Kapal tenggelam: Apa yang harus dilakukan jika kapal yang kita naiki karam?

danau toba

Orang yang terancam tenggelam dalam satu kecelakaan disarankan untuk melawan insting berenang dan diminta mengapung saja. Itulah salah satu saran bila kapal yang kita naiki karam.

Tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba pada Senin, (18/06) dianggap banyak kalangan sebagai pengingat buruknya manajemen transportasi laut di Indonesia. Lebih dari 180 penumpang dilaporkan hilang.

Bahwa standar keselamatan transportasi laut sangat rendah telah menjadi anggapan umum warganet. Seorang pembaca BBC, Bambang Arihta Surbakti, menceritakan bahwa pekan lalu dia berada di pelabuhan yang sama, Tigaras.

“Volume kendaraan sangat banyak untuk penyeberangan wisata, tapi tidak ada kelihatan boat petugas untuk pengamanan ataupun evakuasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” kata Bambang. Banyak komentar senada dikemukakan para pembaca BBC Indonesia.

Mengantisipasi kecelakaan, warganet berbagi kiat selamat naik kapal laut:

1. Pakai pelampung duluan

2. Kalau perahunya penuh, jangan naik

Stuart McDonald, pelancong dari Travelfish.org pun menuliskan kiat keselamatan naik kapal laut sesuai pengalamannya naik kapal di Asia Tenggara selama ini. Salah satu saranya adalah jika perahu penuh, jangan naik. Jika sopir mabuk, jangan naik juga.

3. Duduk dekat pintu keluar

Stuart justru menyarankan untuk duduk di atap kapal (jika mungkin, dan jika nampak aman). Jika tidak, duduklah di dekat pintu atau jendela. Tapi pastikan pintu dan jendela itu bisa dibuka dan muat untuk keluar.

Mengapung lebih baik dari berenang

Royal National Lifeboat Institution (RNLI), lembaga Inggris yang berfokus pada penyelamatan di laut menjelaskan bahwa korban kapal yang karam harus berusaha untuk mengapung.

Mengapung setelah tercebur ke air, punya kemungkinan besar menyelamatkan nyawa daripada langsung mencoba berenang.

Insting untuk langsung berenang dan panik, justru meningkatkan kemungkinan air masuk ke paru-paru, dan membebani jantung.

RNLI menyarankan untuk mencoba mengapung dengan tenang ketika Anda tercebur ke air. Selama 60-90 detik pertama, mengapung dengan tenang sambil menenangkan diri dari kekagetan dan mengatur pernafasan.

Posisi yang disarankan adalah dengan telentang, dan tetap tenang serta mengatur napas.

Tapi masalahnya, menurut survei RNLI, hanya 3 persen responden yang mengatakan mereka akan mencoba mengapung jika terjatuh ke air. 40 persen mengatakan bahwa reaksi otomatis mereka adalah berenang.

“Penting sekali untuk mencoba mengabaikan insting untuk langsung berenang,” kata Manajer Keamanan Pesisir RNLI Ross Macleod. Dia meminta semua orang untuk mempelajari dan melatih keterampilan mengapung di air, karena itu bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Mungkinkah penumpang bisa bertahan hidup di Danau Toba?

Pada tahun 2015, Fransiskus Subihardayan (saat itu 22 tahun) selamat setelah tiga hari mengapung di danau Toba.

Fransiskus adalah satu dari lima penumpang Helikopter Eurocopter EC-130 yang lepas landas dari helipad Siparmahan, Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Minggu 11 Oktober 2015. Helikopter tersebut seharusnya tiba di Bandara Internasional Kualanamu, pukul 12.45 WIB, namun tidak pernah mendarat.

Menurut Fransiskus, yang paling utama adalah tenang.

Setelah itu Fransiskus berusaha tidak banyak bergerak dan berusaha mengapung. Dia memasukkan enceng gondok yang dia temukan di sekitarnya, ke dalam bajunya untuk membantunya mengapung dengan lebih mudah.

Selama tiga hari terapung, Fransiskus tidak makan. Tapi karena terapung di danau air tawar, dia dapat minum air danau untuk menghindari dehidrasi.

“Korban dalam kondisi lemas, kita temukan di perairan dekat Desa Onan Baru sekitar pukul 13.00 WIB,” kata juru bicara Basarnas Medan, Hisar Turnip, kepada wartawan BBC Indonesia pada tahun 2015. Fransiskus ditemukan pada Selasa siang, dan helikopter jatuh pada Minggu siang.

Belasan korban kapal tenggelam di Danau Toba ditemukan, lebih dari 180 hilang

Danau Toba

Lebih dari 180 penumpang Kapal Motor Sinar Bangun—yang tenggelam di perairan Danau Toba—dilaporkan hilang. Adapun sejumlah jenazah dan korban selamat telah ditemukan.

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Irjen Pol Budi Setiyadi, sebagaimana dikutip Kantor Staf Kepresidenan (KSP), mengatakan regu pencari pada Rabu (20/6) telah mendapatkan sebanyak 21 penumpang.

“Tiga orang perempuan meninggal dunia, dan 18 orang penumpang berhasil diselamatkan,” paparnya.

“Jumlah penumpang sebenarnya belum bisa dipastikan, karena ini kapal rakyat yang tak ada manifesnya. Transaksi pembelian tiketnya pun masih dilakukan secara manual,” ungkap Budi Setiyadi yang berada di posko lokasi pencarian korban di Sumatera Utara.

Berdasarkan data Posko Terpadu Kapal Motor Sinar Bangun, Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan, sudah menerima laporan terbaru dan untuk korban sebanyak 192 orang.

“Korban yang masih dicari tim SAR gabungan terus berkembang. Hingga pukul 11.25 WIB, korban yang harus dicari 192 orang,” katanya kepada wartawan, Rabu (20/6).

Sebelumnya, sebagaimana dicuitkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu (20/6), sebanyak 166 korban hilang, 18 selamat, dan dua orang dipastikan meninggal dunia.

Segenap korban merupakan para penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba pada Senin (18/6) sekira pukul 17.15 WIB saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tiga Ras di Kabupaten Samosir.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Muhammad Syaugi, mengatakan pihaknya telah mengerahkan 70 personel yang dapat menyelam di kedalaman tertentu.

“Dalamnya Danau Toba ini adalah 300 sampai 500 meter. Di dalam sudah diselami sampai kedalaman 50 meter, itu masih belum ditemukan apa-apa karena cukup gelap di dalam. Airnya keruh dan dingin sekali,” papar Syaugi.

Dia tidak menjelaskan apakah fokus area pencarian diperlebar. Yang jelas, menurutnya, keberadaan korban telah berpencar di Danau Toba.

“Dari situasi korban yang kita temukan, dia sudah bergeser antara tiga sampai lima kilometer dari titik koordinat awal kapal tenggelam,” ujarnya.

Menurut otoritas setempat, kapal penumpang itu kelebihan kapasitas. Bahkan, kepolisian setempat menyatakan kapal kayu itu berlayar tanpa manifes dan standar keselamatan yang rendah.

Salah satu korban yang belum ditemukan adalah Jornelin Purba, asal Haranggaol, Simalungun.

Marganda, sepupu Jornelin, menyebut saudaranya itu menumpang Kapal Motor Sinar Bangun untuk berwisata ke Pulau Samosir.

Menurut informasi yang ia peroleh, meski belum sahih, setir kapal patah saat ombak bergulir keras dan menyebabkan kapal terbalik.

“Sampai saat ini dari sore kemarin, adik belum ada kabar sama sekali. Keluarga masih di Tigaras untuk menunggu kabar,” tuturnya.

Insiden ini merupakan satu dari empat kecelakaan kapal penumpang di tiga daerah berbeda dalam satu pekan terakhir setidaknya terjadi. Akar masalahnya bermula dari pengawasan terhadap angkutan laut yang dinilai longgar sehingga prosedur keselamatan kerap diabaikan.

Soal prosedur keselamatan ini dialami Dameria Ompusunggu. Februari lalu Dameria melobi awak kapal di Pelabuhan Muara, Tapanuli Utara, agar mobilnya diizinkan masuk ke kapal penyeberangan menuju Labugoti, Toba Samosir.

Saat itu kapal telah sesak, penuh penumpang dan kendaraan bermotor.

“Harusnya tidak boleh masuk, tapi kami memaksa. Sudah jauh-jauh datang dari Jakarta, masa tidak berhasil pulang kampung,” ujarnya, Selasa (19/06).

Selama perjalanan di perairan Danau Toba itu, kata Dameria, keluarganya tak mendapatkan jatah kursi karena telah lebih dulu diduduki penumpang lain.

Menurutnya, karena melebihi kapasitas bangku, banyak penumpang terpaksa duduk di geladak bawah kapal.

“Tidak ada life jacket. Beberapa kali saya menyeberang ke Samosir, tidak pernah ada,” tuturnya.

Adapun, Mei lalu Dameria juga menumpang kapal cepat (speedboat) kala menyusuri Sungai Musi di Palembang. Ia mengaku tak melihat atau ditawari pelampung.

Jantungnya berdegub kencang saat ombak di sungai itu meninggi dan angin berhembus kencang.

“Pelampung memang tidak pernah disediakan. Penumpang juga tidak pernah peduli,” ucapnya mengulang perkataan kru kapal.

Saat ini dia kapok menumpang kapal yang tak menyediakan pelampung. Rentetan kecelakaan kapal yang menewaskan puluhan orang dalam satu bulan terakhir membuatnya berpikir dua kali.

Tak ada sanksi?

Pengamat pelayaran dari lembaga National Maritime Institute, Siswanto Rusdi, menyebut Kementerian Perhubungan sebenarnya memiliki regulasi yang mengatur syarat, izin, dan standar keamanan kapal kecil di bawah 500 gross ton (GT).

Regulasi itu adalah Surat Keputusan Jenderal Perhubungan Laut No. Um.008/9/20/DJPL-12 tentang Pemberlakuan Standar dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia atau Standar Kapal Non Konvensi (SKNK).

Standar itu memuat detail material bahan, konstruksi, kelistrikan, hingga alat keselamatan yang harus tersedia di dalam kapal.

Namun, menurut Siswanto, syahbandar atau otoritas tertinggi di pelabuhan kerap mengabaikan pelaksanaan aturan itu.

“Syahbandar umumnya fokus ke kapal yang berbobot 500 GT ke atas atau kapal penyeberangan yang berbahan besi, yang lebih besar dibandingkan kapal tradisional,” ucapnya.

Siswanto merujuk pada tiga kecelakaan kapal selama Juni ini menimpa kapal penumpang di bawah 500 GT.

KM Cikal tenggelam di Banggai, Sulawesi Tengah pada 12 Juni. Pada hari yang sama, KM Arista karam di perairan Makassar. Setidaknya 17 penumpang tewas dalam kejadian itu.

Sehari setelahnya, kapal cepat Albert pecah lambung di Selat Bangka dan menyebabkan tiga penumpang tewas.

“Di kapal besar, ada berbagai prosedur dan alat keselamatan ketika kapal mengalami insiden. Kapal tradisional tidak ada. Syahbandar harus mengingatkan ini,” kata Siswanto.

Kepala Humas Ditjen Perhubungan Laut, Gus Rional, mengatakan, jika syahbandar mengawasi secara rinci setiap kapal yang hendak berlayar, potensi kecelakaan dapat berkurang.

“Tidak boleh melebihi kapasitas dan harus ada perlengkapan keselamatan, minimal life jacket.”

“Kalau kapasitas berlebihan atau tidak tersedia pelampung, kapal bisa tidak diizinkan berangkat, syahbandar tidak memberikan surat persetujuan berlayar,” ujar Gus.

Setelah rentetan kecelakaan pelayaran, Gus mengakui, “untuk kapal tradisional, pengawasannya perlu diperketat.”

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Soerjanto Tjahjono, menganggap pelayaran kapal tradisional di pelabuhan kecil memang sering luput dari pantauan pemerintah.

Setelah insiden KM Sinar Bangun, KNKT sulit menemukan syahbandar yang bertanggung jawab di di Pelabuhan Tigaras.

“Banyak tempat terpencil yang sulit diawasi. Ini penyeberangan lokal. Yang seperti ini banyak sekali di berbagai daerah di Indonesia,” tuturnya.

Sebelumnya, KNKT menyatakan sebanyak 48% kecelakaan kapal laut terjadi akibat faktor sarana. Adapun, persentase faktor kesalahan manusia sebesar 40%.

Sementara itu, faktor alam seperti ombak tinggi dan angin kencang disebut KNKT hanya menjadi faktor sebesar 12% pada insiden kapal yang pernah terjadi di Indonesia.

sumber:bbc.com

Nakhoda Tak Ada Saat KM Sinar Bangun Tenggelam di Danau Toba, Kok Bisa?

Pencarian Korban KM Sinar Bangun di Danau Toba

Liputan6.com, Medan – Pihak kepolisian mengungkap keanehan mengenai nakhoda Kapal Motor atau KM Sinar Bangun. Sebab saat kapal berbahan kayu tersebut karam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, nakhoda aslinya tidak berada di kapal.

Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty mengatakan, nama nahkoda KM Sinar Bangun tersebut juga tidak terdaftar di dalam korban yang selamat ataupun korban yang hilang. Hal ini menjadi suatu keanehan.

“Aneh. Dalam pengungkapan kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, dalam daftar korban yang selamat maupun yang hilang, nama nakhoda tidak ditemukan. Nakhoda sampai saat ini masih berada di darat,” ucap Marudut, Rabu, 20 Juni 2018.

Meski demikian, ia enggan menjelaskan siapa orang yang mengemudikan KM Sinar Bangun saat karam pada Senin, 18 Juni 2018. Marudut juga enggan menyebut orang yang membawa kapal saat karam, apakah masuk dalam korban selamat maupun korban yang masih dinyatakan hilang.

“Intinya, kita terus lakukan penyelidikan sambil berkoordinasi dengan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). Ini menarik kita dalami. Saat ini kita masih fokus dengan proses pencarian. Kemudian melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab tenggelamnya kapal,” ungkapnya.

Alasan Marudut enggan membeberkan nama nakhoda asli dan orang yang membawa KM Sinar Bangun saat karam, dikarenakan untuk menjaga keamanan. Bahkan, ia juga enggan memberikan informasi tentang keberadaan nakhoda tersebut berada saat ini.

“Masih kita amankan. Kita tidak bisa memberitahu keberadaannya. Kalau kita beritahu, bisa menimbulkan hal yang tak diinginkan bersama. Kita masih terus melakukan pemeriksaan terkait peristiwa ini,” terangnya.

Berdasarkan informasi yang beredar, nakhoda asli KM Sinar Bangun disebut berinisial TS, warga Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Saat kejadian, TS disebut meminjamkan kapal itu kepada seseorang untuk dikemudikan dan membawa penumpang.

Kesaksian Penumpang, Detik-Detik KM Sinar Bangun Tenggelam

image_title

VIVA – Tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Perairan Danau Toba, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Senin petang, 18 Juni 2018 menjadi sorotan. Lebih dari 150 yang diduga bagian penumpang belum ditemukan dan masih dilakukan pencarian

Salah seorang penumpang yang selamat, Ernando Lingga menceritakan kronologi mencekam sebelum kapal nahas tersebut tenggelam. Dia menyebut awalnya saat kapal lepas dari dermaga, masih biasa alias normal. Namun, kekhawatiran terjadi ketika sudah jauh dari dermaga.

“Awal biasa saja, gelombang angin belum tinggi. Nah, dari pertengahan sekitar 100 kilo itu, gelombang membesar, angin kencang, kondisi penumpang panik termasuk saya dan teman-teman,” kata Ernando dalam wawancara dengan tvOne, Kamis, 21 Juni 2018.

Ernando mengatakan saat itu diprediksi lebih dari 150 penumpang berada di KM Sinar Bangun. Hal ini belum termasuk kendaraan sepeda motor yang mencapai puluhan.

“Kalau kendaraan ada 80 lebih, penumpang sangat padat,” ujar Ernando.

Menurut dia, kapal yang ditumpanginya memiliki tiga dek tingkat kapal. Ia dan tiga rekannya berada di tingkat pertama kapal.

“Saya tingkat pertama. Tingkat tiga itu banyak orang, banyak ada yang diri, ada yang duduk, di bangku juga,” katanya.

Kemudian, ia menjelaskan kronologi kapal terbalik kemudian tenggelam. Kata dia, sebelum terbalik, kapal mengalami oleng beberapa menit.

“Sebelum terbalik kami terombang-ambing ke kanan kiri, oleng ke kanan. Terbalik dahulu ke kanan, kemudian tenggelam, ada sekitar lima menit lebih sebelum kapal tenggelam,” sebutnya.

Jika Uji Coba Selesai, Imunoterapi Harus Masuk BPJS

https://ichs.ugm.ac.id/2017/images/speakers/iwan-dwiprahasto.jpg

Jakarta, Gatra.com- Staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSCM, Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD, KHOM berharap imunoterapi bisa masuk dalam skema BPJS. Menurutnya, setidaknya hal itu bisa dilakukan tahun depan setelah seluruh rangkaian uji cobanya selesai.

Setelah sukses pada kanker kulit, paru, rahim, dan lainnya, beberapa perkembangan imumoterapi ini diharapkan bisa juga pada kanker lain. “Saya berharap, masih banyak jenis kanker yang bisa diujicobakan dengan terobosan imunoterapi ini,” ungkapnya dalam rilis kepada Gatra.com, Selasa (5/6).

Saat ini imunoterapi mulai diterapkan pada kanker ovarium, kanker lambung, dan juga untuk kanker pankreas. Hasil studi klinis terbaru menunjukkan hasilnya memang lebih bagus, di mana angka kesintasan meningkat lebih dari enam bulan dengan efek samping minimal.

Termasuk agar biaya untuk layanan ini bisa lebih murah dan mudah diakses masyarakat. “Saat ini, untuk satu siklus imunoterapi sekitar Rp60 juta. Bila dikalikan 8, maka hasilnya bisa seharga satu rumah. Sementara angka kejadian kanker semakin tinggi,” ungkap dr. Andhika.

Dijelaskan dr Andhika, imunoterapi memiliki tujuan sama dengan terapi target pada kanker. Artinya terapi menyasar langsung kepada sel kanker yang dituju.

Hanya saja, pada imunoterapi, konsepnya sedikit berbeda. Imunoterapi memberikan kesempatan kepada sel kekebalan tubuh agar lebih aktif melawan sel kanker.

Dibandingkan kemoterapi atau pengobatan kanker lainnya, pengobatan imunoterapi memiliki efektivitas yang cukup signifikan. Itulah sebabnya sejak pertengahan tahun 2016 dunia mengalami euforia dengan imunoterapi.

Farmakolog sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc, Ph.D menambahkan, kendati imunoterapi merupakan pengobatan relatif baru, sejatinya penelitian ini sudah ada sejak lama. Dalam 15 tahun terakhir perkembangan imunoterapi terbilang cukup pesat.

Berbagai penelitian terus dilakukan untuk menghasilkan formulasi imunoterapi yang semakin baik. “Imunoterapi pada prinsipnya merupakan terapi biologis yang bertujuan membantu tubuh meningkatkan pertahanan alami dalam melawan kanker,” jelasnya.

Pakar farmakologi UGM ini mengatakan bahwa pada dasarnya setiap orang punya imunitas. “Tapi untuk melawan kanker yang bersarang di tubuhnya, sayangnya tidak (semua orang) memiliki imunitas yang cukup makanya diberikan imunoterapi,” ujarnya.

Jalur kereta di Jawa punya 500 titik rawan bencana

Para anggota Petugas Pemeriksa dan Pemelihara Jalur PT Kereta Api Indonesia Daop I melakukan perawatan jalur rel Jakarta-Merak di Kampung Cinanggung, Serang, Banten, Kamis (17/5/2018).

Jalur mudik di pulau Jawa bukan cuma dibayangi 10 titik kemacetan lalu lintas. Jalur mudik berbasis rel (kereta api) pun disertai titik rawan bencana alam. Bahkan jumlahnya mencapai 500 titik yang terbentang dari Jawa Barat (Jabar) hingga Jawa Timur (Jatim).

Hal ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai memimpin apel pasukan mudik Lebaran 2018 di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (5/6/2018). Di masing-masing provinsi pun jenis ancaman bencananya berbeda.

Bencana alam longsor paling rawan terjadi di Jabar. Antara lain di Tasikmalaya, Garut, Bogor, dan jalur Bogor-Sukabumi. Sementara ancaman jalur amblas dan banjir ada di Jatim, termasuk di jalur Porong-Sidoarjo yang kerap banjir ketika hujan deras.

Seluruh titik rawan bencana alam ini sudah dipetakan. Itu sebabnya Budi pun memerintahkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan jajaran Kementerian Perhubungan agar menempatkan para petugas untuk memantau langsung kondisi alam di seluruh titik rawan itu.

“Saya mengimbau rekan-rekan di lapangan agar berkoordinasi dengan Balai Teknik Kereta Api, tempat mewaspadai gangguan alam, khususnya antisipasi banjir dan longsor, serta dampak cuaca,” tukas Budi dikutip Kumparan.

Budi juga sudah meminta TNI dan Polri meningkatkan keamanan secara terbuka dan tertutup di seluruh lokasi, termasuk lokasi rawan longsor, banjir, dan stasiun. Jadi para personel TNI dan Polri pun ikut mengamankan kegiatan mudik beserta fasilitasnya.

Sementara Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan antisipasi sudah dilakukan sejak 13 April lalu, termasuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas jalur yang rawan longsor dan banjir. Hal itu terutama dilakukan di Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto dan Daop 7 Madiun.

Adapun di wilayah Daop 4 yang membentang dari Tegal hingga Cepu dan Gundih sepanjang 353 km di Jateng, ada lima titik rawan banjir dan longsor. Namun Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Suprapto, kepada Okezone mengatakan ada 97 orang petugas yang disiapkan memantau lima titik rawan tersebut.

Masing-masing titik rawan itu terdapat di Krengseng – Plabuan, KM 53 + 0/4; Plabuan – Kuripan, KM 55 + 1/2; Plabuan – Kuripan, KM 55 + 0/6; Kedungjati – Karangsono, KM 60 + 7/8; dan Semarang Tawang – Alastua, KM 2 – KM 3.

Daop 4 juga menyiapkan alat material untuk siaga (AMUS). Masing-masing ada di Stasiun Tegal, Pekalongan, Kalibodri, Semarang Tawang, Alas Tua, Brumbung, Gundih, Cepu, dan Gambringan.

“PT KAI Daop 4 Semarang telah melaksanakan perbaikan dan penguatan pendukung fondasi tubuh badan rel, serta menambah tenaga pemeriksa jalur rel atau petugas penilik jalur rel ekstra sebanyak 97 petugas,” kata Suprapto, Sabtu (2/6) lalu.

Di sisi lain, Budi menyarankan masyarakat untuk mengundur keberangkatan mudik hingga tanggal 10-11 Juni. Maklum, puncak arus mudik di Pulau Jawa diperkirakan bergeser lebih awal menjadi pada 9 Juni.

“Kami menyarankan pada para pemudik tidak mudik pada tanggal 8-9 dan 12-13 karena itu adalah puncak mudik, kalau bisa tanggal 10-11 itu lebih longgar,” kata Budi seusai pertemuan koordinasi pengamanan hari raya Idulfitri 1439 H di Mabes Polri, Jakarta, seperti dilansir detikcom, Selasa (5/6).

Budi pun tetap mempersiapkan seluruh fasilitas transportasi dengan baik. Budi berharap kegiatan mudik 2018 ini berjalan lancar seperti halnya mudik 2017.

“Dari catatan kecelakaan, ada penurunan tahun lalu 30 persen. Oleh karenanya, imbauan penggunaan motor dan ramp check jadi penting,” ujar Budi.

Fasilitas transportasi seperti jalan tol pun kini makin memadai karena meliputi Jakarta-Surabaya. Namun, Budi mengingatkan bahwa jalan tol Trans Jawa bukan segalanya lantaran masih tetap ada jalur arteri Pantura dan kondisinya baik.

Mudik 2018, Menhub Minta PT KAI Antisipasi 500 Jalur Rawan Bencana

https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 06 337 1907066 mudik-2018-menhub-minta-pt-kai-antisipasi-500-jalur-rawan-bencana-1ewuUhsTLj.jpg

JAKARTA – Menteri Perhubungan, Budi Karya, meminta kepada Dirjen Perkeretaapian untuk memastikan antisipasi bencana, seperti banjir, longsor, dan tanah ambles di sekitar pelintasan rel kereta api.

Menurutnya, di perlintasan kereta yang akan dilintasi jalur para pemudik, sedikitnya ada 500 titik rawan banjir, amblas, dan longsor.

“Ada sekitar 500 titik rawan yang meliputi banjir, amblas, dan longsor,” kata Budi saat menjadi Inpektur Apel gelar pasukan di Stasiun Gambir, Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (5/6/2018).

Berikan Rasa Aman dan Nyaman, Perawatan Bantalan Rel Kereta Rutin Dilakukan

Adapun pelintasan yang cukup rawan diketahui berada di wilayah Jawa Barat. Daerah itu rawan banjir dan longsor dikarenakan dipengaruhi oleh faktor cuaca dan curah hujan.

“Di Jawa Barat. Seperti di Tasik, Bogor dan Garut. Khususnya untuk antisipasi lokasi banjir dan longsor serta dampak cuaca. Terutama di lintas Bogor dan Sukabumi,” lanjutnya.

Adapun untuk di wilayah lainnya, dapat ditemui di Jawa Timur, sepeti di daerah Porong dan Sidoarjo.

“Oleh karenanya, kami melakukan rail check, memberikan catatan apa saja yang harus direkomendasi. Juga dimana saja daerah yang rawan longsor. Semua itu kami minta kepada PT KAI untuk mempersiapkan dengan baik,” tutupnya.

 

Guatemala’s Fuego volcano disaster: updates

Dozens were killed and thousands evacuated after the most violent eruption of Guatemala’s Fuego volcano in more than four decades.

Volcan de Fuego, or Volcano of Fire, spewed an 8km-long stream of red-hot lava and shot out a thick plume of black smoke and ash on Sunday that rained down onto several regions and the capital, Guatemala City, 30km away from the hardest-hit area.

Now the search for survivors is under way, along with the grim task of recovering bodies. 

Here are the latest updates:

Tuesday, June 5

  • Guatemala’s disaster agency reported that superhot volcanic material is once again flowing down the south side of the volcano. The agency ordered new evacuations from areas around it.

  • Rescue workers pulled more bodies from under the ash and rubble, bringing the death toll to at least 70. But officials said just 17 had been identified so far because the intense heat of the volcanic debris flows left most bodies unrecognisable. 
  • As dawn broke, the volcano continued to rattle with what the country’s volcanology institute said were eight to 10 moderate eruptions per hour – significantly less intense than Sunday’s big blasts.

  • But the head of Guatemala’s National Institute of Seismology, Eddy Sanchez, said the worst of the volcanic activity appears to be over.

  • READ MORE

    Fuego volcano disaster: ‘My daughter must have been swept away’

    “It is evident that the volcano’s energy has decreased and its tendency is to continue decreasing. No eruption is imminent in the coming days,” the Republica newspaper quoted him as saying. 

  • The grim recovery effort continued on Tuesday. Using shovels and backhoes, emergency workers dug through the debris and mud, perilous labour on smouldering terrain still hot enough to melt the soles of shoes.

  • Bodies were so thickly coated with ash that they looked like statues. Rescuers used sledgehammers to break through the roofs of houses buried in debris up to their rooflines to check for anyone trapped inside.

  • In the village of San Miguel Los Lotes, evidence of destruction was everywhere. 

  • “Access is very difficult, and it’s really hot in the places where we’re trying to dig bodies out of the ash. The deeper you dig, the more intense the heat,” Enrique Morales, a rescue worker, told Al Jazeera.

  • “This is the epicentre of the slide, and it’s the focus of the rescue efforts right now,” said Al Jazeera’s David Mercer, reporting from the scene. 

  • “Rescue workers are pouring out across this area, going into houses and pulling out bodies. In just 15 minutes we’ve seen four bodies pulled out. There’s not a lot of hope for survivors.”
  • President Jimmy Morales declared three days of national mourning for the “irreparable losses”.

 

Monday, June 4

  • The number of fatalities from a massive volcano eruption rose to 62 on Monday. Only 13 of the dead have been identified so far, Mirna Zeledon, a spokeswoman for Guatemala’s National Institute of Forensic Sciences, said.

  • Among the dead were four people, including a disaster agency official, killed when lava set a house on fire in El Rodeo village in southern Guatemala, National Disaster Coordinator Sergio Cabanas said. Two children were burned to death as they watched the volcano’s second eruption this year from a bridge.

  • A deadly pyroclastic flow – which can travel down a mountain at speeds of more than 100km/hr – shot from the volcano and is likely the cause of most deaths, volcanologist David Rothery told Al Jazeera. 

  • A hot flow of mud, ash and gas swept down from Fuego after a new blast on Monday morning that interrupted disaster workers pulling bodies from the brown sludge that engulfed El Rodeo.

  • Survivor Hilda Lopez said the volcanic mud swept into her village of San Miguel Los Lotes, just below the mountain’s flanks, and she didn’t know where her mother and sister were.

  • “We were at a party, celebrating the birth of a baby when one of the neighbours shouted at us to come out and see the lava that was coming. We didn’t believe it, and when we went out the hot mud was already coming down the street. My mother was stuck there, she couldn’t get out,” said Lopez, weeping and holding her face in her hands.

  • Three shelters were housing about 650 people, Marcia Martinez from the disaster relief agency told Al Jazeera. 

  • “There is this volcano dust everywhere… There are a lot of people here trying to recover bodies or searching for the missing,” said Al Jazeera’s David Mercer, reporting from the scene. 

  • Rescuers were using heavy machinery and shovels to find victims. Disaster agency chief Sergio Cabanas said helicopters rescued 10 people from areas hit by thick ash, mud or lava.

  • The Guatemalan President Jimmy Morales declared a state of emergency in the states of Chimaltenango, Sacatepequez and Escuintla.

  • According to volcanologist Eddy Sanchez, the volcano’s temperatures reached 700 degrees Celsius.

  • Guatemala City’s international airport re-opened after it was closed by falling ash from the eruption of the volcano to the west.
  • Fuego is one of Central America’s most active volcanos. It was the second eruption this year and the biggest in decades.

Translation: National Civil Police continue the search and rescue of people who have been hurt by # VolcanDeFuego in the village El Rodeo in Escuintla. So far they have rescued children and adults. – Guatemalan National Police 

  • Guatemalan officials say more than 3,200 people have been evacuated after the volcanic eruption.

  • “We saw the lava was pouring through the corn fields and we ran towards a hill,” Consuelo Hernandez, a survivor, told Al Jazeera.

    • Translation: #VolcanDeFuego Resources and humanitarian assistance are being carried out in order to help people affected by the eruption of the Fuego volcano. – National Coordinator for Disaster Reduction in Guatemala

Sunday, June 3 

  • Authorities in Guatemala say 18 more people have been confirmed killed by a volcanic eruption, raising the death toll to 25.

  • Disaster agency spokesman David de Leon said late Sunday the bodies were found in the community of San Miguel Los Lotes. 

  • Rescuers have struggled to reach rural residents cut off by the eruption, which also wounded at least 20. Authorities have been unable to account for an undetermined number of people and say they fear the death toll could rise.

  • The Volcan de Fuego, or “volcano of fire,” exploded in a hail of ash and molten rock shortly before noon Sunday, blanketing nearby villages in heavy ash. 

 

How corruption slows disaster recovery

The 2018 hurricane season has now begun. It’s a good time to think about lessons learned from last year’s historic storms.

Hurricane Irma, which raged across the Caribbean from late August to early September 2017, was the strongest Atlantic hurricane since record keeping began in 1851.

In total last year, six major storms were Category 3 or greater, making 2017 the seventh most-active year in history and the costliest ever.

The Center for Disaster Management and Risk Reduction Technology, a German research institute, estimates that reconstruction on the islands hit by Irma alone will cost at least US$10 billion.

But having recently completed a monthslong human rights analysis on the aftermath of last year’s deadly hurricane season, we believe that’s a low estimate. Our research identified another cost contributing to the challenges of rebuilding: corruption.

Devastation in Sint Maarten

We visited the Caribbean island of Sint Maarten, which is part of the Netherlands, in February. Hurricane Irma’s destruction was still apparent.

Massive trees had been ripped out of the ground and toppled, their roots exposed. Vehicles and debris were scattered across the landscape. Marinas, a key infrastructure for this 14-square-mile island, were left in ruins, littered with the stranded remnants of boats that had smashed onto shore.

Sint Maarten, five months after Hurricane Irma. Juliet Sorensen, Author provided (No reuse)

Amid such chaos, cleanup and rebuilding after an extreme weather event becomes urgent. And urgency, we found, breeds opportunities for corruption.

Government malfeasance is already prevalent in Sint Maarten, which has relatively lax regulation and a cash-fueled economy driven by tourism and casinos. The influx of reconstruction funds after Hurricane Irma created new opportunities for graft.

Local authorities told us, for example, that the initial days of debris clean-up in Sint Maarten involved over 1,000 workers, paid hourly, but only eight supervisors. Our interviews indicate that the scant oversight enabled fraudulent inflation of reported hours, wasting vital government funds on work left undone.

The Dutch government, which offered Sint Maarten $641 million in relief after Hurricane Irma, was concerned enough about misappropriation that it insisted on certain anti-corruption safeguards. They included establishing an “integrity chamber” to receive and investigate complaints about corruption on the island.

Sint Maarten’s prime minister refused to accept the funds under such conditions and, in November, resigned in the ensuing scandal.

Eventually, Sint Maarten’s government bowed to Dutch demands. The first installment of relief funding, managed by the World Bank, was released to the island in April, seven months after the hurricane devastated the island.

Corruption kills

Corruption in Puerto Rico may have actually contributed Hurricane Maria’s high death toll. While the government’s official tally is 64 storm-related deaths, a recent study puts the figure closer to 4,600 – in part because a prolonged blackout prevented many Puerto Ricans with chronic illness from getting necessary medical care.

After Hurricane Maria knocked out the island’s electric grid, the island’s power authority awarded a $300 million contract to the Montana-based company Whitefish Energy to repair it. The bidding process soon came under suspicion because it was clear that the company, which had just two employees, could never complete the task.

A Puerto Rico resident tries to reconnect his own electricity after Hurricane Maria. AP Photo/Ramon Espinosa

The U.S. House Committee on Natural Resources opened an investigation and the Whitefish contract was canceled.

After $3.8 billion in federal aid for the power grid, some 11,000 Puerto Ricans are still without electricity. Officials say even a mild hurricane could disable the grid again.

We believe progress would have been quicker if Puerto Rico’s first big energy contract had been correctly executed. After a disaster, corruption can literally kill.

Unaccountable donors

In the Caribbean, a developing region where some governments may be too small and cash-strapped to lead a wholesale recovery effort, corruption after natural disasters may be compounded by a lack of transparency among the international donors and humanitarian organizations that rush in to help.

After Haiti’s 2010 earthquake, for example, an unprecedented $13.5 billion in aid money flowed onto the island – more than double its gross domestic product.

Much of this money never made it to those who needed it. A 2011 study by U.S. researchers found that only 44 percent of Haitians affected by the quake received any aid at all.

According to a comprehensive analysis by the Center for Global Development, Haiti’s government received just 1 percent of humanitarian aid and perhaps 15 to 20 percent of longer-term relief aid. The rest was channeled to charities and nongovernmental organizations, whose resulting projects were in many cases impossible to identify.

Time to get ready

The United Nations, which also offers valuable guidance on fighting corruption in its 2005 Convention Against Corruption, will soon launch an anti-corruption initiative offering tools catered toward small island developing states like those in the Caribbean.

Our work also identified several ways that Caribbean countries could limit how corruption harms future hurricane recoveries.

Better disaster preparedness – including building code compliance, zoning enforcement in exposed locations like beaches and hillsides and transparent, well-resourced disaster-response teams – would reduce turmoil after extreme weather. That, in turn, would minimize opportunities for the kinds of chaos-related corruption we documented across the Caribbean.

Island nations might also consider banding together for the purpose of receiving, dispersing and tracking relief funds, as Indian Ocean nations did after the region’s 2004 tsunami.

The European Commission created a similar task force in 2013. Today, European countries aren’t left scrambling to respond when disaster strikes. Instead, the Emergency Response Coordination Center monitors the disaster, continually poised to offer expertise, relief funding and first responders as needed across the continent.

Scientists predict that hurricane activity this year will likely be above average due to climate change. For the Caribbean, preparing for extreme weather means being ready for the human-made disasters that can follow it, too.

The True Scope of the Disaster in Puerto Rico

The U.S. flag, next to a damaged Puerto Rican flag, flies in the municipality of Yabucoa.

Just about nobody believes Puerto Rico’s official death toll for Hurricane Maria. Researchers and journalists alike generally accept that the island’s tally of 64 people killed by the storm last September is a massive undercount, so obviously inaccurate that the Puerto Rican government has agreed to review and revise its figures. But with Puerto Rico still in disarray—from the storm’s casualties, population changes from migration, and the absence of basic services—information on the complete human cost of the catastrophe is still woefully incomplete.

What little is known, however, portends a grim conclusion: that Hurricane Maria is one of the most significant and destructive natural disasters in recent American history.

A new study in The New England Journal of Medicine, conducted in part by researchers at Harvard University, sheds new light on what’s really happened on the island. The team found that there were over 4,600 deaths potentially attributable to the hurricane, a 70-fold increase over official estimates. The survey also measured high rates of migration among people displaced by the storm and, after it passed, long periods where residents faced a loss of basic services.

As I spent time reporting from Puerto Rico three weeks after Maria, two things became clear: The storm had a staggering impact on the island, and it was almost impossible to translate that impact to observers on the mainland. People are used to gauging the scale of far-off events by relying on official estimates of death tolls, dollar amounts of damages, and the like. But in the immediate chaos following the storm, the “official” story was clearly inadequate. Some residents just went missing. Some got swept away in floods. Entire branches of extended families went silent. Mudslides and floods essentially turned remote places in the island’s mountainous interior into islands in their own right. In my attempts to assess the human burden of the hurricane, I asked everyone I interviewed—over two dozen people—if they knew someone who’d disappeared, died, or had fled to the mainland. Each person told me “yes.”

Official counts are obviously more difficult to perform than my anecdotal one, and not just because of scale: Further complicating the picture are mismatched systems in hospitals and morgues that might double-count some victims or misidentify others, as well as tough decision-making over just what counts as a hurricane-related death. In its survey of over 3,200 Puerto Rican households, the team behind the new study tried to get around those difficulties by asking families directly about the deaths of loved ones.