Tanggapan epidemi mencakup upaya besar-besaran dari kesehatan masyarakat, medis, politik, keamanan, pendidikan, dan banyak sektor masyarakat lainnya – semuanya dimulai dengan diagnosis. Namun, sistem diagnostik yang tidak memadai dan ketidakadilan dalam akses ke tes diagnostik yang andal terlalu sering berkontribusi pada penundaan substansial dalam setiap aspek respons wabah dari deteksi awal hingga penahanan akhir. Penundaan ini sangat relevan dalam wabah patogen konsekuensi tinggi yang menyebar dengan cepat, dimana diagnosis berfungsi untuk mengingatkan lembaga kesehatan masyarakat dan menggerakkan tindakan yang diperlukan untuk memberikan perawatan bagi orang yang terinfeksi, melindungi mereka yang berisiko, dan mencegah penularan lebih lanjut. Dengan demikian, ketidakadilan diagnostik tidak hanya berkontribusi pada morbiditas dan mortalitas lokal tetapi juga mengancam keamanan kesehatan global. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di jurnal The Lancet Infectious Disease
Mengembangkan Indeks Manajemen Darurat dan Bencana Rumah Sakit
Indonesia merupakan negara yang rawan mengalami bencana alam dan bencana yang seringkali berdampak pada rusaknya infrastruktur publik, termasuk rumah sakit. Sementara, peran rumah sakit sangat penting untuk mengurangi dampak bencana. Namun, penelitian yang menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi kesiapan rumah sakit dalam situasi darurat masih kurang dilakukan. Dalam upaya mengisi kesenjangan ini, tujuan makalah ini untuk menganalisis dan memberi peringkat rumah sakit di Jawa Barat dan Yogyakarta, Indonesia berdasarkan ketahanan pendekatan manajemen darurat mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur ketahanan rumah sakit pada saat keadaan darurat dan bencana. Hasil menunjukkan bahwa koordinasi manajemen darurat dan bencana, perencanaan tanggap dan pemulihan bencana, manajemen komunikasi dan informasi, logistik dan evakuasi, sumber daya manusia, keuangan, perawatan pasien dan layanan dukungan, dekontaminasi dan keamanan adalah atribut utama untuk matriks pengambilan keputusan. Berdasarkan alat Hospital Safety Index, penelitian ini mengusulkan indeks Hospital Emergency and Disaster Management (HEDM) dengan menggabungkan atribut – atribut kunci dan sub-atribut dengan menggunakan Technique for Order of Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) sebagai multi-atribut. Artikel ini menyimpulkan bahwa manfaat yang diantisipasi dari menganalisis ketahanan rumah sakit dengan menggunakan HEDM adalah identifikasi rumah sakit yang paling rentan berdasarkan tingkat kesiapan dan ketahanannya di daerah yang rawan mengalami bencana. Prioritas ini penting untuk alokasi sumber daya dan perencanaan anggaran. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal MDPI
Materi Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan
{tab Materi}
Materi Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan
5 April 2022
| Materi 1: Akreditasi (SNARS) dan Strategi Penyiapan HDP di RS |
dr. Bella Donna, M.Kes |
| Materi 2: Sistem Komando dan Pengorganisasian |
Dr. Yudha Mathan Sakti,SpOT, K(Spine) |
| Materi 3 : Logistik Medik dan Manajemen Relawan |
apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid |
| Materi 4 : Analisis Risiko, Hospital Safety Indeks |
Madelina Ariani, MPH
|
12 April 2022
| Materi/Kegiatan | Narasumber/Fasilitator |
| Materi 5 : Manajemen Pengendalian Penyakit Infeksi di Situasi Darurat |
dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B
|
| Materi 6 : Data dan Informasi saat Bencana |
dr. Bella Donna, M.Kes
|
| Materi 7 : Fasilitas dan SOP saat Bencana |
Happy R Pangaribuan, MPH
|
| Materi 8 : Pengembangan Skenario dan Peta Respon |
Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid
|
{tab Reportase}
{slider 12 April 2022}

Pelatihan hari kedua secara daring dilaksanakan pada Selasa, 12 April 2022 yang dihadiri oleh 68 peserta. Acara dibuka dan dipandu oleh Madelina Ariani, MPH selaku moderator. Kegiatan hari ini terdiri atas review tugas dari pertemuan sebelumnya, presentasi 4 materi, dan pemaparan tugas hari kedua. Pada sesi review tugas hari pertama, Madelina memeriksa tugas mengenai pengorganisasian dan Hospital Safety Index. Secara umum pengorganisasian HDP menggunakan pendekatan MIMMS dan HICS, keduanya bisa digunakan dengan tetap memperhatikan fungsi pengorganisasian dan prinsipnya yakni ada tugas dan fungsi komando, perencanaan, operasional, logistik, serta keuangan dan administrasi. Tidak hanya itu, tetapi juga memastikan bahwa tugas telah dibagi habis termasuk siapa melakukan apa, alur komunikasinya bagaimana, siapa melapor ke siapa, dan ada perencanaan. Sedangkan untuk penugasan HVA dan HSI bahwa secara umum peserta sudah sangat familiar dengan tools HVA dan HSI. Rumah sakit perlu memberikan kesimpulan dari analisis risiko yang sudah dilakukan dalam bentuk deskripsi mengenai jenis bencana apa yang dijadikan prioritas dan dikembangkan menjadi skenario untuk dilanjutkan menjadi kasus simulasi ataupun pengembangan SOP.
Materi pertama pada hari kedua dengan topik “Manajemen Pengendalian Penyakit Infeksi di Situasi Darurat” disampaikan oleh dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, SpB. Awalnya, dr. Tomo, SpB menyampaikan adanya penyakit yang dapat menyebabkan kedaruratan yang mengancam kesehatan masyarakat secara global, seperti Mers-CoV dan Ebola, dan ada penyakit – penyakit lain yang membebani kesehatan Indonesia seperti Tuberkulosis, Pneumonia, Hepatitis B, Tifoid, Rabies, Leptospirosis, dan lain – lain. Penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar dari bencana alam adalah penyakit gastrointestinal dan respirasi. Kedua penyakit itu membutuhkan perhatian yang khusus dalam penanganannya. Wahyu menyampaikan Trias Epidemiologis Penyakit Infeksi, yang terdiri atas agen (patogen), lingkungan, inang (host). Ketiganya memiliki corak karakteristik dan cara intervensi tersendiri. Dengan memecah rantai infeksi melalui cara intervensi masing-masing, harapannya potensi – potensi penyakit yang ada bisa dicegah. Berbagai penyakit dapat muncul pada saat bencana, secara umum dibagi menjadi infeksi dan non infeksi.
Materi selanjutnya berjudul “Fasilitas dan SOP saat Bencana” dipaparkan oleh Happy R. Pangaribuan, MPH. Fasilitas saat bencana adalah perubahan fungsi fasilitas sehari – hari menjadi fasilitas yang menjadi penyokong saat bencana dan hanya digunakan saat terjadi bencana. Contohnya, adanya ruang komando, ruang media, ruang informasi, ruang dekontaminasi, triase, logistik, ruang perawatan pasien dan lain – lain. Fasilitas penunjang juga diperlukan seperti ATK, alat komunikasi, peta, makanan, minuman, alat pelindung diri dan sebagainya. Tim harus memastikan fasilitas tersebut tersedia agar penanganan bencana dapat berjalan secara optimal. SOP dalam HDP untuk memenuhi sejumlah standar yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana yang tidak terdapat pada kegiatan sehari – hari. Isi SOP tersebut oproses penyelenggaraan kegiatan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana, dan oleh siapa dilakukan. SOP tersebut antara lain alur komando, sistem komunikasi, triase, penerimaan donasi, pengaturan relawan, dan lain – lain. SOP ini disesuaikan dengan kondisi tiap rumah sakit tergantung kebutuhan. Menentukan kebutuhan SOP berdasarkan analisis risiko bencana di rumah sakit, berdasarkan pengalaman, evaluasi dokumen HDP, dan referensi.
Materi ketiga berisi Data dan Informasi Saat Bencana diberikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes, yang menyampaikan bahwa data dan informasi dibutuhkan pada fase pra bencana dan saat terjadi bencana karena data diperlukan menjalankan fungsi rumah sakit dan membuat laporan ke pihak terkait. Seorang surveilans dibutuhkan di rumah sakit yang bertugas untuk melakukan pengamatan secara teratur dan terus menerus yang nantinya data akan diseminasikan kepada para stakeholder. Komponen surveilans yaitu pengumpulan data/informasi, pengolahan data, analisis dan interpretasi data, dan penyebarluasan informasi. Surveilans saat bencana tidak ada bedanya dengan saat tidak terjadi bencana, hanya harus lebih cepat, sederhana, berjejaring, dan memiliki prioritas. Peran dan fungsi data dalam manajemen bencana adalah sebagai dasar dalam mengambil keputusan/kebijakan, early warning, dan dokumentasi kegiatan/ laporan. Dibutuhkan SDM, kompetensi, pengetahuan, dan update untuk pengelolaan data dan informasi. Akhirnya, sistem administrasi informasi di rumah sakit untuk membantu aktivitas yang ada di rumah sakit.
Materi terakhir berjudul “Pengembangan Skenario dan Peta Respon” oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Peta Risiko adalah gambaran tingkat risiko bencana suatu daerah, disusun sebelum terjadi bencana. Sedangkan peta respon dibuat saat terjadi bencana berisi bahaya, kapasitas, alur respon, dan jalur evakuasi. Tujuan peta respon ini untuk mengoptimalkan bantuan yang masuk dari luar daerah terdampak bencana. Peta respon diletakkan di tempat yang mudah dilihat, selalu di – update berdasarkan hasil laporan perkembangan. Skenario disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang menggambarkan situasi yang realistis, logis, serta dapat dipertanggungjawabkan, bertujukan untuk mendeskripsikan satu ancaman bahaya yang akan dibuatkan rencana kontinjesi sehingga para penyusun memiliki persepsi yang sama akan dampak yang mungkin terjadi. Komponen penyusunan skenario: kronologi kejadian, penentuan tingkat risiko, waktu terjadinya, lokasi kejadian, durasi kejadian, asumsi dampak, kondisi yang memperberat/meringankan dampak. Di akhir sesi, kegiatan ditutup dengan tanya jawab dengan para peserta.
Reporter: dr. Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)
{slider 5 April 2022}

Pelatihan dasar penyusunan rencana penanganan bencana di rumah sakit (Hospital Disaster Plan/HDP) dilakukan secara online pada minggu pertama dan kedua bulan ini (5 dan 12 April 2022). Hari pertama (5/4/2022) pelatihan dihadiri 101 peserta yang tergabung dalam Zoom. Agenda hari pertama antara lain pemaparan 4 materi dan terdapat beberapa penugasan. Acara ini bertujuan agar peserta memahami penyusunan HDP yang sesuai dengan karakteristik tiap rumah sakit agar nantinya rumah sakit siap untuk menghadapi baik bencana alam maupun non alam.
Pelatihan dipandu oleh Happy R. Pangaribuan, MPH, selaku moderator, dan dibuka oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD selaku konsultan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan. Hendro meninggalkan pesan bahwa pembuatan HDP bertujuan untuk persiapan RS dalam menghadapi bencana bukan hanya untuk akreditasi. Pasalnya jika HDP disusun sesuai dengan pelatihan ini, maka dapat digunakan juga sebagai persyaratan akreditasi. Hasil dari pelatihan ini adalah Hospital Disaster Plan yang operasional sesuai kondisi di tempat masing – masing.
Materi pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes tentang HDP & Akreditasi SNARS 1.1. Bella Donna menyampaikan bahwa Hospital Disaster Plan (HDP) harus bisa operasional saat terjadi bencana, tidak hanya sekadar dokumen. Dari pengalaman pandemi dan bencana yang dialami selama ini, rumah sakit harus bisa memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam dan pengendalian penyakit.
Posisi HDP dalam Akreditasi SNARS 1.1 yaitu Standar HDP terdapat pada Standar MFK 6. Elemen penilaian MFK 6 terdiri atas 4 poin: 1. RS memiliki regulasi manajemen bencana, 2. RS mengidentifikasi bencana internal dan eksternal, 3. RS telah melakukan self assessment kesiapan menghadapi bencana, 4. IGD telah mempunyai ruang dekontaminasi. Surge capacity adalah kemampuan sistem pelayanan kesehatan untuk secara cepat menambah kapasitas melebihi dari kondisi pelayanan normal untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis yang meningkat. Terdiri dari 4 komponen: struktur (fasilitas), staf (sumber daya manusia), sistem (manajemen, proses dan kebijakan), stuff (peralatan dan obat).
Materi kedua dengan topik Sistem Komando dan Pengorganisasian disampaikan oleh dr. Yudha Mathan Sakti, SpOT(K) – Spine. Yudha menitikberatkan masalah utama dalam penanganan bencana adalah Koordinasi. Persiapan dan koordinasi merupakan hal yang sangat penting karena bencana dapat “diprediksi” namun bisa datang kapan saja. Dengan HDP, rumah sakit bisa mempersiapkan penanganan bencana dengan baik, memperpendek masa krisis, dan memberikan respon optimal.
Konsep pengorganisasian harus membuat organisasi yang sederhana dan jelas. Lalu, saat terjadi bencana harus ada Incident Command System (ICS) dan membawahi 4 bidang dengan masing – masing ada penanggung jawabnya, antara lain: operasional, perencanaan, logistik, administrasi/keuangan. Yudha memberikan pesan jangan memberikan satu posisi untuk satu orang saja karena bencana dapat menimpa siapa saja, sediakan backup plan dan harus bisa interchangeable. Masing – masing personil harus memiliki kartu tugas (Job Action Sheets) yang berisi garis kewenangan, peran dan tanggung jawab personel. Di lokasi bencana harus memiliki command center untuk koordinasi karena kondisi bisa dinamis, liquid, dan volatile.
Materi ketiga dengan topik Logistik Medis dan Manajemen Relawan dipaparkan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Bidang Logistik merupakan salah satu bidang yang penting karena berfungsi untuk menyediakan semua kebutuhan dukungan insiden dan mengelola SDM. Logistik bertanggung jawab untuk menyediakan: fasilitas, transportasi, komunikasi, persediaan, pemeliharaan dan pengisian bahan bakar peralatan, layanan makanan, dan layanan medis.
Pada proses perencanaan diperlukan sense of crisis agar dapat menerjemahkan data yang diperlukan untuk perhitungan kebutuhan. Potensi bantuan bisa dari pemanfaatan filantropis, donasi, lingkungan sekitar RS, pemerintah, dan sumber lain. Penyimpanan logistik perlu ada beberapa hal yang dipertimbangkan lalu yang penting adalah pencatatan jenis bantuan, khususnya Berita Acara Serah Terima (BAST). Tugas logistik juga memahami platform koordinasi dan kolaborasi sumber daya, memahami manajemen relawan, pengadaan logistik, penyimpanan dan pencatatan logistik
Materi terakhir di hari pertama dengan topik Analisis Risiko dan Hospital Safety Index oleh Madelina Ariani, MPH. SNARS mewajibkan rumah sakit melakukan self-assessment kesiapan menghadapi bencana dengan Hospital Safety Index (HIS) dari WHO. Terdapat 40 jenis ancaman bencana yang perlu dinilai antara lain bencana meterologi, hidrologi, iklim, teknologi, biologi, sosial, dan geoteknikal.
Analisis risiko perlu dilakukan untuk mengidentifikasi potensi ancaman sehingga dapat membuat kesiapsiagaan/perencanaan yang tepat. Selanjutnya dapat mengetahui potensi ancaman bencana yang ada di wilayah tersebut dan menentukan prioritas dalam penanggulanan bencana dan krisis kesehatan
Instrumen – instrumen analisis risiko antara lain: cara sederhana, Hazard Vulnerable Assessment (HVA), Hospital Safety Index (HSI), Hazard Risk Assessment (HRA), dan lain – lain. Selanjutnya diberikan prioritas dalam penanganan bencana. Prioritas utama adalah bencana dengan risiko tinggi terhadap terjadinya risiko krisis kesehatan.
Reporter: dr Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK)
{/sliders}
{tab Rekaman Video}
Materi 1 : Akreditasi SNARS dan Strategi Penyiapan HDP di RS dr Bella Donna, M Kes
Materi 2 : Sistem Komando dan Pengorganisasian dr Yudha Mathan Sakti,SpOT, KSpine
Materi 3 : Logistik Medik dan Manajemen Relawan apt Gde Yulian Yogadhita, M Epid
Materi 4 Analisis Risiko, Hospital Safety Indeks Madelina Ariani, MPH
{/tabs}
Pengantar: Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Daerah (Sulawesi Selatan)
Diselenggarakan oleh PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Center For Disease Control and Prevention (CDC)
Kegiatan ini merupakan lanjutan kegiatan Peningkatan Kapasitas Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) di daerah yang diselenggarakan pada tahun lalu. Pada 2021 lalu telah dilaksanakan rangkaian kegiatan mulai dari pengkajian kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan KKM sampai pengayaan terkait materi ICS dan PHEOC. Hasil reviewmenunjukkan bahwa kapasitas umum untuk KKM masih perlu dikembangkan dan diperlukan kapasitas khusus dalam menyusun rencana penanggulangan bencana daerah. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan online dan offline mengenai Dinas Kesehatan Disaster Plan Dinkes Disaster Plan (DDP) dan bagaimana integrasinya dengan PHEOC. Harapannya agar peran PHEOC di daerah oleh dinas kesehatan semakin kuat dan pondasi struktur penanganan bencana di daerah terbangun. Dinas kesehatan akan difasilitasi untuk menyusun perencanaan DDP dan organisasi PHEOC daerah, mengevaluasi rangkaian kegiatan dan merencanakan penanggulangan bencana alam, non alam, krisis dan kedaruratan kesehatan masyarakat menggunakan pendekatan dinkes disaster plan di daerah.
Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan dan meningkatkan kesiapsiagaan daerah dalam pengendalian kegawatdaruratan kesehatan masyarakat melalui penguatan kapasitas sumber daya pengendali PHEOC daerah yang terintegrasi dengan Dinkes Disaster Plan. Secara khusus bertujuan untuk menguatkan komponen dinkes disaster plan yang memuat H-EOC dan PHEOC di daerah dan memfasilitasi penyusunan dinkes disaster plan struktur pengorganisasian dan interoperability koordinasi PHEOC di daerah, termasuk tupoksinya.
Adapun agenda kegiatan adalah :


Materi
Reportase: Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Daerah
Reportase
Pelatihan Pendalaman Rencana Kesiapsiagaan Bencana
PENINGKATAN KAPASITAS DAERAH DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA DAN KRISIS KESEHATAN DI DAERAH
(DINKES DISASTER PLAN)
Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros
Dalam dan Luar Jaringan (Hybrid)

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan Materi Komponen Dinkes Disaster Plan”
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara online. Kegiatan pelatihan online ditujukan untuk penguatan konsep DDP yang meliputi pengorganisasian, komponen dan analisis risiko. Pada pertemuan pertama 22 Maret 2022 peserta yang mengikuti kegiatan melalui zoom sekitar 26 orang. Kegiatan dimoderatori oleh Happy R Pangaribuan, MPH. Koordinator program Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS membuka kegiatan dan menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berkelanjutan hingga 2023. Harapannya dinas kesehatan tetap berkomitmen mengikuti kegiatan dan aktif memberikan masukan, sehingga output dokumen dinkes disaster plan bisa tercapai dan sampai pada tahap Table Top Excercises. Selanjutnya dr. Bella Donna, M.Kes memaparkan Komponen Dinkes Disaster Plan. Komponen ini sudah disesuaikan dengan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang dikembangkan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Dokumen mencakup hal – hal yang dibutuhkan dinas kesehatan untuk kesiapsiagaan krisis kesehatan akibat bencana alam maupun bencana non alam. Komponen – komponen tersebut diantaranya identifikasi kapasitas kesehatan, analisis risiko, rencana kontingensi dan operasional HEOC. Dokumen ini disusun sesuai dengan karakteristik dinas kesehatan dan ada tim khusus untuk menyelesaikan dokumen. Pada sesi diskusi peserta menanyakan data apa saja yang diperlukan dalam menganalisi risiko dan apa perbedaan rencana kontingensi dengan dokumen dinkes disaster plan.

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Pemapran Materi Pengorganisasian (kiri) dan Analisis Risiko (kanan)
Pertemuan kedua 24 Maret 2022, Gde Yulian, Apt, M.Epid memaparkan bagaimana sistem pengorganisasian dalam dokumen dinkes disaster plan. Pengorganisasian yang disusun tetap mengacu pada pendekatan Incident Command System (ICS). Pengorganisasi dengan pendekatan ICS akan memudahkan tim bencana untuk aktivasi Health Emergency Operation Center (HEOC), yang sebelumnya dikenal dengan klaster kesehatan. Pertemuan ketiga, 25 Maret 2022, Madelina Ariani, MPH memaparkan analisis risiko bencana. Melalui analisis ini akan didapatkan satu jenis bencana yang menjadi prioritas penanganan dalam dokumen dinkes disaster plan. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan skenario yang mendetailkan rencana aksi untuk penanganan bencana prioritas tadi. Madelina juga menyampaikan sekilas terkait SOP apa saja yang diperlukan dalam penanganan bencana. Pada sesi diskusi Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa sudah pernah melakukan kajian analisis risiko bencana. Hasil kajian ini nanti akan di – review kembali pada pertemuan selanjutnya yang akan dilaksanakan secara luring di Sulawesi Selatan.
Secara keseluruhan pelatihan online ini berjalan dengan baik, peserta juga konsisten untuk mengikuti via zoom. Peserta yang mengikuti pelatihan online ini menjadi peserta pelatihan luring. Pelatihan luring untuk Dinkes Kabupaten Maros akan dilaksanakan pada 27 – 28 Maret 2022, Dinkes Kota Makassar digabung dengan Dinkes Provinsi Sulsel pada 29 – 30 Maret 2022. Pelatihan luring nanti akan banyak ke penugasan langsung menyusun komponen dinkes disaster plan dan diskusi lebih lanjut.
Reporter : Happy R Pangaribuan (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)
Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM
Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Daerah (Makasar)
Pelatihan Pendalaman Rencana Kesiapsiagaan Bencana
Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Daerah
(Dinkes Disaster Plan)
Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros
Dalam dan Luar Jaringan (Hybrid)
22 – 31 Maret 2022
{tab title=”Kerangka Acuan Kegiatan” class=”red”}
Pengantar
Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) adalah wadah pusat komunikasi dan koordinasi berbagai pihak untuk melakukan penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) atau juga dikenal dengan public health emergency, baik pada saat normal karena eskalasi kejadian penyakit atau kejadian luar biasa penyakit yang merupakan dampak lanjutan dari kejadian bencana non alam yang mendahului, atau public health in emergency. Kedaruratan kesehatan masyarakat seringkali diikuti dengan kejadian yang sangat cepat, menyerang banyak orang dan luas wilayah yang bisa sangat luas, serta dapat menimbulkan kecemasan berbagai pihak.
Untuk itu, dengan kondisi negara Indonesia yang luas ini, PHEOC diharapkan tidak hanya berada di level nasional saja tapi juga dapat diimplementasikan juga di tingkat daerah. Selama ini PHEOC daerah fungsinya berada di dinas kesehatan di seksi surveilans bidang pengendalian penyakit dengan fungsi komando dan koordinasi yang masih sangat terbatas, padahal dengan kapasitas pemantauan rutin dan pengolahan data seperti yang selama ini sudah berjalan dengan baik, fungsi PHEOC daerah dapat lebih dikembangkan lagi. Oleh karena itu, PKMK FK – KMK UGM bekerjasama dengan Lembaga INSPIRASI melakukan kegiatan Pengembangan Kapasitas PHEOC Daerah untuk Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada 2021 lalu telah dilaksanakan rangkaian kegiatan mulai dari pengkajian kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan KKM sampai pengayaan terkait materi ICS dan PHEOC. Hasil review menunjukkan bahwa kapasitas umum untuk KKM masih perlu dikembangkan dan diperlukan kapasitas khusus dalam menyusun rencana penanggulangan bencana daerah. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan online dan offline mengenai Dinas Kesehatan Disaster Plan/ Dinkes Disaster Plan (DDP) dan bagaimana integrasinya dengan PHEOC. Harapannya agar peran PHEOC di daerah oleh dinas kesehatan semakin kuat dan pondasi struktur penanganan bencana di daerah terbangun. Dinas kesehatan akan difasilitasi untuk menyusun perencanaan DDP dan organisasi PHEOC daerah, mengevaluasi rangkaian kegiatan dan merencanakan penanggulangan bencana alam, non alam, krisis dan kedaruratan kesehatan masyarakat menggunakan pendekatan dinkes disaster plan di daerah.
Tujuan
Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan dan meningkatkan kesiapsiagaan daerah dalam pengendalian kegawatdaruratan kesehatan masyarakat melalui penguatan kapasitas sumber daya pengendali PHEOC daerah yang terintegrasi dengan Dinkes Disaster Plan.
Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk:
- Menguatkan komponen dinkes disaster plan yang memuat H-EOC dan PHEOC di daerah
- Memfasilitasi penyusunan dinkes disaster plan struktur pengorganisasian dan interoperability koordinasi PHEOC di daerah, termasuk tupoksinya
Proses Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara online. Kegiatan pelatihan online ditujukan untuk penguatan konsep DDP yang meliputi Pengorganisasian, komponen dan analisis risiko.
Dilanjutkan dengan 2 hari secara tatap muka untuk masing-masing daerah. Hari 1 dan 2 setiap narasumber kembali menguatkan konsep, operasi, dan pengorganiasain H-EOC dan PHEOC dalam dinkes disaster plan di daerah melanjutkan dari kegiatan pelatihan online tahun lalu. Kemudian dilanjutkan dengan penugasan – penugasan dikerjakan oleh tim penyusun PHEOC daerah yang berfokus pada penyusunan pengorganisasian, alur dan tupoksi, termasuk interoprebaility dan koordinasi lintas sektor. Evaluasi kegiatan dan konten dilaksanakan diakhir kegiatan tatap muka.
Setelah kegiatan tatap muka, selama 2 bulan oleh PKMK FK – KMK UGM, masing – masing daerah akan didampingi menyusun Dinas Kesehatan Disaster Plan. Beberapa kegiatan online dibutuhkan untuk mengevaluasi progress pengerjaan dan pemahaman, termasuk konsultasi menggunakan media email dan WA Group.
Peserta dan Kebutuhan yang Dibawa Saat Kegiatan
Peserta kegiatan berasal dari tiga daerah terpilih yakni Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, dan Dinas Kesehatan Kota Makasar. Peserta diharapkanyang berasal dari Bidang Pengendalian Penyakit (P2), Sie Surveillans, Sie Krisis Kesehatan, Bidang Yankes, dan Sie Rujukan.
Sangat diharapkan peserta asesmen pada April dan pelatihan online awal Juni tetap dapat berhadir dalam kegiatan ini. Setiap dinas kesehatan diharapkan dapat mengirimkan maksimal 10 orang yang dapat berhadir selama tiga hari kegiatan.
Setiap kelompok dinas kesehatan diharapkan membawa:
- minimal 2 laptop,
- profil dinas kesehatan,
- rencana kontijensi bencana alam non alam bidang kesehatan/ kegawatdaruratan kesehatan masyarakat (jika ada),
- struktur organiasai dinas kesehatan terupdate.
Output Kegiatan
- draft Dinkes Disaster Plan daerah
- draft tupoksi DHMT/H-EOC daerah
- rencana tindak lanjut PHEOC daerah
Jadwal Daring
| Selasa, 22 Maret 2022 | |||
| Waktu (WITA) | Materi | Moderator/Narasumber | |
| 10.00 – 10.10 |
Pengantar dan Pembukaan
Pretest |
PKMK FK – KMK UGM Dinkes Prov. Sulawesi Selatan
Moderator : Madelina Ariani, MPH |
|
| 10.10 – 10.50 |
Overview Dinkes Disaster Plan Komponen Dinkes Disaster Plan |
dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
| 10.50 – 11.50 | Diskusi | ||
| 11.50 – 12.00 | Pengarahan pertemuan selanjutnya | ||
| Kamis, 24 Maret 2022 | |||
| Waktu | Materi | Moderator/Narasumber | |
| 10.00 – 10.10 | Pengantar singkat dan review pertemuan sebelumnya |
Moderator Happy R Pangaribuan, MPH |
|
|
10.10 – 10.50
|
Pengorganisasian Penguatan Operasional HEOC dan PHEOC |
Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
| 10.50 – 11.50 | Diskusi | ||
| 11.50 – 12.00 | Pengarahan pertemuan berikutnya | PKMK FK – KMK UGM | |
| Jumat, 25 Maret 2022 | |||
| Waktu | Materi | Moderator/Narasumber | |
| 09.00 – 09.10 | Pengantar singkat |
Moderator Happy R Pangaribuan, MPH |
|
| 09.10 – 10.00 | Analisis Risiko dan Pengembangan Skenario | Madelina Ariani, MPH – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
|
10.00 – 10.40
|
Diskusi | ||
| 10.40 – 10.50 | Post Test | ||
| 10.50 – 11.00 | Testimoni dan Rencana Tindak Lanjut | ||
| 10.00 | Penutupan | ||
Jadwal Luring Pendampingan Penyusunan Dinkes Disaster Plan
Kabupaten Maros
| Senin, 28 Maret 2022 | ||||
| Waktu (WITA) | Materi | Keterangan | ||
|
09.00 – 09.10 09.10 – 09.30 |
Pengantar kegiatan Pengarahan dan pembukaan
|
PKMK FK-KMK UGM Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan |
||
| 09.30 – 10.00 |
Review Pelatihan Online minggu sebelumnya Komponen Dinkes Disaster Plan |
dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | ||
|
10.00– 12.00
|
Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
||
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | |||
| 13.00 – 14.45 |
Lanjutan Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
||
| 14.45 – 15.00 | Pengarahan pertemuan hari 2 | PKMK FK-KMK UGM | ||
| Selasa, 29 Maret 2022 | ||||
| Waktu | Materi | Keterangan | ||
| 09.00 – 09.30 | Review materi hari 1 dan penugasan 1-2 | Fasilitator dan peserta | ||
|
09.30 – 10.00
10.00 – 10.15 |
Materi 3 : Interoperability H-EOC dan koordinasi PHEOC di daerah Diskusi |
Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | ||
|
10.15 – 12.00
|
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan
|
Fasilitator:
|
||
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | |||
| 13.00 – 14.00 |
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan |
Fasilitator:
|
||
|
14.00 – 14.30
|
Presentasi draft dokumen dinkes disaster plan | Dinas Kesehatan | ||
| 14.30 – 15.00 | RTL dan Penutup | Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt | ||
Kota Makassar – Provinsi Sulawesi Selatan
| Rabu, 30 Maret 2022 | |||
| Waktu (WITA) | Materi | Keterangan | |
|
09.00 – 09.10 09.10 – 09.30 |
Pengantar kegiatan Pengarahan dan pembukaan
|
PKMK FK-KMK UGM Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan |
|
| 09.30 – 10.00 |
Review Pelatihan Online minggu sebelumnya Komponen Dinkes Disaster Plan |
dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
|
10.00– 12.00
|
Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
|
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | ||
| 13.00 – 14.45 |
Lanjutan Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
|
| 14.45 – 15.00 | Pengarahan pertemuan hari 2 | PKMK FK-KMK UGM | |
| Kamis, 31 Maret 2022 | |||
| Waktu | Materi | Keterangan | |
| 09.00 – 09.30 | Review materi hari 1 dan penugasan 1-2 | Fasilitator dan peserta | |
|
09.30 – 10.00
10.00 – 10.15 |
Materi 3 : Interoperability H-EOC dan koordinasi PHEOC di daerah Diskusi |
Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
|
10.15 – 12.00
|
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan
|
Fasilitator:
|
|
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | ||
| 13.00 – 14.00 |
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan
|
Fasilitator:
|
|
|
14.00 – 14.30
|
Presentasi draft dokumen dinkes disaster plan | Dinas Kesehatan | |
| 14.30 – 15.00 | RTL dan Penutup | Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt | |
Jadwal pendampingan jarak jauh ditentukan kemudian selama 2 bulan yaitu April dan Mei 2022.
Penutup
Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan Hybrid – Daring dan Tatap Muka Peningkatan Kapasitas Penyusunan Dinkes Disaster Plan, integrasi H-EOC dengan PHEOC Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Kami berharap Dinas Kesehatan dapat memahami aspek-aspek yang terdapat dalam Dinkes Disaster Plan daerah dan dapat mengembangkan rencana tersebut kedepannya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan kesehatan masyarakat baik yang disebabkan bencana non alam, krisis kesehatan dan bencana alam itu sendiri. Sebagai lembaga riset dan konsultasi, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan/ PKMK FK – KMK UGM serta jejaring yang terlibat akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan peningkatan kesiapsiagaan krisis kesehatan baik karena bencana alam, non-alam maupun sosial di daerah.
{tab title=”Reportase” class=”blue”}

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan Materi Komponen Dinkes Disaster Plan”
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara online. Kegiatan pelatihan online ditujukan untuk penguatan konsep DDP yang meliputi pengorganisasian, komponen dan analisis risiko. Pada pertemuan pertama 22 Maret 2022 peserta yang mengikuti kegiatan melalui zoom sekitar 26 orang. Kegiatan dimoderatori oleh Happy R Pangaribuan, MPH. Koordinator program Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS membuka kegiatan dan menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berkelanjutan hingga 2023. Harapannya dinas kesehatan tetap berkomitmen mengikuti kegiatan dan aktif memberikan masukan, sehingga output dokumen dinkes disaster plan bisa tercapai dan sampai pada tahap Table Top Excercises. Selanjutnya dr. Bella Donna, M.Kes memaparkan Komponen Dinkes Disaster Plan. Komponen ini sudah disesuaikan dengan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang dikembangkan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Dokumen mencakup hal – hal yang dibutuhkan dinas kesehatan untuk kesiapsiagaan krisis kesehatan akibat bencana alam maupun bencana non alam. Komponen – komponen tersebut diantaranya identifikasi kapasitas kesehatan, analisis risiko, rencana kontingensi dan operasional HEOC. Dokumen ini disusun sesuai dengan karakteristik dinas kesehatan dan ada tim khusus untuk menyelesaikan dokumen. Pada sesi diskusi peserta menanyakan data apa saja yang diperlukan dalam menganalisi risiko dan apa perbedaan rencana kontingensi dengan dokumen dinkes disaster plan.

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Pemapran Materi Pengorganisasian (kiri) dan Analisis Risiko (kanan)
Pertemuan kedua 24 Maret 2022, Gde Yulian, Apt, M.Epid memaparkan bagaimana sistem pengorganisasian dalam dokumen dinkes disaster plan. Pengorganisasian yang disusun tetap mengacu pada pendekatan Incident Command System (ICS). Pengorganisasi dengan pendekatan ICS akan memudahkan tim bencana untuk aktivasi Health Emergency Operation Center (HEOC), yang sebelumnya dikenal dengan klaster kesehatan. Pertemuan ketiga, 25 Maret 2022, Madelina Ariani, MPH memaparkan analisis risiko bencana. Melalui analisis ini akan didapatkan satu jenis bencana yang menjadi prioritas penanganan dalam dokumen dinkes disaster plan. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan skenario yang mendetailkan rencana aksi untuk penanganan bencana prioritas tadi. Madelina juga menyampaikan sekilas terkait SOP apa saja yang diperlukan dalam penanganan bencana. Pada sesi diskusi Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa sudah pernah melakukan kajian analisis risiko bencana. Hasil kajian ini nanti akan di – review kembali pada pertemuan selanjutnya yang akan dilaksanakan secara luring di Sulawesi Selatan.
Secara keseluruhan pelatihan online ini berjalan dengan baik, peserta juga konsisten untuk mengikuti via zoom. Peserta yang mengikuti pelatihan online ini menjadi peserta pelatihan luring. Pelatihan luring untuk Dinkes Kabupaten Maros akan dilaksanakan pada 27 – 28 Maret 2022, Dinkes Kota Makassar digabung dengan Dinkes Provinsi Sulsel pada 29 – 30 Maret 2022. Pelatihan luring nanti akan banyak ke penugasan langsung menyusun komponen dinkes disaster plan dan diskusi lebih lanjut.
Reporter : Happy R Pangaribuan (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)
Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM
{/tabs}
Kendalikan Banjir Kali Krukut Dinas SDA DKI Jakarta Bangun Dua Waduk
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pekerja mengoperasikan alat berat di area proyek pembangunan Waduk Brigif, Jagakarsa, Jakarta, Ahad (27/3/2022). Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) membangun dua waduk di Jakarta Selatan, yaitu Waduk Brigif dan Waduk Lebak Bulus. Pembangunan Waduk Brigif ditujukan untuk pengendalian banjir pada aliran Kali Krukut dan ditargetkan rampung akhir tahun 2022.
Jalan Semarang Banjir Usai Surabaya Diguyur Hujan Selama 2 Jam
Surabaya – Surabaya diguyur hujan selama 2 jam. Derasnya hujan membuat sejumlah jalan di Surabaya banjir.
Di Surabaya Selatan, kawasan Gayungan digenangi air dengan ketinggian sebetis orang dewasa. Sementara di Surabaya Utara, kawasan Stasiun Pasar Turi tepatnya di Jalan Semarang, banjir setinggi lutut orang dewasa.
Seorang pengendara, Adrian (27) mengaku sempat bingung saat hendak pulang menuju rumahnya di kawasan Banyuurip. Sebab, saat melintas di Jalan Pasar Turi, genangan air setinggi pull step sepeda motornya.
“Ini tadi dari Indrapura, mau pulang ke Banyuurip. Pas lewat Pasar Turi banjirnya lumayan ya, akhirnya ya cari jalan lain daripada mogok,” kata Adrian kepada detikJatim, Minggu (27/3/2022).
Sementara Widya (43) mengaku, buah hatinya senang saat hujan deras mengguyur. Sebab, genangan air bisa menjadi wahana air dadakan.
“Anak-anak saya malah senang, bisa renang gratis,” ujarnya.
Ketika detikJatim berada di Jalan Semarang, ada 3 unit mobil Damkar di lokasi. Ada belasan hingga puluhan petugas berada di lokasi yang tengah menangani banjir.
sumber: detik.com
Banjir di Klaten, Sejumlah Desa Tergenang
Klaten – Banjir melanda Klaten malam ini. Sejumlah desa tergenang air dari sungai yang meluap buntut hujan lebat sejak sore.
Salah satunya di Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan. Kades Kaligawe, Ari Sutikno, mengatakan air dari Sungai Kaligawe masuk ke kampung setelah hujan lebat.
“Tadi petang air mulai masuk ke kampung. Ketinggian air ada yang 75 sentimeter, tetapi tidak ada pengungsi,” ungkap Ari kepada detikJateng, Sabtu (26/3/2022) malam.
Ari mengatakan, air itu diduga masuk ke permukiman karena sungainya tersumbat ranting. Air naik melalui titik tanggul yang jebol saat banjir sebelumnya.
“Mungkin ada ranting, sehingga air naik ke kampung lewat lokasi parapet yang jebol kemarin. Bagi warga, ini sudah biasa. Tapi kalau tidak segera surut, kita perlu perahu karet,” ujar Ari.
Ari menerangkan, banjir akibat luapan sungai itu sudah jadi langganan di desanya. Namun, masalah itu tak kunjung diselesaikan. Menurut dia, hari ini yang terdampak banjir sekitar 200 kepala keluarga (KK).
“Yang terdampak di Dukuh Lemahireng ada 2 RW, 200 KK. Tidak ada korban jiwa dan air mulai surut,” imbuh Ari.
Sementara itu, Relawan KRI Klaten, Parwito, menambahkan, banjir akibat meluapnya sungai itu juga terjadi di perbatasan Desa Troketon, Kecamatan Pedan.
“Di perbatasan Desa Troketon, di Dusun Sidokerso, air juga masuk ke permukiman. Di Desa Kurung, Kecamatan Ceper, juga sama,” ungkap Parwito kepada detikJateng via telepon.
Menurut Parwito, sampah pepohonan di Desa Kurung sebenarnya sudah dibersihkan dengan alat berat pada pekan lalu.
“Pekan lalu (timbunan sampah) di dekat jembatan sudah dibersihkan tim gabungan. Ini mungkin ada sampah lagi di sisi timur,” papar Parwito.
Selain di Kecamatan Ceper dan Pedan, banjir akibat meluapnya sungai juga terjadi di Desa Bero, Kecamatan Trucuk. Di desa itu, air sungai naik ke jalan meski lekas surut.
Kepala Pelaksana BPBD Klaten Sri Winoto mengatakan, hujan lebat yang merata di Klaten menyebabkan beberapa titik luapan. Saat ini timnya masih melakukan pendataan di lapangan
“Beberapa wilayah memang terpantau ada luapan. Pendataan masih dilakukan,” jelas Winoto.
Banjir yang Merendam Dua Desa di Kabupaten Balangan Berangsur Surut
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bencana banjir yang melanda dua desa di Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), sejak Jumat (25/3), berangsur surut. Hal tersebut berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB pada Ahad (27/3/2022), pagi.
BNPB mencatat dua desa yang terdampak adalah Desa Lalayau dan Desa Mihu di Kecamatan Juai. Sebanyak 45 KK atau 140 jiwa dilaporkan terdampak. Selain kerugian jiwa, banjir juga menimbulkan beberapa kerugian materil seperti 45 rumah dan satu masjid terendam, serta beberapa akses jalan menuju kedua desa tersebut terdampak.
Tinggi Muka Air (TMA) saat kejadian berkisar antara 10 hingga 50 sentimeter. Ia menambahkan, BPBD Kabupaten Balangan juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait serta dengan pihak kecamatan dan desa setempat agar melakukan pendataan.
Dalam satu pekan terakhir, banjir dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Provinsi Kalsel seperti di Kabupaten Tapin yang berdampak pada 219 KK dan di Kabupaten Banjar yang berdampak pada 3.983 KK.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, sebagian besar wilayah Kalsel masih berpotensi hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai angin kencang hingga Kamis (31/3/2022), mendatang. “Meski banjir di beberapa wilayah mulai berangsur surut, BNPB mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap siaga dan waspada mengantisipasi adanya potensi bencana hidrometeorologi,” katanya.
Para KK diharapkan dapat memperhatikan rencana kesiapsiagaan keluarga. Di antaranya, upaya evakuasi yang aman, penyiapan tas siaga atau pun penerapan protokol kesehatan apabila harus mengungsi sementara.

