Sesi 2 – Seminar Hospital Safety

Seminar Hospital Safety: Tantangan dan Progress-nya

Sesi 2: Seminar Hospital Safety

sesi-2Dok. PKMK: Pembicara sesi 2 dan moderator

Sesi Kedua Seminar Hospital Safety: Tantangan dan Progress-nya dimoderatori oleh Sari Mutia Timur dari YAKKUM Emergency Unit. dr. Warsista dari Persi menjadi pemateri pertama,   dalam pelayanan di RS, safety mengutamakan keselamatan dan keamanan pasien. Ada beberapa regulasi yang menuntut agar safety ini dikedepankan, antara lain: regulasi gedung diatur dalam UU No. 28/2002 bangunan gedung, klasifikasi dan perijinan diatur dalam PMK 56/2014,Pergub DKI 38/2012 tentang bangunan gedung hijau (5% lebih mahal) serta peraturan-peraturan proteksi kebakaran (Pergub DKI).

Bencana sendiri merupakan fenomena sosial, misalnya jika pemerintah lokal tidak membuka jalan/ijin, maka alur bantuan tidak bisa berjalan. Kemudian, hal lain yang harus menjadi prioritas ialah kemungkinan munculnya penyakit pasca bencana. Jadi, RS adalah ujung tombak dalam penanganan bencana ini.

wasista_-_Persidr. Warsista dari PersiKemudian, sebuah RS bisa dikatakan Hospital Safety jika free from medical and facility error. Medical error ialah kegagalan yang tidak diduga saat upaya prevensi, diagnosa, pengobatan dan tindak lanjut. Selain bebas dari medical error, RS harus mempunyai emergency and disaster programme.

Bencana tidak dapat diramalkan datangnya, maka kesiapan RS menghadapi bencana mutlak diperlukan, berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu, pertama, mengidentifikasi mana yang kemungkinan terjadi, merencanakan penanganan kemungkinan bencana, rencana diuji coba tahunan, lalu melakukan review serta dokumentasi. RS perlu juga memetakan alternatif tempat pelayanan-tenda darurat atau lokasi/evakuasi. Kemudian, perlu dilakukan identifikasi peran dan tanggung jawab staf saat kejadian.

 

 

handoyodr. Handoyo Pramusinto, Sp. S (K), ketua Pokja Bencana FK UGMdr. Handoyo Pramusinto, Sp. S (K), ketua Pokja Bencana FK UGM, sebagai pemateri keduamenyatakan preparedness bisa dimulai dari awal. Jika preparedness baik, maka masa chaos saat atau pasca bencana kemungkinan ada namun hanya sebentar.

Diskusi 1

Agus Sudrajat (RSUD Kota Jogjakarta) menyampaikan di dalam HDP, jika RS menjadi korban juga, apakah RS menjadi bagian dari plan? Pengalaman gempa Jogja, hingga dua hari RS Jogja belum bisa survive.

dr. Warsista menyampaikan saat Jakarta banjir, seluruh aktivitas lumpuh. Maka, manajemen RS Carolus tempat dimana Warsista bekerja menginstruksikan seluruh nakes RS Carolus menolong pasien/nakes lain saat kondisi ini. Kemudian, saat kerusuhan Jakarta, program yang bisa berjalan hanya ambulance, maka ambulance jadi memberi bantuan untuk pasien dan keluarga pasien datang. Hal yang terpenting: sosialisasi dan komunikasi. RS Sumber Waras, banjir kesulitan generatornya. Lalu ada siaran terkait hal tersebut di radio Sonora, jadi banyak sumbangan solar kemudian ini di-share ke RS lain.

Dalam HDP harus ada skenario jika RS terkena bencana, maka harus ada skenario yang berhubungan dengan RS sekitar dan PERSI. Kemudian, jika ada RS yang menjadi korban, maka RDP yang akan berjalan.

dr. Gandung (RSUD Panembahan Senopati) berbagi pengalamannya, saat logistik habis, pasien di RS tidak bisa dibawa pulang. Akhirnya, banyak pegawai RS yang menjadi korban, sempat terjadi chaos dan persediaan ternyata karyawan banyak yang terkena musibah. Chaos terjadi jam 13.00 Wib, akhirnya pihak RS, Dandim dan Polres mendobrak gudang farmasi kabupaten untuk ambil obat.

Sejak tahun 2008-2009, WHO memiliki campaign: hospital safety, jadi bangunan RS harus bisa melindungi pasien dan pekejra kesehatan atau bangunannya memiliki struktur resilient/daya banting-tidak mudah roboh.

Diskusi 2

dr. Maria mempertanyakan apakah PERSI memiliki rutinitas untuk checking kondisi RS?

Mahasiswa K3 UI mempertanyakan HDP dan hospital safety, bagaimana kaitannya? Ada komponen yang disebut sebagai safe hospital: tnda evakuasi, emergency exit. HDP: plan yang keberlanjutannya ada. jika ia mengalami bencana, ia harus memenuhi hospital safety index. Misal patient safety dan hospital safety dipertahankan yankesnya karena harus masuk dalam HDP.

Wiwik (RS KIA Sadewa) mempertanyakan jika tim siap namun kolaborasi kurang, kemana saya bisa berkoordinasi?

Irvan (RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta) menyampaikan di PKU sudah ada HDP, untuk pengembangan dan pemeliharaan ke depannya harus seperti apa? sudah ada tim siapa bencana.

dr. Bella Dona, HDPsifatnya dinamis, jika sudah dua tahun maka dievaluasi dan terkait dengan kegawatdaruratan apa yang massal-internal dan eksternal kemudian disesuaikan. Jalur evakuasi bisa berubah jika ada pembangunan baru, jumlah TT juga

dr. Warsista menyampaikan harus ada drill dan simulasi apa yang dilakukan? Sebaiknya ini dilakukan terus menerus.

dr. Bella menambahkan HDP bukan hanya dokumen, HDP bisa operasional sesuai harapan. Ini harus dilatih, tiap tahun tia RS ada simulasi, misal: table top exercise. Jadi, HDP berubah atau tetap? Jika HDP tidak terstruktur dalam 1 pintu bisa tidak baik juga,

Sari Timur menegaskan akreditasi JCI mengharapkan simulasi RS melibatkan masyarakat. Selain itu, diskusi ini mendorong adanya koordinasi untuk pemenuhan logistik antar RS (w).

Sesi 3 – Seminar Hospital Safety

Sesi 3 Seminar Hospital Safety: Tantangan dan Progress-nya

sesi-3Dok. PKMK: Pembicara Sesi 3 beserta Moderator

Ada beberapa poin penting yang ada dalam Hospital Safety, antara lain: structural (bangunan), non struktural (SDM) dan planning (mitigasi dan kontijensi RS). Ketiganya harus menjadi pokok yang diperhatikan RS.

mdmcdr. H. Barkah Djaka Purwanto, SpPD dari MDMCMDMC berbagi pengalaman selama mendampingi masyarakat dan komunitas pre, saat dan pasca bencana. Ada semacam kolaborasi antara RS PKU Muhammadiyah Palembang, Pondok Kopi, Bantul dan Lamongan. Di Bantul, MDMC mendampingi dua desa, mereka dibina dan disiagakan sehingga sudah siap siaga bisa membantu yang lain, yaitu Kretek dan Poncosari-Srandakan.

Kegiatan yang dilakukan antara lain, siaga bencana melalui penanganan medis serta pembentukan struktur tim. MDMC memiliki program Hospital and Community Prearedness for Disaster management. MDMC rutin mengadakan gladi pada awal, tengah, akhir tahun. Simulasi, drill, FTX dan TTX setahun tiga kali.

Diskusi

Happy (Keperawatan UGM) mempertanyakan di MDMC siapa saja yang berperan dan berapa persentasenya? Perannya seperti apa? Training apa yang diberikan pada komunitas? Apakah basic life support diberikan pada komunitas?

Budi (MDMC) menyampaikan ada empat klaster dalam rencana operasi yaitu: SAR/Mapala, Disaster medic comitee/DMC, psikososial/psikologi-pendampingan, trauma healing, community development di posko bencana. HCPDN, desa Poncosari menangkap potensi kampong, lalu melakukan perencanaan sektoral di bidang kesehatan serta ekonomi. Kemudian, lahirlah profil kampung, kerentanan ancaman, serta potensi/kapasitas mereka.

Community Based Health Service (CBHS) yang diajarkan pada komunitas antara lain bidang promkes- bagaimana mengelola bencana, rencana kontijensi untuk KLB/endemik/bencana. Lalu mereka dilatih: Basic Life Support. Lalu komunitas ini diuji MDMC melalui gladi yang selalu diadakan secara rutin.

Lono mempertanyakan terkait Hospital safety, pencemaran di RS ke masyarakat sekitar, penyakit atau limbah. Bagaimana RS memfasilitasi agar masyarakat tidak tercemar?

Endamg YEU menyatakan RS Bethesda menjalin hubungan komunikasi dengan masyarakat, kami selalu ada laporan dan audit terkait limbah ini.

Budi (MDMC) memaparkan bagaimana berhubungan dengan masyarakat? Hal yang paling penting yaitu sanitasi. Aspek keamanan sudah dicek melalui BLH dan aman.

Nurida (mahasiswa MMB, FK UGM) menanyakan saya belajar manajemen bencana, koordinasi antar pelaku bencana? Bagaimana koordinasi swasta dengan pemerintah? Bagaimana pengiriman relawan?

uakkumdra. Endang L Budiarti, AptEndang (YEU) memaparkan pemerintah selalu melakukan koordinasi, lalu koordinasi dan menyiapkan bantuan. Respon yang ditunggu ialah perlu relawan kah? Jika bagian logistik, ada bagian dengan farmasi-atau direct contact. Komunikasi yang dilakukan untuk melakukan koordinasi bagaimana menyiapkan kebutuhan dan meminta bahwa itu dilaksanakan. YEU menjadi coordinator, Bethesda support professional yang ada disana.

Arif sebagai moderator menyatakan koordinasi adalah hal yang paling sulit di Indonesia.

Budi (MDMC) menyampaikan Bantul sudah memiliki Bantul Emergency Service Support (BES), kemudian diatur didalamnya mekanisme berkoordinasi, salah satunya divisi relawan. Alur koordinasi yang dibuat melalui perserikatan Muhamadiyah dan pemerintah. Kemudian, ada satu komando yang dilakukan. Definisi suksesnya, coordinator komando yang tangannya tidak kotor dan tidak berkeringat (pelatihan BNPB).

Dr. Arif (RS Panti Nugroho), MDMC bagaimana mencari dukungan finansial? Lalu bagaimana menggerakkan swadaya masyarakat?

Budi (MDMC) memaparkan komitmen dalam HSCPDN, sekian persen dari RS masuk dalam penanggulangan bencana: internal (pelatihan SDM, struktur), eksternal: penguatan kapasitas komunitas. Setahun prediksinya ada tiga kali bencana. Donor dari luar yaitu Lazismu: zakat, infak dari karyawan, alokasinya untuk kebencanaan, anak yatim dan orang miskin. Donor lain: banyak yang bersimpati, misal Dinkes Bantul mendukung penuh.

Dalam bencana, social matter salah satunya gotong royong adalah kata kunci.

Arif sebagai moderator menutup sesi dengan kalimat saat terjadi bencana, banyak korban yang diurus bersamaan, jadi bencana itu humanity tidak ada border. Ada banyak kolaborasi antar lembaga pegiat bencana yang bisa bekerjasama.

Akan ada workshop kelanjutan dari acara ini, penutup dari dr. Bella Dona, yang paling penting dalam penanggulangan dan penanganan bencana ialah koordinasi dan kebersamaan (w).

Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan 2015

pembukaan-iabi-2015

pembukaan-iabi-2015

Pembaca website bencana kesehatan, senang sekali minggu ini kita dapat berjumpa kembali. Kabar gembira bahwa hari ini telah diselenggarakan kegiatan Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan Ikatan Ahli Bencana Indonesia (PIT IABI) di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada. Perhelatan akbar yang bekerjsama dengan BNPB ini akan diselenggarakan selama dua hari ke depan (Selasa-kamis, 26-28 Mei 2015) mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Rangkaian kegiatan PIT IABI diisi dengan seminar terbuka yang salah satunya membahas mengenai pasca Sendai Framework Maret lalu, sesi paralle oral presentation yang terbagi menjadi banyak Pokja, salah satunya pokja kesehatan yakni Epidemi dan wabah penyakit, selain itu ada juga pameran yang melibatkan perguruan tinggi, instansi, dan pusat penelitian baik dalam dan luar Yogyakarta, dan masih banyak kegiatan lainnya. Baca selengkapnya mengenai PIT IABI,

Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM juga turut serta dalam PIT IABI 2015 dengan mengadakan Pameran Ilmiah Bencana. Pokja Bencana menampilkan banner dan poster pengalaman bencana, alat-alat kesehatan pada saat bencana, dan juga infomasi mengenai kurikulum kebencanaan bagi mahasiswa kedokteran umum dan keperawatan yang dikembangkan oleh Fakultas Kedokteran UGM.

BPBD-TNI Siap Tanggulangi Bencana Alam

http://3.bp.blogspot.com/-cy91EY4jU4g/VRips1-XwKI/AAAAAAAABmc/Vb1eO8MxgQQ/s1600/0000.jpg

WONSOOBO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo bekerjasama dengan anggota TNI Kodim 0707 Wonosobo, Tim SAR, PMI, dan polisi menggelar latihan gabungan evakuasi dan penyelamatan penanggulangan bencana alam di Lapangan Pertamina. Kegiatan ini guna meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana alam, seperti longsor, banjir, angin kencang, sampai bencana kebakaran.

Kepala BPBD Kabupaten Wonosobo Prayitno kepada KRjogja.com, Minggu (14/6), mengatakan dilaksanakannya kegiatan latihan gabungan ini bertujuan agar para personil gabungan nantinya bisa menjadi tim inti selter kabupaten yang siap siaga ketika dibutuhkan sewaktu-waktu untuk melakukan penanggulangan bencana alam.

Setelah pembekalan kali ini, lanjutnya, diharapkan para personil gabungan ini bisa mengetahui apa yang harus dilakukan di saat terjadi bencana alam yang datang tiba-tiba. Termasuk kesiapan masing masing instansi dalam melakukan penanganan terhadap bencana alam, mulai upaya mengantisipasi terjadinya bencana alam, sampai pada penanganan korban bencana alam, serta penanganan terhadap pengungsi.

Menurutnya, Wonosobo merupakan salah satu daerah yang berpotensi terjadinya kerawanan bencana alam, seperti angin besar, tanah longsor, banjir, dan kebakaran. Untuk itu latihan gabungan ini sangat diperlukan dan harus dilakukan sebagai bentuk tahapan yang harus dilaksanakan dalam rangka antisipasi dan kesiapsiagaan baik sarana, maupun kesiapan sumber daya personil. (Art)

sumber: (KRjogja.com)

Rescue Robots Future Of Disaster Relief

web1_US_NEWS_SCI-ROBOTICS_3_LA.jpg

LOS ANGELES — In a narrow parking lot, Brett Kennedy and Sisir Karumanchi stand around what looks like a suitcase. But then four limbs extend from its sides, bending and clicking into position. Two spread out like legs and two rise up like arms as the robot goes through several poses, looking for all the world like a Transformer doing yoga.

This is RoboSimian, a prototype rescue robot whose builders at NASA’s Jet Propulsion Laboratory hope can win the $2 million prize at the DARPA Robotics Challenge. The goal: to foster a new generation of rescue robots that could help save lives when the next disaster hits.

Twenty-four teams from around the U.S. and the globe have sent their best and brightest bots to compete in a grueling obstacle course — a robot Olympics, if you will.

The challenge has been three years in the making. Now, just days before the contest in Pomona, the JPL engineers think they are ready — but they’re putting the robot through its paces.

RoboSimian stands in front of a doorway leading to a zigzagging chipboard wall. Along the wall are a valve that must be turned and a high shelf and a low shelf, each holding two power tools.

To get into the “room,” the 275-pound robot sits back on its haunches and carefully wheels through the doorway on its butt.

Inside the laboratory, Kyle Edelberg is staring at a computer screen showing a representation of RoboSimian and what it sees. He can’t walk outside and check on the robot; his senses are limited by RoboSimian’s.

The robot freezes when it reaches for a triangle-shaped pull. It’s hard for the robot to see the thin metal and hard for the human to pick it out even if RoboSimian does see it.

This is how operating a rescue robot will feel in a disaster zone, Kennedy says. Robots will be sent to perform reconnaissance or fix malfunctioning hardware in ravaged areas that are too dangerous for humans. So being able to understand and work with the robot — and practice with it — is key.

Outside, RoboSimian reaches for a drill on the lower shelf. The bot pushes against the drill to gauge its location, but pushes too far: The drill tips and falls over.

Most of the other robots in the challenge are humanoid — they have a head, a torso, two arms and two legs. But walking on two legs is a major balancing challenge — a gust of wind or a swinging door could knock the robots over.

“The thing that would almost guarantee our winning the program,” Kennedy says, “would be if the Santa Anas kick up.”

Having Fun Saving The World

Across town, engineers at UCLA are also working on their entry into the DARPA challenge. As students pore over papers and fiddle with electronics, professor Dennis Hong shows off two models of their humanoid robot, THOR-RD, one of which sports shocking pink hair.

“We’re trying to literally save the world and save humanity,” Hong says. But “we want to have some fun.”

Hong, who moved from Virginia Tech last year, bounces around the lab space, where the UCBC-University of Pennsylvania team has built a smaller version of a course, much like the one at JPL, to fit indoors.

Hong has worked on several different kinds of robots, some inspired by animals, including a snake and an amoeba robot. He even worked with Kennedy several years ago on a predecessor to RoboSimian named LEMUR.

But for this challenge, Hong has chosen to stick with a humanoid form. After all, he says, animal-inspired robots can each do one thing well — climb poles or perhaps squeeze into hard-to-reach places. That’s useful in specific circumstances during a disaster, but not all of them. Here, the robots will be asked to do a wide variety of human tasks, so a bipedal approach makes sense.

“Robots need to be humanoid for disaster relief, because robots need to drive a car, need to climb steps,” Hong says, though he adds that he would be watching JPL’s performance.

“If they fail, it means, oh, what I said was right,” he says. “And if they indeed do well, it means they’ve proven me wrong.”

One Hour To Complete Course

Gill Pratt, program manager of the DARPA Robotics Challenge, grips the handle of a white door under a yellow warning sign that reads, “Caution: high voltage. Do not enter this enclosure.”

He pushes on the door, embedded in a wall of faux brick and corrugated metal, to reveal the real obstacle course, sitting in a field in front of the grandstand at the Fairplex in Pomona. Three more identical courses are lined up beside it.

The course is a three-sided stage that’s open to spectators filling the bleachers above. Along the wall, the lanky engineer faces a familiar set of objects: a tall black pipe with an orange valve that can be turned like a steering wheel and a staggered pair of shelves that await power tools. Near the end of the room, a pile of concrete cinder blocks lies in front of the exit to the other side. The robots can choose whether to clamber over the cinder blocks or wrestle their way through debris that will be strewn next to it when the competition starts.

The robots will compete to beat the clock: Finish up to eight tasks before an hour runs out. Four robots will compete at a time, each in its own stage on the field, so that spectators can compare their progress.

The idea for this DARPA challenge grew out of the disaster at the Fukushima-Daiichi nuclear power plant in Japan, after a massive earthquake and tsunami in 2011. At one point during the crisis, employees at the nuclear power plant needed to open some valves to release steam to avert an explosion, but could not get close enough, fast enough, because of the massive amounts of radiation.

If robots had been available to perform these tasks, they could have mitigated the disaster, the thinking goes. But the technology doesn’t yet exist. DARPA, or the Defense Advanced Research Projects Agency, is an arm of the Defense Department that seeks to develop these kinds of emerging technologies — and they do so by putting on these high-risk, high-reward contests.

The robots have to drive a car to the door, but the hardest part of the ride is getting out of the vehicle without falling, Pratt says. He goes through the motions of some of the assigned tasks: He turns a valve, mimes drilling through a window where drywall will be placed and climbs over the concrete blocks. But before he completes the course, he gestures at a hole in a wall: a mystery task that none of the teams know about yet.

Real World Challenges

Since the semifinals in late 2013, DARPA has made the challenge even harder: The robots can’t operate with power cords — which means they have to have all their heavy batteries on board. And they can’t use safety belays to keep the robots from falling — a problem for many of the two-legged robots, which already have trouble with balance. (This is where the wheeled and four-limbed contestants may have an advantage — they’re inherently stable.)

“In a real disaster, there are no ropes to hold you up,” Pratt says.

As if the tasks weren’t hard enough, Pratt’s team will be shutting down the wireless communications so that the teams will only get about one second’s worth of information for every 30 seconds of competition.

“If you’ve ever been on a really bad cellphone call … it’s like that, but 10 times worse,” Pratt says.

There’s a very good reason for doing this, he points out. In a disaster zone, the networks get overloaded. Because of radiation shielding, communication goes down. So it’s very hard to directly control a robot when you can only send commands and receive vital information in broken bits and pieces.

The RoboSimian team is setting up in a cavernous garage near the obstacle course. As other teams unpack robots, lug in couches and start setting up mock obstacle courses, Kennedy’s group seems relaxed. He shrugs at the surrounding chaos, sipping a Pellegrino soda while RoboSimian stands behind him.

A few members of the MIT team come over to greet Karumanchi, who used to work with them — and they hand him a team T-shirt emblazoned with a robot riding a dragon.

“They dared me to wear this with the JPL hat,” he says, smiling. “I told them I’d wear it once we beat them.”

The two-day competition gives each team two chances to earn a high score. On the first day, RoboSimian is one of the top performers, as is CHIMP, the other apelike robot in the running. The behemoth built by Carnegie Mellon University quickly becomes a fan favorite on the first day when it does what no other fallen robot has done: It picks itself back up and keeps going, earning roars of approval and the only perfect eight-point score.

On the second day, UCLA’s THOR-RD robot, like many of the other bipedal robots, takes mincing steps toward its target, but falls backward partway between the valve and the drill. It’s out of the running for the big prize.

After its second performance, RoboSimian also falls short, ending up in fifth place.

CHIMP’s high score from the first day helps earn it third place and $500,000; second place and $1 million goes to Running Man from Team IHMC Robotics in Florida. Team KAIST from South Korea takes the $2 million prize after dispatching all eight tasks Saturday with amazing speed.

As the event is winding down, four-wheeled Momaro, from Team NimbRo Rescue in Germany, struggles through the course. There’s no chance the bright orange robot will win, but still it pushes on alone through the debris with one wheel askew, to cheers from the crowd.

But the stairs still stretch in front of the robot. Momaro’s spinning head seems to ponder whether to attempt this final task. Then, very slowly, it turns its torso to the grandstand, raises an arm and jiggles it.

It takes a moment for the crowd to realize what’s happening, and then the applause grows to a crescendo: The robot has tried its best. Now, it is waving goodbye.

Distributed by Tribune Content Agency.

Source: http://swtimes.com

Fresh Burst At Indonesia’s Mount Sinabung Volcano After High Alert

Mount Sinabung, a volcano in Sumatra in western Indonesia, is again spewing large clouds of gas into the air. Last week, authorities had placed the region on the highest level of alert, and are closely monitoring the volcano.

Hot ash from the volcano made its way down the slopes of the mountain and covered up to 1.5 miles, although no injuries were reported, the Associated Press (AP) reported. Indonesia’s government volcanologist Surono, who goes by only one name, urged the villagers to stay away from the main danger zone that extended up to 4 miles southeast from the crater. More than 2,700 people have been evacuated from nearby villages.

“The growing size of the lava dome is very unstable,” Surono said, according to the AP, adding that boiling rocks mixed with gases may fall down from the mountain anytime. Over 50 separate eruptions were counted early Wednesday, but villages located outside the evacuated area were not in danger, the authorities said.

Mount Sinabung is a 2,460-meter tall volcano in the Karo district of North Sumatra and had also erupted in 2013, spewing a cloud of black ash and rocks nearly two miles into the sky. Authorities had then evacuated villages along the slopes of the mountain following the eruption, forcing at least 1,300 people to flee their homes.

The mountain, which is among about 130 active volcanoes in Indonesia, has been releasing smoke and ash more than 1,600 feet into the air since Monday, the AP reported. The mountain had been dormant for the past 400 years, but started erupting at irregular intervals since 2010. Last year, at least 17 people were killed after an eruption at the mountain.

The island nation is prone to volcanic activity and frequent earthquakes as it lies along the “Ring of Fire,” a nearly 25,000-mile horseshoe-shaped curve along the Pacific Ocean basin.

sumber: ibtimes.com

Mensos Minta Kampung Siaga Bencana Diperbanyak

JAKARTA – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa meminta Kampung Siaga Bencana di seluruh Indonesia diperbanyak. Hal itu dibutuhkan sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai bencana alam yang terjadi. Apalagi Indonesia merupakan negara rawan bencana alam.

“Di Indonesia terdapat 279 titik rawan bencana seperti tanah longsor, banjir dan kebakaran. Kementerian Sosial (Kemensos) memiliki pemetaan terhadap berbagai bencana tersebut,” ujar Khofifah, Kamis (11/6/2015).

Selain memperbanyak Kampung Siaga Bencana, ia juga meminta warga dilatih menjadi kader yang paham akan tanda-tanda bencana alam. Selain itu mental warga juga mesti disiapkan untuk menghadapi bencana tersebut.

“Warga desa dilatih sebagai kader yang akrab dengan alam, memiliki kesiapan mental, serta paham tanda-tanda bencana. Seperti tanah retak-retak pertanda akan terjadi longsor. Bagi warga yang tinggal dekat aliran sungai, tahu kapan air meluap dan menggenangi permukiman yang bisa berhari-hari,” katanya.

Pada posisi demikian, Taruna Siaga Bencana (Tagana) diminta tiba satu jam dilokasi bencana. Sebagai garis depan, Tagana sudah menjadi bagian dari penanganan bencana alam dan sosial. Misalnya di Aceh, dengan menyiapkan dapur umum lapangan (dumlap), evakuasi darurat, serta mendirikan tenda darurat.

“Dalam proses evakuasi korban bencana, Tagana berada pada sub-sistem dari Badan SAR Nasional (Basarnas). Sedangkan,pada masa tanggap darurat langsung di bawah Kemensos,” ucap Khofifah.

Pasca terjadi bencana, biasanya banyak para korban mengalami gangguan psikologis, seperti rasa cemas dan putus asa. Tagana diharapkan menjadi bagian dari pelayanan tanggap darurat. Maka, Tagana setiap saat harus tetap solid di lapangan.

“Tagana adalah relawan dan bukan aparatur pemerintah yang digaji negara. Mereka harus dikelola sebagai community based disaster,” katanya.

sumber; okezone