Afghanistan Khawatirkan Munculnya Wabah Penyakit di Antara Korban Gempa

KABUL – Ribuan orang yang terkena dampak gempa bumi mematikan di Afghanistan timur membutuhkan air bersih dan makanan serta berisiko terkena penyakit. Hal itu diungkapkan seorang pejabat Kementerian Kesehatan Afghanistan, Minggu (26/6/2022).

Kekahwatiran ini muncul beberapa hari setelah kantor kemanusiaan PBB (OCHA) memperingatkan adanya wabah kolera di wilayah tersebut.

“Orang-orang sangat membutuhkan makanan dan air bersih,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan Afghanistan Sharafat Zaman kepada Reuters. Ia menambahkan, para pejabat telah mengelola obat-obatan untuk saat ini, tetapi menangani mereka yang kehilangan rumah akan menjadi tantangan.

“Kami meminta masyarakat internasional, organisasi kemanusiaan untuk membantu kami untuk makanan dan obat-obatan, yang selamat mungkin terkena penyakit karena mereka tidak memiliki rumah dan tempat tinggal yang layak untuk hidup,” katanya.

Bencana tersebut merupakan ujian besar bagi para penguasa garis keras Taliban Afghanistan, yang telah dijauhi oleh banyak pemerintah asing karena kekhawatiran tentang hak asasi manusia sejak mereka menguasai negara itu tahun lalu.

Membantu ribuan warga Afghanistan juga merupakan tantangan bagi negara-negara yang telah memberlakukan sanksi terhadap badan-badan pemerintah Afghanistan dan bank, memotong bantuan langsung, yang mengarah ke krisis kemanusiaan bahkan sebelum gempa.

PBB dan beberapa negara lain telah mengirimkan bantuan ke daerah-daerah yang terkena dampak, dengan lebih banyak lagi yang akan tiba dalam beberapa hari mendatang.

Pemerintahan Taliban Afghanistan menyerukan pencabutan sanksi dan pencabutan pembekuan miliaran dolar aset bank sentral yang disimpan di lembaga keuangan Barat.

Di Kabul, rumah sakit yang lebih dulu merawat korban perang telah membuka bangsal mereka untuk korban gempa, tetapi sebagian besar orang tetap berada di daerah yang hancur akibat gempa.

“Rumah kami hancur, kami tidak memiliki tenda. Kami tidak punya apa-apa. Makanan dan pakaian kami semuanya berada di bawah puing-puing,” Hazrat Ali, 18, mengatakan kepada tim Reuters di Wor Kali, sebuah desa di distrik Barmal yang paling parah terkena dampaknya.

“Saya telah kehilangan saudara-saudara saya, hati saya hancur. Sekarang kami hanya berdua. Saya sangat mencintai mereka,” katanya.

Klinik Afghanistan Kewalahan Kedatangan Ratusan Pasien Usai Gempa

Jakarta – Jumlah korban meninggal dunia dalam gempa terburuk Afghanistan dalam dua dekade telah mencapai 1.000 orang, namun angka itu diperkirakan akan terus bertambah.

Seorang pekerja di satu-satunya klinik kesehatan di daerah pusat gempa menuturkan kepada BBC bagaimana mereka kewalahan lantaran ratusan orang datang dan memerlukan perawatan.

“Dari 500 pasien yang datang ke klinik sejak pagi, sebanyak 200 telah meninggal dunia.”

Demikian penuturan Muhammad Gul, seorang staf klinik kecil di Gayan, sebuah distrik di Provinsi Paktika, bagian timur Afghanistan.

Fasilitas kesehatan itu hanya punya lima ranjang, tapi gempa pada Selasa (21/06) membuatnya tak bisa digunakan.

“Semua ruangan klinik telah hancur,” kata Gul kepada BBC.

Menurutnya, sebuah helikopter telah mengangkut sejumlah pasien dari distrik terpencil itu ke beberapa kota untuk dirawat. Adapun dua dokter klinik berupaya merawat para korban terdampak gempa dengan fasilitas seadanya.

Generator yang memasok listrik pun tidak bisa menyala terus karena bahan bakarnya terbatas. Janji bantuan dari provinsi-provinsi lain belum kunjung terwujud.

Di tengah kondisi itu, korban terus berdatangan.

“Terdapat puluhan orang yang perlu bantuan medis darurat. Saya kira mereka tidak akan bisa bertahan hidup malam ini,” kata Gul.

Gayan Comprehensive Health Center

Bangunan Klinik Gayan rusak akibat gempa. (Gayan Comprehensive Health Center)

Gempa bermagnitudo 6,1 melanda kawasan timur Afghanistan, pada Selasa (21/06) pagi.

Rumah-rumah di area itu tidak dibangun dengan kokoh sehingga ambruk ketika terjadi getaran kuat. Akibatnya, ratusan rumah hancur dan diperparah oleh longsor.

Gayan adalah area yang paling parah terdampak gempa. Masyarakat di sana banyak yang terjebak reruntuhan bangunan ambruk.

Sejauh ini bencana tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.000 orang dan mencederai 1.500 lainnya, menurut seorang pejabat Taliban. Jumlah itu diperkirakan bakal bertambah karena hujan deras dan medan terjal menghambat operasi penyelamatan.

Tidak ada UGD

Klinik kesehatan di Gayan didirikan oleh sejumlah lembaga bantuan asing, dua tahun lalu.

Semula klinik itu dimaksudkan untuk menangani pasien dengan keluhan kesehatan ringan. Apabila ada pasien kondisi berat, klinik tersebut merujuknya ke kota-kota besar agar pasien bisa menjalani perawatan lanjutan.

Karenanya, tidak ada unit gawat darurat di klinik itu.

Gayan Comprehensive Health CenterGayan Comprehensive Health CenterSemula Klinik Gayan dimaksudkan untuk menangani kondisi kesehatan ringan. Apabila ada pasien kondisi berat, klinik tersebut merujuknya ke kota-kota besar agar pasien bisa menjalani perawatan lanjutan.

Sejak kelompok Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan sejak Agustus lalu, lembaga-lembaga bantuan internasional angkat kaki dari negara itu sehingga sistem layanan kesehatan kekurangan obat-obatan dan staf.

Kementerian Pertahanan pimpinan Taliban kini memimpin upaya penyelamatan menyusul gempa dan kelompok itu telah memohon bantuan internasional.

Lembaga kemanusiaan di bawah PBB mengatakan sedang mengirim tim medis dan suplai ke kawasan terdampak. Lembaga-lembaga bantuan di Pakistan juga membantu.

Akan tetapi, banyak negara yang hubungannya dengan Afghanistan memburuk setelah Taliban melengserkan pemerintahan dukungan Barat. Pun banyak negara yang menerapkan rangkaian sanksi ke sektor perbankan Afghanistan dan negara itu mengalami krisis ekonomi.

“Sayangnya pemerintah kini menjalani sanksi, sehingga tidak mampu secara finansial untuk membantu orang-orang yang memerlukan,” kata Abdul Qahar Balkhi, pejabat senior Taliban.

“Lembaga-lembaga bantuan internasional membantu, negara-negara tetangga, negara-negara di kawasan, dan negara-negara di seluruh dunia menawarkan bantuan, yang kami sambut dan apresiasi.

“Bantuan perlu ditingkatkan besar-besaran karena ini adalah gempa yang menghancurkan.”

Gayan Comprehensive Health Center

Tanpa kiriman bantuan, pasokan obat-obatan di klinik akan segera habis. (Gayan Comprehensive Health Center)

‘Taliban tidak mampu menangani bencana ini’

Ketika pejabat gubernur Taliban mengunjungi Gayan pada Selasa (21/6), orang-orang meneriakinya, menyuruh dia pergi, kata seorang relawan dari distrik tetangga kepada BBC.

Relawan tersebut, yang datang membantu upaya penyelamatan, menuturkan bahwa sang gubernur dan para pejabat Taliban dari Kabul berjanji mengirimkan lebih banyak bantuan dan sumber daya.

“Taliban tidak mampu menangani bencana ini. Tidak ada sistem yang terpasang.”

“Dan kami tidak bisa mengharapkan bantuan internasional. Dunia telah melupakan Afghanistan,” sambungnya.

Bahkan sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan, kemampuan sistem layanan darurat Afghanistan di kota-kota besar amat terbatas untuk merespons bencana alam. Hanya sedikit pesawat dan helikopter yang tersedia.

Menurut sejumlah pejabat medis Paktika, daerah itu amat kekurangan obat penahan nyeri dan antibiotik.

Gayan Comprehensive Health Center

Kawasan Gayan sangat memerlukan bantuan daerah-daerah tetangga dan komunitas internasional. (Gayan Comprehensive Health Center)

Anak-anak tanpa orang tua

Salah satu dokter yang bertugas di klinik distrik Gayan, sengaja datang dari distrik Ghazni untuk menolong para korban.

Saat dia datang, orang-orang mengerumuninya sambil memohon pertolongan.

Sang dokter memaparkan bahwa ada seorang ayah muda yang mengalami retak tulang pada bagian dada.

“Dia menangis dan meminta dipanggilkan anggota keluarganya yang lain. Dia meminta saya untuk membiarkannya meninggal jika mereka tidak hidup.”

Dari pengamatan dokter tersebut, sebagian besar pasien adalah laki-laki. Sedangkan para perempuan dan anak-anak kemungkinan tidak mampu menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan ambruk.

Dia mengatakan beberapa anak di klinik datang tanpa didampingi orang tua mereka. Salah satunya bocah delapan tahun dengan kondisi luka parah.

“Bocah itu memohon-mohon khalayak membantu orang tuanya dan saudara-saudaranya yang terjebak di rumah mereka.

“Dia kemudian mendengar seseorang memberitahu saya bahwa semuanya telah meninggal. Dia menangis dan jatuh pingsan.”

Gayan Comprehensive Health Center

Dokter di klinik mengatakan kepada BBC bahwa ada sejumlah anak yang datang tanpa orang tua. (Gayan Comprehensive Health Center)

BBC telah ditunjukkan foto-foto yang memperlihatkan sejumlah warga dengan luka terbuka. Mereka menunggu dirawat di klinik.

Sejumlah jenazah dilaporkan bergelimpangan di area tersebut.

Belum ada petugas resmi yang berada di sana, namun masyarakat dari daerah-daerah tetangga telah datang untuk membantu.

Salah satu relawan dari Kota Urgun membantu menarik orang-orang yang terjebak reruntuhan.

Dia mengaku telah menemukan 40 jenazah sejak pagi dan sebagian besar adalah anak-anak.

Kalaupun ada yang bisa keluar dari reruntuhan dalam keadaan hidup, masa depan tampak suram.

“Kami tidak punya akses ke air bersih untuk membasuh luka dan cuacanya luar biasa panas. Saya kira infeksi akan segera menyebar,” pungkas sang dokter relawan.

Gempa Afghanistan Tewaskan 1.000 Orang, Taliban Minta Bantuan Internasional

KABUL Taliban , pihak yang berkuasa di Afghanistan , telah meminta bantuan internasional setelah gempa bumi magnitudo 6,1 menghancurkan wilayah provinsi Paktika.

Pejabat setempat mengonfirmasi lebih dari 1.000 orang tewas dan sekitar 1.500 lainnya terluka.

PBB sedang berjuang untuk menyediakan tempat penampungan darurat dan bantuan makanan.

Upaya penyelamatan telah terhambat oleh hujan lebat dan hujan es.

Gempa ini paling mematikan yang melanda negara itu dalam dua dekade, menjadi tantangan besar bagi Taliban yang mendapatkan kembali kekuasaannya tahun lalu setelah pemerintah yang didukung Barat runtuh.

Getaran gempa bumi juga terasa hingga ke Pakistan dan India. Para saksi mata mengaku merasakan gempa di Ibu Kota Afghanistan; Kabul, dan Ibu Kota Pakistan; Islamabad.

“Sayangnya, pemerintah berada di bawah sanksi sehingga secara finansial tidak dapat membantu rakyat sejauh yang dibutuhkan,” kata Abdul Qahar Balkhi, seorang pejabat senior Taliban, seperti dikutip BBC, Kamis (23/6/2022).

“Badan-badan bantuan internasional membantu, negara-negara tetangga, negara-negara regional, dan negara-negara dunia telah menawarkan bantuan mereka yang kami hargai dan sambut baik,” ujarnya.

“Bantuan perlu ditingkatkan ke tingkat yang sangat besar karena ini adalah gempa bumi dahsyat yang belum pernah dialami dalam beberapa dekade.”

Jumlah orang yang terjebak di bawah reruntuhan belum diketahui. Pekerja kesehatan dan bantuan mengatakan operasi penyelamatan sangat sulit karena hujan lebat.

Di daerah terpencil, helikopter telah mengangkut korban ke rumah sakit.

PBB dan badan-badan bantuan di negara tetangga Pakistan membantu upaya kemanusiaan, yang mencakup penempatan tim medis dan penyediaan pasokan medis.

Para warga di kota Sharan, ibu kota provinsi Paktika, mengantre untuk mendonorkan darah kepada korban gempa yang dirawat di rumah sakit.

Salah satu lembaga bantuan kemanusiaan, Intersos, menyatakan siap mengirimkan tim medis darurat yang terdiri dari dua ahli bedah, seorang ahli anestesi, dan dua perawat.

Sebagian besar korban sejauh ini berada di distrik Gayan dan Barmal di Paktika. Hal itu disampaikan seorang dokter setempat kepada BBC. Seluruh desa di Gayan dilaporkan telah dihancurkan.

“Ada suara gemuruh dan tempat tidur saya mulai bergetar,” kata salah satu korban selamat, Shabir, kepada BBC.

“Langit-langit [rumah] jatuh. Saya terjebak, tapi saya bisa melihat langit. Bahu saya terkilir, kepala saya sakit tapi saya keluar. Saya yakin tujuh atau sembilan orang dari keluarga saya, yang berada di ruangan yang sama dengan saya, sudah meninggal,” ujarnya.

sumber: https://international.sindonews.com/read/806203/40/gempa-afghanistan-tewaskan-1000-orang-taliban-minta-bantuan-internasional-1655942807/10

Gempa Kuat Afghanistan M 5,9 Tewaskan 1.000 Orang, Terasa hingga Pakistan dan Iran

KOMPAS.com – Afghanistan diguncang gempa kuat yang menewaskan sedikitnya 1.000 orang dan menghancurkan ribuan rumah. Gempa berkekuatan M 5,9 ini juga dirasakan hingga Pakistan dan Iran.

Seperti diberitakan Aljazeera, Rabu (22/6/2022), lebih dari 1.500 orang mengalami luka-luka. Gempa kuat ini mengguncang wilayah-wilayah terpencil di Afghanistan timur hingga negara tetangga, Pakistan.

Menurut Departemen Kebudayaan dan Informasi Taliban, saat tim penyelamat berusaha mencapai lokasi bencana di provinsi terpencil Paktika dan Khost, korban tewas akibat gempa kuat di Afghanistan ini mencapai 1.000 orang.

Berdasarkan laporan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa kuat ini terjadi pada Rabu dini hari waktu setempat. Lembaga ini merevisi kekuatan gempa yang awalnya diperkirakan bermagnitudo 6,1 menjadi M 5,9.

USGS mengatakan bahwa pusat gempa bumi di Afghanistan ini berada di sekitar 46 km dari kota Khost, dekat perbatasan Pakistan.

“Orang-orang menggali kuburan demi kuburan. Hujan juga turun, dan semua rumah hancur. Orang-orang masih terjebak di bawah reruntuhan,” kata Muhammad Amin Huzaifa, kepala Departemen Penerangan dan Kebudayaan di Paktika yang terpukul keras.

Baca juga: BMKG Curigai Gempa Kuat Jawa Timur sejak Akhir Tahun 2020, Kok Bisa?

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Afghanistan ini diperkirakan akan meningkat, menurut pejabat kementerian dalam negeri Salahuddin Ayubi sebelumnya.

Sebab, beberapa desa berada di daerah terpencil di pegunungan dan membutuhkan waktu untuk dapat merinci data korban gempa tersebut.

Dilaporkan jurnalis Afghanistan Ali M Latifi dari Kabbul, orang-orang sejauh ibu kota Afghanistan, sekitar 200 km merasakan gempa susulan.

“Komite penyelamat internasional mengatakan mereka telah mengerahkan tim medis lokal untuk mencoba dan menanggapi bencana,”.

“Masalah terbesar adalah bagaimana mencapai lokasi karena jauh dari ibu kota provinsi, dan kondisi jalannya bisa sulit. Jadi sebenarnya masalahnya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk sampai ke sana,” kata jurnalis Afghanistan itu.

Dampak Fenomena 5 Planet Sejajar 24 Juni 2022, Bisa Menyebabkan Bencana Alam di Bumi, Benarkah?

PORTAL KOTAMOBAGU, Pikiran Rakyat – Kali ini saya akan membahas mengenai fenomena planet sejajar yang akan terjadi pada tanggal 24 Juni 2022 nanti dan dampak yang bisa dirasakan di bumi.

Buat Anda yang belum tahu pada tanggal 24 Juni 2022 nanti, posisi 5 planet sejajar di tata surya bima sakti ini akan terlihat dari bumi dan tentu ini merupakan momen yang langka.

Namun bagaimana sih penjelasan lengkap mengenai fenomena planet sejajar pada tanggal 24 Juni 2022 nanti? apakah ada dampak bagi bumi?

Dikutip PORTAL KOTAMOBAGU (Pikiran-Rakyat) dari You Tube @NASI dengan judul “Fenomena Langka! Tanggal 24 Juni 2022 planet tata surya akan sejajar apa dampaknya bagi bumi?,” Simak sampai selesai, berikut ini: 

Pada tanggal 24 Juni 2022 nanti, akan terjadi sebuah fenomena yang cukup langka dimana akan ada 5 planet sejajar dalam satu garis dan bisa dilihat dengan mata secara langsung.

5 planet yang akan berada dalam satu garis dalam fenomena ini adalah: planet Venus, Merkurius, Jupiter, Mars dan Saturnus.

Tapi sebelum kita membahas fenomena ini terlalu jauh, ada beberapa anggapan dari masyarakat umum yang mengatakan kalau akan ada dampak yang terjadi pada bumi dalam fenomena 24 Juni 2022 ini.

Dampak tersebut dikatakan disebabkan oleh gravitasi yang diakibatkan oleh planet sejajar dan akan membuat terjadinya bencana di bumi.

selengkapnya https://portalkotamobagu.pikiran-rakyat.com/

Guru Besar Fisika FSM UNDIP Rahmat Gernowo: Ciptakan Mitigasi Bencana Alam Hidrometeorologis Berbasis Dinamika Atmosfer Ekstrem Tropis di Indonesia

Guru Besar bidang Fisika Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Dr. Rahmat Gernowo, M.Si., menawarkan sebuah upaya mitigasi bencana hidrometerologis di Indonesia. Beliau menyampaikan sebuah pemikiran mitigasi bencana alam dengan permodelan serta perancangan alat berbasis anomali dinamika atmosfer tropis sebagai upaya untuk diaplikasikan serta dipergunakan oleh pemangku kepentingan masyarakat. Hal ini disampaikan saat pengukuhannya sebagai Guru Besar pada Sidang Terbuka Senat Akademik Undip yang digelar di Gedung Prof. Soedarto SH kampus Undip Tembalang, Selasa (14/06).

Indonesia merupakan negara maritim yang secara geografis, terletak diantara dua benua dan dua samudera serta dilalui oleh garis khatulistiwa. Posisi geografis ini menyebabkan Indonesia memiliki variabilitas iklim yang sangat kompleks dan dinamis. Karakteristik utama wilayah Indonesia yang terdiri dari daratan dan lautan menyebabkan Indonesia dijuluki sebagai Benua Maritim Indonesia (BMI). Wilayah Indonesia memiliki aktivitas konvektif udara yang sangat kuat dikarenakan menerima radiasi matahari yang stabil sepanjang tahun.

Dari segi letak geografis, wilayah Indonesia merupakan wilayah ekuator yang menerima banyak radiasi panas matahari sehingga aktifitas penguapan di wilayah ini sangat tinggi. Secara meteorologi cuaca di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh berbagai macam sirkulasi yang terjadi di atmosfer baik secara zonal maupun meredional. “Dinamika atmosfer ekuator di atas Benua Maritim Indonesia (BMI) sangat dipengaruhi oleh sirkulasi zonal, meridional, dan lokal, serta ketersediaan uap air di atmosfer.” ungkap Prof. Rahmat saat menyampaikan pidato ilmiahnya yang berjudul Mitigasi Bencana Alam Hidrometeorologis Berbasis Dinamika Atmosfer Ekstrem Tropis di Indonesia.

Sirkulasi zonal terkait erat dengan kejadian El Niño dan Dipole Mode Positive, sementara sirkulasi lokal berperan penting dalam proses pengangkatan/konveksi dan berfungsi dalam mekanisme pembentukan hujan tropis. Sirkulasi meridional diasosiasikan dengan monsun lateral, utamanya monsun Asia – Australia, MJO (Madden-Julian Oscillation), monsun dan faktor lokal lainnya (morfologi daerah berpengaruh terhadap kondisi cuaca) yang saling berinteraksi.

Menurutnya, beberapa faktor ini yang mempengaruhi cuaca di Indonesia, dan dapat saling berinteraksi bersama-sama (saling menguatkan ataupun melemahkan) maupun sendiri sehingga membuat keragaman cuaca di wilayah maritim Indonesia. Sebagai akibatnya maka variabilitas curah hujan di BMI sangat terkait erat dengan ketiga sirkulasi tersebut di atas.

Ketua Prodi Doktor Sistem Informasi ini menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologis di Indonesia, lebih disebabkan oleh adanya fenomena anomali atmosfer terjadinya curah hujan lebat/ekstrem. Penyimpangan iklim yang dimaksud dalam hal ini, adalah berasal dari faktor iklim non-musiman seperti fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation).

Analisis tersebut di atas berdasarkan data peristiwa curah hujan (CH) ekstrim di Indonesia, dan tercatat ada 5 kejadian CH ektrim dari tahun 2002 hingga 2020, peristiwa CH ekstrim tertinggi dan memicu terjadinya banjir di Jakarta, yaitu pada 26 Januari – 1 Februari 2002, 4-14 Februari 2007, 15-24 Januari 2013, dan 9-12 Februari 2015, dan 31 Desember – 02 Januari 2020. Beberapa analisis menunjukan bahwa penyebab banjir di Jakarta terutama disebabkan oleh curah hujan ekstrem, penurunan muka tanah, dan kontribusi kenaikan permukaan laut. Dari analisis dan kejadian tersebut menjadi hal yang penting untuk membahas bencana hidrometeorologis tersebut berbasis dinamika atmosfer tropis yang mengakibatkan curah hujan ekstrim, sekaligus membuktikan ada indikasi efek perubahan iklim.

“Salah satu yang menjadi permasalahan bagi Indonesia adalah kecenderungan semakin meningkat bencana alam khususnya bencana hidrometeorologis, beberapa analisis menyimpulkan hal tersebut terjadi akibat indikasi dampak perubahan iklim global (global climate change). Secara umum faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut adalah intensitas curah hujan ekstrim di Indonesia. Intensitas curah hujan tersebut mudah terpengaruh oleh variabilitas iklim global.” ucap Prof. Rahmat.

Lebih lanjut Prof. Rahmat telah melakukan analisis pengembangan model forecasting kejadian pertumbuhan awan konvektif untuk memahami gejala anomali atmosfer dari kejadian di atas dan akan digunakan model Weather Research and Forecasting (WRF).

Model WRF adalah suatu generasi lanjutan model peramalan sistem asimilasi skala meso untuk membantu pemahaman dan prediksi sistem tentang hujan dan angin. Model WRF merupakan model terbaru diawali dari model MM5 yang diaplikasikan untuk hal-hal tersebut di atas:

  1. Model menggunakan koordinat vertikal mengikuti terrain, tekanan-hidrostatik dengan model puncak permukaan tekanan konstan dan grid horizontal mengikuti Arakawa-C grid.
  2. Skema integrasi waktu model menggunakan skema Runge- Kutta orde ketiga, dan diskritisasi spasial menggunakan skema orde kedua dan keenam.
  3. Model mendukung baik aplikasi ideal maupun data real dengan bermacam pilihan kondisi lateral dan batas atas.
  4. Perhitungan mikrofisika (microphysics).
  5. Parameterisasi awan cumulus (cumulus parameterization).

Selain itu, dalam bidang transportasi udara telah mengenal bencana turbulensi. Berdasarkan data bencana BNPB tahun 2000 hingga 2020 jumlah kejadian tertinggi ke 2 adalah bencana turbulensi. Bencana turbulensi meliputi kejadian siklon, puting beliung, dan angin gradient (wind shear). Untuk mengantisipasinya dikembangkan pemodelan serta rancang bangun alat deteksi dini (early warning system). Jenis-jenis turbulensi dalam transportasi udara yaitu turbulensi konvektif yang disebabkan oleh awan konvektif, awan ini sering dikenal dengan awan cumulonimbus yang didalam awan tersebut terjadi turbulensi besar terutama saat hujan dan badai guntur.

Adapun Microburst merupakan wind shear yang berasal dari aliran udara dingin dari bagian bawah awan badai dengan pola seperti tanaman jamur terbalik yang biasanya diakibatkan dari awan comulunimbus (Cb). Saat terjadi badai di awan gelap (kondisi saturage) maka muncullah microburst yang merupakan musuh utama penerbang pesawat terbang baik pada saat take off maupun landing.

Ada turbulensi yang terjadi pada kondisi cuaca yang tak terduga, di daerah yang tidak terdapat awan konvektif yang disebut Clear Air Turbulence (CAT) atau Turbulensi Cuaca Cerah. Turbulensi jenis CAT merupakan kejadian yang tidak terdapat awan konvektif, oleh karena itu jenis turbulensi ini sulit dideteksi baik secara visual maupun menggunakan radar cuaca. CAT dapat terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang, dan dapat menyebabkan guncangan di pesawat, sedangkan intensitas kuat dapat menyulitkan pesawat untuk mempertahankan ketinggian.

Prof. Rahmat menambahkan ada penyebab lain bencana turbulensi selain karena awan Cb dan CAT yaitu Low Level Wind Shear (LLWS), kasus ini sering terjadi di landasan Pacu Bandara. Rancang bangun sistem monitoring LLWS menjadi analisis selanjutnya, sebagai salah satu upaya untuk memberikan informasi akurat terkait kondisi udara di atas bandara. Sistem yang dapat memantau kondisi low level wind shear secara real time dan secara otomatis menginformasikan pantauan tersebut dalam bentuk tingkatan kondisi low level wind shear maupun berupa tanda aman atau tidak aman untuk take off atau landing pesawat. Akurasi dari informasi ini sangat dibutuhkan sebagai bagian dari upaya pencegahan kecelakaan yang terjadi.

Prof. Rahmat dalam melakukan penelitian dan pengembangan alat deteksi wind shear telah bekerja sama dengan beberapa pihak, antara lain Angkasa Pura 1 (AP1), Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), LION, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia ini menjelaskan bencana hidrometeorologis meliputi bencana alam anomali atmosfer, curah hujan ekstrem, dan fenomena turbulensi atmosfer. Dinamika atmosfer extrem tropis menjadi dasar pemicu kejadian bencana anomali atmosfer. “Ada dua hal yang telah kami kembangkan sebagai upaya mitigasi bencana meterologis, yaitu pengembangan model global untuk prediksi indeks konvektif dan indeks turbulensi berbasis anomaly dinamika atmosfer tropis. Selanjutnya Rancang Bangun alat deteksi dini gerak turbulensi LLWS.” jelas Prof. Rahmat.

Pendekatan persamaan fisis untuk model forecasting kejadian pertumbuhan awan konvektif sangat diperlukan untuk memahami gejala anomali atmosfer, serta pola fisis yang ada dalam fenomena gerak turbulens menjadi landasan untuk menyusun rancang bangun alat deteksi dini. “Besar harapan kami segala daya upaya serta pengembangan pemikiran kami akan berguna bagi ilmu pengetahuan kebencanaan dan masyarakat.” pungkasnya.

Prof. Dr. Rahmat Gernowo, M.Si., dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-17 pada Fakultas Sains dan Matematika Undip. Adapun jumlah Guru Besar aktif Undip saat ini adalah 161 Guru Besar.

Penguatan Mitigasi Bencana

Dalam kurun 12 tahun terakhir, Indonesia mengalami keadaan darurat bencana disebabkan hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan gempa. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana pada 2021 mencapai 3.034 kejadian.

Untuk membantu masyarakat terdampak, pemerintah mengeluarkan kebijakan penanggulangan tanggap darurat, yang melibatkan di antaranya Kementerian Sosial, Kementerian Koordinator PMK, Kementerian Keuangan, BNPB, Perum Bulog, pemprov/pemkab/pemkot.

Kebijakan itu, di antaranya Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2019 tentang Prosedur dan Mekanisme Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP), untuk Penanggulangan Keadaan Darurat Bencana dan Kerawanan Pangan Pasca-Bencana.

Ini mengharuskan Bulog menyalurkan bantuan CBP maksimal 100 ton/tahun untuk tingkat kabupaten/kota dan 200 ton/tahun untuk provinsi.

 

Beras disalurkan berdasarkan jumlah data korban sesuai nama dan alamat dengan indeks 400 gram per orang per hari dikalikan jumlah hari masa penanggulangan keadaan darurat bencana. Kenyataannya, pengiriman barang tak dapat diperkirakan dengan cermat.

Sebab, infrastruktur transportasi zona bencana yang tersisa bervariasi dari kasus ke kasus. Ini menjelaskan, alur pelaporan distribusi logistik bencana cukup rumit. Bantuan yang datang kepada korban juga memiliki polemik berkepanjangan.

Ini karena adanya bantuan sukarela yang bergerak indipenden sehingga mengindetifikasikan tumpah tindih dan ketidakmerataan bantuan. Maka itu, penanggulangan bencana harus dikelola dengan baik karena mendorong keberhasilan tanggap darurat.

Jadi, perlu diusulkan pembuatan platform digital untuk mempermudah kerja sama antarpemangku kepentingan, seperti BNPB dan BPBD, pemerintah dan TNI, Disdukcapil dan BMKG, Bulog, PT Pos, nakes, dan sukarelawan.

Platform digital ini, berfungsi memantau bantuan demi meningkatkan transparasi dan akuntabilitas informasi bantuan. Dalam, implementasinya, menggunakan strategi rantai pasok yang dikondisikan dengan situasi bencana Indonesia.

 

Crowdfunding dalam kebencanaan

The Humanitarian Supplies Management System (SUMA) adalah sistem kemanusiaan rantai pasok dengan metode pelacakan, yang didirikan FUNDESUMA dan Pan-American Organisasi Kesehatan (PAHO).

Dalam operasi kemanusiaan, SUMA dinilai bermanfaat menyelaraskan proses pengadaan dengan standar operasional, yang mempercepat penerimaan dan pendistribusian barang.

Metodologi SUMA menetapkan pedoman untuk pengemasan dan pelabelan untuk kategorisasi barang dan prioritas. SUMA juga memberikan sumber informasi akuntabel sebagai hasil akhir pengelolaan informasi yang lebih baik.

Lalu pertanyaannya, apakah crowdfunding dengan menggunakan metode SUMA memfasilitasi transparansi dalam pengelolaan bantuan ke daerah bencana?

Hasil penelitian mengatakan, SUMA meminimalkan kemungkinan “koneksi konflik” dan melindungi ruang kemanusiaan dengan memberikan snapshot dari operasi, yang memungkinkan pemangku kepentingan melakukan kesalahan dalam pendistribusian dan sesuai prinsip kemanusiaan.

Selain itu, meningkatkan hubungan kepada donor dengan menyediakan laporan berkala sehingga masyarakat atau donor dapat berkomunikasi secara objektif dengan informasi yang tersedia.

 

Instansi pemerintah dan BNPB juga bisa memanfaatkan sistem informasi tersebut, untuk mengelola pengungsi dan menjadi dasar pengambilan keputusan yang tepat untuk mengurangi situasi pengungsi yang berlarut-larut.

Selain upaya penanggulangan bencana tersebut di atas, yang harus dilakukan pemangku kepentingan terkait adalah meningkatkan koordinasi, sinergi, dan kolaborasi dalam penanggulangan bencana.

Pemerintah pusat harus bersinergi pemerintah daerah. Kementerian Sosial, bersinergi dengan instansi pemerintah lainnya, seperti BNPB/BNPD ataupun lembaga swasta.

Penguatan mitigasi

Dengan adanya bencana di Indonesia, selain meningkatkan sinergi, juga perlu penguatan mitigasi bencana di bidang search and rescue dengan dibentuknya BNPB dan BNPD, memperkuat peran BMKG, termasuk //early warning system// dalam aplikasi kemajuan teknologi.

Diharapkan, dampak bencana bisa ditekan seminimal mungkin jika penguatan mitigasi bencana dilakukan maksimal.

Basarnas uji kesiapan unsur SAR Palu hadapi dampak bencana alam

Palu (ANTARA) – Badan SAR Nasional (Basarnas) menggelar uji kesiapan unsur dan potensi SAR di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah dalam menghadapi dampak yang ditimbulkan bencana alam di daerah tersebut.

 
“Sebagai penyelenggara kegiatan pencarian dan pertolongan dalam kondisi membahayakan keselamatan manusia, maka kami perlu meningkatkan kapasitas personel melalui simulasi lapangan,” kata Direktur Operasi Basarnas Wurjanto saat meninjau pelaksanaan simulasi SAR di Palu, Kamis.
 
Ia menjelaskan, skenario yang dibuat tim Basarnas Pusat mirip seperti penanganan evakuasi korban gempa, tsunami dan likuefaksi 28 September 2018.
 
Karena, Palu dan sekitarnya berpotensi terjadi bencana, sehingga dibutuhkan respon cepat mulai dari menerima informasi hingga tindakan pencarian dan pertolongan.
 
Pada giat ini, Basarnas memilih lokasi eks likuefaksi di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan yang merupakan salah satu wilayah terdampak parah bencana alam empat tahun lalu.
 
“Pertimbangan kami memilih lokasi ini, salah satunya menjaga psikologi masyarakat, kemudian di lokasi ini masih ada bekas reruntuhan bangunan lebih menambah khasanah simulasi SAR,” ujar Wurjanto.
Ia memaparkan, belajar dari pengalaman bencana sebelumnya, maka Kantor SAR Palu harus siapa menghadapi situasi apapun, sehingga bila sewaktu-waktu terjadi bencana serupa personel lebih siap dan sigap melaksanakan tugas operasi.
 
Begitu pun dari segi peralatan penunjang, Basarnas secara bertahap akan melengkapi kebutuhan dalam kegiatan operasi SAR, supaya proses evakuasi korban lebih cepat, aman dan tepat.
 
“Hasil dari simulasi ini akan menjadi penilaian kami. Di lokasi uji operasi SAR didirikan posko induk sebagai tempat koordinasi proses evakuasi,” kata Wurjanto menambahkan.
 

Simulasi operasi, katanya, melibatkan sejumlah potensi SAR, diantaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PMI Sulteng, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Palu dan Pemerintah Kelurahan setempat.

“Kami berharap lewat simulasi ini Basarnas dan potensi SAR lainnya lebih mampu melakukan upaya pencarian dan pertolongan dalam kondisi darurat,” demikian Wurjanto.

Kemenko PMK ingatkan pentingnya pembentukan desa tangguh bencana

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengingatkan pentingnya pembentukan desa tangguh bencana (destana) dalam rangka meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menghadapi bencana.

“Desa tangguh bencana merupakan salah satu program yang bertujuan mewujudkan masyarakat yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi risiko bencana,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Letjen TNI (Purn) Sudirman dalam wawancara virtual bersama ANTARA di Jakarta, Rabu.

Deputi menjelaskan pada saat ini terdapat lebih dari 5.000 destana dan sejenisnya yang telah dibentuk oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat maupun inisiasi masyarakat lokal.

“Jumlah 5.000 lebih destana sudah cukup baik namun tentu ke depan diharapkan jumlah destana di Tanah Air masih akan terus meningkat,” katanya.

Untuk meningkatkan jumlah destana, Kemenko PMK mendorong penguatan sosialisasi destana dan program sejenisnya agar seluruh wilayah di Indonesia baik secara kelembagaan desa maupun sumber daya masyarakatnya memiliki kesiapan dan ketangguhan untuk menghadapi bencana serta mampu memulihkan diri dengan segera dari dampak yang merugikan.

Menurutnya, program desa tangguh bencana yang mengutamakan pelibatan masyarakat akan meningkatkan kapasitas masyarakat itu sendiri dalam menghadapi bencana.

“Peningkatan kapasitas masyarakat ini sangat diperlukan karena akan memberikan dampak terhadap upaya pengurangan risiko bencana,” katanya.

Sudirman menambahkan upaya untuk menumbuhkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana salah satunya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa peran aktif masyarakat dalam mitigasi bencana sangatlah penting.

“Terutama bagi masyarakat yang tinggal di lokasi rawan bencana, misalkan mereka yang tinggal di lokasi rawan gempa maka perlu mengetahui jalur-jalur evakuasi yang aman, mengetahui apa yang harus dilakukan saat menerima informasi peringatan dini. Atau bagi mereka yang tinggal di lokasi rawan longsor perlu mengetahui tanda-tanda awal pergerakan tanah dan lain sebagainya,” katanya.

Menurutnya masyarakat perlu terus meningkatkan pemahaman yang responsif dan adaptif.

“Ini merupakan bagian dari ‘think resilience’ atau berfikir ketahanan karena keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam penanggulangan bencana mengingat masyarakat dapat menjadi pihak pertama yang terkena dampak, sekaligus juga menjadi pihak pertama yang memberikan respons terhadap bencana yang dihadapi,” katanya.

BPBD: Seluruh Wilayah Bantul Rawan Bencana Hidrometeorologi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebutkan seluruh kecamatan di daerah itu rawan terdampak bencana hidrometeorologi saat musim kemarau basah atau kemarau yang masih terjadi hujan ini.

“Itu potensinya menyeluruh di semua wilayah, kejadiannya tidak hanya pohon dan baliho tumbang, tapi ada juga sungai rawan tergerus air,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Agus Yuli Herwanto di Bantul, Ahad (12/6/2022).

Menurut dia, sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa bulan lalu, bahwa musim hujan berlangsung sampai pertengahan Mei, sehingga pada Juni sudah musim kemarau.

Tetapi sehubungan dengan perkembangan informasi dari BMKG, pada bulan Juni masih terjadi hujan atau kemarau basah, kadang turun hujan deras, terkadang cuaca panas. Oleh karena itu pihaknya mengimbau masyarakat mewaspadai dampak hujan deras disertai angin kencang.

Dia mengatakan, meski potensi bencana hidrometeorologi menyeluruh, namun terdapat beberapa wilayah yang berdasarkan laporan masyarakat sering terdampak angin kencang dan hujan deras, di antaranya wilayah Kecamatan Banguntapan.

“Jadi kalau kemarin sering Banguntapan, di Piyungan juga ada, kemudian Trirenggo (Bantul), Sedayu, dan Sanden juga rawan, karena kalau bencana hidrometeorologi itu komplit, tidak hanya pohon tumbang,” katanya.

Dia juga mengatakan, seperti beberapa hari lalu ketika hujan deras di musim kemarau ini mengakibatkan sejumlah pohon mengalami tumbang akibat diterpa angin kencang di wilayah Kecamatan Bambanglipuro.

“Makanya saya selalu mengimbau kepada warga masyarakat sehubungan ketika bencana hidrometeorologi ini agar supaya mendeteksi lingkungan masing-masing adakah pohon yang tinggi, pohon rimbun maupun sudah tua,” katanya.

Menurut dia, masyarakat bisa melakukan pemangkasan dahan atau ranting pohon yang rindang yang ada di lingkungan tempat tinggal, atau menghindari daerah tersebut ketika terjadi hujan deras disertai angin kencang.

“Jadi kalau ada pohon yang rimbun yang tinggi mohon dipangkas, kalau yang sudah tua rapuh mohon diganti dengan yang muda,” katanya.