Gunung Agung Erupsi dan Melontarkan Lava, Warga Berhamburan Turun Gunung

Gunung Agung Erupsi dan Melontarkan Lava, Warga Berhamburan Turun Gunung

TRIBUNJAKARTA.COM – PERBEKEL Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem, Komang Tinggal, terdengar panik saat diwawancarai Tribun Bali, Senin (2/7) pukul 22.15 Wita.

Suaranya terdengar tergesa-gesa, dan mengatakan hendak mengungsi setelah Gunung Agung mengalami erupsi dan melontarkan lava dan batu pijar.

Komang Tinggal menjelaskan, warga Sebudi utamanya yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) hampir semuanya mengungsi.

Mereka berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman setelah mendengar bunyi dentuman keras dibarengi lontaran lava pijar.

“Warga berhamburan dan berduyun-duyun turun untuk mengungsi. Sepeda motor lalu lalang. Masyarakt Sebudi panik campur takut dengan kondisi gunung. Mereka hanya membawa pakaian dan selimut,” kata Tinggal saat dihubungi Tribun Bali, tadi malam.

Warga turun untuk mengungsi setelah mendengar suara dentuman dari kawah Gunung Agung disertai lontaran pijar ke permukaan.

Melihat kondisi tersebut, warga seketika turun untuk selamatkan diri masing-masing.

“Awalnya cuma terdengar suara gemuruh. Beberapa menit kemudian terlihat kilat di atas kawah Gunung Agung. Setelah itu baru terdengar bunyi dentuman disertai lontaran lava pijar. Api terlihat di puncak gunung,” tambah Komang Tinggal.

Menurutnya, warga Sebudi yang tinggal di bagian barat mengungsi ke Rendang dan Nongan.

Titik kumpulnya di lapangan Rendang. Sedangkan warga Sebudi yang berada di bagian timur mengungsi ke Selat, Duda, Duda Timur.

Sementara dari Klungkung dilaporkan, beberapa pengungsi asal Desa Sebudi juga sudah sampai di Gor Swecapura, Gelgel, Klungkung, tadi malam.

Warga Desa Kiduling Kreteg dan Temukus juga berhamburan dan bergegas turun gunung untuk menyelamatkan diri.

Mereka banyak mengungsi ke Dusun Kedungdung, Besakih.

Di lokasi berbeda, warga KRB III dari Kecamatan Bebandem juga berduyun-duyun untuk mengungsi.

Jalan sekitar Pasar Bebandem, Desa Bebandem, ramai kendaraan warga yang hendak mengungsi.

Hal serupa juga terlihat sekitar Kota Karangasem. Warga terlihat panik. Penunggu pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karangasem berhamburan keluar melihat Gunung Agung melontarkan lava pijar dan membakar hutan di puncak Tohlangkir.

Suasana panik dengan lalu lintas krodit juga terjadi di jalan raya Rendang hingga Nongan.

Pengungsi berdatangan dari arah utara menggunakan sepeda motor dann mobil. Warga dari jalan Desa Pesaban, Nongan, dan Rendang pun bersiaga depan rumah.

Hujan Pasir

Sementara dari Bangli dilaporkan, hujan pasir akibat erupsi Gunung Agung terjadi di Desa Abang Batudinding, Kintamani.

Warga setempat sempat merasakan hujan pasir selama lima detik.

Seperti diungkapkan Perbekel Desa Abang Batudinding, I Made Diksa, pihaknya menerima laporan sempat terjadi hujan pasir di tiga banjar setempat.

“Sempat ada laporan hujan pasir di Banjar Peselatan, Beluhu, Klatkat. Tapi intensitasnya ringan dan hanya berlangsung sekitar lima detik,” ujarnya tadi malam.

Ia menambahkan, meskipun terjadi hujan pasir, hingga kini di wilayah Desa Abang Batudinding belum dirasakan paparan abu vulkanik.

Terkait pergeseran warga setempat, Made Diksa menuturkan masih menunggu imbauan dari BPBD, serta persetujuan camat untuk mengungsi.

Tak hanya di wilayah Bangli, hujan pasir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Gianyar. Satu diantaranya di wilayah Kerta, Payangan. (ful/mer)

http://jakarta.tribunnews.com

Erupsi Gunung Agung Berjenis Strombolian, Apa Itu?

Erupsi Gunung Agung Berjenis Strombolian, Apa Itu?

Jakarta – Gunung Agung mengalami erupsi secara strombolian dengan suara dentuman. Lalu apa itu strombolian?

“Erupsi terjadi secara Strombolian dengan suara dentuman. Erupsi bersifat eksplosif melontarkan batu pijar karena ada tekanan dari dalam kawah. Sifat magma yang lebih cair dibandingkan letusan tahun lalu juga menyebabkan mudahnya terjadi lontaran batu pijar,” Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/7/2018).

Dilansir dari situs Kementerian ESDM, strombolian merupakan jenis erupsi gunung berapi. Strombolian adalah semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunung api yang sering aktif di tepi benua atau di tengah benua.

Situs Museum Gunung Api Merapi juga menjelaskan soal tipe erupsi ini. Istilah tipe strombolian diambil dari kata Stromboli, nama gunung api di pulau Stromboli Italia yang terletak di Laut Thyrene, Mediterania. Ciri-ciri erupsi strombolian yakni adanya erupsi-erupsi kecil dari gas dan fragmen-fragmen atau serpihan magma.

Material yang diletuskan jatuh kembali ke dalam kawah atau di sekitar bibir kawah. Pada saat terjadi erupsi yang lebih besar, lava mengalir ke lereng di sekitarnya. Gunungapi tipe strombolian mempunyai kawah, biasanya berbentuk lingkaran. Tubuh dan lereng gunung tersusun dari batuan yang berasal dari lava.

Tipe erupsi strombolian berbeda dengan tipe erupsi lainnya. Tipe erupsi hawaiian terjadi pada celah yang bentuknya lebih sederhana. Bentuk gunung jenis hawaiian biasanya seperti perisai. Tipe plinian tergolong sebagai erupsi yang sangat eksplosif alias berdaya ledak tinggi, karena kekentalan magma juga lebih tinggi. Ada pula tipe erupsi vulkanian yang terjadi karena lubang kepundang tersumbat lava yang membeku.

Dalam laporan PVMBG Kementerian ESDM, erupsi Gunung Agung kembali terjadi pada Senin (2/7/2018) sekitar pukul 21.04 Wita dan Selasa (4/87/2018) pukul 04.13 Wita. Tinggi kolom abu pada letusan malam tadi teramati ± 2.000 m di atas puncak (± 5.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

Lontaran lava pijar tadi malam teramati keluar kawah mencapai jarak 2 km. Saat ini warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
(fai/dnu)

Disaster preparedness can help save lives in your community

https://wtop.com/wp-content/uploads/2017/12/SMOKE-DETECTOR-727x485.jpg

From flooding to tornados to home fires, it’s impossible to know when disaster will strike.

What’s important is taking the necessary precautions to prevent accidents, and knowing how to respond in cases of emergency — otherwise known as being Red Cross Ready.

In Central Ohio, the most common disasters tend to be home fires, which usually are preventable and disproportionately affect the elderly and children. Home fires kill seven people every day in the U.S., and more than 60 percent of these deaths occur in homes without smoke alarms.

To address the more than 5 million homes without smoke alarms, the American Red Cross and fire departments are canvassing at-risk neighborhoods to install free smoke alarms, replace alarm batteries and provide fire prevention and safety education. Through the Home Fire Campaign and Sound the Alarm initiative, the goal is to reduce death and injury from home fires by 25 percent by 2020. So far, more than 1 million smoke alarms have been installed and more than 1 million people have been educated about home fires.

As a founding member of the Red Cross’ Annual Disaster Giving Program, Nationwide helps the organization with immediate resources to respond to disasters whenever and wherever they happen. For organizations calling the region home, supporting disaster relief efforts can serve as a team-building activity.

“Get your team involved by hosting a Red Cross training course such as First Aid and CPR,” suggests Mary Lynn Foster, CEO for the Ohio Buckeye Region of the American Red Cross. “Engage your employees in a meaningful services project through our Sound the Alarm campaign, installing free smoke alarms and educating our communities on fire safety. Encourage your employees to become Red Cross volunteers and make an impact right here in Central Ohio and beyond.”

Whether a parent or teacher, a teenager or senior citizen, there is applicable Red Cross training. Through the Sound the Alarm campaign alone, more than 431 lives have been saved, including 10 in Central Ohio.

Bangun TPT sebagai Solusi Cegah Bencana Banjir Tahunan

tpt, desa kedawung kulon, kecamatan grati, kabupaten pasuruan

MUSIBAH banjir di Desa Kedawung Kulon menjadi bencana rutinan setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena aliran dari aliran sungai Rejoso yang meluap hingga meluber ke pemukiman penduduk sekitar. Agar tak terlalu parah maka pemerintah desa menyikapi dengan membangun tembok penahan tanah (TPT).

Bangunan TPT ini juga berfungsi sebagai parapet permanen. Sejauh ini, TPT maksimal untuk mencegah luapan air dari sungai Rejoso.

M Sugiyarto selaku Kades Kedawung Kulon mengatakan bahwa tingkat partisipasi masyarakat begitu tinggi, terutama kebersamaan dalam gotong royong karena selalu bahu membahu jika musibah itu datang. Ketika musibah ini terjadi, maka beban yang ditanggung terasa menjadi ringan karena kekompakan masyarakat saling membantu satu sama lainnya. Desa ini pun sudah ditetapkan Pemkab Pasuruan sebagai desa tangguh bencana.

“Rencana desa sini tahun ini akan dipilih untuk mewakili kabupaten mengikuti lomba di tingkat Nasional” jelasnya.

Pemerintah desa pun mencari solusi agar kejadian banjir tak selalu menjadi langganan tiap tahun. Dan secara bertahap, desa membangun TPT di sepanjang tanggul aliran sungai Rejoso. Selain menahan luberan air dari sungai Rejoso, TPT juga memperkuat tanggul sehingga tak mudah jebol.

TPT dibangun di beberapa titik. Di tahun 2017 misalnya di Dusun Adirogo dan Dusun Joyo Mulyo. Di tahun sebelumnya juga dibangun dengan titik yang berbeda. Sedangkan untuk tahun 2018 juga sama. Rencananya akan melanjutkan pembangunan di Dusun Kebrukan dan Adirogo. “Sehingga nantinya akan nyambung satu sama lainya, pembangunan ini kami fokuskan pada titik yang terparah,” beber.

Sebagai penunjang, desa membangun gorong-gorong tiga titik di Dusun Kedawung. Gorong-gorong ini untuk memperlancar saluran air, juga sebagai jembatan kecil penghubung antar gang kampung.

perangkat, desa kedawung kulon, kecamatan grati, kabupaten pasuruan

KOMPAK: H. M. Sugiyarto Kepala desa (Duduk di Tengah) bersama perangkat desa. (Edwan Abdi Wiratama/Radar Bromo)

Pun demikian dengan akses jalan yang berada di pemukiman kampung, juga tak luput dari bidikan target pembangunan. Jalan yang masih berupa tanah sering kali menjadi penghambat bagi aktivitas warga sekitar yang hendak melewatinya. Sebab kondisi jalan banyak yang sudah rusak. Itu diperparah setelah banjir, maka jalan dipenuhi dengan lumpur. Sehingga menjadi licin dan becek dan membuat lingkungan kampung menjadi terlihat kotor dan kumuh.

Nah agar lebih nyaman maka dibangunlah pavingisasi di jalan pemukiman kampung penduduk yang berada di Dusun Kebrukan, Dusun Magersari, serta Dusun Tugu. “Setelah di paving, lingkungan tampak lebih bersih serta menunjang aktivitas warga menjadi mudah dan lancarhasilnya perekonomian kian meningkat lebih baik,” terangnya.

sumber: jawapos

Ini Dilakukan PMPB-Plan Internasional terkait Aman Bencana

http://cdn2.tstatic.net/kupang/foto/bank/images/plan_20180701_191837.jpg

POS KUPANG.COM, KUPANG –-Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) – NTT bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTT, Yayasan Plan International Indonesia dengan dukungan dana dari SIDA sejak tahun 2015 – 2018 telah melaksanakan program penguatan suara anak melalui promosi sekolah/madrasah aman bencana di Provinsi NTT. Pasalnya, dilihat dari aspek Klimatologi, topografi, geologis, demografi dan sosiologi,

Provinsi Nusa Tenggara Timur sangat berpotensi terhadap ancaman bencana seperti banjir, longsor, angin puting beliung, gempa, tsunami, abrasi, konflik, wabah penyakit dan lain-lain. Setiap kejadian bencana selalu menimbulkan dampak berbeda bagi setiap sektor termasuk sektor pendidikan.

Dalam siara pers PMPB NTT yang diterima Pos Kupang, Sabtu (30/6/2018) menyebutkan,tantangan dalam mengelola risiko bencana di sektor pendidikan semakin kompleks, mengingat penyelesaian masalah harus dapat diupayakan jawaban untuk memperkuat ketahanan sektor pendidikan, dalam upaya mitigasi maupun kesiapan menghadapi ancaman bencana tersebut.

Karenanya, penyelenggaraan penanggulangan bencana khususnya di sektor pendidikan perlu dilakukan secara terencana, terkoordinasi dan terpadu, mengingat keberulangan bencana semakin meningkat baik wilayah terdampak maupun jumlah kerugian yang ditimbulkan .

Menyikapi kondisi ini, PMPB NTT bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTT, Yayasan Plan International Indonesia dan Pemerintah Provinsi NTT dengan dukungan dana dari SIDA sejak tahun 2015 – 2018 melaksanakan program

Penguatan suara anak melalui promosi sekolah/madrasah aman bencana di Provinsi NTT.Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses ke lingkungan belajar yang aman bagi anak-anak melalui replikasi dan scalling-up dari inisiatif sekolah aman di tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi NTT.

Beberapa hal yang dilakukan bersama dalam implementasi program ini adalah, kegiatan peningkatan kapasitas kepada aparatur sipil Negara (ASN), para guru dan juga OMS di Provinsi NTT, kampanye dan advokasi untuk mendorong implementasi program sekolah/madrasah aman bencana di Provinsi NTT.

Beberapa hal yang telah dicapai dalam kegiatan ini antara lain, tersedia fasilitator – fasilitator sekolah/Madrasah aman Bencana di Provinsi NTT seturut surat Edaran Dinas P dan K Provinsi NTT nomor : 421/03/PK/2016 tentang Penerapan Sekolah

Aman di Provinsi NTT, Beberapa sekolah/madrasah sudah menyusun perencanaan untuk implementasi sekolah aman (bentuk tim siaga, simulasi,

renovasi pintu dan meja belajar, dll), sudah ada tools monitoring yang telah di Up-date sesuai dengan konteks NTT dan telah di uji coba, sudah ada dokumen strategi advokasi sekolah aman di Provinsi NTT, sudah ada Modul

Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana, sudah ada anggaran di beberapa SKPD untuk mendukung penerapan sekolah aman di Provinsi NTT, program sekolah aman masuk dalam renstra Forum PRB NTT,

media massa terlibat dalam penyebaran informasi tentang implementasi sekolah aman di Provinsi NTT, promosi sekolah aman melalui media sosial (facebook), Pembuatan buku saku, Pembuatan media belajar edukatif, sudah ada Modul Pendidikan

Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah, sudah ada buku cerita sukses tentang Program sekolah/ madrasah aman di NTT, sudah ada Sekretariat Provinsi Satuan Pendidikan Aman Bencana di NTT

Harapan bersama ke depan adalah bagaimana bersama untuk mengoptimalisasi fungsi Sekretariat Provinsi Satuan Pendidikan Aman Bencana tingkat Provinsi NTT, adanya dukungan

Kebijakan, Program dan Anggaran bagi SKPD pemangku kebijakan di bidang pendidikan dan penanggulangan bencana, adanya dukungan Peningkatan kapasitas guru dan aparatur pemerintah dalam mendorong program sekolah/madrasah aman bencana di lingkup kerja masing-masing dan juga mengakomodir standar-standar sekolah aman bencana dalam perencanaan dan pembangunan sarana pendidikan di Provinsi NTT.(*/yon)

Gunung Agung Kembali Erupsi Pagi Ini, Aktivitas Bandara Normal

Gunung Agung Kembali Erupsi Pagi Ini, Aktivitas Bandara Normal

Bali – Gunung Agung di Bali kembali mengalami erupsi pagi ini. Namun, tak ada sebaran abu hasil erupsi.

Informasi aktivitas Gunung Agung pagi ini disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, lewat Twitter-nya, Senin (2/7/2018). Sutopo mengatakan, erupsi Gunung Agung hanya berlangsung sesaat.

“Gunung Agung erupsi sesaat saja pada 2 Juli 2018 pukul 06.19 WITa. Tinggi kolom abu 2.000 m berwarna kelabu dan intensitas tebal condong ke arah barat,” ujar Sutopo.

Sutopo mengatakan, tak ada sebaran abu akibat erupsi. Dia menyebut, kondisi penerbangan tetap normal.

“Erupsi dengan amplitudo maksimum 18 mm dan durasi ± 3 menit 47 detik. Tidak ada sebaran abu. Semua bandara tetap normal,” jelas Sutopo.

Erupsi Gunung Agung pagi ini terpantau terjadi 3 kali. Erupsi lanjutan terjadi pukul 06.41 WITa dan 06.55 WITa. Pada erupsi kedua, kolom abu teramati mencapai ketinggian kurang lebih 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.142 meter di atas permukaan laut. Sedangkan pada erupsi ketiga, kolom abu teramati mencapai 700 m di atas puncak atau 3.842 m di atas permukaan laut.

sumber: detik.com

Perkuat Mitigasi Bencana, Delegasi Jepang ke Banda Aceh

BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, Kamis (28/6), menerima delegasi Jepang di Pendapa Wali Kota. Kunjungan delegasi dari ‘Negeri Matahari Terbit’ itu untuk memperkuat kerja sama mitigasi bencana.

Delegasi Jepang yang hadir, Asami Okahashi Urban Development Specialist UNDP, Yuichi Ono representatif International Research Institute of Disaster Science (IRIDeS) Tohoku University dan Kazuhi Tsuji Director Global Business Division Fujitsu Limited.

Bersama Aminullah, tim delegasi Jepang juga disambut Kepala Bappeda Gusmeri, Kepala BPBD Kota Fadhil SSos MM, Kadis Kominfotik Bustami dan Kabag Administrasi Pembangunan M Saifuddin Ambia.

Sebagai kota yang baru bangkit dari bencana dahsyat 2004 silam, Banda Aceh masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, mulai implementasi konsep pengurangan risiko bencana hingga mewujudkan smart city serta kota tangguh yang berkelanjutan. “Banda Aceh butuh dukungan pembangunan sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Bidang ekonomi yang sedang diupayakan, yakni menekan angka pengangguran dan kemiskinan yang kini masih berada diangka 7,75 dan 7,5 persen,” kata Aminullah.

Dia menuturkan upaya yang bisa dilakukan, adalah meningkatkan kesejahteraan petani nelayan yang ada di Banda Aceh, misalnya mengadopsi teknik budidaya tiram secara modern yang berhasil dikembangkan di Kota Higashimatsushima-Jepang. “Transfer ilmu pengetahuan dan pemahaman tentu sangat kami butuhkan,” katanya.

Sementara Yuichi Ono dari IRIDeS Tohoku University mengatakan idealnya pembangunan sektor ekonomi dan pembangunan sistem pengurangan risiko bencana suatu daerah harus berjalan seimbang. “Terkait mitigasi bencana, kami sudah berinvestasi sejak lama pasca kekalahan perang 1945. Mulai saat itu pemerintah sudah mengalokasikan anggaran khusus untuk mitigasi bencana,” ungkapnya.

Hasil investasi itu, terbukti angka korban jiwa pada saat tsunami menghantam kawasan Higashimatsushima pada 2011 lalu dapat berkurang signifikan. “Potensi korban jiwa waktu itu berkisar angka 200 ribu, tapi dapat ditekan menjadi 20 ribu jiwa,” ungkapnya.

Ia menambahkan, saat ini Jepang menerapkan multi sistem dalam upaya pengurangan risiko bencana. “Jadi kami tidak mengandalkan satu sistem saja, tapi multi sistem yang terus dikembangkan mulai early warning system, membangun sea wall sepanjang 400 kilometer, hutan pantai, kanal saluran air, dan menentukan zona aman bagi penduduk,” bebernya.

Selain itu infrastruktur dan teknologi, pendidikan kebencanaan mulai tingkat sekolah dan pelatihan serta simulasi bencana bagi masyarakat termasuk riset-riset secara kontinu terus dilakukan.(rel/mir)

sumber: http://aceh.tribunnews.com

Posisi Kapal Tenggelam Berada di Kedalaman 450 Meter Danau Toba

Posisi KM Sinar Bangun yang Tenggelam di danau Toba Ditemukan, Berada di Kedalaman 450 Meter

SERAMBINEWS.COM, MEDAN – Tim gabungan yang dikoordinasi Basarnas telah menemukan dan mengidentifikasi KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara.

Seperti dikutip Antara, Minggu (24/6/2018), Dirut Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo mengatakan, Basarnas bersama “Mahakarya Geo Survey” Ikatan Alumni ITB telah mengerahkan peralatan untuk mencari KM Sinar Bangun.

Pada Minggu siang, tepatnya pukul 11.12 WIB, tim gabungan berhasil menemukan dan mengidentifikasi posisi kapal yang disaksikan langsung Menteri Sosial Idrus Marham.

Dari identifikasi yang dilakukan, diketahui posisi KM Sinar Bangun berada pada koordinat 2,47 derajat lintang utara dan 98,6 derajat bujur timur.

Sedangkan posisi kapal diperkirkan pada kedalaman 450 meter di bawah permukaan air.

Setelah penemuan koordinat dan posisi KM Sinar Bangun tersebut, selanjutnya diserahkan ke pihak berwenang dibawah kendali Basarnas untuk melakukan langkah-langkah strategis berikutnya.

Mengingat kondisi kedalaman yang mencapai 450 meter, Ikatan Alumni ITB mengusulkan untuk memobilisasi ROV ECA H1000 “semi work class” untuk membantu proses pengangkatan kapal.

Apalagi diperkirakan banyak korban masih terperangkap di dalam badan kapal yang melayani pelayaran dari Pelabuhan Tigaras di Kabupaten Simalungun menuju Pelabuhan Simanindo di Kabupaten Samosir itu.

Sebelumnya, KM Sinar Bangun yang mengangkut seratusan penumpang dilaporkan tenggelam di perairan Danau Toba, antara Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dengan Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin, sekitar pukul 17.30 WIB.

Dari proses pencarian yang dilakukan, tim gabungan telah menemukan 19 korban selamat dan tiga korban tewas.

Lokasi Kapal Sinar Bangun yang Tenggelam di Danau Toba Telah Ditemukan

SAMOSIR, (PR)- Tim Survey Basarnas dan Mahakarya Geo Survey – IAITB yang dipimpin langsung Kepala Basarnas serta disaksikan Menteri Sosial, Idrus Marham, telah menemukan dan mengindentifikasi posisi Kapal Sinar Bangun pada Minggu 24 Juni 2018 sekitar pukul 11:12 WIB siang tadi. 

Berdasarkan laporan dari Tim Basarnas dan Mahakarya Geo Survey – IAITB menyatakan koordinat keberadaan kapal tenggelam yang menewaskan sejumlah korban tenggelam yakni di 2 deg 47’ 3.835 N 98 deg 46’ 10.767 E, kedalaman 450 meter.

Berdasarkan informasi yang diterima “PR”, selanjutnya penemuan tersebut akan diserahkan kepada pihak berwenang untuk langkah-langkah strategis berikutnya. Mengingat kondisi kedalaman yg mencapai 450 meter, kami usulkan untuk memobilisasi ROV ECA H1000 Semi Work Class untuk membantu proses pengangkatan kapal yang diperkirakan banyak korban masih terperangkap di dalam badan kapal.

Sebelumnya dilaporkan Kapal kayu KM Sinar Bangun yang mengangkut ratusan penumpang, diperkirakan tenggelam sekitar satu mil dari dermaga Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin 18 Juni 2018 sekitar pukul 17.30 WIB.

KM Sinar Bangun mengalami musibah akibat pengaruh cuaca buruk berupa angin kencang dan ombak cukup besar. Penumpang yang selamat pada peristiwa tenggelamnya kapal penumpang kayu KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, masih mengalami trauma.***

 

Keanehan Tragedi Kapal Tenggelam di Danau Toba

Liputan6.com, Jakarta – Memasuki hari ketiga, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, Marinir, dan kepolisian terus mencari para korban kapal tenggelam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, Senin sore, 17 Juni 2018.

Hasilnya, petugas menemukan sejumlah barang milik penumpang. Seperti uang, dompet, tas, telepon selular, helm, jaket, hingga drum plastik.

Selain medan yang sulit, kemampuan daya selam para personel dan alat (pendeteksi) terbatas membuat Tim SAR belum berhasil menemukan korban lainnya. 

Dinginnya air Danau Toba juga menjadi kendala bagi penyelam, sehingga daya selam dibatasi sedalam 50 meter dari titik kedalaman yang berkisar 200 meter lebih.

Saat ini, Tim SAR baru menemukan 21 penumpang, yang terdiri atas tiga korban tewas dan 18 orang selamat. Dilansir dari Antara, ketiga korban tewas adalah Tri Suci Wulandari (24) asal Aceh Tamiang, Fajryanti (74) warga Binjai, dan Indah Juwita Saragih (22), warga Kecamaran Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Kini, baik korban tewas dan selamat KM Sinar Bangun dibawa ke RSUD Tuan Rondahaim di Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, untuk penanganan lebih lanjut.

Sejumlah investigasi kini tengah dilakukan pihak kepolisian dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Hingga sampai akhirnya mereka menemukan kejanggalan atau hal aneh terkait karamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba.

1. Nakhoda Tembak

sinar bangun

Pencarian dan pertolongan korban tenggelamnya KM Sinar Bangun melibatkan lima tim utama berkekuatan besar dengan tugas berbeda. (foto: Liputan6.com / Reza Perdana)

Ternyata istilah sopir tembak tidak hanya berlaku pada kendaraan roda empat atau dua saja. Kapal KM Sinar Bangun juga memakai nakhoda tembak.

Kejanggalan ini berhasil terkuak saat nama nakhoda KM Sinar Bangun tidak terdaftar sebagai korban selamat maupun hilang. Setelah ditelusuri, dia masih berada di darat.

Siapa nama nakhoda tersebut, Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty belum bersedia membeberkan identitasnya. Begitu pun dengan sang nakhoda tembak yang membawa KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba.

Sementara, sang nakhoda asli KM Sinar Bangun berinisial TS. Dia merupakan warga Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Kepada polisi, TS mengaku meminjamkan kapalnya kepada seseorang untuk membawa penumpang.

“Saat ini TS masih kita amankan. Kita tidak bisa memberitahu di mana keberadaannya. Kalau kita beritahu, bisa menimbulkan hal yang tak diinginkan bersama. Kita masih terus melakukan pemeriksaan terkait peristiwa ini,” katanya.

2. Kelebihan Muatan

Pencarian Korban KM Sinar Bangun di Danau Toba

Tim SAR menggunakan teropong saat proses pencarian korban KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatra Utara, Rabu (20/6). Sebelumnya, KM Sinar Bangun yang mengangkut 128 penumpang tenggelam di Danau Toba pada Senin (18/6) sore. (AP/Binsar Bakkara)

Sebelumnya diberitakan kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba membawa kurang lebih 80 penumpang.

Dalam kondisi cuaca sekitar yang cukup berkabut, kapal kayu itu berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, menuju Tigaras Parapat, Kabupaten Simalungun.

Namun, setelah musibah terjadi, tersiar kabar jika jumlah penumpang yang tenggelam mencapai ratusan orang. Hal ini didasarkan dari laporan warga yang merasa keluarganya ikut dalam pelayaran kapal nahas tersebut.

Apakah itu artinya kapal kelebihan muatan? Ya. Karena dari versi polisi setelah melihat sertifikat KM Sinar Bangun, kapal kayu itu hanya bisa menampung 40 penumpang.

Versi berbeda diungkapkan oleh pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kapal dengan ukuran 35 Gross Tonnage (GT) tersebut hanya bisa mengangkut sebanyak 43 orang.

Namun, pada kenyataannnya kapal KM Sinar Bangun membawa hampir 200 orang ditambah dengan puluhan kendaraan.

3. Data Manifest Simpang Siur

Cuaca Buruk Hambat Pencarian Korban Kapal Tenggelam di Danau Toba

Anggota keluarga melihat daftar korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (19/6). Pencarian dan upaya penyelamatan dilakukan oleh Tim Gabungan Basarnas, Marinir dan kepolisian. (Jon NST/AFP)

Jumlah penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba hingga kini masih belum pasti. Karena setelah diselidiki, kapal kayu itu tidak memilik data manifes yang memuat data penumpang.

Terkait hal ini Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menduga, kapal tersebut merupakan kapal ilegal yang berlayar tanpa izin.

Karenanya, Kabag Pensat Divhumas Mabes Polri Kombes Pol Yusri Yunus membuka posko untuk mendata korban berdasarkan laporan masyarakat.

Pascamusibah tenggelamnya kapal kayu tersebut, ada 178 orang atau keluarga yang melapor telah kehilangan keluarganya ke posko pengaduan yang sudah dibuat datanya.