krisis Kesehatan terkait sistem informasi kesehatan di Indonesia. Pemateri menyampaikan bagaimana pengelolaan data dan informasi yang sudah terbangun dalam penanganan bencana di Indonesia khususnya sektor kesehatan.

            Selanjutnya peserta melakukan praktek pengisian formulir (SASOP dan MDS) yang difasilitatori oleh tim JICA. Peserta terbagi menurut masing masing negara kemudian berdiskusi dan mengisi formulir. Setiap negara didampingi oleh satu fasilitator. Melalui pengisian SASOP peserta belajar bagimana prosedur meminta bantuan EMT dari negara asing (ASEAN) jika di negara mereka terjadi bencana yang sangat besar sehingga membutuhkan bantuan dari negara asing. MDS merupakan formulir tentang data dan informasi korban bencana yang mendapatkan penanganan dari EMT misalnya berapa korban yang ditangani, usia, jenis penyakit, jumlah rujukan, meninggal dan sebagainya. EMT yang melakukan pelayanan kesehatan wajib mengisi formulir tersebut dimana kemudian dilaporkan ke klaster kesehatan.

 h1 rcd 1

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan:
Praktek Pengisian Form (SASOP dan MDS)

 Materi selanjutnya tentang komposit tim oleh dr. Achmad Yurianto, Sekertaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Pemateri menyampaikan bahwa bencana yang terjadi di Indonesia sangat kompleks dan hampir seluruh wilayah Indonesia berpotensi bencana. Komposit tim ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan dalam penanganan bencana secara merata dan cepat. Umumnya relawan yang datang ke lokasi bencana akan bekerja dan ditugaskan bersamaan dengan tim mereka sendiri. Namun, ketika menemukan satu daerah yang membutuhkan pertolongan cepat dengan catatan membutuhkan beberapa spesifikasi tenaga kesehatan maka beberapa relawan yang datang dari berbagai organisasi akan disatukan dalam satu tim yang siap bertugas di daerah tersebut. Artinya mereka harus bersedia bekerja sama dengan EMT yang berasal dari luar organisasi mereka dan tetap bersedia mengikuti aturan yang sudah terbangun.

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 2: 26 November 2019″ class=”red” }

h2 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi pembukaan

Hari kedua seluruh peserta yang berasal dari Indonesia diwajibkan mengenakan pakaian nasional atau adat Bali sesuai dengan peraturan daerah Bali bahwasanya jika ada acara internasional maka peserta Indonesia harus mengenakan pakaian adat. Sementara bagi peserta dari negara lain sudah disediakan panitia ikon adat bali seperti selendang dan udeng (ikat kepala Bali) . Kegiatan hari kedua dimulai dengan penyampaian materi terkait kebijakan manajemen krisis kesehatan di Indonesia oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan. Indonesia memiliki Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) sebagai koordinator penanggulangan bencana nasional yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai koordinator provinsi dan kabupaten yang bertanggungjawab kepada Gubernur/Walikota. Manajemen bencana kesehatan diimplementasikan menggunakan klaster kesehatan.

            Selanjutnya adalah kegiatan praktek Reception and Departure Center (RDC). RDC ini sangat berkaitan dengan proses pre deployment yang dilakukan satu minggu sebelumnya menggunakan website EOC AHA Centre di BNPB masing masing negara. Melalui proses pre deployment ini, Indonesia mengijinkan EMT dari AMS memberikan bantuan ke Indonesia. Data data EMT Internasional yang akan masuk ke Indonesia sudah diproses oleh BNPB, Kementerian Kesehatan dan Kementerian terkait lainnya, sehingga pada saat RDC akan lebih mudah.

Kemudian, seluruh peserta diarahkan ke lantai 1 menuju ruangan praktek RDC. Pertama peserta memasuki imigrasi, di sini peserta menunjukkan passport dan petugas imigrasi memeriksa kelengkapan data yang dibutuhkan berdasarkan data EMT yang akan datang ke Indonesia. Setelah dari imigrasi peserta menuju custom untuk pengecekan logistik yang dibawa peserta. Selanjutnya menuju pos pendukung di bandara,karena yang datang adalah EMT maka oleh pos pendukung para EMT ini diarahkan ke bagian kesehatan. Di bagian kesehatan yang bertugas adalah perwakilan kementerian kesehatan/ petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan dan petugas dinas kesehatan. Di sini EMT melaporkan sumber daya kesehatan yang dibawa dan peserta akan menunjukkan LoA dan dokumen terkait lainnya. Setelah pelaporan selesai, setiap negara akan diberikan pendamping EMT atau EMT Accompaniment selama mereka bertugas di Indonesia.

Setelah praktek RDC selesai, peserta kembali diarahkan menuju ruangan. Selanjutnya dr. Achmad Yurianto, Sekertaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan memberikan briefing praktek lapangan di Tanah Ampo Karangasem. dr. Yurianto menunjukkan pos pos pelaksanaan kegiatan melalui peta dan menjelaskan alur mulai dari registrasi kedatangan ke pos klaster, penanganan pasien, proses rujukan pasien, komposit tim, hingga pelaporan kepulangan EMT Internasional.

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 3: 27 November 2019″ class=”green”}

h3 rcd 1

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi penerimaan EMT Internasional di HEOC/ klaster kesehatan

Hari ini adalah praktek lapangan di Tanah Ampo. Praktek penanganan bencana berdasarkan skenario Gunung Agung meletus dengan jumlah populasi terdampak 4.200.100 orang yang tersebar di 9 daerah terdampak. Kegiatan dimulai dengan upacara yang dipimpin oleh Bupati Karangasem. Selanjutnya EMT Internasional didampingi oleh EMT accompaniment menuju pos klaster kesehatan dan terlebih dahulu melakukan registrasi. Petugas registrasi akan mengecek kesesuaian data EMT Internasional dengan data yang sudah dikirimkan oleh Kementerian Kesehatan sesuai dengan EMT registration form, mengecek STR jika diperlukan, membuatkan kartu identitas selama bekerja, memberikan serta menjelaskan formulir formulir seperti medical record, pelaporan harian, dan lainnya kepada EMT, serta mengarahkan EMT untuk mendengarkan briefing dari koordinator klaster kesehatan. Koordinator klaster kesehatan menjelaskan kondisi terkini dampak bencana, menjelaskan alur dan peran penanganan korban bencana.

h3 rcd 2

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: ”Penanganan korban oleh EMT Thailand

Selanjutnya EMT Internasional menuju tenda masing masing untuk melakukan penanganan korban bencana. Korban bencana kemudian diarahkan untuk mendatangi tenda masing masing negara untuk mendapatkan pertolongan. Mereka datang dengan berbagai jenis luka atau penyakit akibat letusan gunung berapi. Jika korban membutuhkan pertolongan lanjutan maka EMT akan melakukan rujukan korban ke rumah sakit terdekat. Proses rujukan diketahui oleh EMTCC.

EMT melakukan pelaporan pelayanan kesehatan setiap hari ke EMTCC. untuk penyesuaian waktu maka dalam latihan ini EMTCC dibagi menjadi 3 ruangan tetapi bukan sub EMTCC yaitu ruangan 1 (Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos); ruangan 2 (Malaysia, Myanmar, Filipina); ruangan 3 (Singapura, Thailand, Vietnam). EMTCC meeting dilakukan sebanyak 3 kali. Rapat pertama EMT AMS mengumpulkan laporan harian (MDS form), kemudian manajer data dan informasi EMT CC input data tersebut ke dalam tools MDS sehingga didapatkan feedback pelayanan yang dilakukan oleh seluruh EMT hari asumsi tersebut. Koordinator EMTCC menfasilitasi rapat, menanyakan secara umum bagaimana pelayanan kesehatan EMT dan kendala yang mereka hadapi selama bekerja. Koordinator EMT CC mencatat semua laporan dan mengarahkan penyelesaian masalah atau kendala serta rencana tindak lanjut penanganan korban.

 h3 rcd 3

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian, Kesehatan: Rapat EMTCC dan tim data informasi

            Koordinator EMTCCC menyampaikan informasi dari tim SAR bahwa terdapat satu desa terisolasi yaitu desa Tejakusuma, dimana disana ribuan dari korban yang belum mendapatkan pertolongan. Sehingga rencana selanjutnya EMT harus melakukan Health Need Assessment (HNA) di desa Tejakusuma. Pada rapat kedua hasil HNA tersebut juga dilaporkan kembali ke EMTCC meeting. Skenario selanjutnya korban desa Tejakusuma membutuhkan penambahan tenaga kesehatan 3 dokter, 9 perawat dan 1 ambulans. EMT CC melakukan rapat dengan EMT untuk negosiasi komposit tim. EMT CC menyampaikan kebutuhan di desa Tejakusuma dan mereka bersedia mengirimkan EMT mereka untuk tergabung dalam komposit tim. EMT Internasional dan nasional yang bersedia membantu dan bergabung dengan tim nasional ditugaskan di desa Tejakusuma. Di desa Tejakusuma mereka kemudian bertugas di bawah komando EMT Nasional Type 1 mobile yang terlebih dahulu ada di sana. Di EMTCC meeting ketiga semua peserta melaporkan pelayanan secara keseluruhan dan memberikan dokumen terkait serta melaporkan kalau masa bertugas EMT internasional akan berakhir.

            Seluruh EMT yang habis masa tugasnya harus membuat exit report yang mengkalkulasi seluruh layanan kesehatan yang diberikan, mencatat hal hal penting, termasuk masalah kesehatan masyarakat serta rekomendasi bagi EMTCC dan klaster kesehatan. Pada simulasi ini, kegiatan ini diberikan satu sesi tersendiri yakni exit report di HEOC. Di sini ketua HEOC menyampaikan situation report hari asumsi hari ke 18 pasca erupsi, mengumpulkan semua kartu identitas EMT, mengecek kelengkapan laporan, serta mengucapkan terimakasih atas bantuan internasional kepada Indonesia.

h3 rcd 4

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi exit report di HEOC

 

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 4: 28 November 2019″ class=”blue”}

h4 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: ”Pengecekan imigrasi pada proses demobilisasi”

EMT internasional menuju ruang Reception and Departure Center (RDC) untuk persiapan kembali ke negara asal (demobilisasi). EMT internasional melapor ke bagian imigrasi, custom dan bagian kesehatan. Di custom, kembali dicek logistik mereka oleh petugas, apakah ada yang ditinggal di Indonesia atau ada membawa logistik lainnya ke luar. Sedangkan di bagian kesehatan, KKP akan mengecek kesehatan, petugas dinas kesehatan bisa mengecek bahwa EMT Internasional sudah ACC klaster kesehatan untuk pulang dari tanda tangan koordinator klaster kesehatan di kartu identitas EMT yang dibawa masing masing anggota EMT.

Setelah proses demobilisasi selesai, peserta kembali ke ruangan untuk melakukan review secara keseluruhan kegiatan mulai dari hari pertama. Setiap negara melakukan evaluasi kegiatan kemudian mempresentasikan hasil evaluasi. Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik, kendala yang dihadapi adalah terkait komunikasi ketika melakukan proses rujukan korban, koneksi internet terbatas.

Mentor dari ARCH project dan tim JICA memberi apresiasi kepada Indonesia karena project berjalan dengan baik dan memang sudah dipersiapkan dengan baik. Ada dua hal yang sangat diapresiasi oleh mentor dari ARCH project dan tim JICA. Pertama terkait pengerjaan data dan informasi melalui tools MDS, Indonesia menjadi negara host pertama yang menyiapkan dan melaksakannya dengan sangat baik. Kedua terkait dengan pelaksanaan Komposit Tim yang hanya ada di Indonesia akan diadopsi menjadi SOP se ASEAN dan tetap masuk dalam ARCH project selanjutnya di Myanmar. Indonesia juga berterima kasih kepada para mentor atas semua bimbingan mentor selama persiapan kegiatan ini.

            h4 rcd 2Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Penutupan dari Panitia Indonesia dr Ina Agustina (kiri), Foto Mentor ARCH dan JICA (kanan)

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{/sliders}

Materi Dokumentasi Kegiatan  Reportase PPK Kemenkes  Video

 

Reportase oleh : Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH