Banjir Masuk Kota Minyak, Iran Desak Evakuasi 60 Ribu Warga

Jakarta, CNN Indonesia — Otoritas Iran memerintahkan evakuasi 60 ribu warga di Ahvaz, Khuzestan, pada Rabu (10/4), ketika banjir mulai masuk ke kota yang kaya minyak itu.

Gubernur Khuzestan, Gholamreza Shariati, mengatakan bahwa ia memerintahkan evakuasi di lima distrik sebagai “langkah pencegahan untuk menghindari bahaya.”

Namun, sejumlah penduduk mengaku enggan pergi dan lebih memilih untuk tetap di rumah dan menghadapi sendiri bahayanya jika air benar-benar menggenangi wilayah mereka.

“Kami tidak dapat dievakuasi dari rumah. Setiap rumah setidaknya punya tiga anak dan kami punya banyak ternak, kerbau, furnitur,” ujar seorang warga kepada AFP.

Warga yang enggan diungkap identitasnya itu kemudian mengatakan bahwa jika banjir benar-benar datang, keluarganya bisa menyelamatkan diri di lantai atas atau loteng.

Di belakang pria tersebut, sejumlah warga terlihat sibuk mempersiapkan rumah mereka menjelang banjir. Mereka mengangkut lumpur dan kantong-kantong tanah dan menaruhnya di balik pintu untuk mencegah air masuk.

Melihat banyak warga menolak perintah evakuasi, Shariati mengajak penduduk saling bantu membangun bendungan dan “setidaknya dapat mengevakuasi perempuan, anak-anak, dan manula.”

Khuzestan memang biasa diterjang banjir besar karena hujan lebat dan limpahan air dari utara negara tersebut.

Secara keseluruhan, banjir yang sudah menerjang Iran sejak 19 Maret itu sudah menewaskan 70 orang di 20 dari 31 provinsi di Iran. (has)

Indramayu Darurat Banjir, Ribuan Orang Mengungsi

Merdeka.com – Banjir Indramayu semakin meluas membuat pemda setempat menetapkan status darurat terhitung mulai 8 sampai dengan 21 April 2019. Banjir akibat luapan Sungai Cimanuk tersebut kini menggenangi 5 Kecamatan di Kabupaten Indramayu. Tercatat, ada 12 desa atau kelurahan tersebar di lima kecamatan yang tergenang luapan air.

“Sudah ditetapkan dan masih darurat,” kata Bupati Indramayu Supendi, Rabu (10/4).

Dia meminta agar pengelola Bendung Rentang menurunkan debit air yang dialirkan ke sungai Cimanuk. Pengurangan debit air dari Bendung Rentang untuk mengurangi banjir yang semakin meluas.

Supendi sendiri mengaku sudah meminta secara langsung kepada pengelola Bendung Rentang di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

“Jangan semuanya digelontorkan ke sungai Cimanuk kan dari Bendung Rentang air bisa juga dibagi ke Saluran Induk (SI) Sindupraja dan Cipelang,” ujarnya.

Supendi mengatakan, penyaluran debit air yang tinggi ke sungai Cimanuk membuat air meluap ke sejumlah desa yang terletak di pinggir DAS Cimanuk.

Kondisi tersebut juga berbahaya mengingat adanya 4 titik tanggul kritis mulai dari Bangkir hingga Waledan.

Supendi menyebutkan pemerintah sudah mendirikan dapur umum dan menyiapkan alat berat untuk mengantisipasi jebolnya tanggul sungai Cimanuk. Dia juga sudah memerintahkan Puskesmas di wilayah banjir untuk selalu siap melayani warga.

“Kalau debit airnya terlalu besar, khawatir tanggul kritis itu akan jebol. Warga harus waspada, namun tetap tenang,” ujar Supendi.

Tercatat ada 3.276 unit rumah warga Indramayu yang terendam dengan ketinggian beragam. Selain rumah, banjir juga merendam 17 buah masjid dan 12 unit sekolah.

Bantuan logistik untuk warga Indramayu korban terdampak banjir terus mengalir. Salah satunya Kementerian Sosial (Kemensos) yang menggelontorkan bantuan senilai Rp 482 juta.

“Logistik ke lokasi bencana dan sudah mulai disalurkan mulai kemarin,” kata Menteri Sosial RI, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Ia mengatakan bantuan logistik disalurkan secara bertahap berupa lauk pauk, makanan anak, mi instan, family kit, kids ware, food ware, perlengkapan Tagana, tenda gulung, kasur lipat, paket sandang, hingga selimut.

Tim Kemensos mencatat hingga dengan Selasa, 9 April 2019 siang sebanyak 11.079 jiwa per 3.310 KK terdampak banjir mengungsi. Banjir juga merendam 3.206 unit rumah.

“Tim kami sudah di lokasi bersama dengan Dinsos Provinsi Jawa Barat untuk pendorongan logistik dan Dinsos Indramayu tentang langkah langkah yang harus dilakukan,” ujar dia.

Sebanyak 32 personel Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Indonesia dikerahkan untuk membantu evakuasi, distribusi logistik, mendirikan dan mengelola Dapur Umum.

“Seiring dengan telah terbitnya SK Tanggap Darurat, Pemkab Indramayu nanti dapat mengajukan ke Bulog untuk mengeluarkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga 100 ton,” kata dia.

Banjir Masih Rendam Demak, 5.344 Jiwa Terdampak

Banjir Masih Rendam Demak, 5.344 Jiwa Terdampak

Demak – Sebanyak 1.471 kepala keluarga (KK) atau 5.344 jiwa di Desa Sayung, Kabupaten Demak terdampak banjir akibat luapan Sungai Penceng, anak Sungai Dombo. Hingga saat ini mereka masih bertahan di rumahnya masing-masing.

Tanggul Sungai Penceng yang tidak kuat menahan tingginya debit air sehingga jebol sepanjang 7 meter. Luapan air masuk ke area persawahan dan pemukiman warga. Seluruhnya ada 8 RW yang terendam air dengan ketinggian 40-100 centimeter.

Muarofah (38), warga Desa Sayung menuturkan air banjir masuk ke dalam rumah sekitar 50-an cm. Hanya kamar tidur yang aman dari air karena sudah ditinggikan.

“Wah, masuk rumah satu lutut. Kalau kamar tidur tidak karena sudah ditinggikan. Kan memang banjir hampir tiap tahun terjadi di sini,” ujarnya kepada detikcom, Rabu (10/4/2019)

Dia dan warga lain memilih bertahan di rumah, meskipun aktivitasnya terganggu adanya banjir.

“Kalau mau mengungsi malah repot. Ya, tetap bertahan di rumah,” tuturnya.

Muarofah berharap, permasalahan banjir yang melanda desanya segera mendapat penanganan. Selain itu, warga terdampak mendapat bantuan logistik.

“Ini kan tiap tahun, jadi mohon diatasi segera. Dan juga kalau bantuan bentuknya bahan saja, karena kalau nasi bisa basi pas sampai di warga,” imbuhnya.

Secara terpisah, Kepala Desa Sayung, Munawir menyampaikan 1.471 KK itu terdiri dari 5.344 jiwa.

“Kami khawatir kalau bencana ini tidak segera ditangani akan semakin meluas. Karena debit air terus naik,” tandasnya.

Gubernur DKI Keluarkan Pergub Naturalisasi untuk Kendalikan Banjir

Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Pergub Nomor 31 tahun 2019 Pembangunan dan Revitalisasi Prasarana Sumber Daya Air Secara Terpadu dengan Konsep Naturalisasi. Pergub itu mengatur soal konsep naturalisasi untuk pengendalian banjir.

Pada pasal 1 ayat 11, naturalisasi adalah cara pengelolaan dengan konsep ruang terbuka hijau. Namun, tetap mengutamakan fungsi sebagai pengendali banjir.

“Konsep Naturalisasi adalah cara mengelola Prasarana Sumber Daya Air melalui konsep pengembangan Ruang Terbuka Hijau dengan tetap memperhatikan kapasitas tampungan, fungsi pengendalian banjir serta konservasi,” tulis Pergub tersebut.

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan banjir. Jika sungai tidak bisa dilebarkan, maka pemerintah harus mengendalikan debit air yang masuk.

“Kalau kapasitas kurang, kita upayakan lebarkan. Kalau kapasitas tidak bisa lebarkan, debit air diatur, dengan cara membangun waduk, dan lain-lain,” ucap Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup , Yusmada Faisal, di gedung DPRD, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Konsep naturalisasi akan mengedepankan pembangunan ekosistem sekitar fasilitas sumber daya air seperti sungai, waduk dan lainnya. Sehingga, air sungai bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan warga.

“Ekosistem dipertahankan dan dikatakan sebagai konservasi. Untuk sumber daya air baku. Sumber daya air kita utamakan dari Jati Luhur, dari Tangerang. Kenapa tidak kita manfaatkan dari air kita,” kata Yusmada.

Banjir di Kabupaten Bandung Meluas hingga 7 Kecamatan

Hampir sepekan lamanya, banjir masih menggenangi ribuan rumah yang meluas hingga tujuh kecamatan. Bahkan ketinggiannya ada yang sampai menutupi rumah warga.  

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Selasa (9/4/2019), banjir di kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, sudah mencapai atap rumah warga.

Banjir yang terus meluas dari tiga kecamatan menjadi tujuh kecamatan karena luapan Sungai Citarum membuat warga harus menggungsi. Salah satu tempat pengungsian warga yaitu di Gedung Olahraga Inkanas.

Hampir 80 kepala keluarga atau sekitar 200 jiwa lebih yang berasal dari Kampung Andir dan Parunghalang harus tinggal dengan kondisi seadanya.

Sementara pihak BPBD Kabupaten Bandung mencatat korban terdampak di tujuh kecamatan mencapai lebih 16 ribu kepala keluarga. Lebih dari 3.000 rumah warga tak bisa ditempati karena kondisinya yang tak memungkinkan.  

Untuk sementara, bagi masyarakat dari arah Soreang atau Pangalengan yang hendak menuju Kota Bandung harus dialihkan ke jalur Bojongsoang. 

Korban Banjir Baleendah Masih Bertahan di Pengungsian

Warga terdampak banjir beraktivitas di lokasi pengungsian Gedung Inkanas, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/4/2019).

 

REPUBLIKA.CO.ID, BALEENDAH — Banjir di tiga kecamatan yaitu Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang masih merendam pemukiman dan fasilitas umum dan sosial, Selasa (9/4). Ketinggian banjir relatif bervariasi dari 10 cm hingga 2 meter lebih. Terlebih hujan deras terjadi Senin (8/4) kemarin.

Kondisi tersebut membuat 113 Kepala Keluarga (KK) atau 346 orang dari Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah mengungsi di pengungsian Gedung Inkanas. Mereka berasal dari RW 09, 08, 07, 06 dan 10 Kampung Jambatan, Kelurahan Andir, Baleendah.

Koordinator pengungsi Gedung Inkanas Baleendah, Taryana, mengatakan para pengungsi sudah menempati pengungsian sejak dua pekan lalu. Sebab kondisi banjir yang turun naik membuat para pengungsi untuk tetap bertahan.

“Rumah yang terendam di Andir kurang lebih sebanyak 4.000 rumah. Dengan ketinggian air 50 cm hingga 3 meter. Di Kelurahan Baleendah, jumlahnya lebih dari 2.500 rumah,” ujarnya, Selasa (9/4).

Ia mengatakan, akibat banjir banyak warga yang tidak bisa masuk kerja atau berdagang. Dirinya mengaku tidak mengetahui kapan banjir akan surut. Sebab kondisi cuaca yang masih sering terjadi hujan.

“Harapannya banjir bisa segera surut. Seenaknya tinggal di pengungsian lebih enak di rumah sendiri,” katanya.

Berdasarkan pantauan, pemukiman warga, fasilitas umum dan sosial di tiga kecamatan tersebut terendam banjir. Aktivitas masyarakat pun menjadi terhenti. Tidak hanya itu, akses jalan menuju Dayeuhkolot-Baleendah-Banjaran pun terputus akibat terendam banjir dengan ketinggian yang bervariasi.

Volume Kubah Merapi Capai 472 Ribu Meter Kubik

Tampilan Gunung Merapi saat mengeluarkan guguran awan panas pada  Senin (18/2).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Aktivitas guguran awan panas Gunung Merapi memang sedang mengalami penurunan pada pekan pertama April 2019. Namun, volume kubah lava yang semakin meluas harus tetap diwaspadai.

Meski terbilang menurun pekan ini, kewaspadaan mutlak harus terjaga. Terlebih, aktivitas kegempaan seperti gempa frekuensi rendah, fase banyak, vulkanik dangkal, tektonik dan hembusan masih terus terjadi. Terkait perkembangan kubah lava, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat per 21 Maret 2019 volume kubah lava sudah mencapai 472 ribu meter kubik. “472 ribu meter kubik per tanggal 21 Maret 2019,” kata Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Ahad (7/4).

Luas itu melebar sekitar 11 ribu meter kubik dari awal Februari yang berukuran 461 ribu meter kubik. Namun, laju pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi memang masih tergolong rendah.

Pasalnya, rata-rata pertumbuhan kurang dari 20 ribu meter kubik per hari. Untuk April, BPPTKG belum melakukan pengukuran kubah lava kembali mengingat baru memasuki hari ketujuh.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, menanggapi aktivitas Gunung Merapi yang masih berstatus waspada itu Dia masih merekomendasikan area dalam radius tiga kilometer dari puncak agar tidak ada aktivitas manusia.

Namun, masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa di luar radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi. Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar.”Terutama, saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi,” ujar Hanik.

Membangun Sekolah Tangguh Bencana

Di wilayah yang rawan bencana alam, sudah selayaknya bila pemerintah berada di garda depan bagi warga bangsanya untuk bisa tangguh dalam menghadapi bencana. Melalui instrumen yang dimilikinya, sangat bagus bila hal demikian juga diberikan kepada anak-anak sekolah.

Anak-anak sekolah layak mendapatkan pendidikan dan pelatihan pencegahan bencana, upaya tanggap darurat bencana gempa bumi.

Kami tentu mendukung langkah Pemerintah Kota Surabaya yang selama 2019 berencana membentuk 15 sekolah tangguh bencana dalam upaya memperkuat kemampuan mitigasi bencana murid-murid Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

Ini adalah program lanjutan. Tahun lalu, Pemerintah Kota Surabaya juga telah membentuk 15 sekolah tangguh bencana tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Murid-murid di sekolah-sekolah tangguh bencana tersebut mendapatkan pendidikan dan pelatihan pencegahan bencana; upaya tanggap darurat bencana gempa bumi, kebakaran dan kecelakaan lalu lintas; serta pelatihan resusitasi jantung.

Pengelola sekolah-sekolah tersebut juga menyepakati titik kumpul di sekolah apabila terjadi bencana.

Selain sekolah, pengembangan kelurahan tangguh bencana juga perlu dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga mengantisipasi dan menghadapi bencana.

 

Budaya tangguh bencana perlu terus dibangun guna meminimalkan dampak bencana. Penting sekali untuk terus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko bencana dan upaya mitigasi maupun antisipasinya.

Menghidupkan kearifan lokal dalam mencegah dan menangkal bencana juga perlu dikedepankan.

Agus Pranoto

Banjir Menerjang Kabupaten Bandung, Air Hampir Menyentuh Atap Rumah

Banjir Menerjang Kabupaten Bandung, Air Hampir Menyentuh Atap Rumah

Kabupaten Bandung – Setelah sempat surut, banjir kembali menerjang Dayeuhkolot dan Balendah, Kabupaten Bandung. Hujan yang mengguyur Minggu sore hingga tadi malam membuat Sungai Citarum meluap.

Salah satu warga Dayeuhkolot Yogi mengatakan air datang dihari tadi, Senin (8/4/2019). “Air datang Pukul 03.00 WIB. Airnya lebih besar dibandingkan kemarin,” katanya via pesan singkat.

Seperti yang terjadi di Kampung Kaum, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

“Ketinggian air di Kaum lebih dari lutut,” ujarnya.

Untuk di Kampung Babakan Leuwi Bandung yang dimana pemukiman tersebut berdekatan dengan aliran Sungai Citarum, ketinggian air mencapai 170cm.

“Kalau di daerah Kampung Citereup, ketinggian banjir lebih dari 2 meter, air hampir sampai ke atap,” tambah Yogi.

“Kemungkinan air masih naik, pasalnya air baru datang,” imbuhnya.

Sementara itu, Warga Kampung Uak, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah Devi juga mengatakan, pemukimannya juga kembali tergenang banjir.

“Iya,” katanya via pesan singkat.

sumber: detik.com

Banjir Iran, 70 Orang Tewas dan 400.000 Lainnya Diimbau Mengungsi

Wanita berjalan di lokasi bekas banjir Iran yang sudah surut di Poldokhtar, Provinsi Lorestan. (AFP)

Khuzestan – Ratusan ribu warga dari lusinan desa dan kota telah dievakuasi di Iran selatan ketika pihak berwenang mengeluarkan peringatan untuk babak baru banjir di wilayah yang berbatasan dengan Irak, rumah bagi sejumlah sungai dan bendungan.

Banjir terus-menerus yang dimulai sejak Maret 2019 sejauh ini telah merenggut 70 nyawa, menghancurkan infrastruktur dan ribuan orang terlantar di Iran, demikian seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu (7/4/2019).

Pada Sabtu 6 April 2019, Irak secara resmi menutup perbatasan Chazabeh, setelah pemerintah Iran melarang perjalanan dan perdagangan melalui perbatasan di tengah peringatan banjir di provinsi Khuzestan, Iran selatan.

Otoritas pabean Khuzestan telah meminta perusahaan perdagangan pada hari Rabu untuk menggunakan perbatasan lain yang melintasi selatan sebagai pengganti, kantor berita Iran, IRNA melaporkan.

Jalan transit ke perbatasan melewati tanah di sekitar sungai Karkheh diperkirakan membawa air banjir, karena pihak berwenang memerintahkan pembuangan darurat di bendungannya untuk mengurangi tekanan air.

Khuzestan memiliki tiga sungai besar yang melewati beberapa desa, kecamatan dan kota, termasuk Sungai Karoun yang memotong ibukota provinsi Ahvaz.

Menteri Dalam Negeri Iran, Abdoreza Rahmani Fazli mengatakan banjir mungkin mempengaruhi sekitar 400.000 orang di Khuzestan dari lebih dari 4,7 juta penduduk provinsi. Ia telah mengimbau agar warga yang terdampak untuk mengungsi.

Hujan deras juga diperkirakan terjadi di provinsi timur laut, termasuk kota Mashhad.

Infrastruktur Rusak

Banjir bandang baru-baru ini juga membaut ribuan orang mengungsi, serta memicu kekacauan dan kepanikan di Provinsi Lorestan bagian barat.

Kota Poldokhtar menanggung beban terberat dari bencana itu, tetapi air banjir juga merendam rumah-rumah di banyak desa lain di provinsi itu, sementara infrastruktur yang hancur memperlambat upaya bantuan darurat.

Wakil Menteri Jalan dan Pengembangan Kota Abdolhashem Hassannia pada hari Sabtu mengatakan jalan menuju 275 desa di provinsi itu diblokir.

“Selama banjir, 200 jembatan dan 400 kilometer jalan dihancurkan 100 persen,” kata Kantor Berita Buruh Iran (ILNA) mengutip pernyataan Hassannia.

Perwakilan Lorestan di Parlemen, Mohammadreza Malekshahi, mengatakan banyak warga yang meninggalkan rumah mereka karena banjir tidak memiliki tempat untuk tidur.

“Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh banjir baru-baru ini belum pernah terjadi sebelumnya selama abad yang lalu,” katanya mengutip ILNA.