Banjir Melanda Satu Kota Dan Lima Kabupaten di Kalimantan Tengah

JAKARTA – Intensitas hujan yang tinggi sejak Senin (15/1) menjadi pemicu banjir yang terjadi di satu Kota dan lima Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah.  

Berdasarkan pemutakhiran data yang diterima oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB pada hari Jumat (19/1), satu Kota dan Lima Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah masih terendam Banjir. Kabupaten Murung Raya menjadi Kabupaten pertama yang terendam banjir sejak Senin (15/1), diikuti Kabupaten Barito Utara pada Selasa (16/1), Kota Palangkaraya, Barito Selatan, Kotawaringin dan Kapuas pada Rabu (17/1).

Kota Palangkaraya

Dilaporkan sebanyak 90 KK di satu kecamatan terdampak banjir dan sampai saat ini belum ada kerugian materil yang tercatat, tingi muka air 40-60 cm. BPBD Kota Palangkaraya berkoordinasi dengan aparat guna melakukan pendataan.

Kabupaten Murung Raya

Dilaporkan sebanyak 38 Desa atau Kelurahan di 6 Kecamatan terendam banjir. Adapun kerugian materil dan non materil yang tercatat sebanyak 31.178 jiwa terdampak serta 9.527 unit rumah warga, 28 unit fasilitas pendidikan, 10 unti fasilitas kesehatan, 20 unit rumah ibadah dan 13 unit fasilitas umum terendam banjir. Untuk sementara, 11 KK dilaporkan mengungsi ke halaman kantor BPBD Kabupaten Murung Raya. 

BPBD Murung raya masih berupaya melakukan evakuasi pengungsi terdampak banjir, sekaligius melakukan patrol sungai guna pendataan dan pembagian logistik di beberapa titik lokasi banjir. Sampai saat ini, dilaporkan banjir masih menggenang dengan tinggi muka air 50-200 cm, sehingga Bupati Murung Raya menetapkan status tanggap darurat terhitung mulai tanggal 17 Januari sampai 15 Februari 2024.

Kabupaten Barito Utara

Dilaporkan sebanyak 11 Desa atau Kelurahan di 6 Kecamatan terendam banjir. Adapun kerugian materil dan non materil yang tercatat sebanyak 40.067 jiwa terdampak serta 7.274 unit rumah warga, 13 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas kesehatan, 13 unit rumah ibadah, 5 unit kantor desa, 2 unit pasar tradisonal terendam banjir. BPBD Barito Utara sudah berkoordinasi dengan TNI, SOPD, RAPI, RMPB, Media, Ormas, dan pihak-pihak terkait guna melakukan assesment dan kaji cepat. Sampai saat ini  dilaporkan tinggi muka air mengalami kenaikan. 

Kabupaten Barito Selatan

Dilaporkan sebanyak 4 Kecamatan terendam banjir. Adapun Kerugian materil dan non materil yang tercatat sebanyak 43.461 jiwa terdampak serta 3.602 unit rumah warga, 38 unit fasilitas pendidikan, 11 unit fasilitas kesehatan, 32 rumah ibadah, dan 8 fasilitas umum lainya terendam banjir. Sampai saat ini dilaporkan banjir belum surut dengan tinggi muka air 100-250 cm. BPBD Barito Selatan sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna melakukan pendataan dan penanganan banjir. 

Kabupaten Kotawaringin

Dilaporkan sebanyak 12 Desa atau Kelurahan di 2 Kecamatan terendam banjir. Adapun kerugian materil dan non materil yang tercatat sebanyak 3.902 jiwa terdampak serta 983 unit rumah warga, 3 fasilitas pendidikan, 1 fasilitas kesehatan, 1 rumah ibadah, dan 1 gedung pemerintah terendam banjir. Sampai saat ini dilaporkan banjir belum surut dengan tinggi muka air 10-50 cm. BPBD Kota Waringin sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna melakukan pendataan dan penanganan banjir.

Kabupaten Kapuas

Dilaporkan sebanyak 28 Desa di 6 Kecamatan terendam banjir. Adapun kerugian materil yang tercatat sebanyak 24.234 jiwa terdampak serta 4.476 unit rumah warga, 65 unit fasilitas pendidikan, 16 unit fasilitas kesehatan, 49 unit rumah ibadah, 99 titik akses jalan dan 69 fasilitas umun lainya trendam banjir. Sampai saat ini dilaporkan banjir belum surut dengan tinggi muka air 10-50 cm. BPBD Kapuas sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna melakukan pengecekan kondisi banjir serta menyalurkan bantuan untuk para warga terdampak.

Berdasarkan kajian dari InaRISK, Provinsi Kalimantan Tengah memiliki potensi risiko banjir sedang hingga tinggi. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi pada saat musim hujan.   

Abdul Muhari, Ph.D. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Erupsi Gunung Merapi, Sejumlah Wilayah di Boyolali Dilanda Hujan Abu

BOYOLALI, KOMPAS.com – Sejumlah wilayah di Boyolali, Jawa Tengah dilanda hujan abu akibat erupsi Gunung Merapi pada Minggu (21/1/2024) pukul 14.30 WIB.

Gunung Merapi mengalami erupsi pada pukul 14.12 WIB dengan amplitudo max 70 mm dan durasi 239.64 detik.

Jarak luncur maksimal 2.400 meter ke arah barat daya.

“Kebetulan angin berembus ke arah timur sehingga berakibat hujan abu di wilayah Boyolali,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali Suratno dihubungi Kompas.com, Minggu.

Menurut dia, sebaran wilayah yang terdampak hujan abu material erupsi Gunung Merapi di Boyolali cukup luas.

Meliputi Kecamatan Tamansari, Kecamatan Musuk, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Boyolali, Kecamatan Mojosongo, Kecamatan Teras dan Kecamatan Sambi.

Suratno menerangkan, hujan abu material erupsi Gunung Merapi tidak berlangsung lama. Meski demikian, untuk di wilayah Boyolali Kota sempat menganggu jarak pandang para pengguna jalan.

“Tim saya sedang di lapangan untuk melakukan asesmen dan membawa masker dibagikan masyarakat. Pada saat hujan abu tadi khususnya untuk Kecamatan Boyolali Kota lalu lintas relatif padat sehingga cukup mengganggu jarak pandangan,” ungkap dia.

Pihaknya mengimbau masyarakat tetap waspada dan berhati-hati. Ia juga meminta masyarakat tidak panik dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.

“Kami sampaikan kepada rekan-rekan yang kami terjunkan ke lapangan untuk melakukan imbauan untuk waspada, berhati-hati, tapi tidak perlu panik,” terang Suratno.

Merapi Luncurkan Awan Panas, Boyolali dan Klaten Diguyur Hujan Abu

YOGYAKARTA, KOMPAS – Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan empat kali awan panas guguran pada Minggu (21/1/2024) pagi hingga sore. Akibat awan panas guguran yang terjadi pada Minggu siang, terjadi hujan abu di Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten, Jateng.

Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas guguran pertama terjadi pada pukul 08.25 WIB. Awan panas tersebut memiliki amplitudo maksimal 62 milimeter (mm), durasi 191,28 detik, dan jarak luncur maksimal 2.000 meter ke barat daya atau menuju Kali Bebeng.

Cuaca Ekstrem Landa Jawa Timur, BMKG Juanda Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Beberapa Wilayah

JawaPos.com – Akhir-akhir ini, beberapa wilayah di Jawa Timur dilanda hujan dengan intensitas cukup deras.

Bahkan tak dipungkiri, kedatangan hujan juga disertai dengan tiupan angin kencang.

Karenanya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Sidoarjo mengimbau masyarakat untuk selalu tetap waspada.

Apalagi, Jawa Timur berpotensi mengalami cuaca ekstrem selama sepekan ke depan.

Pada Rabu (17/1), Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan menyampaikan soal beberapa potensi yang terjadi akibat cuaca ekstrem di Jawa Timur.

Terutama terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.

Bencana hidrometeorologi berpotensi melanda Jawa Timur selama sepekan, mulai dari tanggal 17 hingga 23 Januari 2024.

“Potensi bencana hidrometeorologi tersebut diprediksi terjadi pada periode 17-23 Januari 2024, di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur,” ungkapnya, mengutip dari Antara.

Baca Juga: Waspadai Potensi Hujan Badai di Sejumlah Daerah, BMKG: Cuaca Saat Ini Dampak dari Siklon Tropis Anggrek

Rinciannya, wilayah yang berpotensi dilanda bencana tersebut adalah Kabupaten Banyuwangi, Kota Batu, Kota Blitar, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jombang, Kota Kediri, Kabupaten Malang, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Magetan, Kota Malang, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Sumenep, Kota Surabaya, Kabupaten Trenggalek, dan Kota Mojokerto.

Tak hanya itu, wilayah yang juga berpotensi mengalami bencana ini ialah Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Kediri, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Gresik, Jember, Kabupaten Madiun, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Tuban, Kota Madiun, dan Kabupaten Sampang.

Kota dan kabupaten di atas berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi karena sebagian wilayah Jawa Timur sudah memasuki puncak musim hujan.

“Saat ini sebagian wilayah Jawa Timur telah memasuki puncak musim hujan,” katanya.

Apalagi, kondisi dinamika atmosfer mencerminkan suhu permukaan air laut di sekitar wilayah perairan Jawa Timur sedang hangat.

Hal ini menandakan pasokan uap air di sekitar wilayah Jawa Timur cukup signifikan. Selain itu, terdapat aktivitas gelombang atmosfer, seperti Madden Jullian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby, yang melintasi provinsi Jawa Timur.

Sehingga akan membentuk pola pertemuan angin di sekitar wilayah Jawa Timur. Karenanya, dapat mendorong peningkatan pertumbuhan awan hujan yang cukup intensif.

“Hal tersebut didukung terbentuknya pola pertemuan angin di sekitar wilayah Jawa Timur yang mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan hingga sepekan ke depan, diprakirakan cukup intensif,” tuturnya.

Dengan demikian, BMKG Juanda mengingatkan masyarakat dan instansi terkait supaya tetap waspada. Apalagi, Jawa Timur berpotensi dilanda cuaca ekstrem yang mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, juga diikuti petir dan angin kencang selama sepekan ke depan. 

“Diharapkan masyarakat mengantisipasi dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang,” katanya.

Cuaca Ekstrem Landa Jawa Timur, BMKG Juanda Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Beberapa Wilayah

JawaPos.com – Akhir-akhir ini, beberapa wilayah di Jawa Timur dilanda hujan dengan intensitas cukup deras.

Bahkan tak dipungkiri, kedatangan hujan juga disertai dengan tiupan angin kencang.

Karenanya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Sidoarjo mengimbau masyarakat untuk selalu tetap waspada.

Apalagi, Jawa Timur berpotensi mengalami cuaca ekstrem selama sepekan ke depan.

 

Pada Rabu (17/1), Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan menyampaikan soal beberapa potensi yang terjadi akibat cuaca ekstrem di Jawa Timur.

Terutama terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.

Bencana hidrometeorologi berpotensi melanda Jawa Timur selama sepekan, mulai dari tanggal 17 hingga 23 Januari 2024.

“Potensi bencana hidrometeorologi tersebut diprediksi terjadi pada periode 17-23 Januari 2024, di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur,” ungkapnya, mengutip dari Antara.

Rinciannya, wilayah yang berpotensi dilanda bencana tersebut adalah Kabupaten Banyuwangi, Kota Batu, Kota Blitar, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jombang, Kota Kediri, Kabupaten Malang, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Magetan, Kota Malang, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Sumenep, Kota Surabaya, Kabupaten Trenggalek, dan Kota Mojokerto.

Tak hanya itu, wilayah yang juga berpotensi mengalami bencana ini ialah Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Kediri, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Gresik, Jember, Kabupaten Madiun, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Tuban, Kota Madiun, dan Kabupaten Sampang.

Kota dan kabupaten di atas berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi karena sebagian wilayah Jawa Timur sudah memasuki puncak musim hujan.

“Saat ini sebagian wilayah Jawa Timur telah memasuki puncak musim hujan,” katanya.

Peralihan Musim Hujan, Sumsel Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

TEMPO.CO, Palembang – Beberapa daerah di Sumatera Selatan sedang dilanda bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor. Peristiwa terjadi di Musirawas Utara, Lahat, Musi Banyuasin dan daerah lainnya.

Potensi musibah serupa juga terdapat di Ogan Komering Ilir (OKI). Guna mengantisipasi dampak fase peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan, jajaran Pemkab OKI menggelar Apel Gelar Pasukan dan Peralatan dalam rangka Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi di wilayah OKI.

Apel gelar pasukan dan peralatan diawali dengan pengukuhan secara simbolis pemakaian topi penanggulangan oleh Pj Bupati OKI Asmar Wijaya kepada Satgas Penanggulangan Bencana dilanjutkan pengecekan pasukan dan peralatan bersama Forkopimda Kabupaten OKI.

Dalam amanatnya, apel siaga ini untuk mensinergikan seluruh elemen masyarakat, Pemerintah Daerah, TNI/Polri dalam menghadapi bencana dan upaya, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan kemampuan  bersama dalam menghadapi bencana. “Kita berharap agar Kabupaten OKI maupun daerah lainnya dapat terhindar dari bencana alam ,” ujarnya, Kamis, 18 Januari 2024.

Menurut Asmar, Kabupaten OKI telah siap baik dari personel, peralatan maupun cara bertindak apabila terjadi bencana alam. “Melakukan pengecekan baik personil, peralatan maupun lainnya dipastikan siap. Diharapkan kegiatan ini dapat mewujudkan ketangguhan dalam menghadapi bencana dan memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujarnya.

Asmar berharap pola penanggulangan bencana alam secara kolaboratif ini dapat juga diterapkan pada pola pencegahan sehingga bisa memberikan dampak yang lebih optimal dalam rangka penanganan bencana alam di OKI. “Kerja-Kerja kolaborasi pada pihak terkait sangatlah penting untuk jadi sandaran dalam penanganan bencana alam di Kabupaten OKI,” kata dia.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan Agus Fatoni akan meninjau langsung sejumlah titik lokasi banjir di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Sebagaimana diketahui, terdapat enam kecamatan di lokasi ini yang terdampak banjir.

Fatoni mengatakan pihaknya akan menyalurkan sejumlah bantuan kepada warga terdampak banjir, diantaranya berupa makanan, pakaian dan terpal. “Kita sudah siapkan bantuan untuk semua lokasi banjir baik itu berupa makanan, pakaian, kemudian ada terpal dan berbagai bantuan yang lain ke seluruh alokasi banjir,” kata Fatoni.

Saat ini, Pemprov bersama Pemerintah Kabupaten setempat tengah menghitung kerugian yang diakibatkan oleh banjir tersebut. Fatoni memastikan gedung sekolah yang masih dapat digunakan tetap akan difungsikan sebagai sarana belajar mengajar.

“Sekolah yang masih bisa dipakai tentu digunakan, namun yang tidak bisa dipakai nanti kita alihkan,” kata Fatoni.

Bencana banjir bandang itu dipicu curah hujan tinggi di wilayah Muratara yang menyebabkan meluapnya sungai Rawas dan sungai Rupit. Banjir yang terjadi Rabu, 10 Januari lalu tersebut menyebabkan enam kecamatan  yang terdampak banjir meliputi Ulu Rawas, Rawas Ulu, Karang Jaya, Rupit, Karang Dapo dan Rawas Ilir.

Mengenal Apa Itu Bencana Hidrometeorologi: Pengertian dan Jenis

Jogja – Tahukah kamu, apa itu bencana hidrometeorologi? Penting untuk memahami apa itu bencana hidrometeorologi karena fenomena tersebut sering melanda wilayah di Indonesia.

Peringatan mengenai fenomena ini juga kerap disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terutama saat akhir tahun menjelang tahun baru. Seperti diketahui, bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam maupun ulah manusia.

Bencana alam sendiri dibedakan menjadi beberapa jenis, salah satunya bencana hidrometeorologi. Lantas, apa yang dimaksud bencana hidrometeorologi?

Pengertian Bencana Hidrometeorologi

Mengutip laman BMKG, bencana hidrometeorologi adalah suatu fenomena bencana alam atau proses merusak yang terjadi atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), atau lautan (oseanografi).

Dampak dari fenomena ini dapat mengakibatkan hilangnya nyawa, cedera, atau dampak kesehatan lainnya. Misalnya kerusakan harta benda, hilangnya mata pencaharian dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi, serta kerusakan lingkungan.

Berdasarkan penjelasan di laman BPBD Yogyakarta, bencana hidrometeorologi disebabkan oleh parameter-parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin.

Jenis-jenis Bencana Hidrometeorologi

Menukil informasi dari laman BMKG, berikut ini jenis dan contoh bencana hidrometeorologi lengkap dengan penjelasannya:

A. Bencana Hidrometeorologi Basah

Fenomena ini terjadi akibat adanya cuaca ekstrem, seperti hujan yang sangat lebat dibanding biasanya. Jenis bencana hidrometeorologi ini sering terjadi pada periode musim hujan. Contohnya:

  • Banjir
    Banjir adalah luapan air yang merendam tanah yang biasanya kering, yang dapat terjadi akibat limpahan air dari sungai, danau, atau laut. Fenomena ini juga dapat terjadi karena akumulasi air hujan di tanah yang sudah berlebih.
  • Longsor
    Tanah longsor ditandai oleh kemiringan lereng yang curam atau landai dengan sudut tertentu, seperti pegunungan hingga tebing pantai atau di dasar laut. Dalam banyak kasus, tanah longsor dipicu oleh peristiwa tertentu. Misalnya hujan lebat, gempa bumi, lereng miring untuk membangun jalan, dan lain sebagainya.
  • Curah Hujan Ekstrem
    Curah hujan ekstrem adalah curah hujan yang jatuh di suatu lokasi tertentu dengan intensitas tinggi melebihi batas atas curah hujan biasanya dalam waktu tertentu. Fenomena ini bisa dipicu oleh awan konventif (cumulonimbus) yang masif dan mencapai atmosfer yang tinggi.
    Selain curah hujan dengan intensitas yang tinggi, awan ini juga dapat disertai golakan angin kencang, hujan es, dan potensi puting beliung.
  • Angin Kencang
    Angin kencang adalah naiknya kecepatan angin lebih dari 27,8 km/jam dari wilayah dengan tekanan udara yang lebih tinggi ke wilayah dengan tekanan udara yang lebih rendah.
  • Puting Beliung
    Puting beliung adalah kumpulan angin yang berputar dengan kecepatan tinggi. Fenomena ini dapat berlangsung selama beberapa menit, yang biasa terjadi saat pergantian musim hujan ke musim kemarau (pancaroba).

B. Bencana Hidrometeorologi Kering

Sementara itu, bencana hidrometeorologi terjadi akibat kelangkaan hujan atau dalam kurun waktu yang lama tidak terjadi hujan akibat kemarau panjang. Fenomena ini sering terjadi pada periode musim kemarau. Contohnya:

  • Kekeringan
    Kekeringan adalah defisit curah hujan pada suatu wilayah dalam periode tertentu, yang dapat menyebabkan penurunan kelembaban tanah dan kerusakan tanaman.
  • Kebakaran Hutan dan Lahan
    Fenomena ini juga sering disebut karhutla, yakni terbakarnya banyak pohon, semak, paku-pakuan dan rumput di suatu wilayah. Fenomena ini disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia.
  • Kualitas Udara Buruk
    Kualitas udara buruk berkaitan dengan tingkat polusi udara yang tinggi, kualitas udara ini ditentukan oleh konsentrasi polutan berdasarkan indeks kualitas udara lainnya.

Tips Menghadapi Bencana Hidrometeorologi

Dirangkum dari laman BPBD Yogyakarta dan Bogor, berikut ini cara dan tips menghadapi bencana hidrometeorologi:

  1. Pastikan talang air bersih dan lancar.
  2. Pastikan atap tidak bocor.
  3. Periksa kondisi pintu rumah dan perbaiki jika rusak.
  4. Periksa jendela dan pastikan tidak rusak atau retak.
  5. Perhatikan lingkungan sekitar. Pantau kondisi pohon, tiang listrik, reklame, dan Penerangan Jalan Umum (PJU).
  6. Cari tahu tentang potensi bencana di lingkungan sekitar.
  7. Ikuti laporan cuaca terkini.
  8. Siapkan perlengkapan darurat.
  9. Cari tahu langkah tanggap bencana.
  10. Hindari berteduh di bawah pohon.
  11. Menjaga kebersihan.
  12. Menjaga kebugaran tubuh.
  13. Konsumsi air putih untuk cegah dehidrasi.

Demikian penjelasan tentang bencana hidrometeorologi, mulai dari pengertian, jenis, hingga tips menghadapinya. 

Upaya Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di Musim Hujan-Kemarau

Jakarta – Bencana hidrometeorologi adalah suatu fenomena bencana alam atau proses merusak yang terjadi di atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), atau lautan (oseanografi). Demikian penjelasan menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Bencana hidrometeorologi berpotensi terjadi di musim hujan maupun musim kemarau. Macam-macam bencana hidrometeorologi yaitu banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, angin kencang, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga kualitas udara buruk.

Dalam rangka menghadapi bencana hidrometeorologi, masyarakat diminta untuk senantiasa waspada. Salah satunya dengan mengenal upaya mitigasi bencana hidrometeorologi. Lantas, bagaimana upaya bencana hidrometeorologi?

Upaya Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Berikut ini beberapa upaya mitigasi bencana hidrometeorologi secara umum, sebagaimana dihimpun detikcom dari laman resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari beberapa daerah:

  1. Senantiasa menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, seperti tidak membuang sampah sembarangan.
  2. Mencari tahu dan memahami tentang potensi bencana hidrometeorologi di lingkungan sekitar tempat tinggal.
  3. Melakukan mitigasi struktural, seperti pengerukan atau normalisasi sungai, rehabilitasi embung dan pembuatan sumur resapan.
  4. Mitigasi non-struktural, seperti penyuluhan sosialisasi kepada masyarakat, pelatihan untuk aparatur dan relawan untuk simulasi evakuasi mandiri.
  5. Aktivasi posko siaga darurat bencana di tingkat kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, terutama di daerah yang rawan bencana.
  6. Pantau informasi prakiraan cuaca dan diseminasi peringatan dini bencana hidrometeorologi.
  7. Kesiapsiagaan personil, logistik dan peralatan.
  8. Siapkan jalur-jalur evakuasi dan tempat pengungsian serta pemasangan rambu evakuasi sebagai tanda bahaya di desa rawan bencana.
  9. Membuat susunan rencana kontijensi per jenis dan ideologi bencana.
  10. Melakukan gladi dan simulasi tanggap darurat bencana hidrometeorologi.
  11. Melakukan patroli sungai, tebing, tanggul dan saluran-saluran air lainnya.
  12. Melakukan operasi Tanggap Darurat Bencana (TDB) pada saat terjadi bencana hidrometeorologi.
  13. Kaji cepat/assessment kebutuhan Tanggap Darurat Bencana (TDB).
  14. Operasi Pencarian dan pertolongan) dan evakuasi.
  15. Perlindungan kelompok rentan.
  16. Pemenuhan kebutuhan dasar.
  17. Rehabilitasi darurat sarana dan prasarana vital.
  18. Siapkan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana.
  19. Memperhatikan saran dan himbauan dari saluran resmi pemerintah.
  20. Segera koordinasi dengan pihak terkait penanganan bencana hidrometeorologi.

Macam-macam Bencana Hidrometeorologi

Sebagai tambahan informasi,, perlu diketahui pula macam-macam bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi di musim hujan dan musim kemarau, serta saat pancaroba (pergantian musim hujan ke musim kemarau). Berikut macam-macam bencana hidrometeorologi seperti dikutip dari laman resmi BMKG:

Macam-macam bencana hidrometeorologi di musim hujan:

  • Banjir, yakni luapan air yang meredam tanah yang biasanya kering, yang dapat terjadi akibat limpahan air dari sungai, danau atau laut.
  • Tanah longsor, yang terjadi ditandai oleh kemiringan lereng yang curam atau landai, seperti di pegunungan hingga tebing pantai atau di dasar laut, yang dipicu oleh peristiwa tertentu.
  • Curah hujan ekstrem, yang dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif (cumulonimbus) yang masif dan mencapai atmosfer yang tinggi.

Macam-macam bencana hidrometeorologi di musim pancaroba:

  • Angin kencang, adalah naiknya kecepatan lebih dari 27,8 km/jam dari wilayah dengan tekanan udara yang lebih tinggi ke wilayah dengan tekanan udara lebih rendah.
  • Puting beliung, adalah kumpulan angin yang berputar dengan kecepatan tinggi yang dapat berlangsung selama beberapa menit, yang biasa terjadi saat pergantian musim hujan ke musim kemarau (pancaroba).

Macam-macam bencana hidrometeorologi di musim kemarau:

  • Kekeringan, adalah defisit curah hujan pada suatu wilayah dalam periode tertentu, yang dapat menyebabkan penurunan kelembaban tanah dan kerusakan tanaman.
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), adalah penurunan terbakarnya banyak pohon, semak, paku-pakuan dan rumput di suatu wilayah, yang disebabkan faktor alam maupun faktor manusia.
  • Kualitas udara buruk, ini berkaitan dengan tingkat polusi udara yang tinggi, kualitas udara ini ditentukan oleh konsentrasi polutan berdasarkan indeks kualitas udara lainnya.

Bencana Hidrometeorologi, Jawa Timur Mendapat Dukungan Dana dari BNPB

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan dukungan berupa Bantuan Operasional Dana Siap Pakai (DSP) untuk upaya mitigasi dan penanganan bencana hidrometeorologi di Jawa Timur.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (16/1/2024) malam, menyebut bantuan tersebut untuk Provinsi dan seluruh Kabupaten/Kota se-Jawa Timur yang telah menetapkan status siaga dan tanggap darurat bencana hidrometeorologi basah masing-masing sebesar Rp250 juta.

Selain itu, BNPB menyalurkan dukungan peralatan logistik kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupa 8 unit Perahu Katamaran 3,2 meter, 13 set tenda pengungsi, 33 set tenda keluarga, 45 unit genset 2 KVA, 1.900 lembar selimut dan matras serta 110 unit tempat tidur lipat (velbed).

“Lakukan stimulan awal dengan bantuan yang diberikan, siapkan langkah-langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak dari potensi bencana hidrometeorologi basah yang sewaktu-waktu dapat terjadi,” tutup Suharyanto. 

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyampaikan apresiasi kepada BNPB atas dukungan yang selalu diberikan guna percepatan penanganan bencana di daerah.

“Sejak masa siaga darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, BNPB terus memberikan dukungan dana operasional dan peralatan. Sekarang pun demikian, dalam masa persiapan dan siaga darurat bencana hidrometeorologi basah kepada Jawa Timur,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhi Karyono.

Pihaknya menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada BNPB yang terus mendukung tidak hanya pada masa tanggap darurat, namun sejak fase kesiapsiagaan. Sehingga diharapkan upaya awal ini dapat berjalan dengan maksimal.

Adhi menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melaksanakan dua kali apel kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana hidrometeorologi basah, yaitu apel siaga peralatan serta personel yang terdiri dari lintas sektor.

“Tidak hanya itu, kami juga memperkuat sistem penanggulangan bencana melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur terkait Klaster Logistik Tahun 2023 – 2024 sehingga alokasi bantuan ketika tanggap darurat dapat terorganisir dengan baik,” jelas Adhi.

Rapat Koordinasi Antisipasi dan Siaga Bencana Hidrometeorologi Tahun 2024 di wilayah Provinsi Jawa Timur turut dihadiri oleh Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Tenaga Ahli BNPB serta diikuti oleh 120 orang yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten/Kota serta organisasi perangkat daerah se-Jawa Timur.

Kenapa Intensitas Gempa di Indonesia Meningkat? Ini Kata Pakar Geologi UGM

YOGYAKARTA – Intensias gempa bumi di Indonesia dalam beberapa tahun mengalami peningkatan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 10.000 kali gempa dalam satu tahun sejak 2013.

Guru Besar Geologi UGM, Wahyu Wilopo mengatakan, tingginya intensitas gempa ini karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau cincin api Pasifik. Selain ini berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dunia.

“Indonesia rawan gempa karena berada di cincin api pasifik dan di pertemuan tiga lempeng tektonik dunia,” kata dia pada Sekolah Wartawan di UGM, Jumat (13/1/2024).

Lantaran berada di daerah rawan gemoa, masyarakat butuh upaya mitigasi bencana. Setidaknya ada empat prinsip pendekatan perencanaan di daerah rawan gempa bumi. Pertama, mengumpulkan informasi bahaya oatahan aktif yang akurat. Kedua, rencanakan untuk menghindari bahaya zona patahan sebelum pengembangan dan pembagian ruang.

Ketiga, mengambil pendekatan berbasis risiko di wilayah yang sudah dikembangkan atau ditempati. Keempat, komunikasikan risiko di kawasan terbangun pada zona patahan.

“Untuk daerah yang telah dihuni perlu adanya penguatan gedung, peningkatan ketangguhan, dan kesiapsiagaan masyarakat,” terangnya.

Mitigasi bencana perlu dilakukan dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, swasta, akademisi, media massa. Hal ini perlu dilakukan untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.