Reportase Kegiatan Tabletop Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/HE) di Provinsi Sulawesi Selatan

ttx sulsel 1

Reportase Kegiatan

Tabletop Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/HE)
di Provinsi Sulawesi Selatan

Selasa-Rabu, 19-20 Desember 2023

PKMK – Dalam rangkaian penyusunan sebuah pedoman, diperlukan uji coba pedoman untuk menilai apakah dokumen yang sudah disusun dapat operasional dan sesuai kebutuhan di lapangan. Selain itu, uji coba dokumen juga menjadi penting sebagai upaya melihat pemahaman para pihak yang nantinya terlibat dalam sebuah sistem yang disusun. Kali ini, PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan AIHSP (Australia Indonesia Health Support Partnership) melaksanakan Table Top Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE) di Provinsi Sulawesi Selatan pada Selasa-Rabu, 19-20 Desember 2023.

  1. Proses Persiapan Uji Coba

Dalam proses penyusunan dokumen yang telah dijalankan selama beberapa tahun terakhir antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan pendampingan AIHSP, diperlukan persiapan dan refreshment terhadap pedoman dan skenario uji coba yang sudah dihasilkan.

ttx sulsel 1

Dari 15 orang tim penyusun yang terdiri dari pemangku kebijakan, akademisi, dan lintas sektor kemudian dibentuk tim yang lebih compact menjadi panitia lokal. Panitia lokal bertugas mematangkan konsep uji coba pedoman, membahas detail teknis kegiatan, dan berkoordinasi secara rutin dalam pertemuan reguler mingguan. Dalam rangkaian uji coba ini, terdapat 7 orang panitia lokal di mana 6 orang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan 1 orang berasal dari BPBD Provinsi Sulawesi Selatan.

Dinamika yang dilaksanakan selama persiapan menghasilkan 10 kali pertemuan dengan agenda:

  1. Menentukan peran masing-masing tim penyusun sebagai panitia lokal, evaluator, dan observer
  2. Menentukan jadwal pelaksanaan TTX
  3. Penyelarasan skenario
  4. Pembuatan matriks skenario dan melengkapinya (membuat inject, menentukan alur pemain, SOP yang diujikan, peserta yang terlibat, hingga peralatan yang dibutuhkan)
  5. Memastikan setiap peserta yang terlibat mendapatkan peran
  6. Mengidentifikasi instansi dan jumlah peserta yang dilibatkan dalam TTX
  7. Pembuatan kerangka acuan kegiatan dan draft undangan
  8. Penentuan lokasi dan susunan acara kegiatan TTX
  9. Menyusun alat evaluasi dan lembar jawab bagi peserta
  10. Finalisasi teknis dan strategi pelaksanaan TTX

           

Dinamika di dalam rapat reguler pasti terjadi. Semangat yang naik turun, kooperasi dari tiap pihak yang terlibat, dan perbedaan zona waktu antara tim PKMK FK-KMK UGM dan panitia lokal seringkali menjadi hambatan pelaksanaan. Namun, selama 10 kali pertemuan dilakukan, selalu mengalami kemajuan atau progress sesuai target dan sangat mempengaruhi hasil yang tertampak pada proses pelaksanaan uji coba pedoman.

  1. Pelaksanaan Uji Coba

Uji coba pedoman dilaksanakan selama satu hari pada Selasa, 19 Desember 2023 pukul 10.00-16.45 WITA di Persik Hall Hotel Four Points Makassar. Acara dimulai dengan seremonial pembukaan yang dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. Andi Muhammad Arsjad, M.Si. Andi menyampaikan apresiasi dan mengharapkan agar setiap peserta yang hadir bisa mengikuti dengan seksama pelaksanaan uji coba pedoman ini. Beliau mengingatkan betapa rawannya daerah Provinsi Sulawesi Selatan terhadap berbagai macam jenis ancaman baik alam dan/atau buatan. Arsjad juga mengemukakan betapa beruntungnya Provinsi Sulawesi Selatan karena mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak untuk membantu membentuk ketahanan dan kesiapsiagaan khususnya dalam permasalahan kegawatdaruratan kesehatan. Pihaknya berharap ke depan, Provinsi Sulawesi Selatan dapat berlaku secara mandiri menjalankan upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas menuju ketangguhan dan kesiapsiagaan krisis kesehatan.

ttx sulsel 2

Pelaksanaan uji coba diawali dengan pengkondisian peserta. Bentuk forum melingkar dengan lingkaran pertama diisi oleh pemain dan lingkaran kedua diisi oleh observer dan evaluator yang duduk secara acak agar para peserta dapat menjaga konfidensialitasnya dalam menjawab.

ttx sulsel 3

Kegiatan TTX dibagi menjadi 3 fase yakni; pra krisis, krisis, dan resolusi. TTX ini mengangkat topik wabah rabies di Provinsi Sulawesi Selatan yang disertai dengan banjir di beberapa area kabupaten/kota. Skenario yang diujikan cukup unik dan memasukkan poin-poin yang terkadang jarang diangkat seperti mekanisme manajemen logistik VAR dan SAR, isolasi HPR (hewan penyebab rabies), manajemen kelompok rentan, manajemen keuangan, dan administrasi. Dari kegiatan ini, dapat terlihat dengan jelas sejauh mana pemahaman pemain terhadap pedoman yang sudah disosialisasikan dan apakah pedoman sudah cukup operasional atau belum. Forum juga dapat menilai perspektif luas dari berbagai pihak yang terlibat.

ttx sulsel 4

Evaluator dalam kegiatan ini dihadirkan dari multi sektor, mulai dari Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan, akademisi (FK UNHAS dan FK UMI), ahli (PAEI), NGO (AIHSP), dan juga Pusat Krisis Kementerian Kesehatan RI. Sedangkan observer kegiatan ini dihadirkan dari Bappelitbangda, PMI, Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan, Biro Hukum Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan FK UNHAS, dan MDMC Provinsi Sulawesi Selatan.

ttx sulsel 5

Kegiatan TTX ditutup dengan After Action Review, yakni sesi penyampaian hasil evaluasi, masukan, kesan dan pesan terhadap jawaban yang diberikan, SOP yang dilakukan dan tidak atau justru belum ada di dalam pedoman yang telah disusun. Semua input dicatat dan menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan uji coba tahap selanjutnya, yakni melihat dan menguji secara spesifik komponen dan/atau fungsi serta melihat operasionalisasinya, meski tidak menilai perlengkapan. Yakni dengan simulasi functional exercise (FTX).

  1. Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut

Rapat evaluasi telah dilaksanakan pada Rabu, 20 Desember 2023 bertempat di Ruang Rapat Losari D Hotel Four Points Makassar pada 09.00-14.30 WITA.

ttx sulsel 6

Rapat ini dihadiri oleh tim penyusun pedoman dan skenario, PKMK FK-KMK UGM, dan AIHSP. Rapat membahas tiga poin:

  1. Evaluasi teknis pelaksanaan kegiatan TTX
  2. Evaluasi berdasarkan hasil jawaban peserta, koreksi oleh evaluator dan observer, serta penjelasan konsep FTX
  3. Persiapan FTX
    1. Memastikan bentuk FTX yang akan diangkat
    2. Menyamakan persepsi tujuan pelaksanaan FTX
    3. Menentukan jadwal rapat rutin persiapan FTX
    4. Menentukan fase-fase FTX, detail skenario, dan pemain yang diundang
    5. Menentukan lokasi kegiatan dan waktu pelaksanaan
    6. Menentukan susunan acara FTX

Setelah rapat diakhiri, maka koordinasi selanjutnya akan berjalan melalui grup whatsapp dan rapat rutin secara daring hingga mendekati hari H.

Reporter: dr. Alif Indiralarasati

Reportase In House Training Pembentukan EMT RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro

soeradji 1

Reportase

In House Training Pembentukan EMT RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro

Selasa-Rabu/14-15 November 2023

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}

Hari 1: Selasa, 14 November 2023

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian “Pelatihan Potensi Pembentukan Emergency Medical Team (EMT) AHS UGM untuk mendukung kebijakan Tenaga Cadangan Kesehatan. Pokja Bencana FK-KMK UGM bekerja sama dengan AHS UGM dalam menyelenggarakan kegiatan ini dengan harapan seluruh jejaring AHS sudah memiliki EMT/TCK yang siap ditugaskan ketika terjadi bencana.

soeradji 1

Dok. FK-KMK UGM “Sesi Pembukaan”

Pertemuan pertama diawali dengan kata sambutan dari Dekanat FK-KMK UGM dan dari Direktur RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Poin penting yang disampaikan semoga kerja sama ini terus berlangsung dengan baik dan rumah sakit akan membentuk EMT/TCK sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh RS. Materi awal adalah flashback pengiriman tim AHS UGM dan Penyusunan rencana operasi EMT AHS yang disampaikan oleh dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD. Tim yang diberangkatkan tidak ujuk-ujuk (tiba-tiba) berangkat tanpa persiapan. Ketika diketahui terjadi bencana, tim AHS melakukan rapat koordinasi awal dulu membahas sejauh mana dampak yang diakibatkan bencana tersebut, apakah tim AHS perlu segera dikirimkan. Informasi dapat diketahui setelah berkoordinasi dengan PKK Kemenkes dan dinkes setempat. Jika ada kesepakatan mengirimkan tim maka tahap selanjutnya adalah melengkapi logistik individu dan logistik tim. Selama tim bertugas ada beberapa hal yang wajib dilakukan yaitu briefing awal sebelum bertugas, mencatat apa yang ditemukan di lapangan atau pelayanan apa yang sudah dilakukan serta melaporkan kegiatan harian yang dikirim ke dinas kesehatan. Setelah berakhir penugasan juga tim wajib menyerahkan exit report.

soeradji 2

Dok. FK-KMK UGM “Pemaparan materi Konsem EMT”

Selanjutnya dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD menyampaikan materi Konsep EMT AHS melalui penjelasan “METHANE” yaotu hal apa saja yang perlu diketahui tim EMT sebelum berangkat. Major Incident (M) yaitu memastikan gambaran kejadian seperti apa? Apakah berdampak pada manusia khususnya kesehatan yang menimbulkan korban. Exact Location (E) yaitu memastikan lokasi kejadian bencana dan dimana saja lokasi yang membutuhkan pelayanan kesehatan segera. Type of Injury (T) yaitu mengetahui jenis pelayanan kesehatan seperti apa yang dibutuhkan. Hazard existing and predicting (H) yaitu mengetahui bahaya yang diakibatkan. Access (A) yaitu mengetahui akses. Number of Injury (N) yaitu mengetahui jumlah yang terdampak. EMT Exiting + Need yaitu kebutuhan EMT selama melakukan tugas.

Materi selanjutnya adalah survival in disaster and safety security disampaikan Sutono, S.Kep., Sc,. M.Kep. Bagaimana menjaga keamanan EMT saat bertugas di lapangan?. Kemudian penyampaian materi Aktivasi HEOC/k laster kesehatan di dinkes terdampak dan kaitannya dengan EMT oleh dr. Bella Donna, M.Kes. EMT yang ditugaskan terintegrasi dengan operasi klaster kesehatan, pusat koordinasi ada di HEOC/ klaster kesehatan. EMT/TCK harus melapor mulai dari pendaftaran, penempatan penugasan pelayanan kesehatan sampai kepada kepulangan ke HEOC/ klaster kesehatan.

Di akhir sesi, Madelina Ariani, MPH mengenalkan form-form EMT dan MDS diantaranya form register relawan, form penanganan pasien korban bencana, form rujukan, form Health Need Assessment (HNA) dan penerimaan logistik.

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

Hari 2: Rabu, 15 November 2023

soeradji 3

Dok. FK-KMK UGM “Peserta Pelatihan Pembentukan EMT RSUP dr. Soeradji”

Pertemuan kedua diawali dengan pemaparan materi persiapan logistic personal, tim dan operasional oleh Maryami Y Kosim, S.Kep., Ns., M.Kep., Ph.D. Sebelum keberangkatan logistik ini sudah disiapkan oleh tim khusus logistik khusunya untuk kebutuhan operasional di lapangan. Kebutuhan logistik sesuai dengan jenis bencana yang terjadi dan sebaiknya disiapkan setelah mendapatkan informasi kejadian awal dan RHA dari dinas kesehatan terdampak. Pada materi ini juga disampaikan form yang dibutuhkan untuk manajemen logistik saat bencana, siapa yang bertanggung jawab atas logistik dan seperti apa bentuk pelaporannya.

Materi kedua tentang Rapid Health Assessment oleh Happy R Panngaribuan, MPH. RHA yang dipaparkan adalah bagaiamana RHA yang dilakukan oleh dinkes dan RHA yang dilakukan oleh EMT/TCK. Khusus untuk dinkes sudah memiliki panduan dan formulir tersendiri untuk RHA sesuai dengan Permenkes Nomor 75 Tahun 2019. RHA yang dilakukan oleh EMT/TCK menjadi tugas bidang manajemen, tim ini biasanya diberangkatkan maksimal satu hari paska kejadian bencana untuk mendapatkan informasi yang valid khususnya jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Penugasan EMT, logistik yang dibutuhkan semua ditentukan berdasarkan hasil RHA tersebut. RHA dilaksanakan pada awal kejadian, pada masa tanggap darurat, pada masa akhir tanggap darurat dan pada masa rehabilitasi.

soeradji 4

Dok. FK-KMK UGM “ Materi Persiapan Kepulangan EMT (kiri) dan Praktek (kanan)

Materi ketiga tentang Persiapan kepulangan EMT dan manajemen pos penugasan oleh dr Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B. Pada materi ini, ditekankan bahwa seluruh pelayanan yang dilakukan oleh EMT wajib dilaporkan kepada HEOC/ klaster kesehatan. Dari laporan tersebut akan didapatkan rekomendasi kebijakan, kebutuhan pelayanan selanjutnya dan penyakit terbesar yang muncul di daerah pengungsian.

Di akhir sesi adalah praktek, simulasi dan demonstrasi dengan skenario dibagi menjadi beberapa sesi yaitu sesi awal kejadian bencana, sesi koordinasi awal AHS UGM, sesi persiapan keberangkatan, sesi persiapan logistik, sesi operasional EMT di lapangan dan sesi evaluasi.

Dilanjutkan rencana tindak lanjut, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro sepakat akan membentuk EMT Type I dan tahun depan akan melaksanakan kegiatan pelatihan yang dibutuhkan oleh EMT.

Reporter

Happy R Pangaribuan, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK FK-KMK UGM)

{/tabs}

SANG DOKTER, PENGAWAS BPJS

 

Jumat, 24 November 2023 BPJS bersama APINDO mengadakan diskusi tentang COB Coordination of Benefit.

Sebuah mekanisme yang membuat seseorang dapat menerima manfaat dari dua atau lebih asuransi kesehatan yang nantinya dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial untuk meningkatkan mutu layanan BPJS kepada masyarakat yang imagenya dulu masih dibawah harapan hingga kini sudah menjadi salah satu penentu sukses tidaknya sebuah rumah sakit di suatu daerah.

Ketua dewan pengawas BPJS bapak professor dokter Abdul Kadir, menjelaskan dengan lugas, jelas dan gamblang begitu banyaknya masalah prosedur kesehatan yang jauh dari harapan masyarakat.

Ini bukan semata-mata karena BPJS tapi karena prosedur dan regulasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat.

Bapak professor yang sudah berpengalaman memimpin RS Wahidin dan RS Dharmais menekankan pentingnya peningkatan layanan  kesehatan agar masyarakat benar-benar terbantu dengan adanya BPJS sebagai penyelenggara jaminan kesehatan sosial yang adil bagi masyarakat.

Sebagai ketua dewan pengawas BPJS pusat telah memerintahkan jajarannya untuk selalu mendengarkan aspirasi masyarakat dan juga seringkali mengadakan kunjungan mendadak dengan menyamar sebagai salah satu pasien yang membutuhkan layanan.

Rumah sakit yang tidak melakukan prosedur atau membedakan pasien BPJS akan ditindak tegas seperti yang terjadi di sebuah rumah sakit swasta di Makassar, hingga RS itu kehilangan banyak pasien.

Bapak professor yang dikenal ramah dan bersahabat ini juga tidak sungkan memberikan nomer handphone beliau dan bersedia dihubungi 24 jam jika ada masalah yang timbul di lapangan, sekalipun sekarang sudah ada call center dan aplikasi JKN untuk memudahkan masyarakat memberikan masukan atau keluhan atas layanan pengguna BPJS.

Ke depan, BPJS akan mengoptimalkan Equity in Service, kelas 1-3 dengan kesamaan layanan KRIS – Kelas Rawat Inap Standar maksimal 4 orang dalam satu kamarnya, serta peningkatan koordinasi manfaat dengan asuransi komersial untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.

sumber Konten ini 
https://www.kompasiana.com/asrulsani/65619124c57afb29ca1a6742/sang-dokter-ketua-pengawas-bpjs

Kreator: Asrul Sani Abu

Ratusan Pelajar NU Malang Raya Ikuti Latihan Mitigasi Bencana

SUARA INDONESIA, MALANG – Sekitar 100 peserta terdiri dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se- Malang Raya, Jawa Timur (Jatim) mengikuti pelatihan mitigasi bencana yang diselenggarakan oleh Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim. 

Pelatihan mitigasi bencana ini diadakan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Peningkatan Tenaga Kesejahteraan Sosial (PTKS) Dinas Sosial Jatim, Jalan Panglima Sudirman 93, Klojen, Kota Malang. Pelatihan ini digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu, (25-26/ 11/2023).

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jatim, Mohammad Chisjqiel yang membuka acara pelatihan mitigasi bencana tersebut mengatakan, konsep penanggulangan bencana kini digeser dari tanggap bencana ke pengurangan risiko. 

“Kenapa dilakukan di Malang Raya, karena di daerah ini kerap terjadi bencana, seperti banjir bandang di Kota Batu, seperti beberapa waktu lalu,” ujar Mohammad Chisjqiel, Minggu (26/11/2023).

Menurut dia, setidaknya ada 14 ancaman bencana di Jatim. Apalagi bencana berdampak besar dalam kehidupan manusia. Keluarga juga akan mengalaminya. 

Turut hadir Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jatim, Hikmah Bafaqih. Ia mengatakan penting sekali pelatihan mitigasi bencana yang yang dikonsep dalam acara Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) ini.

“Oleh karena itu kami berikan sosialisasi kepada IPNU/IPPNU se- Malang Raya, sehingga mereka bisa menyebarkannya terutama kepada keluarga terdekat,” ujar  Hikmah Bafaqih.

Selain mendapat materi tentang mitigasi bencana, para peserta juga mendapatkan materi basic life support (bantuan hidup dasar) dari Pengurus SRPB Jatim, Dini Prastyo Wijayanti. Misalnya, bagaimana melakukan  pertolongan terhadap orang yang terkena serangan jantung. Dan apa yang harus dilakukan.

Dini pun langsung mengajak para peserta untuk mempraktikkan pijat jantung terhadap korban. Dan para peserta itu antusias mengikuti kegiatan sesi ini.

“Serangan jantung akan tiba tak kenal usia tua atau muda. Artis, orang terkenal, maupun orang biasa banyak yang kena serangan jantung dan meninggal,” ungkap Dini di hadapan peserta. (*)

Dorong Mitigasi Bencana Hidrometeorologi, BRIN Bahas Strategi Pengelolaan DAS

Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset (PR) Kependudukan dalam hal ini Kelompok Riset Penduduk dan Pengelolaan Sumber Daya Alam menyelenggarakan Webinar atau diskusi kemisan kelima yang tema “Bongkar Pasang Strategi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi”, Kamis (23/11). Kegiatan ini menghadirkan pembicara, Malawani dari Departemen Geografi Ilmu Lingkungan Universitas Gajah Mada, serta para peneliti PR Kependudukan BRIN, Dewi Retna Indrawati dan Tria Anggita H.

Malawani kali ini memaparkan tema ”Pengelolaan DAS”. Terhadap hal itu, ia menanyakan apakah perlu dibongkar pasang yang artinya terkait dengan manajemen dan peraturannya kemudian bagaimana mengaplikasikan. Untuk mengulas tujuan pengelolaan tersebut, menurutnya tentu saja harus melihat regulasi yang ada di Indonesia.

Jadi, seperti apa konsepnya, pendekatannya, dan bagaimana jika dikaitkan bencana hidrometriologis, seperti apa peluang dan tantangan sehingga bisa menentukan strategi ke depan untuk meningkatkan peluang. ”Ini yang harus diidentifikasi bersama!” ungkap Malawani.

Dia menyebutkan, ada tiga tujuan pengelolaan DAS merujuk pada keputusan atau convention secara internasional. Pertama yaitu United Nations Convention on Biological Diversity (UNCBD) atau terkait biodiversity. Kedua, terkait land degradation atau United Nations Convertion to Combat Desertification (UNCCD). Ketiga adalah Clime Change Adaptation.

Dari Convention internasional tersebut ternyata sudah diterjemahkan di Indonesia yaitu terkait biodiversity, sudah ada regulasinya dari KLHK dengan Nomor 9 Tahun 2009 tentang pedoman konservasi keanekaragaman hayati di level Kabupaten atau Provinsi. Terkait degradasi, menurutnya, sudah sangat jelas dan banyak variasinya, salah satunya adalah kriteria penetapan klasifikasi daerah dan sungai yang nantinya status pemulihannya sangat tinggi, sehingga hal ini belum menjadi prioritas. Selanjutnya, pedoman kajian kerentanan dan dampak perubahan iklim. Sementara, ia menyoroti bahwa melalui pusat riset yang ada, BRIN dapat berkontribusi melalui riset – riset yang dikembangkan dalam menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan tersebut.

Dalam kesempatan ini, ia juga menjelaskan konsep pengelolaan DAS yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu dikelola per sektor atau wilayah, perencanaan yang berkelanjutan yaitu partisipasi berbagai pihak dan koordinasi, serta bersinergi dan saling terkoneksi.

Menurutnya lagi, peluang yang bisa diciptakan untuk pengelolaan DAS yaitu community involvement atau pelibatan masyarakat. ”Saat ini masyarakat sangat antusias sekali jika dilibatkan dalam pengelolaan DAS  dan itu menjadi kekuatan!” ujarnya.

Maka, program tersebut kuncinya adalah harus berkesinambungan. Lalu, program science technology development bisa diterapkan, di mana peneliti-peneliti saat ini semakin canggih dengan ketersediaan alat yang semakin canggih, serta kolaborasi semakin luas sampai tingkat internasional. Namun hal itu, masih ada tantangan yang dihadapi yaitu perubahan iklim, juga eskalasi bencana hidrometeorologis. Seperti contohnya, pembuangan sampah yang bisa menimbulkan eskalasi bencana, kekeringan, dan sebagainya. Ada lagi tantangannya, yaitu anthropogenic pressure, di mana adanya kepadatan penduduk, pembangunan kota, dan lain sebagainya.

“Peluang dan tantangan itu kita pelajari bersama. Kita perlu melihat bagaimana strategi pembangunan wilayah, perencanaan wilayah, dan ke depan mau dibangun seperti apa sehingga program pengelolaan DAS bisa adaptif ,” tegasnya.

Sementara, Dewi memaparkan tema “Kompleksitas Pengelolaan DAS”. Ia mengatakan, pengelolaan DAS sangat kompleks dari sisi-sisi batas wilayah, peran para pihak, dan lain sebagainya. Jika dilihat dari kondisi DAS saat ini, ternyata masih banyak terjadi bencana hidrometeorologi. Hal itu diungkapkannya berdasarkan sumber data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Di mana, bencana yang setiap tahun selalu naik kejadiannya dan didominasi bencana hidrometeorologi. ”Artinya bahwa pengelolaan DAS  yang di lakukan selama ini belum memberikan hasil signifikan,” urai Dewi.

Dewi lantas menambahkan, beberapa fakta terkait pengelolaan DAS dilihat dari sisi wilayah. Di Indonesia wilayah DAS sangat besar, mulai dari puluhan atau ratusan hektar bahkan sampai ratusan ribu hektar. Wilayah – wilayah tersebut, menurutnya, banyak yang tidak selaras dengan wilayah administrasi. Hal itu perlu kerja sama lintas. Namun sayangnya, menurut Dewi, seringkali prioritas dari setiap daerah berbeda. Hal itu yang menjadi tantangan besar karena faktor ekonomi yang menentukan, tentu dengan pendekatan skala prioritas.

Sementara, dewi menjelaskan, untuk wilayah yang cukup besar dengan pendekatan DAS Mikro akan dapat mengurangi kendala kewilayahan. Karena kelebihan dari pengelolaan DAS mikro ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan yang relatif lebih mudah. Hal itu memudahkan koordinasi dan sinkronisasi antar wilayah. Pengelolaan bisa lebih difokuskan pada suatu DAS mikro secara utuh dan dapat dilakukan secara bertahap untuk seluruh DAS. Masyarakat akan lebih mudah ikut berpartisipasi dalam perencanaan dan operasional pelaksanaan pengelolaan DAS mikro.

Fakta lain diungkapkan Dewi, di dalam spengelolaan DAS seringkali ada benturan. Banyaknya pihak yang seharusnya melakukan secara bersama – sama, justru menambah adanya perbedaan kepentingan. Dewi menganalisis, Pemerintah sebenarnya punya kekkuatan untuk mengaturnya, tetapi karena perbedaan kepentingan sehingga pengelolaan DAS masih terfragmentasi. Disoroti Dewi, maka adanya partisipasi masyarakat menjadi bagian penting di dalam pengelolaan DAS, karena mereka adalah pemilik lahan. ”Jadi mereka berhak menentukan pemanfaatan lahannya. Namun sayangnya partisipasi masyarakat masih pasif sehingga mereka belum terlibat aktif di dalam pengambilan keputusan,” ungkapnya.  

Selanjutnya, Tria Anggita memaparkan tema “Penguatan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan DAS Jeneberang”. Ia melihat sisi masyarakat Indonesia yang overlapping dengan batas administrasi. Terkait ini, ia memberikan contoh wilayah yang ia teliti yang meliputi kabupaten Gowa (wilayah hulu dan tengah), kabupaten Takalar (wilayah Tengah), dan kota Makassar (wilayah hilir). Wilayah pengelolaan DAS di sini dikenal dengan nama Jeneberang yang berstatus DAS prioritas, sesuai dengan kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2015- 2019. DAS  Jeneberang ini untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, sumber air irigasi, pembangkit listrik, dan potensi pariwisata.

Di dalam mengidentifikasi pengelolaan DAS tersebut, Tria mengungkapkan isu banyaknya runtuhan akibat aktivitas gunung api, lalu kegiatan penambangan ilegal, dan sebagainya yang mengakibatkan mengakibatkan erosi sedimentasi, sehingga hal itu mengancam lingkungan, terutama ketersediaan dan kualitas air.

Tria menyarankan optimalisasi Forum DAS Jeneberang. Caranya, adanya aturan penganggaran program, di mana pembuatan peraturan pemerintah Sulawesi Selatan yang menetapkan bahwa program yang dianggarkan harus berdasarkan kesepakatan Forum DAS Jeneberang. Lalu adanya perwakilan masyarakat di Forum DAS untuk mewakili masyarakat  desa dengan melibatkan akademisi, mahasiswa, dan LSM untuk memastikan representasi yang komprehensif. Tria juga menyarankan adanya struktur  dan pengawalan Forum DAS untuk persetujuan program yang didasarkan pada kesepakatan Forum DAS Jeneberang. Ini diawasi oleh Dewan DAS Jeneberang dengan anggota dari perguruan tinggi, LSM, masyarakat, pemerintah dan perusahaan. ”Yang tak kalah penting juga, penyebaran informasi kebijakan atau program Forum DAS Jeneberang yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan bantuan akademisi. Ini mencakup tidak hanya pemerintah desa tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam proses mencari apresiasi,” tutupnya. (Noor/ed. And)

Garut Rawan Berbagai Bencana, Bupati Berharap Tagana yang Profesional

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT — Bupati Garut Rudy Gunawan mengharapkan sumber daya manusia (SDM) yang profesional dalam upaya penanganan bencana di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Apalagi, wilayah Kabupaten Garut terbilang rawan terdampak bencana. 

Menurut Bupati, Kabupaten Garut dinilai rawan akan potensi berbagai bencana, antara lain banjir, longsor, gempa bumi, gunung api, juga tsunami. Karenanya, kata dia, dibutuhkan kesiapan dalam menghadapi potensi beragam bencana tersebut, termasuk dari sisi SDM. “Tentu sebagai tenaga profesional perlu dilakukan pelatihan-pelatihan,” kata Bupati.

Pada 20-26 November 2023 ini tengah digelar kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Garut. Bupati berharap kegiatan tersebut dapat menghasilkan SDM Tagana yang profesional dalam membantu pemerintah mengantisipasi dan menanggulangi dampak bencana. “Ini adalah penting kita menyiapkan tenaga-tenaga Tagana profesional,” ujar Bupati.

Bupati berharap Tagana di Garut dapat menjadi garda terdepan bersama unsur lainnya dalam masalah kebencanaan dan membantu masyarakat yang terdampak bencana. “Masalah kebencanaan di Garut yang penting kita punya pengetahuan dalam mengatasi dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi mereka yang terkena bencana,” katanya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Garut Aji Sukarmaji mengatakan, ada 65 anggota Tagana. Sementara yang mengikuti Diklatsar kali ini ada 17 calon anggota Tagana. Diklatsar digelar di Perkemahan Cibeureum, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. 

“Pelatihan dasar Tagana penanggulangan bencana, dapur umum, dan evakuasi, serta latihan dasar tentang kegiatan-kegiatan khususnya dalam penanganan masalah sosial di masyarakat,” ujar Aji.

Diguyur Hujan Deras, 13 Bencana Melanda Kota Bogor

BOGOR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat ada 13 kejadian bencana melanda wilayah Kota Bogor. Bencana itu disebabkan oleh hujan deras pada Minggu 26 November 2023.

“Total laporan masuk 13 kejadian,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor Theofilo Patrocinio Freitas dalam keterangannya, Senin (27/11/2023).

Kata dia, bencana yang terjadi meliputi 9 titik banjir lintasan dan 4 titik tanah longsor. Adapun dalam kejadian ini terdapat 7 rumah milik warga mengalami kerusakan kategori ringan dan sedang serta 207 rumah sempat terendam banjir lintasan.

“Warga yang terdampak 123 KK dengan 519 jiwa dan fasilitas umum terdampak 2 jalan, 1 musola serta 1 madrasah,” tambahnya.

Tidak ada korban jiwa dalam bencana ini. Seluruh titik bencana sudah dilakukan assesment oleh personel TRC-PB BPBD Kota Bogor serta pemasangan terpal.

“Seluruh kejadian dampak hujan dengan intensitas deras yang mengguyur di wilayah Kota Bogor,” tutupnya.

sumber:

https://megapolitan.okezone.com/read/2023/11/27/338/2927751/diguyur-hujan-deras-13-bencana-melanda-kota-bogor

 

Mitigasi Bencana, BPBD Bondowoso Keruk Pohon dan Tebang Pohon Keropos

DABASAH, Radar Ijen – Awal musim hujan di Bondowoso justru dibarengi dengan sejumlah bencana. Di antaranya, angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang. Bencana tersebut bukanlah hal yang baru. Namun, kerap terjadi, terutama saat musim hujan. Oleh sebab itu, perlu ada persiapan atau antisipasi dari pemerintah untuk mitigasi bencana.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso Mahfud Junaedi mengatakan, pihaknya telah melakukan asesmen untuk sejumlah titik rawan bencana di Bondowoso.  Antisipasi bencana juga tidak bisa ditangani sendirian, melainkan bersama-sama. Termasuk lintas instansi, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso.

“Kemudian, yang berkaitan dengan penyebab bencana, kami koordinasikan dengan dinas terkait. Misalnya pohon yang berpotensi tumbang,  karena umur sudah tua untuk segera dipotong. Bahkan saluran irigasi yang perlu dilakukan pengerukan untuk menampung volume air hujan yang tiba-tiba datang,” katanya.

Dia juga menjelaskan, kerawanan bencana di Bondowoso meliputi pohon tumbang, banjir luapan sungai, dan angin puting beliung atau angin kencang. Peristiwa itu berpotensi terulang kembali pada musim hujan kali ini. “Karena secara keilmuan, hal itu dapat terulang kembali jika sebelumnya pernah terjadi bencana tersebut. Seperti Kecamatan Tamanan yang baru saja terjadi bencana angin kencang,” jelasnya.

Dinsos Rejang Lebong andalkan logistik bantuan bencana dari pusat

Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menyebutkan pengadaan logistik bantuan bencana alam di daerah itu saat ini mengandalkan bantuan pemerintah pusat.

“Saat ini bantuan logistik penanggulangan bencana alam diberikan oleh pemerintah pusat melalui Sentra Dharma Guna di Bengkulu, kalau yang kita adakan jumlahnya sangat kecil,” kata Kepala Dinas Sosial Rejang Lebong Anes Rahman di Rejang Lebong, Rabu.

Dia menjelaskan, logistik bantuan bencana alam (buffer stock) ini sejak dua tahun lalu sudah dikirim oleh pemerintah pusat dan tidak lagi bergantung dengan pengadaan daerah.

Logistik bantuan bencana alam yang biasa mereka sediakan ini, kata dia, seperti terpal, peralatan masak, selimut, peralatan makan minum, bahan makanan dan lainnya.

Jika terjadi bencana alam pihaknya akan langsung mengajukan permintaan bantuan kepada pihak Sentra Dharma Guna di Bengkulu sebagai perpanjangan tangan Kementerian Sosial di daerah.

“Anggaran dari APBD Rejang Lebong untuk pengadaan logistik bantuan bencana alam tahun 2023 ini jumlah cukup kecil, hanya belasan juta. Kalau ada kejadian bencana alam kita akan langsung menghubungi Sentra Dharma Guna di Bengkulu,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rejang Lebong Shalahduin mengatakan, jika terjadi bencana alam pihaknya selain melakukan pertolongan ke lapangan juga menyiapkan bantuan penanggulangan bencana alam seperti bahan makanan, terpal, peralatan dapur serta barang lainnya.

Barang bantuan itu sendiri, kata Shalahudin, merupakan bantuan yang dikirim oleh BNPB bukan dari pengadaan oleh pihaknya. Bantuan ini biasanya didistribusikan bersama dengan pendistribusian bantuan dari pemerintah daerah, baznas, dinas sosial dan pihaknya lainnya.

BPBD sebut tiga hal penyebab NTT rawan bencana alam

Kupang (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebut ada tiga hal yang menjadi penyebab provinsi berbasis kepulauan itu rawan bencana alam.

“Pertama, letak NTT berada pada wilayah yang mudah terkena dampak bencana hidrometeorologi,” kata Kepala Pelaksana BPBD NTT Ambroisius Kodo  saat membuka sosialisasi publik dokumen kajian risiko bencana dan kick off penyusunan rencana penanggulangan bencana Provinsi NTT di Kupang, Senin.

Kedua, lanjutnya, NTT juga rawan akan potensi bencana alam secara geologis, karena provinsi ini berada pada jalur cincin api atau ring of fire.

“Sesuai kajian kami, NTT dikelilingi oleh 25 gunung api yang berada di Alor hingga bagian barat Flores,” ujar dia.

Dia mengatakan bahwa sejumlah gunung api itu bisa saja meletus atau erupsi kapan pun yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Penyebab ketiga, NTT berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dan eurasia. “Selain itu, NTT diapit oleh dua zona penyebab gempa yang bisa memicu tsunami, yaitu megathust selatan Sumba dan sesar naik Flores,” ujar dia.

Untuk megathrust selatan Sumba, potensi gempanya bisa mencapai 8,5 magnitudo, sementara sesar naik Flores potensi gempanya bisa mencapai 7,5 magnitudo.

Sejumlah kekuatan gempa itu, ujar dia, bisa memicu tsunami berbahaya di Nusa Tenggara Timur.

Karena itu, tambah dia, langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat di NTT.