Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit – Juli 2023

Kerangka Acuan Kegiatan

Workshop Online

Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit

(Hospital Disaster Plan )


Latar Belakang 

Manajemen pengelolaan bencana terus berkembang mengikuti jenis bencana dan kuantitas bencana yang terjadi di Indonesia. Manajemen pengelolaan bencana ini meliputi aspek disaster, planning dan capacity building. Pandemi COVID-19 menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk memperbaiki manajemen bencana sektor kesehatan. Khusus dalam kesiapsiagaan Rumah Sakit untuk merespon bencana alam dan bencana non alam. Kurangnya kesiapsiagaan Rumah Sakit dalam menangani bencana alam maupun non alam tetap menjadi perhatian khusus bagi kalangan pemerintah maupun non pemerintah. Bagaimana meningkatkan kapasitas Rumah Sakit baik itu dalam hal kemampuan, pengetahuan, perencanaan, sumber daya, fasilitas, dan kesadaran akan krisis kesehatan menjadi prioritas utama untuk merespon kondisi gawat darurat. Hal tersebut sampai sekarang merupakan tantangan dalam pengembangan ilmu manajemen pengelolaan bencana di rumah sakit.Dalam Permenkes Nomor 12 Tahun 2020 dinyatakan bahwa semua rumah sakit wajib terakreditasi, dari sini kita bisa melihat bahwa mutu rumah sakit sangat penting. Apakah melalui akreditasi juga sudah menjamin bahwa rumah sakit siap menghadapi bencana? Pada peraturan Kepmenkes Nomor 1128 Tahun 2022 tertulis tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit, yang salah satu isinya disebutkan bahwa RS harus mampu melakukan Self Assesment terkait kesiapan menghadapi bencana. Hal tersebut dapat dilihat pada salah satu elemen penilaian Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), khususnya MFK 9, dimana rumah sakit harus mampu mengidentifikasi bencana internal dan eksternal, termasuk keadaaan darurat di masyarakat dan wabah, yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.Rumah sakit yang belum memiliki Hospital Disaster Plan (HDP) akan mengalami kesulitan untuk mengoperasionalkan manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Demikian juga akan terjadi bagi rumah sakit yang sudah memiliki HDP namun tidak operasional. Sejauh ini hampir semua rumah sakit telah memiliki dokumen HDP baik sebatas dokumen tertulis maupun dokumen yang sudah pernah disosialisasikan, diujicoba di atas meja/ table top exercise (TTX), disimulasikan, direvisi dan dikembangkan. Melalui pelatihan ini, diharapkan Rumah Sakit memahami bahwa dokumen HDP adalah bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Artinya dokumen yang disusun harus seoperasional mungkin sehingga saat terjadi bencana, seminimal mungkin fungsi rumah sakit tidak terganggu serta memastikan layanan rutin sehari-hari tetap berjalan.

Tujuan

  1. Peserta memahami penyusunan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit (HDP) harus menyesuaikan dengan karakteristik di tiap rumah sakit.

  2. Peserta mampu memahami komponen-komponen dokumen HDP berdasarkan template yang ada

 

Metode Kegiatan

Metode pelatihan dilakukan dalam bentuk seminar dimana setiap pertemuan pesertaakan mendapatkan materi penyusunan HDP dan penugasan penyusunan dokumen. Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari.

Hal yang Perlu dipersiapkan oleh Peserta:

Peserta berasal dari tim bencana rumah sakit yang masih aktif dan/atau anggota baru yang meliputi unsur:

  • Unsur Manajemen (pengorganisasian/ sistem komando bencana rumah sakit; operasional, keuangan, perencanaan, sekretaris)
  • Unsur tim yang mengerjakan analisis risiko, HVA, dan HSI (*K3RS)
  • Unsur logistik, perencanaan, SDM, dan fasilitas

Peserta memiliki pengetahuan yang baik mengenai rumah sakit serta membawa:

  1. Laptop
  2. Dokumen HDP saat ini(*jika ada)
  3. Peta(Map) Rumah Sakit,termasuk peta wilayah kerja
  4. Profil rumahsakit
  5. Dokumen perhitungan HVA dan HSI

Output Kegiatan

Peserta memahami dan mampu menyusun dokumen hospital disaster plan. Rumah Sakit memiliki draft dokumen HDP Waktu Pelaksanaan

  • Pertemuan 1: Senin, 7 Agustus 2023 pukul 09.00 – 12.00 WIB

  • Pertemuan 2: Senin, 21 Agustus 2023 pukul 09.30 – 12.00 WIB

  • Pertemuan 3: Kamis, 7 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB

  • Pertemuan 4: Kamis, 21 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB

  • Pertemuan 5: Kamis, 5 Oktober 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB

  Rundown Kegiatan

Pertemuan Materi

Pertemuan 1 : 3 JPL

Senin, 7 Agustus 2023 pukul 09.00 -12.00 WIB

Materi 1. Komponen HDP dan Pengorganisasian tim HDP

DOWNLOAD MATERI

DOKUMENTASI VIDEO  REPORTASE

Menampilkan ceklist komponen HDP yang sudah ada(*sebelumnya sudah dibagikan pertanyaan google form : kuesioner singkat sebagai assessment awal kepada peserta)
Penugasan (*peserta dibagi kedalam 3 ruang zoom):- Membagikan template HDP (dijelaskan oleh fasilitator)- Menyusun struktur pengorganisasian dan tupoksi
Jeda 1 minggu penugasan didampingi fasilitator menyusun struktur pengiorganisasian dan tupoksi

Pertemuan 2 : 3 JPL 

Senin, 21 Agustus 2023 pukul09.30 – 12.00 WIB

Pemaparan hasil penugasan struktur pengorganisasian

Materi 2. Analisis Risiko dan HSI

DOWNLOAD MATERI  PENJABARAN HSI

DOKUMENTASI VIDEO   REPORTASE

Penugasan (*peserta dibagi kedalam 3 ruang zoom) :Analisis risiko bencana yang menjadi prioritas penanganan masing-masing RS
Jeda 2 minggu penugasan didampingi fasilitator untuk menyusun analisis risiko dan HSI

Pertemuan 3 : 4 JPL 

Kamis, 7 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB

Materi 3. Perencanaan surge capacity

DOWNLOAD MATERI

Materi 4. SOP saat Bencana (kelanjutan dari analisis risiko dan skenario)

DOWNLOAD MATERI

Penugasan : masing-masing RS identifikasi SOP yang dibutuhkan dan penjabaran SOP

Materi 5. Penyusunan peta risiko dan peta respons

DOWNLOAD MATERI

Arahan untuk penugasan merangkum seluruh penugasan dalam template HDP — pertemuan 4

Jeda 2 minggu penugasan didampingi fasilitator untuk menyusun SOP dan merangkum seluruh penugasan dalam satu file template HDP — pertemuan 4

DOKUMENTASI VIDEO     TEMPLATE HDP

Pertemuan 4 : 4 JPL 

Kamis, 21 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB

Pemaparan hasil penugasan analisis risiko dan diskusi

Materi 6. Implementasi Logistik medis dan non medis dalam dokumen HDP (persiapan, penyimpanan, pendistribusian, pelaporan) termasuk SOPnya

DOWNLOAD MATERI

Penugasan (*peserta dibagi kedalam 3 ruang zoom) :Identifikasi kebutuhan SOP terkait manajemen logistik

Materi 7. Penentuan fasilitas RS untuk bencana dan kelengkapan no kontak dan form-form

DOWNLOAD MATERI

Jeda 1 minggu penugasan didampingi fasilitator untuk menyusun peta risiko dan SOP manajemen logistik

DOKUMENTASI VIDEO       REPORTASE

Pertemuan 5 : 2 JPL 

Kamis, 5 Oktober 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB

Pemaparan dokumen HDPReview Dokumen

DOKUMENTASI VIDEO  REPORTASE

 

 

BIAYA KEPESERTAAN

Biaya kepesertaan Pelatihan dan Pendampingan sebesar Rp 7.500.000 / instansi. Peserta pelatihan dikenai biaya sebagai tim (Anggota tim maksimal 5 orang/institusi).Peserta akan mendapatkan sertifikat ber-SKP PAKKI, IDI dan IAKMI 

Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia:

No Rekening 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281

Bukti transfer pembayaran tersebut di kirim melalui Whatsapp Messenger ke Nomor 082134116190 dengan diberi nama lengkap peserta.
Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui Google form: https://bit.ly/PendampinganHDP2023  https://bit.ly/juliHDP2023

Penutup

Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan). Kami mengharapkan apabila kerjasama ini terwujud, menjadi kerjasama yang saling menguntungkan. Bagi rumah sakit keuntungan yang didapat adalah tersusunnya draft dokumen HDP. Bagi Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (PKMK FK – KMK) UGM, sebagai lembaga riset dan konsultasi, terutama akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan di bidang kesehatan dan manajemen bencana di rumah sakit.

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2 Fakultas Kedokteran UGM

Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281 Telp/Fax : 0274 – 549425

Website : www.bencana-kesehatan.net

Bentuk Forum PRB, BPBD KSB Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana

Taliwang (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menginisiasi pembentukan forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Forum ini pun langsung mengikuti pelatihan yang digelar selama 2 hari.

Kepala Pelaksana BPBD KSB, Abdul Hamid mengatakan, pembentukan forum ini diharapkan dapat menjadi salah satu lokomotif untuk mengintegrasikan berbagai pihak demi kepentingan pengurangan risiko bencana. “Karenanya forum ini kita melibatkan semua pihak” katanya saat membuka kegiatan pelatihan Forum PRB KSB, Senin, 12 Juni 2023.

Forum PRB yang terbentuk ini beranggotakan dari berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari perwakilan lembaga usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, media massa, organisasi profesi atau keahlian, lembaga legislatif, yudikatif, organisasi perangkat daerah (OPD) serta relawan penanggulangan bencana.

Menurut Hamid, forum PRB memiliki visi untuk memastikan pembangunan daerah berbasis pengurangan risiko bencana. Dalam aksinya forum PRB memformulasi pembentukan dan pelatihan bagi anggotanya. Selain itu juga mengajak, memfasilitasi sekaligus mengembangkan peran serta masyarakat dengan melibatkan semua pemangku kebijakan dalam penanggulangan bencana.

“Mudah-mudahan dengan terbutkan forum ini sekaligus melatih para anggotanya kemampuan kita mengurangi risiko bencana semakin maksimal,” harap Hamid.

Sementara itu kegiatan pelatihan anggota Forum PRB KSB ini dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra KSB, Mulyadi. Dalam sambutannya ia mengatakan, semakin banyak organ yang berkecimpung dalam hal penanggulangan kebencanaan akan lebih baik. Karena itu hadirnya forum PRB ini bisa menjadi salah satu pendukung pemerintah dalam memberikan penyadaran kepada masyarakat pentingnya upaya-upaya pencegahan terjadinya kebencanaan.

“(KSB) kita ini adalah salah satu daerah dengan risiko bencana tinggi. Jadi kehadiran forum ini menjadi penting. Dan harapan pemerintah dengan forum PRB ini semoga bisa memfasilitasi dan turut mengedukasi masyarakat mengenai upaya-upaya pengurangan risiko kebencanaan di daerah kita,” tukas Mulyadi.

Dalam kegiatan pelatihan forum PRB ini, BPBD KSB menghadirkan perwakilan BPBD NTB sebagai pemateri, Mustakim. Sebagai Analis Kebencanaan Sub Koordinasi Program BPBD NTB, Mustakim menyampaikan fungsi forum PRB termasuk aksi-aksi konkrit yang dapat dilaksanakan forum di tingkat lapangan ke depannya. Di mana forum PRB tidak sekedar menjadi jembatan masyarakat dengan pemerintah tetapi juga harus punya peran dalam mendukung pemerintah menyusun regulasi tentang upaya mengurangi risiko berbagai potensi bencana yang terjadi di daerah. “Forum ini punya tugas pra bencana, saat bencana dan pasca bencana,” imbuhnya. (bug)

75% Bencana Sejak Awal 2023 Disumbangkan 7 Provinsi Ini

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB ) melaporkan ada 7 provinsi yang menyumbangkan hingga 75% kejadian bencana di Indonesia sejak awal tahun 2023. Sementara itu, BNPB mencatat 1.726 kejadian bencana terjadi dari 1 Januari hingga 9 Juni 2023.

“Data BNPB tentang kejadian bencana di Indonesia dari 1 Januari, sebenarnya kalau kita lihat secara umum daerah-daerah penyumbang terbesar kejadian bencana di Indonesia, yang mana sebenarnya kalau kita hitung dari total kejadian bencana di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, tujuh provinsi ini, ini mungkin menyumbang 70 sampai 75% dari total kejadian bencana di Indonesia,” ungkap Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dikutip dari YouTube BNPB, Selasa (13/6/2023).

Sehingga, kata Aam sapaan akrab Abdul Muhari, jika ingin mengurangi kejadian bencana atau korban bencana di Indonesia, bisa dengan mengurangi frekuensi kejadian bencana di 7 provinsi itu.

Aam mengatakan dominasi kejadian bencana di tiga provinsi itu hanya tiga yakni banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor. “Artinya ini masih berkaitan dengan hidrometeorologi basah. Tapi ini mungkin karena kita masih terpengaruh oleh dari Januari sampai Maret itu kita kan masih di musim hujan, sedangkan kemudian April Mei Juni musim peralihan terjadi kita mulai mengalami kekeringan dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan),” kata dia.

Lebih lanjut, Aam mengatakan Karhutla dalam 2 hingga 3 bulan terakhir, Indonesia sudah mengalami 131 kali, meskipun eskalasi dampaknya belum meluas. “Kita harapkan memang kita siap semua di daerah sehingga eskalasi karhutla ini tidak meluas tapi nanti kita lihat potensi atau upaya-upaya yang harus kita lakukan.”

“Satu minggu terakhir, kalau minggu lalu dominan kebakaran hutan dan lahan, ternyata minggu ini cuaca ekstrem 7 kali, cuaca ekstrem 7 kali, kemudian ada gempa bumi, ada kekeringan ada banjir dan tanah longsor,” paparnya.

Secara umum, kata Aam, jika dilihat secara spasial ini biasanya di bulan Januari sampai Maret seluruh Indonesia didominasi oleh kejadian bencana banjir. “Tapi sekarang udah mulai berganti hijau menjadi representasi dari kebakaran hutan dan lahan dan kita lihat mulai mendominasi di mana-mana, Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.”

“Tapi masih ada beberapa kejadian banjir di Kota Depok, kemudian di Papua, ini yang mungkin perlu kita perhatikan nanti ada variabilitas-variabilitas dari cuaca lokal yang mungkin secara umum kita kemarau iya, tapi ada potensi potensi daerah-daerah yang masih memiliki potensi banjir hingga potensi menengah, ini juga harus diperhatikan oleh pemerintah daerah,” tandasnya.

Kajian tentang Local Storytelling dalam Mitigasi Bencana

Berada di antara lempeng tektonik Asia dan Australia, zona aktivitas tektonik tinggi di Cincin Api Pasifik dengan deretan pegunungan dan gunung berapi aktif menjadikan Indonesia salah satu negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia. Salah satu potensi bencana yang menarik perhatian adalah potensi megathrust di selatan Jawa yang berpotensi menimbulkan tsunami hingga 20 meter. Berbagai upaya mitigasi bencana dilakukan, salah satunya dengan menggali pesan mitigasi bencana dalam kearifan lokal dan mengandalkan tokoh masyarakat sebagai pembawa pesan mitigasi. Dengan menggunakan metode studi kasus eksploratif, penelitian ini berupaya melihat pesan mitigasi dalam kearifan lokal di Bayah, Lebak Selatan. Peran tokoh masyarakat juga diamati dalam komunikasi bencana berbasis masyarakat. Hasilnya, ditemukan banyak pesan berbasis kearifan lokal yang bermuatan tentang mitigasi bencana dan pelestarian alam. Tokoh masyarakat memiliki peran strategis sebagai Key Opinion Leader dalam menyampaikan pesan mitigasi bencana, baik pesan berbasis kearifan lokal maupun ilmu pengetahuan modern, kepada masyarakat. Artikel ini telah dipublikasikan pada 2022 di jurnal Etnosia.

Selengkapnya

Perbandingan Informasi Kebencanaan dari Berbagai Media

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepanikan dan berbagai modalitas informasi bencana media yang tersedia selama dan setelah peristiwa bencana alam. Metode yang digunakan adalah Mix Methods Research Approach, yang merupakan gabungan dari pendekatan deskriptif kualitatif dan eksploratif kuantitatif. Terdapat 150 responden untuk tiga lokasi penelitian di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Responden dipilih dengan mempertimbangkan kondisi kejadian yang dialami, kerusakan fisik rumah dan latar belakang pendidikan. Sumber media informasi bencana yang dianalisis adalah TV, internet, telepon genggam (WA/SMS), radio, masjid/gereja, surau, tokoh masyarakat dan dari mulut ke mulut. Data yang digunakan adalah analisis skala Likert untuk persepsi yang diuji dengan Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepanikan yang paling signifikan (α<0,01) adalah pada saat internet tidak berfungsi, handphone tidak dapat digunakan, dan siaran radio tidak dapat diterima. Sumber informasi kebencanaan yang paling efektif dalam mendorong sikap ketangguhan adalah bimbingan dan nasehat dari tokoh masyarakat dan komunikasi ekologis yang dibangun dari mulut ke mulut. Paparan bencana alam terbukti menyatukan hati masyarakat dalam persahabatan. meskipun beberapa tidak berkomunikasi satu sama lain sebelum bencana, bahkan ada yang bermusuhan. Sebanyak 78,6% responden mengakui bahwa rasa sayang di antara mereka sebagai korban justru muncul ketika bencana alam menghancurkan sendi-sendi kehidupan mereka, bahkan di antara mereka yang tidak saling berkomunikasi, atau bahkan bermusuhan, sebelum bencana terjadi. Dari komunikasi ekologis, lahirlah “pelukan erat akibat bencana alam”. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di jurnal PLOS One.

Selengkapnya

WADEM CONGRESS 2023

World Association for Disaster and Emergency Medicine (WADEM) Congress ke-22 akan berlangsung pada 9-12 Mei 2023 di Killarney, Irlandia. Kongres dengan tema “Kompleksitas dan Kontinuitas” bertujuan untuk memberikan program ilmiah yang inovatif dan dinamis. Program ilmiah ini menawarkan keragaman minat dan keahlian profesional yang mengeksplorasi inovasi dan praktik terbaik secara global dalam aspek kesehatan kesiapsiagaan darurat, manajemen bencana, dan bantuan kemanusiaan. Kongres akan mencakup lebih dari 30 pembicara internasional dan lokal terkenal, serta serangkaian sesi interaktif dan inovatif yang dirancang untuk mempublikasikan pengalaman tiap delegasi dalam penanganan bencana alam dan bencana non alam. FK KMK UGM dan PKMK FK-KMK UGM turut berpartisipasi mengikuti WADEM Congres dengan mengirimkan 3 orang dosen pengajar dan peneliti : dr. Bella Donna, MPH ; Madelina Ariani, MPH ; dan Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Terdapat 6 abstrak kajian ilmiah yang diterima dan akan ditampilkan melalui presentasi oral dan poster. Selain presentasi oral dan poster, momen ini juga akan dimanfaatkan tim untuk meeting inisiasi kerja sama antara AIDHM/AANDHM dengan WADEM. Simak reportase harian mulai 9 Mei 2023 pada link berikut.

Selengkapnya

Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim

Negara-negara anggota PBB mengadopsi tiga perjanjian internasional untuk agenda pasca-2015: Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015–2030, Perjanjian Paris dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, dan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Perubahan iklim memperburuk risiko bencana di seluruh dunia, memaksa negara-negara untuk meningkatkan langkah-langkah pengurangan bencana. Pendekatan diarahkan beradaptasi dengan perubahan iklim melibatkan berbagai tindakan yang mengurangi risiko bencana. Pendekatan interdisipliner untuk adaptasi perubahan iklim (CCA) dan pengurangan risiko bencana (PRB) dapat membantu membuat masyarakat lebih tahan terhadap berbagai guncangan dan multi-bahaya serta membantu mencapai tiga agenda global yang disebutkan di atas. Mengembangkan pendekatan interdisipliner melibatkan integrasi berbagai disiplin ilmu dan konsep. Hal ini karena risiko bencana berbeda-beda menurut faktor risiko, persepsi masyarakat, skala spasial, tahapan pembangunan, dan wilayah. Mengintegrasikan pendekatan PRB dan CCA merupakan tantangan karena para ahli dan peneliti telah terlibat dengan keduanya secara terpisah. Pembuatan kebijakan yang terinformasi membutuhkan data iklim dan sosio-ekonomi serta bukti efektivitas pendekatan, sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara-negara berkembang. Artikel ini dipublikasikan pada 2023 di jurnal MDPI

Selengkapnya

Manajemen Risiko Bencana Berbasis Kearifan Lokal Dalam Penanganannya Korban Bencana Alam

Bencana alam yang terjadi mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengkaji manajemen risiko bencana berbasis kearifan lokal untuk meminimalisir korban bencana alam. Dilakukan di lima kabupaten dan kota dengan melibatkan 100 responden dan menggunakan metode campuran. Hasil kajian menemukan forum penanggulangan bencana berbasis masyarakat bernama KSB (desa siaga bencana). Kemitraan KSB dengan pemangku kepentingan dalam bentuk prabencana bimbingan teknis dan tanggap darurat telah ditetapkan dengan baik. Pada tahap prabencana, KSB menyediakan sistem peringatan dini untuk mengkondisikan kesiapsiagaan masyarakat. Dalam keadaan darurat tahap tanggap, KSB menangani korban bencana sesuai standar operasional prosedur. Dalam tahap pascabencana, KSB membantu mengelola bantuan, mencari sumber dukungan, dan memelihara infrastruktur di kamp-kamp pengungsi. Desa Siaga Bencana (KSB) mengelola logistik, namun belum memberikan bantuan sosiopsikologis kepada korban, serta belum memiliki lumbung dan gardu sosial, namun memiliki tidak ditemukan keterlibatan kelompok berkebutuhan khusus dan rentan dalam penanganan korban bencana; Disarankan perlunya keterlibatan aktif, perlindungan sosial untuk kebutuhan khusus dan yang rentan. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di IOP Conference Series

Selengkapnya

Penggunaan Media Sosial dalam Manajemen Krisis

banner hdp 1 2023

Situasi darurat yang timbul dari bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, angin topan atau yang dibuat oleh manusia seperti serangan teror, kerusuhan, kecelakaan, dll. menyebabkan kerugian sosial dan ekonomi yang luar biasa dan berdampak buruk pada orang miskin di ekonomi berpenghasilan rendah, khususnya. Dalam tulisan ini, kami mencoba untuk melihat dan menganalisis hubungan antara keadaan darurat dan media sosial online, khususnya Twitter, Facebook, dan Youtube. Secara khusus, kami melihat tiga masalah penting. Pertama, kami mencoba melihat efek terjadinya keadaan darurat di media sosial. Kedua, ketika tiba-tiba ada lonjakan postingan di media sosial karena kejadian tersebut, bagaimana banjir data tersebut dapat diekstraksi dan diproses secara efektif untuk menciptakan kesadaran situasional dan meminimalkan kerusakan akibat bencana. Ketiga, bagaimana postingan media sosial yang berbeda dapat membantu berbagai pemerintah dan lembaga lain untuk bersiap dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengelola keadaan darurat guna meminimalkan kerugian. Dalam survei ini, makalah yang berpusat di sekitar keadaan darurat dan pengaruhnya terhadap media sosial dan berbagai organisasi yang terkait dengan manajemen krisis dianggap diterbitkan dalam dekade terakhir. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal Science Direct

Selengkapnya

BMKG Ajak Dunia Tingkatkan Pemahaman Masyarakat tentang Risiko Bencana

JAKARTA – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) Dwikorita Karnawati mengajak dunia internasional untuk mengatasai kesenjangan antara teknologi kebencanaan dan pemahaman masyarakat. Menurutnya, lebarnya kesenjangan tersebut berakibat pada semakin meningkatnya risiko bencana.

Pandangan ini disampaikanDwikoritadalam The Inagural Meeting of the Panel on Sosioeconomic Benefits (PSB) di Jenewa secara daring, Kamis 9 Juni 2023.

“Meskipun sudah ada peringatan dini untuk melakukan evakuasi, namun jika tidak didukung dengan pemahaman tentang mitigasi kebencanaan, kesadaran, ketrampilan, dan juga kemampuan respons yang cepat dan tepat, maka sistem peringatan dini tersebut akan gagal dalam mencegah terjadinya korban,” ungkap Dwikorita dalam keterangannya, Senin (12/6/2023).

Dwikorita menyebutkan, lemahnya antisipasi, mitigasi, dan peringatan dini bencana berpotensi besar mengancam keselamatan jiwa, serta kerugian ekonomi pun semakin besar. Terutama untuk negara-negara berkembang yang masuk dalam kategori rawan bencana dengan intensitas dan frekuensi bencana yang tinggi.

Saat ini kata dia, kondisi Planet Bumi semakin kompleks sehingga membutuhkan pengamatan dan data yang cepat, tepat, akurat, dan sistematis. Selain itu juga butuh inovasi teknologi yang mumpuni serta analis dan pemodelan yang handal.

“Situasi ini perlu menjadi perhatian bersama karena jika kesenjangan semakin melebar antara kemajuan teknologi dan kapasitas masyarakat untuk menguasai dan memahami teknologi tersebut, maka peran atau manfaat dari kemajuan teknologi tersebut menjadi kurang berarti,” jelasnya.

Solusinya kata Dwikorita adalah, dengan pendekatan literasi dan edukasi masyarakat agar lebih mampu memahami dan memanfaatkan data dan informasi yg dihasilkan oleh teknologi yang modern/canggih, sehingga mampu melakukan respons secara cepat dan tepat terhadap peringatan dini yang disampaikan.

Dalam forum WMO tersebut, Dwikorita kemudian mencontohkan konsep Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) yang diselenggarakan BMKG, guna meningkatkan literasi masyarakat tentang cuaca dan iklim. SLCN ini, kata dia, merupakan upaya adaptasi dan mitigasi yang dilakukan Indonesia, berbiaya murah namun memiliki dampak yang cukup signifikan.

“Salah satu success story dari diadakannya SLCN tersebut adalah pada saat terjadinya Siklon Seroja yang menghantam Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Salah satu alumnus SLCN menjadi penyelamat warga desa setelah menerima informasi peringatan dini melalui pesan berjejaring Whatsapp,” terangnya.

“Usai menerima pesan, warga desa langsung diungsikan ke gedung sekolah dan perahu- perahu dipindahkan ke tempat yang aman agar selamat dari gulungan ombak. Tanpa pengetahuan yang memadai dan respons yang cepat, maka informasi peringatan dini yang disampaikan tentu akan menjadi sia-sia,” tambahnya.