Dua Desa di Singkil Terkurung Banjir

Dua Desa di Singkil Terkurung Banjir

Dua desa itu, berada di daerah aliran sungai Singkil. Tempat menyatunya sungai-sungai dari kabupaten/ kota tetangga yang bermuara di laut Singkil. Desa Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, terisolasi lantaran akses jalan ke sana terendam banjir. Kendaraan roda dua dan empat sama sekali tidak bisa melintas. Akses masuk dua desa itu, hanya bisa melalui sungai menggunakan perahu. Dengan jarak tempuh, mencapai sejam lebih dari ibu kota Aceh Singkil.

Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL – Banjir menyebabkan penduduk dua desa di Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, terisolasi, Kamis (5/12/2019).

Masing-masing Desa Rantau Gedang dan Desa Teluk Rumbia.

Dua desa itu, berada di daerah aliran sungai Singkil.

Tempat menyatunya sungai-sungai dari kabupaten/ kota tetangga yang bermuara di laut Singkil.

Desa Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, terisolasi lantaran akses jalan ke sana terendam banjir.

Kendaraan roda dua dan empat sama sekali tidak bisa melintas.

Akses masuk dua desa itu, hanya bisa melalui sungai menggunakan perahu.

Dengan jarak tempuh, mencapai sejam lebih dari ibu kota Aceh Singkil.

“Banjir bertambah dalam dan besar,” kata Pukak Dragon penduduk Rantau Gedang melalui sambungan telepon.

Banjir menggenangi wilayah Aceh Singkil, sejak tiga hari lalu.

Sempat surut sebelum kembali naik tadi malam.

Banjir tersebut merendam ratusan rumah serta merusak fasilitas umum.

Diberitakan sebelumnya, hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Singkil, tidak hanya menyebabkan banjir.

Tetapi menyebabkan kerugian material.

Berupa rusaknya fasilitas umum dan milik warga.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil, Kamis (5/12/2019) kerugian akibat banjir menyebabkan jembatan serta rumah penduduk rusak.

Rinciannya jalan antar desa di daerah Cikala, Kecamatan Suro, tertimbun longsor.

Kemudian bangunan BUMDes di Desa Blok VI Baru Kecamatan Gunung Meriah, roboh.

Dampak kerugian material lainnya, kepala jembatan menuju Desa Lae Sipola, Kecamatan Singkohor amblas.

“Kendaraan roda empat tidak bisa lewat serta menghambat aktivitas masyarakat dan anak sekolah,” kata Kepala BPBD Aceh Singkil, Mohd Ichsan.

Banjir merendam wilayah Aceh Singkil, sejak tiga hari lalu.

Banjir sempat surut, sebelum kembali naik tadi malam.

Bahkan di Kecamatan Singkil, sebaran banjir meluas.

Selain meluas kedalaman banjir bertambah dalam.

Diberitakan sebelumnya, banjir yang merendam wilayah Aceh Singkil, meluas, Kamis (5/12/2019).

Di Kecamatan Singkil, banjir yang tadinya hanya merendam empat desa bertambah menjadi lima desa.

Masing-masing Desa Ujung Bawang, Pemuka, Pea Bumbung, Rantau Gedang dan Teluk Rumbia. 

Di Desa Pemuka banjir mulai masuk lewat tengah hari ini. Padahal paginya air belum masuk.

Sehingga banjir masuk ke lantai rumah. Padahal rumah penduduk sudah dibangun tinggi dari tanah. 

“Banjir sudah masuk ke rumah, ketinggiannya bertambah,” kata Mansur penduduk Pea Bumbung.

Meluasnya banjir di ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, tersebut lantaran air yang tadinya merendam wilayah hulu sungai sudah masuk. Sebab Singkil berada di muara sungai.

Sementara itu banjir di daerah hulu sungai seperti di Kecamatan Suro, sudah surut. Kecuali di Simpang Kanan dan Cingkam, Gunung Meriah, masih menggenang namun ketinggiannya berkurang. 

Banjir ibu kota Aceh Singkil ini merupakan kiriman dari daerah hulu sungai. Di Singkil sendiri sepanjang hari hujan tidak turun. (*)

Mahasiswa IPB teliti robot pendeteksi korban bencana

Bogor (ANTARA) – Mahasiswa IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Muhammad Harits Arrazi melakukan penelitian pendeteksian korban bencana alam melalui robot pencarian dan pertolongan.

“Deteksi korban bencana dilakukan melalui kamera infrared dengan fitur histogram of oriented gradients atau HOG untuk robot EPUCK v2″ kata Muhammad Harits Arrazi, Selasa, seperti dikutip dalam siaran pers IPB University.

Menurut Muhammad Harits, Indonesia adalah negara yang rentan terhadap bencana alam tanah longsor, yang bisa saja terjadi di pemukiman padat.

“Pencarian korban tanah longsor adalah hal yang sulit dan berisiko, sehingga diperlukan robot pendeteksi keberadaan korban bencana longsor,” katanya.

Guna mengurangi risiko pada pencarian korban bencana longsor, menurut dia, bisa digantikan dengan robot pencari dan pendeteksi korban. Harits menjelaskan, metode pendeteksian korban bencana pada robot pencarian, dengan metode thermal imaging menggunakan kamera infrared serta fitur HOG.

Mahaiswa yang dibimbing oleh Dr Karlisa Priandana dan Wulandari, MAgr Sc ini melakukan penelitian untuk mengembangkan model klasifikasi korban bencana longsor menggunakan fitur HOG dari data citra suhu untuk robot search and rescue menggunakan robot EPUCK v2.

Pada penelitian ini, Harits menambahkan prosesor Raspberry Pi ke robot untuk memperkuat kemampuan komputasi robot.

Menurut dia, aplikasi HOG merupakan fitur citra yang dapat merepresentasikan distribusi dan arah dari tepi gradien pada citra. “Ide dasar dari pemakaian HOG dalam pendeteksian manusia adalah penampilan dan bentuk obyek lokal seringkali dapat dikarakterisasi dengan baik oleh distribusi gradien intensitas lokal atau arah tepi,” katanya.

Bahkan, kata dia, tanpa pengetahuan yang tepat tentang posisi gradien atau tepi yang sesuai, penggunaan fitur HOG dipilih karena petunjuk shape-based yang dimilikinya lebih efisien.

Sementara E-PUCK v2 adalah robot beroda berukuran mini yang sudah memiliki berbagai fungsi dan sering digunakan sebagai robot untuk menguji algoritma swarm.

E-PUCK mempunyai kemampuan komputasi, sambungan inter-integrated circuit (I2C), serial peripheral interface (SPI), dan kapasitas penyimpanan yang terbatas. Penggunaan Raspberry Pi 3 digunakan untuk mengatasi masalah keterbatasan kemampuan komputasi tersebut.*

32 Orang Meninggal karena Bencana di Jabar Sepanjang 2019

32 Orang Meninggal  karena Bencana di Jabar Sepanjang 2019

Jakarta, CNN Indonesia — Sebanyak 32 orang meninggal dunia sepanjang bencana yang terjadi di Jawa Barat periode Januari-November 2019. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat dari total 1.740 kejadian bencana, tanah longsor mendominasi deretan bencana alam Jawa Barat sebanyak 478 kali.

“Khusus pada November ada 182 kejadian bencana. Mulai dari tanah longsor sebanyak 36 kejadian, kebakaran rumah (22), angin puting beliung (86), banjir (7), kebakaran hutan (30), dan satu gempa bumi,” ujar Kepala Seksi Kedaruratan Bencana BPBD Jawa Barat, Budi Budiman Wahyu di Bandung, Selasa (3/12).

Selain dominasi longsor, bencana kebakaran bangunan terjadi sebanyak 357 kejadian sepanjang 2019. Angin beliung 368 kejadian, banjir 138 kejadian, kebakaran hutan dan lahan 385 kejadian dan gempa bumi 14 kejadian.

Budi menambahkan, dari bencana alam tersebut juga mengakibatkan 93.076 warga terdampak dari total 20.870 rumah terdampak. Adapun rincian rumah terdampak yaitu sebanyak 15.159 unit rumah terendam, 818 rusak berat, 2.130 rusak sedang dan 2.763 rusak ringan.

Kepala Pelaksana BPBD Jabar Supriyatno mengatakan ancaman bencana tanah bergerak atau longsor masih mendominasi angka musibah yang ada di Jawa Barat, terutama pada musim penghujan seperti saat ini. Pihaknya mencatat, ada 3.000 titik rawan bencana pergerakan tanah yang tersebar di 27 kabupaten dan kota.

“Titik rawan berada di Jawa Barat bagian selatan dan tengah,” kata Supriyatno.

Menurut Supriyatno, potensi longsor di wilayah Jabar tengah dan selatan sangat besar mengingat tanah yang merekah selama musim kemarau akan sangat berbahaya saat menyerap guyuran air hujan.

Pihaknya memastikan siap melakukan penanggulangan bencana di wilayah yang terdampak bencana. Bahkan, persiapan sarana prasarana dinilainya sudah dalam keadaan siaga.

“Kami di dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi,” ujarnya.

Mahasiswa ITS Rumuskan Pengurangan Risiko Bencana Pembangunan Pabrik

Liputan6.com, Surabaya – Saat membangun, termasuk pembangunan industri, tentu penting untuk mempertimbangkan berbagai aspek agar bisa meminimalkan dampak buruk yang mungkin terjadi. 

Hal itulah yang menginspirasi dua mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk merumuskan rekomendasi pengurangan dampak bencana dari ada pembangunan unit produksi karbon disulfida (CS2) melalui upaya preventif, mitigasi, dan evakuasi.

Adalah Mabrur Zanata dan Amalia Sabrina, dua mahasiswa Teknik Kimia ITS yang merumuskan ide untuk memberikan rekomendasi tersebut. Mabrur menuturkan, CS2 merupakan salah satu senyawa yang penting dan banyak digunakan dalam industri. 

“Produk-produk manufaktur seperti karbon tetraklorida, kertas cellophane, kain rayon, hingga pupuk merupakan hasil olahan dari senyawa ini,” ujar dia, Rabu (27/11/2019).

Namun, di balik manfaatnya, lanjut Mabrur, senyawa tersebut bisa juga mengakibatkan bencana industri yang masif karena sifatnya yang beracun, mudah terbakar, mudah menguap, dan tidak berwarna.

Melihat banyaknya potensi bencana yang ditimbulkan dari senyawa ini, menurut Mabrur, perlu adanya peninjauan yang sangat mendalam sebelum akhirnya membangun unit produksi CS2. Analisis yang dilakukan ada tiga yaitu analisis dispersi, ledakan, dan kebakaran. Analisis dispersi dilakukan untuk menghitung konsentrasi senyawa yang menguap ke udara. 

Sedangkan analisis ledakan dan kebakaran dilakukan untuk memperkirakan potensi kerusakan ketika uap dari CS2 ini terkena panas yang dapat memicu ledakan dan kebakaran. 

“Ketiga analisis tersebut berguna untuk mengurangi kecelakaan kerja di dalam unit produksi dan meminimalkan dampak pada lingkungan di sekitar unit produksi CS2 yang baru,” ungkap mahasiswa angkatan 2016 ini.

Dalam analisisnya, Mabrur dan Amalia menggunakan software ALOHA untuk memodelkan analisis dispersi, ledakan, dan kebakaran dari unit produksi baru CS2 ini. 

ALOHA adalah program yang dapat memodelkan bencana yang sangat umum dipakai untuk merencanakan dan merumuskan strategi dalam menangani permasalahan oleh senyawa kimia.  ALOHA mampu mengestimasi seberapa uap beracun yang terdispersi dan juga skenario ledakan dan kebakaran yang mungkin terjadi.

Karena zat ini mudah menguap, Mabrur menuturkan, tentu daerah terdampaknya sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan mata anginnya. Sehingga pada analisis yang mereka lakukan, digunakan dua arah dan dua besaran kecepatan angin yang berbeda. 

“Kami memakai variabel arah mata angin yakni arah timur dan barat, serta kecepatan angin yang kami gunakan pada analisis yaitu sebesar dua dan lima meter per detik,” ungkap mahasiswa asal Bogor ini.

Dengan memperkirakan kemungkinan paling buruk, ungkap Mabrur, ditemukan daerah sekitar pembangunan unit produksi CS2 baru ini dikategorikan sebagai red zone atau sangat berpotensi terkena dampak dispersi, ledakan, dan kebakaran. 

Hal ini disebabkan karena daerah sekitar unit produksi CS2 berpotensi terkena dispersi dengan konsentrasi sebesar 500 ppm, potensi ledakan mencapai 85.000 pascal, dan radiasi panas mencapai 10 kilowatt per meter persegi. Hasil analisis tersebut kemudian dimasukkan ke dalam software MARPLOT untuk divisualisasikan dalam bentuk peta.

“Hal ini berarti kemungkinan terburuk yang dapat terjadi akibat pembangunan unit produksi CS2 adalah kualitas udara sangat tidak sehat bagi manusia, dan jika terkena panas akan menyebabkan ledakan yang masif dan bahkan mampu meluluhlantakkan daerah sekitar unit produksi CS2,” beber mahasiswa ITS ini.

Setelah mengetahui potensi kerusakan yang ditimbulkan, Mabrur dan Amalia merumuskan tiga upaya untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi. Yang pertama ada tindak preventif berupa pembangunan sistem keamanan berlapis.

Sistem ini mencakup dari desain proses yang lebih aman, desain peralatan kontrol, sistem alarm, emergency shutdown, dan proteksi fisik. Sedangkan pada tindak mitigasi yang direkomendasikan adalah pembuatan tanggul untuk memperkecil luasan tumpahan guna memperkecil laju penguapan. 

Sedangkan untuk tindak evakuasi, perlu direncanakan jalur evakuasi dan titik kumpul yang ada di setiap arah mata angin di dalam unit produksi CS2.

“Selain itu perlu adanya kerja sama dengan pemerintah untuk pembuatan regulasi mengenai titik evakuasi untuk masyarakat yang tinggal di daerah permukiman,” tutur Mabrur.

Atas rekomendasi yang mereka rumuskan tersebut, Mabrur dan Amalia juga telah berhasil meraih juara ketiga pada kompetisi paper internasional yakni Safety Competition (Safecom) 2019 di Universitas Gadjah Mada (UGM), 14-16 November. 

Besar harapan Mabrur untuk dapat menyempurnakan paper karyanya ini agar dapat menjadi solusi yang komprehensif dan dapat menjadi acuan dalam setiap pembangunan unit produksi industri.

Ajang Safecom sendiri merupakan kompetisi yang berbasis kompetensi teknik kimia dan terkait keamanan dan keselamatan di dunia industri. Dalam penyelenggaraan kali ketujuh tersebut, Safecom menantang para mahasiswa untuk menganalisis dampak dan memberi rekomendasi terkait kasus pembangunan unit produksi CS2 yang berada di dekat daerah permukiman.

Masyarakat Gowa Waspada Bencana Banjir Bandang

Banjir Bandang di Gowa Awal Tahun 2019 Lalu

Masyarakat Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sul-Sel) diminta siap siaga dan mengambil langkah antisipsi jelang musim hujan. Hal ini dilakukan Pemkab Gowa dimana tahun sebelumnya terjadi bencana alam luar biasa di Gowa, tanah longsor di dataran tinggi dan banjir bandang disebagian dataran rendah menelan puluhan korban dan kerusakan infrastruktur, khususnya beberapa jembatan.

Imbauan itu dilakukan dengan mengeluarkan surat edaran yang diteken langsung Wakil Bupati Gowa, Abdul Rauf Mallaganni Karaeng Kio. Surat edaran ini adalah tindak lanjut dari imbauan Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan. Surat dengan nomor 360/031/BPBD juga meminta kepada pemerintah kecamatan untuk intens menyampaikan kepada masyarakat.

Wakil Bupati Gowa, Abd Rauf Malaganni meminta seluruh camat untuk memenindak lanjuti apa yang menjadi arahan Bupati Gowa. Termasuk pula rutin melakukan doa bersama pada kegiatan Jumat Ibadah yang mulai dilakukan hingga ke tingkat kecamatan.

Berdasarkan laporan BMKG curah hujan yang akan terjadi di wilayah Kabupaten Gowa agak ekstrim.

“Instruksi dari Bapak Bupati Gowa yaitu memerintahkan seluruh masyarakat khusus pada kegiatan Jumat Ibadah agar rutin berdoa agar dijauhkan dari bencana. Perlu adanya doa secara spiritual untuk meminta perlindungan dari Allah SWT,” ungkapnya, Rabu, 27 November 2019.

Selain imbauan, langkah antisipasi lainnya yakni dengan melakukan latihan mitigasi tim gabungan penanggulangan bencana. Dimana dalam tim itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bekerjasama Komando Resort Militer 141 Toddopuli, Kodam XIV Hasanuddin, tim gabungan TNI, Polri, Satpol PP, Basarnas, Tim Tanggap Bencana (Tagana) hingga Damkar.

Kepala BPBD Gowa Ikhsan Parawangsa menyebutkan, tim gabungan telah diberi bekal bagaimana pertahanan masyarakat dan kesiapannya saat terjadi bencana alam baik banjir maupun longsor. Apalagi di wilayah Kabupaten Gowa ini ada dua dataran rendah rawan bajir dari 18 kecamatan yang tersebar, di wilayah dataran rendah biasa terjadi banjir dan angin kencang, sementara di wilayah dataran tinggi terjadi longsor dan kebakaran hutan dan lahan.

Tak hanya tim gabungan, khusus di wilayah dataran tinggi, masyarakat mulai diberikan pelatihan jika terjadi bencana alam seperti longsor. Mulai dari memberikan pengetahuan tentang jalur evakuasi, titik kumpul, jalur pengungsian, cara membuat dapur umum dan lainnya.

Untuk potensi bencana seperti tahun sebelumnya kami tidak bisa memprediksi.

“Pengetahuan ini diberikan khususnya kepada masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana,” ujar Iksan.

Berdasarkan kondisi iklim yang dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa hujan di wilayah Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Gowa terjadi mulai November 2019 hingga Maret 2020. Untuk puncak terjadinya hujan yakni akhir November, Desember dan Januari 2020.

“Berdasarkan laporan BMKG curah hujan yang akan terjadi di wilayah Kabupaten Gowa agak ekstrim lagi sehingga memungkinkan untuk terjadinya banjir dan longsor,” tambah Iksan.

Meski begitu, dia tidak bisa memprediksi ancaman bencana. Pada tahun lalu, bendungan Bili-bili yang dimana memiliki luas waduk terbesar di Sul-Sel over kapasitas. Sehingga pintu pembuangan langsung dibuka dengan skala besar yang mengakibatkan sejumlah perumahan atau kompleks pemukiman didataran rendah mengalami banjir bandang. Tidak hanya itu sejumlah jembatan di aliran sungan Jenneberang juga putus.

“Untuk potensi bencana seperti tahun sebelumnya kami tidak bisa memprediksi. Itu menjadi ketentuan yang maha kuasa, hanya saja kita tetap mengantisipasi hal tersebut jika terjadi,” ujar Iksan. []

Ajak Keluarga Paham Potensi Bahaya Bencana, BNPB Gelar Kursus Online

Bencana Tanah Longsor. (Foto ilustrasi).

VIVA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengembangkan kursus yang terbuka untuk umum secara online yang dibuka pada 9 Desember 2019 sampai 12 Januari 2020 dengan kode BNPB 101.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan penyelenggaraan kursus online bertujuan untuk menjangkau publik secara luas dan cepat. Menurut dia, kursus ini tidak memungut biaya apapun bagi para peminat yang berdurasi waktu 1 jam per minggu.

Ia menjelaskan bencana adalah sebuah keniscayaan, sehingga setiap individu diharapkan selalu siap siaga dan terlatih dalam upaya-upaya keselamatan.

“Kesiapsiagaan tidak dapat terbentuk tanpa kita memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai potensi ancaman bahaya di sekitar kita,” kata Agus melalui keterangan tertulisnya pada Senin, 25 November 2019.

Menurut dia, keluarga siaga bencana atau KSB sangat bermanfaat untuk diketahui setiap individu karena merekalah yang terdekat dengan potensi ancaman bahaya. Mereka juga yang terlebih dahulu untuk merespons ancaman bahaya yang mungkin terjadi.

“Oleh karena itu, kesiapsiagaan individu atau setiap anggota keluarga menjadi signifikan. Ujung dari kesiapsiagan itu adalah keselamatan nyawa manusia,” katanya.

Agus menambahkan, gagasan keluarga siaga bencana (KSB) yang digelar melalui kursus online ini sejalan dengan program keluarga tangguh bencana (katana). Menurut dia, secara spesifik gagasan keluarga tangguh bencana memiliki tiga tahapan yaitu sadar risiko bencana ialah mengetahui dan sadar akan risiko bencana di lingkungannya.

“Pengetahuan yakni mengetahui dan memperkuat struktur bangunan paham manajemen bencana, edukasi bencana serta berdaya adalah mampu menyelamatkan diri sendiri keluarga dan tetangga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap setiap keluarga memiliki karakteristik ancaman bahaya yang berbeda-beda, seperti terkait dengan tempat tinggal. Kemudian, setiap keluarga memiliki bentuk maupun struktur tempat tinggal yang berbeda.

“Kalau pun sama, setiap keluarga mungkin akan menempatkan perabot yang beraneka ragam jenisnya dengan posisi yang beragam pula,” jelas dia.

Oleh karena itu, Agus mengatakan setiap keluarga diharapkan mampu untuk menganalisis dan mendiskusikan di antara mereka. Misalnya saat terjadi gempa bumi, anggota keluarga memahami jalur evakuasi atau upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan diri maupun anggota keluarga lain.

“Hal sederhana lain, misalnya setiap anggota mengetahui bagaimana harus mematikan aliran listrik atau mematikan kompor di rumah,” katanya.

Ia menambahkan, pemahaman setiap anggota terhadap potensi ancaman bahaya harus diberikan sejak dini, karena bencana tidak mengenal waktu dan usia.

“Kejadian ini bisa datang kapan saja dan apabila kita tidak siap siaga, keselamatan menjadi taruhan,” katanya.

Oleh karena itu, Agus mengatakan pemahaman khususnya bagi orang tua dan edukasi dini bagi anak-anak perlu diselenggarakan. BNPB memfasilitasi mereka, para orang tua, kaum remaja dan dewasa untuk belajar BNPB 101.

“Ini dapat dilihat sebagai investasi keselamatan diri dan anggota keluarga yang kita cintai sesuai yang diharapkan dalam KSB maupun katana,” katanya.

Hal tersebut wajar, apabila melihat data bencana BNPB hingga bulan November 2019, tercatat lebih dari 3.000 bencana terjadi dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur termasuk tempat tinggal.

“Jumlah korban jiwa akibat bencana bahkan mencapai angka lebih dari 400 jiwa dan kerusakan rumah dengan kategori rusak berat mencapai 14.957 unit,” tandasnya.

Bagi masyarakat yang minat untuk mengikuti kursus ini harus terlebih dahulu masuk ke tautan https://www.indonesiax.co.id/courses/course-v1:BadanNasionalPenanggulanganBencana+BNPB101+2019_Run4/about

BPBD Kota Sorong Lakukan Simulasi Tanggap Bencana Alam

<p”>Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong menggelar simulasi tanggap bencana alam, di halaman Kantor Wali Kota Sorong, Rabu (20/11). Simulasi bencana alam yang melibatkan pegawai dari tingkat kelurahan, distrik, SAR, BPS, BUMN, BUMD dan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dilakukan mengingat akhir-akhir ini di beberapa daerah di Indonesia sering terjadi bencana khususnya gempa.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sorong Taraice Karet mengatakan simulasi ini dilakukan agar semua instansi terkait dapat langsung tanggap jika terjadi bencana alam di Kota Sorong, misalnya gempa bumi.

“Kami mengundang pegawai distrik, lurah, OPD terkait, BUMN dan BUMD untuk mengikuti simulasi tanggap bencana yaitu seperti pemasangan tenda, penyaringan air bersih dan penggunaan alat komunikasi,” ungkapnya kepada Balleo News disela-sela kegiatan.

Menurutnya, pihaknya dalam waktu dekat akan menyiapkan sebuah tim yang tugasnya ketika ada bencana, mereka bisa langsung turun ke lapangan dan tahu apa yang harus mereka lakukan ketika terjadi bencana.

Dalam simulasi tersebut, kata Taraice, pihaknya juga mensimulasikan cara pengoperasian alat penyaringan air bersih. Dimana alat tersebut merupakan bantuan dari BNPB RI kepada BPBD Kota Sorong. “Dalam simulasi ini, kami mencontohkan cara penggunaan alat penyaringan air bersih. Karena ketika terjadi gempa, kualitas air juga otomatis akan berdampak, sehingga dengan adanya alat tersebut maka walaupun air kotor dapat diolah menjadi air bersih yang dapat langsung dikonsumsi atau diminum,” ujarnya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sorong berharap dengana danya simulasi, semua pihak terkait tahu tugasnya masing-masing dan apa yang harus mereka lakukan jika terjadi bencana.

Kepala BNPB: Gempa dan Tsunami Bencana yang Berulang

JAKARTA, KOMPAS.com – Bencana yang datang silih berganti di sejumlah wilayah Tanah Air sepanjang tahun ini, menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiap-siagaan dalam menghadapinya.

Sejumlah bencana, seperti gempa bumi dan tsunami, termasuk jenis bencana yang tak bisa diprediksi kedatangannya. Namun, dua bencana ini termasuk jenis bencana yang sifatnya memiliki periode pengulangan tertentu.

Sebagai contoh, gempa bumi bermagnitudo 7,1 yang terjadi di sebelah barat laut Jailolo, Maluku Utara pada 14 November lalu.

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada saat itu bahkan sempat menyatakan gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami.

“Ternyata gempa yang sama juga pernah terjadi lima tahun lalu di tempat yang relatif tidak terlalu jauh,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Doni Monardo saat bertandang ke Menara Kompas, Jakarta, Senin (18/11/2019) sore.

Memang, gempa ini tidak menimbulkan korban jiwa secara langsung. Hanya, ia mendapat laporan bahwa ada seseorang yang meninggal dunia akibat serangan jantung pascagempa.

Sementara itu, kerusakan bangunan yang terjadi dinilai juga tidak terlalu parah.

“Tapi masyarakat di pulau-pulau kecil mengalami trauma karena guncangan yang dirasakan kuat, dan frekuensinya cukup tinggi. Hingga tadi pagi (kemarin) tercatat terjadi 87 kali (gempa susulan),” kata dia.

Sejauh ini, ia menambahkan, sudah ada beberapa duta besar negara sahabat yang menemuinya menawarkan bantuan berupa teknologi pendeteksi bencana.

Namun, hingga kini belum ada satu pun teknologi di dunia yang bisa memprediksi kapan gempa dan tsunami akan terjadi.

Lebih jauh, ia mengatakan, meski kedua bencana itu termasuk ke dalam jenis bencana yang berulang, masyarakat juga tak perlu memiliki kekhawatiran berlebihan.

Ada sejumlah langkah dan upaya yang bisa dilakukan untuk ‘menghadapi’ bencana tersebut. Misalnya, dengan meningkatkan vegetasi di sepanjang garis pantai.

“Vegetasi di sepanjang pantai itu sudah mulai kelihatan hasilnya. Kombinasi pohon bakau dan cemara udang, tak hanya membantu mengurangi abrasi tetapi juga dampak tsunami,” ujarnya.

Tsunami yang disebut Doni sebagai mesin pembunuh nomor dua terkuat setelah bom atom, memiliki kecepatan hingga 700 kilometer per jam.

Keberadaan vegetasi tak hanya memungkinkan untuk mengurangi kecepatan air, tetapi juga dapat menjadi shelter perlindungan bagi manusia.

Vegetasi, imbuh Doni, juga diklaim lebih murah bila dibandingkan dengan harus membangun konstruksi pemecah ombak atau shelter perlindungan tertentu di pantai.

“Karena tidak ada satu pun benteng buatan manusia yang bisa menghadapi tsunami. Giant sea wall di Jepang itu, ketika selesai dibangun dan terjadi tsunami, bahkan korbannya melebihi prediksi sebelumnya,” ucapnya.

10 Titik Rawan Bencana di Tangsel

Ilustrasi - Medcom.id.

Tangerang: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan telah memetakan 10 wilayah rawan bencana memasuki musim hujan. Antisipasi dilakukan untuk bencana banjir, pergerakan tanah dan pohon tumbang.
 
“Terjadi penyusutan wilayah rawan bencana di Tangsel, sebelumnya 23 lokasi, saat ini tinggal 10 titik di tujuh kecamatan,” ucap Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Tangsel, Zulham Yunus, di Tangerang Selatan, Banten, Rabu, 20 November 2019.
 
Dia mengungkap 10 lokasi rawan bencana di antaranya di Kecamatan Pondok Aren yakni perumahan Pondok Maharta, Kampung Bulak dan Pondok Safari Indah. Kemudian di Kecamatan Pamulang, titik rawan bencana terdapat di Bukit Pamulang Indah dan Lembah Pinus.

“Sementara kasus di wilayah Ciputat Timur terjadi tembok rusak di Kampung Sawah, kemudian perumahan Pesona Serpong, Kademangan di Kecamatan Setu,” ucapnya.
 
Zulham mengaku berkurangnya titik bencana lantaran dibangunnya drainase baru, dan saluran air kembali berfungsi. Sedangkan, kata dia, untuk titik lokasi rawan longsor di Kampung Sengkol RT 06 RW 02 Muncul serta Kampung Koceak RT 04 RW 02, Keranggan, Kecamatan Setu.
 
“Antisipasi dari BPBD kita terus melakukan monitoring dan kita koordinasi bersama pihak-pihak seperti kelurahan kecamatan dan dinas terkait,” tandasnya.

Webinar Pasca Tsunami Aceh: Apa Dampaknya terhadap Kebijakan dan Kurikulum Bencana di Indonesia?

15th aceh 1

Peringatan 15 Tahun Bencana Tsunami Aceh (2004-2019)

Webinar Pasca Tsunami Aceh dan Launching EMT Specialized Cell Aceh:
Apa Dampaknya Terhadap Kebijakan Serta Kurikulum Bencana Di Indonesia?

Webinar di Yogyakarta, Aceh dan Palu
19 Desember 2019

 

{tab title=”TOR dan Materi” class=”red” align=”justify”}

Pokja Bencana FK – KMK UGM bekerjasama dengan FK Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh; FK Universitas Tadulako Palu dan Oceania Chapter World Association on Disaster and Emergency Medicine


Pengantar

Tsunami Aceh tahun 2004 menjadi titik balik kedukaan sekaligus pembelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Kejadian air laut yang naik ke daratan menjadi fenomena langka mengerikan yang tayang tidak hanya di televisi nasional tetapi juga internasional. Akibat gempa bumi di Samudra Hindia ini, setidaknya 14 negara terkena dampak tsunami besar dan Indonesia yang terparah.

Sejak saat itu, bangsa Indonesia seperti terbangun untuk berproses dalam penanggulangan bencana, belum lagi disusulnya banyak bencana alam seperti gempa bumi dan erupsi gunung api. Manajemen penanggulangan bencana terus melakukan perbaikan dari pusat hingga daerah. Disektor kesehatan misalnya, mulai bermunculan aturan, pedoman, dan pelatihan untuk bencana dan krisis kesehatan. Begitu juga dengan sektor Pendidikan, diantaranya bermunculan mata kuliah bencana di universitas, termasuk fakultas kedokteran dan kesehatan lainnya.

Bertolak dari pengalaman mengirimkan bantuan dan pendampingan untuk penanggulangan bencana tsunami Aceh di sektor kesehatan tahun 2004 hingga 2008 maka FK-KMK UGM sejak saat itu berkomitmen mengembangkan kurikulum bencana kesehatan untuk mahasiswa S1 di semua program studi dan S2, serta melakukan pendampingan perencanaan penanggulangan bencana untuk tingkat puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan. Pendekatan yang dilakukan menggunakan prinsip competency based, dukungan sistem kesehatan, serta berjejaring (dengan dinas, rumah sakit, puskesmas, universitas, dan alumni di daerah termasuk kementerian kesehatan dan AHS (Academic Health System) UGM). Beberapa Fakultas Kedokteran dan Kesehatan kemudian juga mengembangkan kurikulum bencana, diantaranya Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala, Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, dan lainnya.

Bersamaan dengan momentum Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh, Pokja Bencana FK-KMK UGM bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Universitas Syah Kuala, Universitas Tadulako, Universitas Mataram, dan Oceania Chapter World Association on Disaster and Emergency Medicine mengadakan diskusi tentang perkembangan penanggulangan dan kurikulum manajemen bencana kesehatan di Indonesia, serta launching EMT Specialized Cell Aceh. Harapannya, diskusi ini dapat menjadi wadah sharing antar universitas, publikasi, serta catatan pembelajaran kedepannya

Tujuan

  1. Memperingati 15 tahun bencana tsunami Aceh (2004-2019)
  2. Menjelaskan perkembangan kebijakan dan penanganan manajemen bencana sektor kesehatan di Indonesia
  3. Relaunch buku keterlibatan UGM di bidang bencana kesehatan dan buku relawan kesehatan
  4. Launching EMT Specialize Cell Aceh
  5. Sharing kurikulum bencana kesehatan di Indonesia

Pembicara

  1. Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes
  2. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA)
  3. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD
  4. dr. Hendro Wartatmo, Sp.B(K)BD
  5. dr. Bella Donna, M.Kes
  6. Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep
  7. FK Universitas Syah Kuala Banda Aceh : Dr.dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT
  8. FK Universitas Tadulako Palu
  9. Dr. Penny Burns: on the role of general practitioners in disasters; how general practice has been engaged in disaster management in Australia, Oceania, and internationally; and her journey researching primary health care in disasters.

 Moderator:

  • Syahirul Alim PhD.
  • Madelina Ariani, MPH

Peserta

  • Dosen – dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
  • Konsultan dan tenaga ahlli dalam manajemen bencana di sector kesehatan
  • Mahasiswa S1 dan S2
  • Praktisi

Daftar Bacaan

  • Ariani, Madelina. (2019). When Disaster Strike. Diterbitkan di website Indonesia-Melbourne. https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/when-disaster-strikes/
  • Donna, Bella. Ariani, Madelina. (2019). Eartquake, Tsunami, and Liquefaction in Central Sulawesi, Indonesia: how well our disaster health management progress? Proceeding on World Congress on Disaster and Emergency Medicine. Supplement journal Prehospital and Disaster Medicine: 34(1) 2019.  https://doi.org/10.1017/S1049023X19001213
  • Policy brief. Ariani, Madelina. Donna, Bella. Challenges for Curriculum Development in Disaster Health Management. http://www.bencana-kesehatan.net/images/policy_brief/PB_1.pdf
  • Tiga Tahun Kegiatan RS Dr. Sardjito, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi UGM di ACEH. (2008). Fakultas Kedokteran bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM dan RS Dr. Sardjito Yogyakarta
  • Wartatmo, Hendro dkk. (2019). Relawan Kesehatan di Medan Bencana: Perjalanan Tim FK-KMK UGM/ RSUP Dr. Sardjito Membantu Korban Bencana (2004-2018)

 

Tempat dan Jadwal kegiatan

Hari/Tanggal   : Kamis, 19 Desember 2019
Waktu           : 08.00 – 12.30 WIB
Tempat         : FK-KMK UGM dan Webinar di Banda Aceh, Yogyakarta dan Palu

Rundown Kegiatan

Waktu Kegiatan Keterangan
08.00 – 08.30 Registrasi peserta dan persiapan webinar  

08.30 – 09.00

 

Sambutan dan pembukaan oleh:

          Rektor Universitas Syah Kuala

          Universitas Tadulako

          Dekan FK-KMK UGM FK-KMK UGM

 

Prof.Dr.Ir.Samsul Rizal, M.Eng

Dr. Golar, S. Hut, M. Si

Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., PhD., SpOG(K)

09.00 – 09.20

Pengantar:

          Mengenang Tsunami 15 tahun lalu oleh FK-KMK UGM

          Launching Buku-buku Bencana di Web

 

Field Commander dan PI Project recovery tsunami Aceh 2004-2008:

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

Dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD

09.20 – 09.30 Break
Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia.
09.30 – 10.30 Perkembangan penanggulangan bencana Indonesia dan Dunia pasca Tsunami Aceh

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA)

Materi

Perkembangan kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan di Indonesia pasca Tsunami Aceh.

Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan

Materi

Perkembangan ilmu manajemen klaster kesehatan saat bencana Pasca Tsunami Aceh.

dr. Bella Donna, M.Kes

https://doi.org/10.1017/S1049023X19001213

10.30 – 10.45 Launching EMT Specialized Cell Aceh sekaligus inaugurasi oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI FK Universitas Syah Kuala
Talkshow 2: Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan di Fakultas Kedokteran
10.45 – 12.00 Kurikulum bencana kesehatan di S1 dan S2 FK-KMK UGM

Dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD

Materi

Penggunaan kasus bencana untuk IPE pada program CFHC IPE di S1 FK-KMK UGM Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep
(Webinar) Kurikulum bencana di FK Universitas Syahkuala

FK Universitas Syiah kuala :

Dr.dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT

Materi

(Webinar) Kurikulum bencana di FK Universitas Tadulako FK Universitas Tadulako : dr. Muh. Ardi Munir, M.Kes., Sp.OT., M.Kes., FICS., M.H
12.00 – 12.30 (Webinar) The mission and vision of Ocenia Chapter WADEM

Dr. Penny Burns

Materi

12.30 – 13.00 Rumusan dan kesimpulan: 15 tahun Pasca Tsunami Aceh: Akan kemana system pendidikan dan riset kedokteran kita dalam manajemen bencena?

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

Materi

Narahubung

  Kepesertaan:
Dewi Catur
0818 263 653
[email protected]
      Konten:
Happy Pangaribuan
0853 5872 7172
[email protected]

{tab title=”Reportase” class=”green”}

 

Reportase Webinar

Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (2004  2019)


Kegiatan dimulai dengan sambutan oleh Prof. Dr. Ir. Marwan, Wakil Rektor 1 Universitas Syiah Kuala. Prof. Marwan menyampaikan bahwa kebencanaan menjadi isu penting sejak tsunami Aceh, sehingga kita sudah mulai menyadari mitigasi bencana ini penting. Universitas Syiah Kuala sudah mempunyai riset penelitian terkait kebencanan dan sudah menetapkan pendidikan bencana. Sambutan selanjutnya oleh dr. M. Ardi Munir, M.Kes, Sp.OT, FICS, MH Wakil Dekan Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. Dr. M. Ardi menekankan bahwa pada 2018 tsunami dan likuifikasi Sulawesi Tengah menjadi peringatan untuk masyarakat supaya lebih kuat dan lebih siap dalam menghadapi bencana. FK Untad mendukung pengembangan kurikulum dalam manajemen bencana. Sambutan terakhir oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K), PhD selaku Wakil Dekan bidang Kerjasama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat FK – KMK UGM sekaligus membuka kegiatan ini secara keseluruhan. dr. Mei Neni juga menekankan kembali bahwa mitigasi menjadi hal yang penting, tujuannya bukan untuk mencegah bencana melainkan sebagai kesiapsiagaan untuk mengurangi kerugian yang terjadi. Secara institusi pendidikan juga FK – KMK UGM sudah mempersiapkannya dengan adanya pusat studi bencana dan kurikulum bencana.

Pengantar

Pengantar yang disampaikan terkait mengenang Tsunami 15 tahun lalu oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD dan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD dari FK – KMK UGM. Tsunami Aceh menjadi batu loncatan khususnya untuk FK – KMK UGM dalam memberikan respon dalam bencana. Tanpa diatur terlebih dahulu tim UGM berangkat sebagai tim medis dan tim manajemen. Hal tersebut yang dikembangkan sampai sekarang sehingga produk kita adalah kurikulum terkait kebencanaan pada mahasiswa S1. Selanjutnya Prof. Laksono memperkenalkan 3 buah buku melalui website http://bencana-kesehatan.net/. Buku pertama berjudul 3 Tahun Kegiatan di Aceh mencatat berbagai kegiatan RS Sardjito, Fakultas Kesehatan UGM, dan Fakultas Psikologi UGM dalam misi kemanusiaan. Buku kedua berjudul Satu Tahun Kegiatan di Aceh menceritakan pengalaman pribadi ketika ikut membantu ke Aceh. Buku ketiga berjudul Relawan Kesehatan di Medan Bencana merekam perjalanan tim FK – KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito membantu korban bencana selama 15 tahun (2004 – 2018).

15th aceh 1

Dok. FK Unsyah “Pengantar mengenang tsunami 15 tahun”

Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia.

Pada sesi talkshow 1 ada 3 pembicara yang membahas perkembangan penanggulangan bencana Indonesia dari segi kebijakan, ilmu manajemen klaster kesehatan dan secara globalisasi pasca tsunami Aceh. Pembicara pertama Yudi Satria SST, MPS, SP dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Banyak hal yang sudah dilakukan di Indonesia untuk membangun kesadaran masyarakat. Sosialisasi terus – menerus diberikani kepada masyarakat, supaya tidak lupa.

Pembicara kedua dr. Budi Sylvana, MARS Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Trend meningkat dalam 3 tahun terakhir, terjadi pergeseran ke bencana non alam dan kegagalan teknologi. Dari sisi jumlah korban bencana juga meningkat selama 2019 (Januari – Desember). Logistik bencana belum terjamah dengan baik. SDM kita sudah lengkap dan pembiayaan juga banyak yang membantu. Terdapat 3 program pengurangan risiko bencana oleh pusat krisis yaitu asistensi, peta respon renkon dan TTX simulasi.

Pembicara ketiga dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Indikator perkembangan ini bisa dilihat dari koordinasi, pengorganisasian, komunikasi dan data informasi. Pertama pada gempa tsunami Aceh dan Yogyakarta hampir mirip, sudah ada pertemuan klaster yang didukung oleh WHO. Relawan yang datang pada saat itu langsung menuju pos kesehatan. Belum ada pelaporan yang jelas. Kedua pada gempa Padang dan erupsi Merapi, manajemen sudah mulai diperbaiki dimana relawan sudah mulai terkelola dengan baik. Ketiga pada gempa Lombok, Palu dan Lampung sudah jauh lebih baik lagi, klaster kesehatan sudah terbentuk. Form  form yang ada untuk pelaporan sudah terstandar dan sudah bisa memetakan relawan yang datang berdasarkan peta respon.

15th aceh 2

Dok. FK Unsyah dan FK-KMK UGM “Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia”

Launching EMT Specialize Cell (EMT SC)

Dalam webinar ini, diluncurkan pula EMT SC yang mengangkat slogan: dari Aceh untuk dunia. Ini bukan satu karier tapi satu panggilan. Kapuskris memberikan ransel relawan EMT kepada anggota secara simbolik. Sampai sekarang terkumpul 100 anggota yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis bedah, perawat, surveilans dan tenaga kesehatan lainnya.

15th aceh 3

Dok. FK Unsyah “Peluncuran EMT Specialize Cell Aceh”

Talkshow 2: Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan di Fakultas Kedokteran

Sesi kedua ada 4 pembicara yang membahas tentang kurikulum. Pembicara pertama dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD dari FK – KMK UGM. Latar belakang kurikulum manajemen bencana di FK – KMK UGM adalah ilmu kebencanaan relatif baru, institusi yang berpartisipasi belum mapan, dan referensi dari luar bervariasi. Partisipasi dalam pendidikan formal ada di S1 FK – KMK, S2 IKM (opsional) dan magister manajemen bencana sekolah pasca sarjana UGM. Konsep kurikulum di FK – KMK akhirnya mengerucut menjadi disaster medicine dan disaster managemen. Disaster medicine dalam aspek teknis berdasar pada emergency medicine dan disaster managemen dalam aspek manajerial berbasis pada manajemen krisis. Penyusunan kurikulum berdasar lesson learnt, berbasis referensi dan ada prioritas, yang belum ada adalah biological disaster dan hazard. Kurikulum mulai diberikan pada mahasiswa S1 FK 2010 sebagai materi intrakulikuler.

Pembicara kedua yaitu Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep dari FK – KMK UGM tentang penggunaan kasus bencana sebagai sarana pembelajaran IPE – CFHC di FK – KMK UGM. Komponen-komponen kerja sama dimasukkan dalam kurikulum IPE – CFHC. Kurikulum ini diterapkan pada seluruh mahasiswa FK – KMK UGM. Pengembangan kompetensi lulusan berbasis interprofessional collaborasion (IPE). Tahun keempat CFHC yaitu pengembangan keluarga siaga bencana, 480 mahasiswa belajar bersama (prodi kedokteran, keperawatan dan gizi). Mahasiswa mendampingi keluarga menangani permasalahan keluarga, memanfaatkan fasilitas kesehatan, harapannya agar sudah mencapai profesi masing – masing mereka dapat bekerja sama. Mengenali early warning system dan peta respon adalah 2 dari banyak hal yang harus dikuasai mahasiswa.

15th aceh 4

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan FK-KMK UGM”

Pembicara ketiga ialah Dr. dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT dari FK Unsyah. FK Unsyah memulai kurikulum terkait bencana sejak 2006 pada mahasiswa program sarjana, pasca sarjana dan doktoral. Harapannya bagi mahasiswa program sarjana terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran untuk pengembangan karir mereka dalam penanganan bencana. Pada mahasiswa pasca sarjana harapannya bisa memimpin tim medis atau klaster kesehatan pada saat bencana. Terdapat beberapa inovasi mahasiswa dalam pengembangan penanganan bencana ini. Mahasiswa menciptakan satu lampu sebagai early warning system, living room untuk pengungsi dan ransel penampung untuk anak – anak. Selanjutnya harapan bagi mahasiswa program doktoral, mereka sudah mulai bisa mengkritisi kebijakan pemerintah dan kebijakan dunia sehingga mereka juga harus ikut mewarnai sistem kebijakan kebencanaan.

Pembicara keempat adalah dr. Indah Puspasari, MMedEd dari FK Universitas Tadulako. Kurikulum bencana di FK Untad sudah dikembangkan sejak 2008 untuk mahasiswa semester 8 dan pada 2015 untuk mahasiswa semester 6. Sekarang sudah ada pada blok 13 yaitu health system, disaster management and traumatology. Blok ini wajib diikuti oleh mahasiswa. Harapannya mahasiswa bisa menjelaskan sistem manajemen bencana, tahapan mulai dari pre sampai dengan pasca bencana, dan mampu menjelaskan trauma manajemen. Mahasiswa juga mulai mendapatkan ilmu terkait sistem koodinasi dalam penanganan bencana.

Setelah sesi talkshow 2 dilanjutkan dengan penyampaian materi via webinar oleh Dr. Penny Burns tentang The mission and vision of Ocaenia Chapter WADEM. Oceania Chapter bertujuan untuk advokasi dan promosi pengembangan dan peningkatan penanganan bencana dalam penelitian, pengembangan dan aplikasi. Oceania Chapter WADEM sudah membangun kolaborasi dengan para ahli bencana dari berbagai negara sehingga interpretasi dan pertukaran informasi didapatkan melalui jaringan dan publikasi. Sekarang Oceania Chapter WADEM sedang mengembangkan peningkatan penanggulangan bencana di masyarakat. Respon lokal dalam pemulihan bencana sangat penting. Misi saat ini adalah mempromosikan integrasi profesional Primary Health Care lokal ke dalam manajemen bencana untuk memastikan kebutuhan kesehatan primer masyarakat dipertimbangkan dan direncanakan dengan baik.

15th aceh 5

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Rumusan dan Kesimpulan”

Sesi terakhir Rumusan dan kesimpulan, webinar 15 tahun Pasca Tsunami Aceh: Akan kemana sistem pendidikan dan riset kedokteran kita dalam manajemen bencana? disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. Berbagi isu selama proses diskusi adalah risiko bencana semakin besar, tidak terbatas pada medical emergency unit. Terjadi pembelajaran selama 15 tahun termasuk adanya klaster kesehatan dalam konteks BNPB. Kecepatan yang makin meningkat tapi koordinasi belum baik termasuk adanya duplikasi komando di lapangan. Mitigasi perlu ditekankan. Ada kombinasi antara disaster medicine dan disaster managemen, ada ilmunya sendiri termasuk manajemen logistik bencana sektor kesehatan. Perguruan tinggi mempunyai modal tenaga dan sarana untuk membantu mitigasi dan penanggulangan bencana secara baik. Diharapkan penelitian bencana masuk dalam prioritas nasional, ada buku teks dan modul pendidikan tentang bencana.

Beberapa saran dari peserta :

  • Aceh : Harapannya kerjasama tidak putus disini. Dibutuhkan jurnal disaster managemen bencana sehingga ilmu ini bisa disebarkan secara luas dan penting juga merancang modul-modul tentang kebencanan diamana secara parsial bisa diajarkan juga kepada masyarakat awam.
  • Palu : Kerja sama ini lebih ditingkatkan dan kami berharap terus dilibatkan khususnya kolaborasi perbaikan penanganan bencana di Sulawesi tengah.
  • Yogyakarta : Penting ada workshop pengembangan kurikulum kebencanaan tentang klaster kesehatan yang diikuti oleh fakultas kedokteran, kesehatan masyarakat dan institusi selevel lainnya.
  • Bengkulu : Program studi kesehatan masyarakat Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu masih kesulitan untuk mendapatkan buku kajian. Selanjutnya mohon dilibatkan jika ada workshop.

Reporter: Happy R Pangaribuan

{/tabs}