Table Top Exercise (TTX) Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit Online

Picture3

AKSES LAMAN MATERI

{tab title=”KAK” class=”green”}


Rabu-Kamis, 27-28 Juli 2022


Pengantar

Melalui dokumen Hospital Disaster Plan (HDP), Rumah Sakit harus memahami bahwa dokumen HDP sebagai salah satu bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Artinya dokumen yang disusun harus seoperasional mungkin sehingga saat bencana terjadi tidak mengganggu layanan rutin sehari – hari. Ketika RS menghadapi bencana tentunya banyak sektor dan lintas unit yang terlibat. Umumnya penyusunan dokumen HDP dikerjakan beberapa orang saja di rumah sakit sementara dokumen ini penting untuk diketahui seluruh staf RS. Setelah dokumen ini disosialisasikan kepada pihak internal maka dokumen disaster plan juga penting diuji keoperasionalannya, apakah dapat diimplementasikan, serta dipahami oleh semua petugas yang terlibat dalam struktur pengorganisasian. Salah satu cara yang dilakukan menguji keoperasionalan dokumen melalui Table Top Exercises (TTX). TTX dirancang untuk menguji kemampuan teoritis dan manajemen (berdasarkan dokumen) petugas rumah sakit untuk menanggapi situasi bencana yaitu bagaimana mereka memahami tugas dan fungsi mereka saat bencana. Kemudian meninjau dan mendiskusikan kembali tindakan apa saja yang perlu ditambahkan dalam dokumen.

Tujuan

  1. Menguji dokumen hospital disaster plan apakah sudah operasional dan sesuai dengan kapasitas daerah.
  2. Menguji kemampuan teoritis dan manajemen (berdasarkan dokumen) personel rumah sakit dalam memahami tugas dan fungsi mereka saat bencana.
  3. Meninjau dan mendiskusikan kembali tindakan apa saja yang perlu ditambahkan dalam dokumen.

Proses Kegiatan

  • Persiapan TTX dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan untuk mendiskusikan kelengkapan dokumen perencanaan penanggulangan bencana yang dimiliki peserta, mendiskusikan skenario TTX dan metode pelaksanaan TTX
  • Pelaksanaan TTX akan dilaksanakan selama 2 kali pertemuan, pertemuan 1 TTX dengan menguji SOP melalui 3 skenario kejadian bencana dan pertemuan kedua evaluasi TTX.

Output Kegiatan

Setelah melalui proses TTX RS akan mengetahui hal apa saja yang perlu ditambahkan atau direvisi dalam dokumen Hospital Disaster Plan untuk memperkuat sistem manajemen dan koordinasi RS

 

Tenaga Konsultan dan Asisten Konsultan

  1. dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD
  2. dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
  3. Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep
  4. dr. Bella Donna, M.Kes
  5. Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
  6. Madelina Ariani, SKM, MPH
  7. Happy Pangaribuan, SKM, MPH

 

Pelaksanaan Table Top Exercises

Hari/Tanggal   : Rabu-Kamis / 27 dan 28 Juli 2022
Pukul             : 09.00 – 12.00 WIB
Link Zoom      :

Waktu (WIB) Kegiatan Evaluator
Hari 1 : Rabu, 27 Juli 2022
09.00 – 09.10 Pengantar dan Pembukaan

dr. Bella Donna, M.Kes

Moderator:

Happy R Pangaribuan, MPH

09.10 – 09.20 Pemaparan skenario Madelina Ariani, MPH
09.20 – 09.30 

Persiapan pembagian room

 (3 room)

 

09.30 – 10.20

Sesi 1 : 
Rencana RS menghadapi situasi awal terjadi bencana dan aktivasi tim bencana.

Skenario waktu kejadian : 0-24 pasca bencana

Room 1 : 3 RS
Room 2 : 3 RS
Room 3 : 3 RS

Room 1 :

  • dr. Bella Donna, M.Kes
  • Happy R Pangaribuan, MPH

Room 2 :

  • dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD
  • apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid

Room 3 :

  • dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
  • Madelina Ariani, MPH
10.20 – 11.10

Sesi 2 :
Operasional

Skenario waktu kejadian : 24-48  jam pasca bencana
Room 1 : 3 RS
Room 2 : 3 RS
Room 3 : 3 RS

11.10 – 12.00

Sesi 3 :
Manajemen Relawan

Skenario waktu kejadian : 3 hari pasca bencana
Room 1 : 3 RS
Room 2 : 3 RS
Room 3 : 3 RS

Hari 2 : Kamis, 28 Juli 2022
09.00 – 09.10 Review hari 1

Tim Evaluator
Moderator : Happy R Pangaribuan

09.10 – 09.55

09.55 – 10.40

10.40 – 11.25

Evaluasi dan Diskusi Peserta Room 1

Evaluasi dan Diskusi Peserta Room 2

Evaluasi dan Diskusi Peserta Room 3

Evaluator dan Peserta

Evaluator :

  • dr. Bella Donna, M.Kes
  • Madelina Ariani, MPH
  • apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid
  • Happy R Pangaribuan, MPH
11.40 – 12.00 Rencana Tindak Lanjut  
12.00 Penutupan  

Biaya Kepesertaan

Biaya kepesertaan sebesar Rp. 3.000.000 per instansi RS (Anggota tim maksimal 10 orang/institusi untuk paket TTX online). Peserta akan mendapatkan sertifikat ber SKP PAKKI, IAKMI dan IDI.

{tab title=”Reportase” class=”red”}

{slider title=”28 Juli 2022″ class=”yellow”}

Reportase

Pelatihan Table Top Exercise

27 Juli 2022

Picture3

Pada Rabu (27/7/2022), diadakan Table Top Exercise (TTX) secara daring oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada secara daring. Kegiatan ini dimoderatori oleh Happy Pangaribuan, MPH dan menghadirkan sejumlah evaluator yaitu Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Madelina Ariani, MPH, dr. Bella Donna, dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK, serta dr. Hendro Wartatmo, SpB-KBD. Pelatihan TTX diikuti total 9 peserta rumah sakit, antara lain: RS Kesehatan Kerja Jawa Barat, RSUD Majalengka, RSUD Pandega Pangandaran, RS Persahabatan, RS Zainal Abidin Aceh, RSUD Sleman, RSUD Karanganyar, RSUD dr. Gondo Suwarno, RSUD Dungus Madiun. Dari total 9 peserta tersebut, terdapat 2 peserta yang tidak hadir.

Acara diawali dengan pengantar dan pembukaan oleh Bella Donna. Pihaknya menyampaikan pada TTX ini nantinya akan mengevaluasi apakah dokumen Hospital Disaster Plan (HDP) dapat digunakan saat kondisi bencana. Pihaknya berharap para peserta dapat antusias dalam diskusi maupun tanya jawab dan tidak sungkan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para evaluator. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan skenario oleh Madelina dan pembagian ruang zoom. Para peserta dibagi ke dalam 3 ruang yang masing – masing berisi 3 peserta rumah sakit dan 2 evaluator. Terdapat 3 skenario rumah sakit dalam menghadapi situasi awal terjadi bencana yang akan dibahas di setiap ruangan, yaitu 1. Skenario waktu kejadian 0- 2 4 jam pasca bencana, 2. Operasional skenario waktu kejadian 24 – 48 jam pasca bencana, 3. Manajemen relawan skenario waktu skenario waktu kejadian 3 hari pasca bencana.

Di dalam ruangan masing – masing, para peserta diberi pertanyaan oleh para evaluator terkait dengan dokumen HDP mereka dan disesuaikan dengan skenario bencana. Para peserta menjawab dengan antusias, saling mengisi jawaban oleh anggota tim, dan menambahkan jika ada informasi yang kurang. Di akhir sesi, para evaluator telah mencatat hal – hal yang perlu diperbaiki dan ditambahkan terkait dokumen HDP mereka. Pertemuan dilanjutkan esok hari yaitu Kamis (28/7/2022) untuk evaluasi secara keseluruhan.

  

Reporter:

dr. Satrio Pamungkas

Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM

{slider title=”28 Juli 2022″ class=”blue”}

Reportase Pelatihan

Table Top Exercise

28 Juli 2022

ttx 28

Pada Kamis (28/07/2022) diadakan pertemuan kedua kegiatan Table Top Exercise (TTX) dokumen perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit secara daring. Acara dimoderatori oleh Happy Pangaribuan, MPH. Inti kegiatan hari ini adalah penyampaian evaluasi oleh para evaluator antara lain Happy Pangaribuan, MPH, Madelina Ariani, MPH, dan Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Para evaluator akan memberikan masukan sesuai dengan hasil diskusi kelompok peserta pada hari sebelumnya. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh 7 peserta rumah sakit dari total 9 peserta rumah sakit.

Evaluasi yang disampaikan dari berbagai aspek, yaitu pengaktifan tim Hospital Disaster Plan (HDP)/ bencana, operasional, fasilitas rusak dan kekurangan SDM, sistem rujukan, penerimaan relawan, pengumpulan data dan informasi, dan deaktivasi. Tiap peserta rumah sakit mendapatkan evaluasi yang berbeda sesuai dengan kesiapan dokumen perencanaan penanggulangan bencana. Peserta dapat menyimak evaluasi peserta lain sehingga dapat sekaligus memahami kekurangan apa yang dimiliki dan perlu diperbaiki.

Di akhir sesi, para evaluator mengajak para peserta untuk membuat rencana tindak lanjut. Rencana tindak lanjut berisi kegiatan ke depan yang akan dilakukan setelah mendapatkan hasil TTX, target waktu yang akan dicapai, petugas penanggung jawab di tiap rumah sakit, dan informasi tambahan seperti ada rencana akreditasi dalam waktu dekat. Dari rencana tindak lanjut ini, harapannya para peserta dapat memperbaiki dokumen HDP mereka agar siap untuk digunakan jika terjadi bencana.

Reporter

dr. Satrio Pamungkas – Divisi Manajemen Bencana, PKMK UGM

{/sliders}

{/tabs}

Diskusi Kurikulum Disaster Health Management: Poltekkes Kemenkes Palu Kunjungi PKMK UGM

kurikulum bencana

Diskusi Kurikulum Disaster Health Management  :

Poltekkes Kemenkes Palu Kunjungi PKMK UGM

21 Juli 2022

kurikulum bencana

Dok. PKMK FK – KMK UGM: suasana diskusi

Dalam pengembangan kurikulum disaster nursing di prodi pendidikan Ners, termasuk mempertajam kekhususan Poltekkes Kemenkes Palu pada bencana wilayah pantai. Maka tujuan agenda kunjungan ke Divisi Manajemen Bencana Kesehatan (MBK) PKMK FK – KMK UGM ini adalah untuk memperdalam lagi kompetensi dan kurikulum terkait Manajemen Bencana Kesehatan atau Disaster Health Management (DHM) untuk tenaga kesehatan yang diantaranya mahasiswa didik di jurusan keperawatan ini, ungkap Ketua Jurusan Pendidikan Profesi Ners, Doktor Jurana.

Hal ini disambut baik oleh Kepala Divisi MBK PKMK, dr. Bella Donna. PKMK yang selama ini fokus mengembangkan DHM baik dalam kurikulum di S1 dan S2 kesehatan, termasuk pendidikan berkelanjutan di luar kampus dalam bentuk dinas kesehatan dan Hospital Disaster Plan sebenarnya sedang menguatkan fungsi manajemen ini dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan untuk semua tenaga kesehatan, ujar dr. Bella Donna, M.Kes.

Konsultan Divisi MBK, dr. Bella Donna, Gde Yulian, apt. M.Epid dan Madelina Ariani, SKM, MPH bergantian menjelaskan mengenai konsep DHM, update kebijakan penanganan bencana dan krisis kesehatan di Indonesia dan update perkembangan kompetensi DHM untuk tenaga kesehatan. Diskusi padat dan berbobot kemudian mengalir dari kedua belah pihak. “Paparan materi dan diskusi kali ini membuka pikiran kami untuk mengembangkan poin – poin materi apa yang akan kami tambahkan untuk mahasiswa kami di Palu,” ucap Ismunandar, Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Palu.

Reporter: Madelina A

Percepat Tangani Bencana, BPBD Klaten Luncurkan Penamas

KLATEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten meluncurkan sistem aplikasi berbasis web, Pelaporan Bencana Masyarakat (Penamas). Aplikasi yang dapat diakses melalui bit.ly/pena-mas tersebut memudahkan masyarakat untuk melaporkan kejadian bencana yang berada di wilayah Kabupaten Klaten, sehingga mempercepat penanganan bencana.

“Penamas pelaporan bencana masyarakat dapat menggunakan HP (gawai) dan dapat mempercepat langkah evakuasi tim BPBD. Sehingga meminimalisasi terjadinya banyak korban dari bencana,” ujar Bupati Klaten Sri Mulyani saat peluncuran aplikasi.

Sri Mulyani mengatakan, aplikasi Penamas sangat bermanfaat, terlebih Kabupaten Klaten sesuai letak geografisnya merupakan daerah rawan bencana.

“Penamas dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat Kabupaten Klaten untuk memberikan pelaporan bencana di manapun mereka berada. Untuk segera ditindaklanjuti penanganannya maupun memberikan bantuan logisitik, sehingga pelayanan publik dapat ditingkatkan kualitas dan kecepatannya,” jelas Sri Mulyani.

Sementara Kepala BPBD Klaten Sri Winoto menyampaikan, aplikasi Penamas dapat memberikan kemudahan tidak hanya bagi masyarakat Klaten, tetapi masyarakat luas yang saat terjadi bencana berada di wilayah Klaten.

“Saat masyarakat mengetahui ada bencana, dapat secara langsung saat kejadian (realtime) mengakses aplikasi berbasis web Penamas . Sehingga dengan adanya laporan masuk, maka akan direspon cepat oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD,” ujarnya.

Adapun bencana yang dapat dilaporkan antara lain bencana angin ribut, banjir, tanggul jebol, gempa bumi, tanah longsor, dan lainnya.

“Dengan mudahnya aplikasi Penamas, Harapan kami (BPBD) secepatnya merespon dan menangani bencana. Hal ini juga sebagai upaya kami dalam mewujudkan peningkatan pelayanan publik,” pungkasnya.

Secara daring, Deputi Bidang Pencegahan Pusat Badan Nasinonal Pengendalian Bencana (BNPB), Prashinta Dewi menyampaikan apresiasi kepada Kabupaten Klaten atas peluncuran aplikasi Penamas berbasis web.

“Aplikasi ini diharapkan bisa menjadi andalan dalam pelayanan saat ada bencana dan sebagai sarana edukasi kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat,” ujarnya.

Prashinta berharap, masyarakat dapat memanfaatkan dengan baik aplikasi tersebut untuk memberikan informasi laporan kejadian bencana.

BNPB Pastikan Penanganan Bencana di Garut Berjalan Optimal

REPUBLIKA.CO.ID,GARUT — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengunjungi sejumlah wilayah terdampak bencana di Kabupaten Garut, Selasa (19/7/2022). Melalui kunjungan itu, ia ingin memastikan penanganan bencana di daerah itu berjalan optimal. 

“Saya datang ke sini atas perintah Bapak Presiden untuk memastikan tahap penanganan bencana, khususnya pada masa tanggap darurat bencana, ini bisa berhalan lancar, tertib, dan sebagaimana mestinya,” kata dia di Kabupaten Garut, Selasa.

Menurut dia, saat ini kondisi wilayah yang sempat diterjang bencanabanjir bandang pada Jumat (15/7/2022), sudah tak lagi digenangi air. Warga yang terdampak juga telah membersihkan rumahnya masing-masing.

Suharyanto menyebutkan, tak ada korban jiwa akibat bencana yang terjadi di Kabupaten Garut. Adapun adanya satu orang yang meninggal dunia, menurut dia, itu karena sakit stroke, bukan karena langsung terdampak bencana.

Kendati demikian, bencana itu membuat sejumlah infrasktuktur rusak, termasuk rumah warga. Berdasarkan data resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut per 18 Juli 2022, bencana yang terjadi pada Jumat malam itu berdampak terhadap 4.328 unit rumah, 17 unit fasilitas pendidikan, 36 unit fasilitas ibadah, tiga unit fasilitas kesehatan, 33 unit fasilitas umum, 23 unit kantor pemerintahan, 81 unit kios, 10.103 meter TPT, 43 unit jembatan, 14.241 meter jalan, 4 juta meter persegi lahan pertanian atau kebun, 5 hektare hutan, 225 unit peternakan, 17 ribu hektare kolam, dan 77 unit konstruksi irigasi.

“Kami akan melakukan penanganan,” kata Suharyanto. 

Ia mengatakan, Pemkab Garut telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari. Selama masa tanggap darurat bencana, kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak dipastikan akan terpenuhi.

“Keselamatan masyarakat terdampak akan jadi prioritas utama,” kata dia.

Setelah masa tanggap darurat bencana berakhir, pihaknya akan melakukan kajian terkait kebutuhan yang masih diperlukan warga. Pemerintah setempat dibantu aparat TNI dan Polri disebur akan melakukan langkah pascabencana hingga tuntas.

Sebelumnya, bencana banjir bandang dan longsor terjadi di 14 kecamatan yang berada di Kabupaten Garut pada Jumat malam. Berdasarkan data terkahir, terdapat 6.314 KK atau 19.546 jiwa terdampak dan 242 KK atau 785 jiwa mengungsi akibat bencana tersebut.

Reportase Dialog Kebijakan Rapid Review of Research Evidence on COVID-19 : The Efectiveness of Incident Command System (ICS) Implementation during th COVID-19 Pandemi

ICS cochrane

ICS cochrane

Kegiatan ini bertujuan untuk diseminasi hasil sementara rapid review dan untuk mendapatkan masukan dari para instansi terkait untuk pengembangan studi. Kajian ini dilaksanakan atas dasar bahwa efektivitas sistem komando untuk bencana non alam seperti pandemi PKMK FK – KMK UGM bekerja sama dengan COCHRANE Indonesia melakukan kajian koordinasi penanganan COVID-19 khususnya bagaimana efektivitas ICS dalam penanganan COVID-19. Sesi awal dimulai dengan tim rapid review yang menyampaikan bagaimana pendekatan ICS ini diterapkan di Indonesia

SELENGKAPNYA

Bos BNPB Terus Gaungkan Mitigasi Bencana Berbasis Ekosistem

Jakarta, CNBC Indonesia – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengungkapan sederet permasalahan yang memicu bencana hidrometereologi basah berupa banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Hal itu diungkapkan Suharyanto dalam Green Economic Forum CNBC Indonesia, Senin (27/6/2022).

“Ada tiga hal, yaitu alih fungsi lahan, urbanisasi, dan kegiatan ilegal,” ujarnya.

Menurut Suharyanto, BNPB mengedepankan solusi berbasis ekosistem alam dalam konteks ekonomi hijau. Dalam upaya mitigasi bencana, green economy mendorong peningkatan kualitas manusia dalam jangka panjang tanpa mengurangi daya dukung lingkungan untuk mengurangi potensi bencana.

“Konsep ini selaras dengan mitigasi bencana berbasis ekosistem misalnya penanaman vegetasi di kawasan longsor,” kata Suharyanto.

Dia menambahkan, vegetasi yang ditanam pun bernilai ekonomis.

“BNPB akan terus menggaungkan konsep mitigasi berbasis ekosistem ini sebagai solusi mitigasi bencana hidrometeorologi basah,” ujar Suharyanto.

Pemprov DKI Gelar Koordinasi Mitigasi Kebencanaan, Wagub Ariza: Tanggung Jawab Bersama Mesti Dijaga

Warta Ekonomi, Jakarta – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menggelar rapat koordinasi daerah (Rakorda) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI selama tiga hari dengan tema Kolaborasi Menuju Jakarta sebagai Kota Global Tangguh Bencana.

Riza juga memaparkan bahwa kegiatan tersebut penting dilakukan mengingat bencana alam yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Dalam hal tersebut, Riza juga mengatakan bahwa kegiatan tersebut berguna untuk meningkatkan mitigasi bencana yang terintegrasi dan terencana dengan baik.

Untuk itu, kata Riza, Rakorda PB ini diharapkan menjadi sarana untuk penguatan kolaborasi dan sinergitas lembaga-lembaga atau seluruh unsur pentahelix penanggulangan bencana di Kota Jakarta.

“Terima kasih sebesar-besarnya, khususnya BPBD DKI Jakarta, atas kesungguhan dan kerja kerasnya selama ini bagi kemanusiaan, bersama berbagai pihak, seperti relawan, aparat, dan masyarakat. Sehingga, kinerja ini makin terasa. Kerja keras dan dedikasi itu akan menjadi tanggung jawab kita ke depan untuk terus meningkatkan penyelenggaraan penanggulangan bencana yang terbaik. Dengan total penduduk mencapai lebih dari 10 juta jiwa, Jakarta memiliki kerentanan terhadap berbagai jenis bencana,” papar Riza dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/7/2022).

Riza juga mengatakan bahwa Rakorda mestinya bisa mengidentifikasi berbagai hambatan dalam program penanggulangan bencana yang sudah berjalan di Jakarta. Dengan demikian, kata Riza, Rakorda diharapkan bisa merumuskan rencana dan menghadirkan integrasi rencana yang strategis.

“Pada akhirnya, kami mengajak kepada semua untuk bersama menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Semoga apa yang kita lakukan seluruhnya akan memberikan manfaat bagi DKI Jakarta sebagai provinsi tangguh dalam menghadapi bencana, sekaligus membangun semangat kita untuk terus berjuang demi kemanusiaan,” ucap Riza.

Sementara itu, terdapat unsur koordinasi penanggulangan bencana di Kota Jakarta, di antaranya, pertama memperkuat integrasi penanggulangan bencana jangka menengah dan menjabarkannya ke dalam rencana strategis, terutama bagi BPBD dan organisasi perangkat daerah terkait.

Kedua, memastikan penyelenggaraan penanggulangan bencana dengan dukungan anggaran yang memadai secara cepat, tepat, dan bertanggung jawab sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Ketiga, terus berupaya meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia terkait penanggulangan bencana melalui penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan, di berbagai titik wilayah Kota Jakarta, terutama daerah rawan bencana.Keempat, pelaksanaan pembentukan dan pengembangan kampung tangguh bencana di berbagai wilayah Kota Jakarta, dalam rangka mendidik masyarakat menjadi warga yang siap siaga dan memiliki kemandirian dalam menanggulangi bencana.

Kelima, meningkatkan kualitas data, informasi, pelaporan kejadian bencana melalui optimalisasi pemanfaatan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, serta memanfaatkan kanal-kanal media sosial yang cepat dan efektif sampai ke masyarakat Kota Jakarta.

Ada dua hal yang menjadi prioritas bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan semua pihak dalam penanggulangan bencana, yaitu memastikan tidak ada korban Jiwa dengan mitigasi yang baik melalui Siaga, Tanggap dan Galang, kemudian pemulihan (recovery) dengan percepatan memulihkan kondisi kembali normal sehingga semua yang terdampak dapat kembali menjalani kehidupannya.

Adapun, respons cepat yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta adalah bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk penanganan genangan air di sejumlah wilayah di Jakarta, di antaranya menerjunkan petugas-petugas lapangan untuk melakukan penyedotan air agar cepat surut, yang dibantu oleh Dinas SDA, Dinas Damkar, dan PPSU setempat.

Selain itu, mendata lokasi-lokasi terdampak berikut kebutuhan yang diperlukan di lapangan. Lalu, mengevakuasi warga rentan yang membutuhkan pertolongan. Kemudian melakukan koordinasi intensif dengan BMKG dalam hal update informasi cuaca, dan stakeholder lain untuk antisipasi ke depan.

Langkah-langkah Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

KOMPAS.com – Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin.

Kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, el nino, la nina, tanah longsor, angin puyuh, putih beliung, gelombang panas, dan gelombang dingin adalah beberapa contoh hidrometeorologi.

Bencana-bencana tersebut termasuk bencana hidrometeorologi karena disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor hidrometeorologi.

Dilansir dari Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM), perubahan cuaca hanyalah pemicu, sedangkan penyebab bencana hidrometeorologi yang utama adalah kerusakan lingkungan yang masif akibat daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Pencegahan hidrometeorologi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk melakukan mitigasi sebagai upaya pencegahan hidrometeorologi.

Menurut BNPB, langkah-langkah pencegahan hidrometeorologi yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah:

  • Memangkas daun dan ranting pada pohon-pohon besar
  • Tidak membuang sampah sembarangan
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Membersihkan saluran air hingga sungai
  • Selalu memperbarui informasi prakiraan cuaca dari sumber yang kompeten

Sedangkan, upaya pencegahan hidrometeorologi jangka panjang yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah menanam pohon yang dapat mencegah terjadinya tanah longsor sekaligus mengikat air tanah sebagai persediaan saat kemarau panjang.

Contoh jenis-jenis pohon yang ditanam untuk mencegah tanah longsor dan memasok persediaan air tanah adalah pohon karet, matoa, jabon putih, sukun, mahoni, dan sebagainya.

Dampak bencana hidrometeorologi

Setiap bencana memiliki dampak bagi manusia maupun makhluk hidup lain. Berikut adalah beberapa dampak bencana hidrometeorologi:

  • Kerusakan sarana dan prasarana
    Bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin putih beliung, tanah longsor, dan sebagainya dapat merusak sarana dan prasarana, seperti jalan raya, jembatan, dan bangunan perkantoran.
  • Menyebabkan korban jiwa
    Tak jarang bencana hidrometeorologi menelan korban jiwa, terutama jika bencana terjadi di wilayah padat penduduk.
  • Penyakit pascabencana
    Dampak bencana hidrometeorologi yang juga dirasakan masyarakat adalah munculnya berbagai penyakit pascabencana, seperti diare, tifus, dan lain-lain.

Langkah-langkah Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

KOMPAS.com – Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin.

Kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, el nino, la nina, tanah longsor, angin puyuh, putih beliung, gelombang panas, dan gelombang dingin adalah beberapa contoh hidrometeorologi.

Bencana-bencana tersebut termasuk bencana hidrometeorologi karena disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor hidrometeorologi.

Dilansir dari Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM), perubahan cuaca hanyalah pemicu, sedangkan penyebab bencana hidrometeorologi yang utama adalah kerusakan lingkungan yang masif akibat daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Pencegahan hidrometeorologi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk melakukan mitigasi sebagai upaya pencegahan hidrometeorologi.

Menurut BNPB, langkah-langkah pencegahan hidrometeorologi yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah:

  • Memangkas daun dan ranting pada pohon-pohon besar
  • Tidak membuang sampah sembarangan
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Membersihkan saluran air hingga sungai
  • Selalu memperbarui informasi prakiraan cuaca dari sumber yang kompeten

Sedangkan, upaya pencegahan hidrometeorologi jangka panjang yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah menanam pohon yang dapat mencegah terjadinya tanah longsor sekaligus mengikat air tanah sebagai persediaan saat kemarau panjang.

Contoh jenis-jenis pohon yang ditanam untuk mencegah tanah longsor dan memasok persediaan air tanah adalah pohon karet, matoa, jabon putih, sukun, mahoni, dan sebagainya.

Dampak bencana hidrometeorologi

Setiap bencana memiliki dampak bagi manusia maupun makhluk hidup lain. Berikut adalah beberapa dampak bencana hidrometeorologi:

  • Kerusakan sarana dan prasarana
    Bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin putih beliung, tanah longsor, dan sebagainya dapat merusak sarana dan prasarana, seperti jalan raya, jembatan, dan bangunan perkantoran.
  • Menyebabkan korban jiwa
    Tak jarang bencana hidrometeorologi menelan korban jiwa, terutama jika bencana terjadi di wilayah padat penduduk.
  • Penyakit pascabencana
    Dampak bencana hidrometeorologi yang juga dirasakan masyarakat adalah munculnya berbagai penyakit pascabencana, seperti diare, tifus, dan lain-lain.