Kerangka Acuan Kegiatan
Workshop Online
Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit
(Hospital Disaster Plan )
Latar Belakang
Manajemen pengelolaan bencana terus berkembang mengikuti jenis bencana dan kuantitas bencana yang terjadi di Indonesia. Manajemen pengelolaan bencana ini meliputi aspek disaster, planning dan capacity building. Pandemi COVID-19 menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk memperbaiki manajemen bencana sektor kesehatan. Khusus dalam kesiapsiagaan Rumah Sakit untuk merespon bencana alam dan bencana non alam. Kurangnya kesiapsiagaan Rumah Sakit dalam menangani bencana alam maupun non alam tetap menjadi perhatian khusus bagi kalangan pemerintah maupun non pemerintah. Bagaimana meningkatkan kapasitas Rumah Sakit baik itu dalam hal kemampuan, pengetahuan, perencanaan, sumber daya, fasilitas, dan kesadaran akan krisis kesehatan menjadi prioritas utama untuk merespon kondisi gawat darurat. Hal tersebut sampai sekarang merupakan tantangan dalam pengembangan ilmu manajemen pengelolaan bencana di rumah sakit.Dalam Permenkes Nomor 12 Tahun 2020 dinyatakan bahwa semua rumah sakit wajib terakreditasi, dari sini kita bisa melihat bahwa mutu rumah sakit sangat penting. Apakah melalui akreditasi juga sudah menjamin bahwa rumah sakit siap menghadapi bencana? Pada peraturan Kepmenkes Nomor 1128 Tahun 2022 tertulis tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit, yang salah satu isinya disebutkan bahwa RS harus mampu melakukan Self Assesment terkait kesiapan menghadapi bencana. Hal tersebut dapat dilihat pada salah satu elemen penilaian Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), khususnya MFK 9, dimana rumah sakit harus mampu mengidentifikasi bencana internal dan eksternal, termasuk keadaaan darurat di masyarakat dan wabah, yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.Rumah sakit yang belum memiliki Hospital Disaster Plan (HDP) akan mengalami kesulitan untuk mengoperasionalkan manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Demikian juga akan terjadi bagi rumah sakit yang sudah memiliki HDP namun tidak operasional. Sejauh ini hampir semua rumah sakit telah memiliki dokumen HDP baik sebatas dokumen tertulis maupun dokumen yang sudah pernah disosialisasikan, diujicoba di atas meja/ table top exercise (TTX), disimulasikan, direvisi dan dikembangkan. Melalui pelatihan ini, diharapkan Rumah Sakit memahami bahwa dokumen HDP adalah bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Artinya dokumen yang disusun harus seoperasional mungkin sehingga saat terjadi bencana, seminimal mungkin fungsi rumah sakit tidak terganggu serta memastikan layanan rutin sehari-hari tetap berjalan.
Tujuan
-
Peserta memahami penyusunan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit (HDP) harus menyesuaikan dengan karakteristik di tiap rumah sakit.
-
Peserta mampu memahami komponen-komponen dokumen HDP berdasarkan template yang ada
Metode Kegiatan
Metode pelatihan dilakukan dalam bentuk seminar dimana setiap pertemuan pesertaakan mendapatkan materi penyusunan HDP dan penugasan penyusunan dokumen. Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari.
Hal yang Perlu dipersiapkan oleh Peserta:
Peserta berasal dari tim bencana rumah sakit yang masih aktif dan/atau anggota baru yang meliputi unsur:
- Unsur Manajemen (pengorganisasian/ sistem komando bencana rumah sakit; operasional, keuangan, perencanaan, sekretaris)
- Unsur tim yang mengerjakan analisis risiko, HVA, dan HSI (*K3RS)
- Unsur logistik, perencanaan, SDM, dan fasilitas
Peserta memiliki pengetahuan yang baik mengenai rumah sakit serta membawa:
- Laptop
- Dokumen HDP saat ini(*jika ada)
- Peta(Map) Rumah Sakit,termasuk peta wilayah kerja
- Profil rumahsakit
- Dokumen perhitungan HVA dan HSI
Output Kegiatan
Peserta memahami dan mampu menyusun dokumen hospital disaster plan. Rumah Sakit memiliki draft dokumen HDP Waktu Pelaksanaan
-
Pertemuan 1: Senin, 7 Agustus 2023 pukul 09.00 – 12.00 WIB
-
Pertemuan 2: Senin, 21 Agustus 2023 pukul 09.30 – 12.00 WIB
-
Pertemuan 3: Kamis, 7 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB
-
Pertemuan 4: Kamis, 21 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB
-
Pertemuan 5: Kamis, 5 Oktober 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB
Rundown Kegiatan
| Pertemuan | Materi |
|
Pertemuan 1 : 3 JPL Senin, 7 Agustus 2023 pukul 09.00 -12.00 WIB |
Materi 1. Komponen HDP dan Pengorganisasian tim HDP |
| Menampilkan ceklist komponen HDP yang sudah ada(*sebelumnya sudah dibagikan pertanyaan google form : kuesioner singkat sebagai assessment awal kepada peserta) | |
| Penugasan (*peserta dibagi kedalam 3 ruang zoom):- Membagikan template HDP (dijelaskan oleh fasilitator)- Menyusun struktur pengorganisasian dan tupoksi | |
| Jeda 1 minggu penugasan didampingi fasilitator menyusun struktur pengiorganisasian dan tupoksi | |
|
Pertemuan 2 : 3 JPL Senin, 21 Agustus 2023 pukul09.30 – 12.00 WIB |
Pemaparan hasil penugasan struktur pengorganisasian |
|
Materi 2. Analisis Risiko dan HSI |
|
| Penugasan (*peserta dibagi kedalam 3 ruang zoom) :Analisis risiko bencana yang menjadi prioritas penanganan masing-masing RS | |
| Jeda 2 minggu penugasan didampingi fasilitator untuk menyusun analisis risiko dan HSI | |
|
Pertemuan 3 : 4 JPL Kamis, 7 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB |
Materi 3. Perencanaan surge capacity |
|
Materi 4. SOP saat Bencana (kelanjutan dari analisis risiko dan skenario) |
|
| Penugasan : masing-masing RS identifikasi SOP yang dibutuhkan dan penjabaran SOP | |
|
Materi 5. Penyusunan peta risiko dan peta respons |
|
| Arahan untuk penugasan merangkum seluruh penugasan dalam template HDP — pertemuan 4 | |
|
Jeda 2 minggu penugasan didampingi fasilitator untuk menyusun SOP dan merangkum seluruh penugasan dalam satu file template HDP — pertemuan 4 |
|
|
Pertemuan 4 : 4 JPL Kamis, 21 September 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB |
Pemaparan hasil penugasan analisis risiko dan diskusi |
|
Materi 6. Implementasi Logistik medis dan non medis dalam dokumen HDP (persiapan, penyimpanan, pendistribusian, pelaporan) termasuk SOPnya |
|
| Penugasan (*peserta dibagi kedalam 3 ruang zoom) :Identifikasi kebutuhan SOP terkait manajemen logistik | |
|
Materi 7. Penentuan fasilitas RS untuk bencana dan kelengkapan no kontak dan form-form |
|
|
Jeda 1 minggu penugasan didampingi fasilitator untuk menyusun peta risiko dan SOP manajemen logistik |
|
|
Pertemuan 5 : 2 JPL Kamis, 5 Oktober 2023 pukul 13.00 – 15.30 WIB |
Pemaparan dokumen HDPReview Dokumen |
BIAYA KEPESERTAAN
Biaya kepesertaan Pelatihan dan Pendampingan sebesar Rp 7.500.000 / instansi. Peserta pelatihan dikenai biaya sebagai tim (Anggota tim maksimal 5 orang/institusi).Peserta akan mendapatkan sertifikat ber-SKP PAKKI, IDI dan IAKMI
Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia:
No Rekening 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281
Bukti transfer pembayaran tersebut di kirim melalui Whatsapp Messenger ke Nomor 082134116190 dengan diberi nama lengkap peserta.
Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui Google form: https://bit.ly/PendampinganHDP2023 https://bit.ly/juliHDP2023
Penutup
Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan). Kami mengharapkan apabila kerjasama ini terwujud, menjadi kerjasama yang saling menguntungkan. Bagi rumah sakit keuntungan yang didapat adalah tersusunnya draft dokumen HDP. Bagi Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (PKMK FK – KMK) UGM, sebagai lembaga riset dan konsultasi, terutama akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan di bidang kesehatan dan manajemen bencana di rumah sakit.
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2 Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281 Telp/Fax : 0274 – 549425
Website : www.bencana-kesehatan.net
Berada di antara lempeng tektonik Asia dan Australia, zona aktivitas tektonik tinggi di Cincin Api Pasifik dengan deretan pegunungan dan gunung berapi aktif menjadikan Indonesia salah satu negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia. Salah satu potensi bencana yang menarik perhatian adalah potensi megathrust di selatan Jawa yang berpotensi menimbulkan tsunami hingga 20 meter. Berbagai upaya mitigasi bencana dilakukan, salah satunya dengan menggali pesan mitigasi bencana dalam kearifan lokal dan mengandalkan tokoh masyarakat sebagai pembawa pesan mitigasi. Dengan menggunakan metode studi kasus eksploratif, penelitian ini berupaya melihat pesan mitigasi dalam kearifan lokal di Bayah, Lebak Selatan. Peran tokoh masyarakat juga diamati dalam komunikasi bencana berbasis masyarakat. Hasilnya, ditemukan banyak pesan berbasis kearifan lokal yang bermuatan tentang mitigasi bencana dan pelestarian alam. Tokoh masyarakat memiliki peran strategis sebagai Key Opinion Leader dalam menyampaikan pesan mitigasi bencana, baik pesan berbasis kearifan lokal maupun ilmu pengetahuan modern, kepada masyarakat. Artikel ini telah dipublikasikan pada 2022 di jurnal Etnosia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepanikan dan berbagai modalitas informasi bencana media yang tersedia selama dan setelah peristiwa bencana alam. Metode yang digunakan adalah Mix Methods Research Approach, yang merupakan gabungan dari pendekatan deskriptif kualitatif dan eksploratif kuantitatif. Terdapat 150 responden untuk tiga lokasi penelitian di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Responden dipilih dengan mempertimbangkan kondisi kejadian yang dialami, kerusakan fisik rumah dan latar belakang pendidikan. Sumber media informasi bencana yang dianalisis adalah TV, internet, telepon genggam (WA/SMS), radio, masjid/gereja, surau, tokoh masyarakat dan dari mulut ke mulut. Data yang digunakan adalah analisis skala Likert untuk persepsi yang diuji dengan Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepanikan yang paling signifikan (α<0,01) adalah pada saat internet tidak berfungsi, handphone tidak dapat digunakan, dan siaran radio tidak dapat diterima. Sumber informasi kebencanaan yang paling efektif dalam mendorong sikap ketangguhan adalah bimbingan dan nasehat dari tokoh masyarakat dan komunikasi ekologis yang dibangun dari mulut ke mulut. Paparan bencana alam terbukti menyatukan hati masyarakat dalam persahabatan. meskipun beberapa tidak berkomunikasi satu sama lain sebelum bencana, bahkan ada yang bermusuhan. Sebanyak 78,6% responden mengakui bahwa rasa sayang di antara mereka sebagai korban justru muncul ketika bencana alam menghancurkan sendi-sendi kehidupan mereka, bahkan di antara mereka yang tidak saling berkomunikasi, atau bahkan bermusuhan, sebelum bencana terjadi. Dari komunikasi ekologis, lahirlah “pelukan erat akibat bencana alam”. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di jurnal PLOS One.
World Association for Disaster and Emergency Medicine (WADEM) Congress ke-22 akan berlangsung pada 9-12 Mei 2023 di Killarney, Irlandia. Kongres dengan tema “Kompleksitas dan Kontinuitas” bertujuan untuk memberikan program ilmiah yang inovatif dan dinamis. Program ilmiah ini menawarkan keragaman minat dan keahlian profesional yang mengeksplorasi inovasi dan praktik terbaik secara global dalam aspek kesehatan kesiapsiagaan darurat, manajemen bencana, dan bantuan kemanusiaan. Kongres akan mencakup lebih dari 30 pembicara internasional dan lokal terkenal, serta serangkaian sesi interaktif dan inovatif yang dirancang untuk mempublikasikan pengalaman tiap delegasi dalam penanganan bencana alam dan bencana non alam. FK KMK UGM dan PKMK FK-KMK UGM turut berpartisipasi mengikuti WADEM Congres dengan mengirimkan 3 orang dosen pengajar dan peneliti : dr. Bella Donna, MPH ; Madelina Ariani, MPH ; dan Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Terdapat 6 abstrak kajian ilmiah yang diterima dan akan ditampilkan melalui presentasi oral dan poster. Selain presentasi oral dan poster, momen ini juga akan dimanfaatkan tim untuk
Negara-negara anggota PBB mengadopsi tiga perjanjian internasional untuk agenda pasca-2015: Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015–2030, Perjanjian Paris dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, dan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Perubahan iklim memperburuk risiko bencana di seluruh dunia, memaksa negara-negara untuk meningkatkan langkah-langkah pengurangan bencana. Pendekatan diarahkan beradaptasi dengan perubahan iklim melibatkan berbagai tindakan yang mengurangi risiko bencana. Pendekatan interdisipliner untuk adaptasi perubahan iklim (CCA) dan pengurangan risiko bencana (PRB) dapat membantu membuat masyarakat lebih tahan terhadap berbagai guncangan dan multi-bahaya serta membantu mencapai tiga agenda global yang disebutkan di atas. Mengembangkan pendekatan interdisipliner melibatkan integrasi berbagai disiplin ilmu dan konsep. Hal ini karena risiko bencana berbeda-beda menurut faktor risiko, persepsi masyarakat, skala spasial, tahapan pembangunan, dan wilayah. Mengintegrasikan pendekatan PRB dan CCA merupakan tantangan karena para ahli dan peneliti telah terlibat dengan keduanya secara terpisah. Pembuatan kebijakan yang terinformasi membutuhkan data iklim dan sosio-ekonomi serta bukti efektivitas pendekatan, sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara-negara berkembang. Artikel ini dipublikasikan pada 2023 di jurnal MDPI
Bencana alam yang terjadi mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengkaji manajemen risiko bencana berbasis kearifan lokal untuk meminimalisir korban bencana alam. Dilakukan di lima kabupaten dan kota dengan melibatkan 100 responden dan menggunakan metode campuran. Hasil kajian menemukan forum penanggulangan bencana berbasis masyarakat bernama KSB (desa siaga bencana). Kemitraan KSB dengan pemangku kepentingan dalam bentuk prabencana bimbingan teknis dan tanggap darurat telah ditetapkan dengan baik. Pada tahap prabencana, KSB menyediakan sistem peringatan dini untuk mengkondisikan kesiapsiagaan masyarakat. Dalam keadaan darurat tahap tanggap, KSB menangani korban bencana sesuai standar operasional prosedur. Dalam tahap pascabencana, KSB membantu mengelola bantuan, mencari sumber dukungan, dan memelihara infrastruktur di kamp-kamp pengungsi. Desa Siaga Bencana (KSB) mengelola logistik, namun belum memberikan bantuan sosiopsikologis kepada korban, serta belum memiliki lumbung dan gardu sosial, namun memiliki tidak ditemukan keterlibatan kelompok berkebutuhan khusus dan rentan dalam penanganan korban bencana; Disarankan perlunya keterlibatan aktif, perlindungan sosial untuk kebutuhan khusus dan yang rentan. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di IOP Conference Series