Provinsi NTT Memiliki 11 Risiko Bencana. Jumlah Korbannya Mencengangkan

Provinsi NTT Memiliki 11 Risiko Bencana. Jumlah Korbannya Mencengangkan

POS-KUPANG.COM, KUPANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) didukung Pemerintah Australia melakukan pelatihan penggunaan dana siap pakai dan penyusunan proposal tanggap darurat di Kupang tanggal 30 -31 Mei 2018.

Pelatihan ini dipandang penting mengingat NTT merupakan provinsi yang rawan bencana. Database Bencana Indonesia (DIBI) mencatat Provinsi NTT memiliki 11 risiko bencana dan sudah mengalami sekitar 651 kali kejadian bencana sejak 1950-2017.

Jumlah korban bencana mencengangkan. Tercatat lebih dari 6.000 jiwa sudah menjadi korban serta berbagai kerusakan aset dan infrastruktur.

Kajian Risiko Bencana NTT yang direvisi tahun 2017 menghitung bahwa 75% kejadian bencana yang tercatat merupakan bencana-bencana hidrometerologis yang berhubungan dengan faktor iklim, seperti hujan, angin dan kekeringan. Bencana-bencana ini adalah yang berulang atau musiman.

Baca: Pelaku Penculikan Bocah Richad Mantolas Ternyata dari Kefamenanu dan Kupang

Menghadapi risiko bencana berulang, penting untuk memiliki kapasitas memadai untuk merespon atau menanggapi dengan cepat dan tepat.

Untuk itu pemerintah, baik pusat maupun daerah, menyediakan Dana Siap Pakai (DSP) yang bisa digunakan untuk kondisi siaga darurat, darurat maupun transisi ke pemulihan.

Sayangnya, dalam beberapa kasus bencana, BPBD masih mengalami kesulitan mengakses DSP ini, baik karena prosedur DSP maupun kualitas proposal tanggap darurat.

Oleh karena itu, dengan dukungan Program TCP -DFAT dari Pemerintah Australia, BPBD Provinsi NTT mengadakan Bimtek DSP dan Penyusunan Proposal Tanggap Darurat.

Bimtek ini diikuti utusan BPBD dari 22 kabupaten/kota di NTT. Narasumber dan fasilitator adalah Tavip Joko Prahoro, SE, MM, Direktur Penanganan Pengungsi, Deputi Tanggap Darurat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Jemmy Mella, Kepala Bidang Tanggap Darurat dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT.

Dalam dua hari ini, diharapkan para peserta mendapatkan pemahaman yang baik tentang syarat dan prosedur penggunaan DSP, baik di kabupaten, provinsi maupun DSP dari pusat.

Peserta juga diharapkan memahami alur pikir penyusunan proposal yang baik, sistematika yang sesuai petunjuk atau panduan yang ada, serta mampu menerjemahkan kebutuhan korban bencana menjadi rencana tanggap darurat yang baik.

Secara umum, Bimtek ini diharapkan meningkatkan kemampuan BPBD Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT untuk bisa lebih bersiap siaga, serta cepat dan tepat merespon kejadian bencana di NTT.

Dengan demikian layanan terhadap korban bencana dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dalam kondisi bencana bisa lebih layak dan baik. Demikian siaran pers yang diterima Pos Kupang dari Silvia Fanggidae, Selasa (29/5/2018). *

Using Machine learning tools to gain new insights from Earthquake data

Scientists at the Columbia University have discovered a totally new way to study earthquakes. They picked out different types of earthquakes from three years using machine learning algorithms. According to them, these machine learning methods pick out very subtle differences in the raw data that we’re just learning to interpret.

Scientists particularly identified earthquake recordings at The Geysers in California, one of the world’s oldest and largest geothermal fields. They assembled a catalog of 46,000 earthquake recordings, each represented as energy waves in a seismogram. They then mapped changes in the waves’ frequency through time, which they plotted as a spectrogram—a kind of musical roadmap of the waves’ changing pitches, were they to be converted to sound.

Seismologists ordinarily dissect seismograms to evaluate a quake’s size and where it started. However, taking a gander at a seismic tremor’s recurrence data rather enabled the scientists to apply machine-learning tools that can pick out patterns in music and human speech with minimal human information. With these instruments, the scientists diminished every seismic tremor to a spectral “fingerprint” reflecting its subtle contrasts from alternate quakes, and after that utilized a clustering algorithm to sort the fingerprints into groups.

Using this machine learning algorithms, they found repeating patterns of earthquakes appear to match the seasonal rise and fall of water-injection flows into the hot rocks below, suggesting a link to the mechanical processes that cause rocks to slip or crack, triggering an earthquake. It also helped them in making a link to the fluctuating amounts of water injected below ground at The Geysers during the energy-extraction process, giving the researchers a possible explanation for why the computer clustered the signals as it did.

Felix Waldhauser, a seismologist at Lamont-Doherty said, “The work now is to examine these clusters with traditional methods and see if we can understand the physics behind them. Usually, you have a hypothesis and test it. Here you’re building a hypothesis from a pattern the machine has found.”

Scientists noted, “These methods could also help reduce the likelihood of triggering larger earthquakes — at The Geysers, and anywhere else fluid is pumped underground, including at fracking-fluid disposal sites. Finally, the tools could help identify the warning signs of a big one on its way — one of the holy grails of seismology.”

The exploration became out of a bizarre aesthetic coordinated effort. As a musician, Holtzman had for quite some time been receptive to the odd hints of quakes. With sound designer Jason Candler, Holtzman had changed over the seismic floods of chronicles of outstanding quakes into sounds, and after that speeding them up to make them understandable to the human ear. Their joint effort, with examine coauthor Douglas Repetto, turned into the basis for Seismodome, a recurring show at the American Museum of Natural History’s Hayden Planetarium that puts people inside the earth to experience the living planet.

As the exhibit evolved, Holtzman began to wonder if the human ear might have an intuitive grasp of earthquake physics. In a series of experiments, he and study coauthor Arthur Paté, then a postdoctoral researcher at Lamont-Doherty, confirmed that humans could distinguish between temblors propagating through the seafloor or more rigid continental crust and originating from a thrust or strike-slip fault.

Encouraged, and looking to expand the research, Holtzman reached out to study co-author John Paisley, an electrical engineering professor at Columbia Engineering and member of Columbia’s Data Science Institute. Holtzman wanted to know if machine-learning tools might detect something new in a gigantic dataset of earthquakes. He decided to start with data from The Geysers because of a longstanding interest in geothermal energy.

Paisley said, “It was a typical clustering problem. But with 46,000 earthquakes it was not a straightforward task.”

Thus, Paisley found a mind-blowing solution of a topic modeling algorithm that picks usual frequencies in the dataset. When applying another algorithm, they identified the most common frequency combinations in each 10-second spectrogram to calculate its unique acoustic fingerprint. Finally, a clustering algorithm, without being told how to organize the data, grouped the 46,000 fingerprints by similarity.

At the point when the specialists coordinated the groups against normal month to month water-infusion volumes crosswise over Geysers, an example hopped out: A high infusion rate in winter, as urban areas send more run-off water to the territory, was related with more quakes and one kind of flag. A low mid-year infusion rate compared to fewer tremors, and a different flag, with transitional flags in spring and fall.

Now, scientists are planning to apply these methods to recordings of other naturally occurring earthquakes.

Letusan Freatik Buktikan Merapi Telah Berubah, Apa Dampak Negatifnya?

Visual kawah merapi saat kejadian erupsi freatik pagi ini pukul 09.38 WIB dengan tinggi kolom letusan 1200 m arah condong ke barat. Status NORMAL.

KOMPAS.com – Dalam dua minggu belakangan, gunung Merapi sangat aktif. Hari Rabu (25/6/2018) hingga pukul 14.16 WIB saja, Merapi sudah mengalami dua letusan freatik.

Menurut Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), letusan pertama terjadi pukul 3.31 WIB selama 4 menit dengan ketinggian kolom 2.000 meter ke arah barat daya.

Letusan kedua terjadi pada 13.49 WIB dengan durasi dua menit, namun ketinggian kolom abu tidak teramati dari Pos PGM Babadan.

“Status Merapi masih pada tingkat waspada (Level II). Penduduk yang tinggal dan beraktivitas di luar radius 3 KM dapat terdampak abu letusan, namun tidak membahayakan jiwa.” kata Hanik Humaida, Kepala BPPTK.

“Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diharap menggunakan masker dan  meningkatkan kesiapsiagaan,” imbuhnya.

Ahli vulkanologi, Surono, mengungkapkan bahwa rangkaian letusan freatik Merapi kali ini bisa dimaknai sebagai dampak perubahan karakteristiknya.

Sebelumnya, Merapi selalu meletus dengan periode 2-4 tahun sekali. Setiap letusan selalu disertai dengan pembentukan kubah lava.

Namun sejak Oktober 2010, Merapi berubah. Siostemnya jadi terbuka sehingga mempengaruhi karakteristik letusannya.

Surono mengatakan, perubahan karakter itu punya dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, Merapi tak langsung menghasilkan awan panas saat pertama kali meletus.

Sementara itu, dampak negatifnya semua sinyal yang diberikan Merapi sangat lemah. Sinyal yang dimaksud antara lain gempa tidak atraktif, deformasi, dan lain sebagainya.

“Saya bilang, hati-hati dengan sistem terbuka. Gejalanya tidak bisa lagi memakai kamus zaman dulu,” ungkapnya.

Status gunung berapiKOMPAS.com/AKBAR BHAYU TAMTOMO Status gunung berapi

Meskipun demikian, Surono mengingatkan, “Semua proses alam tidak mungkin tanpa tanda-tanda. Hanya saja tanda-tandanya kecil, karena freatik tidak sebesar magmatik,” paparnya.

Menurut pengamatan Surono, masyarakat di sekitar lereng Merapi adalah masyarakat yang paling siap menghadapi letusan gunung berapi. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

“Saya terus terang saja, sebelum terjadi letusan saya ngobrol dengan kepala SAR DIY. Mereka mengambil langkah menggelar pasukan dengan atau tanpa waspada lho. Itu tindakan yang sangat luar biasa,” katanya.

“Jadi menurut saya, masyarakat dan aparat sudah siap. Sekarang kuncinya adalah BPPTKG memberikan informasi secara cepat, tepat, dan akurat,” tegasnya.

sumber: Kompas.com dengan judul “Letusan Freatik Buktikan Merapi Telah Berubah, Apa Dampak Negatifnya?

Banjir Bandang Terjang Kabupaten Konawe Utara, 395 Jiwa Mengungsi

KENDARI, KOMPAS.com – Banjir bandang yang menerjang tiga desa di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Senin (21/5/2018), membuat 395 jiwa dari 96 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban banjir harus mengungsi.

Para korban yang mengungsi kini terpaksa berteduh dalam tenda darurat yang dibangun oleh Dinas Sosial Kabupaten Konawe Utara. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian materi yang diderita warga ditaksir mencapai miliaran rupiah. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Konawe Utara Sudin mengatakan, dalam musibah itu tercatat tujuh rumah warga yang hanyut terseret banjir. Sementara 79 rumah warga yang lainnya masih terendam banjir

Sudin menambahkan, saat ini tenda darurat yang dibangun Dinas Sosial bukan hanya dijadikan sebagai tempat perisitirahatan sementara, tetapi juga digunakan untuk mengamankan harta benda warga yang berhasil diselamatkan. Sebagian warga korban banjir juga mengungsi ke rumah sanak kelurga, terutama anak-anak kecil.

“Warga yang terdampak banjir di tiga lokasi di Konawe Utara, yakni untuk Desa Polara Indah sebanyak 33 KK atau 141 jiwa, Desa Landawe Utama 34 KK atau 140 jiwa dan Tamba Kua 27 KK atau 114 jiwa,” terang Sudin, Selasa (22/5/2018).

Untuk memaksimalkan pegawasan terhadap para korban banjir, kata Sudin, pihaknya juga mendirikan posko darurat pembantu yang dilengkapi fasilitas tanggap darurat. Saat ini, pihaknya masih terus melakukan pemantauan di sejumlah lokasi yang terdampak banjir. Baca juga: Banjir Bandang di Bogor, 1 Warga Tewas dan 12 Kendaraan Hilang

“Kami berharap bencana alam yang melanda ini tidak menimbulkan korban jiwa. Kalau (kerugian) materi diperkirakan miliaran rupiah karena rumah banyak hancur dan barang berharga lainya hilang,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, banjir setinggi empat meter menerjang tiga desa di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara 3 terjadi pada Senin (21/5/2018).

Banjir ini disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari di wilayah itu, sehingga membuat sungai Wiwirano meluap. Tak hanya itu, akibat banjir bandang tersebut jalan trans-Sulawesi yang menghubungkan antara Kecamatan Langgikima, Konawe Utara dengan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah terputus.

Transportasi Sulteng-Sultra lumpuh akibat banjir

Transportasi Sulteng-Sultra lumpuh akibat banjir

Asera. Sultra (ANTARA News) – Arus lalulintas di jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, hingga Kamis (24/5) malam, masih lumpuh akibat banjir bandang yang menutupi jalan nasional di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sultra, sejak Senin (21/5).

Wartawan Antara yang melintas di lokasi banjir, sekitar 200 kilometer barat laut Kota Kendari, Sultra tersebut, Kamis (24/5) malam, menyaksikan hampir seratusan kendaraan yang umumnya truk-truk pengangkut kebutuhan pokok masyarakat masih bertahan untuk menunggu surutnya air.

Sekitar 700 badan jalan di dekat jembatan Linomoyo, Kecamatan Langgikima, masih tertutup air dengan ketinggian antara 50 sampai 120 centimeter sehingga kendaraan belum bisa melintas.

“Kalau kondisi dua hari lalu pak, ketinggian air di jalan ini sampai dua meter,” kata seorang warga dusun di sekitar lokasi banjir.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk membuat rakit-rakit penyeberangan untuk menyeberangkan orang dan kendaraan sepeda motor bahkan mobil ukuran kecil.

Sebuah rakit yang bisa menyeberangkan sepeda motor dan mobil memungut tarif penyeberangan antara Rp500.000 sampai Rp700.000/mobil, sepeda motor Rp50.000/buah dan penumpang Rp25.000/orang.

Jasa rakit-rakit ini dimanfaatkan oleh masyarakat dari Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, untuk menyeberang ke Kendari, Sultra atau sebaliknya, namun tidak bisa membawa barang-barang kecuali pakaian.

“Kami berharap air ini bisa segera surut agar usaha kami bisa kembali lancar mengangkut barang-barang dagangan dari Kendari ke Bungku, Kabupaten Morowali,” ujar seorang pedagang dari Bahodopi, Kabupaten Morowali.

Menurut dia, warga Kabupaten Morowali, Sulteng, menjadikan Kota Kendari sebagai tempat berbelanja berbagai jenis barang kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya karena jaraknya lebih dekat dan kondisi jalan rayanya lebih baik dibanding ke Palu, Sulteng.

“Menjelang Lebaran ini pak, permintaan masyarakat untuk berbagai kebutuhan sehari-hari sangat tinggi,” ujarnya.

Dari Kota Bungku ke Palu, warga harus menempuh perjalanan darat sekitar 15 jam dengan jarak 550 kilometer, sedangkan kalau ke Kendari hanya sekitar 8 jam dengan jarak 350-an kilometer.

Meski genangan air akibat meluapnya air Sungai Linomoyo mulai surut, namun warga masih was-was akan banjir susulan karena hujan dalam intensitas kecil dan sedang masih terus turun di kawasan tersebut.

Selain banjir di Sungai Linomoyo, Kabupaten Konawe Utara, arus lalulintas Sulteng-Sultra ini juga terhambat longsor di Kecamatan Bungku Pesisir Sulteng, yang membuat badan jalan nasional sekitar 30 meter amblas sampai sekitar dua meter sehingga tidak bisa dilalui sama sekali.

“Untung di sekitar ini ada jalur alternatif melalui jalan tambang milik perusahaan pertambangan nikel, sehingga arus lalulintas tidak terputus total,” kata Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR AKhmad Cahyadi yang sedang meninjau jalur trans Sulaawesi Sulteng-Sultra.

Banjir bandang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konaqwe Utara, Sultra ini dilaporkan memusnahkan sekitar 10 buah rumah namun tidak ada korban jiwa, tetapi ratusan hektare perkebunan sawit dan sawah penduduk rusak, bahkan areal sawah yang siap panen kemungkinan tidak bisa dipanen lagi karena terlalu lama tergenang air.

Ratusan Rumah di Indramayu Terendam Banjir Rob

INDRAMAYU, (PR).- Pesisir pantai Kabupaten Indramayu diterjang banjir rob. Akibatnya ratusan rumah di berbagai wilayah terendam banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Indramayu terus berupaya mengevakuasi warga terdampak. Sejauh ini banjir rob telah melanda wilayah Juntinyuat, Karangsong, Cantigi, Kandanghaur, dan Sukra.

BPBD Kabupaten Indramayu mencatat rob telah merendam sebanyak 500 rumah warga dengan total penduduk ribuan jiwa. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah mengingat masih ada wilayah yang belum terdata.

Sementara itu, ketinggian air bervariasi mulai dari 50 sentimeter. Banjir rob terjadi semenjak Rabu 23 Mei 2018 malam.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Indramayu Edi Kusdiana mengatakan, BPBD belum mendapatkan laporan adanya korban jiwa. Rob hanya membuat sejumlah rumah rusak akibat terkikis dan terhantam air. “Yang rusak (rumah) sedikit,” kata Edi, Kamis 24 Mei 2018.

Untuk sementara dua rumah di wilayah Desa Limbangan, Juntinyuat dilaporkan rusak ringan. Namun itu hanya data sementara karena laporan terus masuk ke BPBD Indramayu.

Pendataan korban rob juga terus dilakukan bekerja sama dengan pemerintah kecamatan setempat. “Untuk di desa lain masih dilakukan pendataan, termasuk kantor Satpolairud Polres Indramayu dan tempat pelelangan ikan di Karangsong juga terdampak,” tutur Edi.

Untuk mencegah hal yang tak diinginkan, BPBD telah mengevakuasi warga ke tempat yang lebih aman. Edi mengatakan, BPBD juga telah menyiagakan anggotanya di titik lokasi terdampak rob dan membuat posko di balai desa setempat.

Para petugas disiagakan guna membantu warga terdampak rob. Warga pun bisa melapor ke posko untuk meminta bantuan evakuasi. Kondisi sedikit parah melanda dua desa di Kecamatan Juntinyuat yakni Dadap dan Limbangan.

Waspada

Camat Juntinyuat Nurul Huda mengatakan, terparah rob terjadi di Desa Dadap karena membuat 15 rumah warga roboh. “Semua korban rumah roboh sudah kami laporkan kepada bupati Indramayu,” ujar Nurul.

Rob merendam 40 persen permukiman warga di Dadap dan 80 persen permukiman di Limbangan. Warga terdampak rob di Desa Dadap telah diungsikan ke tempat yang lebih aman. Pasalnya dikhawatirkan akan terjadi rob susulan.

Kendati sudah surut, Nurul tetap mengimbau kepada warga untuk tetap waspada dan hati-hati. Dirinya pun sejauh ini terus memantau perkembangan banjir rob di wilayah Juntinyuat sambil terus berkoodinasi dengan pemerintah desa dan BPBD Indramayu.

Di wilayah Karangsong Indramayu, banjir rob merendam puluhan kios milik warga di Kawasan Wisata Karangsong. Ketinggian air bervariasi mulai dari 10 hingga 25 sentimeter.  Selain itu banjir juga merendam sejumlah empang milik warga setempat. Tak ayal ikan yang ada di empang pun hanyut terbawa air.

Raswadi (33) salah seorang warga menuturkan, dapur rumahnya terendam air sekira 5 sentimeter. Rob, kata dia, sudah melanda sejak Rabu malam. Saat rob pertama kali terjadi angin kencang pun melanda wilayah Karangsong. Dia pun kini tengah bersiaga guna mengantisipasi adanya banjir susulan. “Semoga tidak terjadi apa-apa,” katanya. ***

Preparation key to surviving disaster, emergency planner says

Bryan Lee was a typical preoccupied college student, taking classes at Humboldt State University in Arcata, California, when TV news footage of the 2011 earthquake and tsunami in Japan gave him a jolt of reality.

“It hit me that I was focusing too much on normal college things and not aware of what’s going on in the community,” he said.

He had already seen how periodic landslides could cut his Northern California community off from the outside world for days at a time, leaving gaps on grocery store shelves and driving up the cost of fuel at local gas stations, and he decided he wanted to be better prepared to face the next crisis.

Lee took an emergency medical technician course and some classes in wilderness medicine, and after graduation he got a job in emergency services with the Humboldt County Sheriff’s Office.

About two months ago Lee took a similar position with the Benton County Sheriff’s Office, where he now works under emergency services program manager Kevin Higgins as the county’s emergency services planner.

Part of Lee’s job is to think about the unthinkable — how would the county respond, for instance, to a massive wildfire, a major volcanic eruption in the Central Cascades or the sort of devastating subduction-zone earthquake that scientists say is overdue in the Pacific Northwest?

If the Big One hits, modeling scenarios suggest that highways, bridges and railroads could be badly damaged, disrupting transportation networks and leaving the Corvallis area cut off from crucial supplies of food, fuel and medicine for months on end. Basic services such as electrical power, natural gas, clean drinking water and even sewer service could also be cut off for extended periods.

The county has plans in place to address these problems, but there’s no magic bullet — and the bigger the disaster, the harder it’s going to be to restore services and provide food, water and shelter to people who need them.

Most people rarely think about these kinds of things, so when Lee talks to the public about disaster preparedness, he gives them the bad news first.

“I tell people, ‘I’m from the government, and I’m not going to be able to save you,’” Lee said. “We can’t help every household.”

Then he gives them the good news: Even though it could be days or weeks before law enforcement or disaster relief agencies are able to get supplies to everyone in the county, there are plenty of things you can do to take care of yourself and your family in an emergency.

“I really try not to do gloom and doom,” Lee said. “I really try to preach that these events are totally survivable.”

The key to surviving a disaster, Lee said, is personal preparedness.

That means having at least two to four weeks’ worth of food and water on hand for every member of your household, plus a well-stocked medical kit.

In general, Lee said, it makes sense to stock up on the kinds of nonperishable foods you like to eat, but you’ll also want to think about what can give you the most nutritional bang for the buck.

“In terms of long-term storage of food,” he said, “it’s lentils and rice.”

For water, plan on stashing one gallon per person per day. It’s also a good idea to have a means of purifying water, such as a backpacker’s filtration system or iodine tablets. In a pinch, you can use two drops of unscented household bleach per quart.

But disaster preparedness doesn’t have to stop at the household level. Lee encourages people to get to know their neighbors and talk about ways to help each other in the event of an emergency.

Who has skills that could be put to use? Who is most vulnerable and in need of help? Figuring these things out in advance could make a big difference if and when disaster strikes.

You could also join the local Community Emergency Response Team, a group of trained volunteers who could be called upon to assist professional responders in a disaster. Free CERT training is available through the Sheriff’s Office.

“It’s finally getting traction,” Lee said of the CERT program. “We’ve got about 100 people trained, and more and more people are becoming interested.”

Lee recognizes that many people find the idea of preparing for a major disaster daunting. They feel like they don’t have the time, the money or the space to stockpile supplies for surviving a doomsday scenario.

He advises starting out small — for instance, by putting together an emergency kit for the car. After that, stock up gradually on food, water, medical supplies and other items.

Pretty soon, he predicts, you’ll find you have enough set aside to take care of yourself and your loved ones in an emergency — and you’ll feel better for it.

“It sounds overwhelming when you’re first starting out, but once you start preparing … it’s more of an empowering experience,” Lee said. “(You realize) ‘I could help my family, I could help my neighbors, I could help myself.’”

Banyak Bencana Alam, Menkeu Pastikan Ekonomi Tetap Terjaga

JAKARTA – Letak dan kondisi geografis Indonesia menyebabkan negara ini terbilang rawan bencana alam. Hal ini diakui dapat memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengurangi efek bencana alam yang bisa memengaruhi perekonomian.

“Indonesia memang rawan bencana alam, aktivitas gunung merapi meningkat. Dan kita lihat ada banjir atau gempa bumi. Tapi kita memang harus mampu mengelola, bencana harus kita respons agar APBN agar bisa terjaga,” ujar Sri Mulyani di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Dia menegaskan bahwa selama ini pemerintah dapat menjaga perekonomian tetap melaju meskipun beberapa bencana alam sempat menghadang gerak perekonomian. Tidak hanya itu, Sri Mulyani menyebut, dengan realisasi pertumbuhan ekonomi sampai kuartal I/2018 sebesar 5,06%, tingkat inflasi 3,4%, perekonomian Indonesia relatif baik.

“Kita mengetahui ada gejolak yang masih terus berlangsung diakibatkan perubahan global, dan akibat kebijakan The Fed, tapi dari sisi fiskal APBN kita mengalami perbaikan yang nyata. Realisasi defisit anggaran hanya Rp55,1 triliun atau 0,37% dari PDB, ini lebih rendah dibanding April 2017, dan ini menunjukkan APBN kita semakin baik dan sehat,” tandasnya.

(fjo)

Philippines initiates ASEAN disaster risk management database to combat climate change

As announced by the Department of Finance (DOF), the Philippines urges fellow members of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) to create a region-wide database on disaster risk management.

The region-wide database on disaster risk management among the ASEAN proposed by the Philippines would allow the sharing of information on mitigating the effects of climate change and guarantee timely assistance during calamities.

DOF Secretary Carlos Dominguez III mentioned that the Philippines is spearheading the proposal by communicating with the private sector to enable better coordination in times of catastrophes and other crises even though there are “existing capacity constraints”.

During a recent joint meeting in Singapore, Sec Dominguez, his fellow finance ministers and the central bank governors in the ASEAN stressed the significance of strengthening their countries’ resilience in facing calamities.

The ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors, in a joint statement after the 4th ASEAN Finance Ministers’ and Central Bank Governors’ Meeting, said that the resilience of its member-states “is important for sustaining growth as well as protecting our people’s well-being.”

Moreover, “We note the ongoing ASEAN Disaster Financing and Insurance (ADRFI) initiatives to enhance the region’s capacity to adopt and implement ex-ante and ex-post disaster risk management measures. Cambodia, Laos and Myanmar are working together to launch the Southeast Asia Disaster Risk Insurance Facility (SEADRIF) as a disaster risk management solution for the region.”

Sec Dominguez said that an urgent need to implement disaster risk management measures to protect the country’s vulnerable communities against climate change is brought on by the irreversible damage caused by the inconsistent weather patterns.

“Within the existing capacity constraints, we are building databases and constantly improving on the quality and amount of data available to identify vulnerabilities and manage risks,” Dominguez shared.

“This is a continuing effort,” Dominguez noted. “Down the road, we are encouraging our partners in the ASEAN to participate in building a region-wide database for disaster risk management and possibly institutional structures that will enable timely cooperation in the face of calamities.”

Other efforts are being put up by the Philippines to counter natural disasters.

(1)    Digitise government assets and infrastructure

(2)    Push legislation that will institutionalise disaster risk financing strategies like reinsurance and government-sponsored risk pools to assist communities in the event of catastrophes.

The most vulnerable local government units (LGU) in the country are now undertaking preliminary studies for a parametric insurance scheme, he furthered.

Green Jobs Act (Republic Act 10771), enacted 2 years ago, provides government incentives for the creation of environment-friendly jobs, usually those that preserve the quality of the environment, decarbonise the economy, protect ecosystems, reduce pollution and restore biodiversity. These incentives include tax deductions and the exemption of capital equipment from customs duties.

Sec Dominguez was the former environment minister during the term of the late President Corazon Aquino.

“Programs such as this one support the general effort to encourage our enterprises to adopt sustainable business practices. When they comply with benchmarks set for sustainability, businesses qualify for insurable risks. Such incentives will go a long way towards building a more environmentally sensitive national economy.” he said.

He added, as stated in the joint statement, the regional bloc has already initiated a program to coordinate the sharing of disaster risk financing, with its first phase completed in June 2017.

Funding support for the region wide disaster risk insurance facility will come from the German development institutions GIZ and KfW. This initiative is “a pioneering ASEAN project that could be adopted in other parts of the world,” Dominguez explained.

“The countries of this region are stepping up to the challenges facing us today. The ASEAN itself has become a mechanism for disaster risk mitigation on a broader level. This is as it should be,” he noted.

“Typhoons, earthquakes and volcanic eruptions take a toll on our communities and on our economy. We are spending billions of pesos flood-proofing our most vulnerable areas in the face of more torrential rains. Building for a sustainable and resilient development is more than just an option for us. It is the only way to go,” he said.

Pengungsi Korban Bencana Kuningan Mulai Tempati Hunian Sementara

KUNINGAN, (PR)- Ratusan kepala keluarga pengungsi dari beberapa dusun dan desa terkena bencana pergerakan tanah dan longsor di Kabupaten Kuningan Februari 2018, sebagian besar sudah mulai menempati bangunan rumah sederana di kompleks-kompleks hunian sementara (huntara). Gedung-gedung yang dalam beberapa bulan terakhir dijadikan barak pengungsi bencana itu pun, Kamis 17 Mei 2018 terpantau sepi dan kosong dari keberadaan barang-barang bawaan pengungsi.

Perpindahan pengungsi mengisi rumah sederhana di kompleks-komleks huntara itu, berlangsung secara bertahap sejak dua pekan terakhir. Dalam waktu seminggu terakhir ini, pengungsi yang semula tinggal di gedung-gedung barak pengungsi, begitu juga yang menumpang tinggal di rumah saudara-saudaranya, secara berangsur pindah mengisi rumah jatah mereka di kompleks-komleks huntara yang baru dibuat pemerntah.

“Semua pengungsi dari desa kami pun, baik yang semula tinggal di gedung-gedung barak pengungsi, juga yang menumpang tinggal di rumah saudara-saudaranya, sudah pada pindah mengisi kompleks perumahan huntara seperti ini. Kecuali pengungsi yang mengontrak dan tinggal di rumah kontrakannya, sampai saat ini masih pada tinggal di rumah kontrakannya masing-masing,” ujar Sukirman (60) warga Dusun Cihanjuang, Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kuningan yang sedang berada di kompleks huntara warga dusunnya itu, di Desa Ciniru, Kecamatan Ciniru, Kuningan, Kamis 17 Mei 2018.

“Lumayan lah dari pada tinggal di gedung-gedung barak pengungsi,  tinggal satu keluarga satu rumah di rumah-rumah huntara sederhana ini,  lebih nyaman,” tutur Suhaeman (55), warga Pinara penghuni kompleks huntara itu, seraya menambahkan, selain itu hingga saat ini para pengungsi bencana dari Desa Pinara, masih mendapat bantuan logististik, baik bersumber dari pemerintah maupun dermawan.

Kehilangan harta benda

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada pertengahan hingga akhir Februari 2018 sejumlah dusun dan desa di Kabupaten Kuningan dilanda bencana pergerakan tanah dan longsor. Bencana alam itu tidak sampai menelan korban jiwa, tetapi akibat lainnya telah menyengsarakan warga di dusun-dusun dan desa terkena bencana tersebut.

Bencana tersebut, mengakibatkan ratusan kepala keluarga kehilangan rumah, ladang pertanian, dan harta benda lainnya. Bahkan karena kondisi tanahnya, ratusan kepala keluarga dari beberapa dusun di antaranya dipastikan harus direlokasi ke tempat lain yang dinilai aman dari ancaman bencana.

Permukiman warga terkena bencana tersebut, antara lain Kamung Cijoho, Cihanjuang, Jatimulya, Ciporang, dan Babakan di Desa Pinara, Kecamatan Ciniru. Kemudian Kampung Cigerut Kulon dan Cigerut Wetan di Desa Cpakem, Kecamatan Maleber, dan Dusun Cipar di Desa Margacina, Kecamatan Karangkancana.

Ratusan kepala keluarga dari permukiman terkena bencana itu, sejak akhir Februari terpaksa mengungsi ke gedung-gedung yang dijadikan barak pengungsi, rumah-rmah saudara, dan sebagian kecil mengontrak rumah di luar desanya. Dan , dengan dibangunnya rumah-rumah sederhana dalam beberapa kompleks huntara, sebagian besar pengungsi dari perkampungan dan desa tersebut kini sudah menempati rumah sederhana di kompleks huntara sesuai jatahnya masing-masing.***