Skip to content

Category: Berita

Usai Gempa, Kabupaten Ciamis Masuki Masa Tanggap Darurat 7 Hari

CIAMIS, (PR).- Pemerintah Kabupaten Ciamis menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari, pasca gempa bumi tektonik 6,9 skala Richter yang terjadi pada hari Jumat 15 Desember 2017 tengah malam.

Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis masih terus melakukan pendataan kerusakan, permukiman maupun infrastruktur lain. 

Berdasar verifikasi terakhir dari 27 kecamatan yang ada di tatar galuh Ciamis, tercatat ada 22 kecamatan yang  terdampak gempa. Tercatat 759 rumah rusak akibat kerasnya guncangan gempa, terdiri 117 unit rumah rusak berat, 317 rusak sedang, dan 305 rumah rusak ringan. 

Selain itu masih terdapat 344 rumah lainnya yang masuk dalam daftar kerusakan bencana alam. Akan tetapi, rumah rusak tersebut belum terverivikasi, sehingga belum dapat ditentukan tingkat kerusakannya. Hal itu terjadi karena keterbatasan personel.

“Kami menetapkan masa tanggap darurat selama seminggu. Hal itu diperlukan untuk memudahkan penanganan darurat dan kemudahan akses menggunakan potensi sumber daya yang ada,” tutur Bupati Ciamis Iing Syam Arifin usai meninjau korban bencana, Minggu 17 Desember 2017.

Lebih lanjut Iing Syam Arifin meminta agar seluruh petugas terkait melakukan pendataan secara detail. Hal itu selain untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan pendataan, sekaligus mempermudah petugas dalam mengambil langkah berikut. Selain rumah, pendataan juga dilakusanakan terhadap infrastruktur lainnya. 

“Pendataan harus valid, sehingga memermudah dalam melakukan penanganan berikut. Memang sekarang juga masih ada data kerusakan rumah, akan tetapi masih perlu validasi. Selain itu juga ada sekolah dan bangunan lain yang juga harus didata,” katanya.

Hingga Minggu 17 Desember 2017 warga masih sibuk gotong royong menyingkirkan puing rumah dan bangunan lain yang hancur akibat gempa. Kegiatan tersebut juga melibatkan Tim SAR, Tagana, Kepolisian Resor Ciamis dan Resor Kota Banjar serta Kodim 0613.

BPBD Ciamis juga membuka dapur umum. Selain itu Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis bersama dengan isntasi terkait lainnya juga membuka posko kesehatan untuk membantu korban bencana.  Tidak sedikit warga korban yang berobat ke posko kesehatan. 

Perhatian khusus di Jawa Barat

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana  Nasional (BNPB) Willem Rampangilei, mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo menaruh perhatian khusus terhadap korban dan gempa yang terjadi diwilayah Jawa Barat. Presiden memerintahkan agar korban gempa yang terdampak gempa tidak terlampau lama dalam situasi darurat. 

“Kondisi rumah yang rusak segera di bangun kembali dengan cara di data dulu, diverifikasi lalu di SK kan oleh Bupati. Selanjutnya dikirimkan ke pemerintah pusat dalam hal ini BNPB. Data tersebut merupakan dasar untuk pemerintah menyalurkan bantuan, dana stimulant. Sehingga dapat lebih cepat kembali membangun rumahnya,” tutur Kepala BNPB,Willem Rampangilei.

Dia mengemukakan hal itu usai menggelar rapat koordinasi peanggylangan bencana yang di gelar di Pendopo Kabupaten Ciamis, Minggu 17 Desember 2017.

Pertemuan tersebut diikuti   Bupati Ciamis Iing Syam Arifin, Kasdim 0613/Ciamis Junaedi, Sekda Ciamis  Asep Surdaman. Kemudian Kepala Pelaksana BPBD Jabar Diki Syahromi, Kepala Pelaksana BPBD Ciamis  Dicky Erwin Juliady dan lainnya. 

“Kami juga menyampaikan terimakasih atas langkah cepat yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam menangani korban gempa, dalam masa tanggap darurat ini,” katanya. 

Lebih lanjut Kepala BNPB Willem Rampangilei, mengungkapkan dampak gempa terparah tidak hanya di Ciamis, akan tetapi juga Tasikmalaya dan Pangandaran.  Sedangkan daerah  lain tidak separah yang terjadi ditiga wilayah tersebut.***

Flooding persists in 7 southern provinces

Floods persist in seven southern provinces, with more than 900,000 people affected by inundations that have resulted in 22 deaths over the past 15 days.

The northeastern monsoon that began on Nov 25 has brought flooding to 11 southern provinces: Pattani, Yala, Songkhla, Phatthalung, Trang, Satun, Chumphon, Narathiwat, Nakhon Sri Thammarat, Surat Thani and Krabi, 

The floods, which have claimed 22 lives so far, still persist in seven provinces, with 903,603 people from 3,077 villages in 56 districts enduring hardship, Chayapol Thitisak, director-general of the Department of Disaster Prevention and Mitigation, said on Saturday.

The seven provinces are Pattani, Songkhla, Phatthalung, Trang, Chumphon, Nakhon Sri Thammarat and Surat Thani, he said.

In Pattani, Nong Chik and Muang districts are still inundated. In Songkhla, the affected areas are Sathing Phra, Khuan Niang, Singha Nakhon, Krasae Srin, Bang Klam and Ranot districts. In Phatthalung, Khuan Khanun, Sri Banphot, Sri Nakharin, Kong Ra, Pak Phayun, Pa Phayom, Pa Bon, Khao Chaison, Bang Kaew and Tamot are affected.

In Trang, Muang, Na Yong, Wang Wiset, and Kantang districts are still inundated. In Chumphon, flooding remains in Lamae, Muang, Thung Tako, Pathiu, Phato, Sawi and Lang Suan.

In Nakhon Sri Thammarat, water levels remain high in eight districts: Cha-uat, Bang Khan, Chian Yai, Chulabhorn, Thung Song, Pak Phanang, Sichon, Na Bon, Chawang, Nop Phi Tham, Hua Sai, Chalerm Prakiat, Phommakhiri, Thung Yai, Chang Klang, Ron Phibun, Tha Sala and Tham Phannara.

In Surat Thani, seven districts — Phrasaeng, Wiang Sa, Khian Sa, Ban Na San, Ban Na Doem, Phunphin and Don Sak — are flooded.

Jokowi Pastikan Penanggulangan Bencana Tertangani Dengan Baik

Jokowi Pastikan Penanggulangan Bencana Tertangani Dengan Baik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dalam kunjungan kerjanya hari ini, Presiden Joko Widodo meninjau dampak kerusakan yang terjadi akibat banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak ketinggalan, pihaknya juga memastikan korban bencana tersebut mendapatkan penanganan yang baik.

“Kita mau lihat lapangan, terutama yang terkait dengan korban serta infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang rusak-rusak,” ujarnya di jembatan penyeberangan orang Dukuh Bonjing, Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, pada Sabtu (9/12/2017).

Saat peninjauan, Presiden Jokowi juga mencari tahu seberapa banyak anggaran yang harus dialokasikan oleh pemerintah daerah dan pusat untuk melakukan pemulihan fasilitas-fasilitas yang rusak karena bencana.

“Sebagai contoh ini adalah jembatan kecil, tapi karena darurat dan Kabupaten tidak punya dana untuk ini jadi akan dikerjakan oleh BNPB atau Kementerian PU,” ucapnya.

Presiden Jokowi memberikan target untuk perbaikan jembatan tersebut harus dapat diselesaikan paling lambat tiga bulan ke depan.

Adapun terkait dengan penanganan bagi para korban, Kepala Negara memastikan bahwa pelayanan dasar dan kesehatan sudah dapat diberikan secara baik. Yang paling penting, ia menginginkan kegiatan belajar-mengajar anak-anak sekolah tidak terganggu.

“Yang kehilangan tempat tinggal saya juga perintahkan kepada Kepala BNPB harus segera dikerjakan. Sekolah yang rusak juga saya perintahkan Januari sudah harus mulai dikerjakan,” ujarnya.

Untuk diketahui, banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Gunung Kidul beberapa hari terakhir mengakibatkan sejumlah jembatan dan fasilitas publik lainnya rusak. Kerusakan tersebut mengakibatkan ratusan warga terisolasi dan harus memutar sepanjang puluhan kilometer untuk mencapai daerah lain.

Presiden pun menugaskan jajarannya untuk segera menangani hal itu. Tak terbatas pada Kabupaten Gunung Kidul saja, tapi juga daerah sekitarnya yang terkena bencana karena adanya cuaca ekstrem dan banjir bandang yang melanda.

“Tidak hanya di Gunung Kidul, di Pacitan dan Wonogiri juga. Kita bagi yang mana (anggaran) yang di daerah, provinsi, dan mana yang di pusat,” ujarnya.

Turut mendampingi Presiden dalam peninjauan ini antara lain Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kepala BNPB Willem Rampangilei dan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Kebakaran di California Selatan Meluas karena Hembusan Angin

Kebakaran di California Selatan Meluas karena Hembusan Angin

TEMPO.CO, California — Kebakaran meluas di kawasan California selatan dan telah memasuki hari ketiga pada Rabu, 6 Desember 2017, waktu setempat.

Seperti dilansir CNN, terjadi kebakaran baru di dekat daerah elit Bel Air dan jalan Interstate 405, yang bisa menyebabkan lebih banyak kerusakan setelah api membakar sekitar 65 ribu atau sekitar 26,300 hektar.

“Kebakaran ini menghanguskan sejumlah bangunan dan memaksa puluhan ribu orang untuk evakuasi,” begitu dilansir media CNN, Rabu, 6 Desember 2017.

Api membakar kawasan kering di sepanjang kawasan utara dan barat Los Angeles. Daerah yang paling parah terbakar adalah Ventura County.
Hembusan angin kencang Santa Ana disebut sebagai penyebab menyebarkan api dengan cepat. Daerah baru yang terkena sebaran api pada Rabu pagi waktu setempat adalah kawasan seluas 50 acre atau sekitar 15 hektar di dekat jalan Interstate-405. Daerah ini berdekatan dengan gedung seni Getty Center, Bel Air dan UCLA.

CNN melaporkan hembusan angin akan berkurang pada siang namun diperkirakan bakal menguat pada malam hari hingga Kamis keesokan harinya hingga kecepatan sekitar 50 mile per jam sehingga api bisa semakin menyebar.

Petugas meminta warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah untuk menghindari asap, yang bisa mengganggu pernapasan. Peringatan diberikan kepada warga di daerah padat penduduk San Fernando Valley dan kawasan utara Los Angeles.

Menurut data terbaru, kawasan yang paling rusak akibat sebaran api ini adalah Thomas Fire di Ventura County, yang hangus mencapai sekitar 50 ribu acre atau sekitar 20 ribu hektar. Kebakaran ini dimulai di daerah pedesaan dan menyebar ke kota di California selatan. Ini menyebabkan sekitar 150 gedung rusak.

Fire and fear stretch across Southern California as wildfires roar from Ventura to San Diego

CARPINTERIA, Calif. — Fire continued to tear across Southern California on Thursday, surrounding communities and shrouding much of the region in searing flame and thick, choking smoke.

And where there was no fire, there was fear.

Fear of what could come next as wildfires ravaged the state for a fourth day. Fear of what could happen if the winds shifted, if the flames moved, if new blazes erupted and were strengthened by the powerful gusts already fueling the infernos burning across the region.

Tens of thousands of people fled their homes, running from fires without any idea of when they could return or what they might find when they do. They grabbed pets, clothes and mementos before hurrying off in search of shelter.

Veteran firefighters described the blazes as unlike anything they had ever encountered. Thousands of firefighters and other first responders fanned out to save lives, protect homes and shepherd people to safety, joined by reinforcements that flocked in from other parts of the country.

Authorities had not reported any deaths due to the blazes by Thursday, but they spoke bluntly about the danger that remained through week’s end. While the most severe winds are forecast to slacken Friday and Saturday, lessening the fire danger some, the National Weather Service cautions the risk of fires will remain elevated through Sunday as conditions remain abnormally dry and breezy.

“We are a long way from being out of this weather event,” Ken Pimlott, director of Cal Fire, said at a briefing Thursday. “In some cases, the worst could be yet to come in terms of the wind.”

The National Weather Service warned that if new fires do begin, “very rapid spread and extreme fire behavior is likely.” Blazes began Thursday across Southern California, including one in San Diego County, where the Lilac Fire grew to 1,000 acres in just a few hours and prompted mandatory evacuations. Officials warned it was growing dangerously fast and said it threatened 1,000 structures and had damaged some others.

The massive Thomas Fire, the state’s biggest active blaze, burned across 150 square miles in Ventura County on Thursday. The blaze “continues to burn actively with extreme rates of spread,” authorities warned.

Flames from that fire surrounded Ojai, the popular winter retreat that is home to about 8,000 people, on Thursday morning, officials said. Most of the Ojai Valley had been placed under a mandatory evacuation order.

More than 100 firetrucks from several states had parked at the Ventura County Fairgrounds, firefighters standing or sitting aside their equipment as they took breaks from battling fires in nearby Ojai the night before, winds whipping in off the ocean as they rested.

“This breeze is nothing,” said Shane Nollsch, who had traveled from Lyon County, Nev., arriving at 3 a.m. Wednesday. “Yesterday, you had to chew the air before you breathed it.”

Chris Mason, a firefighter from Carson City, Nev., said those who came to help had to adjust to different terrain and a new environment. Different winds. Different fuels.

“It’s a sharp learning curve,” Mason said. “Fire is coming down the mountain at you, especially at night, when it’s hard to see and you don’t know where the streets are.”

La Conchita, a tiny town hard against coastal Highway 101 northwest of Ventura, was threatened by flames early Thursday. The town most commonly faces danger from mudslides, but those same cliffs that give way with rain are now a rich “fuel bed” for the wildfires. Fire crews managed to keep the blaze from the town’s edge, but new lines, fanned by off-shore winds, remained a peril.

That blaze — the Thomas Fire — extended dozens of miles from near Santa Paula in Ventura County to the edge of Carpinteria, a city of 13,000 people, a stiffening wind posing the most threat. Gusts picked up flames low on coastal mountain slopes and drove them up and over hills toward several towns along the Pacific Ocean.

Santa Barbara County began urging evacuations, ordering hundreds of people to leave areas along the Pacific Ocean between the larger cities of Santa Barbara and Ventura.

Along Rincon Mountain Road a few miles south of Carpinteria, fire crews fought several lines of flames overnight Wednesday and throughout Thursday, focused on protecting homes and ranches. A dozen Ventura County fire engines staged along the road near midday, the fire burning in the avocado and citrus orchards along the ridge-line above.

Tall stands of eucalyptus shook with the strengthening wind, which was driving the flames toward several multimillion-dollar homes, a brewery and a small vineyard. Two helicopters buzzed overhead, tailing “bambi buckets” beneath. The buckets open from the bottom, scooping up loads of water from the Pacific and Lake Casitas to drop near threatened homes and buildings. In all, about 30 homes were in immediate danger.

Fred Burris, a Ventura County Fire Department battalion chief, was finishing a 24-hour shift that included helping to protect La Conchita. Only one outbuilding was lost early Thursday, he said, but new fire lines were popping up along a 15-mile stretch of Highway 150 between Ojai and Carpinteria.

“We’re basically defending an area with homes and ranch infrastructure, seeing a new fire emerge along this stretch, then splitting off resources to send there – that’s the strategy,” said Burris, a 36-year veteran of the department. “Everyone says, ‘Yeah, this is the worst,’ but it really is the high-water mark for me. We’ve never seen a fire with this much speed and range.”

The California National Guard said it had mobilized more than 1,300 personnel to help confront the wildfires.

In Los Angeles County, firefighters responded to threats on multiple fronts. The Rye and Creek fires continued burning through a combined 29 square miles north of Los Angeles, while the Skirball Fire’s smaller reach forced evacuations in ritzy Bel Air and caused the University of California Los Angeles to cancel classes on Thursday, just two days before final exams.

Los Angeles Mayor Eric Garcetti (D) said the “erratic and unpredictable” wind gusts will continue through Saturday, warning that the winds could whip through with speeds as high as 70 mph.

“These conditions, combined with the heat that is now … coming to the area, the dryness, the amount of vegetation in some of the areas still that have not burned, makes this still a very threatening environment,” he said.

In the Sunland area of Los Angeles near the Creek Fire, Ken Villegas, a horse farm owner, said earlier in the week he saw the flames jump from across the street and enter his property, burning some of his foliage but no structures.

“It was crazy,” the 56-year-old said with a laugh. “The wind was blowing so hard it would’ve knocked you over.”

Warning of “extreme” fire behavior, authorities said those fighting the Creek Fire were facing multiple difficulties because of the winds, poor access to the fire, and steep, rugged terrain.

To the southwest, the Skirball Fire’s continued impact could be seen traveling down Interstate 405, the famously congested roadway shut down by the flames a day earlier. Mountains to the east of the 405 that had been swathed in flame were charred, while those on the freeway’s west side were spared.

About 10 miles south of Carpinteria, Richard Floyd watched flames burn down a steep hillside toward his aunt’s 32-acre avocado orchard, flaring with the wind gusts. For hours, the fire was close enough to his cabin, set in a bowl between hills, that you could hear it crackle and pop.

Helicopters dropped water on the hillside above the orchard for more than an hour, two working in tandem: As one dropped a load and swung south to refill in Lake Casitas, the second could be seen in the near distance.

The crews were “doing great, just great,” Floyd said. But the flames persisted and he remained uneasy.

Berman reported from Washington. Noah Smith in Los Angeles; Soo Youn in Ventura, Calif.; and Travis Andrews, J. Freedom du Lac, Jason Samenow and Dan Lamothe in Washington contributed to this report.

Floods, landslides kill 11 on Indonesia’s main Java island

An official says rain-triggered landslides and floods have killed 11 villagers on Indonesia’s main island of Java.

National Disaster Mitigation Agency spokesman Sutopo Purwo Nugroho says nine people were buried by landslides before dawn Tuesday in two villages in the East Java district of Pacitan.

Sutopo says two other people drowned in floods that inundated thousands of houses in 13 villages in the same district.

He said torrential rain since Monday has caused rivers in the area to overflow their banks.

Seasonal rains cause frequent floods in Indonesia, where many of the 260 million people live in mountainous areas or fertile, flood-prone plains near rivers.

Banjir di Pacitan dan Yogyakarta, dampak ‘keserakahan pada alam’ dengan kerugian triliunan rupiah

Longsor Purworejo

Sejak Selasa (28/11) malam, tagar #PrayForPacitan muncul dan digunakan untuk menyoroti bencana banjir akibat siklon tropis Cempaka yang terjadi bukan hanya di Pacitan, tapi juga sampai ke DI Yogyakarta, Wonogiri, dan Ponorogo.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa banjir, longsor, dan puting beliung di daerah-daerah itu menyebabkan 19 orang meninggal.

BNPB menyatakan bahwa dampak siklon tropis Cempaka telah menyebabkan bencana banjir, longsor dan puting beliung yang di wilayah Jawa, tetapi DI Yogyakarta, Wonogiri, Pacitan dan Ponorogo adalah daerah yang paling terdampak karena berjarak paling dekat dengan siklon tropis Cempaka.

“Cuaca ekstrem telah menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung di 28  kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali,” kata Sutopo Purwo Nugroho, jubir BNPB dalam pernyataan yang diberikannya.


Kerugian triliunan rupiah

Data sementara yang dihimpun Posko BNPB, bencana tersebut terjadi Kabupaten Situbondo, Sidoarjo, Pacitan, Wonogiri, Ponorogo, Magetan, Serang, Cilacap, Sragen, Boyolali, Trenggalek, Sukabumi, Purworejo, Magelang, Tulungagung, Semarang, Klaten, Malang, Wonosobo, Klungkung, Kota Yogyakarta, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, Kudus, dan Sukoharjo.

Siklon Cempaka, keempat sejak 2008

Sebelumnya, BMKG mengatakan, Siklon Cempaka merupakan siklon keempat yang dicatat Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis sejak 2008.

BMKG mendeteksi Siklon Durga di barat daya Bengkulu pada 2008 dan Siklon Anggrek pada tahun yang sama di perairan barat Sumatera.

Siklon tropis terakhir yang muncul di Indonesia adalah Siklon Bakung di barat daya Sumatra pada 2014.

Menurut Ramlan, Kabid Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, negara di kawasan tropis seperti Indonesia biasanya jarang dihantam badai dan menambahkan perubahan fenomena alam berkaitan dengan variabilitas atau kecenderungan iklim yang berubah-ubah.

Namun Ramlan enggan menyebut fenomena alam ini disebabkan perubahan iklim akibat pemanasan global karena variabilitas iklim juga dapat membuat pergeseran waktu datangnya musim atau tingkat curah hujan di suatu daerah.

Gunung Agung Awas, Warga di Radius 10 Kilometer Diminta Mengungsi

Gunung Agung Awas, Warga di Radius 10 Kilometer Diminta Mengungsi

Jakarta – Pagi ini status Gunung Agung, Bali, telah dinaikkan dari status siaga ke level awas. Warga diminta mengungsi dari radius 8 hingga 10 kilometer.

“Status Gunung Agung dinaikkan dari Siaga (level 3) menjadi Awas (level 4) terhitung mulai 27/11/2017 pukul 06:00 WITA. PVMBG merekomendasikan agar tidak ada aktivitas masyarakat di dalam radius 8-10 km,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam akun twitternya @Sutopo_BNPB, Senin (27/11/2017).

Sutopo meminta masyarakat untuk tetap tertib dan tenang. “Masyarakat diimbau mengungsi dengan tertib dan tenang,” katanya.

Sebelumnya Sutopo mengatakan status Gunung Agung dinaikkan dari Siaga menjadi Awas. Dinaikkannya status tersebut terhitung sejak pukul 06.00 Wita, pagi ini.

“Status awas adalah status tertinggi dalam status gunung api,” kata Sutopo dalam rilisnya.
(nvl/aan)

Ada Sinar Api di Puncak, Aktivitas Gunung Agung Terus Meningkat

Ada Sinar Api di Puncak, Aktivitas Gunung Agung Terus Meningkat

Jakarta – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan aktivitas erupsi Gunung Agung terus meningkat. Erupsi Gunung Agung menimbulkan kepulan abu tebal setinggi 2.000 hingga 3.400 dari puncaknya.

“Erupsi Gunung Agung terus meningkat. Tingkat erupsi gunung api ini sekarang meningkat dari fase freatik ke magmatik sejak teramati sinar api di puncak di malam hari, 25 November 2017, pukul 21.00 Wita,” kata Sutopo dalam rilisnya, Senin (27/11/2017).

Sutopo menerangkan semakin sering sinar api terlihat di puncak gunung, maka gunung itu akan semakin berpotensi meletus lebih besar dari sebelum-sebelumnya.

“Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi,” ujar Sutopo.

Ledakan di puncak gunung kadang terdengar hingga radius 12 kilometer. “Kepulan abu yang menerus, kadang-kadang disertai erupsi eksplosif disertai suara dentuman lemah yang terdengar sampai jarak 12 km dari puncak,” terang Sutoopo.

Sutopo menjelaskan saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan Polri-TNI, Basarnas, Kemenpupera, Kemensos, Kemenkes, Kemenhub, BUMN untuk medampingi Pemda dalam penanganan erupsi Gunung Agung.

Resume aktivitas Gunung Agung:

*26 November 2017*

18.00-19.00 WITA:
– CCTV Batulompeh merekam sinar api di atas puncak Gunung Agung.

19.00-20.00 WITA:
– Amplitudo tremor teramati cenderung menguat dari jam sebelumnya.

20.00-21.00 WITA:
– Terdengar dua kali suara dentuman di dalam kawah disertai kilat.
– Amplitudo tremor semakin menguat.

21.00-22.00 WITA:
– Terekam tremor overscale menguat di stasiun PSAG dan beberapa stasiun lainnya mulai pukul 21:36 WITA

22.00-23.00 WITA
– Terdengar satu kali dentuman pada pukul 22.26 WITA
– Amplitudo tremor teramati mulai melemah namun masih di atas background

23.00-24.00 WITA
– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung
– Amplitudo tremor teramati melemah namun masih di atas background

*27 November 2017*

00.00-01.00 WITA
– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung
– Amplitudo tremor teramati melemah namun masih di atas background

01.00-02.00 WITA
– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung
– Tremor menerus masih terjadi amplitudo 1-2 mm dominan 1 mm

02.00-03.00 WITA
– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung
– 02.11 WITA Tremor menerus amplitudo 3-10 mm dominan 3 mm

03.00-04.00 WITA
– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung
– Tremor menerus masih terjadi amplitudo 1-2 mm dominan 1 mm

04.00-05.00 WITA
– Terekam 1 kali gempa letusan dengan amplitudo 21 mm, durasi 40 detik
– Tremor terekam membesar dari pukul 04:30 WITA dengan amplitudo 1 – 4 mm (dominan 3 mm).
(aud/nvl)

Banjir Bandang di Jeddah Arab Saudi Tewaskan 4 Orang, Sekolah dan Universitas Diliburkan

http://cdn2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images/banjir-jeddah_20171122_151434.jpg

SERAMBINEWS.COM, RIYADH – Banjir bandang yang dipicu hujan deras menerjang jalanan kota Jeddah, Arab Saudi.

Banjir ini membuat banyak kendaraan terjebak di tengah genangan banjir. Sekolah-sekolah dan universitas di kota terbesar kedua di Saudi ini masih diliburkan akibat bencana alam ini.

Dituturkan Otoritas Pertahanan Sipil Saudi, seperti dilansir AFP, Rabu (22/11/2017), puluhan orang harus dievakuasi dari kendaraan mereka yang terjebak genangan banjir pada Selasa (21/11) waktu setempat.

Sejumlah video yang diposting warga setempat di media sosial menunjukkan konvoi kendaraan pejabat lokal yang menerjang jalanan yang mirip danau karena digenangi banjir.

Dengan kekhawatiran hujan deras terus mengguyur, Departemen Pendidikan Saudi mengumumkan bahwa seluruh sekolah di wilayah Jeddah akan terus diliburkan dengan alasan keselamatan para siswa.

Sebelumnya bulletin yang dikeluarkan badan cuaca, Otoritas Umum Meteorologi dan Perlindungan Lingkungan Hidup mengingatkan adanya cuaca buruk di sejumlah wilayah Saudi, dengan badai pasir bertiup di seluruh Qassim dan bagian barat wilayah Riyadh.

Dalam bulletin itu disebutkan hujan dan badai diperkirakan melanda wilayah Madinah dan Makkah, termasuk daerah-daerah pantai serta pegunungan wilayah Jazan, Asir dan Baha.

Media lokal Saudi Gazette melaporkan, tiga orang tewas akibat banjir di Makkah. Sedangkan satu orang lainnya tewas terkena sengatan listrik di Jeddah saat banjir melanda.

Dinas Kesehatan Jeddah melaporkan pihaknya menerima 29 laporan situasi darurat, dengan delapan kasus di antaranya melibatkan insiden tersetrum.

Insiden lainnya kebanyakan merupakan kecelakaan lalu lintas.

Saudi Gazzette juga melaporkan, total 481 orang yang terjebak banjir berhasil diselamatkan di Makkah, Madinah, Tabuk dan Al-Jouf.

Setidaknya 10 keluarga dievakuasi dan 41 kendaraan diderek ke tempat aman.

Bencana banjir terjadi di Jeddah setiap tahun, yang wilayahnya dikenal memiliki infrastruktur yang buruk. Banjir besar tahun 2009 lalu menewaskan 123 orang di Jeddah.

Kemudian dua tahun kemudian, sedikitnya 10 orang tewas akibat banjir di kota tersebut. (AFP/Saudi Gazette)