Doni Monardo beberkan langkah-langkah BNPB mengantisipasi bencana di Indonesia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merancang langkah dalam antisipasi bencana di Indonesia.

Upaya pencegahan bencana dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh instansi terkait. Termasuk juga terkait dengan perencanaan pembangunan yang berlandaskan pengurangan risiko bencana.

Langkah kolaboratif juga ditunjukkan dengan melibatkan pakar. Hal itu untuk memprediksi ancaman, memperkuat sistem peringatan dini, menyusun rencana kontijensi dan edukasi serta pelatihan kebencanaan.

“Melalui pendekatan kolaborasi pentahelix pemerintah bersama dengan akademisi, dunia usaha, komunitas relawan dan media terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan mulai dari tingkat individu, keluarga dan masyarakat,” ujar Kepala BNPB Doni Monardo saat peresmian pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana, Rabu (3/3).

Dari sisi pengetahuan, Doni bilang literasi kebencanaan terus ditekankan. Pentingnya pemahaman terkait potensi bencana perlu dilakukan mengingat Indonesia termasuk daerah rawan bencana.

Berdasarkan penelitian Bank Dunia, Indonesia masuk sebagai salah satu dari 35 negara dengan tingkat risiko ancaman bencana paling tinggi di dunia. Kesiapan yang minim dalam menghadapi bencana akan menyebabkan kerugian yang besar.

“Menteri Keuangan menyebutkan bahwa setiap tahun kita mengalami kerugian ekonomi akibat bencana rata-rata 22,8 triliun rupiah per tahun,” terang Doni.

Hal itu belum termasuk kepada kerugian yang berkaitan dengan kehilangan nyawa. Dalam 10 tahun terakhir rata-rata 1.183 jiwa meninggal dunia akibat bencana.

Doni juga menyebut berdasarkan data BNPB, periode Februari 2020 hingga Februari 2021 terdapat total 3.253 bencana. Bila dihitung rata-rata, terjadi 9 kalo kejadian bencana tiap harinya.

“Apakah itu gempa Tsunami erupsi gunung berapi, karhutla, banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin puting beliung,” jelasnya.

Jokowi: Indonesia Ranking Tertinggi Negara Paling Rawan Risiko Bencana

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo mengatakan, Indonesia termasuk ke dalam negara-negara di dunia dengan risiko bencana yang tinggi.

Bahkan, Indonesia masuk rangking tertinggi dalam daftar 35 negara paling berisiko bencana.

“Saya ingin mengingatkan kita semua bahwa negara kita, Indonesia, adalah negara yang rawan terhadap bencana. Masuk dalam 35 negara paling rawan risiko bencana di dunia,” ujar Jokowi saat menyampaikan sambutan dalan Peresmian Pembukaan Rakornas Penanggulangan Bencana Tahun 2021, Rabu (3/2/2021).

“Kita sekali lagi menduduki ranking tertinggi negara paling rawan bencana karena jumlah penduduk kita juga besar. Sehingga, risiko jumlah korban yang terjadi apabila ada bencana juga sangat besar,” lanjutnya.

Jokowi pun menyinggung data yang pernah disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, terkait adanya 3.253 bencana di Tanah Air sepanjang tahun 2020.

Sehingga apabila dirata-rata ada sembilan bencana yang terjadi dalam sehari.

“Ini bukan sebuah angka yang kecil, tapi cobaan, ujian dan tantangan itu yang harus kita hadapi. Baik bencana hidrometeorologi maupun bencana geologi,” tegasnya.

“Saya melihat kunci utama dalam mengurangi risiko terletak pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana yang selalu saya sampaikan berulang-ulang. Pencegahan, pencegahan, jangan terlambat, jangan terlambat,” lanjut kepala negara.

Meski demikian, Jokowi tetap menekankan bahwa aspek pencegahan lain pun penting dilakukan.

Salah satunya dengan mempersiapkan diri sehingga tidak reaktif saat bencana alam terjadi.

Jokowi Ingatkan Mitigasi Jadi Kunci Mengatasi Risiko Bencana

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengingatkan pentingnya aspek pencegahan dan mitigasi dalam penanggulangan bencana. Jokowi meminta kedua hal ini terus digenjot untuk mengurangi risiko jatuhnya korban yang besar.

“Saya melihat kunci utama dalam mengurangi risiko adalah pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana. Itu yang selalu saya sampaikan berulang-ulang. Pencegahan, pencegahan. Jangan terlambat, jangan terlambat,” kata Jokowi, saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021, Istana Negara, Rabu, 3 Maret 2021.

Ia mengatakan hal ini tak berarti aspek yang lain dalam manajemen bencana tak diperhatikan. Ia minta jangan sampai pemerintah hanya bersikap reaktif saat bencana terjadi.

Ia mengatakan semua pihak mempersiapkan diri dengan antisipasi yang betul-betul terencana dengan baik dan detail. Karena itu, Jokowi mengatakan, kebijakan nasional dan kebijakan daerah harus betul-betul sensitif terhadap kerawanan bencana.

“Jangan baru ada bencana kita baru pontang panting, ribut, atau bahkan saling menyalahkan. Yang seperti itu jangan sampai terjadi,” kata Jokowi.

Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana dan termasuk dalam 35 negara paling rawan risiko bencana di dunia. Dari laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebutnya, setahun kemarin saja terdapat 3.253 bencana terjadi, atau sekitar 9 bencana terjadi per harinya. Apalagi, jumlah penduduk Indonesia juga sangat besar.

Saat ini, ia mengatakan, Indonesia sudah memiliki rencana induk penanggulangan bencana 2020-2024 melalui Perpres 87 tahun 2020. Jokowi mengatakan poin pentingnya bukan hanya berhenti ketika memiliki grand design dalam jangka panjang. tapi grand design itu harus bisa diturunkan dalam kebijakan-kebijakan dan perencanaan-perencanaan.

“Termasuk tata ruang yang sensitif dan memperhatikan aspek kerawanan bencana. Serta dilanjutkan dengan audit dan pengendalian kebijakan dan tata ruang yang berjalan di lapangan, bukan di atas kertas saja,” kata Jokowi.

198.610 Orang Disuntik Vaksin Covid-19 dalam Sehari

Jakarta: Sebanyak 198.610 orang disuntik vaksin covid-19 pada Rabu, 3 Maret 2021. Jumlah tersebut berasal dari akumulasi penyuntikan vaksin covid-19 dosis pertama dan kedua.
 
Akumulasi itu lebih rendah dari penyuntikan pada Selasa, 2 Maret 2021. Kala itu, ada 260.025 orang disuntik vaksin covid-19.
 
“Jumlah orang yang disuntik dosis pertama bertambah 169.489 orang. Total masyarakat yang mendapatkan vaksin dosis pertama 2.104.967 orang,” tulis data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 seperti dikutip Medcom.id, Kamis, 4 Maret 2021.

Jumlah penyuntikan dosis kedua lebih sedikit dibandingkan dengan dosis pertama. Sebanyak 29.121 orang disuntik vaksin covid-19 dosis kedua.
 
“Total 1.076.409 masyarakat yang sudah disuntik vaksin covid-19 dosis kedua,” bunyi data tersebut.
 
Pemerintah menargetkan penyuntikan vaksin covid-19 kepada 181,5 juta orang dari 270 juta penduduk Indonesia. Program ini diawali dengan penyuntikan terhadap kelompok prioritas pertama, yakni 1.468.764 tenaga kesehatan, yang dimulai sejak 13 Januari 2021.
 
Vaksinasi tahap awal kepada nakes selesai akhir Februari 2021. Vaksinasi covid-19 tahap kedua dimulai pada Rabu, 17 Februari 2021. Sasaran program ini ialah petugas pelayanan publik dan masyarakat lanjut usia (lansia).
 
Total 38 juta orang bakal menerima vaksin pada tahap kedua. Tahapan ini dimulai dari Pulau Jawa dan Bali dan ditargetkan rampung pada Mei 2021.
 
(OGI)

 

Varian Corona B117 Masuk RI, Ampuhkah Vaksin yang Dipakai? Ini Perbandingannya

Jakarta – Pada Selasa (2/3/2021) kemarin, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkap ada 2 kasus varian baru Corona B117 dari Inggris yang terdeteksi di Indonesia.

“Saya mendapatkan informasi bahwa tepat dalam setahun ini kita menemukan mutasi B117 UK mutation di Indonesia,” ungkapnya dalam konferensi pers setahun pandemi Corona RI, Selasa (2/3/2021).

Kemudian, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dua kasus varian baru ini merupakan kasus impor yang berasal dari Saudi Arabia.

“Tadi malam kita menemukan dua kasus, masuk dari Saudi Arabia dan memiliki strain virus baru ini,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (2/3/2021).

Masuknya virus Corona B117 ini pun dikhawatirkan dapat mempercepat penularan COVID-19 di Indonesia. Pasalnya, varian baru ini disebut 70 persen lebih menular.

Lantas apakah jenis-jenis vaksin Corona yang digunakan di Indonesia akan tetap efektif dalam melawan varian baru Corona B117? Berikut perbandingannya, dirangkum dari berbagai sumber.

1. Vaksin Sinovac

Dalam sebuah penelitian, vaksin Sinovac disebut tetap efektif dalam melawan varian baru Corona, baik strain virus dari Inggris maupun Afrika Selatan.

“Kami telah menguji vaksin ini di China terhadap varian baru Corona Inggris dan Afsel, dengan hasil yang baik,” kata Dimas Covas, kepala pusat biomedis Butantan di Sao Paulo, Brasil, dikutip dari Reuters, Kamis (18/2/2021).

Meski begitu, Covas tak memberikan rincian lebih lanjut mengenai tingkat efikasi vaksin Sinovac terhadap varian baru Corona B117.

2. Vaksin Novavax

Berdasarkan hasil analisis awal, vaksin Novavax 89,3 persen efektif melawan varian baru Corona B117. Hasil ini disampaikan pada Kamis (28/1/2021), usai uji coba dilakukan di Inggris.

Uji coba vaksin Corona buatan Novavax di Inggris melibatkan sebanyak 15.000 orang berusia 18-84 tahun. Sebanyak 27 persen di antaranya berusia di atas 65 tahun.

Meski efikasinya tinggi terhadap varian baru Corona B117, namun vaksin Novavax hanya menunjukkan efikasi sebesar 60 persen dalam melawan strain virus dari Afrika Selatan.

Kemudian ada vaksin Corona buatan AstraZeneca-Oxford dan Pfizer-BioNTech, bagaimana efektivitasnya? 

3. Vaksin AstraZeneca

Selain vaksin Corona buatan Sinovac dan Novavax, vaksin AstraZeneca-Oxford juga disebut dapat memberikan perlindungan dari varian baru Corona B117.

Dikutip dari Fox News, sebuah penelitian terbaru dalam ‘Preprints with The Lancet’ menunjukkan perbandingan efikasi vaksin AstraZeneca-Oxford di antara strain virus Corona yang sedang bermunculan, salah satunya varian baru Corona B117.

“Data dari uji coba kami terhadap vaksin ChAdOx1 (AstraZeneca) di Inggris menunjukkan bahwa vaksin tersebut tak hanya memberikan perlindungan dari virus asli penyebab pandemi, tetapi juga melindungi dari varian baru, B117, yang menyebabkan lonjakan penyakit mulai akhir tahun 2020, di seluruh Inggris,” ucap kepala peneliti vaksin Oxford, Andrew Pollard, awal Februari lalu.

Tingkat efikasinya mencapai 75 persen dalam melawan varian baru Corona B117.

4. Vaksin Pfizer

Selanjutnya, vaksin Corona buatan Pfizer-BioNTech juga diklaim dapat melindungi seseorang dari varian baru Corona B117.

Dikutip dari Associated Press, studi ini masih bersifat pendahuluan dan diharapkan bisa membantu penelitian selanjutnya.

Dalam studi tersebut, mereka menggunakan sampel darah dari 20 orang yang telah disuntik vaksin Corona buatan Pfizer-BioNTech. Hasilnya, antibodi dari penerima vaksin berhasil menangkal virus di wadah laboratorium.

“itu adalah temuan yang sangat meyakinkan bahwa setidaknya mutasi ini, yang merupakan salah satu yang paling dikhawatirkan orang, tampaknya tak menjadi masalah (untuk vaksin),” ucap kepala peneliti Pfizer, Dr Philip Dormitzer, awal Januari 2021.

Jadi Kampus Konservasi, Unnes Adakah FGD Tanggap Bencana

KOMPAS.com – Awal tahun 2021, negara Indonesia sudah dihantam dengan berbagai bencana alam. Mulai dari gempa bumi, tanah longsor hingga banjir.

Menghadapi bencana alam yang bisa terjadi sewaktu-waktu, butuh mitigasi bencana yang kuat. Tidak hanya dari instasi terkait tapi juga seluruh lapisan masyarakat harus memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.

Berangkat dari masalah mitigasi bencana ini, Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengadakan Diskusi Ilmiah Terfokus (FGD) dengan tema Tanggap Bencana yang dilaksanakan secara daring.

Melansir laman unnes.ac.id, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Unnes Prof. Amin Retnoningsih MSi memaparkan tentang peran Unnes dalam mencegah dan menghindari risiko bencana. Khususnya banjir dan tanah longsor.

Implementasikan 3 pilar konservasi

Sejauh ini Unnes konsisten memelihara lingkungan sebagai upaya mencegah dan menghindari risiko bencana khususnya banjir dan tanah longsor.

Bahkan sejak 11 tahun yang lalu Unnes meneguhkan visi menjadi Universitas Berwawasan Konservasi.

“Dengan implementasi 3 pilar konservasi yakni nilai karakter, seni budaya, serta sumber daya alam dan lingkungan,” jelas Kepala UPT Konservasi UNNES Prof. Amin seperti dikutip di laman unnes.ac.id, Minggu (14/2/2021).

Melalui UPT Konservasi, Unnes berupaya mendorong dunia pendidikan. Khususnya sekolah untuk berkontribusi dalam pencegahan bencana dan kerusakan lingkungan melalui penyelenggaran Unnes Green School Ranking.

Untuk berkontribusi dalam hal pencegahan bencana dan kerusakan lingkungan, mahasiswa juga memiliki peran. Khususnya dalam menanggulangi bencana melalui UKM SAR, Mahapala, Menwa, dan Pramuka.

Ambil peran dalam pemeliharaan lingkungan

Selain itu, Unnes juga sudah mengupayakan beberapa hal dalam memberikan peran memelihara lingkungan dengan mempertahankan dan meningkatkan tata ruang terbuka hijau di lingkungan kampus.

Melakukan program konservasi air melalui embung, dan pembuatan biopori.

“Kami juga melakukan penanaman pohon secara rutin setiap tahun oleh mahasiswa baru di dalam dan di luar kampus,” tandas Prof. Amin.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang Nur Yahya meminta peran akademisi termasuk Unnes bisa bekerjasama untuk melakukan penelitian, kajian-kajian dalam pemetaan bencana sebagai data yang akan digunakan Basarnas.

“Kami belum memiliki laboratorium penelitian, maka dari itu perlunya kerja sama yang kolaboratif antara Unnes dan Basarnas. Misalnya dalam penelitian memetakan wilayah atau kajian dalam peta rawan bencana,” tutur Nur Yahya.

Siaga Banjir dan Bencana, Pemprov DKI Siapkan Toa hingga Sumbangan

SuaraJakarta.id – Pemprov DKI Jakarta masih bersiaga menghadapi banjir di musim penghujan sekarang ini. Sejumlah peralatan hingga sumbangan disiapkan untuk mengantisipasi datangnya bencana.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Sabdo Kurnianto, mengatakan salah satu upaya yang tengah dilakukan adalah pendistribusian tambahan prasarana pendukung menghadapi musim penghujan untuk kelurahan serta RT rawan genangan dan banjir.

Ia menyebut prasarana tambahan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan BNPB, Baznas (Bazis) DKI Jakarta, Bank DKI, dan Bank BRI.

“Kemarin kami distribusikan sarana pedukung tambahan tahap pertama untuk 182 RT dan 31 RW di 14 kelurahan rawan genangan dan banjir,” ujar Sabdo dalam keterangan tertulis, Kamis (25/2/2021).

Sabdo mengatakan, prasarana pendukung menghadapi musim penghujan tersebut juga telah didistribusikan kepada Kampung Siaga di lima wilayah kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu sejak Kamis (18/02) sampai dengan Sabtu (20/02).

Barang yang disalurkan di antaranya adalah perahu jerigen, ban dalam evakuasi, dan masker kain serta masker medis

“Untuk pendistribusian selanjutnya akan kami lakukan secara bertahap,” jelasnya.

Tak hanya itu, pihak Bank DKI juga menggalang program donasi karyawan untuk penanganan bencana alam. Tidak hanya untuk di Jakarta, bantuan juga disalurkan kepada daerah lain.

Sekretaris Perusahaan Bank DKI, Herry Djufraeni mengatakan penggalangan donasi karyawan Bank DKI bersama Unit Pelayanan Zakat (UPZ) tersebut telah berhasil mengumpulkan bantuan senilai Rp200 juta. Uang itu kemudian disalurkan melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MMDC).

“Kami berharap bantuan ini dapat berarti dan meringankan beban bagi saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan,” jelas Herry.

Ia menjelaskan donasi karyawan Bank DKI ini telah dilangsungkan sejak minggu pertama Januari 2021 dengan metode Scan QR. Sehingga dapat memudahkan bagi siapapun yang ingin berdonasi melalui aplikasi JakOne Mobile dimanapun dan kapan pun.

“Selanjutnya, bantuan tersebut akan dikelola oleh Muhammadiyah Disaster Management Center untuk didistribusikan ke sejumlah daerah bencana,” pungkasnya.

Beradaptasi Dengan Bencana

JAKARTA – Kehidupan manusia selalu beriringan dengan bencana , tak terkecuali di Tanah Air. Peradaban yang ditunjukkan di negeri ini juga menunjukkan masyarakat sudah melakukan berbagai cara untuk mengadaptasi tempat tinggalnya, termasuk sebagai bentuk mitigasi, agar bisa terhindar dari bencana.

Adaptasi dan mitigasi bencana memang menjadi variabel tak terelakkan dalam kehidupan bangsai ini. Dengan fakta 61% kabupaten di Indonesia berisiko mengalami banjir , terletak di Ring of Fire dengan 127 gunung aktif yang bisa memicu gempa bumi dan gunung meletus, mau tidak mau Indonesia adalah negeri bencana.

Sepanjang Januari 2021 saja, misalnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah ada 263 bencana. Sepanjang 2020 lalu, sebanyak 2.929 bencana alam terjadi di Indonesia, di mana mayoritas adalah banjir (1.067), puting beliung (875), tanah longsor (573), kebakaran hutan dan lahan (326), abrasi (36), kekeringan (29), gempa bumi (16), dan erupsi gunung api (7).

Dengan takdir sebagai negara yang rawan bencana, dan sangat beragam jenis dan karakteristiknya, bangsa Indonesia sudah pasti harus paham sifat, sebaran dan risiko yang mungkin terjadi akibat bencana-bencana tersebut.

BNPB menyadari betul tingginya ancaman bencana di Indonesia, apalagi ada tren peningkatan frekuensi. Kondisi tersebut harus diantisipasi secara holistik.

Kepala BNPB Doni Monardo menegaskan, ancaman permanen harus diselesaikan dengan solusi permanen.

Melihat kondisi tersebut, maka mitigasi bencana merupakan tantangan utama yang perlu dilakukan. Mitigasi seperti apa? Dia memaparkan, di daerah yang pernah terjadi gempa, pemerintah daerah harus menerapkan standar bangunan tahan gempa.

’Artinya, langkah mitigasinya antara lain penguatan struktur bangunan. Perizinan bangunan harus memperhatikan resiko bencana. Bukan gempa nya yang membunuh/mematikan, namun karena akibat tertimpa atap/bangunan yang rubuh,’’ ujar Doni, kepada KORANSINDO, tadi malam.

Dia menambahkan, untuk tsunami dan gunung api, penataan ruang kawasan pesisir dan zona rawan gunung berapi menjadi hal utama, di samping intervensi berbasis ekosistem seperti hutan pantai untuk mengurangi dampak tsunami. Demikian juga halnya dengan bencana hidrometeorologi, pengendalian alih fungsi lahan menjadi komponen utama di samping penguatan infrastruktur dan daya dukung lingkungan.

Dalam mitigasi tersebut, pemerintah daerah sebagai ujung tombak memperkuat penanganan bencana di fase-fase awal melalui regulasi, perlengkapan, infrastruktur hingga sumber daya manusia.

‘’Dan yang tak boleh dilupakan adalah keberpihakan politik anggaran. Daerah-daerah berpotensi bencana, harus mengalokasikan anggaran yang cukup untuk program mitigasi,’’ katanya.

Ancaman banjir juga begitu. Menurut Doni, jika BMKG sudah mengeluarkan peringatan tentang tingginya curah hujan yang bisa berakibat banjir, ya jangan parkir di basement. Jauhi bantaran sungai. Siapkan langkah-langkah antisipasi.

“Itu contoh kecil. Ancaman ke depan tidak hanya pada bencana alam tetapi juga nonalam, seperti wabah dan pandemi. Secara dini kita harus siapkan penguatannya. Ketangguhan di bidang kesehatan, ekonomi, infrastruktur harus terintegrasi,’’ katanya.

Dari sisi regulasi, Indonesia melalui Perpres 87/2020 telah memiliki Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB). Menurut dia, ini mungkin dokumen resmi pertama di tingkat negara di dunia tentang penanggulangan bencana yang rentang waktunya hingga 25 tahun.

Rencana jangka panjang ini kemudian diterjemahkan ke dalam rencana jangka menengah berupa Rencana Nasional Penanggulangan Bencana dengan periode lima tahunan. Dua regulasi ini menjadi acuan bagi Kementerian/Lembaga dalam perencanaan dan pelaksanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Di tingkat masyarakat, pendekatan yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini BNPB, adalah penguatan kapasitas dari lingkup terkecil yakni keluarga. Desember 2019 kita sudah meluncurkan program Katan (Keluarga Tangguh Bencana). Program ini lalu berkembang ke administrasi terkecil melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana).

Pakar manajemen bencana Sugeng Triutomo berpendapat, pentingnya pemerintah terutama di daerah untuk mengenal dan memahami setiap jenis bencana yang ada di wilayahnya, dengan membuat kajian risiko bencana.

“Hasil dari kajian ini berupa Peta Risiko Bencana dan pilihan tindakan mitigasinya untuk setiap jenis ancaman bencana,” ujar Sugeng kepada KORAN SINDO.

Sebenarnya, penentuan prioritas jenis ancaman bencana dituangkan dalam Rencana Penanggulangan Bencana. Dari rencana itulah, pemerintah dan para pihak yang terkait menuangkan setiap program kegiatan mitigasi bencana. Penentuan prioritas dan sumber pembiayaan mitigasinya dilakukan secara terbuka dan bersama.

Namun, kata dia, hingga saat ini baru sebagian kecil pemerintah daerah yang telah membuat kajian risiko dan rencana penanggulangan atau mitigasi bencana. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan dana atau anggaran, untuk pengkajian, perencanaan dan implementasi upaya mitigasinya.

Sesuai dengan UU 23/2014 tentang pemerintahan daerah, penanggulangan bencana adalah urusan wajib daerah oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah dan pemerintah daerah mengalokasikan dana anggaran yang memadai untuk setiap daerah sesuai dengan tingkat risiko bencananya.

Arah kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana sudah dituangkan dalam RPJMN 2020-2024 yakni prioritas nasional (PN 6) dan juga pada periode sebelumnya. Kebijakan ini kemudian dijabarkan dalam bentuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB), yang memuat prioritas program kegiatan yang dilakukan oleh kementerian dan lembaga di tingkat pusat.

Sayangnya, langkah tersebut belum banyak diikuti oleh pemerintah daerah. Daerah belum menempatkan penanggulangan bencana sebagai prioritas di RPJMD-nya, mungkin karena masih banyak prioritas penting lainnya yang harus diutamakan.

“Seperti diketahui bahwa bencana itu adanya di daerah, maka pemerintah daerah mempunyai tanggungjawab terdepan dalam penanggulangan bencana. Tapi pada kenyataannya kesiapan dan juga kemampuan daerah untuk mengatasi bencana sangat terbatas, sehingga mungkin inilah penyebab kegagalan kita dalam menangani bencana selama ini,” ujar Sugeng.

Memperkuat Komunitas Lokal
Hal paling penting adalah menyiapkan kesiapan komunitas atau masyarakat dalam menghadapi skenario terburuk. Kesiapan bencana tidak efektif tanpa partisipasi masyarakat yang rentan terhadap bencana. Reseliensi masyarakat adalah keterlibatan publik dalam upaya mitigasi, aktif dalam organisasi, dukungan psikososial, dan kepemimpinan sipil yang kuat untuk menghadapi perubahan.

Masyarakat yang resilien juga memiliki beragam komptensi seperti pembangunan ekonomi, kapital sosial, komunikasi dan informasi yang bisa dimaksimalkan selama bencana. Mereka saling peduli dan memperkuat harapan serta bertindak dengan tujuan dalam persiapan atau pun kondisi bencana. Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah memilikinya yakni budaya gotong royong yang sangat kuat hingga sikap tolerasi serta tepa selira.

Pengamat sosial Vokasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan bencana bukan sebuah peristiwa yang dapat dikelola sepenuhnya oleh manusia.

“Sebagai individu, kita hanya dapat melakukan 5P. Yaitu, penelitian, proyeksi, persiapan, penyelamatan dan pembangunan kembali,” ungkapnya.

Devie juga menjelaskan, satu hal yang juga perlu dilakukan ialah memperkuat komunitas lokal. Masyarakat lokal yang menguasai wilayah tersebut, dan mereka berpeluang membangun kohesifitas yang kuat.

“Mereka memiliki kesamaan sejarah, wilayah, dan kedekatan rasa dan perasaan, akan menjadi modalitas sosial yang dapat bermanfaat dikala bencana menghadang,” paparnya.

Tidak hanya itu, komunitas lokal Juga harus didorong mempersiapkan pusat bencana dan penampungan. Seluruh masyarakat lokal akan memiliki pengetahuan, pengalaman langsung tentang kebencanaan. “Sehingga, ketika bencana datang di saat tak terduga, masyarakat sudah terprogram untuk menguasai mental dan Lingkungan, sehingga korban Jiwa dan kerugian-kerugian lainnya dapat diminimalisir,” pungkasnya.

sumber: https://nasional.sindonews.com/read/346952/15/beradaptasi-dengan-bencana-1614258127/30

Anies Baswedan Apresiasi Persatuan Masyarakat Saling Bantu Hadapi Bencana Jakarta

PR BEKASI – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melihat terjadinya bencana seperti banjir di Jakarta, telah menggambarkan wajah persatuan dari berbagai elemen masyarakat atau organisasi untuk saling membantu saudara lainnya.

Terutama seperti yang dikatakan oleh Anies Baswedan, saat ini Indonesia atau Jakarta sedang ditempa penuh cobaan.

Tidak hanya banjir, namun virus Covid-19 hingga kini masih terus menjadi penanganan yang membutuhkan kerja ekstra.

“Peristiwa ini menggambarkan bahwa begitu banyak orang baik yang membantu sesama di masa penuh cobaan sekarang. Apalagi kita dalam suasana pandemi,” kata Anies Baswedan seperti dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari Antara, Senin, 22 Februari 2021.

Anies Baswedan memberi kesaksiannya ketika mengetahui adanya keluarga yang mendatangi pinggiran banjir dan memberi bantuan kepada warga terdampak.

Hal semacam itu menurut Anies Baswedan merupakan bukti dari masih banyaknya masyarakat berhati baik. Tanpa dokumentasi, tidak terlihat, tidak ada memerlukan penghormatan secara khusus, sesegera mungkin hanya ingin membantu saudaranya.

“Tanpa ada upacara, tanpa ada dokumentasi, semata-mata membantu saudara,” kata Anies Baswedan.

Dalam kesempatannya saat berada di pos pantau pintu air Manggarai, Jakarta Pusat pada Minggu, 21 Februari 2021 kemarin, Anies Baswedan menyampaikan apresiasinya untuk warga, hingga lembaga yang ikut melibatkan pihaknya untuk menangani banjir di Jakarta.

“Saya menyampaikan apresiasi pada warga, lembaga-lembaga sosial dan ormas yang sejak kemarin turun membantu saudara kita yang terdampak banjir,” kata Anies Baswedan.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD DKI Jakarta Sabdo Kurnianto mengatakan bahwa Jakarta Pusat sejak Sabtu telah sepenuhnya surut pukul 21.30 WIB. Namun di daerah lain ketinggian air yang masih ditangani, memiliki ketinggian air bervariasi.

Dilaporkan hingga kini sebanyak lima orang meninggal dunia akibat banjir, dengan rincian empat adalah anak-anak dan satu ialah pria lanjut usia.

Korban lansia berusia 67 tahun berjenis kelamin laki-laki, meninggal di dalam rumah yang terkunci berlokasi di Jatipadang, Jakarta Selatan.

Sementara tiga anak laki-laki yang menjadi korban yaitu berlokasi di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat, meninggal lantaran hanyut terseret arus banjir saat sedang bermain.

“Satu anak perempuan usia tujuh tahun tenggelam di Jakarta Barat,” kata Sabdo Kurnianto.

Untuk itu masyarakat terutama orang tua diharapkan dapat lebih memperhatikan dan menjaga anak-anak ketika bermain di air genangan, dikhawatirkan terjadi arus kuat yang menyeret dan mengakibatkan korban jiwa.***

Daftar 30 Titik Banjir di Jakarta Versi Jaki

Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah titik di wilayah DKI Jakarta terendam banjir pada Sabtu (20/2). Hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang mengguyur Ibu Kota sejak Jumat (19/2) malam menjadi salah satu pemicunya.

Menurut pantauan CNNIndonesia.com melalui aplikasi Jakarta Kini (Jaki) per pukul 14.53 WIB, banjir setidaknya menggenangi 30 titik yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.

Ketinggian banjir berkisar antara 30 cm sampai di atas 1,5 meter. Beberapa kelurahan yang terpantau mengalami genangan tinggi seperti Cipinang, Kebon Manggis dan Kramat Jati di Jakarta Timur, serta Pela Mampang di Jakarta Selatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan terdapat tiga faktor yang menyebabkan banjir di Jakarta, yakni curah hujan tinggi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), curah hujan tinggi di Jakarta dan pasang naik air laut di wilayah Jakarta Timur.

Mengutip peta pantauan banjir dari aplikasi Jaki, berikut beberapa daftar sebaran titik banjir di DKI Jakarta:

1. Cilangkap: genangan 71-150 CM
2. Kelapa Dua: genangan 71-150 CM
3. Pekayon: genangan 31-70 CM
4. Kalisari: genangan 71-150 CM
5. Cijantung: genangan 31-70 CM
6. Bambu Apus: genangan 71-150 CM
7. Rambutan: genangan 71-150 CM
8. Baru: genangan 71-150 CM
9. Cijantung: genangan 31-70 CM
10. Lubang Buaya: genangan 31-70 CM
11. Kramat Jati: genangan 71->150 CM
12. Batu Ampar: genangan 31-150 CM
13. Cililitan: genangan 71-150 CM
14. Kebon Pala: genangan 31-70 CM
15. Cipinang: genangan 71->150 CM
16. Pondok Bambu: genangan 31-70 CM
17. Cawang: genangan 31-15O CM
18. Rawajati: genangan 71-150 CM
19. Kebon Baru: genangan 31-70 CM
20. Kebon Manggis: genangan >150 CM
21. Manggarai: genangan 31-70 CM
22. Kuningan Barat: genangan 71-150 CM
23. Pela Mampang: genangan >150 CM
24. Duren Tiga: genangan 31-70 CM
25. Pejaten Barat: genangan 71-150 CM
26. Cilandak Timur: genangan 71-150 CM
27. Cilandak Barat: genangan 31-70 CM
28. Lebak Bulus: genangan 71-150 CM
29. Bintaro: genangan 31-150 CM
30. Pondok Pinang: genangan 71-150 CM