Gempa 5,2 SR Goyang Saumlaki

Gempa 5,2 SR Goyang Saumlaki  

Saumlaki: Gempa bumi kembali terjadi di Saumlaki, Maluku. Kali ini gempa berkekuatan 5,2 skala Richter menggoyang Saumlaki, Sabtu (17/9) pukul 15.52 WIT atau pukul 13.52 WIB.

Laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melansir, lokasi gempa berada di 6.57 Lintang Selatan-130.32 Bujur Timur, Namun, gempa berkedalaman 10 kilometer ini tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa berada pada 191 kilometer barat laut Saumlaki, 288 km barat daya Tual, Maluku, 405 kilometer tenggara Ambon, Maluku, dan 460 km barat daya Fakfak, Papua Barat. Serta, 2.610 km tenggara Jakarta.(ANS)

Sumber: Liputan6.com

Letusan dan Gempa Terus Terjadi di Gunung Lokon

alt

Letusan dan Gempa Terus Terjadi di Gunung Lokon

alt

Gunung Lokon kembali menyemburkan abu vulkanik setinggi 3.000 meter di Tomohon, Sulawesi Utara. Letusan membuat panik warga yang sebagian sudah kembali ke rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO– Sebanyak 13 letusan keluar dari kawah Tompaluan Gunung Lokon, Provinsi Sulawesi Utara, Jumat pagi. Meskipun letusan terus meningkat namun Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina, megatakan, letusan tersebut tak membahayakan aktivitas warga. “Letusan-letusan yang terekam, kami kategorikan kecil. Dan ini tak memengaruhi aktivitas warga atau membahayakan keselamatan warga yang berada di radius bahaya Gunung Lokon,” ujarnya.Hingga pukul 08.00 WITA tercatat telah terjadi 13 letusan sejak pukul 00.28 WITA, 00.35 WITA, 01.05 WITA, 01.11 WITA, 01.52 WITA, 02.11 WITA, 02.03 WITA, 02.20 WITA, 04.10 WITA, 05.06 WITA, 05.35 WITA, 06.07 WITA dan 06.17 WITA. “Tinggi letusan yang bisa kami amati sekitar 200 meter. Namun sebagian letusan lainnya tidak bisa kami perkirakan ketinggiannya karena kondisi kabut tebal menutupi badan gunung dan kawah,” jelasnya. Sebelum terjadinya letusan hari ini, Kamis (15/9) sejak pukul 18.00 WITA-24.00 WITA, pos pengamatan gunung api mencatat terjadinya gempa tektonik jauh amplitudo 18-24 milimeter dengan lama gempa 55-155 detik. Selain itu, terekam pula satu kali gempa vulkanik dalam amplitudo 26 milimeter dengan lama kegempaan lima detik. Begitupun dengan gempa vulkanik dangkal yang terjadi sebanyak 10 kali, amplitudo 3-9 milimeter dan lama gempa 3-6,5 detik. Gempa letusan juga terjadi sebanyak 10 kali, amplitudo 23-43 milimeter dengan lama gempa 40-42,5 detik. Tercatat juga sebanyak 19 kali gempa hembusan amplitudo 10-30 milimeter dengan lama gempa 10-80 detik.

Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara

13 Letusan Gunung Lokon Terjadi Pagi Ini

alt

13 Letusan Gunung Lokon Terjadi Pagi Ini

alt

MANADO – Sebanyak 13 letusan keluar dari kawah Tompaluan Gunung Lokon, Provinsi Sulawesi Utara, Jumat (16/9) pagi.

Meskipun letusan terus meningkat namun Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina, mengatakan, letusan tersebut tak membahayakan aktivitas warga.

“Letusan-letusan yang terekam, kami kategorikan kecil. Dan ini tak memengaruhi aktivitas warga atau membahayakan keselamatan warga yang berada di radius bahaya Gunung Lokon,” ujarnya.

Hingga pukul 08.00 WITA tercatat telah terjadi 13 letusan sejak pukul 00.28 WITA, 00.35 WITA, 01.05 WITA, 01.11 WITA, 01.52 WITA, 02.11 WITA, 02.03 WITA, 02.20 WITA, 04.10 WITA, 05.06 WITA, 05.35 WITA, 06.07 WITA dan 06.17 WITA.

“Tinggi letusan yang bisa kami amati sekitar 200 meter. Namun sebagian letusan lainnya tidak bisa kami perkirakan ketinggiannya karena kondisi kabut tebal menutupi badan gunung dan kawah,” jelasnya.

Sebelum terjadinya letusan hari ini, Kamis (15/9) sejak pukul 18.00 WITA-24.00 WITA, pos pengamatan gunung api mencatat terjadinya gempa tektonik jauh amplitudo 18-24 milimeter dengan lama gempa 55-155 detik.

Selain itu, terekam pula satu kali gempa vulkanik dalam amplitudo 26 milimeter dengan lama kegempaan lima detik. Begitupun dengan gempa vulkanik dangkal yang terjadi sebanyak 10 kali, amplitudo 3-9 milimeter dan lama gempa 3-6,5 detik.

Gempa letusan juga terjadi sebanyak 10 kali, amplitudo 23-43 milimeter dengan lama gempa 40-42,5 detik. Tercatat juga sebanyak 19 kali gempa hembusan amplitudo 10-30 milimeter dengan lama gempa 10-80 detik.

Sementara itu, tremor masih terekam terus menerus dengan amplitudo 0,5-4 milimeter, dominan dua milimeter.

Di sisi lain, bersamaan dengan letusan sejak pukul 00.00 WITA-06.00 WITA hari ini kondisi seismik yang terekam dua gempa tektonik amplitudo 22-46 milimeter dengan kelamaan gempa 110-350 detik, satu kali gempa vulkanik dalam amplitudo 11 milimeter, lama gempa lima detik.

Terekam juga empat kali gempa vulkanik dangkal amplitudo 3,5-6 milimeter, 10 kali gempa hembusan amplitudo 9-28 milimeter dengan lama gempa 12,5-75 detik.

Gempa letusan dan tremor yang terekam masing-masing beramplitudo 23-47 milimeter lama gempa 50-150 dan 1-10 milimeter, dominan dua milimeter.

“Asap kawah putih tebal yang keluar dari kawah Tompaluan dengan ketinggian 100-300 meter mengindikasikan penguapan akibat suhu tinggi,” jelasnya. (Ant)

Sumber: Sinar Harapan

Gunung Lokon Tujuh Kali Meletus

alt

Gunung Lokon Tujuh Kali Meletus

alt

MANADO – Tujuh letusan terjadi dari kawah Tompaluan, Gunung Lokon di Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (15/9) pagi hingga pukul 09.00 WITA. Sebagaimana data Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, rentetan letusan terjadi sejak pukul 00.01 WITA, 00.02 WITA, 00.14 WITA, 01.30 WITA, 02.54 WITA, 03.08 WITA dan 08.44 WITA. Frekwensi letusan Gunung Lokon pagi ini jauh lebih sedikit dibanding jumlah letusan yang terjadi Rabu (14/9) sejak pukul 00.00 WITA – 24.00 WITA yakni sebanyak 24 kali. “Letusan yang terjadi pagi ini kami kategorikan kecil dengan tinggi letusan sekitar 150 meter. Beberapa letusan lainnya tidak bisa dipantau karena kondisi kawah gunung yang tertutup kabut,” jelas staf Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Jemmy Runtuwene, di Tomohon, Kamis. Enam jam sebelum pukul 00.00 WITA Rabu (14/9), pos pengamatan mencatat terjadinya satu kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa vulkanik dangkal, 12 kali gempa letusan dan 15 kali gempa hembusan. Sedangkan enam jam berikutnya sejak pukul 00.00 WITA-06.00 WITA juga tercatat enam kali gempa letusan, dan 14 kali gempa hembusan. Begitupun dengan tremor. Dijelaskannya, meski masih terus terekam namun besaran amplitudonya kembali menurun dibanding kemarin 1-10 milimeter, dominan 3 milimeter. “Amplitudo tremor hari ini tercatat 1-8 milimeter. Meskipun menurun namun aktivitas Gunung Lokon masih di atas normal,” jelasnya. Diterangkan Jemmy, hingga pukul 09.30 WITA status Gunung Lokon masih siaga level III dengan radius 2,5 kilometer. “Meski letusannya kecil namun dikuatirkan lontaran material pijar bisa menyentuh daerah rawan bahaya Gunung Lokon yakni 2,5 kilometer. Kami harap warga tetap mematuhi daerah rawan bahaya tersebut,” harapnya. (Ant)

Krui Lampung Digoyang Gempa

Warga di Pinggir Pantai Berlarian

Krui Lampung Digoyang Gempa

LAMPUNG (Pos Kota) – Krui, Lampung Barat diguncang gempa berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) yang terjadi pada Kamis (15/9) dini hari.

Sebagian besar masyarakat pesisir Lampung Barat menjauh dari pantai akibat getaran gempa 5,6 skala Richter (SR).” Getaran gempa membuat masyarakat yang tinggal di bibir pantai dimalam gelap lari ke luar rumah dan menjauh dari bibir pantai. Masyarakat takut, gempa berpotensi tsunami,” ungkap Joni warga Krui, Lampung Barat.

Getaran gempa membuat gelombang pesisir meningkat. Menurut dia, getaran gempa membuat alat rumah tangga berjatuhan ke lantai, “Gempa kali ini cukup kuat, sehingga perabotan saya banyak yang rusak akibat jatuh,” lanjutnya.

Warga Pesisir Lampung Barat mendirikan rumah berada di dekat bibir pantai, sehingga saat terjadi gempa, mereka sontak lari dari rumah dan menjauh dari pantai, mereka takut bencana tsunami terjadi.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung, Bambang, menginformasikan terjadi gempa berkekuatan 5,6 SR, Lokasi :6.33 LS-103.58 BT
Kedalaman : 28 Km 132 km BaratDaya, Krui, Lampung Barat, tidak berpotensi tsunami.(Koesma/b)

15 Kecamatan di Kabupaten Sukabumi Krisis Air Bersih

15 Kecamatan di Kabupaten Sukabumi Krisis Air Bersih

SUKABUMI (Pos Kota) – Sekitar 15 dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mengalami krisis air bersih. Kondisi ini terjadi karena wilayah kabupaten terluas se-Jawa dan Bali ini mengalami kemarau cukup panjang.

Dari hasil pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, ada 15 kecamatan krisis air bersih. Ke-15 kecamatan tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Sukabumi. Wilayah terparah yakni di Kecamatan Sagaranten dan Surade.

Kepala BPBD Kabupaten Sukabumi, Ferry A Furqon menjelaskan, umumnya wilayah krisis air berada di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Krisis air bersih, lanjutnya, yakni terjadinya kemarau panjang. Akibatnya, berimbas kepada penurunan debit air sungai malah ada yang sudah kering.

“Kami mengantisipasi krisis air bersih ini berkoordinasi dengan PDAM. Agar wilayah yang krisis masih bisa mendapatkan air bersih,” kata Furqon.

Antisipasi krisis ari lainnya, sambung Furqon yakni bekerjasama dengan pihak swasta melalui progam Corporate Social Responsibility (CSR). Caranya, pihak swasta tersebut diminta untuk membuat sarana air bersih untuk daerah yang kekurangan air bersih.

Sementara itu, dari pantauan Pos Kota hampir di semua wilayah di Kabupaten Sukabumi kesulitan air bersih. Banyak warga berbondong-bondong mengantri mendapatkan air bersih di sejumlah sumber mata air. Pasalnya, sumur di daerah warga yang tidak memiliki aliran air sungai maupun sumber mata air kondisinya sekarang sudah kering. Kalaupun ada, airnya keruh. (sule/b)

Gunung Lokon Hari ini sudah meletus 5 kali

Sebanyak 5 letusan debu vulkanik keluar dari kawah Tompaluan, Gunung Lokon di Sulawesi Utara, hingga pukul 09.30 WITA, Rabu. “Letusannya dikategorikan kecil dan tidak membahayakan,”  kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina. Letusan terjadi pukul 08.03 WITA, 08.12 WITA, 08.23 WITA, 08.44 WITA dan 09.29 WITA.

Continue reading

Gunung Api Tambora Hari ini masih berstatus Siaga III

Mataram, NTB (ANTARA News) – Hasil pengamatan visual dan catatan aktivitas kegempaan Gunung Api Tambora, di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, masih berstatus Siaga pada level III.

“Belum ada peningkatan atau penurunan status,” kata Kepala Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral Dinas Pertambangan dan Energi NTB, Muhammaddin, di Mataram, Senin.

Continue reading

BNPB TINGKATKAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DI 5 GUNUNG BERSTATUS SIAGA

BNPB TINGKATKAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DI 5 GUNUNG BERSTATUS SIAGA


Hingga saat ini terdapat 21 gunungapi yang statusnya di atas normal aktif. 5 gunung berstatus SIAGA (level III), yaitu Gunungapi Tambora, Anak Ranakah, Papandayan, Karangetang, dan Lokon. Gunung Tambora dan Anak Ranakah dinaikkan statusnya dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu pada 8 September 2011. Sedangkan 16 gunung berstatus WASPADA (level II), yaitu Gunungapi Soputan, Ibu, Lewotobi Perempuan, Marapi, Bromo, Dieng, Gamkonora, Merapi, Sinabung, Talang, Kerinci, Krakatau, Semeru, Sangeangapi, Gamalama, dan Dukuno.

PVMBG secara terus menerus memonitor dan menyampaikan informasi kepada BNPB dan pemerintah daerah. Rekomendasi dari meningkatnya aktivitas 5 gunung tersebut adalah masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apa pun pada:

1. Gunung Tambora : Kawasan Rawan Bencana III (KRB III) dan dalam radius 3 km dari pusat aktivitas G. Tambora.
2. Gunung Anak Ranakah : kawasan Lembah Sungai Wae Reno dan Wae Teko sejauh ± 7 km yang berarah Barat Laut, 1,5 km arah Barat dari Puncak G. Anak Ranakah, 1.5 km arah Timur dari Puncak G. Anak Ranakah, dan 1.5 km arah Selatan dari Puncak G. Anak Ranakah.
3. Gunung Papandayan: kawah yang ada di puncak G. Papandayan dalam radius 2 km dari kompleks kawah Papandayan.
4. Gunung Lokon: radius 3 km dari Kawah Tompaluan.
5. Gunung Karangetang: pendakian di puncak melebihi ketinggian 500 m dari muka laut. Penduduk di Kampung Mini di bagian barat (Kali Beha Barat) dan Kampung Kopi di bagian selatan (Kali Kahetang) agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya awan panas dan guguran lava pijar.

BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD  untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan sosialisasi kepada masyarakat. Antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan terburuk dari letusan gunung tersebut terus disiapkan. Jalur-jalur evakuasi telah disiapkan. Hingga saat ini belum perlu adanya pengungsian.

Sumber :DR. Sutopo Purwo Nugroho

BNPB: Lima Gunung Api Ini Harus Diwaspadai

alt

BNPB: Lima Gunung Api Ini Harus Diwaspadai

alt

Ada 21 gunung api yang saat ini statusnya di atas normal aktif

VIVAnews – Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik atau The Pacific Ring of Fire memiliki sekitar 130 gunung berapi aktif. Kini beberapa di antaranya bahkan sedang bergolak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, ada 21 gunung api yang saat ini statusnya di atas normal aktif. “Lima gunung berstatus Siaga (level III), yaitu Gunung Tambora, Anak Ranakah, Papandayan, Karangetang, dan Lokon,” kata Kepala Pusat Data BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Selasa 13 September 2011 malam.

Dia menjelaskan, Gunung Tambora dan Anak Ranakah dinaikkan statusnya dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu pada 8 September 2011.

Selain yang berstatus Siaga, 16 gunung api di Indonesia telah berstatus Waspada atau Level III. Yakni, Soputan, Ibu, Lewotobi Perempuan, Marapi, Bromo, Dieng, Gamkonora, Merapi, Sinabung, Talang, Kerinci, Krakatau, Semeru, Sangeangapi, Gamalama, dan Dukuno.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), yang terus memonitor gunung api di Indonesia, merekomendasikan masyarakat untuk waspada seiring dengan meningkatnya aktivitas di lima gunung berstatus Siaga tersebut. “Masyarakat dan pengunjung atau wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun,” tambah Sutopo.

Untuk Gunung Tambora, zona rawan bencana ditetapkan 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Sementara, untuk Gunung Anak Ranakah, radius kawasan rawan bencana ditetapkan untuk sejumlah lokasi, rata-rata sejauh 1,5 kilometer.

Untuk Gunung Papandayang, zona bahaya ditetapkan dua kilometer dari kompleks kawah Papandayan. Lalu, Gunung Lokon, wilayah steril ditetapkan 3 kilometer dari Kawah Tompaluan. Sementara, untuk Gunung Karangetang, dilarang melakukan pendakian di puncak melebihi ketinggian 500 m dari muka laut.

“Penduduk di Kampung Mini di bagian barat (Kali Beha Barat) dan Kampung Kopi di bagian selatan (Kali Kahetang) agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya awan panas dan guguran lava pijar,” kata Sutopo.

Dia menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan BPBD  untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan sosialisasi kepada masyarakat. “Antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan terburuk dari letusan gunung tersebut terus disiapkan. Jalur-jalur evakuasi telah disiapkan.”

• VIVAnews