Gunung Semeru Muntahkan Banjir Lahar, Aliran Sungai Dipenuhi Endapan Material Vulkanik

LUMAJANG, KOMPAS.TV – Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, kembali memuntahkan banjir lahar hujan pada Minggu (10/1) sore.

Akibatnya, sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Semeru dipenuhi material vulkanik.

Kepulan asap putih kecokelatan menyelimuti area Besuk Kobokan, Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang.

Ya, kepulan asap ini disebabkan pertemuan letusan sekunder dan air dengan endapan material vulkanik yang panas.

Banjir lahar hujan membawa endapan material vulkanik yang menumpuk di bagian hulu ke hilir sungai.

Bahkan, sebuah alat berat hanyut terbawa derasnya arus banjir lahar hujan.

Banjir di Sembakung dan Sembakung Atulai Nunukan Masih Tinggi

Tarakan: Permukiman warga di 13 desa di wilayah Kecamatan Sembakung dan Sembakung Atulai di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara,masih tergenang.
 
Kepala Kepolisian Sektor Sembakung Ipda Ishak Panggala mengatakan setelah sempat turun, genangan air kembali naik pada Minggu malam, 9 Januari 2022.
 
Menurut dia, genangan air masih merendam permukiman warga di Desa Tagul, Atap, Manuk Bungkul, Lubakan, Tujung, Pagar, dan Labuk di Kecamatan Sembakung.

Selain itu, ia melanjutkan, wilayah Desa Pulau Keras, Liuk Bulu, Binanun, Sabuluan, Lubok Buat, dan Katul di Kecamatan Sembakung Atulai juga masih tergenang.
 
“Kondisi warga dalam keadaan baik, belum ada warga yang dilaporkan kondisinya sakit akibat banjir,” kata Ishak.
 
Kementerian Sosial juga sudah mengirimkan bantuan bagi korban banjir di dua wilayah kecamatan di Kabupaten Nunukan. 
 
“Ada pasokan logistik datang empat truk dari Kemensos, di antaranya ada sembako, tempat tidur, dan obat-obatan,” terang dia.
 
Pada Minggu, 9 Januari 2022, Menteri Sosial Tri Rismaharini datang ke Sembakung untuk meninjau dampak banjir dan menjenguk warga yang terdampak bencana.
 

(MEL)

Tangani Banjir Papua, Kementerian PUPR Kaji Opsi Normalisasi Sungai

JAKARTA, KOMPAS.com – Bencana banjir dan tanah longsor melanda sejumlah distrik di Kota Jayapura dan sekitarnya, seperti Distrik Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram, dan Muara Tami.

Kementerian PUPR telah melakukan sejumlah langkah penanganan darurat pasca banjir dan tanah longsor di Kota Jayapura, Papua yg terjadi sejak Kamis (6/1/2021) malam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Selain menurunkan alat berat, Kementerian PUPR juga mengkaji kemungkinan untuk melakukan normalisasi sungai.

Terdapat tiga sungai yang rencananya akan dinormalisasi yakni Sungai Siborgonyi sepanjang 1,9 kilometer, Acai sepanjang 1,6 kilometer dan Makanoay sepanjang 660 meter.

Hal tersebut disampaikan oleh Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja dalam keterangannya, Minggu (9/1/2022).

“Berdasarkan hasil evaluasi Tim PUPR di lapangan, salah satu penyebab banjir adalah terjadinya sedimentasi sungai dan penyumbatan sampah pada Daerah Aliran Sungai,” ujarnya. 

Adanya sedimentasi sungai serta penyumbatan sampah tersebut berdampak buruk ketika hujan deras karena menyebabkan sungai meluap.

Saat ini, jumlah alat yang dikerahkan oleh balai-balai di Jayapura sebanyak 12 unit Dump Truck, 3 excavator mini, 2 excavator besar.

“Kami juga mendapatkan bantuan tambahan alat berat dari Kepolisian sebanyak 3 unit excavator besar dan 1 loader, serta 2 Dump Truck dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura,” kata Endra.

Normalisasi sungai adalah bagian dari penanganan bencana banjir jangka pendek yang akan dilakukan oleh Kementerian PUPR.

Selain itu, Kementerian PUPR juga melakukan penanganan pembersihan beberapa ruas jalan yang terdampak banjir.

Terdapat empat ruas jalan nasional yang terdampak yaitu Jl.Kelapa Dua , Abepura ruas Bts. Kota Jayapura/Kabupaten Keerom, ruas Jayapura-Sentani, dan Jalan Raya Abepura (Abepura).

“Saat ini semua ruas tersebut sudah dilakukan pembersihan dengan alat berat dan sudah dapat dilalui kendaraan dengan lancar,” imbuh Endra.

Untuk penanganan jangka panjang, Kementerian PUPR merencanakan akan membangun sejumlah infrastruktur untuk konservasi air dan pengendalian banjir.

Di antaranya pembangunan kolam retensi di Kawasan Organda Baru, pembangunan parapet di Sungai Acay dan Sungai Siborgonyi, serta pembangunan Checkdam di hulu Sungai Makanoay.

Bencana banjir ini tak hanya merendam ratusan rumah penduduk dan fasilitas umum, namun juga menelan 8 korban jiwa.

Pada Jumat (7/1/2021), sebanyak 7 orang meninggal karena tertimbun longsor di Kota Jayapura. Sementara itu 1 korban meninggal lainnya diduga karena tenggelam di lokasi banjir.

Banjir Terjang Jember, Satu Orang Tewas dan 150 Rumah Terendam

Jakarta, CNN Indonesia — Setidaknya satu warga meninggal dunia dan satu orang lainnya hilang akibat banjir yang merendam 150 rumah di Jember, Jawa Timur, pada Minggu (9/1).

“Banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, mengakibatkan satu orang meninggal dunia,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam pernyataan resminya.

Abdul mengatakan bahwa banjir ini terjadi pada Minggu sore sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah banjir surut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember bersama TNI dan Polri langsung membantu warga berbenah.

Hingga Minggu malam, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KabupatenJember juga masih mendata jumlah warga yang mengungsi. Menurut Abdul, banjir ini berdampak pada 150 KK.

Selain itu, banjir ini juga menyebabkan sejumlah bangunan terendam air, di antaranya 150 unit rumah, 3 fasilitas umum, dan 3 tempat ibadah.

Dalam pernyataan itu, Abdul menjelaskan bahwa banjir juga sempat menerjang Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, pada Minggu dini hari.

“BPBD Kabupaten Malinau mencatat sekitar 2.886 jiwa terdampak, namun tidak ada pengungsian akibat kejadian ini. Selain itu, sebanyak 571 unit rumah warga dan 1 fasilitas pendidikan terdampak banjir,” tutur Abdul.

Abdul memastikan bahwa berdasarkan pemantauan terakhir pada Minggu malam, banjir sudah mulai surut, tapi cuaca masih mendung. Namun, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap waspada.

(has)

 

 

Reportase Bincang Radio Series 1 – 4

logo caritas

logo caritas

Reportase  Bincang Radio Series 1 – 4

Edukasi untuk Masyarakat mengenai Kegiatan Peningkatan Kapasitas Penanggulangan Bencana Alam dan Pandemi di Sulawesi Tengah

Kerjasama antara
Caritas Germany, PKMK F – KKMK UGM dan Pemerintah Sulawesi Tengah


Peningkatan Kapasitas Penanggulangan Bencana Alam dan Pandemi di Sulawesi Tengah telah menginspirasi daerah – daerah lain dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Harapannya, masyarakat Sulawesi Tengah juga mengetahui, mendukung dan terlibat dalam upaya penanggulangan bencana dan krisis kesehatan hingga ke tingkat keluarga.

Radio menjadi pilihan yang tepat untuk sosialisasi kegiatan dan edukasi terkait penanganan bencana. Terdapat 4 bahasan yang sudah dipublikasikan dengan narasumber dari PKMK FK – KMK UGM, Dinas Kesehatan Provinsi, Wakil Walikota Palu dan Dokter Preneur. Siaran radio ini kerja sama dengan MSRadio 98,3 FM Sulawesi Tengah. Dimana dapat juga diakses oleh masyarakat di luar Sulawesi Tengah melalui https//linktr.ee/msradiopalu .

 

Series 1
Kesiapsiagaan penangguangan bencana ditingkat keluarga (Family disaster preparedness planning)

podcast series 1Narasumber siaran pertama menghadirkan dr. Bella Donna, M.Kes dan Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Narasumber mengawali dengan menceritakan secara singkat apa program kerja yang dilakukan oleh PKMK FK – KMK UGM selama ini di Sulawesi Tengah. Kemudian dilanjutkan dengan bagaimana kesiapsiagaan bencana dalam keluarga dan mengapa keluarga harus siap? Satu desa terdiri dari beberapa keluarga, jika dalam keluarga kuat maka desa kuat. Kita harus membiasakan kesiapsiagaan dari unit terkecil yaitu keluarga. Keluarga mengetahui resiko apa yang terjadi di rumah, misalnya gempa, dihindari meletakkan barang – barang berat di atas lemari, keluarga sudah mengetahui posisi dimana pertama kali berlindung. Keluarga bisa juga menyiapkan pembagian tugas jika terjadi gempa, misalnya ibu segera mematikan kompor, bapak mengambil barang/dokumen berharga, anak – anak menghubungi PSC-119 jika ada yang terluka, atau anak mendampingi nenek untuk jalan keluar. Artinya sudah diidentifikasi jika di rumah ada kelompok rentan. Sebelum terjadi bencana kita sudah siap dengan tas bencana, di dalamnya ada kesiapan untuk kebutuhan kita minimal 3 hari misalnya makanan, minuman, pakaian tipis, obat – obatan, surat penting dan sebagainya.

Selengkapnya YouTube VIDEO

 

Series 2
Peran masyarakat dan keluarga dalam mendukung program kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas

podcast series 2Narasumber siaran kedua menghadirkan Erywahyuningtias, SKM, MAP dan apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Narasumber mengawali dengan menjelaskan progam apa yang telah dikerjakan oleh dinas kesehatan provinsi bekerjasama dengan PKMK FK – KMK UGM. Kerja sama sudah lama berlangsung dimulai dari penyusunan rencana kontingensi, dalam hal ini adalah dinkes disaster plan, hospital disaster plan dan puskesmas disaster plan. Ini sangat penting sebagai kesiapsiagaan daerah dalam penanggulangan bencana sektor kesehatan. Ada juga kegiatan yang sangat menarik yaitu Training of Trainer (TOT) fasilitator lokal, untuk pengembangan kapasitas lokal. Dengan output akhir fasilitator lokal ini yang akan siap untuk mendampingi daerah lainnya untuk penyusunan disaster plan. Masyarakat sangat berperan dalam penanggulangan bencana, keluarga adalah kunci utamanya. Puskesmas yang berhubungan langsung dan memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam hal, pencegahan dan pengurangan risiko bencana kesehatan. Organisasi pemuda merupakan bagian dari masyarakat. Akan lebih bagus jika komponen – komponen masyarakat juga diberi pemahaman terkait penanganan bencana khususnya gempa. Organisasi pemuda bisa menghubungi puskesmas setempat jika ingin terlibat dalam program kesiapsiagaan bencana, sehingga organisasi pemuda ini bisa menjadi elemen yang bisa digerakkan oleh puskesmas. Sehingga bisa menjadi tenaga cadangan/relawan yang siap dimobilisasi jika sewaktu – waktu ada bencana. Masyarakat perlu dilibatkan dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana untuk mengurangi risiko bencana.

Selengkapnya YouTube VIDEO

 

Series 3
Pemanfaatan kapasitas relawan kesehatan “Nagasi” untuk penanganan krisis kesehatan pandemi COVID-19 gelombang kedua

podcast series 3Series-3 menghadirkan dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK.,M.Kes Wakil Walikota Palu dan berperan sebagai Inisiator Relawan Nagasi Kota Palu. Narasumber mengawali dengan menjelaskan apa itu relawan nagasi dan bagaimana sistem kerjanya. Tim Nagasi dibentuk untuk membantu penaganan COVID-19, karena pada masa itu ada kenaikan kasus gelombang-2 COVID-19. Pemerintah Desa juga dilibatkan untuk mendukung program kerja Relawa Nagasi. Relawan Nagasi terhubung juga dengan Dinas Kesehatan dan RS, khususnya jika ada pasien yang membutuhkan rujukan penanganan.

Relawan Nagasi terdiri dari berbagai profesi yaitu dokter, bidan, perawat, admin dan apoteker. Pelayanan kesehatan yang dilakukan berbasis online yaitu WhatsApp Group. Semua berperan sesuai dnegan profesinya masing – masing. Bidan mengetahui dimana saja ibu hamil yang terpapar dan rutin memantau kesehatannya. Mereka tersebar di 8 kecamatan berdasarkan wilayah Puskesmas. Dibentuk WAG di masing – masing kecamatan. Jadi akses pelayanan melalui WAG, semua informasi masuk dalam grup tersebut. Camat yang menjadi koordinator WAG tersebut.

Selengkapnya YouTube VIDEO

 

Series 4
Adaptasi baru perubahan perilaku masyarakat dan sikap kesiapsiagaan menghadapi tantangan bencana dan krisis kesehatan

podcast series 4Series 4 menghadirkan dr. Rizqa, M.Kes sebagai Dokter Preneur dan Direktur Klinik Agung untuk mendiskusikan bagaimana perilaku masyarakat dan sikap kesiapsiagaan menghadapi tantangan bencana dan krisis kesehatan. Diskusi diawali dengan pertanyaan dari sisi perilaku masyarakat, apa perubahan perilaku masyarakat atau adaptasi yang terlihat setelah 2 tahun menghadapi pandemi COVID-19. Ketika kasus meningkat, masih terlihat kedisiplinan masyarakat terhadap prokes namun ketika sudah mulai turun kedisiplin ini menurun. Perubahan perilaku masuk dalam kategori mitigasi, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana non alam ini. Perubahan perilaku yang terlihat adalah beraktivitas menggunakan masker, membatasi kerumunan. Artinya perilaku yang dibentuk harus memperhatikan protokol kesehatan apalagi mendekati liburan akhir tahun. Pendataan orang – orang rentan dalam satu komunitas atau dalam keluarga kita sendiri perlu kita identifikasi. Kemudian mereka diedukasi untuk mampu secara mandiri mematuhi protokol kesehatan, khususnya disabilitas dan lansia. Dinkes Provinsi memiliki layanan call centre khusus untuk melaporkan keadaan gawat darurat, boleh juga dilaporkan jika merasakan ada gejala COVID-19. Terkait influencer, mereka bisa memberikan pengaruh positif misalnya sering post video perilaku disiplin prokes, post informasi yang benar terkait vaksin, jadi informasi – informasi yang meyakinkan masyarakat untuk taat prokes.

Selengkapnya YouTube VIDEO

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Div Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

Sudah 5 Orang Meninggal karena Banjir, Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

LHOKSUKON – Korban meninggal dunia akibat banjir yang terjadi di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur kembali bertambah.

Selasa (4/12/2022) pagi kemarin, warga menemukan sesosok mayat perempuan mengapung di Krueng Peutoe, kawasan Desa Paya Beurandang, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara. 

Mayat yang kemudian teridentifikasi bernama Hamidah (65), janda lanjut usia (lansia) asal Desa Paya Lueng Jalo, Kecamatan Pirak Timu ini ditemukan dalam kondisi tertelungkup.

Diperkirakan, Hamidah sudah tenggelam sejak dua hari lalu.

Suasana banjir di Keude Lhoksukon, Aceh Utara, Senin (3/1/2022). Sejumlah mobil barang bukti di halaman belakang Mapolsek Lhoksukon ikut terendam
Suasana banjir di Keude Lhoksukon, Aceh Utara, Senin (3/1/2022). Sejumlah mobil barang bukti di halaman belakang Mapolsek Lhoksukon ikut terendam (ANTARA/RAHMAD)

Hamidah merupakan korban kelima dalam bencana banjir yang merendam kawasan Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur awal tahun 2022 ini.

Sebelumnya, empat bocah meninggal dunia.

Dua di Aceh Utara, yaitu TM Andika (12) dan Rafa Alfaris, dan dua lainnya di Aceh Timur, Fajri (9) dan M Fikri Rehan (14).

Informasi yang diperoleh Serambi, pada Minggu (2/1/2022), korban diantar oleh anaknya dengan sepeda motor dari Desa Ulee Blang ke Desa Paya Lueng Jalo.

Namun, saat melewati kebun kelapa sawit sebelum sampai ke rumahnya di Desa Paya Lueng Jalo, korban melihat ternaknya berada di dalam kebun sawit tersebut.

selengkapnya : 

Pengamat: Banjir akibat Alih Fungsi Hutan yang Sangat Tinggi

BANDA ACEH – Pengamat Hukum Lingkungan Hidup dan Sosial Aceh, M Nur, mengatakan banjir di Aceh Utara dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir ini akibat alih fungsi hutan yang sangat tinggi, seperti di Kecamatan Cot Girek dan Langkahan yang berada di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Keureto dan Krueng Jambo Aye.

Keadaan ini juga diperparah dengan hadirnya replanting sawit seluas 8.682,5 hektare, sementara di tahun 2019 tanaman sawit di Aceh Utara yang diremajakan mencapai 3.080 hektare, sedangkan HGU mencapai 240.812 hektare.

Itu artinya kerusakan lahan dan hutan Aceh Utara sangat tinggi atas nama ekonomi, sekalipun rakyat Aceh Utara masih banyak warganya miskin, ditambah derita akibat bencana ekologis tiap saat tak menentu.

”Perlu segera dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pemegang konsensi, baik itu HTI, HGU dan agenda Replanting sawit yang tak terkendali, minta semua pelaku bisnis bertanggung jawab terhadap keadaan yang merugikan rakyat Aceh Utara,” ujar M Nur mantan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh dalam rilisnya, Senin (3/1/2021).

M Nur menambahkan praktik ilegal loging di Aceh Uara maupun Bener Meriah dan sekitarnya dengan luas rata-rata 1.000 hektare lebih terjadi 5 tahun terakhir ini.

Itu artinya rusaknya hutan di Kabupaten Bener Meriah akan berkontribusi pada tingginya bencana ekologis di Aceh Utara dan Bireuen sebagai wilayah rendah/ pesisir.

Bukan hanya itu, kata M Nur, luas galian C dan jenis pertambangan lainnya yang tersebar di Aceh Utara baik itu di sungai maupun di daratan tentu berkontribusi pada tinggi bencana ekologis saat musim hujan maupun kering nanti.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Ahmad Shalihin, mengatakan, bencana banjir di Aceh Utara disebabkan oleh kerusakan hutan akibat perambahan, alih fungsi hutan, perkebunan sawit dan ilegal loging di Hulu Sungai Krueng Keureuto, Geureudong Pase, Permata dan Mesidah Bener Meriah.

Selain itu, aktivitas penebangan liar marak terjadi di sekitar air terjun tujuh Bidadari.

Menurut dia, kegiatan ilegal loging sudah lama terjadi.

“Kami memiliki dokumen foto-fotonya,” ujar Ahmad Shalihin. (as)

sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/01/05/pengamat-banjir-akibat-alih-fungsi-hutan-yang-sangat-tinggi

Hadapi Cuaca Ekstrem, BPBD Jatim Diminta Proaktif Antisipasi Bencana

Surabaya: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) proaktif dalam melakukan antisipasi potensi bencana di musim hujan akibat La Nina dan Hidrometeorologi. BPBD diminta jangan hanya duduk diam dan menunggu perintah untuk antisipasi.
 
“Intinya adalah gerak cepat melakukan mitigasi bencana, kordinasi, dan solusi efektif dari semua pihak,” kata Khofifah, di Surabaya, Selasa, 4 Januari 2022.
 
Khofifah mengatakan, fenomena La Nina biasa diikuti Hidrometeorologi yang berakibat timbulnya bencana, seperti banjir bandang, puting beliung, longsor dan banjir  harus benar-benar diantisipasi dengan mitigasi yang komprehensif serta kordinasi yang efektif.

“Apalagi hingga bulan April mendatang, curah hujan masih berpotensi turun sangat tinggi. Waspada dan siap-siaga,” ujarnya.
 
Khofifah mencontohkan, banjir lahar dingin Gunung Semeru yang kembali terjadi menjadi bukti bahwa perubahan iklim dan kebencanaan berlangsung secara dinamis. Sehingga mitigasi bencana, kewaspadaan menjadi sesuatu yang harus terus di koordinasikan kepada semua pihak.
 
“Tujuannya agar mengantisipasi terjadinya dampak bencana yang tidak kita harapkan,” jelasnya.
 
Pada awal tahun 2022, Khofifah meminta jajaran OPD di lingkungan Pemprov Jatim untuk terus bergerak merespon cepat kekhawatiran masyarakat. Baik jajaran di bidang perdagangan, kesehatan, pendidikan hingga semua sektor untuk bergerak mengantisipasi segala hal yang dibutuhkan masyarakat. 
 
“Jadi, semua pihak memang harus gerak cepat, proaktif, khususnya dalam melakukan mitigasi bencana menghadapi fenomena La Nina,” katanya.
 

(LDS)

Sepanjang 2021, Sebanyak 217 Bencana Terjang Kota Sukabumi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI — Sebanyak 217 kejadian bencana menerjang Kota Sukabumi dalam kurun waktu 1 Januari hingga 31 Desember 2021. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dibanding periode yang sama pada 2020 yang hanya sebanyak 199 kejadian bencana.

Data tersebut didasarkan pada Sistem informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan) yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi.

“Pada 2021 tercatat sebanyak 217 kejadian yang tersebar di tujuh kecamatan dan angka ini naik dibandingkan dengan 2020 sebanyak 199 kejadian,” ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami, Selasa (4/1).

Akibat kejadian tersebut ditaksir nilai kerugian mencapai sebesar Rp 9.205.135.350. Sementara luas area terdampak 54,70 hektare dan 194 kepala keluarga (KK) terdampak dan 5 KK di antaranya mengungsi.

Pada 2021, juga kata Zulkarnain, ada korban jiwa yang meninggal dunia sebanyak dua orang. Sementara kerugian materill yakni 452 unit bangunan rusak yang terdiri atas 21 unit rusak berat, 66 unit rusak sedang, dan 365 unit rusak ringan.

“Bulan November merupakan frekuensi tertinggi yang dilaporkan masyarakat karena tercatat 58 kasus dan terendah bulan Agustus 6 kasus,” imbuh Zulkarnain.

Jenis bencana yang paling banyak yaknk cuaca ekstrem sebanyak 74 kejadian dan 70 kali kejadian dan terendah gempa bumi dua kali. Zulkarnain menerangkan, nilai kerugian yang terbesar berasal dari jenis kebakaran Rp 3.747.500.000 dengan prakiraan luas area terdampak 0,26 hektare.

Berikutnya disusul dengan taksiran kerugian banjir mencapai Rp 2.113.550.000 dan prakiraan luas area terdampak 52,89 hektare. Sementara wilayah tertinggi kasus bencana berada di Kecamatan Gunung Puyuh sebanyak 47 kali kejadian dan yang tertinggi berasal dari Kelurahan Karang Tengah. Sedangkan daerah terendah kasus bencana di Kecamatan Baros.

Berbagai kasus bencana ini kata Zulkarnain telah ditangani BPBD Kota Sukabumi. Di antaranya melakukan penanggulangan bencana mulai dari prabencana, saat dan pasca bencana.

Misalnya menetapkan Keadaan Status Siaga Banjir dan Longsor dari 15 November 2021 dan berakhir pada 30 April 2022. Selanjutnya melakukan Komunikasi, informasi dan edukasi bencana kepada masyarakat dari elemen aparat, petugas, mahasiswa, Sibat, siswa, pengelola wisata, serta partai politik dalam bentuk sosialisasi dan penyuluhan, pelatihan dengan tercapai sasaran sebanyak 1.939 orang.

Upaya lainnya ungkap Zulkarnain, menggelar Hari Kesiapsiagaan Bencana pada 26 April. Pada momen ini dimeriahkan Lomba Video Pendek Simulasi Mandiri Bencana yang diikuti oleh SKPD dan Kecamatan di lingkungan Pemkot Sukabumi.

Kesiapsiagaan Bencana dan Kompetensi Profesional Diantara Penyedia Layanan Kesehatan

Kesiapsiagaan rumah sakit terhadap kejadian korban massal dan tanggap bencana meliputi kegiatan, program dan sistem yang dikembangkan dan dilaksanakan sebelum kejadian. Langkah – langkah ini dirancang untuk memberikan perawatan medis yang diperlukan kepada para korban bencana, dan untuk meminimalkan dampak negatif dari peristiwa individu pada layanan medis. Hingga saat ini, belum ada survei sistematis di Polandia mengenai kesiapan rumah sakit, serta tenaga medis, untuk menangani insiden korban massal. Akibatnya, sedikit yang diketahui tentang pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi profesional petugas kesehatan. Tujuan dari studi percontohan ini untuk memulai eksplorasi dan pendataan kompetensi tenaga kesehatan, selain mengkaji kesiapan rumah sakit untuk insiden korban massal. Memanfaatkan survei anonim dari sampel acak, 134 penyedia layanan kesehatan diminta untuk menjawab pertanyaan tentang kompetensi yang mereka butuhkan, dan kesiapsiagaan rumah sakit selama tanggap bencana. Ternyata subjek tes mengevaluasi kesiapsiagaan mereka sendiri untuk insiden korban massal dan bencana lebih baik daripada kesiapsiagaan tempat kerja mereka saat ini. Studi percontohan menunjukkan bahwa kuesioner yang dirancang dengan baik dapat digunakan untuk menilai hubungan antara kesiapsiagaan rumah sakit dan staf dan efisiensi tanggap bencana. Evaluasi kesiapsiagaan dan efektivitas tanggap bencana merupakan sarana untuk menemukan dan menghilangkan kemungkinan kesenjangan dan kelemahan dalam berfungsinya dan efektifnya manajemen rumah sakit selama insiden korban massal.  Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di jurnal MDPI.

Selengkapnya