Anies Minta Peringatan Dini Disiarkan Satu Hari Sebelum Banjir Datang

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Ingub Nomor 52 Tahun 2020 tentang Percepatan Peningkatan Sistem Pengendalian Banjir di Era Perubahan Iklim. Di Ingub tersebut Anies minta peringatan dini disiarkan sebelum banjir datang.

“Membangun sistem deteksi dan peringatan dini kebijakan banjir serta sistem penanggulangan bencana banjir yang antisipasif, prediktif, cerdas, dan terpadu,” tulis Anies dalam ingub tersebut, seperti dilihat detikcom, Rabu (23/9/2020).

Dalam hal penanggulangan banjir, Anies meminta Pemprov DKI memberikan deteksi dan peringatan dini. Peringatan dini harus diberikan selambatnya 1 hari sebelum banjir.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dibantu oleh Dinas Sumber Daya Air, dan Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik menyusun sistem deteksi dan peringatan dini kejadian banjir, yang dapat dimonitor secara daring serta dapat memprediksi dan mengumumkan potensi kebanjiran selambat-lambatnya 1 hari sebelum kejadian, dengan target September 2020,” ujar Anies.

Seperti diketahui, Anies Baswedan ingin meningkatkan sistem pengendalian banjir dengan mengeluarkan ingub tersebut. Dalam ingub tersebut, Anies menulis terjadi peningkatan intensitas hujan akibat perubahan iklim. Maka perlu percepatan peningkatan sistem pengendalian banjir.

“Diperlukan percepatan peningkatan sistem pengendalian banjir yang responsif, adaptif, dan memiliki resiliensi atas risiko banjir yang dihadapi saat ini, dan di masa yang akan datang, baik dari segi peningkatan infrastruktur fisik maupun infrastruktur sosial,” ujar Anies dalam ingub tersebut.

Waspadai, Ternyata Covid-19 Menyebar Lebih Mudah dari yang Dikira

KOMPAS.com – Sejak masa awal pandemi Covid-19 merebak, salah satu perdebatan yang kerap muncul adalah kemungkinan virus corona menyebar lewat udara atau tidak.

Dalam laporan resmi yang diunggah pada awal Juli lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan virus corona memang bisa menyebar melalui udara.

Namun, masih banyak pihak yang meragukan kesimpulan tersebut.

Nah, belum lama ini, laporan WHO yang menyatakan kemungkinan penyebaran virus corona lewat udara juga didukung oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Di situs resminya, CDC menyebutkan virus corona dapat menyebar melalui tetesan liur (droplet) atau partikel kecil yang diproduksi seseorang saat bernapas.

“Virus di udara, termasuk Covid-19 paling menular dan mudah menyebar,” demikian penjelasan dalam situs CDC.

Sebelum panduan itu diperbarui, CDC menyatakan, Covid-19 diperkirakan menyebar saat seseorang berada dalam jarak dekat dengan orang lain, sekitar dua meter.

CDC juga menyebutkan, Covid-19 bisa menyebar lewat tetesan pernapasan saat seseorang yang terinfeksi virus berbicara dan mengalami batuk atau bersin.

Penjelasan di laman tersebut diperbarui pada Jumat (18/9/2020).

Covid-19 menyebar lewat tetesan pernapasan atau partikel kecil seperti aerosol yang dihasilkan saat seseorang yang terinfeksi virus batuk, bersin, bernyanyi, berbicara, atau bernapas.”

Partikel tersebut dapat memicu infeksi ketika terhirup oleh hidung, mulut, saluran udara, dan paru-paru.

“Ini dianggap sebagai cara utama penyebaran virus,” demikian penjelasan yang tertulis.

Laman CDC pun menambahkan, ada bukti tetesan pernapasan dan partikel bisa bertahan di udara dan terhirup orang lain, serta menyebar lebih dari jarak dua meter.

“Secara umum, ruangan tertutup tanpa ventilasi yang baik meningkatkan risiko ini.”

Dengan penjelasan itu, CDC lalu memperbarui pedoman untuk melindungi diri dan orang lain.

Sebelumnya, mereka menyarankan setiap orang agar menjaga jarak fisik sekitar dua meter, mencuci tangan, rutin membersihkan, dan mendisinfeksi permukaan, serta menggunakan masker saat berada di sekitar orang lain.

Saat ini, pembaruan pedoman menyebutkan agar setiap orang menjaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain apabila memungkinkan. 

Lalu, meminta orang untuk memakai masker serta membersihkan dan mendisinfeksi permukaan.

Selengkapnya

Prediksi Bill Gates & WHO Kapan Corona Berakhir di Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia – Warga dunia terus mempertanyakan kapan pandemi Covid-19 berakhir dan hidup normal. Bill Gates dan World Health Organization (WHO) mencoba memprediksinya.

Pendiri Microsoft Bill Gates virus Covid-19 berakhir dan hidup normal pada 2021. Ada dua hal yang mendasari prediksi ini. Yakni, vaksin corona sudah ditemukan dan corona yang tak mampu bertahan di bumi selamanya.

“Jika persetujuan vaksin akan datang di awal 2021 … maka pada musim panas mendatang AS akan mulai normal kembali. Dan, pada akhir tahun, aktivitas kita bisa dibilang normal,” ujarnya dikutip dari Fox News, Selasa (22/9/2020).

Ia pun menambahkan akhir terbaik kasus mungkin ada di 2022. Tapi ia tetap optimis di 2021 angkanya akan terus menurun signifikan.

Bagi WHO hidup normal akan terjadi pada 2022. Chief Scientist WHO Soumya Swaminathan mengatakan kendala yang dihadapi saat ini ketersediaan vaksin. Asosiasi vaksin yang mengumpulkan vaksin dan menyalurkannya ke negara-negara secara adil, Covax WHO, hanya bisa menyediakan ratusan juta hingga pertengahan tahun depan.

“Orang membayangkannya di bulan Januari Anda memiliki vaksin untuk seluruh dunia dan semuanya akan mulai kembali normal. Bukan begitu cara kerjanya,” katanya dikutip dari South China Morning Post.

Ia pun menilai, pertengahan 2021 adalah waktu yang realistis bagi vaksin siap pakai. Soalnya, awal 2021 adalah masa dunia melihat apakah uji coba yang dilakukan produsen vaksin sukses atau tidak.

“Semua uji coba yang sedang berlangsung, memiliki tindak lanjut selama setidaknya 12 bulan, jika tidak lebih lama,” katanya.

Produksi VaksinFoto: Produksi Vaksin dalam kondisi normal (Ist)

“Itu adalah waktu yang biasa Anda lihat untuk memastikan Anda tidak mengalami efek samping jangka panjang setelah beberapa minggu pertama.”

CEO Serum Institute of India Adar Poornawalla mengatakan Covid-19 bisa mengancam manusia hingga 2024. Masalahnya ketersediaan vaksin bagi seluruh warga dunia.

Adar Poornawalla mengatakan perusahaan farmasi belum meningkatkan kapasitas produksi untuk memvaksinasi penduduk dunia secara cepat. Ia menghitung jika vaksin Covid-19 butuh 2 dosis per orang dibutuhkan 15 miliar vaksin.

“Ini akan memakan waktu empat hingga lima tahun sampai semua orang di planet ini mendapat vaksin,” ujarnya kepada Financial Times.

Serum Institute of India merupakan salah satu pembuat vaksin terbesar di dunia, perusahaan memproduksi 1,5 miliar dosis vaksin per tahun untuk digunakan di lebih dari 170 negara guna melindungi penduduk dari penyakit menular seperti polio, campak, dan influenza.

9 Pedagang Positif Covid-19 dan 2 Meninggal, 2 Pasar di Pati Ditutup Total

Liputan6.com, Pati – Pasar Kayen dan Pasar Bulumanis, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ditutup total sementara. Sebab, di dua pasar tersebut diketahui terdapat sembilan orang pedagang terkonfirmasi positif Covid-19 dan dua orang meninggal dunia.

Bupati Pati, Haryanto mengatakan, kedua pasar ditutup selama tiga hari, yakni tanggal 19-21 September 2020. Selama itu, dilakukan sterilisasi dan disemprot disinfektan untuk mengantisipasi agar persebaran virus Corona di lingkungan pasar tidak semakin meluas.

“Pasar kami tutup sementara karena terdapat dua orang yang meninggal dunia. Mereka pedagang kecambah yang menempati los pasar,” ujar Haryanto saat ditemui sejumlah awak media, Minggu (20/9/2020).

Haryanto menyebut, dua orang pedagang yang meninggal berusia diatas 60 tahun. Berasal dari Pasar Kayen yang hasil swabnya belum keluar. Adanya hal itu, pihaknya juga melakukan penelusuran kontak erat ke keluarga dan kerabat dari kedua pedagang tersebut.

“Kami telah melakukan rapid test ke pedagang yang lainnya. Sebanyak 85 orang di rapid test, 20 di antaranya reaktif,” katanya

Lebih lanjut, Haryanto menyampaikan, dari 20 yang reaktif itu akan di tes swab hari Senin.

“Karena hotel Kencana penuh, mereka kami minta untuk isolasi mandiri dulu sambil menunggu perkembangan,” katanya.

20 Pedagang Reaktif

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati yang diwakili Kepala Bidang Pasar, BJ Ishrony menyampaikan, Pasar Bulumanis juga ditutup sebagai tindak lanjut adanya dua pedagang pasar Kayen yang meninggal dunia.

Ishrony membeberkan, 120 pedagang pasar Bulumanis telah mengikuti rapid test massal di UPTD Margoyoso I. Hasilnya, 20 pedagang reaktif rapid test dan setelah di test swab terdapat sembilan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Langkah cepat Pemkab itu menindaklanjuti adanya informasi seorang pedagang yang sakit. Diduga karena terpapar Covid-19,” kata Ishrony.

Diketahui, pada Selasa (1/9/2020) hingga Rabu (2/9/2020) lalu pasar Bulumanis juga telah ditutup karena adanya pedagang yang reaktif usai mengikuti rapid test massal.

Klaster Penyebaran Covid-19 Meluas di Pesantren Kendal

KENDAL, AYOSEMARANG.COM — Setelah ada klaster pusat perkantoran, pelayanan publik, pasar tradisional dan pertokoan kini klaster-klaster baru penularan covid-19 di Kendal meluas. Kini muncul klaster di pondok pesantren, rumah makan dan yang terkecil di lingkungan rumah tangga.

“Ini yang menjadikan angka positif covid 19 terus meningkat, ada klaster-klaster baru penularan covid. Mulai dari rumah makan, warung hingga pondok pesantren. Bahkan dilingkungan rumah tangga juga kini menjadi klaster baru,” jelas Sekda Kendal Moh Toha saat memberikan keterangan Senin (21/09/2020).

Sekda menjelaskan ada dua pondok pesantren di Kendal yang sudah menjadi klaster penyebaran, yakni pondok pesantren di wilayah Patean dan Kendal. 

“Bahkan di salah satu pesantren jumlah yang terpapar positif covid mencapai 14 orang. Kita akan meminta keterangan dari pengasuh pondok pesantren, apakan akan tetap melaksanakan pendidikan tatap muka atau menghentikan dan mengembalikan santri ke rumah masing-masing,” imbuhnya.

Penyebaran covid-19 di Kabupaten Kendal dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan. Bila dalam satu hari rata-rata 10 warga yang terpapar, tetapi sekarang meningkat menjadi 20 orang dalam satu hari yang dinyatakan positif.  

Toha menambahkan, perkembangan penyebaran korona di Kabupaten Kendal terus meningkat. Hingga kemarin jumlah yang terpapar korona 768 orang dan meninggal 47 orang. 

“Kondisi itu sangat mengkhawatirkan. Jika dibuat persentase angkanya antara lima hingga enam persen,” tambahnya. 

Pemkab Kendal, lanjutnya, telah melaksanakan penegakan bagi warga yang abai menerapkan protokol kesehatan, seperti tidak menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Mereka yang melanggar diberi sanksi sosial seperti membersihkan sampah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya.

“Kami juga memberlakukan denda administrasi sebesar Rp20 ribu. Hal itu sesuai dengan Perbup Nomor 67 Tahun 2020,” terang Toha. 

Menurutnya, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, kesadaran warga dalam penerapan protokol kesehatan perlu ditingkatkan. Tempat-tempat yang bisa menimbulkan klaster baru penyebaran korona, seperti pasar yang beraktifitas tanpa menggunakan masker akan diperingatkan. 

“Kami berencana menaikkan denda minimal Rp50 ribu dan batas tertinggi sesuai Peraturan Bupati Nomor 67 Tahun 2020. Kami akan memberlakukan penegasan jam malam. Sudah disepakati jam malam maksimal pukul 21.30,” tegasnya.

Tim gugus sendiri nantinya akan berubah menjadi satuan tugas berdasarkan surat edaran Mendagri, satuan tugas ini akan dibuat hingga tingkat desa. Untuk menekan angka positif covid pemerintah juga berencana melaksanakan penegasan jam malam, yang akan diatur surat edaran bupati. Jam malam nanti diberlakukan dengan maksimal warga keluar dan berkerumun di tempat umum hingga pukul 21.30 WIB

“Kita juga akan memberikan informasi kepada masyarakat terkait  jumlah kasus terpapar covid agar masyarakat tahu. Nantinya akan dipasang papan informasi disejumlah titik agar masyarakat tidak menyepelekan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Pemerintah Berencana Ubah Definisi Angka Kematian Akibat Covid-19

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah berupaya mengubah definisi angka kematian akibat Covid-19 menjadi hanya akibat virus Corona dan mencoret akibat penyakit penyerta. Soal penyempitan makna tersebut diungkap dalam penjelasan Kementerian Kesehatan pada laman Kemenkes.go.id pada Kamis 17 September 2020.

“Penurunan angka kematian harus kita definisikan dengan benar, meninggal karena Covid-19 atau karena adanya penyakit penyerta sesuai dengan panduan dari WHO,” kata Staf Ahli Kementerian Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Muhammad Subuh seperti dikutip dari Koran Tempo yang terbit hari ini, Senin 21 September 2020.

Ia mengatakan hal tersebut setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa di Gedung Grahadi pada Kamis 17 September 2020. Saat itu, Subur menjelaskan kedatangannya ke Surabaya untuk membantu daerah menekan laju kasus Covid-19. Saat ini ada 9 provinsi jadi fokus pemerintah untuk menekan kasus Covid-19. Ketika Tempo meminta konfirmasi ke Subuh soal penjelasan tersebut, ia belum menjawabnya.

Sebenarnya, wacana penyempitan penafsiran kematian Covid-19 ini mengemuka dalam rapat koordinasi penanganan pandemi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dengan kepala daerah di 9 provinsi. Di rapat itu, Khofifah meminta Kementerian kesehatan memperjelas hitung-hitungan angka kematian.

“Saya ingin memberikan acuan baku mengenai format penghitungan angka kematian. Apakah dihitung dengan Covid atau kematian dengan Covid,” katanya.

Khofifah mengelak ketika dimintai klarifikasi soal redefinisi tersebut. “Boleh tahu suratnya? Boleh tahu kopi suratnya,” katanya, Ahad 20 September.

Tulisan lengkapnya bisa dibaca di Koran Tempo hari ini.

WHO Tetapkan Protokol Uji Coba Obat Herbal Covid-19

Jakarta, CNN Indonesia — Organisasi Kesehatan Dunia mengesahkan protokol untuk menguji obat-obatan herbal Afrika sebagai pengobatan potensial untuk virus corona dan epidemi lainnya.

Hal ini menyusul adanya tawaran presiden Madagaskar untuk mempromosikan minuman berbasis artemisia, tanaman dengan khasiat yang terbukti dalam pengobatan malaria.

Artemisia disebut juga mugwort atau artemisinin. Mengutip Hello Sehat, komponen utama dari Artemisia annua adalah senyawa yang disebut artemisinin.

Artemisinin tersusun dari ikatan karbon, hidrogen, dan oksigen yang mampu berinteraksi dengan berbagai fungsi tubuh dan reaksi kimia di dalamnya. Atemisia ini disebut ampuh mengobati malaria , infeksi parasit, penyakit gusi, radang sendi, sampai risiko kanker.

Pada hari Sabtu, para ahli WHO dan dua organisasi lain “mengesahkan protokol untuk uji klinis pengobatan herbal fase III untuk Covid-19 serta piagam dan kerangka acuan untuk pembentukan data dan badan pemantauan keamanan untuk klinis pengobatan herbal. pengadilan, “kata sebuah pernyataan dikutip dari AFP.

“Uji klinis Tahap III sangat penting dalam menilai sepenuhnya keamanan dan kemanjuran produk medis baru,” katanya.

“Jika suatu produk obat tradisional ditemukan aman, berkhasiat dan terjamin kualitasnya, WHO akan merekomendasikan (itu) untuk manufaktur lokal skala besar yang dapat dilacak dengan cepat,” Prosper Tumusiime, direktur regional WHO.

Dia tidak merujuk secara spesifik pada minuman Madagaskar Covid-Organics, juga disebut CVO, yang Presiden Andry Rajoelina anggap sebagai obat untuk virus tersebut.

Telah didistribusikan secara luas di Madagaskar dan dijual ke beberapa negara lain, terutama di Afrika.

Pada bulan Mei, Direktur WHO Afrika Matshidiso Moeti mengatakan kepada media bahwa pemerintah Afrika telah berkomitmen pada tahun 2000 untuk menggunakan “terapi tradisional” melalui uji klinis yang sama seperti pengobatan lainnya.

“Saya dapat memahami kebutuhan, dorongan untuk menemukan sesuatu yang dapat membantu,” kata Moeti.

“Tapi kami sangat ingin mendorong proses ilmiah di mana pemerintah sendiri membuat komitmen.”

Sampai saat ini sudah banyak jenis obat-obatan herbal yang diklaim ampuh untuk menyembuhkan Covid-19. Hanya saja masih butuh penelitian dan pengujian lebih lanjut terkait hal ini. 

Disclaimer: penelitian ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut dan mendalam sebelum bisa ditetapkan sebagai obat untuk mengatasi infeksi corona. WHO dan kemenkes hingga saat ini belum merekomendasikan obat tertentu untuk penyembuhan Covid-19.

Hotel Bintang 3 ke Bawah Jadi RS Corona

Jakarta – Pemerintah memastikan tidak ada keterbatasan kapasitas kesehatan untuk penanganan COVID-19. Kapasitas tempat tidur (bed) di rumah sakit akan terus ditambah karena dana yang dimiliki diklaim cukup.

“Pemerintah menegaskan bahwa tidak ada kapasitas kesehatan yang terbatas. Pemerintah sudah mempunyai dana yang cukup dan pemerintah akan terus menambah kapasitas bed sesuai dengan kebutuhan dan meyakinkan bahwa seluruh daerah termasuk DKI Jakarta kapasitas pelayanan kesehatan akan terus dimaksimalkan oleh pemerintah,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers yang disiarkan akun YouTube BNPB, Kamis (10/9/2020).

Selain tempat tidur, rumah sakit juga akan ditambah kapasitas jumlahnya. Hotel bintang 2 dan 3 akan dimanfaatkan menjadi rumah sakit yang menangani pasien Corona. Tambahan ruang isolasi mandiri juga akan disiapkan di Wisma Atlet Kemayoran.

“Jadi peningkatan rumah sakit dan fasilitas kesehatan itu juga akan terus menambah fasilitas di hotel, termasuk memanfaatkan hotel bintang 2 dan 3 seperti yang dicontohkan di Sulawesi Selatan dan juga mempersiapkan ruang isolasi mandiri di Wisma Atlet di mana Wisma Atlet juga mempersiapkan baik di tower 5-6 maupun yang khusus dari pekerja dari luar negeri itu adalah tower 7 dan 8,” ujarnya.

Sayangnya, Airlangga tidak menyebut berapa jumlah hotel yang akan dijadikan rumah sakit tambahan. Namun, dengan pemanfaatan itu diharapkan masyarakat dapat terfasilitasi dengan baik. Pemerintah juga menjamin pasokan obat-obatan tersedia. Klik halaman selanjutnya.

Airlangga mengatakan pemerintah sudah memproduksi obat antivirus untuk pasien yang terpapar COVID-19, baik yang di rumah sakit maupun yang menjalani isolasi mandiri.

“Terkait dengan ketersediaan obat-obatan baik untuk rumah sakit maupun untuk pasien isolasi mandiri, pemerintah sudah memproduksi obat antivirus,” ucapnya.

Dijelaskan obat tersebut antara lain seperti tamiflu atau oseltamivir, hingga favipiravir yang diproduksi melalui PT Bio Farma (Persero) bersama PT Kimia Farma Tbk yang jumlahnya dikatakan hampir 480.000.

“Seperti tamiflu atau oseltamivir itu minggu depan belum bertambah hampir 480.000. Kemudian juga yang terkait dengan favipiravir ini kebetulan patennnya sudah lepas sehingga juga akan diproduksi oleh Kimia Farma,” jelasnya.

DKI PSBB Total, Satgas Covid-19: Kita Harus Terima Kenyataan

Jakarta, CNBC Indonesia – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengomentari rencana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total di DKI Jakarta mulai Senin (14/9/2020). Menurut Wiku, penerapan PSBB total tidak terlepas dari peningkatan kasus konfirmasi positif Covid-19 selama pemberlakuan PSBB transisi.

Dalam keterangan pers dari Kantor Presiden, Jakarta, dia mengungkapkan, sebelum PSBB, kasus konfirmasi positif Covid-19 di ibu kota relatif masih rendah. Hal itu terlihat pada PSBB tahap I, II, dan II.

“Akan tetapi, ketika (PSBB) transisi kasusnya cenderung meningkat dari waktu ke waktu,” kata Wiku, Kamis (10/9/2020).

Ia menambahkan, selama lima pekan terakhir, lima kota di Jakarta tetap berada di zona merah. Hal itu menunjukkan kondisi dengan tingkat penularan yang tinggi sehingga diperlukan pengetatan.

“Dan kalau kita lihat dari kondisi tersebut mari kita jadikan ini adalah sarana pembelajaran kita bersama dan pembatasan aktivitas ini sudah seharusnya kita lakukan bersama sejak awal supaya bisa menekan kasus positif ini dan juga kematian dan tapi ternyata kondisi itu belum sempurna terjadi di beberapa waktu yang lalu,” kata Wiku.

“Dan kita harus menerima kenyataan ini dan kita harus mundur satu langkah untuk bisa melangkah kembali ke depan dengan lebih baik dalam kehidupan yang lebih normal. Maka dari itu mari kita bangun kedisplinan bersama jika kondisi ini tidak ingin terulang kembali.”

Satgas: 7 RS Rujukan Covid-19 di DKI Jakarta Sudah Penuh

JAKARTA, KOMPAS.com – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, semua tempat tidur di tujuh rumah sakit rujukan Covid-19 DKI Jakarta sudah terisi penuh. Data ini tercatat hingga 8 September 2020.

“7 Dari 67 rumah sakit rujukan Covid-19 penuh 100 persen. ICU dan isolasinya penuh 100 persen,” kata Wiku dalam konferensi pers dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (10/9/2020).

Sementara itu, tempat tidur ruang isolasi maupun ICU di 46 rumah sakit rumah sakit rujukan Covid-19 terisi di atas 60 persen. Sisanya, yakni 14 rumah sakit terisi di bawah 60 persen.

Untuk mengantisipasi penuhnya rumah sakit rujukan Covid-19 di ibu kota, pemerintah mempersiapkan ribuan tempat tidur di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran.

Namun, pasien yang didistribusikan ke RSD Wisma Atlet merupakan pasien Covid-19 dengan gejala sedang dan ringan.  

“Jumlah kamar yang ada (di RS Wisma Atlet) pada saat ini 2.700 tempat tidur dan terisi 1.600. Jadi masih ada 1.100 tempat tidur untuk perawatan pasien dengan status sedang dan ringan,” ujar dia.

Sampai hari ini, kasus Covid-19 di DKI Jakarta mencapai 50.671 orang. Dari jumlah tersebut, 38.228 sembuh, 1.351 meninggal dunia dan 11.092 orang sedang dirawat atau isolasi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk menarik rem darurat dan kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Anies menyebutkan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, yakni ketersediaan tempat tidur rumah sakit yang hampir penuh dan tingkat kematian yang tinggi. Dengan demikian, penerapan PSBB transisi di Jakarta pun dicabut dan PSBB kembali diterapkan pada 14 September.

“Tidak ada banyak pilihan bagi Jakarta, kecuali untuk menarik rem darurat sesegera mungkin,” ujar Anies dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube Pemprov DKI, Rabu (9/9/2020).