8 Penyebab Banjir dan Dampaknya bagi Lingkungan, Wajib Diperhatikan

Liputan6.com, Jakarta Penyebab banjir biasa beragam sesuai dengan kondisi wilayah. Hal ini dapat terjadi karena curah hujan yang memang sedang tinggi-tingginya, adanya penebangan hutan, suatu wilayah yang berada di dataran rendah, hingga perilaku membuang sampah sembarangan.

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Biasanya air banjir merupakan air yang berasal dari sungai atau hujan lebat yang terus menerus sehingga dapat menyebabkan luapan.

Penyebab banjir perlu dikenali agar dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penanganan. Pasalnya, penyebab terjadinya banjir tidak terlepas juga dari perilaku manusia yang tidak disiplin dalam menjaga lingkungan. Mempersiapkan berbagai tindakan antisipasi juga bisa dilakukan agar banjir tidak terjadi dan merugikan masyarakat.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (28/9/2020) tentang penyebab banjir.

Curah Hujan Tinggi

Penyebab banjir yang pertama adalah curah hujan yang tinggi. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap peningkatan debit dan volume air yang ada di daratan. Jika air tersebut tidak dengan cepat diserap oleh tanah atau aliran sungai, hal ini dapat menjadi penyebab banjir bandang.

Jika hujan lebat terjadi telah berlarut-larut dalam waktu yang lama akan sangat berpotensi terjadi banjir. Terutama pada daerah-daerah yang juga memiliki kontur tanah yang rendah. Jika lokasi dari terkumpulnya air tersebut berada di daerah yang lebih tinggi. Tentu akan memberi efek menghancurkan bagi semua kehidupan yang ada di bawahnya. Maka dari itu, pastikan resapan air yang terjaga dengan baik sangat penting perannya.

Penebangan Liar

Penebangan hutan secara liar juga merupakan salah satu penyebab banjir yang perlu diperhatikan. Hal ini terkait dengan pohon yang memiliki fungsi dalam meresap air yang jatuh ke tanah.

Apabila air hujan tidak dapat diserap dengan sempurna, maka hal ini akan meningkatkan risiko banjir bandang, terutama jika pusat dari banjir tersebut ada di perbukitan.

Selain banjir yang besar, ketika pohon ditebang secara liar, maka akan menimbulkan risiko terjadinya longsor. Hal ini karena salah satu faktor dari longsor adalah tidak mampunya tanah menahan beban dari air yang terus menerus menerpa. Hal ini akan semakin parah jika lokasinya berada di sekitar tebing yang cukup curam.

Pembukaan LahanPenyebab banjir selanjutnya adalah adanya pembukaan lahan baru. Biasanya ketika hujan datang, pasti air akan mudah terserap masuk ke tanah. Namun hal ini hanya berlaku bila masih ada pohon yang mendukunganya. Ketika hutan sudah dirombak menjadi pemukiman warga, tentu tempat resapan air juga menjadi berkurang.

Bangunan di Daerah Resapan AirKetika banyak sekali bangunan penduduk di daerah yang seharusnya menjadi lokasi resapan air, maka akan berpotensi menimbulkan aliran air yang besar dan sangat kencang ketika hujan deras tiba.

Kondisi tersebut dapat membuat lokasi pemukiman dan jalan-jalan yang seharusnya menjadi resapan air seakan-akan sebuah selokan, yang justru mempercepat laju dari aliran air hujan tersebut, dan yang pasti dalam volume yang besar. Penyebab banjir satu ini juga perlu menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat.

Sistem Kelola Tata Ruang yang SalahKesalahan pada sistem tata kelola ruang di daerah perkotaan biasanya juga bisa menjadi penyebab banjir. Dengan adanya kesalahan tersebut, biasanya air akan sulit menyerap ke dalam tanah dan menyebabkan aliran air menjadi lambat. Sementara pada musim penghujan, air yang datang ke daerah tersebut akan lebih banyak jumlahnya dari biasanya sehingga dapat cepat menyebabkan banjir.

Daerah Dataran Rendah

Penyebab banjir juga dipengaruhi faktor wilayah seperti disebutkan sebelumnya. Faktor tinggi rendahnya daratan bahkan menjadi faktor yang sangat besar dalam penyebab banjir bandang.

Hal ini mengingat, ketika air turun dari dataran yang lebih tinggi tentunya akan semakin laju ketika menuju ke bawah. Hal ini yang harus diwaspadai, karena kuatnya arus air tersebut bahkan bisa menghancurkan tembok-tembok rumah.

Kapasitas Sungai Kecil

Kapasitas sungai yang kecil terkadang juga bisa menjadi salah satu penyebab banjir yang tidak terhindari. Semakin tinggi curah hujan, maka semakin banyak volume air yang seharusnya ditampung oleh sungai. Namun karena tidak seimbang, akhirnya air membludak di wilayah sekitar.

Tidak hanya itu, semakin tinggi lokasi air memang memberi dampak merusak bagi lokasi yang ada di bawahnya, dan bayangkan, ketika lokasi air tersebut ada di atas dan memiliki volume yang sangat besar. Tentunya akan sangat berbahaya bagi orang yang tinggal di dataran rendah atau di bawahnya.

Membuang Sampah Sembarangan

Penyebab banjir yang satu ini tentu tidak perlu diragukan lagi, dan berkali-kali diingatkan pada siapa saja. Kebiasaan buruk dalam membuang sampah sembarangan sudah pasti akan memberi dampak buruk bagi lingkungan. Selain tercemarnya lingkungan dan menjadi kotor, jenis sampah seperti sampah plastik akan membuat aliran sungai akan terhambat apabila ada sampah yang tersangkut.

Ketika sampah-sampah tersangkut, maka aliran sungai akan berhenti dan volumenya akan semakin besar. Saat volume semakin besar, maka akan berpotensi dalam menimbulkan efek berupa tekanan yang sangat besar.

Itulah beberapa penyebab banjir yang perlu kamu pahami dan waspadai. Selalu jaga lingkungan kamu agar terhindar dari banjir.

Dampak Banjir

1. Penyebaran penyakit. Air yang kotor tentunya menjadi sarang yang menyenangkan bagi para kuman, virus dan bakteri. Tidak higienis membuat masyarakat mulai terserang beberapa penyakit, seperti gatal-gatal, diare, dan sebagainya.

2. Persediaan air bersih yang langka. Bisa menimbulkan kontaminasi air dari banjir dan membutuhkan membeli air bersih untuk minum.

3. Gagal panen. Beberapa wilayah daerah perkebunan yang diterjang banjir, ada kemungkinan akan mengalami gagal panen. Akhirnya hasil tani menjadi langka dan lebih mahal.

4. Beberapa spesies tanaman ada yang mati karena tidak kuat terendam banjir terlalu lama.

5. Kerusakan fisik, seperti bangunan, jembatan, kendaraan, jalan raya, selokan, dan kanal.

6. Langka makanan tertentu. Selain hasil tani yang susah diperoleh, beberapa makanan juga sulit dijumpai karena akses menuju lokasi banjir yang tidak mudah.

7. Jumlah wisatawan menurun. Padahal pendapatan negara, sektor ekonominya berasal dari para pelancong luar negeri.

Anies Susun Ingub, Tambah 2 Kali Lipat Lokasi Pengungsian Banjir Cegah Corona

Di tengah pandemi corona, Jakarta harus bersiap dengan potensi banjir tahunan. Begitu pula dengan potensi penularan corona di tengah penanganan banjir.
Salah satunya di lokasi pengungsian banjir yang berpotensi menjadi klaster baru. Pasalnya, sangat mungkin terjadi kerumunan dan interaksi banyak orang atau pengungsi.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohammad Insaf, mengatakan, camat dan lurah diminta menambah jumlah lokasi pengungsian. Sehingga, jumlah pengungsi bisa dipecah dan tiap lokasi pengungsian menampung lebih sedikit orang.

Pengendara bermotor menggunakan jasa gerobak untuk melintasi banjir dengan latar belakang lukisan persawahan dikawasan Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (19/1). Ketinggian air yang mencapai 1,5 hingga 2 meter dengan arus yang deras tersebut menyulitkan warga untuk di evakuasi ke tempat pengungsian. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
“Untuk mengantisipasi pada masa pandemi COVID-19, camat dan lurah diminta menyiapkan lokasi pengungsian 2 kali lipat dari sebelumnya,” kata Insaf saat dihubungi kumparan, Selasa (29/9).

Insaf mengatakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tengah menyusun Instruksi Gubernur (Ingub) terkait hal ini. Namun sampai saat ini, lokasi-lokasi penampungan belum ditentukan.

“Namun saat ini belum dilakukan inventarisir karena baru akan disiapkan Ingubnya lokasi pengungsi alternatif 2 kali lipat dari yang ada,” jelasnya.
Anies Susun Ingub, Tambah 2 Kali Lipat Lokasi Pengungsian Banjir Cegah Corona (820123)

Sebelumnya, Anies memang telah menyampaikan bahwa penampungan atau pengungsian banjir tahun ini akan berbeda. Sebab, perlu ada protokol kesehatan di tengah ancaman corona.

“Kali ini agak berbeda karena tempat penampungannya harus memasukkan protokol COVID. Selain menyediakan masker juga lokasinya dibuat ada jaga jarak, sehingga warga juga terbebas dari potensi penukaran COVID,” jelas Anies di Pintu Air Manggarai, Selasa (22/9) malam.

Potensi Banjir Hantui Warga DKI di Tengah Pandemi

Jakarta – DKI Jakarta kembali dikepung banjir di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Cuaca ekstrem membuat Ibu Kota kembali dihantui potensi banjir. Penanganan bencana banjir kali ini pun berbeda di tengah situasi pandemi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan saat ini wilayah Indonesia memasuki masa pancaroba. BMKG memperingatkan potensi hujan dengan intensitas tinggi di berbagai wilayah dalam satu pekan ke depan.

“Menyusul rilis BMKG untuk peringatan kewaspadaan selama pancaroba menjelang masuknya musim hujan 2020/2021 yang telah kami sampaikan pada tanggal 7 September 2020 yang lalu, perlu disampaikan kembali bahwa kewaspadaan terhadap hujan dengan intensitas tinggi tetap perlu terus ditingkatkan,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam keterangan yang diterima detikcom, Selasa (22/9/2020).

Pada massa pancaroba ini, BMKG meminta masyarakat waspada terhadap potensi hujan ekstrem, serta potensi angin kencang. “Pada masa peralihan musim ini, perlu diwaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung, bahkan fenomena hujan es,” sebut Guswanto.

Hujan mengguyur Ibu Kota sejak Senin (21/9). Tinggi muka air di Bendung Katulampa sempat naik hingga berstatus siaga 1. Warga DKI Jakarta pun diminta waspada.

Pada Selasa (22/9), sejumlah titik banjir muncul di jalan-jalan hingga permukiman warga. Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta pukul 06.00 WIB, ada 63 RT yang terendam banjir, 104 warga mengungsi, dan 23 jalan di Ibu Kota dilaporkan terendam banjir. Sementara, berdasarkan data per pukul 12.00 WIB, lokasi pengungsian tinggal 1 titik di Kembangan, Jakarta Barat dengan 15 jiwa mengungsi.

Pemprov DKI Jakarta mengantisipasi banjir yang akan terjadi. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan antisipasi banjir Jakarta kali ini berbeda dan penampungan warga harus menerapkan protokol kesehatan.

“Antisipasi kita adalah satu untuk masyarakat, siapkan tempat-tempat penampungan apabila sampai mereka terkena banjir. Dan kali ini agak berbeda karena tempat penampungannya harus memasukkan protokol kesehatan COVID-19,” kata Anies.

Anies mengatakan penampungan warga terdampak banjir harus menyediakan masker dan jaga jarak. Hal ini untuk menghindari penyebaran virus Corona di tengah situasi banjir.

Sementara itu, Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meminta warga bersiap menghadapi banjir. Sejumlah lokasi pengungsian pun disiapkan, dengan jumlah dua kali lipat dan mengedepankan protokol kesehatan.

“Kami juga sudah menyiapkan titik-titik jumlah penampungan yang jumlahnya dua kali lipat karena ini masa pandemi COVID jadi kita tetep memperhatikan protokol COVID, kemudian juga jajaran kami sudah siap,” katanya.

Legislator di Ibu Kota pun meminta Pemprov DKI tak setengah-setengah dalam menangani banjir. Meski saat ini kondisi serba terbatas di tengah pandemi Corona.

“Kasatpel (kepala satuan pelaksana) setiap kecamatan harus selalu sigap jika terdapat indikasi banjir. Jangan kerja setengah-setengah dalam menghadapi banjir di masa pandemi COVID ini. Cek rumah-rumah pompa yang bermasalah dan siapkan semua pompa mobile,” ujar anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth dalam keterangannya, Selasa (22/9).

Menurut BMKG, Tsunami 20 Meter Hanya Butuh Waktu 20 Menit Capai Daratan

Jakarta – Ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan ada potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan cuma butuh waktu 20 menit bagi gelombang raksasa itu untuk sampai pantai.

“Dari hasil modelling kami, di selatan Jawa kurang-lebih hanya sekitar 20 menit tsunami sudah melanda daratan,” kata Kepala Pusat Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono kepada detikcom, Jumat (25/9/2020).

Di selatan Jawa, ada jalur Sunda Megathrust, yakni zona subduksi antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Sunda Megathrust merentang dari pantai barat Sumatera hingga Kepulauan Nusa Tenggara. Jarak antara Pulau Jawa dan Sumatera ke jalur megatrhust sekitar 200-250 km. Dari jalur itu, bisa terjadi gempa besar yang memicu tsunami.

Bila gempa besar dengan magnitudo (M) 9,1 terjadi di zona megathrust, 20 menit kemudian gelombang tsunami akan sampai di pantai. Masyarakat di daratan tidak bakal punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Masyarakat di kawasan pesisir diimbau untuk tidak menunggu peringatan tsunami dari BMKG. Pokoknya, lari saja ke tempat aman.

“Kalau memang tinggal di dekat garis pantai, kalau merasakan guncangan yang kuat, ya, tidak usah menunggu warning, karena tidak lama kemudian kemungkinan besar tsunami akan terjadi. Begitu ada guncangan, ya lari. Kalau menunggu warning, itu artinya sudah kehilangan waktu,” kata Rahmat.

Sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS/Indonesia Tsunami Early Warning System) bakal dites pada 6 Oktober nanti, lewat gelaran Indian Ocean Wave Exercise 20 (IOWave20) pada 6 Oktober nanti. Acara itu berupa simulasi gempa bumi magnitudo (M) 9,1 dan respons sistem InaTEWS. Banyak negara yang berpotensi terkena dampak tsunami bakal terlibat.

“Namun, sebaik-baiknya peringatan dini, lebih baik adalah kesadaran masyarakat untuk segera merespons, melakukan evakuasi mandiri,” kata dia.

Sebelumnya, ITB menyampaikan hasil risetnya. Tsunami diperkirakan terjadi disepanjang pantai selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur. Riset ini juga memakai data dari BMKG dan GPS.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi bersamaan.

Berdasarkan permodelan skenario kebencanaan yang dibikin para ilmuwan ITB, tsunami besar itu terjadi bila segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan.

428 Jiwa Terdampak Banjir Bandang Sukabumi, 72 Rumah Rusak

Bandung, CNN Indonesia — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menyebut 428 jiwa terkena dampak banjir bandang di 12 desa di tiga kecamatan di Sukabumi.

Sejumlah warga pun masih mengungsi karena rumah milik mereka rusak diterjang banjir bandang.

“Sebanyak 428 jiwa terdata. Selain itu, sebanyak 44 unit rumah rusak ringan, 23 unit rumah rusak sedang dan 49 unit rumah rusak berat,” tutur Manajer Pusdalops PB BPBD Jabar Budi Budiman Wahyu, Rabu (23/9).

Adapun korban meninggal dunia akibat banjir bandang tercatat sebanyak dua orang. Sementara itu, satu orang masih dalam pencarian. Selain itu, enam jembatan dan satu unit musala turut dilaporkan mengalami kerusakan.

Banjir bandang yang diakibatkan meluapnya anak Sungai Cicatih tersebut juga memiliki tingkat kerusakan kecil hingga berat. Di Kecamatan Cicurug, terdapat lima desa yang terdampak yaitu, Desa Cisaat, Pasawahan, Cicurug, Mekarsari, dan Bangbayang.

Kemudian, lima desa di Kecamatan Cidahu yang terdampak ialah Desa Babakan Sari, Pondokkaso Tengah, Pondokkaso Tonggoh, Jaya Bakti, dan Cidahu. Sedangkan di Kecamatan Parungkuda terdapat dua desa, yaitu Desa Langensari dan Kompa.

Menurut Budi, tingkat kerusakan di sejumlah desa tersebut bervariasi.

“Tergantung melihat kerusakannya, soalnya ada yang banyak rusak rumahnya tapi ada juga dilihat besarnya kerusakan. Contoh rumah dan jembatan atau TPT, ada yang sedikit rumahnya tapi jembatan putus atau TPT runtuh,” jelasnya.

Saat ini, BPBD Jabar bersama BPBD Sukabumi dan unsur relawan masih melakukan pendataan dan evakuasi korban yang terdampak. Selain itu, BPBD bersama unsur yang terlibat, komunitas relawan mengevakuasi korban terdampak serta dua alat berat excavator dan dua dump truck diturunkan.

Dataran Rendah Rawan

Terpisah,  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan

“Kesimpulan yang didapat adalah bahwa meluapnya Sungai Citarik-Cipeucit dan Sungai Cibojong menjadi faktor penyebab terjadinya banjir bandang,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati, dalam keterangannya, Rabu (23/9).

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, curah hujan yang terukur di wilayah Pos Perkeb Tugu Menteng, Kecamatan Lengkong, dan Pos Ganesha, Kecamatan Cisolok, adalah sebesar 88 mm dan 57 mm. Curah hujan tersebut tergolong tinggi sehingga berakibat menimbulkan banjir bandang.

Analisis meteorologi BMKG dari citra radar juga menunjukkan bahwa pada Senin 21 (21/9), pukul 14.08 WIB, terdapat pertumbuhan awan konvektif di Sukabumi bagian utara dan selatan. Awan konvektif tersebut berupa cumulunimbus (CB) yang terbentuk sangat cepat dan intensif.

Dari hasil analisis tersebut, BMKG menyimpulkan bahwa meluapnya Sungai Citarik-Cipeucit dan Sungai Cibojong menjadi faktor penyebab terjadinya banjir bandang.

Hal ini diperkuat analisis sementara dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB. Bahwa wilayah kejadian banjir bandang Sukabumi merupakan dataran rendah yang berada di bawah kaki Gunung Salak dan dilalui beberapa sungai, yaitu Sungai Citarik-Cipeuncit dan Sungai Cibojong.

Berdasarkan hasil monitoring bahaya Banjir Bandang InaRisk BNPB, wilayah yang terdampak tersebut juga memiliki indeks bahaya sedang hingga tinggi terhadap banjir bandang.

(hyg/Antara/arh)

Pemkot Tangerang Petakan Titik Rawan Banjir

TANGERANGNEWS.com–Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memetakan titik-titik rawan banjir di wilayah Kota Tangerang. 

Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah mengatakan pemetaan dilakukan Dinas PUPR untuk mengantisipasi terjadinya banjir. 

“Ada, sudah dipetakan. Rencananya PU mau ekspos. Tapi saya belum sempat baru tadi saya minta mereka ekspos rencananya,” ujarnya, Kamis (24/9/2020). 

Arief tak merinci di mana saja titik-titik rawan banjir yang dipetakan. Sebab, masih belum dipublikasikan Dinas PUPR. 

Titik rawan banjir yang di Kota Tangerang diketahui berada di Kecamatan Periuk dan Kecamatan Ciledug. 

Petugas Dinas PUPR Kota Tangerang saat melakukan normalisasi saluran air di kawasan Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

 

Menurut Arief, Dinas PUPR juga saat ini sedang fokus melakukan normalisasi saluran-saluran air. 

“Jadi sekarang PU terus melakukan normalisasi saluran, sungai,” katanya. 

Arief menambahkan dalam proses normalisasi petugas menemukan banyaknya sampah di saluran-saluran air. 

“Rata-rata buang sampah sembarangan. Kita imbau ya jaga kebersihan lah jadi jangan sampai masyarakat ngeluh banjir,  tersumbat, padahal yang buang sampahnya masyarakat juga,” pungkasnya. (RMI/RAC)

HEADLINE: Hujan Ekstrem dan Banjir di Jakarta hingga Sukabumi, Langkah Penanganannya?

Liputan6.com, Jakarta – Hujan yang mengguyur Jakarta dan wilayah sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Sukabumi pada Senin sore hingga malam (21/9/2020), menyebabkan duka bagi sebagian warga. 

Di Sukabumi, Jawa Barat, hujan deras yang mengguyur mengakibatkan puluhan rumah dan kendaraan bermotor di kecamatan Cicurug, Cidahu dan Cibadak hanyut terbawa arus banjir. Hujan juga merendam sekitar 85 rumah di kawasan tersebut. Akibarnya sebanyak 299 kepala keluarga atau 1.210 orang harus mengungsi.

Tak cukup itu, hujan deras yang berujung banjir dan longsor di Sukabumi juga merenggut dua korban jiwa. Hasyim (60) warga Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan dan Jeje (60) warga Kampung Aspol, Kelurahan Cicurug ditemukan tak bernyawa setelah terbawa arus banjir. Kedua jenazah korban ditemukan di aliran Sungai Cicatih, Sukabumi, Selasa (22/9/2020) siang.

Di Bogor, hujan deras memutus Jalan Pancawati, Desa Pancawati, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Senin (21/9/2020) sekitar pukul 17.00 WIB. Tebing setinggi kurang lebih 20 meter di kawasan tersebut l ongsor dan menutup seluruh badan jalan. Material longsor bahkan sempat menyeret satu keluarga yang sedang melintas. Beruntukng, warga bersama BPBD Kabupaten Bogor dan Pemerintah Desa Pancawati gerak cepat melakukan evakuasi, nyawa satu keluarga yakni Emi (27), Anggun (9), Acep (30), Wita (14), Upik (19), Eva (13) dan Kiranti (15) akhirnya selamat.

Cerita serupa muncul dari Ibu Kota Jakarta. Guyuran air langit sejak Senin sore membuat sejumlah ruas jalan di Jakarta tergenang dengan ketinggian beragam. Air bahkan sempat menggenangi jalan protokol seperti Sudirman dan Thamrin, meski tidak lama akhirnya surut. 

Namun, ancaman banjir justru membayangi dari daerah yang lebih tinggi, yakni Bogor. Banjir kiriman yang beberapa kali telah terjadi kembali dipastikan akan terulang. Sebab, Senin pukul 18.18 WIB Bendung Katulampa sudah menyentuh 250 cm. Katulapampa Siaga 1. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun mewanti-wanti warga Jakarta yang tinggal di sekitaran Kali Ciliwung bersiap-siap menyambut tamu tak diundang tersebut.

Dan sesuai prediksi, air kiriman mengguyur Jakarta, Selasa dini hari. Banjir kiriman menggenangi sekitar 56 RT di Jakarta di Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Ketinggian air bervariasi dari 10 hingga 100 sentimeter. Hingga Selasa siang, banjir juga menggenangi 20 ruas jalan di Jakarta.

Rendaman banjir juga membuat sejumlah warga Jakarta harus mengungsi. Sumber BNPB menyebutkan, ada 30 Kepala keluarga atau 104 orang mengungsi di sejumlah titik yang disediakan akibat banjir di Ibu Kota.

Wakil Gubenur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan, pihaknya meminta warga Jakarta untuk bersiap menghadapi anomali cuaca yang terjadi di sejumlah negara, termasuk Indonesia saat ini. Biasanya curah hujan tinggi yang bisa berdampak banjir di Jakarta, terjadi pada Desember-Januari hingga Maret, namun dengan adanya anomali cuaca saat ini, hujan bisa mengguyur lebih cepat dan menyebabkan banjir seperti yang terjadi saat ini.

“Masyarakat harus bersiap di samping terus menjaga kebersihan lingkungan tidak membuang sampah. Kita minta masyarakat menbantu untuk membersihkan selokan atau tempat lain sehingga aliran air terus bisa mengalir ke sungai dan kita teruskan ke laut,” ujarnya, Selasa (22/9/2020).

Ariza mengaku, pihaknya sudah menyiapkan dan 54 ekskavator, beko dan sebagainya untuk melakukan pengerukan sepanjang tahun sungai-sungai dan waduk yang ada di Jakarta.

“Pengerukan ada 13 sungai di Jakarta. kemudian waduk situ yang ada di Jakarta. Mengerahkan 54 ekskavator sepanjang hari tidak berhenti,” ujarnya.

Selain itu, sambung Reza, Pemprov DKI juga melakukan terobosan dengan membuat sodetan yang bisa mengalihkan air agar tidak terjadi banjir. 

“Di tahun anggaran ini kami akan adakan mobile pompa untuk bisa digunakan ketika banjir. Untuk mengatur dan alihkan genangan banjir,” sambungnya.

Reza menambahkan, untuk banjir kali ini pihaknya sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, di antaranya adalah dokter yang bertugas memantau kesehatan warga yang terdampak banjir.  

Reza memastikan penanganan pengungsi banjir yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta merujuk pada protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran Covid-19. 

“Sudah disiapkan titik pengungsi, jumlah dua kali lipat dari biasa. BPBD telah siapkan titik-titik atau tempat pengungsian dengan jumlah lebih besar,” pungkasnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, pihaknya sudah mengintruksikan sejumlah kepala daerah di Jawa Barat untuk menyiapkan program antisipasi menghadapi bahaya banjir dan longsor, seperti yang berjadi di Sukabumi saat ini.  

“Turut prihatin kepada Kab Sukabumi terkait bencana banjir bandang. Dukungan dan bantuan sudah dikirim ke sana via pak Wagub @ruzhanul dan BPBD Jabar,” ujar Ridwan Kamil dikutip dari akun Instagramnya, Selasa (22/9/2020).

Pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan, tahun ini musim hujan datang lebih awal dari perkiraan. Jika sebelumnya diprediksi BMKG musim penghujan akan turun akhir Oktober, kenyataannya saat ini sudah hujan.

“Pemprov Jawa Barat melalui Dinas PU sejak dua minggu lalu sudah memulai program antisipasi banjir. Mudah-mudahan bisa efektif,” pungkasnya.

Waspada Klaster Pengungsian Banjir, Ini Saran dari Satgas Covid-19

JAKARTA – Memasuki musim penghujan menjadi kekhawatiran sendiri munculnya klaster baru penyebaran virus corona atau Covid-19. Dalam hal ini masyarakat rentan tertular di posko-posko pengungsian bagi mereka yang rumahnya terdampak banjir.

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, kebersihan lokasi pengungsian akan menjaga para pengungsi dari penyakit-penyakit lainnya yang bisa disebabkan oleh musim hujan. Beberapa diantaranya demam berdarah dengue, lepra, tifus, diare dan penyakit kulit.

“Semua penyakit ini dapat menurunkan imunitas sehingga masyarakat menjadi rentan tertular Covid-19. Jika tidak memungkinkan menjaga jarak, maka sebisa mungkin pemerintah setempat memastikan adanya sirkulasi udara yang baik, sinar matahari yang cukup dan memastikan kebersihan lokasi pengungsian,” kata Wiku dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (24/9/2020).

Pasalnya, masyarakat yang terdampak banjir harus tinggal di lokasi pengungsian sehingga terjadi kerumunan di lokasi-lokasi tersebut. Lokasi pengungsian katanya berpeluang menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Namun, kedisiplinan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat dengan memakai masker, menjaga jarak serta mencuci tangan termasuk menjaga kebersihan dapat menekan potensi penularan tersebut,” ujar Wiku.

Disisi lain, Wiku menyatakan, pada klaster perkantoran ada peran kantor yang bisa membantu pemerintah. Dalam hal ini, perkantoran perlu transparan melaporkan kasus Covid-19 di lingkungannya kepada dinas kesehatan setempat.

Lalu, kata Wiku, melakukan trading lanjutan untuk menjaring kontak erat dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat.

Kantor juga harus memberi swab gratis bagi daftar kontak erat. Jika ditemukan kasus positif tambahan , segera merujuk dengan berkoordinasi dengan dinas kesehatan.

Maka harus dirujuk ke rumah sakit khusus menangani Covid-19 dan biaya ditanggung pemerintah. Baik peserta BPJS Kes ataupun belum menjadi peserta termasuk warga negara asing (WNA).

“Bagi karyawan yang negatif, harus diperkenankan dirumah (WFH). Jika ditemukan kasus positif dalam jumlah banyak, maka kantor tersebut ditutup sementara untuk dilakukan disinfeksi,” kata Wiku.

(kha)

Banjir Bandang di Tengah Musim Kemarau, Mengapa Bisa Terjadi?

Sejumlah desa di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat terendam banjir. Banjir membuat beberapa akses jalan terputus dan sejumlah lokasi terisolir. Ratusan warga juga telah mengungsi ke daratan yang lebih tinggi.

KOMPAS.com – Banjir bandang menerjang beberapa wilayah di Sukabumi, Jawa Barat, Senin (21/9/2020) sekitar pukul 17.00 WIB.

Peristiwa tersebut terjadi saat sejumlah daerah di Sukabumi diguyur hujan dengan intensitas tinggi beberapa jam. Hingga Selasa (22/9/2020), setidaknya 11 desa dan 11 kampung yang terdampak.

Masing-masing yakni, Kecamatan Cicurug meliputi Desa Cisaat (Kampung Cipari), Pasawahan (Cibuntu), Cicurug (Aspol), Mekarsari (Kampung Nyangkowek dan Kampung Lio) dan Bangbayang (Perum Setia Budi).

Kecamatan Parungkuda meliputi Desa Langensari (Kampung Bojong Astana) dan Kompa (Bantar).

Kecamatan Cidahu yakni Desa Babakanpari (Kamping Bojong Astana), Podokkaso Tengah (Bantar), Jayabakti (Cibojong) dan Cidahu.

Selain itu, 133 kepala keluarga (KK) atau 431 jiwa terdampak banjir bandang.

Sejumlah warga mengungsi ke tempat saudara dan tetangga terdekat.

Sementara itu, kerusakan akibat banjir bandang mencakup rumah rusak berat 47 unit, rusak sedang 41 dan rusak ringan 45.

Secara umum, wilayah Indonesia belum memasuki musim penghujan.

Lantas, mengapa banjir bandang bisa terjadi ketika belum masuk musim penghujan?

Potensi hujan tidak selalu saat musim penghujan

Kepala Subbid Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Agie Wandala Putra mengatakan, potensi hujan lebat tidak semata terjadi pada periode musim hujan.

Dan hal itu, lanjut Agie, perlu diedukasikan kepada masyarakat.

“Termasuks saat ini ketika kita baru memasuki masa peralihan sudah terdapat energi atsmofer yang cukup besar yang dapat membuat hujan memiliki intensitas tinggi,” kata Agie saat dihubungi Kompas.com, Rabu (23/9/2020).

Agie menambahkan, itu menunjukkan betapa uniknya wilayah Indonesia yang berada benua maritim tropis dan melimpahnya curah hujan tetapi perlu juga memahami behaviour hujan ekstrem.

Jika ditinjau dari analisis meteorologi, hujan lebat yang terjadi pada Senin, 21 September 2020 sore hingga Selasa, 22 September 2020 dini hari, terjadi karena beberapa faktor.

Faktor-faktor

istimewa Sejumlah desa di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat terendam banjir. Banjir membuat beberapa akses jalan terputus dan sejumlah lokasi terisolir. Ratusan warga juga telah mengungsi ke daratan yang lebih tinggi.

Pertama, terpantaunya gangguan gelombang ekuator.

“Yakni gelombang Equatoria Rossby di Jawa bagian Barat yang mampu meningkatkan proses pembentukan awan di wilayah Banten, Jawa Barat dan Jabodetabek,” ucap Agie.

Kedua, adanya anomali suhu muka laut atau peningkatan suhu muka laut dibandingkan dengan normalnya.

Hal ini terjadi di perairan Selatan Banten-Jawa Barat yang memberikan suplai uap air untuk pembentukan awan-awan hujan di wilayah Jawa Bagian Barat, khususnya di Jabodetabek.

Ketiga, terpantaunya pola pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi).

“Faktor ketiga terjadi di Jawa Barat yang meningkatkan proses pembentukan awan hujan khususnya di Jabodetabek,” katanya lagi.

Terakhir, atmosfer yang labil di Jawa bagian Barat yang dapat mengintensifkan proses pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek.

Hal-hal tersebut, kata Agie, mengakibatkan terjadi hujan dengan intensitas curah hujan dan volumnya sangat tinggi dan dalam periode singkat.

“Ini yang berkaitan sebagai pemicu banjir bandang, meskipun kita harus lihat bagaiman kondisi permukaan tanah apakah mampu menampung jumlah curah hujan tersebut atau tidak. Seperti yang terjadi di Sukabumi,” jelasnya.

Banjir Bandang Sukabumi, Status Darurat Ditetapkan 7 Hari

Sejumlah relawan gabungan mengevakuasi material kayu yang terbawa pasca  banjir bandang di  Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (22/9/2020). Data sementara yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dampak akibat banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Cicurug, Senin (21/9), mengakibatkan 12 rumah hanyut dan 85 rumah terendam. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat pascabanjir bandang pada awal pekan ini. Status darurat akan berlangsung selama tujuh hari terhitung sejak 21-27 September 2020. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati mengatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Sukabumi bersama tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, dan dinas kabupaten terkait telah melakukan penanganan darurat. Tim gabungan ini juga mendirikan dapur umum untuk para korban banjir.

“Tim gabungan juga melaksanakan upaya darurat lainnya seperti pertolongan, penyelamatan, pencarian dan evakuasi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).

Raditya juga menjelaskan pembersihan banjir bandang telah dilakukan menggunakan cara manual dibantu dengan alat berat berupa dump truck untuk mengangkut material lumpur.

“Pemerintah daerah setempat mengerahkan dua unit, milik Dinas PU Kabupaten Sukabumi satu unit, dan Kodim 1 unit,” katanya.  

Hingga Selasa (22/9), BNPB mencatat ada tiga kecamatan terdampak banjir dengan 11 desa dan 11 kampung. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Cicurug, Kecamatan Parungkuda, dan Kecamatan Cidahu.

Di Kecamatan Cicurug ada lima desa dan lima kampung terdampak banjir, meliputi Desa Cisaat (Kampung Cipari), Pasawahan (Cibuntu), Cicurug (Aspol), Mekarsari (Kp. Nyangkowek dan Kp. Lio) dan Bangbayang (Perumahan Setia Budi).

Lalu di Kecamatan Parungkuda dua desa dan dua kampung terdampak, meliputi Desa Langensari (Kampung Bojong Astana) dan Kompa (Bantar).

Di Kecamatan Cidahu tercatat empat desa dan empat kampung terdampak, antara lain Desa Babakanpari (Kamping Bojong astana), Podokkaso Tengah (Bantar), Jayabakti (Cibojong) dan Cidahu. 

Sementara total keluarga terdampak berjumlah 133 Kartu Keluarga atau 431 jiwa, sejumlah warga juga diketahui mengungsi ke saudara dan tetangga terdekat.

Catatan kerusakan akibat banjir bandang mencakup rumah rusak berat (RB) 47 unit, rusak sedang (RS) 41, rusak ringan (RR) 45, jembatan RB 5 dan TPT 1.

Rumah RB di Kecamatan Cicurug sebanyak 36 unit, Cidahu 10 dan Parungkuda 1, sedangkan rumah RS di Kecamatan Cicurug 34 unit dan Cidahu 7 unit.   

Sebelumnya

terjadi pada Senin (21/9) pukul 17.00 WIB. Banjir terjadi karena intensitas hujan tinggi dan Sungai Citarik-Cipeuncit meluap.

Akibat banjir bandang, tiga warga dilaporkan hilang terseret arus banjir. Dua diantaranya ditemukan tim gabungan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu lainnya masih dalam pencarian. Tim gabungan telah menyusun rencana lanjutan untuk mencari korban hilang dengan membentuk 12 tim dan perluasan titik pencarian.

Untuk hari ini Rabu (23/9), Raditya mengatakan BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca wilayah Provinsi Jawa Barat masih berpotensi hujan dengan disertai kilat atau petir dan angin kencang. 

“Masyarakat diimbau selalu waspada terhadap potensi bahaya hidrometeorologi seperti angin kencang atau angin puting beliung, banjir, banjir bandang dan tanah longsor,” kata Raditya.