Mantrijeron Ditetapkan Menjadi Kampung Siaga Bencana

Mantrijeron Ditetapkan Menjadi Kampung Siaga Bencana

YOGYA – Dinas Sosial DIY menetapkan Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron, Yogya, sebagai Kampung Siaga Bencana, Minggu (9/8/2015). Penetapan Mantrijeron menjadi pencanangkan kampung siaga bencana ketiga di Yogya.

Kepala Dinas Sosial DIY, Untung Sukaryadi, mengatakan peran dari kampung siaga bencana ini sangat dibutuhkan. Kampung siaga bencana ini merupakan penanggulan bencana berbasis masyarakat dan didukung oleh semua pemangku kepentingan, khususnya dari kepolisian, TNI,

Ia mengatakan, pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) adalah dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menanggapi bencana yang kerap kali terjadi di Yogya.

“Yogya adalah tidak ada sejengkal tanah pun yang tak terancam bencana, sehingga masyarakat menjadi garda depan yang dapat mengatasi pertama kali, karena pemerintah tidak dapat langsung turun secara langsung,” ujar Untung, Minggu (9/8/2015).

KSB Mantrijeron dilengkapi dengan Gardu Sosial dan Lumbung Logistik. Gardu Sosial berfungsi untuk tempat koordinasi, konsolidasi, dan musyawarah antar warga masyarakat, untuk membicarakan langkah-langkah apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.

Lumbung Logistik pun dibentuk sebagai Buffer Stock, sarana penyimpanan peralatan-peralatan penanggulanan bencana maupun logistik.

Lumbung logistik meliputi tenda pengungsi, tenda keluarga, tenda gulung, matra, selimut, food ware, kids ware, family kota, peralatan dapur umum, juga logistik seperti mie instan, sarden, kecap, minyak goreng, sosis, abon, dendeng, kornet dan air mineral.

Gardu Sosial berfungsi untuk koordinasi, dan konsolidasi, musyawarah antar warga masyarakat. Gardu logistik berisi kelengkapan-kelengkapan logistik yang dibutuhkan saat terjadi bencana, seperti peralatan-peralatan,” ujar Untung.

Untung berharap adanya KSB ini agar masyarakat lebih mengenali bencana, dan penanggulangannya secara langsung.

“Bencana alam disekitar banyak sekali, disini paling besar bencana air, lantas bagaimana penanggulan suata jenis bencana, disini dibedakan antara laka air dan gempa, ataupun gunung merapi beda sekali karakternya, maka dari itu dikenalkan kepada masyarakat, jenis-jenisnya, dan penanggulangannya,” ujarnya.

Sedangkan Wakil Ketua Forum Koordinasi Tagana DIY, Budiman Setya Nugroho, mengatakan, Taruna Tanggap Bencana (Tagana) dibawah Dinsos DIY bertindak sebagai pendamping dan pemateri kepada masyarakat,

Dalam acara penetapan KSB Mantrijeron, juga sekaligus diadakan simulasi terjadinya bencana banjir di Sungai Winongo, yang diikuti oleh warga Gedongkiwo, bersama personel Tagana, Dinas Sosial, Linmas maupun Kepolisian.

Simulasi berawal ketika sungai Winongo meluap dan menyebabkan banjir. Tim KSB yang siap siaga, lalu berkumpul, berkoordinasi di Gardu Sosial, lalu bergerak melakukan evakuasi secara langsung.

“Semisal terjadi bencana nanti, masyarakat bisa mengatasi, karena secara logistik ada, secara SDM juga sudah ada. Kalau di kota baru ketiga ini dicanangkan KSB. Nanti masih ada sembilan desa yang ada DIY yang akan dibuat kampung siaga bencana serupa,” ujar Budiman. (Tribunjogja.com)

 

14 Orang Tewas Akibat Topan Soudelor di China, Ratusan Ribu Diungsikan

14 Orang Tewas Akibat Topan Soudelor di China, Ratusan Ribu Diungsikan

Beijing, – Topan Soudelor melanda wilayah pantai timur China dan menewaskan 14 orang. Ratusan ribu warga pun diungsikan.

Ke-14 orang tersebut tewas setelah terseret arus banjir ataupun tertimpa reruntuhan rumah yang ambruk akibat tanah longsor. Sebanyak empat orang lainnya saat ini belum ditemukan. Demikian disampaikan otoritas di provinsi Zhejiang seperti diberitakan kantor berita resmi China, Xinhua dan dilansir Reuters, Senin (10/8/2015).

Topan ini telah memaksa lebih dari 188.400 orang meninggalkan rumah-rumah mereka di wilayah Zhejiang dan sekitar 320 ribu orang di wilayah Fujian pada Minggu, 9 Agustus waktu setempat.

Lebih dari 530 penerbangan juga terpaksa dibatalkan dan 191 kereta berkecepatan tinggi terhenti.

Beberapa hari sebelumnya, topan ini telah menewaskan enam orang di Taiwan, sebelum kemudian bergerak melintasi Selat Taiwan dan menghantam daratan provinsi Fujian pada Sabtu, 8 Agustus larut malam waktu setempat. Topan ini kemudian menuju ke wilayah tetangga, Zhejiang dan Jiangxi pada Minggu, 9 Agustus waktu setempat.

Di Taiwan, selain menewaskan enam orang, topan ini juga menyebabkan empat orang hilang dan nyaris 400 orang lainnya terluka. Menurut perusahaan listrik Taiwan Power Co, setengah juta orang juga masih mengalami mati listrik di Taiwan pada hari Minggu (9/8) kemarin.

Topan dahsyat Soudelor ini telah melemah menjadi badai tropis saat menuju daratan China.

Hari Kemanusiaan Sedunia

Pembaca website bencana kesehatan, senang sekali diawal Agustus ini kita dapat bertemu kembali. Tahukah pembaca sekalian bahwa pada tanggal 19 Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia atau World Humanitarian Day? Kali ini WHO mengajak seluruh warga dunia yang pernah merasa manfaat dari kerja tenaga kesehatan baik dalam konflik, situasi bencana, atau situasi sulit di daerah terpencil tetapi tetap berjuang dan bekerja untuk kesehatan masyarakat untuk terlibat menuliskan kisah mereka dengan mengirimkan ke [email protected] pembaca juga dapat menyimak tujuan lengkapnya pada link berikut

Minggu ini kami coba membagikan informasi mengenai Pengukuran kesehatan masyarakat pada masa tanggap darurat atau Community Asessment for Public Health Emergency Response (CASPER). CASPER dapat digunakan dengan terlebih dahulu mengaktifkan software epiinfo pada PC pengguna dan selanjutnya tools ini dapat digunakan untuk survey secara cepat pada masa tanggap darurat bencana ataupun digunkan pada masa normal. Silakan pembaca menyimak file presentasi Selengkapnya

Pembaca sekalian tentu masih ingat dengan kejadian bencana gempa Nepal beberapa bulan silam? Tim kami, dr. Hendro Wartatmo berkesempatan untuk berkunjung ke Nepal dan melakukan pemulihan disana. Bagaimana ceritanya dan apa yang dapat kita pelajari untuk perkembangan manajemen bencana di Indonesia? Silakan pembaca menyimak Reportase kami

Tidak terasa tinggal 20 hari lagi kita akan berkumpul pada event besar para penggiat dan peneliti kebijakan kesehatan pada Forum Nasional Kebijakan Kesehatan Indonesia pada 24-27 Agustus mendatang di Padang. Pembaca sekalian, khususnya yang berada di Padang dan sekitarnya yang berminat dan selam ini berkecimpung dalam penanggulangan bencana dan pendidikan bencana sektor kesehatan untuk dapat hadir pada Kelas Pokja Penanggulangan Bencana. Silakan pembaca menyimak TOR lengkapnya

Community of Practice (COP) mengenai Hospital Disaster Plan yang dikembangkan oleh Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM masih memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat rumah sakit, tim penanggulangan bencana rumah sakit dan daerah, perguruan tinggi kesehatan, atau siapapun Anda yang tertarik untuk belajar dan berdiskusi mengenai Hospital Disaster Plan untuk bergabung dalam program ini. Silakan bagi pembaca yang ingin mengetahu lebih lanjut mengenai COP HDP ini bisa mengklik pada link disamping kanan website ini atau pada link berikut

 

Coomunity of Practice Manjemen Bencana

http://sp.beritasatu.com/media/images/original/20120917104544172.jpg

Hasil penelitian Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM tentang kesiapsiagaan penanggulangan bencana di rumah sakit di beberapa daerah seperti Ende (Nusa Tenggara Timur), Seram (Bagian Barat Provinsi Maluku) serta di Kabupaten Aceh Timur menunjukkan bahwa kesiapsiagaan rumah sakit dalam penanggulangan bencana masih pada level rendah. Rumah sakit belum memiliki rencana penanggulangan bencana (Hospital Disaster Plan). Masih banyak rumah sakit yang belum memahami bagaimana untuk memulai melaksanakan hospital disaster plan. Beberapa rumah sakit memiliki dokumen hospital disaster plan, tetapi hanya sebatas dokumen saja untuk memenuhi persyaratan akreditasi rumah sakit. Dokumen hospital disaster plan yang ada tidak operasional.

Bagi Bapak/Ibu yang tertarik berdiskusi lebih lanjut mengenai hospital disaster plan ini, dapat bergabung melalui Community of Practice Hospital Disaster Plan (COP HDP). Pada COP HDP ini kita akan memaparkan materi-materi yang terkait hospital disaster plan dari para pakar. Bapak/Ibu sekalian juga dapat mendiskusikan permasalahan terkait HDP yang terjadi di rumah sakit Bapak/Ibu.

Bagi Bapak/Ibu yang belum terdaftar dan tertarik menjadi anggota komunitas ini, silakan mendaftar

Lessons Learnt: Health Services Assessment 3 Months after Nepal’s Earthquake

Reportase Laporan Hasil Keberangkatan dr. Hendro untuk Assessment Gempa Nepal

Lessons Learnt: Health Services Assessment 3 Months after Nepal’s Earthquake

Reportase oleh Madelina Ariani


dr. Hendro menceritakan keberangkatan beliau bersama dua orang lainnya yang berasal dari YEU atau YAKKUM Emergency Unit dan juga dari Pusbankes 118 DIY. Mereka bertiga bertujuan untuk melakukan assessment pasca tiga bulan gempa Nepal. Manarik dari cerita beliau adalah kedatangan mereka disana tidak sesuai dengan harapan.

Mereka datang ke Nepal dan langsung ingin mendaftarkan diri ke Badan Penanggulangan Bencana Nepal, semacam BNPB di Indonesia. Mereka juga mendatangi Kementerian Kesehatan Nepal. Namun tidak ada informasi yang mereka dapatkan, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan Health Emergency Operation Center yang barangkali pusat ini mirip dengan pos tanggap darurat dan kesehatan jika di Indonesia. Di sinilah akhirnya mereka dapat berdiskusi dengan kepalanya.

Ada beberapa hal yang akhirnya menjadi hasil dari proses perjalanan mereka:

  1. Bantuan untuk recovery dirasakan pemerintah dan NGO setempat sudah cukup

  2. Seluruh ajuan proposal recovery harus masuk dan terdaftar di pemerintah, dan hingga saat ini proposal yang diajukan sudah cukup banyak dan tinggal menunggu disahkan oleh pemerintah.

  3. BNPB setempat tidak berdiri sendiri seperti di Indonesia, melainkan dibawah kementerian sosial.

Hari –hari berikutnya mereka terus melakukan pemantauan lokasi, mereka mengunjungi tempat pengungsian, lokasi gempa, sekolah, rumah sakit, puskesmas, hingga puskesmas pembantu. Mereka juga mengcek pelaksanaan mental health dan layanan kesehatan. Semua memang terlihat sudah kembali seperti semula. Namun, pertanyaan mendasarnya, apakah itu sudah cukup? Tidakkah upaya recovery ditujukan untuk memperbaiki keadaan jauh lebih baik dari keadaan semula?

Diskusi pagi ini sangat menarik, terutama ketika peserta diskusi menanyakan mengenai kebutuhan apa yang harusnya mereka dapatkan? Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana sebenarnya menghadapi gap persepsi antara keinginan mau menolong dengan rasa cukup oleh pemerintah lokal?

Jika kita mengambil kasus Tsunami Aceh dan Gempa Padang misalnya, kita dari UGM berkeinginan membantu dan disambut dengan baik oleh pemerintah disana. Artinya ada persepsi yang sama. Dan ini kurang kita dapatkan pada kasus Nepal ini. Hal ini menarik didiskusikan agar penanganan bencana kedepannya bisa lebih baik.

Tentunya juga ada hal positif yang bisa diambil dari pengalaman ini, diantara ketegasan Nepal untuk menolak bantuan barang bekas masuk ke negaranya juga kemampuan pulih dari masyarakatnya sendiri. Jika kita bandingkan dengan kejadian bencana yang pernah terjadi di Indonesia maka kasus Nepal ini mirip dengan tsunami Aceh dan gempa Padang. Bedanya kita bisa lebih terbuka dengan bantuan dari luar sedangkan mereka lebih terkesan “pilih-pilih”. Saat ini dapat kita katakana sistem penanggulangan bencana yang kita buat lebih baik dari pada Nepal, tetapi butuh upaya kita untuk benar-benar menjalankan sistem yang sudah kita bangun.

Diskusi pagi ini berjalan sangat menarik selama satu setengah jam. Rekomendari akhir dari pembicara untuk pengembangan kelompok kerja bencana dalam upaya penanggulangan bencana kedepannya adalah pengembangan jejaring dengan NGO dalam dan luar negeri untuk upaya sharing dan kerjasama, serta bagaimana kelompok kerja bancana dapat menyebarluaskan success story dari upaya capacity building penanggulangan bencana di bidang kesehatan yang pernah dilakukan di Aceh, Padang, dan Yogyakarta.

 

Getting Japan’s youth engaged in disaster preparedness

Even though earthquake-prone Japan has seen numerous warnings that massive, devastating temblors could strike at any time, including in the Tokyo metropolitan area and in the Nankai Trough off the Pacific coast, data shows the nation’s youth don’t seem to have the same sense of preparing for a disaster that older generations do.

A poll by map publisher Zenrin Co. last summer showed that 32.9 percent of 1,897 respondents in their 20s and 40.7 percent of 2,420 people in their 30s recognized the importance of being prepared for natural disasters.

But with age this increased to 44.2 percent of pollees in their 40s, 51.1 percent in their 50s and 57.8 percent in their 60s.

One social entrepreneur is seeking to raise awareness of the need for disaster preparedness among young people by changing the way efforts to mitigate the effects of natural calamities are perceived.

Misaki Tanaka said of note was the lack of interest females showed toward preparing for a disaster, with many of the 100 women in their 20s and 30s she interviewed seemingly negative on the issue — an attitude she believes discourages them from taking precautions.

“They said disaster prevention efforts were not cool and cost too much. They were also not sure whether such measures will produce results,” Tanaka said.

“I myself had no interest in disaster prevention and didn’t prepare anything for possible disasters,” she added.

A sense of crisis drove the 26-year-old Nara native to establish Bosai Girl (Disaster Prevention Girl) in a bid to change the notion of disaster preparedness among young females.

“If we can change their attitude, it could result in spreading disaster prevention efforts,” Tanaka said.

Tanaka set up Bosai Girl with two friends in August 2013 while working for a nonprofit organization that provided reconstruction support in the Tohoku region, which was hit hard by the March 2011 earthquake and tsunami.

Through Bosai Girl’s website, Tanaka started providing information such as about items needed in the event of a disaster, and useful apps. After a while, she decided to fully commit to the organization, with Bosai Girl now comprising 15 volunteers, or “bosai girls.”

Their work includes business promotions, fundraising, and information on community disaster prevention efforts.

One of the projects is creating new types of evacuations drills.

Tanaka said the conventional drills many Japanese participate in have contributed to the negative image among young people toward disaster preparedness.

“Many young people I have talked to said they didn’t enjoy or didn’t see the point of disaster drills at elementary schools or junior high schools,” Tanaka said. “I came to realize if we could transform the conventional disaster drills into something meaningful, it could change the notion of disaster prevention and change such drills nationwide.”

Tanaka noted that everything is prepared in advance in conventional drills, including the venue for the mock disasters and evacuation routes, and teachers and HR personnel are tasked with issuing instructions to students and employees.

But such drills aren’t necessarily realistic if a disaster struck at a location other than those schools or workplaces, Tanaka said.

In response, Bosai Girl has created “next-generation version evacuation drills,” where in one example participants can choose the safest evacuation route and find an evacuation site by themselves after leaving a designated starting place.

Tanaka said in this drill Bosai Girl staff don’t provide clues or maps, given nobody knows when and where they will be when disaster hits.

After the drill, participants and Bosai Girl staff discuss how it went and what can be improved.

Another drill involves Google’s location-based smartphone game Ingress, in which participants visit certain “portals,” notable evacuation spots designated by Bosai Girl in advance. “By introducing a game element to evacuation drills, we want people to enjoy them,” Tanaka said.

Bosai Girl conducted the drill using Ingress for workers at Recruit Holdings Co. in July and plans to hold one for the general public in Tokyo’s Shibuya district on Aug. 31.

The group has also received inquiries from companies and municipalities, and more recently launched a brand for disaster-preparedness goods.

“Around December 2013, we received an inquiry from ad agency Trademark Kochi, which asked us whether we can send out something on disaster prevention from Kochi Prefecture with them,” Tanaka said. If a huge earthquake occurred in the Nankai Trough, Kochi would probably be hit hard.

The collaboration with the firm resulted in launching the brand SABOI last March, which includes disaster goods such as a pair of pink pumps that can be folded, and a pouch with little items such as a mask, small flashlight, whistle, hair elastic and bobby pin.

“Conventional disaster kits didn’t include a hair elastic or bobby pin,” which can be of help for women in emergencies when they can’t wash their hair, Tanaka said.

Bosai Girl and Trademark Kochi have produced 1,000 items each, but they are almost sold out, Tanaka said.

Besides holding seminars, Bosai Girl has held unique events in an effort to attract young people who have little interest in disaster preparedness.

Bosai Machikon, a mixer held in July 2014, drew 30 young men and women, who learned about disaster preparedness through workshops while eating and drinking. “We wanted the participants not only to become couples but also to think about disaster prevention together,” Tanaka said.

The participants learned how to stop bleeding, utilizing such daily commodities as plastic wrap and newspapers, and where best to position furniture in a house.

Although Tanaka’s activities have expanded, things didn’t always go smoothly. After the 2011 earthquake hit, just before Tanaka joined Internet services company CyberAgent Inc. after graduating from Ritsumeikan University in Kyoto, she pondered ways to help the disaster victims, discussing the issue constantly with her university friends.

Tanaka said she felt a gap between what she had actually done compared to her friends and how she wanted to help, as well as what she was doing at the company, which targeted mobile customers.

After some thought, Tanaka decided to focus on working at the firm in order to acquire basic business skills and knowledge that she believed would be necessary to help with the Tohoku reconstruction effort.

“I concluded I couldn’t be of help with reconstruction efforts in Tohoku since I didn’t have skills and physical strength at that time,” Tanaka said.

Tanaka put thoughts of Tohoku aside, worked hard and managed to achieve her goal, saying she learned the basics of business and how to communicate with others to pursue projects.

Around June 2012, she was offered a post by the nonprofit organization Tasukeai Japan to be in charge of reconstruction efforts in Fukushima Prefecture.

The organization, which is headed by one of Tanaka’s lecturers at the university, has engaged in putting local information from Tohoku online.

“The organization regards information as one of the lifelines,” Tanaka said, adding their mission was to convey the right information on what was happening in disaster-affected areas.

Tanaka left CyberAgent and joined Tasukeai Japan in August 2012. She was tasked with recruiting people in Fukushima Prefecture and training them as “information rangers” to upload videos or pictures.

“People have completely different opinions and backgrounds and sorting that out took the most amount of time,” Tanaka said.

Tanaka moved to the organization’s Tokyo office after handing over her duties to the staff in Fukushima, and turned her attention to promoting disaster prevention efforts in general.

She said that while working in Tokyo, she also had the opportunity to give lectures and hold workshops.

Before deciding to fully commit to Bosai Girl, Tanaka received emails from females who wanted to join the team. The number of “likes” on the group’s Facebook page have increased to about 860 in the five months since the organization opened the page in Aug. 2013.

Tanaka said her goal at Bosai Girl is to make disaster preparedness common. By the end of March 2017 she would like to increase the number of people nationwide who make contact with Bosai Girl to 160,000 — the same as the number of fire department staff in Japan. “We want them to take action for disaster prevention . . . be it ever so small,” Tanaka said. “It’s OK for them just to click ‘like’ on our Facebook page. People won’t click ‘like’ if they don’t have awareness of disaster preparedness.”

source: japantime

Bencana kekeringan di Kabupaten Trenggalek meluas

Bencana kekeringan di Kabupaten Trenggalek meluas

Trenggalek (ANTARA News) – Bencana kekeringan dampak badai elnino di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur ditengarai semakin meluas.

Berdasarkan pantauan, hal ini tampak dari semakin banyaknya sungai yang mengering, lahan pertanian kesulitan pasokan air tanah, hingga keterbatasan pasokan air bersih untuk konsumsi warga.

Salah satu daerah yang pelaing parah mengalami krisis air bersih dampak badai elnino terpantau di wilayah Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul.

Di wilayah pegunungan salah satu kawasan pesisir selatan Jawa Timur itu, ratusan warga harus mengantri untuk mendapat jatah air bersih dari dua sumur yang masih tersisa.

“Tapi kini kondisinya (air) juga keruh dan hampir habis. Itu karena banyak sekali yang mengambil air di sini,” tutur Umar, salah seorang warga Desa Ngrencak yang ikut mengantri jatah air di sumur desa tersebut, Minggu.

Ia mengatakan, ada lebih dari 200 KK yang kini menggantungkan kebutuhan air bersih mereka dari kedua sumur desa itu.

Antrian biasanya terjadi pada pagi hari serta sore. Selain untuk konsumsi air minum, memasak serta untuk ternak, air yang mereka ambil juga digunakan untuk mandi dan cuci pakaian.

Namun itupun beberapa keperluan sekunder seperti air untuk cuci dan mandi sudah jauh berkurang mengingat minimnya pasokan air yang tersedia maupun bisa diambil dari kedua sumur desa tersebut.

“Kami berharap segera ada bantuan air bersih dari pemerintah daerah agar krisis air di desa kami tidak semakin parah,” ujar Tumini, warga lainnya.

Lokasi pemukiman mereka memang tergolong terpencil. Berada di satu lingkungan Dusun Pucung, Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul, perkampungan yang mereka tinggali terletak di punggung sebuah perbukitan yang kering nan gersang, apalagi saat kemarau.

Sebagian besar warga sebenarnya telah memiliki sumur-sumur pribadi ataupun sumur bersama yang kemudian disalurkan menggunakan jaringan pipa/slang. Namun di saat kemarau, sumur-sumur yang ada selalu mengering akibat penurunan debit air tanah secara masif.

Hanya dua sumur desa yang masih mengeluarkan air, namun itupun jarak tempuh dari pemukiman mencapai lebih dari tiga kilometer sehingga untuk menjangkau warga harus berjalan kaki melalui jalan setapak.

“Hal seperti ini selalu terjadi saat kemarau. Kami khawatir musim tahun ini lebih panjang, karena itu berarti warga di sini bakal sangat menderita,” ujar Umar.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mengungkapkan, saat ini ada sekitar 39 desa di di daerah itu yang diidentifikasi sebagai daerah rawan bencana kekeringan sebagai dampak badai elnino.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Trenggalek, Djoko Rusianto mengatakan, kekeringan terutama berdampak pada pasokan air tanah untuk lahan-lahan pertanian di daerah itu.

“Kekeringan memang masih menjadi ancaman, terutama ke sektor pertanian karena pasokan air diprediksi menyusut drastis,” ujarnya.

Menurut Joko, apa yang terjadi saat ini merupakan siklus yang setiap saat bisa terjadi, sehingga pihaknya mengimbau warga agar mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, khususnya mengantisipasi wilayah-wilayah yang selama ini menjadi “langganan” (terdampak) bencana kekeringan.

Tahun ini (2015), ungkap Joko, sebenarnya jumlah area terdampak kekeringan di Trenggalek menurun atau lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu.

Jika pada 2014 jumlah desa yang dilada kekeringan mencapai 49 perkampungan, tahun ini jumlahnya menurun menjadi 39 desa.

Estimasi itu, menurut keterangan Joko, merupakan hasil dari rapat koordinasi di BPBD Jawa Timur beberapa waktu sebelumnya, mengingat ada beberapa wilayah yang hampir pasti tidak terkena lagi lantaran sudah ada pipanisasi.

sumber: antaranews

 

TNI Bersinergi dengan Warga Tangani Bencana Alam Gunung Raung

http://indolah.com/wp-content/uploads/2015/06/Gunung-Raung.jpg

Banyuwangi – Letusan Gunung Raung, Banyuwangi Jawa Timur telah menimbulkan permasalahan, terutama bagi orang-orang yang hendak berlibur menggunakan jalur udara. Hal tersebut, dikarenakan abu vulkanik yang dimuntahkan oleh Gunung Raung menjadikan beberapa maskapai penerbangan dibatalkan. Tercatat sudah ada 5 bandara yang ditutup karena dampak dari meletusnya Raung. Lima bandara tersebut antara lain Bandara Internasional Lombok, Bandara Selaparang Lombok, Bandara Ngurah Rai Bali, Bandara Notohadinegoro Jember, serta Bandara Blimbingsari Banyuwangi.

Gunung Raung yang terletak kira-kira 150 kilometer dari Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali telah melontarkan debu, serta puing-puing sampai dengan ketinggian 3.800 meter di udara pada Jumat, 10 Juli 2015. Hal inilah yang menjadikan pihak berwenang untuk menutup 5 Bandara di Indonesia akibat abu vulkanink yang ditimbulkan Gunung Raung.

Aktivitas Perekonomian Terancam

Latar belakang perekonomian warga masyarakat sekitar, yang selama ini banyak bergantung dengan alam, seperti pertanian, perkebunan dan sejenisnya, di wilayah sekitar selama ini relatif aman dari berbagai hambatan/gangguan. Namun setelah bertahun-tahun berada dalam kondisi aman, akhir-akhir ini tiba-tiba terancam gagal panen, terutama dengan meningkatnya aktifitas Gunung Raung yang sudah pulahan tahun tidak pernah aktif.

Di sela-sela berlangsungnya musibah bencana Gunung Raung, saya sebagai warga masyarakat yang selama ini aktif mencermati musibah tersebut, sungguh merasa bangga dan salut dengan kesigapan prajurit TNI, yang selalu bereaksi cepat terhadap musibah yang terjadi di Indonesia, termasuk dalam ikut mengatasi akibat musibah bencana Gunung Raung itu.

Apa karena memang TNI ini sudah terlatih dalam ikut mengatasi penanganan terhadap bencana, atau karena sudah memiliki semacam aturan/prosedur, atau semata-mata rensponsif dan reflektif dari jiwa pengabdian prajurit yang senantiasa terpanggil untuk ikut mengatasi kesulitan yang dialami warga masyarakat, yang jelas saya sebagai masyarakat awam, sekali lagi sangat salut dan memberikan apresiasi tinggi kepada personel TNI yang selalu ada di depan dalam keikutsertaannya membantu mengatasi dampak dari bencana alam.
TNI Ada Memang untuk Rakyat

Keterlibatan dan kepedulitan prajurit TNI dalam ikut membantu mengatasi berbagai kesulitan rakyat, sekaligus sebagai salah satu wujud nyata bahwa ‘TNI memang untuk Rakyat’. Sepertinya prajurit TNI kita memang sadar, bahwa kehadiran rakyat memiliki pengaruh psikologis yang sangat kuat dalam ikut menegak-kokohkan kedaulatan NKRI ini, sehingga dengan tulus dan ikhlas TNI akan selalu hadir bersama rakyat. Seperti halnya bunyi motto yang sering kita saksikan bersama; “Bersama Rakyat TNI Kuat, Bersama TNI Rakyat Aman dan Sejahtera”.

Terkait dengan penanganan musibah bencana Gunung Raung ini, ada satu lagi yang saya ingat, bahwa TNI memiliki andil dan keterlibatan yang sangat besar dengan langsung menerjunkanTim Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Gunung Raung Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Tim tersebut menyisir lokasi dalam radius bahaya akibat letusan gunung tersebut dalam rangka mengamankan dan menyelamatkan warga masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana.

Penyisiran itu dipimpin oleh Komandan Satgas Penanggulangan Bencana (Satgas PB) Gunung Raung Letkol (Arh) Sudrajat yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) Bondowoso. Saluuut…dan saluut terhadap bapak-bapak TNI kita…Lanjutkan tugas mulia ini Pak..semoga dengan hadirnya TNI di tengah Masyarakat mampu mengatasi kesulitan Rakyat Indonesia. ***

sumber: KabarIndonesia

 

Nepali children tell of their fight for survival

Standing in front of a door which is the only part of her former school left standing, this Nepali teenager clutches a dog-eared book recovered from the rubble. 

Three months after a devastating earthquake struck the Himalayan country, Pabitrya Paudyal, 13, is one of a million children who continue to live in areas at high risk of landslides and floods following two devastating earthquakes on April 25 and May 12.

The destroyed Chaturmala Higher Secondary School where she once went is in Muchowk, Gorkha, one of the districts most severely affected by the two disasters.

Four teachers died in the school, putting them among the almost 9,000 people who perished in the two natural disasters little more than two weeks apart. 

Inadequate shelter, school closures and a lack of safe water and sanitation are the three biggest concerns for Nepali children according to Unicef.   

Family bond: Rita Shrestha bottle-feeds her two-year-old daughter, Elina al Krishna Shivakoti, in their family's earthquake-damaged restaurant in a bazar in Dolakha District, epicentre of the May 12 earthquake

Family bond: Rita Shrestha bottle-feeds her two-year-old daughter, Elina al Krishna Shivakoti, in their family’s earthquake-damaged restaurant in a bazar in Dolakha District, epicentre of the May 12 earthquake

In a series of haunting images released by the charity Saraswati Saru Magar, 15, stands beside her three-year-old nephew outside a temporary shelter in Sitalpati Village Development Committee in Sindhuli.

Saraswati, whose house was damaged during the earthquake, has been living in the temporary shelter built from the remains.

She says she really misses going to her school, despite it being about a two-hour walk each way, saying: ‘I am afraid of the ongoing aftershocks and constantly feel the fear of death.’

In a further photo Dil Bahadur Darain holds his 13-year-old granddaughter Anjali Darain’s hand outside their house in Salyantar Village Development Committee in Dhading, another badly hit area. Anjali lost her father, mother and younger brother to the quake in April 25.

And in a third Rita Shrestha bottle-feeds her two-year-old daughter, Elina al Krishna Shivakoti, in their family’s earthquake-damaged restaurant in a bazar in Dolakha District, epicentre of the May 12 quake. 

As the rainy season takes hold, access to the most severely affected areas is becoming increasingly challenging, threatening these children’s access to water, sanitation, education and health services and putting them at a higher risk of exploitation and abuse, including trafficking.

More than 10,000 children have been identified as acutely malnourished since the first earthquake. These include more than 1,000 children with severely acute malnutrition. 

Keeping on: A young girl stands inside a temporary learning centre in Shree Chaturmala Higher Secondary School in Muchowk, Gorkha

Enjoying the sun: Two adolescent girls wash clothes near rubble from destroyed homes in the earthquake-affected town of Singati, near Charikot in Dolakha District

Enjoying the sun: Two adolescent girls wash clothes near rubble from destroyed homes in the earthquake-affected town of Singati, near Charikot in Dolakha District

More 200 children remain without a parent or caregiver, and more than 600 have lost one or both of their parents to the quakes. More than 32,000 classrooms have been destroyed and nearly 900,000 houses have been damaged or destroyed.

Children interviewed by aid agencies for a major survey published Saturday expressed worry about the lack of privacy and space, with younger children fearing attacks by wild animals, and girls feeling vulnerable to sexual harassment.

‘Living under the sky increases our exposure to abuse,’ an adolescent girl from Sindhupalchowk, a district badly hit by the earthquakes, told an aid worker. 

At least 2.8million people, around 10 per cent of Nepal’s population, need urgent help according to a UN report published earlier this month.

source: http://www.dailymail.co.uk