Pagi Ini Gunung Lokon Meletus Dua Kali

Pagi Ini Gunung Lokon Meletus Dua Kali

13.09.2011 09:37

MANADO – Sempat istirahat meletus Senin (12/9), Gunung Lokon di Sulawesi Utara meletus lagi, Selasa pagi pukul 06.06 dan 09.18 WITA. “Letusannya kami kategorikan kecil. Memang ketinggian debu tidak bisa kami perkirakan karena di kawah Tompaluan Gunung Lokon tertutup kabut,” ujar Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina di Tomohon, Selasa (13/9). Data seismik selang pukul 00.00-06.00 WITA sebelum letusan, dijelaskannya terjadi satu kali gempa vulkanik jauh, empat kali gempa vulkanik dangkal dan empat kali gempa embusan. Tremor yang terekam juga masih terjadi terus menerus dengan amplitudo 0,3-3 milimeter, dominan satu milimeter. “Tapi bukan berarti Gunung Lokon telah berhenti beraktivitas,” ujar Bina, menjelaskan. Dia memprediksi, Gunung Lokon sementara membentuk kubah lava. Hal ini bisa tergambar dari tremor yang masih terus terekam dan gempa vulkanik dangkal yang masih terjadi. “Setelah ada cukup energi, baru ada letusan. Tapi kita tak bisa memprediksi apakah akan terjadi letusan besar setelah ini atau tidak,” tuturrnya. Dia menjelaskan perilaku Gunung Lokon sebelum meletus hebat 24 Oktober 1991. Tipe letusannya terjadi seperti pascaletusan 14 Juli 2011. “Letusan-letusan kecil terjadi selama beberapa bulan. Setelah itu terbentuk kubah lava dan nanti dikeluarkan setelah tersedia energi cukup kuat,” papar Farid, menambahkan. Ia menuturkan, hingga saat ini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung masih menetapkan status Gunung Lokon Siaga level III.”Radius bahaya 2,5 kilometer dari kawah Tompaluan. Kami berharap tidak ada aktivitas di radius bahaya ini karena masih berpotensi terjadinya letusan,” ucapnya, berharap. Data seismik Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu Senin (12/9) pukul 18.00-24.00 WITA terjadi satu kali gempa vulkanik jauh, empat kali gempa vulkanik dangkal dan empat kali gempa embusan. (Ant)

Sumber: Sinar Harapan

Gempa 5,0 SR Guncang Lampung

Gempa 5,0 SR Guncang Lampung

13 September 2011 | 08:57 wib

Provinsi Lampung diguncang gempa bumi berkekuatan 5 pada skala Richter (SR) Selasa (13/9) dinihari sekitar 01.24 WIB. Informasi dari situs BMKG, pusat gempa berada di lepas pantai sebelah barat daya kota Lampung dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Adapun, posisi gempa berada pada 6.28 lintang selatan – 103.79 bujur timur, dan kedalaman 10 kilometer. Lokasi pusat gempa bumi tersebut berjarak 189 kilometer sebelah barat daya ibu kota Provinsi Lampung, Bandarlampung serta berjarak sekitar 337 kilometer sebelah barat daya Jakarta.

Pusat gempa bumi tersebut juga bejarak 171 kilometer di sebelah tenggara Bintuhan, Bengkulu.

Sumber: Jakarta, CyberNews.
( Andika Primasiwi / CN26 / JBSM )

Kekeringan Landa Ratusan Hektare Sawah di Trenggalek

Kekeringan Landa Ratusan Hektare Sawah di Trenggalek



TRENGGALEK – Ratusan hektare lahan pertanian di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, saat ini dilaporkan ikut terdampak bencana kekeringan yang melanda kawasan tersebut sejak akhir bulan Juli lalu.

“Ya, dampak langsung musim kemarau sudah berlangsung hampir sebulan lebih. Saat ini saluran irigasi debit airnya sangat kecil, bahkan untuk bisa mendapatkan air saja, kami terpaksa harus melakukannya secara bergilir, itupun tidak tentu semua kebagian,” kata salah seorang petani di Kecamatan Gandusari, Djuwari, Selasa (13/9).

Ia menyebut, dampak langsung bagi kalangan petani akibat bahaya kekeringan yang mulai melanda daerahnya selama beberapa pekan terakhir, adalah sulitnya memenuhi kebutuhan air sawah lantaran banyak aliran sungai desa/irigasi yang mengering.

Untuk mengatasinya, sebagian besar petani terpaksa menggunakan mesin pompa disel untuk menyedot air dari dalam tanah. Tindakan darurat yang dilakukan kebanyakan petani di dataran itu adalah untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman produksi mereka yang terlanjur disemai.

Namun, konsekwensi dari penggunaan alat penyedot air bawah tanah tersebut, ongkos produksi petani menjadi membengkak/berlipat. Jika dalam kondisi normal ongkos produksi keseluruhan hanya dikisaran Rp2 juta hingga Rp5 juta, misalnya, pada musim kemarau biayanya bisa berlipat menjadi Rp7 juta hingga Rp10 juta.

“Kalau dibandingkan antara yang menggunakan saluran irigasi dengan yang menggunakan mesin, ya tentu jauh lebih mahal pakai pompa, karena butuh uang sewa dan lain sebagainya,” tutur Djuwari.

Dikonfirmasi menganai fakta kekeringan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Disperhutbun) Kabupaten Trenggalek, Joko Surono membenar kondisi tersebut. Ia bahkan menyebutkan bahwa potensi kekeringan lahan pertanian di wilayahnya diprediksi akan menyebar ke seluruh kecamatan.

“Semua (14) kecamatan di daerah ini rawan kekeringan. Mayoritas sawah di Trenggalek ini adalah sawah tadah hujan, sehingga ketika musim kemarau tiba, hampir dipastikan banyak yang kesulitan air,” terang Joko.

Untuk meminimalisasi dampak kekeringan tersebut, kata Joko Surono, saat ini pihaknya mulai membantu petani dengan mengirimkan sejumlah mesin pompa disel.

“Untuk sumber air yang masih ada airnya kami coba bantu dengan mesin pompa, tapi jumlahnya tidak banyak. Selain itu, petani juga sudah kami imbau agar pada musim kemarau ini untuk mengganti jenis tanamannya dari padi ke palawija. Hal ini sekaligus untuk memutus mata rantai serangan hama wereng yang sempat mewabah beberapa waktu lalu,” imbuhnya.

Sementara itu, bagi petani yang tetap ingin menanam padi dianjurkan untuk menerapkan metode tanam padi SRI (“system of rice intensification”), yakni dengan menggunakan pupuk organik, seperti pelepah pisang, sekam, jerami, pupuk kandang, serta pupuk organik lainnya.

“Sistem SRI ini sudah kami sosialisasikan dan masyarakat saya yakin juga banyak yang mengetahui, dengan pola tanam SRI ini akan mengurangi kebutuhan tanaman terhadap air,” terang Joko Surono.

Joko berharap, produksi padi dan tanaman lainnya di Kabupaten Trenggalek tahun ini tidak mengalami penurunan yang signifikan, meskipun terjadi kekeringan serta seranga hama wereng di sejumlah kecamatan.(Ant)

Sumber: Sinar Harapan

Banjir di India Tewaskan 16 Orang

Banjir di India Tewaskan 16 Orang

Senin, 12 September 2011 14:03
NEW DELHI– Jutaan warga kehilangan tempat tinggalnya dan 16 orang tewas dalam banjir bandang di negara bagian Orissa, India.

Hujan deras menghantam sekira 2.600 desa yang berada di 19 distrik di Orissa. Hujan deras tersebut akhirnya memicu banjir. Beberapa sungai termasuk di antaranya Sungai Mahanadi meluap dan airnya membanjiri jalanan di kota. Sebanyak 61 ribu warga akhirnya dievakuai.

“Kapal Angkatan Laut dari Kota Vishakhapatnam dan helikopter melakukan operasi gabungan untuk mengirimkan bantuan-bantuan,” ujar Komisaris Bantuan Khusus Mohapatra, seperti dikutip BBC, Senin (12/9/2011).

Helikopter mengangkut bahan pangan dan hampir sebanyak 1.400 kapal membawa bantuan lainnya untuk para korban bencana banjir tersebut.

Para pejabat di India berharap situasi di negaranya akan segera membaik setelah hujan deras ini berakhir dan tingkat ketinggian air di Sungai Mahanadai mulai menurun. Akibat listrik padam, warga India juga tidak dapat memasak selama dua hari dan mereka sangat mengandalkan bantuan tersebut.

Sementara itu di Pakistan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah turun tangan dalam mengatasi banjir yang melanda bagian selatan negara tersebut.

Lebih dari 130 orang dikabarkan sudah tewas dalam banjir di Provinsi Sindh, Pakistan. Badan PBB untuk urusan anak-anak (UNICEF) menyatkaan, sekira 2,5 juta anak-anak di Pakistan menjadi korban banjir.

Saat ini, Pakistan juga masih memulihkan diri akibat bencana banjir tahun lalu. Bantuan akan sangat dibutuhkan oleh Pakistan sebelum situasi menjadi semakin buruk.(rhs)

USGS: Gempa 6,0 SR Gempa Vanuatu

USGS: Gempa 6,0 SR Gempa Vanuatu

Hong Kong: Gempa dengan kekuatan 6,0 pada skala Richter mengguncang lepas pantai Vanuatu, Senin (12/9)  pukul 07.37 waktu Beijing atau 06.37 WIB). Begitulah yang berhasil terpantau U.S. Geological Survey.

Gempa berpusat di sebelah barat-daya ibu kota Vauatu, Port-Villa, atau terletak 18,1386 derajat Lintang Selatan dan 167,8999 derajat Bujur Timur dengan kedalaman satu kilometer.

Continue reading

Kebakaran Lereng Gunung Sumbing

Kebakaran hutan jati terjadi di dua daerah di Indonesia. Kebakaran tersebut terjadi akibat munculnya titik api karena musim kemarau. Senin (12/9) dini hari, kebakaran terjadi di Desa Pucang Gading Hargomulyo, Kokap, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Api melahap hutan jati dan hutan mahoni. Api bahkan tersebar di beberapa titik dan masih berkobar terus hingga dini hari tadi. Sementara, Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dan Perhutani belum juga mengirimkan bantunan pemadam.

Continue reading

Gempa Guncang Timor dan Kepulauan Talaud

Gempa Guncang Timor dan Kepulauan Talaud

Minggu, 11 September 2011 | 14:01 WIB JAKARTA l SURYA Online

Gempa mengguncang dua wilayah berbeda di Indonesia, Minggu (11/9/2011) ini. Pertama, gempa berkekuatan 4,6 skala Richter menggoyang daerah Timor pukul 08.09.11 waktu setempat dan kedua, gempa berkekuatan 4,8 SR mengguncang Kepulauan Talaud pukul 09.58.59 waktu setempat. USGS (US Geological Survey) hari Minggu menyebutkan, gempa di wilayah Timor berkekuatan 4,6 SR berpusat di lokasi 10,422 Lintang Selatan dan 123,908 Bujur Timur dengan kedalaman 20,6 km. Jarak pusat gempa Timor 45 km sebelah tenggara Kupang, 275 km barat daya dari Dili, Timor Leste; 303 km sebelah tenggara Ende; dan 798 km barat laut Darwin, Australia. Sementara itu, gempa yang menggoyang Kepulauan Talaud berpusat di 3,524 Lintang Utara dan 126,845 Bujur Timur dengan kedalaman 71,8 km. Jarak pusat gempa Kepulauan Talaud 308 km sebelah utara Ternate, Maluku; 314 km timur laut Manado, Sulawesi Utara; 947 km barat daya Koror, Palau; dan 1.384 km sebelah tenggara Manila, Filipina.

Sumber: Surya.co.id

Gunung Lokon Beraktivitas Kembali

Gunung Lokon Beraktivitas Kembali

Nasional / Minggu, 11 September 2011 11:40 WIB

Tomohon: Pos pengamatan mencatat rentetan gempa tektonik di kawah Tompaluan, Gunung Lokon, Sumatra Utara. Sejak tanggal 1 hingga 10 September, petugas mencatat sedkitnya 31 kali gempa tektonik dari gunung tersebut. Staf Pos Pengamatan Gunung Lokon dan Mahawu, Ferry, mengatakan rentetan gempa tak menjadi penyebab terjadinya letusan. Gempa hanya berkaitan dengan pergeseran lempengan bumi. Mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WITA, Ahad (11/9), pihaknya mencatat satu kali gempa tektonik jauh, satu kali gempa vulkanik dalam, dan satu kali gempa vulkanik dangkal. Frekuensi gempa vulkanik lebih sedikit ketimbang kemarin, yakni tiga kali. Ia menuturkan bila frekuensi gempa vulkanik cukup banyak, maka akan ada kemungkinan Gunung Lokon meletus. “Letusan bisa saja terjadi bila gempa vulkanik yang berupa suplai energi terus terakumulasi dan tidak dikeluarkan. Namun, aktivitas vulkanik Gunung Lokon yang kita pantau setiap hari terjadi pelepasan energi melalui letusan-letusan berskala kecil,” paparnya. (Ant/RRN)

Sumber: Metrotvnews.com