BNPB: 1.137 Bencana Alam Terjadi Januari hingga Maret 2022

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, ada 1.137 kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia dalam tiga bulan terakhir atau Januari hingga Maret 2022.

“Jadi kalau kita rata-rata secara harian dalam satu hari, paling tidak kita memiliki tiga kali kejadian bencana. Ini cukup luar biasa,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers melalui kanal YouTube BNPB, Jumat (1/4/2022).

Abdul mengatakan, bencana alam yang paling banyak terjadi bersifat hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

Ia mengatakan, bencana alam tersebut terjadi di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

“Pulau Sumatera, tren bencana alam terjadi di Aceh dan Sumatera Barat. Di Jawa itu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Kalimantan itu, Kalimantan Selatan, dan di Sulawesi itu Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Berdasarkan hal tersebut, Abdul meminta pemerintah di tujuh provinsi tersebut untuk memonitor kondisi lingkungan, kondisi sungai, dan kondisi pegunungan yang menjadi resapan air untuk mengantisipasi terjadinya bencana.

“Yang mungkin selama ini terjadi penyempitan, terjadi pendangkalan, itu harus benar-benar kita benahi bersama,” ucap dia.

10 Bencana Alam Terbesar di Indonesia, Pernah Tewaskan Sebagian Besar Penduduk Bumi

BENCANA alam seringkali melanda Indonesia. Dikutip dari situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hal ini karena Indonesia berlokasi di pertemuan tiga lempeng tektonik; lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.

Kondisi itulah yang menimbulkan potensi bencana alam seperti gunung berapi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Beberapa bencana alam yang terjadi bahkan cukup besar untuk sampai terasa atau disoroti oleh negara-negara lain.

Berikut ini adalah 10 bencana terbesar di Indonesia yang mengguncang dunia.

1. Letusan Gunung Merapi (1930 dan 2010)

Dikutip dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tercatat sejak tahun 1600-an, Gunung Merapi telah meletus lebih dari 80 kali, dengan interval letusan 4 tahun sekali.

Erupsi terbesarnya terjadi pada tahun 1930. Awan panas menuruni lereng 20 kilometer ke arah barat, memporak-porandakan 23 desa dan menewaskan 1.369 penduduk.

Gunung Merapi

Erupsi lainnya kembali terjadi 80 tahun kemudian, tepatnya pada 5 November 2010. Debu vulkaniknya tidak hanya menutupi wilayah Yogyakarta, tapi juga sampai ke sejumlah wilayah di Jawa Barat.

BNPB menyatakan bahwa jumlah korban tewas Merapi mencapai 275 orang, termasuk sang juru kunci, Mbah Maridjan alias Ki Surakso Hargo yang ditemukan tewas akibat terjangan awan panas di rumahnya. Peristiwa meletusnya gunung merapi sontak menjadi sorotan media internasional, di antaranya Inggris, Jerman, Prancis, dan Singapura.

2. Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi di Palu dan Donggala (2018)

Pada 28 September 2018, warga di wilayah di Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala dan Kota Palu dikejutkan dengan guncangan gempa. Guncangan di Palu sebesar 7,4 SR, dengan kedalaman 10 km, sementara posisinya berada 27 meter arah timur laut Donggala.

Lalu, lima menit kemudian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan tsunami. Namun, gelombang tsunami setinggi enam meter telanjur menyapu Kota Palu sebelum warga sempat melarikan diri ke daratan tinggi.

Selain tsunami dan gempa, bencana likuifasi juga terjadi, membuat tanah melarut dan membawa apa pun yang berada di atasnya untuk mengalir. BBC menyebut bahwa jumlah korban tewas mencapai 2.045 orang. Sejumlah negara pun mengulurkan bantuan kepada Indonesia, di antaranya Inggris, Amerika, Australia, dan Selandia Baru memberikan total bantuan USD20,8 juta dalam bentuk uang maupun barang.

3. Gempa Sumatera Barat (2009)

Pada 30 September 2009, terjadi sebuah peristiwa memilukan di Sumatera Barat. Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR terjadi di lepas pantai 17:16:10 WIB dengan kedalaman 87 km, di sekitar 50 km barat laut kota Padang.

Kerusakan terjadi di banyak wilayah, seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Kekuatan gempa bahkan terasa sampai luar Indonesia, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Berdasarkan data pemerintah daerah Sumatera Barat, korban jiwa yang ditimbulkan sekitar 1.115 orang tewas, 2.32 terluka, dan 279.000 bangunan mengalami kerusakan. Banyak negara yang membantu Indonesia atas peristiwa tersebut seperti Australia, China, Uni Eropa, Hongkong, Jepang Malaysia, Korea Selatan, Qatar, Thailand, Taiwan, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.

4. Letusan Gunung Toba 74.000 Tahun Lalu

Seperti yang diketahui, Danau Toba adalah ikon dari Sumatera Utara dan didapuk menjadi danau terbesar di Indonesia dengan luas 1.130 kilometer persegi.

Namun, dikutip dari situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Danau Toba dulunya merupakan supervulcano dan gunung api yang sudah tidak aktif (Tipe B).

Dipercaya sekitar 74.000 lalu, letusan Gunung Api Toba mampu meluluhlantahkan sebagian besar umat manusia. Letusannya menjadi yang paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi. Hanya 5.000-10.000 orang saja yang mampu bertahan.

Bahkan perubahan iklim global sempat terjadi. Gunung tersebut memuntahkan 2.800 kilometer kubik abu dan menutup atmosfer bumi hingga 6 tahun lamanya, menurunkan suhu udara.

5. Gempa Yogyakarta (2006)

Pada 27 Mei 2006, tepat di pagi hari pukul 05.53, terjadi gempa bumi berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya. Orang-orang banyak yang masih dalam kondisi terlelap, sehingga mereka terjebak di dalam rumah yang roboh.

Sebanyak lebih dari 5.800 orang meninggal dan 20.000 lainnya terluka. Bangunan dan infrastruktur hancur. Bahkan Candi Prambanan ikut menjadi korban.

Diyakini gempa Yogyakarta menjadi gempa terbesar kedua di Indonesia setelah peristiwa yang menimpa aceh di tahun 2004. Akibat dari peristiwa gempa 2006, Yogyakarta mulai meningkatkan migasi bencana.

Menteri-menteri penanggulangan bencana se-Asia Pasifik mengadakan pertemuan pada tahun 2012 di Yogyakarta untuk memaparkan pelajaran yang bisa diambil dari gempa 2006, dan Deklarasi Yogya ditetapkan sebagai Dokumen PBB.

6. Tsunami Flores (1992)

Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan 6,8 skala liter mengguncang Laut Flores. Pusat gempa terletak di kedalaman laut, 35 km arah barat Kota Maumere, tepatnya pukul 13.29 WITA.

Tidak hanya itu, tsunami setinggi 30 meter juga menerjang selama 15 menit, meluluhlantahkan rumah yang hancur karena gempa. Wilayah yang terkena dampak tsunami berada di Kabupaten Sikka, Ende, Ngada, dan Flores Timur.

Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 3.000 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 warga terpaksa mengungsi. Tercatat pula 18.000 rumah, 113 sekolah, dan 90 tempat ibadah hancur. Karena saat itu Indonesia belum memiliki ahli tsunami, maka riset mengenai peristiwa tsunami Flores banyak dilakukan oleh peneliti asal Jepang.

selengkapnya

https://nasional.okezone.com/read/2022/04/06/337/2574354/10-bencana-alam-terbesar-di-indonesia-pernah-tewaskan-sebagian-besar-penduduk-bumi?page=3

Kepala BNPB Beberkan Strategi Mitigasi Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan

Merdeka.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto meminta kepada pemerintah daerah agar tidak lengah dan tetap bersiaga mengantisipasi adanya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meskipun, tren kejadian karhutla serta gambut menurun.

Berdasarkan data, luas wilayah terdampak karhutla di Indonesia mengalami penurunan hingga 78 persen dari 2019 sampai 2021. Tren penurunan juga terjadi pada kasus kebakaran lahan gambut dari tahun 2016 sampai 2021 sebesar 92 persen.

Hasil rekapitulasi monitoring data Sipongi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), wilayah yang mengalami penurunan itu meliputi enam provinsi masing-masing Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Menurut Suharyanto, penurunan tren itu sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh komponen, sebab mempertahankan agar tidak terjadi karhutla akan jauh lebih sulit daripada menanganinya.

“Penurunan ini justru menjadi tantangan kita semua. Bagaimana agar karhutla ini tidak terjadi di kemudian hari,” katanya dikutip dari siaran pers BNPB, Kamis (7/4).

Suharyanto kembali mengingatkan agar kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana karhutla benar-benar disikapi dengan baik. Apabila ditemukan titik api, maka harus segera dipadamkan sejak dini. Jika api dibiarkan semakin membesar, maka akan lebih sulit lagi untuk dikendalikan.

“Jangan sampai api membesar dan jangan sampai penanganan ini terlambat. Kalau api sudah besar nanti tambah sulit,” ucapnya.

Lahan gambut kering sangat rentan terbakar, terlebih pada periode musim kemarau. Apabila terbakar, maka api dapat menyebar hingga lapisan gambut pada kedalaman 4 meter.

Meskipun permukaan gambut telah padam, bukan berarti api di lapisan dalam juga turut padam. Api dari gambut itu dapat bertahan selama berbulan-bulan dan menjalar ke tempat lain.

Adapun dampak dari kebakaran lahan gambut dapat meningkatkan emisi karbondiokside (CO2) yang berpengaruh terhadap sistem pernafasan, sistem sirkulasi darah, dan sistem saraf yang berujung pada kematian.

Strategi Penanganan Bencana Karhutla

Suharyanto mengatakan ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi, memitigasi, mencegah dan menangani bencana karhutla. Pertama, penetapan status siaga darurat bencana karhutla, melalui koordinasi dengan perangkat atau pemangku kebijakan di daerah untuk menyusun rencana operasi penanganan.

“Mohon Pak Gubernur, Bupati, Wali Kota agar sedini mungkin menetapkan siaga darurat karhutla. Sehingga upaya-upaya operasi penanganan ini dapat segera dilakukan,” katanya.

Kendalikan Banjir Kali Krukut Dinas SDA DKI Jakarta Bangun Dua Waduk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pekerja mengoperasikan alat berat di area proyek pembangunan Waduk Brigif, Jagakarsa, Jakarta, Ahad (27/3/2022). Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) membangun dua waduk di Jakarta Selatan, yaitu Waduk Brigif dan Waduk Lebak Bulus. Pembangunan Waduk Brigif ditujukan untuk pengendalian banjir pada aliran Kali Krukut dan ditargetkan rampung akhir tahun 2022. 

sumber: https://www.republika.co.id/berita/r9eg5a314/kendalikan-banjir-kali-krukut-dinas-sda-dki-jakarta-bangun-dua-waduk-1 

Jalan Semarang Banjir Usai Surabaya Diguyur Hujan Selama 2 Jam

Surabaya – Surabaya diguyur hujan selama 2 jam. Derasnya hujan membuat sejumlah jalan di Surabaya banjir.

Di Surabaya Selatan, kawasan Gayungan digenangi air dengan ketinggian sebetis orang dewasa. Sementara di Surabaya Utara, kawasan Stasiun Pasar Turi tepatnya di Jalan Semarang, banjir setinggi lutut orang dewasa.

Seorang pengendara, Adrian (27) mengaku sempat bingung saat hendak pulang menuju rumahnya di kawasan Banyuurip. Sebab, saat melintas di Jalan Pasar Turi, genangan air setinggi pull step sepeda motornya.

“Ini tadi dari Indrapura, mau pulang ke Banyuurip. Pas lewat Pasar Turi banjirnya lumayan ya, akhirnya ya cari jalan lain daripada mogok,” kata Adrian kepada detikJatim, Minggu (27/3/2022).

Sementara Widya (43) mengaku, buah hatinya senang saat hujan deras mengguyur. Sebab, genangan air bisa menjadi wahana air dadakan.

“Anak-anak saya malah senang, bisa renang gratis,” ujarnya.

Ketika detikJatim berada di Jalan Semarang, ada 3 unit mobil Damkar di lokasi. Ada belasan hingga puluhan petugas berada di lokasi yang tengah menangani banjir.

sumber: detik.com

Banjir di Klaten, Sejumlah Desa Tergenang

Klaten –  Banjir melanda Klaten malam ini. Sejumlah desa tergenang air dari sungai yang meluap buntut hujan lebat sejak sore.

Salah satunya di Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan. Kades Kaligawe, Ari Sutikno, mengatakan air dari Sungai Kaligawe masuk ke kampung setelah hujan lebat.

“Tadi petang air mulai masuk ke kampung. Ketinggian air ada yang 75 sentimeter, tetapi tidak ada pengungsi,” ungkap Ari kepada detikJateng, Sabtu (26/3/2022) malam.

Ari mengatakan, air itu diduga masuk ke permukiman karena sungainya tersumbat ranting. Air naik melalui titik tanggul yang jebol saat banjir sebelumnya.

“Mungkin ada ranting, sehingga air naik ke kampung lewat lokasi parapet yang jebol kemarin. Bagi warga, ini sudah biasa. Tapi kalau tidak segera surut, kita perlu perahu karet,” ujar Ari.

Ari menerangkan, banjir akibat luapan sungai itu sudah jadi langganan di desanya. Namun, masalah itu tak kunjung diselesaikan. Menurut dia, hari ini yang terdampak banjir sekitar 200 kepala keluarga (KK).

“Yang terdampak di Dukuh Lemahireng ada 2 RW, 200 KK. Tidak ada korban jiwa dan air mulai surut,” imbuh Ari.

Sementara itu, Relawan KRI Klaten, Parwito, menambahkan, banjir akibat meluapnya sungai itu juga terjadi di perbatasan Desa Troketon, Kecamatan Pedan.

“Di perbatasan Desa Troketon, di Dusun Sidokerso, air juga masuk ke permukiman. Di Desa Kurung, Kecamatan Ceper, juga sama,” ungkap Parwito kepada detikJateng via telepon.

Menurut Parwito, sampah pepohonan di Desa Kurung sebenarnya sudah dibersihkan dengan alat berat pada pekan lalu.

“Pekan lalu (timbunan sampah) di dekat jembatan sudah dibersihkan tim gabungan. Ini mungkin ada sampah lagi di sisi timur,” papar Parwito.

Selain di Kecamatan Ceper dan Pedan, banjir akibat meluapnya sungai juga terjadi di Desa Bero, Kecamatan Trucuk. Di desa itu, air sungai naik ke jalan meski lekas surut.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten Sri Winoto mengatakan, hujan lebat yang merata di Klaten menyebabkan beberapa titik luapan. Saat ini timnya masih melakukan pendataan di lapangan

“Beberapa wilayah memang terpantau ada luapan. Pendataan masih dilakukan,” jelas Winoto.

Banjir yang Merendam Dua Desa di Kabupaten Balangan Berangsur Surut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bencana banjir yang melanda dua desa di Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), sejak Jumat (25/3), berangsur surut. Hal tersebut berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB pada Ahad (27/3/2022), pagi.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel menyatakan banjir dipicu oleh curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan Sungai Muara Galombang meluap dan berdampak pada pemukiman warga,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari melalui keterangan tertulis.  

BNPB mencatat dua desa yang terdampak adalah Desa Lalayau dan Desa Mihu di Kecamatan Juai. Sebanyak 45 KK atau 140 jiwa dilaporkan terdampak. Selain kerugian jiwa, banjir juga menimbulkan beberapa kerugian materil seperti 45 rumah dan satu masjid terendam, serta beberapa akses jalan menuju kedua desa tersebut terdampak.

Tinggi Muka Air (TMA) saat kejadian berkisar antara 10 hingga 50 sentimeter. Ia menambahkan, BPBD Kabupaten Balangan juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait serta dengan pihak kecamatan dan desa setempat agar melakukan pendataan.

Dalam satu pekan terakhir, banjir dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Provinsi Kalsel seperti di Kabupaten Tapin yang berdampak pada 219 KK dan di Kabupaten Banjar yang berdampak pada 3.983 KK.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, sebagian besar wilayah Kalsel masih berpotensi hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai angin kencang hingga Kamis (31/3/2022), mendatang. “Meski banjir di beberapa wilayah mulai berangsur surut, BNPB mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap siaga dan waspada mengantisipasi adanya potensi bencana hidrometeorologi,” katanya.

Para KK diharapkan dapat memperhatikan rencana kesiapsiagaan keluarga. Di antaranya, upaya evakuasi yang aman, penyiapan tas siaga atau pun penerapan protokol kesehatan apabila harus mengungsi sementara.

Banjir Akibat Curah Hujan Tinggi di Surabaya Sudah Berangsur Surut

Hujan dengan itensitas lebat yang mengguyur Wilayah Kota Surabaya pada Minggu (27/3/2022) pukul 15.00 WIB , mengakibatkan beberapa wilayah tergenang air dengan ketinggian rata-rata mencapai 30 sentimeter.

Genangan air ini merata di beberapa titik sehingga menyebabkan kemacetan di beberapa wilayah di Kota Pahlawan. Berdasarkan data yang dihimpun suarasurabaya.net, banyak pendengar Radio Suara Surabaya yang melaporkan genangan banyak terjadi di sisi Surabaya barat dan utara.

Febrianto pendengar SS mengabarkan, kawasan Jalan Petemon Surabaya pukul 15.25 WIB sudah mulai digenangi air dengan ketinggian 30 sentimeter.

sumber: suarasurabaya.net

Pelatihan Pemuda Tanggap Bencana Dukung Kerja Senyap Anies Atasi Banjir

JAKARTA – DPP Garda Pemuda NasDem (DPP GPND) bersama DPW GPND DKI Jakarta mengadakan pelatihan pemuda tanggap bencana sebagai bentuk kontribusi nyata GPND hadir sebagai mitra pemerintah di berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di daerah rawan banjir Bantaran Kali Ciliwung, Jakarta Selatan dan melibatkan 50 pemuda karang
taruna.

Klaim kerja senyap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam mengatasi banjir banyak diperdebatkan berbagai pihak. Namun dibandingkan hanya melayangkan kritik semata, GPND memilih turut mendukung segala upaya Pemprov DKI dengan melibatkan pemuda sebagai agen perubahan.

“Kami percaya peran pemuda menjadi lebih penting apabila segala bentuk dukungan untuk pemerintah tidak hanya berbentuk kata-kata. Namun juga dengan pembuktian yang riil, yang bisa dirasakan masyarakat baik secara langsung saat ini ataupun di masa mendatang. Salah satunya kegiatan
Pemuda Tanggap Bencana ini,” ujar Wakil Ketua Umum DPP GPND Kresna Dewanata Prosakh, Sabtu (26/3/2022).

Pelatihan ini juga bukan kali pertama dilakukan GPND. Anggota DPR Komisi I ini juga menjelaskan bahwa GPND akhir bulan kemarin baru melaksanakan pelatihan tanggap bencana di Jatim. Dia berharap dapat memperlihatkan organisasi
kepemudaan ini bukanlah sarana untuk hura-hura sekaligus menegaskan GPND yang tidak hanya menjalankan tugas-tugas kepartaian, namun juga menjalankan tugas kemanusiaan.

Melalui program pelatihan pemuda tanggap bencana, GPND berusaha membentuk komunitas pemuda yang tanggap akan persoalan bencana dan dapat melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana. Tidak hanya bencana banjir, pada pelatihan ini para peserta diberikan kemampuan untuk bencana lain yang kerap terjadi di ibu kota termasuk kebakaran dan air laut pasang.

Ketua DPW GPND DKI Jakarta Nova Harivan Paloh menilai penting untuk membuka kesadaran pemuda akan isu ini dan melengkapinya dengan kemampuan untuk berkontribusi. “Kolaborasi tanggap bencana, melatih pemuda-pemuda karang taruna tentang bagaimana pelatihan ilmu kesiagaan seperti cara mengoperasikan perahu karet dan evakuasi warga. Diharapkan pemuda bisa terjun langsung karena setiap RT/RW pasti punya karang taruna,” ujar Nova.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta ini menyarankan Pemprov DKI mengalokasikan anggaran penambahan perahu karet untuk setiap
kelurahan agar setiap kelurahan mampu melakukan quick respons secara mandiri apabila petugas terkait belum hadir di lokasi bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Isnawa Adji mengapresiasi langkah GPND yang berinisiatif melakukan
pelatihan kepada para pemuda untuk tanggap bencana. Pelatihan pemuda yang diadakan GPND penting untuk penanganan awal apabila terjadi bencana.

Kegiatan ini dilaksanakan selama satu hari dengan komposisi 40 persen teori dan 60 persen praktik yang rencananya menghasilkan pembentukan Satgas Pemuda Peduli Bencana di Jakarta. Adapun pemateri meliputi Kepala Unit Peralatan dan Perbekalan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Yose Rizal, Ketua FK Tagana Dinas Sosial Jhonny Marlein P Siahaan, Sekretaris Pelaksana BPBD DKI Jakarta, dan Ketua Badan Rescue Partai NasDem yang juga Anggota DPRD DKI Jakarta Hariadi Anwar.

Banjir Besar Landa Kutai Timur, Diduga Karena Aktivitas Tambang

JAKARTA — Banjir melanda enam kecamatan di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim) dalam empat hari terakhir, hingga menyebabkan sekitar 1.000 warga mengungsi. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim menduga, banjir besar ini terjadi karena aktivitas penambangan batu bara di hulu Sungai Sengatta.  

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Pradarma Rupang menjelaskan, bencana banjir bukanlah hal baru bagi warga kecamatan Sengatta Utara dan Sengatta Selatan. Mereka juga dihantam banjir pada Oktober 2021 lalu meski tak separah sekarang. 

Rupang menyebut, banjir kali ini memang dipicu oleh hujan deras selama dua hari berturut-turut. Tapi, faktor utamanya adalah kerapuhan kawasan menahan debit air. Kerapuhan itu disebabkan oleh aktivitas penambangan batu bara. 

“Banjir yang saat ini berlangsung disebabkan oleh pembukaan hutan dan berganti menjadi tambang skala besar di wilayah hulu sungai Sengatta. Jatam Kaltim menduga aktivitas pembongkaran hutan dan gunung yang dilakukan oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) merupakan penyebab banjir,” kata Rupang dalam keterangannya, Senin (21/3/2022). 

Rupang menjelaskan, PT KPC merupakan perusahaan tambang batu bara yang sudah beroperasi lama di Kaltim. Perusahaan tersebut awalnya mendapat Kontrak Karya dari Pemerintah RI pada tahun 1982 dengan luasan konsesi 90.938 hektare (ha). Lalu pada awal 2022, PT KPC mendapatkan perpanjangan kontrak dengan luas konsesi 61.543 ha. 

Karena itu, lanjut Rupang, Jatam Kaltim mendesak pemerintah pusat mengevaluasi dan melakukan audit menyeluruh kepada PT.KPC atas komitmen pemulihan hutan serta penutupan lubang tambangnya. “Pemerintah jangan hanya memberikan saksi administratif namun juga sanksi pidana atas sejumlah pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan PT KPC,” ujarnya. 

Sebelumnya, BNPB melaporkan banjir melanda enam kecamatan di wilayah Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada Jumat (18/3). Banjir dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi pada Jumat (18/3) pukul 14.30 WITA. Banjir terus meluas hingga hari ini, Senin. 

Menurut data BNPB, banjir ini membuat sedikitnya 1.000 jiwa terpaksa mengungsi. Secara keseluruhan, terdapat 2.477 unit rumah, yang dihuni 5.245 KK (17.896 jiwa), terdampak banjir ini.

sumber: REPUBLIKA.CO.ID