Kebakaran Hutan Dominasi Bencana Alam di Jabar

https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/0.17670200-1567919482-dom-1567518901.jpeg.jpeg

LENGKONGAYOBANDUNG.COM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat (Jabar) menyatakan peristiwa bencana alam yang terjadi selama Agustus 2019 di Provinsi Jabar didominasi oleh kebakaran hutan. Ada sebanyak 55 kebakaran hutan yang tercatat.

“Jumlah kejadian bencana alam sepanjang Agustus 2019 ini 117 kejadian dan dari jumlah tersebut didominasi oleh kejadian kebakaran hutan,” kata Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Jawa Barat, Budi Budiman Wahyu dalam siaran persnya, Sabtu (7/9/2019).

Ia menjelaskan, peristiwa bencana terbanyak kedua selama bulan lalu di Provinsi Jabar ditempati oleh kebakaran rumah dengan jumlah 38 kejadian. Lalu disusul angin puting beliung 12 kejadian dan tanah longsor 10 kejadian.

“Kemudian peristiwa gempa bumi terjadi dua kali atau hanya dua persen persen dari total kejadian bencana di Provinsi Jabar Agustus 2019 ini,” kata dia

Ia menjelaskan, sebanyak 266 jiwa terdampak akibat peristiwa bencana alam yang terjadi selama Agustus 2019. Ada 83 rumah terdampak bencana alam yang terdiri atas 32 rumah rusak berat, 27 rumah rusak sedang, dan 24 rumah rusak ringan.

“Alhamdulillah dari jumlah kejadian yang terjadi selama bulan Agustus lalu tak satu pun korban jiwa yang tewas diakibatkan oleh kejadian bencana di Jabar selama Agustus kemarin,” ujar Budi.

Lebih lanjut, ia mengatakan kebakaran yang terjadi di Provinsi Jabar memang disebabkan oleh kekeringan yang umumnya terjadi di wilayah Jabar bagian utara.

Akan tetapi kebakaran di sini bukan hanya terjadi di hutan tetapi juga lahan terbuka seperti lahan yang penuh alang-alang.

Alokasi Anggaran Bencana Belum Ideal

Mataram (Suara NTB) – Alokasi anggaran untuk penanganan bencana harus ditingkatkan. APBD pada daerah-daerah di NTB  hanya 0,02 persen. Angka ini masih jauh dari ideal untuk memaksimalkan penanggulangan bencana yang kompleks di NTB.

Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, H.Ahsanul Khalik saat menghadiri workshop dengan tema Strengthening National Natural Disaster Preparedness : Perspectives from Local Governments di Jakarta, Selasa, 10 September 2019. Acara dihadiri Kepala BPBD se Indonesia yang rawan gempa.

Diskusi digagas oleh Centre For Strategic and International Studies berlangsung hangat. Dalam keterangan tertulisnya, Ahsanul Khalik menyebut, silih berganti Kepala Pelaksana BPBD dari berbagai provinsi memaparkan kondisi daerahnya. Termasuk Kepala Pelaksana BPBD Palu dan NTB.

Mantan Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB ini menyebut, semua daerah mengalokasikan APBD untuk bencana relative kecil. Padahal dari 14 jenis bencana alam, 11 diantaranya terjadi di NTB.

“Anggaran kebencanaan hanya 0,02 persen. Perlu dipikirkan kebijakan politik dari pusat di APBD atau di APBN,” sebut Khalik.

Idealnya, kata dia, dana penanggulangan bencana adalah 2 persen dari total APBD masing-masing daerah. ‘’Bisa 2 persen atau berapa. Intinya perlu ditingkatkan,’’sarannya.

Ahsanul Khalik juga memaparkan, soal gempa bumi di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa banyak hal yang dipelajari. Diantaranya, system komando kebencanaan harus jelas. ‘’NTB sejak ratusan tahun lalu dikenal sebagai daerah rawan gempa,’’ katanya.

Dalam catatannya, tahun 1856 gempa, 1815 Gunung Tambora.

“Sejarah ini berulang selalu dilupakan masyarakat,’’ kata Khalik.

Sebagai solusi, literasi kebencanaan menjadi penting. Pengalaman terjadi bencana tahun 1978 dan 2018 begitu mudah dilupakan.

Penjelasan lain, sambung Khalik, setiap terjadi bencana ada kebingungan soal distribusi logistic bagi para penyintas. Hingga ada media yang menyampaikan informasi berseberangan dengan fakta lapangan. Dicontohkannya, saat korban gempa makan daun turi ditulis makan rumput.

‘’Akhirnya ramai. Petugas itu padahal menyisir  sampai di atas gunung, saat kejadian stok kebutuhan memang tak ada,’’ bebernya.

Lebih lanjut, penguatan penanggulangan bencana di daerah, pola vertical khusus provinsi atau penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) di BPBD harus dipikirkan dengan baik.

‘’Bapak-bapak yang hadir tentu tahu. Di BPBD itu dianggap buangan itu terjadi pula di daerah lain. Lalu bagaimana bias bekerja optimal,’’ kata Khalik.

Ia mengakui, pendekatan kebencanaan tak hanya bisa dilakukan pemerintah. Perlu pula membangun komunitas dengan pendekatan kearifan lokal. Menjadi komunitas tangguh bencana. Di NTB ada masyarakat adat yang tak terpengaruh dengan gempa.

‘’Rumah adat tak rusak dan mereka bisa mitigasi sendiri. Ke depan komunitas ini harus digerakkan,’’urainya.

Berkaca dari sejumlah bencana, Khalik menambahkan, perlu ada statistik kebencanaan. Ini untuk mengetahui data prabencana, saat bencana, dan pascabencana. Di NTB saat ini sedang mencoba membangun satu data kebencanaan belajar dari data 2018. Hal lain, dengan pendekatan agama dan budaya dilakukan pemerintah. Dengan agama ada brosur khutbah Jumat yang disebar ke masjid-masjid.

‘’Termasuk penguatan tokoh agama. Peran ini dilakukan oleh Non Government Organization (NGO. Pusat perlu berikan regulasi,’’ pungkasnya. (ars)

Kekeringan, Gempa, dan Kebakaran Dominasi Bencana Sukabumi

Ssbuah rumah makan di Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi kebakaran.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI — Bencana kebakaran, gempa, dan kekeringan mendominasi bencana yang terjadi pada Agustus 2019 di Kabupaten Sukabumi. Hal ini didasarkan data pada Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

“Pada Agustus 2019, ada 68 kejadian bencana yang terdata,” ujar Koordinator Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna kepada wartawan, Selasa (10/9).

Ada tiga jenis bencana yang paling banyak terjadi. Ketiganya adalah kekeringan 22 kejadian, gempa bumi 22 kejadian, dan kebakaran 19 kejadian. Selain itu, longsor sebanyak enam kejadian dan bencana lain enam kejadian.

Menurut Daeng, bencana di Agustus berdampak pada kerusakan rumah warga 68 rumah. Perinciannya rusak berat sebanyak 34 unit, rusak sedang 24 unit, dan rusak ringan sembilan unit serta satu unit lainnya terancam.

Daeng menuturkan, jumlah warga yang terdampak bencana di Agustus mencapai 50 kepala keluarga (KK) atau setara 147 jiwa. Selain itu ada warga yang mengungsi sebanyak 28 KK yang terdiri atas 89 jiwa.

Kerugian akibat bencana kata Daeng mencapai sekitar Rp 4,5 miliar. Hal ini didasarkan pendataan kerugian yang dilakukan petugas di lapangan.

Sebelumnya, kejadian bencana di Kabupaten Sukabumi dari rentang waktu Januari hingga Juli 2019 mencapai sebanyak 398 bencana. “Dari data yang ada longsor tetap mendominasi dibandingkan dengan yang lain,” ujar Daeng.

Total bencana dalam kurun waktu Januari hingga Juli mencapai 398 kejadian. Daeng menuturkan, pada bulan itu terjadi tujuh kasus kebakaran, longsor 78 kejadian, banjir 16 kejadian, angin kencang 20 kejadian, pergerakan tanah 4 kejadian, dan lain-lain 1 kejadian. Selanjutnya waktu kejadian terbanyak bencana yakni Februari sebanyak 76 bencana yang terdiri atas kebakaran 15 kejadian, longsor 36 kejadian, banjir 3 kejadian, angin kencang 20 kejadian, dan  pergerakan tanah 2 kejadian.

Sementara kejadian bencana paling rendah terjadi pada Juli sebanyak 13 kasus. Data ini belum termasuk dampak gempa bumi yang terjadi di awal Agustus lalu. Pertama, gempa dengan magnitudo 6,9 yang terjadi pada Jumat (2/8) sekitar pukul 19.03 WIB. Selanjutnya, gempa magnitude 4,4 yang terjadi pada Sabtu (3/8) dini hari pukul 00.22 WIB.

 

How you can help Hurricane Dorian disaster relief

Miami Dolphins are collecting items at Hard Rock Stadium to send to the Bahamas after Hurricane Dorian.

The devastation caused by Hurricane Dorian in the Bahamas has left dozens of people confirmed dead, and potentially thousands still missing. “We have no food. No water. We’re abandoned here,” a survivor in one of the worst-hit areas of Grand Bahama told the Guardian.

Hubert Minnis, the prime minister of the Bahamas, called the damage “unprecedented”. Another official estimated the damage could take hundreds of millions, if not billions of dollars, to repair.

A wide range of organizations are raising money to provide immediate disaster relief to survivors in the Bahamas.

Some have argued that donors who want to make a real difference after a natural disaster should try to give money to local organizations.

HeadKnowles Hurricane Relief

HeadKnowles was founded by two friends in 2015 to raise money for disaster relief after Hurricane Joaquin. Since then, Lia Head-Rigby and Gina Knowles, two Bahamians living in the United States, have continued to coordinate donations for disaster relief after multiple hurricanes. The group has currently raised more than $1m on GoFundMe to help Dorian survivors. HeadKnowles has been endorsed as a trustworthy NGO by the founding director of the National Art Gallery of the Bahamas, and its leaders are cited as local relief experts in news reports.

GoFundMe also has a dedicated page of other “verified” crowdfunding campaigns to help those affected by Dorian.

Grand Bahama Disaster Relief Foundation

The foundation was formed by the Grand Bahama Port Authority. American citizens can make tax-deductible donations to the foundation through the Coastal Community Foundation of South Carolina, which pledges to send 100% of all donations to Grand Bahama.

Salvation Army

Minnis has reportedly encouraged donors to give to the Salvation Army, which is working closely with the Bahamian government.

Miami Herald’s Operation Helping Hands

Miami, Florida, is just a short distance from the Bahamas, and many local organizations have been coordinating aid to Dorian survivors, including the Miami Herald, the region’s most prominent newspaper. The news organization pledges that 100% of funds raised “will go directly to help people affected by Hurricane Dorian in the Bahamas and other affected areas”.

30+ other organizations vetted by Charity Navigator

Advertisement

Charity Navigator, a group that vets American philanthropic groups, has a list of dozens of organizations in the Bahamas and in the United States that is says are highly rated and able to provide relief to Dorian survivors.

The charities on this list “have pre-positioned resources to deliver food, emergency shelter, medical care, and other critical items to people impacted by this storm” and Charity Navigator “has confirmed these charities’ efforts on the ground”, the group said.

Ajarkan Anak Mitigasi Bencana

JAKARTA – Pendidikan ten­tang mitigasi kebencanaan harus diajarkan kepada anak didik sejak dini agar menge­tahui langkah yang dilakukan saat terjadi bencana alam.

“Di Jepang, sejak kecil anak-anak diajarkan tentang miti­gasi bencana karena medianya di sekolah memberikan materi tersebut,” kata Anggota Komisi I DPR, Roy Suryo, saat menjadi narasumber mitigasi bencana alam, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Oleh karena itu, ia men­dorong hal yang sama juga dilakukan di Indonesia se­hingga anak-anak dapat mengetahui langkah yang perlu dilakukan saat terjadi bencana alam. “Kita tidak usah menyalahkan sekolah belum mengajarkan, tapi kita cari solusi,” tegasnya.

Menurut dia, fenomena saat ini, anak-anak lebih cende­rung memiliki intensitas tinggi menggunakan gawai atau telepon pintar dalam aktivi­tas sehari-hari. Padahal, alat elektronik tersebut memiliki keterbatasan apabila terjadi musibah bencana alam.

Sebagai contoh, peristiwa padamnya arus listrik di Ja­karta dan di sejumlah daerah lainnya beberapa waktu lalu yang mengakibatkan aktivi­tas masyarakat lumpuh total. “Efek listrik mati internet juga mati sehingga sebagian orang kebingungan karena keter­gantungan listrik,” kata dia.

Asisten Deputi Tanggap Bencana Kementerian Koor­dinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Ke­menko PMK), Nelwan Hara­hap, mengatakan terdapat tiga kapasitas yang harus dibangun masyarakat dalam menghadapi bencana alam.

Pertama, bagaimana mem­bangun kesadaran di dalam masyarakat. Setiap masyara­kat di Tanah Air harus memiliki kesadaran tinggi bahwa berada di daerah yang rawan bencana alam dengan risiko sedang hingga tinggi.

Kedua, masyarakat harus meningkatkan kapasitas terkait pengetahuan tentang kebenca­naan. Pengetahuan ini dituju­kan agar setiap orang menge­tahui langkah yang mesti dilakukan saat terjadi bencana alam.

“Selama ini banyaknya kor­ban jiwa dalam bencana alam disebabkan kepanikan ma­syarakat. “Pembunuh terbesar dari bencana itu bukan karena peristiwanya, tapi disebabkan diri kita sendiri yang tidak siap menghadapinya,” ujar dia.

Terakhir, untuk memini­malisir korban jiwa saat ben­cana alam, masyarakat harus menguatkan kapasitas keari­fan lokal dan membangun ko­munikasi secara cepat. Karena Golden Time saat peringatan dini hanya berkisar lima menit hingga lima jam serta tergan­tung jenis bencananya. “Dalam penelitian, penyelamatan saat situasi bencana itu 96 persen dilakukan oleh korban dan ko­munitasnya,” kata dia.

Menurut dia, salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu membangun jejaring sosial dan saling mengingat­kan bila terjadi bencana alam. Sebagai contoh, program Da­sawisma yang terdiri dari 10 rumah terdekat saling berkoor­dinasi saat terjadi musibah.

Siaga Bencana

Sementara itu, Kasubdit Kesiapsiagaan dan Mitigasi Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam, Ke­menterian Sosial, Tetrie Dar­wis menyampaikan, saat ini Kemensos telah memiliki 638 Kampung Siaga Bencana (KSB) yang tersebar di sejumlah pro­vinsi. KSB ini bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat tangguh bila terjadi bencana alam.

“Kemensos dua minggu yang lalu ke Jepang belajar tentang menghadapi bencana alam dan akan dikolaborasi­kan dengan banyak pihak,” kata dia. eko/Ant/E-3

Perkuat Mitigasi Bencana dengan “Kentongan”

Jakarta, Beritasatu.com – Mitigasi bencana di tengah masyarakat perlu diperkuat. Apalagi Indonesia merupakan negara rawan bencana. Melalui Kentongan, sebuah program siaran baru di Radio Republik Indonesia (RRI), radio milik pemerintah ini ingin meningkatkan mitigasi dan budaya sadar bencana di masyarakat.

Peluncuran program mitigasi bencana ini dilakukan bersamaan dengan rangkaian peringatan hari ulang tahun RRI ke-74 pada 11 September 2019 mendatang. Program ini terinspirasi dari program serupa yang ada di Jepang. Negara itu diketahui juga punya potensi bencana tinggi tetapi kesiapsiagaan mitigasinya sudah optimal.

Direktur Utama RRI, M Rohanudin mengatakan, melalui siaran ini RRI ingin membangun budaya sadar bencana di masyarakat. Pengetahuan mitigasi dilakukan justru sebelum bencana terjadi sebagai upaya pencegahan.

Siaran ini pun akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah melibatkan 105 stasiun RRI dan 223 stasiun relay di seluruh Indonesia serta 37 stasiun di perbatasan. Narasumbernya pun beragam yang mengupas terkait potensi bencana.

“Untuk mewujudkan masyarakat tangguh bencana siaran Kentongan ini menjadi daily program,” katanya di sela-sela sarasehan program Kentongan di Auditorium RRI Jakarta, Sabtu (7/9). Menurutnya, dampak bencana dapat ditekan bila ada program mitigasi bencana.

Seiring perkembangan teknologi, siaran RRI juga menggunakan berbagai platform seperti digital. Langkah ini dianggap sangat relevan dengan perkembangan terkini dan bisa diterima masyarakat pengguna gawai.

Senada dengan itu, Dewan Pengawas RRI Hasto Kuncoro menyebut, program radio terkait mitigasi bencana akan meminimalkan risiko atau dampak bencana.

Kentongan diharapkan mewujudkan masyarakat tangguh bencana dan ada budaya baru terkait mitigasi bencana,” ucapnya.

Ia mencontohkan, sejumlah bencana yang terjadi di Tanah Air menunjukkan kesiapan mitigasi bencana di masyarakat belum terbangun. Sebagai contoh, korban likuifaksi di Petobo, Sulawesi Tengah, tinggal bertahun-tahun di daerah yang punya potensi bencana karena minim informasi.

Siaran Kentongan lanjutnya, akan menginformasikan pentingnya membuat rumah tahan gempa, serta potensi bencana lain yang juga bisa disebabkan oleh faktor manusia seperti banjir.

Mitigasi bencana bermakna serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Nama Kentongan dikaitkan dengan kearifan lokal pada sebagian masyarakat Indonesia sebagai penanda suatu peristiwa.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo menilai, Kentongan adalah program bagus dan bermanfaat bagi masyarakat terutama yang di desa-desa rawan bencana, baik pada pra, saat maupun pasca bencana.

“Edukasi, sosialisasi, pengumuman atau hiburan dapat disiarkan melalui radio ke seluruh pendengar di mana saja berada. Bahkan saat listrik mati radio bisa digunakan dengan baterai cadangan,” ungkapnya.

 

Sumber: Suara Pembaruan

BNPB Ingin Ubah Kawasan Rawan Bencana Jadi Potensi Wisata

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, di balik daerah Indonesia yang rawan bencana, menyimpan banyak daya tarik untuk menjadi objek wisata. Asalkan, dapat dikelola secara mumpuni dan terintegrasi antar-pemangku kepentingan.

Kepala BNPB, Letnan Jenderal Doni Monardo, mengatakan, menjadikan kawasan rawan bencana menjadi objek wisata harus dilakukan dengan sistem mitigasi yang kuat. Pengelolaan kawasan wisata juga harus diawasi oleh tenaga-tenaga yang andal.

Sebagai contoh, kawasan rawan bencana yang bisa menjadi objek wisata seperti gunung merapi saat mengeluarkan lava pijar dari puncak kawah.

“Kita punya gunung api yang banyak tapi belum bisa menggunakannya dengan maksimal. BNPB ingin mencoba daerah yang memiliki potensi bencana tapi bisa jadi tempat wisata,” kata Doni di Kementerian Pariwisata, Senin (9/9).

Menurut Doni, tidak semua negara memiliki karakteristik alam seperti di Indonesia. Sebab, hampir semua bentang alam di bumi nusantara bisa dijadikan tempat wisata. Dimulai dari pantai, hutan, hingga gunung api sekali pun.

Ia juga mencatat, sebanyak 12 persen coral terbaik di Indonesia juga berada di kawasan nusantara. “Ini yang harus di eksplor, kalau semua sistem terbangun dengan baik, kita akan siap. Tidak ada wisatawan yang menjadi korban. Turis tidak akan takut untuk berkunjung ke Indonesia,” kata Doni.

Pada Senin (9/9) hari ini, Kementerian Pariwisata meluncurkan Manajemen Krisis Kepariwisataan (MKK) sebagai standar pedoman pengelolaan bencana di kawasan wisata. Doni mengatakan, MKK akan menjadi acuan bagi BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pariwisata ketika menghadapi bencana.

Pihaknya mengakui, urusan koordinasi dan standar operasional di tingkat daerah kerap menjadi masalah ketika bencana datang. Antar-lembaga perlu mengacu pada satu pedoman baku yang mengatur detail.  Baik ketika menghadapi bencana alam maupun non alam. Selain itu, hal yang paling penting yakni meminimalisasi dampak kerugian serta korban jiwa.

“Makanya, ada banyak komponen yang harus dilibatkan. Tidak hanya BPBD dan Dispar tapi semuanya sehingga tidak ada kekhawatiran dan kita siap berjaga-jaga,” katanya.

Menurut Doni, setelah MKK diterbitkan pihaknya tengah menyiapkan draft Instruksi Presiden (Inpres) untuk semua daerah agar memiliki pedoman tata kelola bencana sesuai MKK. Pemerintah provinsi hingga kabupaten dan kota harus memiliki perencanaan yang matang dalam mengelola ancaman bencana.

“Dengan begitu kemungkinan kerugian korban jiwa akan lebih sedikit dan meningkatkan kepercayaan internasional terhadap pariwisata kita,” katanya.

Sebagai informasi, pada 2018, terdapat 4.814 korban jiwa akibat bencana alam. Mayoritas disebabkan oleh bencana gempa bumi dan tsunami. Sementara tahun 2019, BNPB mencatat korban jiwa akibat bencana alam sudah sebanyak 402 jiwa. Mayoritas korban jiwa disebabkan oleh bencana banjir.

Lewat KSB Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

https://www.swaragapura.com/wp-content/uploads/2019/08/tagana-garut1-e1567040364959.jpeg

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menangani bencana Pemerintah Provinsi (Pemprov)  Jabar bekerja sana dengan pemerintah daerah kota/kabupaten adakan simulasi  saat terjadi dan pasca bencana.

“kita sudah tahu dibanding provinsi lain, terutama kota/kab yang punya potensi bencana alam tinggi” kata Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum usai jadi pembina apel puncak kegiatan jambore Kampung Siaga Bencana (KSB) di lapangan Cilopang Desa Rancabango Kabupaten Garut, Rabu (28/8).

Tujuan  kegiatan tersebut lanjut Uu yaitu untuk melatih mental pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam menangani bencana baik saat terjadi maupun pasca bencana. “dengan simulasi akan memiliki mental yang kuat dan baik serta apabila terjadi bencama tidak terjadi kepanikan”, kata Uu

Sementara itu Kapala Dinas Sosial Prov Jabar Dodo Suhendar mengatakan pelaksanaan jambore dan pembentukan KSB  untuk memberikan perlindungan pada masyarakat dari ancaman bencana melalui penanggulangan bencana benbasis masyarakat serta membentuk watak mandiri, terampil, persatuan kan kesatuan sesama amggota KSB. “Dinas Sosial Prov Jabar dan kemensos telah membentuk KSB, dan saat ini sudah ada 114 kSB yang tersebar di 21 kota/kab di Jabar”, kata Dodo Suhendar

Ditempat terpisah Wakil Bupati Garut mengatakan Kabupaten Garut selain mempunyai panorama yang indah juga pada tahun 2017 telah ditetapkan sebagai daerah rawan bencana oleh BNPB. “Saya berharap jambore bisa melahirkan anggota tagana yang lebih baik dan selalu siap siada bila terjadi bencana“, tegas Wakil Bupati Garut Helmi Budiman. (SG.W-002)

Menguji Mental ‘Malaikat Tak Bersayap’ Tagana dalam Kondisi Bencana di Garut

Wakil Bupati garut Helmi Budiman, menyematkan shal bagi salah seorang peserta Jambore Tagana di Bumi Perkemahan, Cilopang, Garut, Jawa Barat

Liputan6.com, Garut – Menggunakan seragam lengkap berwarna krem yang menjadi kebesaran tim Taruna Siaga Bencana (Tagana), mereka tampak terlatih menjalankan perannya sebagai malaikat kecil, dalam simulasi penyelamatan korban bencana, di Garut, Jawa Barat.

Sebuah ledakan keras, langsung membuat sekitar seratus warga panik, mereka langsung berlarian menyelamatkan diri, saat Gunung Guntur, di Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat, yang selama ini menjadi payung hidup mereka meletus.

Tua, muda, anak-anak hingga balita, tampak berhamburan menyelamatkan diri, hingga sesaat kemudian dua kendaraan taktis Tagana menetralisasi keadaan. Mereka seakan menemukan pelabuhan untuk bersandar, mencari pertolongan.

Beberapa warga menjadi korban, langsung diangkut kendaraan petugas, sementara warga lainnya yang masih tersisa, langsung dievakuasi ke area lahan yang lebih aman dari ancaman bencana, yang masih berkecambuk.

Itulah simulasi singkat yang diperankan peserta Jambore Tagana, dalam penanganan singkat terhadap korban bencana alam.

“Kalau hanya ilmu yang diberikan, tetapi simulasi tidak dilakukan, takutnya ketika ada bencana banyak pihak yang kaku,” ujar Wakil Gubernur Jawa Barat, dalam Apel Puncak Kegiatan Jambore Kampung Siapa Bencana di kawasan Bumi Perkemahan, Lapangan Cilopang, Desa Rancabango, Kabupaten Garut, Rabu (28/8/2019).

Menurut Uu, pelaksanaan simulasi mutlak dibutuhkan untuk membiasakan mental petugas tagana dan masyarakat, dalam menghadapi datangnya ancaman bencana.

“Karena, kalau pada saat bencana, situasi dan mental akan berbeda,” ujar dia.

Dengan upaya itu, diharapkan mampu menghasilkan petugas tagana bermental baja dan siap dalam memberikan pertolongan bagi masyarakat. “Ilmu memang penting, tetapi mental juga sama pentingnya,” ujar dia mengingatkan.

Sebagai provinsi dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi, lembaganya, ujar dia, selalu mengingatkan masyarakat agar tetap waspada setiap saat, datangnya bencana.

“Maka itu, Pemprov Jawa Barat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk meningkatkan kegiatan terkait kesiapsiagaan bencana alam,” ujar dia.

Garut Rawan Bencana

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengatakan, meskipun Garut memiliki panorama alam yang menakjubkan, tetapi ancaman kerawanan bencana terbilang tinggi.

“Makanya sangat tepat kalau Garut dijadikan tempat jambore oleh Tagana, semoga bisa melahirkan Tagana yang lebih baik, sigap dan siaga terhadap kebencanaan,” pinta dia. Saat ini, lanjut Wabup, sudah ada 114 Kampung Siaga Bencana (KSB) yang tersebar di 21 kabupaten/kota di Jawa Barat.

“Jambore KSB ini bertujuan untuk membentuk watak, meningkatkan sikap kemandirian, keterampilan, persatuan dan kesatuan di antara anggota KSB se-Jawa Barat,” kata dia.

Saat ini, selain KSB baru Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, yang baru diresmikan. Kabupaten Garut juga telah memiliki tiga desa KSB yakni Desa Talegong di Kecamatan Talegong, Desa Sindangsari di Kecamatan Cisompet, dan Desa Dano di Kecamatan Leles.

Wahyu, (45) salah satu peserta Jambore mendukung upaya simulasi bencana yang difasilitasi Pemprov Jabar tersebut, Menurutnya, semakin seiring dilakukan simulasi, menjadi kunci utama dalam penanggulangan korban saat bencana datang.

“Kalau bisa jangan setahun sekali, tapi minimal sebulan sekali,” kata dia.

Selain itu, sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, pengetahuan simulasi sangat penting bagi anggota, dalam melaksanaan upaya awal menyelematkan diri dan orang lain. “Intinya jangan takut mengambil keputusan,” kata dia.

RUU Penanggulangan Bencana Akan Memperkuat Kewenangan BNPB

Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Kepala BNPB Doni Monardo. (yendhi)

JAKARTA – Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan bahwa Daftar Inventarisir Masalah (DIM) dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Penanggulangan Bencana yang tengah disusun akan memperkuat kewenangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Seperti diketahui, Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Rapat Koordinasi Tingkat Menteri membahasan Rancangan Undang-undang (RUU) Penanggulangan Bencana.

Rapat yang dihadiri oleh Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita, Kepala BNPB Doni Monardo, Menteri LHK Siti Nurbaya, dan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati digelar di Kantor Kementerian Sosial, Salemba Raya, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2019).

“Saya ingin tambahkan satu bocoran, draf RUU ini ketika nanti diketok menjadi Undang-undang merupakan Undang-undang yang memberi penguatan-penguatan terhadap kewenangan dari BNPB,” kata Agus.

Namun demikian, Agus masih enggan membeberkan isi dari DIM yang tengah disusun. Menurutnya, DIM belum sepenuhnya selesai disusun karena masih ada beberapa persoalan yang harus kembali dibahas.

Di tempat yang sama, Kepala BNPB Doni Monardo, berterimakasih kepada DPR RI yang mendorong penyusunan RUU Penggulangan Bencana ini karena penting bagi rakyat Indonesia.

Dia menjelaskan, Negara Indoenesia adalah negara yang rawan terhadap bencana terutama bencana alam seperti gempa, sunami, dan meletusnya gunung berapi. Pasalnya, dari 500 gunung berapi terdapat 127 gunung yang saat ini tengah aktif. Selain itu ada 295 patahan lempeng dari ujung Sumatera sampai Papua, Sulawesi, NTT, dan Maluku.

“Ini harus membuat kita semakin paham bahwa bencana bisa terjadi kapan saja. Oleh karenanya, dengan adanya rancangan ini diharapkan BNPB memiliki kekuatan yang lebih kuat baik dalam upaya pencegahan maupun dalam proses tanggap darurat,” kata Doni.

Salah satu bencana alam yang sangat krusial dan terjadi setiap tahun adalah kebakaran hutan dan lahan gambut. Untuk menangani masalah ini BNPB selalu kualahan karena kebakaran lahan gambut hanya selesai ketika ada hujan. Bom air melalui helikopter juga dinilai tidak selesaikan masalah kebakaran.

“Nah inilah yang kita pikirkan tiap tahun kita bisa menyelesaikan, persoalan yang permanen harus juga dicarikan solusi yang permanen. Oleh karenanya yang disampaikan pak Mensos tadi bahwa BNPB pun harus memiliki sebuah kemampuan yang lebih kuat dari sekarang ini,” tegas Doni.

Selain itu, ketika musim penghujan maka akan dihadapkan dengan masalah banjir serta tanah longsor dimana selalu ada korban baik materi maupun non materi. Dia berharap dengan RUU Penanganan Bencana nantinya segala persoalan bencana yang rutin dihadapi Indoensia bisa teratasi dengan baik.

“Nah ini semua sedang dibahas mohon doa agar rancangan Undang-undang ini bisa disahkan dan kedepan BNPB bisa lebih kuat lagi, bisa lebih proaktif lagi baik dalam proses pencegahan maupun dalam langkah-langkah penanganan khususnya pada saat tanggap darurat,” tandas Doni. (yendhi/yp)