Jakarta – Gempa bumi berkekuatan 5,5 skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Kaur, Bengkulu. Gempa tak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
“Tidak berpotensi tsunami,” tulis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) seperti dilihat di situs resminya, Rabu (1/8/2018).
Gempa terjadi pada pukul 22.25 WIB. Gempa berada pada titik koordinat 5,76 Lintang Selatan (LS) dan 102,47 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 28 kilometer. Pusat gempa berada di laut dengan jarak 163 kilometer Barat Daya dari Kabupaten Kaur.
Belum ada laporan mengenai ada atau tidaknya korban dan kerusakan akibat gempa tersebut.
The 6.4 magnitude quake struck early on Sunday near Mount Rinjani on Lombok island, triggering landslides that cut off escape routes.
At least 16 people died and more than 330 were injured.
Rescue officials said many of the mostly foreign hikers were unlikely to reach the bottom before nightfall.
What is the situation on Mount Rinjani?
The national park authority said on Monday that a key route to the peak had been cleared and a helicopter was dropping supplies to hikers still on the slopes.
Rescue official Agus Hendra Sanjaya told AFP news agency that the hikers were believed to have enough supplies to last “another one to two days”.
Sutopo Purwo Nugroho, from the national disaster mitigation agency, said that when the quake struck there had been as many as 820 people on Mount Rinjani.
Among the foreigners climbing the volcano were 337 Thai tourists, with French, Dutch and Spanish making up the next-largest contingents.
The volcano, which rises 3,726m (12,224ft) above sea level and is the second-highest volcano in the country, is a favourite among sightseers.
What happened when the quake struck?
A Malaysian tourist on a hiking trip to Mount Rinjani was among those killed. Another young Indonesian hiker was also killed by falling rocks.
US tourist John Robyn Buenavista described seeing people pinned to the ground by fallen debris.
“At one point, I saw people with half of their bodies stuck in the rocks and I just couldn’t move. I felt paralysed and stopped moving. The guides were screaming, ‘Don’t die, don’t die’,” he told Reuters.
“One of the guides had to shake me and take me by the hand. He told me that I had to go, and that they would be OK.”
The only health centre in Sembalun at the foothills of Mount Rinjani was damaged in the earthquake, so tents have been set up to treat the injured until ambulances arrive to take them to the nearest hospital.
Indonesians are no strangers to earthquakes but the power of the latest one has put people on edge. After each aftershock people run out into the open.
Clouds are gathering over Mount Rinjani where rescue workers are slowly bringing down the remaining hikers via alternative routes not affected by landslides.
In the tents among the injured is a porter who rushed down the mountain when the earthquake struck and is being treated for dehydration.
Videos filmed by guides on mobile phones captured the terrifying moment when the quake hit with people yelling for everyone to come down.
Are earthquakes common in Indonesia?
Yes. Indonesia is prone to earthquakes because it lies on the Ring of Fire – the line of frequent quakes and volcanic eruptions that circles virtually the entire Pacific rim.
More than half of the world’s active volcanoes above sea level are part of the ring
KOMPAS.com – Secara tektonik, Lombok merupakan kawasan seismik aktif. Lombok berpotensi diguncang gempa karena terletak di antara 2 pembangkit gempa dari selatan dan utara. Dari selatan terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrusting).
“Sesar naik ini jalurnya memanjang dari laut Bali ke timur hingga Laut Flores. Sehingga tidak heran jika Lombok memang rawan gempa karena jalur Sesar naik Flores ini sangat dekat dengan Pulau Lombok,” ujar Daryono Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG melalui siaran resminya.
Ia melanjutkan, jika kita memerhatikan peta aktivitas kegempaan atau seismisitas Pulau Lombok, tampak seluruh Pulau Lombok memiliki banyak sebaran titik episenter. Ini artinya, ada banyak aktivitas gempa di wilayah tersebut.
Meskipun kedalaman hiposenternya dan magnitudonya bervariasi, namun tampak jelas wilayah lombok adalah wilayah aktif gempa yang bersumber dari subduksi lempeng, Sesar Naik Flores dan sesar lokal di Pulau Lombok dan sekitarnya. Dari sebaran seismitas ini pun cukup menjadi dasar untuk mengatakan bahwa Lombok memang rawan gempa. Catatan sejarah menunjukkan bahwa Pulau Lombok sudah sering terjadi gempa merusak, yaitu:
(1) Gempa dan tsunami Labuantereng, Lombok 25 Juli 1856,
(2) Gempa Lombok 10 April 1978 M=6,7 (banyak rumah rusak)
(3) Gempa Lombok 21 Mei 1979 M=5,7 (banyak rumah rusak)
(4) Gempa Lombok 20 Oktober 1979 M=6,0 (banyak rumah rusak)
(5) Gempa Lombok 30 Mei 1979 M= 6,1 (banyak rumah rusak dan 37 orang meninggal)
(6) Gempa Lombok 1 Januari 2000 M= 6,1 (2.000 rumah rusak)
(7) Gempa Lombok 22 Juni 2013 M=5,4 (banyak rumah rusak)
Gambaran catatan sejarah gempa tersebut kiranya cukup untuk menilai bahwa Lombok memang rawan gempa. Terkait gempa susulan, Daryono memastikan gempa susulan yang terjadi kekuatannya tidak akan sebesar gempa utamanya. “Frekuensi gempa susulan lombok makin jarang dan kekuatannya semakin mengecil. Dari trend gempa susulan, mengindikasikan sangat kecil kemungkinan akan terjadi gempa yang kekuatannya lebih besar dari gempa utamanya,” tegas Daryono dihubungi Kompas.com, Senin (30/7/2018).
Kondisi alam semacam ini merupakan sesuatu yang harus diterima, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi sebagai penduduk yang tinggal dan menumpang di batas pertemuan lempeng tektonik.
“Jalan keluarnya, kita harus terus meningkatkan kapasitas dalam memahami ilmu gempa bumi, cara selamat menghadapi gempa dan bagaimana memitigasi gempa bumi, agar kita selamat dan dapat hidup harmoni dengan alam,” ujarnya.
Jakarta – Gempa bumi berkekuatan 3,3 Skala Richter mengguncang kembali Lombok pukul 04.36 Wita, Rabu (1/8/2018). Lindu tersebut berpusat di darat, 16 kilometer tenggara Kabupaten Lombok Tengah.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir pusat gempa berada di kedalaman 11 kilometer.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto mengatakan, berdasarkan lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumbernya, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi tersebut dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik,” kata Agus.
Guncangan gempa bumi juga dirasakan di Kecamatan Bayan di Kabupaten Lombok Utara, dan Kecamatan Belanting di Kabupaten Lombok Timur dengan skala intensitas I Skala Intensitas Gempa (SIG) BMKG, atau II Modified Mercalli Intensity (MMI).
Hingga pukul 06.30 Wita, tidak ada laporan dampak kerusakan yang timbul akibat gempa bumi tersebut.
“Kami mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Agus seperti dilansir Antara.
The most compelling argument for the creation of a single and properly empowered agency or department for disaster management is the existing National Disaster Risk Reduction and Management Council (NDRRMC).
The need for such congressional act has become imperative.
The NDRRMC’s nomenclature and unpronounceable acronym cries out for radical change. Its Filipino name, Pambansang Tanggapan Para sa Pagtugon sa Sakuna, is only slightly more comprehensible.
Created under Republic Act 10121 in 2010, the NDRRMC was envisioned as a coordinating group of various government, non-government, civil sector and private sector organizations. It is administered by the Office of Civil Defense (OCD) under the Department of National Defense (DND). The Council utilizes the UN cluster approach to disaster management.
Conceived in this way – for coordination and as a cluster – the council will fundamentally be always engaged in a losing fight with emergency and disaster, especially those that demand timely and immediate intervention, relief, recovery and rehabilitation. No wonder, our government has been found helpless and inadequate by various natural disasters, including Supertyphoon Yolanda (Haiyan), flooding and earthquake disasters.
Given this history under successive administrations, we are consequently in agreement with the legislative proposal of President Rodrigo Duterte, in his third State of the Nation Address, that the Congress should create by law, as a matter of priority, a department for disaster management.
Specifically, the President told Congress, “To help safeguard the present and the future generations, we have to earnestly undertake initiatives to reduce our vulnerabilities to natural hazards and bolster our resilience to the impact of natural disasters and climate change.
“… We must learn from (our) experiences from Supertyphoon Yolanda and other mega disasters, and from global best practices. We need a truly empowered department characterized by a unity of command, science-based approach and full-time focus on natural hazards and disasters, and the wherewithal to take charge of the disaster risk reduction; preparedness and response; with better recovery and faster rehabilitation.”
“Hence, we, in the Cabinet, have approved for immediate endorsement to Congress the passage of a law creating the Department of Disaster Management … an inter-agency crafted and a high-priority measure aimed at genuinely strengthening our country’s capacity for [resilience]to natural disasters. I fervently appeal to Congress to pass this bill with utmost urgency. Our people’s safety requirements cannot wait.”
Ilocos Norte Gov. Imee Marcos has suggested, as a model for the proposed department, the Federal Emergency Management Agency (FEMA) of the United States.
FEMA’s record is not all that sterling. It got caught with its pants down during the hurricane Katrina emergency in New Orleans and Louisiana. But it has been performing better since.
The crucial point, however, is that FEMA is solely devoted to disaster response and relief during times of emergency and crisis in America.
Our policy must take a similar thrust.
Twenty typhoons visit the Philippines every year, and we live under the ever-present threats of floods, earthquakes and droughts that ruin lives, infrastructure, homes and farm-based livelihood.
Our resiliency programs should be able to snap into place every time there is a disaster or emergency. That’s what a dedicated agency or department is all about.
A powerful storm slammed into central Japan on Sunday, bringing heavy rains as it churned across western areas already devastated by floods and landslides.
Typhoon Jongdari, packing winds of up to 180 kilometres (110 miles) an hour, made landfall at Ise in the Mie prefecture at around 1 am (1600 GMT Saturday), according to the nation’s meteorological agency.
It weakened after making landfall and was downgraded to a tropical storm, according to the agency, but many provinces stayed on alert.
“We have been on the emergency alert the whole time since the rain disaster” in early July, said Koji Kunitomi, a crisis management official at western Japan’s Okayama prefecture, referring to deadly rains earlier this month.
“Fortunately, so far, we haven’t seen new flooding,” he told AFP.
The storm, after unleashing torrential rain over eastern Japan, was moving further west mid-day Sunday, and authorities in western Japan urged tens of thousands of residents to evacuate before the rain intensifies.
TV footage showed high waves smashing onto rocks and seawalls on the coastline southwest of Tokyo, and trees buffeted by strong winds and heavy rain.
At least 19 people were injured across six prefectures, public broadcaster NHK said.
Rough waves shattered the window of an ocean-view restaurant at a hotel in the resort town of Atami, southwest of Tokyo, late Saturday.
“We didn’t expect this could happen… Waves gushed into the restaurant as the window glass broke but we are grateful that customers followed evacuation instructions,” an official at the hotel told AFP.
“Fortunately no one was seriously hurt,” she said, adding five people suffered cuts from broken glass as they fled.
The storm was moving across the western Chugoku region, where record rainfall in early this month unleashed flooding and landslides, killing around 220 people.
It was Japan’s worst weather-related disaster in decades, and thousands of the affected are still in temporary shelters or damaged homes.
The weather agency warned of heavy rain, landslides, strong winds and high waves, and urged people to consider early evacuation.
In Japan, evacuation orders are not mandatory and people often remain at home, only to become trapped later by rapidly rising water or sudden landslides.
Some critics said the orders in Chugoku were issued too late.
Japan is now in typhoon season, and is regularly struck by major storm systems during the summer and autumn.
LOMBOK, KOMPAS.com – Hingga pukul 15.00 wita ada 333 pendaki Gunung Rinjani yang masih terjebak di atas. Mereka tidak bisa turun karena jalan turun tertutup longsor akibat gempa bermagnitudo 6,4 yang mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa Minggu (29/7/2018) pagi.
“Kita minta mereka ambil posisi yang aman saja dulu karena jalan tertutup oleh longsor,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sudiyono, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu, seperti dikutip Kantor Berita Antara.
TNGR, kata dia, telah berkoordinasi dengan Basarnas Mataram, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan TNI/Polri guna melakukan evakuasi. Hingga saat ini, Balai TNGR telah menerjunkan tiga personel untuk melakukan penjajakan evakuasi. Sebagai antisipasi, seluruh jalur pendakian ditutup untuk sementara waktu sejak pagi hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil mengingat aspek keselamatan para pendaki. Sudiyono menyebutkan, satu pendaki WNI dilaporkan meninggal dunia.Namun, ia belum mengetahui identitas lengkap korban meninggal.
“Posisi korban masih di atas sedang kita pikirkan upaya evakuasinya,” ungkapnya. Terjebak di Segara Anak Uspi, salah seorang porter menceritakan, saat gempa terjadi ada sekitar 1.000-an pendaki di atas. Mereka berada di sekitar Segara Anak. Baca juga: 133 Gempa Susulan Guncang Lombok, Masyarakat Diminta Waspada
“Ada ratusan yang masih belum bisa keluar. Karena saat kami di atas ada 1.000-an pendaki masih berada di atas Gunung Rinjani,” tutur Uspi yang berhasil turun pada Minggu sore. Menurut Uspi, jalur pintu Senaru di Kabupaten Lombok Utara dan pintu Sembalun di Kabupaten Lombok Timur sudah tidak bisa dilewati karena tertutup material longsor dan bongkahan batu.
“Sudah enggak bisa lewat, kalau dari danau,” ujarnya. Gempa di tengah pendakian Ia mengungkapkan, saat terjadi gempa, dirinya bersama para pendaki lainnya sedang menuju puncak Rinjani. Namun, menjelang puncak mereka dikejutkan dengan getaran hebat, sehingga seluruh pendaki menjadi panik dan langsung memutuskan kembali dengan buru-buru turun ke bawah.
“Getarannya besar sekali di atas, semua pendaki juga lagi tiarap, enggak ada yang berani berdiri, bahkan sejumlah pendaki bule-bule sampai ikut teriak-teriak Allahu akbar saat di atas minta keselamatan,” tutur Uspi.
Ia mengaku bersyukur bisa tiba dengan selamat bersama pendaki asal Thailand yang jumlahnya enam orang hingga jalur pintu masuk Bawak Nao Desa Sembalun. “Alhamdulilah, kami bisa selamat sampai di bawah,” katanya.
Gempa kuat yang mengguncang Lombok Nusa Tenggara Barat) dan Bali pada Minggu (29/07) menyebabkan setidaknya 14 orang meninggal dunia, lebih dari 160 lainnya luka-luka, kata juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.
Lima di antara korban meninggal dunia dilaporkan adalah anak-anak.
Gempa berkekuatan 6,4 SR tersebut juga menyebabkan lebih dari 1.000 rumah rusak. Hingga Minggu sore waktu setempat dirasakan setidaknya 133 gempa susulan, kata Sutopo.
Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut hingga sekitar pukul 9.20 WITA, gempa susulan terjadi hingga 66 kali.
“Sepuluh orang meninggal di Lombok Timur, empat lainnya di Lombok Utara,” kata Sutop dalam keterangan pada Minggu malam.
Di antara korban meninggal terdapat seorang warga negara Malaysia.
Korban dilaporkan tengah berada di kamar kecil ketika bangunan tempat ia berada ambruk.
Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan 5,7 skala richter. Warga di berbagai daerah gempa dilaporkan berhamburan keluar rumah, termasuk para turis yang keluar dari hotel di kawasan pariwisata setempat.
“Masyarakat di Lombok Timur dan Kota Mataram merasakan gempa dengan guncangan keras selama 10 detik,” kata Sutopo.
Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI pada Kementerian Luar Negeri, mengaku merasakan gempa kuat di kawasan Senggigi, Lombok.
Ia berada di daerah wisata itu saat gempa terjadi.
“Sangat terasa karena berdekatan dengan Lombok Utara. Para turis berhamburan keluar dari hotel karena takut,” kata Iqbal kepada BBC News Indonesia.
Iqbal mengatakan, tidak terdapat bangunan hancur di sekitar Senggigi. Ia melihat sebagian turis kembali beraktivitas, sementara sejumlah wisatawan lainnya telah masuk ke hotel.
“Saat ini sedang peak season (musim puncak liburan). Semua hotel sepertinya penuh,” kata Iqbal.
Adapun, gempa yang diduga akibat akivitas Sesar Naik Flores itu juga menyebabkan longsor di Gunung Rinjani.
Jalur pendakian gunung itu kini ditutup untuk umum.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati meminta masyarakat Bali dan NTB tetap mewaspadai potensi gempa susulan.
Menurutnya, kekuatan gempa yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan tidak akan sebesar gempa pada Minggu pagi.
Menurut catatan, sejumlah gempa bumi juga pernah melanda Bali dan NTB pada tahun 2017.
Maret 2017, gempa yang terjadi di kawasan itu tercatat berkekuatan 6,4 SR sementara pada Agustus 2017 sebesar 5,1 SR.
Indonesia berada di kawasan rentan aktivitas seismik yang biasa disebut Pacific Ring of Fire.
Gempa dahsyat di bawah laut berkekuatan 9,3 SR pada Desember 2004 memicu tsunami menewaskan 220.000 orang, 168.000 di antaranya di Indonesia.
KOMPAS.com – Kebakaran hutan melanda wilayah Yunani di kawasan Rafina, Pikermi, Mati, Neo Voutzas, Kinetta dan sekitar wilayah utara Ibu Kota Athena, sebelah timur Attica. Bencana ini terjadi sejak Senin (23/7/2018), dan tercatat telah menelan 74 korban jiwa.
Tak hanya itu, ada 164 orang dewasa dan 23 anak-anak yang mengalami luka parah akibat kejadian ini. Titik api utama berasal dari Kineta, area Penteli dan Kallitechnoupolis.
Terkait bencana tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Yunani Ferry Adamhar dan pejabat KBRI Athena Fungsi Konsuler FX Widiyarso mendatangi lokasi kejadian pada Selasa (24/7/2018) waktu setempat. Dalam siaran pers yang diterima Kompas.com siang ini, disebutkan, pejabat KBRI mendatangi lokasi bencana untuk memastikan keberadaan warga Negara Indonesia yang turut menjadi korban.
Sejalan dengan itu, KBRI Athena sudah mengeluarkan imbauan kepada WNI di Athena untuk berhati-hati dan menjauh dari lokasi kebakaran hutan. Berdasarkan data KBRI Athena, jumlah WNI yang ada di Yunani mencapai 1.300 orang. Disebutkan, KBRI Athena membuka hotline 24 jam terkait tindak lanjut atas musibah ini, di nomor +306946460015 (telepon, Whatsaap, dan SMS).
Medan – Infeksi yang ditularkan hewan bertulang belakang (vertebrata) ke manusia, atau sebaliknya ( zoonosis) menjadi perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir. Zoonosis disebut mengancam kelangsungan kehidupan manusia. Dampak ancaman tak hanya terjadi di sektor kesehatan, namun juga di sektor ekonomi, sosial dan keanekaragaman hayati.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mengatakan, diperlukan penanganan serius untuk mencegah, mendeteksi dan mengatasi wabah ini.
“Lebih dari 70 persen penyakit infeksi baru di dunia melibatkan hewan ternak dan satwa liar, seperti Zika dan Ebola. Terbesar adalah Flu Burung pada 2005 menyebabkan kematian ribuan ternak dan korban manusia,” kata Sekretaris Daerah Provinsi Sumut R Sabrina, Kamis (26/7/2018).
Menurutnya, epidemiologi, mekanisme transmisi penyakit dari hewan ke manusia, diagnosa, pencegahan dan kontrol harus diantisipasi. Baca juga: Indonesia dan Amerika Antisipasi Kedaruratan Penyakit Zoonosis Untuk itu, Sabrina mendukung Table Top Simulation (TTS) yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), untuk menghadapi kedaruratan penyakit hewan, zoonosis dan penyakit infeksi baru dengan pendekatan One Health.
“Simulasi ini berguna bagi jajaran aparat pemerintah provinsi dan kabupaten, juga pemangku kepentingan lain, sesuaikan dengan kondisi di wilayah masing-masing,” ujarnya. Asisten Deputi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenko PMK Dr Naahli Kelsum mengatakan, dipilihnya Sumut sebagai lokasi pelaksanaan simulasi mengingat pada 2006 lalu, Kabupaten Karo menjadi cluster flu burung pertama dan terbesar di Indonesia. Provinsi ini juga memiliki dua taman nasional yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG).
“Kedua taman nasional itu menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati baik flora dan fauna. Provinsi ini juga memiliki posisi strategis, berada di jalur pelayaran Selat Malaka yang berpeluang menjadi penghubung perdagangan international di kawasan Asia Tenggara,” kata Naahli.
Kegiatan yang mereka lakukan, lanjut dia, untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana non-alam berupa wabah penyakit, khususnya Penyakit Menular Baru (emerging infectious disease) dan zoonosis menggunakan buku pedoman koordinasi lintas sektor yang telah diluncurkan beberapa waktu lalu di Yogyakarta. Latihan simulasi table-tob ini merupakan simulasi ke empat dan terakhir. Simulasi sebelumnya dilaksanakan di Bogor, Manado dan Bali pada awal 2018.
“Latihan simulasi di Medan melibatkan perwakilan dari seluruh provinsi di Pulau Sumatera,” ujar dia.
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian drh Fadjar Sumping Tjaturasa mengatakan, pentingnya simulasi diadakan karena perubahan kondisi dunia akibat pertumbuhan populasi manusia dan hewan sangat cepat.
Urbanisasi, penurunan kualitas lingkungan, sistem pertanian dan peternakan yang berubah, serta lalu lintas manusia/hewan/produk hewan telah menyebabkan peningkatan risiko munculnya penyakit infeksi emerging (PIE) yang dapat mengancam keselamatan masyarakat, berdampak ekonomi, dan munculnya gejolak sosial di Indonesia.
“Pencegahan dan penularan penyakit zoonosis harus dimulai dari hulu, atau dari hewannya. Simulasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah Indonesia dalam mencegah, mendeteksi dan mengatasi wabah Penyakit Menular Baru (emerging infectious disease) melalui peningkatan koordinasi multisektoral,” kata Fadjar.