3 Hektar Hutan di Imogiri-Bantul Terbakar

Hutan rakyat seluas tiga hektare di Dusun Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, terbakar.

“Saya tidak tahu persis penyebabnya, karena hanya diberitahu warga sekitar pukul 11.00 WIB, dengan begitu saya langsung menuju lokasi untuk membantu warga memadamkan api,” kata Kepala Dusun (Kadus) Nogosari Nardi Harjo Winoto di Bantul, Selasa.

Continue reading

Kebakaran Lereng Gunung Sindoro Padam

Kebakaran yang melanda kawasan hutan Gunung Sindoro di perbatasan Temanggung-Wonosobo akhirnya berhasil dipadamkan pada Senin (26/9) sekitar pukul 21.30 WIB. Api muncul mulai Sabtu (24/9) sekitar pukul 20.00 dari petak 21, Resor Pemangku Hutan (RPH) Anggrunggondok wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wonosobo.

Continue reading

Kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merbabu Terbakar

Kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) tepatnya di atas Dukuh Tempel, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa, terbakar.

Menurut Kepala Desa Jrakah Tumar, kebakaran di lereng Merbabu tepatnya di sebelah sisi timur atau di atasnya Dukuh Tempel, Jrakah, Selo, terjadi sekitar pukul 10.30 WIB, dan hingga pukul 16.00 WIB api diduga semakin meluas ke arah puncak.

Continue reading

Gunung Lokon telah mengeluarkan 508 kali letusan

Kawah Tompaluan Gunung Lokon di Sulawesi Utara telah mengeluarkan 508 kali letusan sejak statusnya dinaikkan ke siaga level 3 pada 27 Juni lalu.

“Tanggal 26 Juni 2011 terjadi letusan freatik. Letusan freatik terjadi ketika magma yang sedang bergerak naik ke atas bersentuhan dengan air tanah dan terbentuk uap panas bertekanan tinggi,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina, Selasa.

Continue reading

9 Kecamatan di Kab. Sukabumi Rawan Tsunami

9 Kecamatan di Kab. Sukabumi Rawan Tsunami

SUKABUMI,(GM)-
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Sukabumi menyatakan, sembilan kecamatan di Kab. Sukabumi hingga saat ini merupakan zona rawan bencana tsunami. Daerah rawan tsunami sebagian besar berada di sekitar pesisir pantai di selatan Kab. Sukabumi. Karena itu, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi bencana tsunami secara tiba-tiba.

“Kita telah mengimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di zona rawan bencana tsunami di sepanjang pinggir pantai selatan Kab. Sukabumi agar senantiasa waspada. Hal itu dilakukan guna mencegah kemungkinan terburuk bila terjadi tsunami secara tiba-tiba,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kab. Sukabumi, H. Irwan Fajar, S.H., M.Si., ketika ditemui “GM” di kantornya di Jalan Raya Nyomplong, Kec. Warudoyong, Kota Sukabumi, Selasa (27/9).

Walaupun saat ini belum ada tanda-tanda potensi tsunami di sepanjang pantai selatan Kab. Sukabumi, namun masyarakat harus selalu waspada.

“Hanya saja, masyarakat tidak harus terlalu panik bila nanti tiba-tiba terjadi bencana tsunami. Masyarakat bisa secepatnya menyelamatkan ke daerah yang relatif sangat aman di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Menurut Irwan, peningkatan kewaspadaan akan potensi bencana tsunami, utamanya harus dilakukan oleh sebagian besar warga di sembilan kecamatan. Secara geografis kesembilan daerah rawan bencana tsunami tersebut sebagian besar berada diselatan Kab. Sukabumi.

“Umumnya secara topografi keberadaan daerah di sembilan wilayah rawan bencana tsunami berada di sepanjang pesisir pantai selatan Kab. Sukabumi,” ungkapnya.

Disebutkan, kesembilan lokasi yang merupakan zona rawan bencana tsunami tersebar di Kec. Palabuhanratu, Cikakak, Cisolok, Tegalbuleud, Ujunggenteng, Ciracap, Ciemas, Cibitung, disusul Kec. Surade. Seluruh daerah itu berada di daerah pesisir pantai di selatan Kab. Sukabumi.

“Hingga saat ini, sembilan daerah zona rawan bencana tsunami terus-menerus diwaspadai. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan terjadi potensi tsunami,” tukasnya.

Guna mewaspadai ancaman bencana tsunami tersebut, maka secara bertahap khusus dititik rawan bencana tsunami terus mengintensifkan sosoalisasi tentang pencegahan serta kesiapsiagaan penanggulangan bencana tsunami.

“Selain melakukan sosialisasi secara langsung kepada warga disekitar daerah rawan bencana, kita pun memberikan informasi melalui poster atau pamflet berisi tentang bagaimana melakukan penanggulangan bencana,” katanya.

Sosalisasi tentang pencegahan serta kesiapsiagaan tentang penanggulangan bencana tsunami belum bisa dilakukan secara menyeluruh di seluruh daerah rawan bencana. (B.118)**

Frekwensi Letusan Gunung Lokon Menurun

alt

Frekwensi Letusan Gunung Lokon Menurun

alt

MANADO – Frekwensi letusan dari kawah Tompaluan, Gunung Lokon di Sulawesi Utara, sejak Senin (26/9) hingga Selasa (27/9) semakin menurun dibanding beberapa hari sebelumnya yang mencapai puluhan kali tiap hari.

“Frekwensi letusannya memang menurun meski aktivitas vulkaniknya masih berada di atas normal,” ujar Yudi, staf Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Tomohon, Selasa.

Meski demikian, katanya, peluang terus terjadinya letusan masih memungkinkan apalagi hingga kini suplai energi dari dalam berbentuk gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal masih terus terekam.

“Hingga kini masih terjadi suplai energi yang memungkinkan terjadinya letusan. Pelepasan energi masih terus terjadi,” ujarnya.

Dijelaskannya, periode enam jam hari ini sejak pukul 00.00 WITA tercatat dua kali gempa tektonik amplitudo 11-33 milimeter dengan lama gempa 70-80 detik.

Selain itu terekam pula dua kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 13 milimeter, lama gempa lima detik serta dua kali gempa embusan asap kawah yang dibarengi dengan debu vulkanik.

Secara visual, teramati asap kawah putih tipis hingga tebal dengan ketinggian 25-150 meter.

“Tremor yang terekam 0,5-4 milimeter, dominan 2 milimeter. Tremor ini bisa diikuti dengan pengangkatan material magma,” imbuh Farid Ruskanda Bina, Kepala Pos Pengataman Gunung Api Lokon dan Mahawu, di Kakaskasen, Kota Tomohon, Selasa.

Menurut Yudi, hingga kini aktivitas Gunung Lokon belum ada tanda-tanda normal karena aktivitas magmatik masih berlangsung.

“Dengan aktivitas yang masih tinggi ini bisa juga menuju ke letusan besar atau sebaliknya sementara menuju normal. Tapi kami tidak bisa memastikannya,” jelasnya.

Di pagi ini, terjadi letusan kategori kecil sejak pukul 07.50 WITA, 08.24 WITA, 08.48 WITA, 08.52 WITA dan 08.56 WITA. Sedangkan kemarin sejak pukul 00.00 WITA-24.00 WITA terjadi tiga kali letusan masing-masing 14.29 WITA, 16.46 WITA dan 17.44 WITA. (Ant)

Topan Nesat Hantam Filipina, 1 Tewas

Topan Nesat Hantam Filipina, 1 Tewas


MANILA – Topan Nesat menghantam Filipina, Selasa (27/9) menimbulkan hujan lebat dan angin kencang yang menerbangkan atap-atap, menumbangkan pohon-pohon dan tiang-tiang listrik.

Filipina dilanda 20 topan setiap tahun, banyak dari mereka menimbulkan korban jiwa, tetapi pihak berwenang memperingatkan bahwa Nesat adalah salah satu terbesar yang menghantam negara itu tahun ini dengan membawa hujan lebat dan angin kencang dua kali kekuatan rata-rata topan.

“Topan ini sangat luas, sekitar 650km , dan menghantam sebagian besar (pulau utama) Luzon,kata Wakil Menteri Sains Graciano Yumul, yang mengawasi biro cuaca negara itu kepada wartawan.

Nesat melanda bagian timur laut Luzon menjelang Selasa pagi, menimbulkan angin berkecepatan maksimum sampai 140km per jam dan hembusan angin mencapai 170km per jam.

Badan Manajemen Penanggulangan Bencana Nasional mengatakan seorang bayi tewas ketika ia jatuh ke satu sungai yang meluap di provinsi Catanduanes di timur.

Empat orang lain hilang dan ada kekhawatiran jumlah korban tewas akan meningkat sepanjang hari itu.

Provinsi-provinsi pertanian Isabela dan Aurora adalah yang paling parah akibat topan itu, kendatipun siaga badai juga diberlakukan di lebih dari 40 daerah lainnya, temasuk ibu kota Manila,kata biro cuaca negara itu.

Istana presiden mengumumkan penutupan sekolah dan kantor-kantor pemerintah di Manila dan daerah-daerah lainnya.

Beberapa jalan di Manila, kota yang berpenduduk 12 juta jiwa, tidak bisa dilalui Selasa pagi akibat banjir dan reruntuhan yang jatuh termasuk pohon-pohon yang tumbang.

Pasar Bursa Filipina juga menghentikan kegiatannya, sementara operasi-operasi kereta api di Manila terhenti akibat aliran listrik putus menyebabkan para penumpang terlantar pada jam sibuk Selasa, kata para pejabat. (Ant/AFP)

Sumber: Sinar Harapan

Marapi Kembali Semburkan Abu Vulkanis

Marapi Kembali Semburkan Abu Vulkanis

Nasional / Selasa, 27 September 2011 11:15 WIB

Metrotvnews.com, Padangpanjang: Gunung Marapi di Kabupaten Tanahdatar dan Agam, Sumatra Barat, kembali menyemburkan abu vulkanis, Selasa (27/9).

Pantauan di Kota Padangpanjang, salah satu gunung api aktif di Sumatra Barat, kembali mengeluarkan abu vulkanis, Selasa, sekitar pukul 07.00 WIB.

Seorang warga Kota Padangpanjang Samsul Bahri mengatakan, abu kali ini terlihat berintesitas sedang jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

“Hampir setiap hari Gunung Marapi mengeluarkan abu vulkanis. Meski demikian warga yang berada tidak jauh dari lokasi gunung yang berketinggian 2.891 meter dari permukaan laut tersebut tidak merasa resah,” katanya.

Gumpalan asap hitam tersebut, kata dia, terlihat menipis dan tingginya juga telah berkurang dari biasanya yang diperkirakan mencapai 70 meter.

Dia menyebutkan, gumpalan asap hitam keluar tidak lama, hanya sekitar delapan menit untuk kemudian disusul asap putih. (Ant/ICH)


PVMBG: Belum Ada Pengungsian Warga Lereng Anak Ranaka

PVMBG: Belum Ada Pengungsian Warga Lereng Anak Ranaka

KUPANG, KOMPAS.com — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi membantah telah merekomendasikan pengungsian warga di lereng Gunung Anak Ranaka.

Dalam pernyataannya kepada Kompas.com, Selasa (27/9/2011), Kepala PVMBG Surono menyatakan, “Hingga Selasa, 27 September 2011, PVMBG tidak/belum merekomendasikan pengungsian. Tim melakukan cek di lapangan tidak ada pengungsian masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Anak Ranaka yang dalam status Siaga sejak 31 Agustus 2011.”

“Bahwa BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) ‘merencanakan jika Anak Ranaka meletus akan mengungsikan (warga)’ akan mengungsikan warga Desa Ranaka, Kecamatan Werii, Kabupaten Manggarai, ke Stadion Gololukai-Manggarai,” kata Surono.

Lebih lanjut Surono menegaskan, tim PVMBG telah melakukan koordinasi di lapangan dan memastikan bahwa hingga pagi ini tidak ada pengungsian warga.

Bantahan serupa dilontarkan Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Christian Rotok. “Sampai saat ini belum ada pengungsian sehingga tidak perlu didramatisasi karena akan membuat warga panik dan mengganggu aktivitasnya,” katanya kepada kantor berita Antara, Senin (26/9/2011).

“Bahwa ada warga yang sudah lanjut usia dan hendak bepergian ke keluarganya jauh dari kaki Gunung Anak Ranaka itu tidak berarti telah terjadi pengungsian sehingga tidak perlu dibesar-besar, tetapi diingatkan untuk selalu waspada,” katanya.

Gunung Anak Ranaka terakhir meletus pada 11 Januari 1988. Saat itu, ketinggian asap mencapai sekitar 8.000 meter disertai luncuran aliran awan panas yang mengarah ke Wae Reno dan Wae Teko di sebelah utara gunung api itu.

44 Rumah Disapu Puting Beliung

44 Rumah Disapu Puting Beliung

BOJONGMALAKA,(GM)-
Sebanyak 44 rumah warga Perumahan Bojong Malaka Indah (BMI), Desa Bojong Malaka, Kec. Baleendah, Kab. Bandung, mengalami rusak ringan dan sedang akibat disapu angin puting beliung, Senin (26/9) pukul 15.00 WIB.

Menurut Camat Baleendah, Uka Suska Puji Utama, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Begitu juga warga tidak ada yang diungsikan.

Dikatakan Uka, dari 44 rumah yang rusak, 40 unit rusak ringan dan empat unit lainnya rusak sedang. Sedangkan rumah yang rusak berat tidak ada.

Menurutnya, rata-rata kerusakan terjadi pada bagian atap bangunan yang terbuat dari asbes maupun genteng serta kanopi. Selain itu, ada beberapa rumah yang sebagian bentengnya ambruk.

“Sebagian asbes atau kanopi terangkat akibat diterjang angin. Begitu pula dengan genteng, ada sebagian yang jatuh dan bergeser,” papar Uka.

Ia menyebutkan, usai kawasan tersebut disapu angin puting beliung, warga langsung memperbaiki kerusakan yang terjadi. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya darurat agar atap rumah tidak terlalu bolong-bolong karena dikhawatirkan hujan turun.

Ditanya mengenai bantuan dari pemerintah, menurut Uka, hingga semalam belum ada. Kemungkinan bantuan baru datang besok (Selasa 27/9, red).

Meski cukup banyak rumah yang rusak, menurut Uka, kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan. Karena itu warga sendiri sudah memperbaiki rumahnya. “Mudah-mudahan besok ada bantuan, mungkin melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung,” katanya. (B.35)**