576 Gempa Susulan Terjadi di Lombok

576 Gempa Susulan Terjadi di Lombok

JAKARTA – Hingga Minggu (12/8/2018) pukul 15.00 WITA, sudah 576 gempa susulan mengguncang wilayah NTB dan sekitarnya.

Gempa susulan ini terjadi usai gempa besar 7 SR sebelumnya.

“Intensitas gempa susulan kecil,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kepada wartawan, Minggu (12/8/2018).

Kata Sutopo, diperkirakan gempa susulan ini masih akan terjadi hingga 4 minggu ke depan.

Penanganan darurat dampak gempabumi di Nusa Tenggara Barat memasuki hari ketujuh. Penanganan terus dilakukan. Data korban terus bertambah.

Hingga Sabtu (12/8/2018) tercatat 392 orang meninggal dunia akibat gempabumi 7 SR di wilayah NTB dan Bali.

Sebaran korban meninggal dunia akibat gempa adalah di Kabupaten Lombok Utara 339 orang, Lombok Barat 30 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 10 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Lombok 2 orang.

Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa.

Korban luka-luka tercatat 1.353 orang, dimana 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan.
Korban luka-luka paling banyak terdapat di Lombok Utara sebanyak 640 orang.

Sementara itu pengungsi sebanyak 387.067 orang yang tersebar di ribuan titik pengungsian.

Sebaran dari pengungsi adalah di Kabupaten Lombok 198.846 orang, Lombok Barat 91.372 orang, Kota Mataram 20.343 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

Kerusakan fisik meliputi 67.875 unit rumah rusak, 606 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak.

“Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas,” jelasnya.

Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat untuk selanjutnya di-SK-kan Bupati/Walikota dan diserahkan ke BNPB untuk selanjutnya korban menerima bantuan stimulus perbaikan rumah.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bantuan logistik terus didistribusikan kepada pengungsi. Bantuan, baik logistic maupun relawan terus berdatangan ke Lombok.

“Yang menjadi persoalan adalah terbatasnya jumlah kendaraan untuk mengangkut penyaluran logistic,” ucapnya.

Berbagai upaya terlah dilakukan guna mempercepat distribusi bantuan yaitu mengerahkan relawan, camat memobilisasi para lurah dan kepada desa di daerahnya untuk mendata dan mendistribusikan logistik kepada warganya yang mengungsi, kendaraan operasional SKPD digunakan untuk mendistribusikan bantuan.

Distribusi bantuan dari Posko Tanggap Darurat di Kecamatan Tanjung Lombok Utara dilakukan berdasarkan permintaan coordinator pengungsi atau masyarakat yang meminta bantuan melalui call center Posko.

“Kepala BNPB telah menyampaikan kekurangan kendaraan untuk mendistribusikan bantuan kepada Menteri Perhubungan, dan akan dibantu menggunakan kendaraan Damri,’ katanya.

Selain itu ia menjelaskan puka sebanyak 300 unit tenda pengungsi dari BNPB telah dibagikan.

Begitu juga bantuan dari berbagai pihak. Namun belum semua pengungsi memperoleh tenda. Dinas Sosial kabupaten di Lombok juga telah mengeluarkan 100 ton beras.

Dapur umum lapangan sudah didirikan oleh berbagai pihak dari TNI, Polri, Tagana, BPBD, NGO dan relawan, antara lain di Kecamatan Tanjung, Bayan dan Pemenang.

Satu dapur umum mampu melayani 500 – 1.500 konsumsi.

Dapur umum yang sudah aktif ada 20 unit dapur umum dengan kemampuan produksi 19.900 nasi bungkus per hari.

Ketersediaan beras, sembako dan kebutuhan dasar untuk pengungsi harus tersedia terus mengingat pengungsi diperkirakan masih akan lama di pengungsian.

Disitribusi air bersih terus disalurkan menggunakan mobil tanki air. Permasalahan di lapangan adalah masih terbatasnya tendon, air bersih, MCK portable dan sanitasi.

Listrik juga belum seluruhnya menyala. Di Kecamatan Gangga Lombok Utara masih gelap gulita saat malam hari.

Untuk mengatasi penerangan, sebanyak 200 unit genset sudah disalurkan dimana 100 unit dari BNPB dan 100 unit bantuan dari swasta.

Patroli terus ditingkatkan oleh Polri. Saat ini jumlah kriminalitas sudah turun 70 persen.(*)

TRIBUNNEWS.COM

Penjelasan PVMBG: Mengapa Gempa Lombok Terjadi Terus-terusan?

Jakarta – Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kasbani, mengatakan banyaknya kelompok sesar di busur Flores, di sekitar kawasan Lombok, Nusa Tenggara Barat, menyebabkan gempa Lombok tidak langsung berhenti. “Kalau daerah ini terjadi gempa, tidak langsung berhenti karena banyak sesar di sana,” kata dia di kantornya, Bandung, Senin, 6 Agustus 2018. 

Gempa Lombok yang berselang sepekan, yakni 29 Juli dan 5 Agustus 2018, berasal dari zona yang sama. “Gempa-gempa ini berada dalam zona yang sama, zona Flores Back Arc Thrust,” ujar Kasbani.

Zona subduksi atau thrust memanjang di utara Pulau Lombok hingga Flores. Panjangnya jauh lebih pendek dari zona subduksi di bagian selatan jajaran pulau-pulau itu, yakni zona subduksi akibat pertemuan lempeng benua yang memanjang dari Aceh, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, sampai Pulau Timor. “Zona ini adalah busur vulkanik di sepanjang pulau-pulau itu, ada hunjaman,” ucap Kasbani.

Kasbani mengatakan dua gempa Lombok berikut gempa susulannya berasal dari kelompok sesar di busur Flores. Kelompok-kelompok sesar naik, kata dia, arah sudutnya naik dari selatan (dari utara menghunjam ke bawah). “Thrust (subduksi) itu di zona ini,” tuturnya. Gempa inilah yang menyebabkan kerusakan karena paling dekat dengan lokasi gempa.

Namun Kasbani mengaku belum bisa memastikan apakah gempa itu berasal dari satu sesar yang sama. “Di sana sesarnya banyak, bidangnya naik,” katanya. “Berada di dalam satu zona, tapi bisa berbeda bidang.”

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Timur PVMBG M. Arifin Joko Pradipto mengatakan zona subduksi Flores Back Arc merupakan kelompok sesar naik yang memanjang di utara Pulau Lombok, Sumbawa, sampai Flores. “Arahnya naik dari selatan ke utara,” ujarnya, Senin.

Arifin menuturkan, karena lokasi tiga pulau itu relatif dekat dengan zona subduksi busur Flores, tiga pulau itu hampir seluruhnya masuk kategori rawan gempa bumi menengah dalam Peta Kerawanan Bencana Gempa Bumi. “Rawan gempa menengah itu kekuatan goncangannya maksimum bisa VII-VIII MMI,” ucapnya.

Hingga siang ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat korban meninggal akibat gempa Lombok 91 orang dan luka-luka 209 orang. Pencarian dan evakuasi korban masih terus berlangsung.

sumber: TEMPO.CO,

Sudah 227 Gempa Susulan Terjadi di Lombok

VIVA –  Gempa yang mengguncang Lombok pada Minggu malam, 5 Agustus 2018, terus diikuti dengan gempa susulan. BMKG mengatakan lebih dari 200 kali gempa terjadi setelah gempa utama.  

Kepala Operasi Pelayanan BMKG Bambang Prayitno mengatakan, menurut BMKG, pihaknya mencatat sudah 227 gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama berkekuatan 7 SR mengguncang Lombok. 16 di antaranya berkekuatan cukup besar sehingga guncangannya cukup terasa. 

BMKG mencatat, dua gempa terakhir yang terasa cukup kuat terjadi pada Senin malam, 6 Agustus 2018, sekitar pukul 22.50 WIB dengan kekuatan 5,5 Skala Richter. Gempa berikutnya terjadi pada Selasa dinihari, sekitar pukul 01.27 WIB, dengan kekuatan 5,4 Skala Richter.

Bambang mengatakan, gempa susulan yang terus terjadi adalah kondisi yang wajar setelah terjadinya gempa utama. Gempa susulan adalah proses lempengan bumi untuk kembali menstabilkan pergeseran. Menurut prediksi BMKG, biasanya pergerakan gempa akan berakhir 24 hari setelah gempa utama.

Guncangan Kedua Lebih Kuat, Gempa Lombok Fenomena Luar Biasa?

Jakarta – Kawasan Lombok dan sekitarnya diguncang dua gempa hebat dalam sepekan. Gempa pertama, yang terjadi pada Minggu 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 skala Richter, ternyata bukanlah klimaks. Hanya berjarak sepekan, pada Minggu malam 5 Agustus 2018, lindu kembali mengguncang wilayah yang sama dengan kekuatan lebih besar yakni 7 SR.

Ini fenomena yang jarang terjadi dalam bencana gempa, di mana kekuatan gempa kedua lebih besar dari gempa pertama. Yang umum diketahui, gempa susulan selalu punya kekuatan lebih rendah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemudian menyatakan, gempa berkekuatan 7 SR yang mengguncang Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada pukul 18.46 WIB adalah gempa utama (mainshock). Sementara gempa 6,4 SR adalah awalan atau foreshock.

“Itu agak luar biasa kalau menurut saya. Memang agak mengejutkan, di tempat yang sama, hanya berjarak satu minggu, antara foreshock dan mainshock berdekatan, dan besarnya (gempa utama) itu 10 kali lipat,” ujar mantan Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono di Kantor Redaksi Liputan6.com, Senin (6/8/2018) petang.

Pria yang karib disapa Mbah Rono itu menyebut, gempa pertama Lombok sebagai gempa awalan. Sementara gempa utama adalah yang kedua pada tanggal 5 Agustus yang diikuti dengan sejumlah gempa susulan yang lebih kecil, untuk menyeimbangkan patahan-patahan.

“Kita memang tidak bisa memprediksi berapa kuat gempa awalan serta jumlah gempa susulan. Yang bisa kita lihat, jika jumlah dan energi gempa susulan sudah menurun, dia sudah mengunci energi untuk dikeluarkan pada gempa lain di masa yang akan datang,” jelas mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu.

Hal itu dibenarkan Danny Hilman Natawijaya, peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dia mengatakan, rentetan gempa yang komplit itu ada foreshock, mainshock dan aftershock. Jadi, ada gempa pembuka atau gempa pendahuluan, gempa utama, lalu gempa susulan.

“Tapi, gempa yang pendahuluan atau foreshock itu tidak selalu ada, jadi langsung mainshock atau gempa utama, terus susulan. Nah yang kemarin (gempa Lombok 5 Agustus 2018) ini kasusnya lain dari yang lain. Didahului dengan yang pembuka dulu, baru utamanya atau yang besarnya baru keluar,” jelas Danny kepada Liputan6.com.

Dengan kata lain, lanjut dia, mainshock itu umumnya terjadi di gempa pertama yang berkekuatan besar. Dan itu bisa diketahui dari gempa yang terjadi pada titik yang sama. Namun, lagi-lagi kita memang tak bisa mengetahui mana gempa awal atau utama sebelum semua energi dilepaskan.

“Jadi, kita tidak akan tahu bahwa itu foreshock sebelum yang gedenya keluar, jadi kita memang enggak bisa tahu,” tegas Danny.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, fenomena dua kali gempa di Lombok itu bukan hal yang umum terjadi, kendati bukan berarti tidak pernah.

“Ada gempa pendahuluan dulu kemudian baru ada utamanya. Tapi itu tidak sering, itu lebih banyak terjadi gempa utama kemudian baru ada gempa susulan. Tapi sekali lagi, yang namanya alam itu kita tidak bisa menebak sebelum ada gempa berikutnya, jadi harus menunggu gempa itu terjadi dulu,” jelas Dwikorita kepada Liputan6.com.

Dia mengatakan, gempa itu memiliki tiga tipe. Yang paling sering terjadi itu tipe di mana gempa utama tinggi kemudian diikuti dengan gempa susulan. Secara alamiah begitu, semakin mengecil semakin melemah.

“Namun ada kondisi-kondisi di alam itu tidak semuanya sama dan seragam. Tipe yang kedua adalah tidak ada gempa utama, tapi diikuti gempa susulan, tapi selang beberapa waktu di lokasi yang sangat berdekatan dan hampir sama di patahan yang sama mengalami penguatan gempa yang kurang lebih sama,” jelas dia.

Dia mencontohkan sesar Flores yang sebelumnya mengalami gempa yang lebih kuat terus diikuti dengan gempa susulan yang semakin melemah. Gempa ini baru bisa disimpulkan setelah keseluruhan gempa melepaskan energinya.

“Jadi itu harus terjadi dulu, baru kita bisa menyimpulkan. Berarti yang kemarin itu (gempa pertama Lombok) masih pendahuluan, karena di lokasi patahan yang sama, kemudian terjadi gempa kuat berikutnya,” jelas Dwikorita.

Gempa tipe ketiga, lanjut dia, adalah gempa yang terjadi di awal dan susulannya punya kekuatan yang sama. “Kekuatan gempa ini biasanya tidak tinggi, skalanya tidak begitu besar,” tegas mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

sumber: Liputan6.com

Gempa Lombok Berpusat di Darat, Kenapa Bisa Tsunami?

JAKARTA – Pemerintah dipastikan tidak akan menaikkan tarif premi atau iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Tarif iuran akan tetap, baik untuk peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) maupun non-PBI. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan ( Kemenkes) Untung Suseno Sutarjo mengatakan, peningkatan iuran tidak akan menjadi jalan yang ditempuh pemerintah untuk atasi defisit keuangan BPJS Kesehatan. Sebab, defisit keuangan BPJS Kesehatan disebabkan berbagai faktor.

Faktor utama yang membuat defisit keuangan BPJS Kesehatan terus membengkak, menurut Untung, adalah masalah tunggakan atau piutang kepesertaan. Dengan alasan itu, menaikkan premi dikhawatirkan justru akan menambah kesulitan BPJS Kesehatan menarik iuran.

“Cukup besar penunggakkan iuran peserta, dan peningkatan iuran akan menambah besar peserta yang menunggak, sehingga tak selesaikan masalah,” ujar Untung kepada Kontan, akhir pekan lalu.

Sebagai informasi, defisit keuangan BPJS Kesehatan terus naik dari tahun ke tahun. Tahun ini defisit keuangan BPJS Kesehatan diperkirakan mencapai Rp 11,2 triliun. Jumlah itu naik dari tahun 2017 yang sebesar Rp 9 triliun dan tahun 2016 yang sebesar Rp 9,7 triliun. Peningkatan iuran sebelumnya disebut menjadi salah satu opsi pemerintah mengatasi defisit.

“Penanganan defisit BPJS sudah dibahas sejak tahun lalu, dengan melihat semua opsi termasuk peningkatan iuran,” ujar Untung. Untung bilang, pemerintah tengah merumuskan Peraturan Presiden (Perpres) untuk mengatasi defisit BPJS Kesehatan. Dalam aturan yang bakal segera terbit itu, dia bilang, berbagai sektor akan terlibat. Koordinator bidang Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan, iuran BPJS Kesehatan seharusnya naik tahun ini. Sesuai Perpres 12 Tahun 2013, iuran BPJS Kesehatan naik 2016 setelah beroperasi 2014.

“Direksi BPJS harus berani meminta kenaikan, sebab sulit berharap inisiatif pemerintah, apalagi menjelang pemilu seperti saat ini,” ujar Timboel. Saat ini peserta non PBI dibagi tiga kelas berbeda. Kelas 1 membayar Rp 80.000 per bulan, kelas 2 membayar Rp 51.000 dan kelas 3 dengan iuran Rp 25.500 per bulan. (Abdul Basith)

sumber: KOMPAS.com

Hingga Pagi ini, Sudah 124 Kali Gempa Susulan di Lombok

Jakarta – Gempa susulan terus terjadi usai gempa berkekuatan 7 Skala Richter (SR) yang mengguncang kawasan Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hingga pagi ini, tercatat sudah 14 kali terjadi gempa susulan.

“Update Gempa Bumi Lombok M (Magnitudo) 7 sampai pukul 06.00 WIB, Senin (6/8) tercatat sebanyak 124 gempa bumi susulan,” kata Kepala Bagian Humas BMKG Harry Tirto Djatmiko kepada detikcom, Senin (6/8/2018).

Gempa tersebut terjadi pada Minggu (5/8) pukul 18.46 WIB. Sebelumnya, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hingga Senin (6/8) pukul 02.30 WIB, tercatat sudah ada 82 orang dinyatakan meninggal akibat gempa tersebut.

“Hingga Senin dini hari pukul 02.30 WIB, tercatat 82 orang meninggal dunia akibat gempa. Ratusan orang luka-luka dan ribuan rumah mengalami kerusakan,” kata Sutopo.

“Ribuan warga mengungsi ke tempat yang aman. Aparat gabungan terus mengevakuasi dan penanganan darurat akibat gempa bumi,” sambung dia.
Sutopo menambahkan, jumlah korban tersebut kemungkinan akan terus bertambah. “Diperkirakan korban terus bertambah. Jumlah kerusakan bangunan masih dilakukan pendataan,” kata Sutopo.

Sutopo juga menambahkan, ribuan orang masih mengungsi akibat gempa ini. Aparat gabungan terus melakukan evakuasi dan penanganan darurat akibat gempabumi.

“Daerah yang terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur dan Kota Mataram. Berdasarkan laporan dari BPBD Provinsi NTB, dari 39 orang meninggal dunia, korban berasal dari Kabupaten Lombok Utara 65 orang, Lombok Barat 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 4 orang, dan Lombok Timur 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh,” katanya.

82 Orang Tewas dan Ribuan Warga Mengungsi Akibat Gempa 7 SR di NTB

82 Orang Tewas dan Ribuan Warga Mengungsi Akibat Gempa 7 SR di NTB

Jakarta – Gempa berkekuatan 7 Skala Richter (SR) mengakibatkan 82 orang tewas di Nusa Tenggara Barat (NTB). Ribuan warga mengungsi untuk mencari tempat yang lebih aman dari tempat tinggal mereka.

“Hingga Senin dini hari pukul 02.30 WIB, tercatat 82 orang meninggal dunia akibat gempa. Ratusan orang luka-luka dan ribuan rumah mengalami kerusakan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya, Senin (6/8/2018) subuh.

“Ribuan warga mengungsi ke tempat yang aman. Aparat gabungan terus mengevakuasi dan penanganan darurat akibat gempa bumi,” sambung dia.

Berdasarkan data BNPB, Lombok Utara merupakan kabupaten yang paling terdampak gempa. Dari 82 korban tewas, 65 orang berasal dari Lombok Utara.

“Daerah terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur dan Kota Mataram. Berdasarkan laporan BPBD Provinsi NTB, korban berasal dari Lombok Utara 65 orang, Lombok Barat 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 4 orang dan Lombok Timur 2 orang,” jelas Sutopo.

Sebagian besar korban tewas karena tertimpa material bangunan yang roboh saat gempa mengguncang.

Gempa 7 SR terjadi pada Minggu (5/8) pukul 18.46 WIB. Lokasi gempa berada di titik 8.37 LS dan 116.48 BT. Gempa terjadi pada kedalaman 15 km dan sempat dinyatakan berpotensi tsunami oleh BMKG.

Gempa Lombok Berpusat di Darat, Kenapa Bisa Tsunami?

Jakarta – Gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter (SR) di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) menimbulkan potensi tsunami, meski pusat gempa berada di daratan. Kenapa tsunami bisa terjadi padahal gempa di darat?

Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisoka (BMKG) Harry Tirto Djatmiko mengatakan, gempa 7 SR tersebut memang berpusat di darat, yakni tepatnya pada titik 8.37 LS dan 116.48 BT pada kedalaman 15 km. Namun, patahan gempa tersebut terjadi sampai ke laut.

Hal itulah yang menyebabkan terjadinya tsunami. Selain itu, gempa bumi tersebut termasuk dalam kategori gempa dangkal.

“Itu karena patahannya sampai ke laut. Jadi itu yang menyebabkan kami tetap firm mengeluarkan peringatan dini tsunami. Dia di darat tapi tidak jauh dari pantai,” kata Harry saat berbincang dengan detikcom, Senin (6/8/2018).

Gempa bumi tersebut awalnya dilaporkan terjadi pada Minggu (5/6) pukul 18.46 WIB dengan kekuatan 6,8 SR dan tidak menimbulkan tsunami. Namun, BMKG kemudian melakukan pemutakhiran informasi dan menyebut gempa tersebut berkekuatan 7 SR dan berpotensi tsunami.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tsunami yang dimaksud telah terjadi dan menyentuh daratan. Ketinggian tsunami itu di bawah setengah meter.

“Berdasarkan laporan BMKG telah ada tsunami dengan ketinggian tsunami yang masuk ke daratan 10 cm dan 13 cm,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Minggu (5/8/2018).

“Diperkirakan maksimum ketinggian tsunami 0,5 meter,” imbuh Sutopo.

Namun, pada Minggu (5/8) pukul 20.25 WIB, pihak BMKG kemudian mencabut peringatan tsunami tersebut.

Dengan adanya peringatan tsunami itu, masyarakat NTB mengungsi ke dataran lebih tinggi. Usai pencabutan peringatan tsunami, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan kembali ke rumah masing-masing. Meski demikian, masih banyak warga yang brtahan di tempat pengungsian karena rumah mereka hancur terkena gempa, terutama di kawasan Lombok Utara, Lombok Timur dan Mataram.

Banjir di Myanmar Kian Parah, Lebih dari 119.000 Orang Mengungsi

Liputan6.com, Phnom Penh – Sepuluh orang tewas dan lebih dari 100 ribu orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka setelah hujan lebat mengguyur sejumlah desa di Myanmar tengah dan selatan selama beberapa hari terakhir, menurut pejabat pemerintah.

Komite Manajemen Bencana Nasional Myanmar (NDMC) telah mendesak penduduk di dekat bantaran sungai dan daerah dataran rendah untuk pindah ke tanah yang lebih tinggi, setelah banjir menutup jalan dan desa-desa yang terendam, membuat masyarakat terdampar.

Hingga Selasa 31 Juli 2018, lebih dari 119.000 orang di lima provinsi telah terlantar akibat banjir tersebut. Demikian seperti dikutip dari CNN, Rabu (1/8/2018).

Wilayah Magway di Myanmar tengah menderita kerugian paling parah, dengan lebih dari 70.000 orang terkena dampak, kata Min Thein, Direktur NDMC.

Gambar yang dirilis oleh Kementerian Informasi Myanmar menunjukkan kapal penyelamat mengevakuasi orang, sementara anak-anak dan keluarga mengungsi ke atap rumah untuk menghindari naiknya permukaan air.

Namun, upaya aparat untuk menjangkau banyak dari warga yang terperangkan banjir, terhambat oleh hujan lebat. Tiga dari sepuluh orang yang tewas dalam banjir adalah tentara yang membantu upaya penyelamatan, kata Min Thein.

Gempa 5,5 SR Guncang Kabupaten Kaur Bengkulu

BENGKULU – Gempa 5,5 skala Richter mengguncang Kabupaten Kaur, Bengkulu, Rabu (1/8/2018), sekira pukul 22.25 WIB. Gempa bumi itu berlokasi 5.76 Lintang Selatan (LS), 102.47 Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 28 kilometer (KM).

Lokasi tepatnya berjarak 163 km Barat Daya Kabupaten Kaur, atau 171 km Barat Daya Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, 174 km Barat Daya Pesisir Barat, Provinsi Lampung dan 219 km Tenggara Kota Bengkulu, serta 485 km Barat Laut Jakarta.

“Gempa ini tidak berpotensi tsunami,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu.

Gempa di Kaur sampai Litman, merupakan gempa bumi akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, tepatnya di Zona Megathrust, yang merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera.

Hasil monitoring BMKG, lanjut Litman, hingga saat ini belum menunjukkan terjadi gempa bumi susulan. Meskipun demikian, masyarakat di Kabupaten Kaur dan sekitarnya diimbau tetap tenang dan terus mengikuti arahan BPBD dan informasi BMKG.

“Sejak gempa terjadi belum adanya laporan kerusakan di wilayah tersebut. Baik kerusakan bangunan pemerintah, sarana ibadah, kesehatan maupun bangunan rumah penduduk,” jelas Litman.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada. Sejak gempa terjadi belum ada gempa susulan,” pungkas Litman.

sumber: okezone