Gov. Charlie Baker Seeks Federal Disaster Relief for 6 Mass. Counties Hardest Hit by March Nor’easter

Gov. Charlie Baker is seeking federal disaster relief for six Massachusetts counties hit hardest by the March 2-3 nor’easter that pounded the region with hurricane-force wind and rain and downed trees.

The Republican governor on Monday asked the Federal Emergency Management Agency for a major disaster declaration for Essex, Plymouth, Norfolk, Bristol, Barnstable and Nantucket counties.

Baker said preliminary estimates show emergency protective measures, debris clearance, and repairing or replacing damaged public infrastructure exceed $23.8 million — well beyond the statewide threshold of $9.5 million.

Baker is also seeking a disaster declaration from the federal Small Business Administration.

Photos: Aftermath of  the Nor'easter That Hammered New England
Tewksbury Police Department

The declaration would let the agency make low-interest home disaster and business physical disaster loans available to eligible applicants in Norfolk County and neighboring counties including Plymouth, Bristol, Suffolk, Middlesex and Worcester.

Building a kit for disaster

Building a kit for disaster

OKMULGEE, Oklahoma — The warm, moist air from the Gulf of Mexico hits the cool, dry air from Canada and a tornado is born. The birthplace is typically tornado alley, which includes Oklahoma.

The National Weather Service provides information on how to prepare for a tornado by staying informed of the current weather and any potential severe weather. Their website shows what an individual should do during a tornado, whether at home, the workplace or school, outside or in a vehicle.

But what about preparation before severe weather strikes?

U.S. government website www.ready.gov provides information on how to build a kit for disaster, including a checklist of recommended items to include in a basic emergency supply kit to be prepared.

According to the website, being prepared means having food, water and supplies to last for at least 72 hours.

Additional emergency supplies can be determined by individual needs. This includes prescription medications, cash, important family documents such as insurance and identification, sleeping bags and clothes.

After assembling an emergency kit, maintenance may be required and needs for families may change and should be rethought every year.

Keeping canned food in a cool, dry place, replacing expired items as needed and making sure boxed food is stored in a tightly closed plastic or metal containers will guarantee an emergency kit is up to date.

The website also recommends to consider kit storage locations since an individual’s location may not be known during a disaster, whether it will be work, home or vehicle.

Home kits should be kept in a designated place and ready in case evacuation is necessary.

Work kits should be stored in a ‘grab and go’ case and accommodate a person for at least 24 hours including food, water and other necessities such as medication.

Vehicles kits should have additional supplies with a basic kit, such as jumper cables and car cellphone charger.

For more information visit: www.ready.gov/build-a-kit

Banjir Landa Hampir Seluruh Wilayah Babel

Foto Berita Banjir Landa Hampir Seluruh Wilayah Babel

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Bangka Belitung, Mikron Antariksa mengatakan, berdasarkan data yang telah dihimpun, banjir dan angin kencang mendominasi bencana yang sering terjadi di wilayah itu.

“Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir bencana angin kencang atau puting beliung sudah terjadi sebanyak 83 kali di berbagai lokasi di Babel,” katanya di Pangkalpinang.

Sedangkan untuk banjir bandang dan banjir rob, sejak awal Januari 2015 sampai dengan akhir April 2018, telah terjadi sebanyak 269 kali di beberapa wilayah kabupaten kota.

Untuk mengantisipasi beberapa potensi bencana yang ada, pihaknya telah melakukan beberapa upaya, seperti menghimpun seluruh perencanaan program penanggulangan banjir di setiap kabupaten/kota.

“Dari hasil pengumpulan data tersebut, kami susun menjadi grand desain untuk penanggulangan bencana banjir di Bangka Belitung,” ujarnya.

Selain itu, BPBD Provinsi Babel juga akan membentuk penanggulangan bencana yang diberi nama Tim Tantangan (Tanggap, Tangkas dan Tangguh).

Tim Tantangan ini terdiri atas seluruh komponen bangsa, mulai dari unsur pemerintah, TNI, Polri, masyarakat dan relawan serta dunia usaha. Tim ini rencananya dibentuk sampai tingkat desa dan kelurahan.

“Kami juga akan membuat program desa/kelurahan tangguh bencana, sehingga terciptalah masyarakat yang tangguh dalam menghadapi bencana yang terjadi,” katanya.

BPBD juga akan membuat aplikasi tanggap bencana untuk memberikan informasi seputar potensi bencana yang akan terjadi di wilayah itu.

Aplikasi tanggap bencana ini nantinya akan didesain khusus yang bisa digunakan masyarakat untuk menerima informasi potensi bencana dan bencana yang sudah terjadi secara dalam jaringan.

sumber: wartaekonomi.co.id

Kepala BNPB Resmikan Taman Edukasi Bencana di Padang

Kepala BNPB Resmikan Taman Edukasi Bencana di Padang

TRIBUNPADANG.COM – Sebagai daerah rawan bencana di Sumatera Barat, Kota Padang sebagai Ibu Kota provinsi, terus berupaya untuk melakukan mitigasi bencana.
Mulai dari simulasi hingga keberbagai pelatihan sadar bencana lainnya agar jatuhnya korban jiwa saat bencana terjadi, dapat diminimalisir.
Untuk meningkatkan agar upaya tersebut bisa berjalan maksimal, BNPB bersama Unand, Kementerian PUPR, Pemprov Sumbar dan Pemerintah Kota Padang, membangun Taman Edukasi Bencana di kawasan Danau Cimpagi Pantai Padang.
Selasa (1/5/2018) pagi, taman edukasi yang berada di bagian utara Danau Cimpago itu, resmi dimanfaatkan setelah Kepala BNPB Willem Rampangilei, meresmikan taman tersebut secara simbolis yang ditandai dengan penandatangan prasasti dan pengguntingan pita.
Usai meresmikan taman edukasi tersebut, Willem mengatakan bahwa Taman Edukasi Bencana di Kota padang ini merupakan satu-satunya di Indonesia.
Ia pun berharap daerah lainnya juga bisa mejadikan taman ini sebagai pilot project bagi Pemerintah.
“Ini merupakan suatu inovasi yang bagus dan perlu dikembangkan di tempat-tempat lain. Ini bisa dijadikan plot projet dan templet untuk dibangun di tempat lain di Indonesia,” kata Willem kepada wartawan termasuk Tribunpadang.com, Selasa pagi.
Menurutnya, Taman Edukasi Bencana ini memiliki nilai yang strategic dan sangat relevan. Sebab, ada tiga hal yang penting yang harus diketahui. Pertama, Indonesia merupakan negara yang amat sangat rawan bencana.
Kedua, kecendrungannya semakin meningkat, baik frekuensi maupun itensitas bencana itu sendiri, dan ini ditandai dengan dampak dari perubahan iklim. Bahkan dampak tersebut, sudah dirasakan tak hanya di Indonesia, tapi dunia.
“Dari tahun ke tahun, dampaknya semakin parah. Bahkan dampak dari perubahan iklim tersebut, juga ditemukan potensi bencana yang baru yang cukup signifikan,” ujarnya.
Oleh sebab itu, purnawirawan bintang dua TNI Angkatan Laut itu berharap agar Taman Edukasi Bencana di Kota Padang harus dimanfaatkan secara kompreensif dan menyeluruh, sehingga dapat meningkatkan kesadaran atau budaya sadar bencana bagi masyarakat.
“Edukasi merupakan cara yang paling tepat dan efektif dalam rangka membangun kapabilitas dan kapasitas masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, yang sewaktu-waktu tidak tahu kapan datangnya,” ucap Willem.
Menurutnya, banyak program kebencanaan yang bisa dibuat di Taman Edukasi Bencana, apalagi lokasi di sekitar taman ini juga mendukung. “Danau Cimpago misalnya, itu bisa dimanfaatkan untuk pelatihan penyelamatan dan lain sebagainya,” beber Willem.
Lulusan Sepawamil tahun 1980 itu juga berharap agar fasilitas taman edukasi ini bisa terus dikembangkan, seperti wifi dan fasilitas lainnya. Namun demikian, secara pribadi pun ia berharap, agar di taman edukasi ini steril dari pedagang.
“Kalau bisa ini streil dari pedagang, mengingat taman edukasi ini berada di kawasan wisata Pantai Padang yang selalu ramai pengunjung. Jadi, kebersihannya harus dijaga,” harapnya
Taman Edukasi Bencana itu dibangun oleh Kementerian PUPR, bekerjasama dengan Unand, Pemko Padang dan Pemprov Sumbar dengan anggaran APBN sebesar Rp1,6 miliar. Ada beberapa fasilitas di Taman Edukasi Bencana tersebut
Di antaranya, pustaka berukuran lebih kurang 4×8 meter yang berisi 4000 ribu lebih buku koleksi yang sebagian dari jumlahnya, merupakan buku tentang kebencanaan. Kemudian, fasilitas lainnya yaitu WC, musala dan aula terbuka yang bisa dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat.
Di luar bangunan Taman Edukasi Bencana, juga terdapat area parkir dan bermain bagi anak-anak. Luas area tersebut, kurang lebih sepertiga dari luas lapangan sepakbola.
Direktorat Bina Operasi & Pemeliharaan Dirjen SDA Kementerin PUPR Agung Djuhartono mengatakan bahwa Taman Edukasi Bencana ini dibangun berdasarkan ide dari Unand, Kementerian PUPR hanya mendukung.
Namun demikian, pembangunan ini tidak hanya sampai di sini, tapi dikembangkan hingga ke 34 prvinsi dan 500 kabupaten kota.
“Ini baru awal, kalau untuk kelajutannya kami akan kembangkan, namun untuk mengembangkannya hingga ke 34 provinsi, kami tak bergantung dengan anggaran dari APBD maupun APBN, tapi banyak sumbernya. Kalau bisa dana CSR perusahaan yang ada di Indnesia ikut mendanainya, kami minta teman-teman media mendorong itu,” katanya.(*)

Delhi University professors for disaster management course

NEW DELHI: Six months after the University Grants Commission (UGC) sent a letter to all universities asking for compulsory courses on disaster management, geography teachers of Delhi University, concerned with the safety situation in the campus, have written to the DU vice-chancellor requesting the start of such a course.
In their letter, geography professor and member of the DU Teacher’s Association (DUTA), Vishwaraj Sharma, stated that DU needs a centre for disaster management studies.

“It is pertinent to note that whenever any disaster happens, it not only causes financial but also social and psychological sufferings in the society. Thus, the importance arises of conducting research and studying this discipline in the contemporary society,” the professor wrote to the vice-chancellor.

Sharma told TOI that only recently, JNU started its ‘Special Centre for Disaster Research,’ a trans-disciplinary centre where research would be conducted including social sciences and natural sciences and will start courses from next year.

Amita Singh, chairperson of the centre, explained that the centre will allow opportunities of research and “will also start master’s courses where students will be taught about disaster management and response.”

Sharma also mentioned TOI’s report on Jamia Millia Islamia beginning its centre for climate sustainability and disaster management where they are offering MSc and diploma courses ‘specific to Delhi’.

 

1.217 Warga Manado di DAS Tondano Terdampak Banjir

Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO — Sebanyak 1.217 jiwa warga di tepian Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano, wilayah Kecamatan Paal Dua dikabarkan terdampak banjir kiriman, Ahad (29/4) malam hingga Senin subuh. Ratusan rumah dilaporkan terendam.

“Warga tersebut tercatat di Kelurahan Paal Dua, Kairagi Weru, dan Dendengan Luar,” kata Camat Paal Dua Glen Kowaas, di Manado, Senin (30/4).

Dia menyebutkan, selain ribuan jiwa yang terdampak dan mengungsi, sebanyak 204 rumah terendam air setinggi 100 sampai 150 sentimeter di wilayah tersebut.

Kowaas menjelaskan tinggi air yang masuk juga disebabkan oleh posisi rumah yang berada dataran rendah sehingga air naik tinggi.

Kowaas mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait lainnya, seperti BPBD dan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana ini.

Kowaas mengakui warga kebanyakan panik, karena tidak menyangka air naik cepat, sebab tidak ada hujan di Manado, meskipun cuaca mendung hanya hujan rintik-rintik saja.

Meski begitu, dia mengatakan, pihaknya sudah mengingatkan, jika cuaca masih seperti ini, maka seluruh warga masih harus terus waspada, jangan sampai lengah agar bisa melakukan tindakan antisipasi tidak jadi korban sia-sia.

Sementara itu, sejumlah warga di wilayah Kecamatan Paal Dua maupun Singkil dan Wenang sudah melakukan pembersihan rumah, untuk mencegah lumpur yang dibawa air menjadi keras dan sudah menempel di dinding rumah, seperti dilakukan Herry, warga Ternate Baru.

“Kami langsung membersihkan rumah saat air mulai surut, supaya tidak menyulitkan kami saat kering,” kata Herry.

Ratusan rumah warga Manado terendam banjir

Ratusan rumah warga Manado terendam banjir

Manado (ANTARA News) – Ratusan rumah warga Kota Manado, Minggu malam, di Kecamatan Singkil, Paal Dua dan Wenang terendam air setinggi sekitar 1-1,5 meter, Minggu malam.

“Air naik tinggi dan merendam rumah-rumah warga di sepanjang tepian daerah aliran sungai Tondano dan menyebabkan ratusan warga mengungsi sementara waktu, ” kata Camat Paal Dua, Glen Kowaas, di Manado, Minggu malam.

Dia mengatakan, berdasarkan keterangan penduduk korban banjir, tidak tahu dan tak menyangka air akan naik, karena hujan hampir tidak turun di Manado.

Memang menurutnya, cuaca sejak pagi mendung tetapi hujan tidak turun, sehingga tak ada yang menyangka air akan naik dengan sangat cepat, sampai mencapai level bahaya di pos pemantau banjir di Dendengan Luar.

Dia mengatakan, sampai pukul 24.00 Wita, air masih menggenangi rumah warga dan sebagian sehingga para korban terutama perempuan dan anak-anak harus menyingkir sementara waktu.

Meski begitu, dia mengatakan tidak ada korban jiwa, meskipun memang ratusan penduduk berjaga-jaga dan masih mengungsi sampai tengah dalam.

Seorang korban bernama Muna (38) warga Ternate Baru, mengatakan rumahnya kemasukan air setinggi kurang lebih 75 cm.

Muna mengatakan, kebingungan menyelamatkan barang-barang penting milik mereka, sambil mengungsikan anak-anaknya agar jangan menjadi korban.

“Sebisanya kami menyelanatkan barang-barang dan mengungsikan anak-anak karena takut jangan sampai terbawa air yang mengalir deras,” katanya.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
sumber: ANTARA 2018

Tak Ada Hujan, Manado Banjir

20151204-Ilustrasi Banjir

Liputan6.com, Manado – Ratusan rumah warga Manado terendam air setinggi sekitar 1 hingga 1,5 meter, Minggu (29/4) malam. Rumah-rumah yang kebanjiran itu antara lain di Kecamatan Singkil, Paal Dua, dan Wenang

“Air naik tinggi dan merendam rumah-rumah warga di sepanjang tepian Daerah Aliran Sungai Tondano dan menyebabkan ratusan warga mengungsi sementara waktu,” kata Camat Paal Dua, Glen Kowaas, di Manado, Minggu malam 29 April 2018, dilansir Antara.

Penduduk korban banjir, kata dia, mengaku tidak tahu dan tak menyangka air akan naik, karena hujan hampir tidak turun di Manado.Memang cuaca sejak pagi mendung tetapi hujan tidak turun, sehingga tak ada yang menyangka air akan naik dengan sangat cepat.

Status bahkan mencapai level bahaya di pos pemantau banjir Dendengan Luar. Glen mengungkapkan, sampai pukul 24.00 WITA, air masih menggenangi rumah warga, sehingga para korban terutama perempuan dan anak-anak harus menyingkir sementara waktu.

Sejauh ini tidak ada korban jiwa. Ratusan penduduk berjaga-jaga dan masih mengungsi sampai tengah dalam.

Seorang korban bernama Muna (38) warga Ternate Baru mengatakan rumahnya kemasukan air setinggi kurang lebih 75 cm.Muna mengaku kebingungan menyelamatkan barang-barang penting milik mereka, sambil mengungsikan anak-anaknya agar jangan menjadi korban.

“Sebisanya kami menyelanatkan barang-barang dan mengungsikan anak-anak karena takut jangan sampai terbawa air yang mengalir deras,” katanya.

Pelajar Kabupaten Malang Dilatih Siaga Bencana

Pelajar Kabupaten Malang Dilatih Siaga Bencana

Malang (beritajatim.com) – Kabupaten Malang secara keseluruhan, masuk daerah rawan terjadinya bencana alam. 

Untuk mengantisipasi hal itu, sebanyak 250 anggota Palang Merah Remaja (PMR) mengikuti latihan gabungan di lapangan Desa Tawang Rejeni, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Minggu (28/4/2018).

Ratusan pelajar yang dilatih kesiapsiagaan bencana itu terdiri dari  11 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. 

Mereka berlatih untuk penanganan bencana alam. Sehingga siap dan memiliki keterampilan yang memadai untuk memberikan pertolongan saat terjadi bencana. “Mereka dibekali keterampilan  Kepalangmerahan, kesehatan remaja,  kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama,” kata Ketua Panitia dari Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Turen, Sugeng Supriyanto.

Kata Sugeng, potensi relawan muda di Turen sebanyak 650 pelajar. Selain melatih kesiapsiagaan bencana, para pelajar juga dilatih kemandirian.  

Untuk memacu keterampilan dan ketangkasan mereka juga digelar perlombaan keterampilan. Meliputi lomba pertolongan pertama, kesiapsiagaan bencana, remaja sehat peduli sesama dan ayo siaga bencana.

Termasuk, para peserta dilatih  kesiapsiagaan bencana gempa bumi yang sering melanda kawasan ini. 

Terpisah, Sekretaris PMI Kabupaten Malang, Aprilianto menjelaskan, indeks risiko bencana alam Kabupaten Malang menempati urutan kedua di Jawa Timur. 

Sedangkan secara nasional berada di urutan ke sembilan. “Kabupaten Malang seperti supermaket bencana,” bebernya. 

Ia menambahkan, Kabupaten Malang rawan terhadap 12 bencana. Antara lain gempa bumi, tsunami, gunung api, banjir, longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan, banjir rob, bencana industri, bencana sosial (konflik) dan gagal teknologi. (yog/ted)

Budaya Sadar Bencana Perlu Diwujudkan

image

UNGARAN, suaramerdeka.com– Bupati Semarang, Mundjirin, meminta seluruh elemen masyarakat bisa mewujudkan budaya sadar bencana. Dengan begitu, warga akan siap menghadapi bahaya mau pun bencana yang datangnya tidak bisa diprediksi.

“Kabupaten Semarang mempunyai karakter geografis dan geologis yang rawan bencana. Maka kita perlu mewujudkan kesadaran terhadap bencana,” katanya, ketika menjadi Pembina Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional Tingkat Kabupaten Semarang di Alun-alun Bung Karno, Ungaran, Kamis (26/4).

Demikian halnya dengan penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan, dan teknologi terkait bencana, sudah selayaknya harus dimiliki secara bertahap oleh warga dan sukarelawan. Di samping itu, kesiapsiagaan bencana juga perlu ditunjang dengan komunikasi serta koordinasi lintas sektoral.

“Ada kendala dan tantangan bagi pemerintah untuk mewujudkan kesiapsiagaan bencana secara mandiri. Untuk itu, diperlukan solusi dalam memahami tanda-tanda bahaya bencana dari beberapa pemangku kepentingan,” jelasnya.

Kalakhar BPBD Kabupaten Semarang, Heru Subroto melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Hartono menambahkan, secara berkala pihaknya telah dan akan menggelar latihan kesiapsiagaan bencana melibatkan masyarakat. Tujuannya, untuk membangun partisipasi disamping mewujudkan pemetaan fisik wilayah rawan bencana.

Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian tali asih serta bingkisan kepada korban bencana. Kemudian pukul 10.00 WIB, dilakukan uji sirine serta evakuasi mandiri di sembilan titik pantau. Di antaranya di RSUD Ambarawa, RSUD Ungaran, PT Ungaran Sari Garmen, SD Ungaran 1, SMA 1 Ungaran, SMA 2 Ungaran, Universitas Ngudi Waluyo, serta di Desa Sepakung dan Desa Wirogomo Kecamatan Banyubiru.