Merdeka.com – Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatra Barat mengakhiri status tanggap darurat pascabencana gempa Magnitudo 6,1. Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menetapkan status pemulihan selama 90 hari terhitung mulai 11 Maret hingga 8 Juni 2022.
“Pemerintah daerah kini menetapkan status tanggap darurat ke pemulihan. Sebanyak 1.240 rumah terverifikasi rusak berat akibat gempa beberapa waktu lalu,” ujar Abdul dalam keterangan tertulis di Jakarta dilansir Antara, Jumat (11/3).
Status tersebut ditetapkan oleh Bupati Pasaman Barat melalui keputusan nomor 188.45/170/BUP-PASBAR/2022 tentang Penetapan Status Transisi Darurat Pemulihan Penanganan Bencana Alam Gempa Bumi di Kabupaten Pasaman Barat.
Abdul menjelaskan pada periode transisi ini, sistem komando penanganan darurat tetap melaksanakan fungsinya kepada warga terdampak, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pengendalian terhadap sumber ancaman bencana atau pun perlindungan kelompok rentan.
Di samping itu, upaya lain akan dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan fungsi prasarana dan sarana vital, perbaikan awal sosial-ekonomi masyarakat korban dan pengungsi. Pemerintah setempat juga tetap melakukan kaji cepat perkembangan situasi dan penanganan darurat bencana.
Pemerintah daerah telah memulai untuk membangun hunian sementara (huntara) sebanyak 25 unit. Huntara tersebut berada di Jorong Tanjung Beruang, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, yang pembangunannya didukung oleh Palang Merah Indonesia (PMI) wilayah Pasaman Barat dan TNI.
Sebelumnya Pasaman Barat menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai dari 25 Februari 2022 hingga berakhir pada 10 Maret 2022.
“Sementara itu, berdasarkan perkembangan data terkini di Pasaman Barat pada Jumat pukul 06.30 WIB, tercatat total rumah rusak mencapai 2.993 unit. Rincian kerusakan sebagai berikut, rumah rusak berat (RB) 1.240 unit, rusak sedang (RS) 703 dan rusak ringan (RR) 1.050,” ujar Abdul.
Kerusakan lain yaitu pada fasilitas pendidikan dengan rincian RB 19 unit, RS 14 dan RR 42. Pada fasilitas kesehatan terdampak tercatat RB 6 unit, RS 5 dan RR 7, kemudian pada fasilitas tempat ibadah RB 22 unit, RS 7 dan RR 11, serta fasilitas kantor pemerintah tercatat RS 9 unit dan RR 29.
Pada masa transisi masih memberikan pelayanan kepada warga terdampak karena sebanyak 3.979 orang masih mengungsi. Dinas kesehatan setempat secara rutin melakukan pengecekan kesehatan kepada mereka yang masih berada di pos pengungsian, seperti di Nagari Kajai.
BNPB terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah pada masa transisi ini, seperti sinkronisasi data kerusakan rumah dan fasilitas terdampak lainnya. [ray]

Pada Januari 2022 terjadi kenaikan kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia, diperkirakan puncaknya akan terjadi pada akhir Februari 2022. Sejauh ini, para ahli melaporkan pasien Omicron hanya mengalami gejala yang cukup ringan dan mayoritas sembuh tanpa perawatan di rumah sakit. Meski demikian, masih ada risiko bagi mereka yang belum divaksinasi. Hal ini mengkhawatirkan bila cakupan vaksinasi di daerah yang masih rendah, sementara Omicron menyebar sangat cepat di luar Jawa. rumah sakit utama di Jakarta hampir penuh dengan pasien COVID-19 dengan gejala sedang, berat hingga kritis. Untuk menghindari RS kolaps, dianjurkan pasien yang bergejala ringan untuk isolasi mandiri. Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi mengestimasi jumlah kasus harian periode Omicron bisa lebih tinggi hingga enam kali lipat dari varian Delta. Kebijakan pertemuan tatap muka di sekolah perlu dikaji ulang, karena di beberapa wilayah diketahui sekolah menjadi klaster baru. Seperti yang dilansir pada artikel berikut, meskipun kenaikan kasus terjadi pemerintah mengambil kebijakan mempertahankan sekolah tatap muka, termasuk mengurangi jumlah hari karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri dari tujuh hari menjadi lima hari. Pemerintah menguatkan kembali supaya masyarakat jangan lengah dan tetap mengikuti protocol kesehatan.













Disaster preparedness toolkit merupakan perangkat untuk identifikasi kesiapan respon perawatan kesehatan di rumah dalam program kesiapsiagaan bencana. Toolkit ini didasarkan pada praktik terbaik yang diidentifikasi dari lapangan. Toolkit membantu mendukung program kesiapsiagaan menghadapi bencana dan mempertimbangkan pendekatan semua bahaya, terlepas dari keadaan darurat atau bencana. Struktur dasar perangkat ini adalah tabel, yang mencantumkan setiap standar dan elemen yang berlaku dari persyaratan Komisi Bersama. Disejajarkan dengan setiap elemen dokumen sumber yang disarankan untuk diidentifikasi. Dokumen sumber utama termasuk The National Association of Home Healthcare and Hospice’s Emergency Preparedness Packet for Home Health Agencies, 12 the Agency for Healthcare Research and Quality’s Home Health Patient Assessment Tools. Dokumen sumber yang ekstensif ini memberikan daftar periksa, saran, dan contoh nyata alat yang akan berguna untuk program HBPC.
Pusat – pusat peringatan tsunami menghadapi tugas yang menantang untuk meramalkan dengan cepat ancaman tsunami segera setelah gempa bumi, ketika ada ketidakpastian yang tinggi karena kekurangan data. Penulis memperkenalkan Probabilistic Tsunami Forecasting (PTF) untuk peringatan dini tsunami. PTF secara eksplisit menangani ketidakpastian data dan perkiraan, memungkinkan definisi tingkat peringatan sesuai dengan tingkat konservatisme yang telah ditentukan sebelumnya, yang terhubung ke keseimbangan rata – rata alarm yang terlewat vs salah. Prakiraan dampak dan rekomendasi yang dihasilkan menjadi semakin tidak pasti seiring dengan tersedianya data baru. Di sini penulis melaporkan implementasi untuk peringatan dini sumber dekat dan mengujinya secara sistematis dengan memundurkan tsunami M8.8 Maule (Chile) 2010 yang hebat dan tsunami M6.8 Zemmouri-Boumerdes (Aljazair) 2003 yang dipelajari dengan baik, serta semua Mediterania gempa bumi yang memicu pesan peringatan di Pusat Peringatan Tsunami Italia sejak didirikan pada 2015, menunjukkan akurasi prakiraan pada berbagai magnitudo dan jenis gempa. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal Nature Communications.