Bogor Dihantui Bencana Longsor
Bogor – Musim kemarau telah berlalu. Kini Bogor dan sekitarnya diguyur hujan hampir setiap hari. Bencana longsor sewaktu-waktu bisa terjadi dan patut diwaspadai. Pasalnya, letak geografis Bogor yang berbukit-bukit dengan curah hujan yang tinggi membuat daerah ini termasuk rawan bencana tanah longsor.
Bahkan Badan Penangulangan Bencana Nasional memasukan daerah ini dalam peringkat lima nasional sebagai daerah rawan longsor. Sebagian besar wilayah ini (kota dan kabupaten bogor-red) memang rentan terhadap bencana yang selalu datang bersama musim hujan. Faktor utamanya lantaran kontur tanah di daerah ini tersusun oleh material tanah yang tidak padat.
“Tanahnya berasal dari pelapukan batu tufa dan batuan breksi vulkanik dari material gunung berapi berumur kuarter,” kata Adrin Tohari, peneliti bidang geoteknik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Menurutnya, pergerakan tanah di daerah ini cukup tinggi. Jika hujan lebih dari empat jam tidak berhenti, daerah-daerah ini dipastikan longsor.
Hal senada dilontarkan Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Nuryadi yang menyebutkan beberapa wilayah di Bogor berpotensi tanah longsor di musim hujan. Kenapa? Sebab pori-pori tanah renggang akibat musim kemarau sehingga mudah terjadi pergeseran. “Bogor cukup potensial mengalami tanah longsor tahun ini karena selama kemarau intensitas hujan relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” katanya,
Parahnya lagi, sampai saat ini belum ada mekanisme untuk memprediksi terjadinya longsor. Pemerintah kedua daerah ini, baru mampu mengidentifikasi daerah-daerah rawan longsor berdasarkan dari kejadian sebelumnya. Adanya pemetaan terhadap daerah longsor, diharapkan warga dan pengambil keputusan di daerah tersebut mampu mengatisipasi terjadinya korban jiwa dan materaial.
40 KELURAHAN
Berdasarkan data Taruna Tanggap Darurat (Tagana) Kota Bogor, di daerah ini terdapat 40 kelurahan dari 68 kelurahan di tujuh kecamatan dipetakan sebagai daerah rawan longsor. “Kondisi Kota Bogor yang berbukit-bukit dan tebingan membuat resiko tanah longsor cukup besar. Ironisnya hampir 60 persen warga Kota Bogor tinggal di daerah yang memiliki kontur tanah bertebing,” ujar Sekretaris BPBD Kota Bogor Doddy Achidat.
Wilayah itu di antaranya Kelurahan Pasir Jaya, Lebak Kantin, Sempur, Empang, Baranang Siang, Balumbang Jaya, dan Cibogor. Kemudian 12 kelurahan lainnya di Kecamatan Bogor Selatan, enam kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Barat, tiga kelurahan Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Timur serta dua kelurahan di Kecamatan Bogor Utara.
Berbagai langkah dan upaya telah dilakukan pihaknya dengan melakukan turap di pemukiman di sekitar lereng bukit. Namun, pembuatan turap ini hanya bersifat sementara karena cepat atau lambat tembok akan rapuh. “Kekuatan longsor juga tak dapat diketahui,” ujarnya
Sedangkan untuk direlokasi diakui Doddy cukup sulit dilakukan. “Perlu biaya besar untuk melakukan relokasi. Sedangkan untuk tinggal di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) pemkot belum ada anggaranya,” ujarnya.
GURANDIL
Di Kabupaten Bogor, sebanyak 115 desa di 22 kecamatan dari 40 kecamatan rawan longsor. Di antaranya, Kecamatan Cigudeg, Bojongede, Sukajaya, Cariu, Cisarua, Ciawi, Cileungsi Megamendung, Caringin, Cijeruk, Cigombong, Dramaga, Leuwiliang, Nanggung, Tamansari dan Kecamatan Pamijahan.
Selain karena kondisi tanah yang labil, perbuatan manusia yang melakukan penambangan liar (gurandil) juga menjadi penyebab beberapa daerah mudah longsor.
“Misalnya di daerah penambangan ilegal di Nanggung, Cariu, dan Nangungl. Sudah kontur tanahnya labil, ditambah perusakan lingkungan oleh gurandil sehingga makin mudah longsor,” jelas Makmur Rojak, Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bogor.
Mengantisipasi terjadinya bencana ini, pihaknya sudah menyebarkan peringatan dini kepada 22 camat. “Selain itu kita juga rutin melakukan latihan tanggap darurat bersama masyarakat terutama menghindari dan membantu korban longsor,” katanya
sumber: http://www.poskotanews.com
Post Comment