Awal September, Mensos Teken Draf RUU Penanggulangan Bencana

Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, pihaknya sudah mulai menyusun draf RUU Penanggulangan Bencana.Sejumlah menteri dan lembaga terkait turut dilibatkan dalam penyusunan draf RUU Penanggulangan Bencana. Di antaranya adalah Menteri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Kepala Badan Nasional Penanggungulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo, dan Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita KarnawatiRencananya, penandatanganan draft RUU tersebut akan dilakukan pada awal September 2019. Tujuannya agar draf RUU tersebut bisa langsung masuk ke DPR sebelum berakhirnya massa jabatan periode 2014-2019.”Minggu pertama bulan September, mungkin minggu depan. Setelah itu pada masa yang sama juga kami serahkan pada Setneg. Setneg nanti juga kami akan minta untuk bisa segera mengirim kepada DPR RI,” ucap Agus di Gedung Kemensos, Jakarta, Rabu (28/8/2019).Agus memastikan, RUU Penanggulangan Bencana akan menguatkan kewenangan dari BNPB. sehingga penanganan korban bencana bisa dilakukan lebih cepat.”Saya ingin tambahkan satu bocoran, draft RUU ini ketika nanti diketok menjadi UU merupakan UU yang memberi penguatan-penguatan terhadap kewenangan dari BNPB,” ungkap Agus.Meski begitu, dia enggan mengungkapkan isi dari draf RUU Penanggulangan Bencana. Tetapi yang terpenting, semua hal terkait penanggungulangan bencana alam di Indonesia telah dibahas. “Yang kami susun adalah DIM (Daftar Inventarisasi Masalah) dalam rangka pemerintah mempunyai kewenangan yang lebih baik dalam menanggulangi bencana. Bukan hanya lebih baik, tapi lebih efisien dan efektif,” tuturnya.Respons BNPB

Di pihak lain Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo menambahkan, dirinya mengapresiasi sigapnya pembentukkan RUU Penanggungulangan Bencana ini. Menurutnya, RUU tersebut bisa mempermudah pihaknya dalam mengatasi bencana alam.

“Ini harus membuat kita semakin paham bahwa bencana bisa terjadi kapan saja, oleh karenanya dengan adanya rancangan ini diharapkan BNPB memiliki kekuatan yang lebih kuat baik dalam upaya pencegahan maupun dalam proses tanggap darurat,” kata Doni.Selain itu, Doni menegaskan bahwa kerugian materi maupun jiwa akibat bencana adalah suatu hal yang tak terhindarkan. Sehingga, dia berharap masyarakat dapat mengerti hal itu.”Inilah yang kita pikirkan tiap tahun, kita bisa menyelesaikan persoalan yang permanen harus juga dicarikan solusi yang permanen, oleh karenanya yang disampaikan Pak Mensos tadi bahwa BNPB pun harus memiliki sebuah kemampuan yang lebih kuat dari sekarang ini,” tutup Doni.

Debating How Much Time We Have to Avert Climate Disaster is a Waste of Time

The U.N.’s Intergovernmental Panel on Climate Change, or IPCC, released a report earlier this month regarding the effects of the rise in global temperatures on land and agriculture and found that 25 percent of the rise in CO2 emissions comes from deforestation and farming.

A consensus of some 700 scientists from around the world agreed that 1.5 degrees Celsius has already baked into the land. They said the earth is dangerously heating up as a result of feeding ourselves in the most inefficient ways (wasting 25 percent of the food produced).

The IPCC is expected to release another report in September on the effects of man-made CO2 emissions on the oceans. We get 50 percent of our oxygen from oceans, and oceans have thus far absorbed 93 percent of human CO2 emissions.

In October of 2018 the IPCC advised that to avoid irreversible changes to the environment,  “human-caused emissions of carbon dioxide (CO2) would need to fall by about 45 percent from 2010 levels by 2030, reaching ‘net zero’ around 2050. This means that any remaining emissions would need to be balanced by removing CO2 from the air.”  The 2016 Paris Climate Conference was based on holding global temperatures to an increase of no more than at 2 degrees Celsius, but the 2018 report showed that we need to cap the rise to 1.5 degrees Celsius.

Missing Factors

These IPCC findings, while alarming, still don’t take many things into account.

For instance, none of the IPCC studies consider how much methane gas is being released from fracking sites in the U.S. and elsewhere. And methane gas is 30 times more potent as a heat-trapping gas than carbon dioxide.

Scientists are reporting that Arctic ice is melting at faster rates than projected and we can see the disappearance of Arctic ice in the next few years. The result will be the release of massive quantities of CO2 & methane gas from the land beneath the ice, which is not being calculated into the 1.5 degree Celsius goal; therefore, tightening the IPCC deadlines.

China is moving ahead to build 300 coal plants in Turkey, Vietnam, Indonesia, Bangladesh, Egypt and the Philippines. To put this in perspective, 175 coal-fired power plants were retired in the United States between 2011-2017.

As the world’s population grows to 10 billion by 2050 from the 7.53 billion today, we will see more and more release of CO2 gases from fossil fuels, deforestation and agriculture that has not been incorporated into the IPCC predictions.

None of this new information has been included in the IPCC estimates, according to an exchange I had on Twitter with climate scientist Michael Mann.

We do not have until 2030 to reduce emissions by 45 percent, as the IPCC’s 2018 report concludes. Mark Jacobson, director of Stanford University’s  Atmosphere/Energy Program, calls for an 80 percent reduction in CO2 output by 2030. Many scientists and economists are stating that we have less than five years, or have already passed the point of no return. Paul Hawken, the highly regarded author of “Drawdown; The Most Comprehensive Plan Ever Proposed to Reverse Global Warming,” told an audience at the Aspen Institute this summer, “Even if we stopped using fossil fuels today, we would pass the 1.5 degree Celsius mark.”

Scientists have begun using the term adaptation instead of mitigation. How will we adapt to the new normal of global climatic devastation? This doesn’t mean hopelessness. This means action. We need to talk realistically and embrace solutions to slow the process and mitigate the full effects of climate change. And we need to focus on proven remedies already underway around the world.  

Solutions Needed

Stages of reforestation: Top two photos show severely degraded hills in South Korea. Third is taken five years after restoration began; fourth 20 years after. (IPCC/Korea Forest Service)

We need political, religious, business, social and individual solutions. This is the greatest crisis that mankind has ever faced and climate is changing much more rapidly than even the most aggressive models have predicted.

Here are some of the top solutions that could be implemented:

  1. Get rid of government handouts to the fossil fuel industry.
  2. Give incentives to renewable energy instead.
  3. Start a works corps to build renewables programs.
  4. Enact a carbon tax to raise funds to invest in renewables and slow the growth of fossil fuels.
  5. Stop future fossil-fuel development through banning drilling, fracking and phase out their use by getting off black carbon by 2030 and net neutral carbon by 2050.
  6. Require utilities to produce all their electricity from zero-carbon sources — such as wind and solar.
  7. Set energy efficiency standards for new homes and commercial buildings.
  8. Stop methane emissions from oil-and-gas operations.
  9. End the use of hydrofluorocarbons, powerful greenhouse gases used in air-conditioners, refrigerators and foams.
  10. In the U.S. a special effort must be made to reign in the military behemoth, which has fought endless wars for oil. Cut the 800 U.S. military bases and trillion-dollar-a-year budget by a third and redirect the spending to renewables, clean jobs, electric transportation and research and innovation.

It’s Not New

Climate change science goes back decades, to the 1950s. Exxon Mobil and other petro producers, in the intervening years, have made numerous efforts to hide the effects of man-made CO2 emissions.  U.S. administrations either hid or ignored the warnings and continued to expand fossil fuel development and allowed destructive forms of agriculture and deforestation to expand.

What is different now is that we are seeing the effects of the rise in temperatures, which include increased catastrophic flooding, fires, melting ice caps, extinction of species, climate refugees, water shortages and desertification.

We have faced enormous problems before, but this time history provides no guide. It’s up to us to develop new economic and political paradigms. Life on our entire planet depends upon it.

If we are to find never-been-tried-before solutions we need to be clear about the carbon facts. The U.S., with 4.29 percent of the world’s population, is responsible for 14.75 percent of global CO2 emissions. China, with 18.20 percent of the population, produces 27.51 percent of the total. Clearly the U.S. must take a leadership role in reducing CO2 emissions if we expect the world to follow.

Singgung Potensi Bencana, BNPB Ingatkan Tata Ruang di Kaltim

Singgung Potensi Bencana, BNPB Ingatkan Tata Ruang di Kaltim

Jakarta, CNN Indonesia — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan catatan mengenai rencana tata ruang di Kalimantan Timur, berkaitan dengan lokasi baru ibu kota negara.

Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Wisnu Widjaya menyebut persiapan tata ruang jadi perhatian penting, terutama menghindari potensi bencana seperti banjir, tsunami dan gempa bumi.

“Kalau desainnya dari awal sudah kita ketahui akan mudah untuk dikelola. Beda kalau sudah terlanjur dibangun, itu baru masalah lain,” kata Wisnu kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/8).

BNPB sendiri mencatat terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi bencana alam di Kalimantan Timur. Namun demikian, BNPB masih memasukkan wilayah di Kaltim dalam kategori sedang ataupun rendah.

Dua kabupaten yang dipilih Jokowi sebagai ibu kota baru juga dinilai masih memiliki potensi bencana, khususnya yang terkait dengan lingkungan, yaitu banjir. Tercatat setidaknya delapan kabupaten/kota di Kalimantan Timur memiliki bahaya kelas tinggi terjadi banjir.

Selain itu, menurutnya, pertimbangan tata ruang harus dikaitkan dengan potensi gempa di Kalimantan Timur. Sebelumnya, Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami

BMKG Daryono menyatakan bahwa Kalimantan tak sepenuhnya bebas dari gempa. Bahkan, lanjutnya, Kalimantan Timur justru memiliki 3 sesar. Menurut Wisnu tidak ada satu pun wilayah yang aman dari gempa bumi. Ia mengingatkan pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan mengetahui masalah dari lingkungan tersebut.

“Dalam pembangunan seharusnya patahan itu dihindarkan, jangan sampai membuat bangunan di atas patahan, ” imbuhnya.

Selain gempa bumi, kata dia, untuk kebakaran hutan menurutnya Kalimantan Timur masih menjadi lebih aman jika dibandingkan dengan wilayah Kalimantan lainnya. Ia menegaskan pemindahan ibu kota ini mesti jadi salah satu upaya pemerataan pembangunan, tanpa mengabaikan penanggulangan bencana.

Mengungkap Potensi Bencana di Ibu Kota Baru, Sesar Gempa Aktif hingga Banjir

Peta potensi dan risiko banjir di Kalimantan Timur

KOMPAS.com — Sudah resmi, lokasi ibu kota negara Indonesia akan pindah ke Kalimantan Timur (Kaltim), tepatnya di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Presiden Joko Widodo pun telah menjelaskan sederet alasan terkait pemilihan lokasi tersebut, termasuk tingkat kerawanan terjadinya bencana alam, Senin (26/8/2019).

“Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertangera, Provinsi Kalimantan Timur,” ujar Presiden dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Lalu, benarkah lokasi tersebut aman dari potensi bencana alam? Berikut ini penelusuran Kompas.com terkait potensi bencana di Pulau Kalimantan:

Dilalui 3 sesar sumber gempa aktif

Menurut Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Kalimantan tidak sepenuhnya terbebas dari gempa. Pihaknya bahkan menjelaskan ada 3 sesar yang terdeteksi di wilayah Kaltim.

“Secara geologi dan tektonik, di wilayah Provinsi Kaltim terdapat 3 struktur sesar sumber gempa, yakni Sesar Maratua, Sesar Mangkalihat, dan Sesar Paternostes,” ujar Daryono saat dihubungi Kompas.com, Jumat (23/8/2019).

Lebih jauh lagi, BMKG menjelaskan, Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat terletak di Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur. Sesar tersebut masih menunjukkan tanda-tanda keaktifan.

Sebagai bukti, dalam peta seismisitas, terlihat 2 zona besar ini memiliki aktivitas kegempaan yang cukup tinggi dan membentuk klaster sebaran pusat gempa yang berarah ke barat sampai timur.

Potensi banjir mengincar

Seperti diketahui, wilayah Kalimantan Timur juga memiliki risiko rawan banjir. Hal itu terungkap dalam berita di Kompas.com pada 22 Agustus 2019.

Saat itu, Plh Kapusdatin BNPB Agus Wibowo menjelaskan, risiko rawan banjir tersebut berada di Kabupaten Kutai Kartanegara yang menjadi salah satu area ibu kota baru dan Kota Samarinda.

Lalu, berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), risiko rawan banjir di wilayah ini terdapat di wilayah yang dekat dengan hulu daerah aliran sungai (DAS).

 

Masalah penggundulan dan kebakaran hutan

Kebakaran di Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan, Kalimantan Timur.Dok, Humas Pemkot Balikpapan/Tribun Kaltim Kebakaran di Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selain dua potensi bencana tersebut, Kalimantan Timur juga menyimpan potensi bencana lain, yakni kebakaran dan penggundulan hutan.

Disebutkan, lahan hijau di wilayah ini berkurang cukup signifikan. Penggundulan hutan ini menyebabkan banyaknya banjir yang terjadi di Kaltim.

Potensi bencana lain adalah hutan di provinsi ini pun berkurang akibat pembakaran sehingga menyebabkan asap.

Sementara itu, pada 2018 BMKG mencatat wilayah Kaltim menjadi salah satu yang rawan bencana kebakaran hutan dan lahan. 

Informasi ini disampaikan Kepala Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko kepada Kompas.com, Jumat (24/8/2018), dan melalui akun resmi Instagram BMKG, @infobmkg.

Pencemaran minyak di perairan air laut

Salah satu potensi bencana di Kaltim yang tak bisa dipandang remeh adalah pencemaran minyak di wilayah perairan laut.

Pencemaran tersebut diakibatkan salah satunya akibat lokasi perairan Kalimantan Timur yang menjadi jalur pelayaran antarpulau, baik ke Sulawesi maupun ke Jawa.

Namun, meski masih memiliki potensi bencana, secara umum wilayah Pulau Kalimantan masih relatif aman jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Pemerintah Dorong Standar Pelayanan Minimal Bencana

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pemerintah akan memberlakukan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Penanggulangan Bencana bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan masyarakat tangguh bencana di daerah-daerah di seluruh Indonesia.

“Diharapkan pemerintah daerah akan menjalankan standar pelayanan minimum mulai di tahun 2020 untuk kemudian memastikan bahwa masyarakat itu sadar bahwa mereka hidup di daerah yang rawan bencana,” kata Kepala Seksi Organisasi Internasional Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Fery Irawan dalam diskusi di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.

Melalui penerapan standar pelayanan minimal tentang kebencanaan oleh pemerintah daerah, maka masyarakat diantaranya berhak untuk mengetahui informasi potensi, dampak dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Jadi di situ ada kewajiban pemerintah daerah untuk memastikan bahwa sebagai standar pelayanan minimumnya sekian persen masyarakat harus mengerti tentang bahaya tentang resiko bencana yang mereka hadapi,” ujarnya.

Dia mengemukakan sosialisasi dan penguatan masyarakat tangguh bencana terus dilakukan dengan bekerja sama berbagai pemangku kepentingan termasuk pemerintah daerah, aparatur desa dana masyarakat.
“Bukan hanya sosialisasi ke aparat saja tapi kami juga melibatkan relawan untuk mereka turun langsung entah itu ke sekolah, ke masjid, ke TPI, ke pasar, ke warga yang sedang ngopi di warung dan sebagainya,” jelas dia.

Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat setidaknya diinformasikan potensi dan dampak bencana yang mungkin terjadi di wilayah mereka dan gempa yang bisa memicu tsunami. Masyarakat juga diarahkan langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi potensi bencana seperti tsunami dan gempa, seperti ke mana harus berlari menyelamatkan diri saat ada potensi tsunami.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah melaksanakan program Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019 dengan bekerja sama dengan banyak pihak, baik dari unsur pemerintah, masyarakat, lembaga usaha, akademisi, serta media massa.

Ekspedisi Destana Tsunami 2019 dilaksanakan sejak 12 Juli 2019 sampai 17 Agustus 2019. Dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tim Ekspedisi Destana 2019 beranjak ke Barat melalui jalur darat hingga pemberhentian terakhir di Kabupaten Serang, Banten.(ati)

 

PMI luncurkan program membangun ketangguhan dan kesiagaan bencana

PMI luncurkan program membangun ketangguhan dan kesiagaan bencana

Sukabumi, Jabar (ANTARA) – Palang Merah Indonesia (PMI) meluncurkan program membangun ketangguhan dan kesiapsiagaan bencana gempa bumi berbasis masyarakat yang merupakan dukungan dari United States Agency for International Development (USAID) melalui Palang Merah Amerika Serikat.

“Program ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak bencana gempa bumi dengan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui program ini nanti kita (PMI, red.) akan membangun ketangguhan masyarakat mulai dari keluarga, komunitas dan juga kesiapan PMI serta pemerintah kota dan kabupaten,” kata Kepala Divisi Penanggulangan Bencana PMI Pusat Arifin M. Hadi melalui sambungan telepon di Sukabumi, Minggu.

Dia menjelaskan program itu akan dilaksanakan di dua kota, yakni Banyuwangi, Jawa Timur dan Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Melalui program itu, minimal PMI mempunyai contoh rumah tahan gempa dan melakukan promosi ketangguhan tingkat keluarga.

Pada kegiatan itu, pihaknya juga akan mempraktikkan kesiapsiagaan masyarakat di tingkat keluarga untuk mempersiapkan diri dalam kontijensi gempa bumi serta standar operasional prosedur (SOP) rencana kesiapsiagaan evakuasi mandiri.

Selain itu, akan dibentuk kesepakatan cara-cara untuk membangun kesiapsigaan di tingkat komunitas dengan tujuan utamanya meminimalisasi dampak bencana, baik korban jiwa maupun kerugian harta benda.

Arifin mengatakan program yang diluncurkan di dua kota itu, juga untuk membantu pemerintah dalam mengurangi risiko bencana. Apalagi, dua daerah yang menjadi lokasi kegiatan tersebut,  daerah rawan gempa.

Dia mengatakan PMI akan selalu hadir di tengah masyarakat, khususnya saat terjadi bencana alam, mulai dari masa tanggap darurat hingga pemulihan.

Hal itu, katanya, seperti pelayanan dan bantuan yang terus diberikan untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB), korban tsunami, gempa, dan likuifaksi di Sulawesi Tengah, serta korban tsunami Selat Sunda, baik Banten maupun Lampung.

USAID APIK dorong Perda pengurangan risiko bencana di Maluku

USAID APIK dorong Perda pengurangan risiko bencana di Maluku

Ambon (ANTARA) – Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat/United States Agency for International Development (USAID) Indonesia melalui program Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) mendorong pembuatan peraturan daerah yang mengakomodasi tentang pengurangan risiko bencana dan dampak perubahan iklim di Provinsi Maluku.

Direktur program USAID-APIK Paul Jeffery, di Ambon, Kamis, membenarkan, pihaknya terus mendorong integrasi isu-isu iklim dan risiko bencana ke dokumen perencanaan pembangunan daerah di semua kabupaten/kota di Maluku.

“Sudah ada beberapa kebijakan dan peraturan tentang isu perubahan iklim dan risiko bencana yang disahkan. Kami terus dorong agar semua daerah di Maluku mengeluarkan kebijakan yang sama,” katanya.

Lembaga tersebut juga mendukung pembentukan atau penguatan Forum Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (API-PRB) di tingkat desa, yang bertugas mendorong integrasi isu-isu iklim dan risiko bencana ke dalam kebijakan dan peraturan lokal.

Sejumlah kebijakan dan peraturan yang telah ditetapkan diantaranya roadmap MAPI (peta jalan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim) provinsi Maluku, rencana aksi daerah provinsi Maluku dan Maluku Tengah, keputusan Bupati Kepulauan Aru tentang pembentukan Forum API-PRB.

Selain itu, Pengarusutamaan API-PRB ke dalam rencana pembangunan jangka penengah daerah (RPJMD) Kota Ambon, rencana kontingensi tsunami dan longsor Kabupaten Maluku Tengah serta rencana kontingensi banjir dan longsor Provinsi Maluku.

“Bahkan Pemkab Maluku Tengah telah mengalokasikan sekitar Rp3,37 miliar untuk pengelolaan dampak iklim dan bencana untuk periode 2017-2022,”
katanya.

Selain itu, pada Maret 2019, sebanyak 5.105 orang telah terlatih untuk lebih memahami risiko cuaca dan iklim, 91 pejabat pemerintah daerah dan 24 lembaga pemerintah telah meningkatkan kapasitas dalam ketahanan iklim dan bencana.

Hal ini menunjukkan peningkatan kesadaran pemerintah daerah terhadap manajemen bencana serta komitmen yang semakin kuat dalam membangun ketangguhan masyarakat, baik di tingkat provinsi, hingga tingkat desa/negeri.

APIK juga telah mendukung pembentukan atau penguatan iklim dan ketahanan bencana tingkat desa dan memberikan bantuan teknis bagi 12 pemerintah desa di Maluku Tengah, Kota Ambon dan Kepulauan Aru.

Khusus menyangkut informasi cuaca dan iklim, APIK bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pattimura Ambon, telah melakukan pelatihan informasi cuaca dan iklim (ICI) untuk staf pemerintah daerah, penyuluh, dan anggota masyarakat di Kepulauan Aru. Selain itu, APIK memfasilitasi pemasangan peralatan pengukur hujan otomatis (Automatic Rain Gauge-ARG) di Kepulauan Aru guna mendukung pengumpulan data dan analisis informasi.

Pemasangan layar informasi elektronik yang menampilkan informasi cuaca dan iklim terbaru.

di Negeri Haruku, Ameth, dan Wassu, kabupaten Maluku Tengah, sehingga digunakan sebagai panduan bagi masyarakat untuk kegiatan mencari ikan, bertani serta transportasi laut.

APIK juga membangun bekerja sama dengan PT. Pertamina Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Wayame, untuk memberikan hibah berupa pengering tenaga surya (solar dryer) yang tepat guna dan ramah lingkungan kepada kelompok kerja (Pokja) masyarakat di Desa Morella, Maluku Tengah.

Pengering tenaga surya mempersingkat proses pengeringan dan membuatnya lebih higienis, sehingga kualitas panen pun meningkat, disamping praktis karena petani tidak perlu mengangkat hasil panen yang dijemur saat hujan turun dan menggelarnya kembali ketika matahari muncul.

Selain itu, mengadakan pelatihan sambung pucuk bagi masyarakat, dan mengembangkan pembibitan, sehingga membantu petani meremajakan pohon cengkeh dan pala yang sudah tua. Kedua tanaman ini adalah komoditas utama di desa, sehingga menjamin keberlanjutan penghidupan masyarakat di masa mendatang.

Paul Jeffery berharap berbagai kebijakan yang telah dilakukan ini dapat direplikasi dan dilanjutkan oleh pemerintah daerah, setelah program APIK berakhir pada akhir tahun 2020, dengan melibatkan sejumlah lembaga sosial masyarakat (LSM) yang telah bekeja sama dan bermitra dengan organisasi tersebut.

Mengenal Ampiang Parak, Nagari Ekowisata Hingga Tangguh Bencana

Langkan.id, Pesisir Selatan – Ribuan pohon cemara tersusun rapi di sepanjang palataran pantai Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Setidaknya 3.700 pohon cemara menghiasi bibir pantai tersebut. Selain itu, 4.000 Mangrove juga terlihat menghijau.

Diketahui, informasi dari masyarakat setempat, kawasan hijau itu dahulunya tidak ditumbuhi apa-apa, gersang, hanya pasir pantai yang kita lihat sepanjang mata memandang.

Sejak 2015, Haridman seorang yang merupakan ‘urang sumando’ (beristri orang Ampiang Parak) mencoba menanam cemara di lokasi itu. Ternyata, menanam cemara tak segampang kampanye seribu pohon yang digalakkan pemerintah Indonesia.

 

Pohon Cemara dan Mangrove di Nagari Ampiang Parak, Pesisir Selatan (Foto: Zulfikar/Langkan.id)

Cemooh masyarakat, bahkan apa yang dia lakukan dikatakan perbuatan yang sia-sia serta kerja orang gila. Namun, semangat Haridman tak putus di tengah jalan.

Diceritakannya, awal mula menanam cemara, tak ada masyarakat setempat yang percaya, bahwa cemara itu akan tubuh dan menghijau di tempat tersebut. “Iya, dulu saya dicemooh, apa yang saya tanam, dikatakan tidak akan bisa tumbuh. Karena memang, tempat ini dulunya gersang,” ujarnya saat diwawancarai Langkan.id, Rabu (21/8) di lokasi penangkaran penyu Ampiang Parak.

Namun, apa yang dia perjuangkan, saat ini telah membuahkan hasil. Hijaunya pohon cemara menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke atas tanah sepanjang 2,7 kilometer tersebut.

Menurutnya, diawal, tak ada niat dan tergambar bahwa Nagari Ampiang Parak bisa seperti sekarang. “Awalnya tak ada niat, yang jelas kita tanam saja dulu, nanti baru kita pikirkan akan mau dijadikan apa tempat ini,” jelasnya.

Haridman, Ketua Laskar Turtke Camp Ampiang Parak (Foto: Zulfikar/Langkan.id)

Dulu, katanya, pemuda di sini, kebanyakan mengahbiskan waktu di warung. Jadi, ada keinginan untuk mengalihkan ke hal-hal yang posotif, seperti ini. “Kita mulai ajak pemuda untuk mengelola tempat ini, itu secara perlahan, hingga akhirnya, semua masyarakat bisa merasakan dampaknya,” ucap Haridman.

Setelah cemara mulai tumbuh, menurut Ketua Laskar Turtle Camp Nagari Ampiang Parak itu, mereka mulai melirik adanya potensi penyu yang dapat dikembangkan di daerah tersebut. “Disitulah, kita mulai ada keinginan untuk membuat penangkaran penyu. Dulunya, masyarakat di Ampiang Parak, memburu penyu, lalu telurnya diambil untuk dijual,” katanya.

Setelah itu, kawasan Nagari Ampiang Parak terus dikembangkan untuk dijadikan ekowisata. “Dari situlah, kita mulai dilirik, sudah mulai ada bantuan dari pemerintah serta lembaga swasta, hingga kita bisa menjadi seperti saat sekarang ini,” ungkapnya.

Cemara mulai menghijau, wisatawan mulai berdatangan. “Setelah melihat hasilnya, kita (kelompok) mulai meraskan manfaatnya. Disitulah, anggota kelompok dan masyarakat setempat bersemangat untuk menjadikan Ampiang Parak menjadi Nagari Ekowisata,” ujarnya.

Saat ini, kata Haridman, masyarakat yang ada di Ampiang Parak sudah merasakan dampak dari apa yang diperbuat. “Ekonomi masyarakat muali tumbuh, ibu rumah tangga, sekarang juga sudah bisa membuka warung di sekitar lokasi, itu juga akan turut membatu perekonomian keluarga. Tenaga kerja dari pemuda setempat juga mulai terserap,” ungkapnya.

Konservasi Penyu di Nagari Ampiang Parak, Pesisir Selatan (Foto: Zulfikar/Langkan.id)

Lalu, sejak hadirnya lembaga sosial dari Jerman, Arbieter-Samariter-Bund (ASB) di Nagari Ampiang Parak, masyarakat sekitar juga bisa lebih mengenal tentang pengurangan resiko bencana. “Masyarakat sudah diberikan pelatihan, dan semua mulai sadar, bahwa Pohon Cemara dan Mangrove yang ditanam bisa mengurangi hempasan gelombang ke daratan. Kita ingin, Nagari Ampiang Parak menjadi Nagari Ekowisata dan Tangguh Bencana, itu akan kita tularkan juga ke nagari tetatangga,” jelasnya.

Sementara, untuk menanam Cemara ataupun Mangrove, kata Haridman, butuh kesungguhan. Aksi nyata untuk menjaga apa yang telah ditanam sangat diharapkan, menjaga pohon cemara agar bisa tumbuh dengan sempurna butuh waktu 1 tahun.

“Jadi, penjagaan cemara yang kita tanam itu butuh waktu lama, kita rawat, kita pagar agar terlindung dari gangguan bintang, sehingga kita bisa menikmati hasilnya seperti sekarang,” katanya. (Zulfikar)

 

Balitek DAS Surakarta Paparkan Mitigasi Bencana Kekeringan Dengan Teknik Memanen Air Hujan

RMOLJateng. Banyaknya potensi wilayah kekeringan di Indonesia, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) Surakarta memaparkan cara mengantisipasi mitigasi bencana kekeringan.

Mengacu data Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) diprediksi musim kering tahun ini akan lebih panjang dibanding tahun lalu, diperkirakan melanda 28 provinsi dengan paparan 11,7 juta hektar dan 48,4 juta jiwa.

Juga data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat ini sudah ada 75 wilayah yang terpapar kekeringan termasuk di Jawa Tengah ada 21 daerah.

“Didasari dengan masalah rawan kekeringan yang sering terjadi di wilayah Indonesia setiap tahunnya, kami melakukan kajian antisipasi. Yakni dengan teknologi sederhana memanen air hujan,” kata Kepala penelitian Utama Balitek DAS Purwanto, Selasa (20/8) di kantor Balitek DAS Surakarta.

Teknologi sederhana untuk memanen air hujan yang diterpakan di Grobogan bagian timur ini berupa bak tampung atau sumur tampung, sumur resapan untuk menambah cadangan air sumur konvensional,  dan embung.

“Kita menerapkan skala kecil mulai dari rumah tangga, bagaimana cara memanen air dari talang dan masukkan ke sumur,” jelasnya.

Teknologi sederhana ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menyimpan air hujan untuk persediaan di musim kemarau.

“Bisa juga menerapkan instalasi daur ulang air, agar bisa di manfaatkan kembali untuk mandi dan cuci,” tambahnya.

Pihak Balitek DAS hanya menerapkan alat penyaringan sederhana dengan menyediakan pompa di kasih kapas, ijuk, arang, dan lainnya.

“Air yang telah disaring bisa di manfaatkan untuk cuci dan mandi,” tandasnya.

Selain itu, Balitek juga melakukan penelitian sejenis seperti rekomendasi tanaman tahan kekeringan seperti kacang kacangan, serta rekomendasi kebijakan untuk mitigasi bencana kekeringan. [jie]

Tas Siaga Bencana, Upaya Kesiapsiagaan Ketika Hadapi Bencana

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana Jabar, Soma Suparsa, mengatakan ada dua bencana besar yang mengintai Kota Bandung, yakni gempa Sesar Lembang dan erupsi Tangkuban Parahu. Ia menekankan, salah satu upaya yang perlu digalakkan adalah pemahaman tentang kesiapsiagaan terhadap bencana.

Menurut Soma, selain memahami jenis bencana, masyarakat juga disarankan untuk menyiapkan tas siaga bencana. Dia menjelaskan, tas siaga bencana berisikan beberapa benda-benda penting dan benda-benda yang dapat digunakan dalam keadaan darurat.

 “Dokumen-dokumen penting, makanan dan pakaian serta selimut untuk tiga hari, obat-obatan, radio transistor untuk mendengarkan informasi, alat komunikasi, penerangan, P3K, dan air minum,” sebutnya. Soma mengatakan, agar mudah dijangkau, tas siaga bencana sebaiknya disimpan di belakang atau samping pintu.

“Di tempel di tempat yang mudah dijangkau seperti sampingan pintu. Begitu terasa getaran misalkan 20 detik, istirahat dulu lalu ambil tas ini. Perkara ada getaran sudah di luar rumah atau berkumpul di satu titik,” katanya.

Menurut Soma, upaya ini harus sering disosialisaikan kepada masyarakat sehingga apabila terjadi bencana, mereka bisa langsung bertindak. Ia menuturkan, berdasarkan pengamatan bencana sering terjadi pada malam hari. “Evaluasi mandiri harus sering dilatih, sehingga menjadi otomatis kita. Yang penting faham caranya selamatkan diri,” ucap Soma.

Dia menambahkan, ada penelitian yang mengungkapkan, dalam peristiwa gempa Jepang pada 1995 sebanyak 35% orang berhasil selamat karena menyelamatkan diri, lalu 32% lainnya diselamatkan oleh keluarga, dan 28% orang diselamatkan oleh tetangga. “Relawan atau petugas SAR datang beberapa jam kemudian, padahal golden timenya di bawah tiga jam. Padahal itu pertempuran yang sangat hebat mempertahankan diri, kita pun harus melatih diri agar kita selamat,” ungkapnya.