Natural disasters displace three times more people than conflicts

A young girl with her family in camp for people displaced by the war in Syria. Photograph: Getty Images

More than 31 million people – one person every second – were uprooted in their home country in 2016 because of conflicts and disasters, and numbers will grow unless the underlying causes like climate change and political turmoil are tackled, an aid group said on Monday.

Nearly 7 million people, mostly from sub-Saharan Africa and the Middle East, were displaced because of conflicts, according to data by the Internal Displacement Monitoring Centre (IDMC), which is part of aid agency Norwegian Refugee Council.

A further 24 million people, mainly in Asia, were forced to flee to another area of the country because of a natural disaster, such as storms, floods and wildfires, IDMC said in a report.

Unlike refugees, who seek asylum in other countries, internally displaced people (IDPs) remain in their own country and can’t claim international protection, IDMC says.

For this reason, IDPs are often overlooked until humanitarian crises spill across borders, said IDMC’s director Alexandra Bilak.

“It can easily fall off the agenda because national governments, in some cases, don’t want to acknowledge it and certainly don’t want anyone externally to start looking into the affairs in their sovereign state,” she said.

Conflicts

In 2016, conflicts uprooted the most people in the Democratic Republic of Congo, with 922,000 fleeing their homes, followed by Syria (824,000) and Iraq (659,000).

But natural disasters displaced three times as many people as conflicts, with more than 7 million people in China forced to leave their homes, followed by the Philippines at nearly 6 million and India at nearly two-and-a-half million.

Ms Bilak said policymakers urgently need to address the root causes of displacement and focus more attention on IDPs since they may well flee to other countries if their situation worsens.

“People who are displaced over long periods of time and facing huge threats to their daily safety and security will ultimately have to seek protection elsewhere if they’re not getting it in their country,” she said.

 

Millions of Syrians were displaced during the first years of the war, Ms Bilak said, and it wasn’t until 2014 and 2015 when they started to flee the country in huge numbers, triggering the biggest migration crisis since the second World War.

“Not enough is being spent on prevention and much more is being spent on the symptoms of these crises,” she said.

“With the impact of climate change, for example, in the future it is only going to lead to more extreme weather … which will put pressure on resources, which will lead to more conflicts and it contribute to that vicious cycle of displacement,” she said.

source: http://www.irishtimes.com/news/world/natural-disasters-displace-three-times-more-people-than-conflicts-1.3091785

Setiap Detik, Satu Orang Mengungsi Akibat Konflik dan Bencana

Kabar24.com, JAKARTA — Konflik dan bencana mengakibatkan lebih dari 31 juta orang atau satu orang perdetiknya harus mengungsi atau direlokasidari daerah asalnya.

Jumlah ini diprediksi akan terus bertambah kecuali jika penyebab utama seperti perubahan iklim, bencana alam, dan kekacauan politik bisa diatasi.

Berdasarkan data dari Internal Displacement Monitoring Center (IDMC) yang merupakan bagian dari lebaga bantuan Dewan Pengungsi Norwegia, hampir 7 juta orang, kebanyakan dari negara Sub-Sahara Afrika dan Timur Tengah harus mengungsi ke wilayah lain di negaranya akibat konflik.

Sementara itu, 24 juta orang lainnya, umumnya di Asia, terpaksa harus pindah ke area lain karena bencana alam seperti badai, banjir, dan kebakaran.

Direktur IDMC Alexandra Bilak menyebutkan berbeda dengan pengungsi yang mencari suaka di negara lain, orang-orang ini tetap berada di negaranya sendiri dan tidak bisa mengajukan permintaan perlindungan internasional. Oleh karena itu, para pengungsi di negeri sendiri sering kali terabaikan hingga krisis kemanusiaan melanda.

“Hal seperti ini dengan sangat mudah dihilangkan dari agenda karena pemerintah, dalam hal tertentu, tidak ingin mengakuinya dan tidak ingin pihak luar manapun mengulik hal yang menyangkut kedulatannegaranya,” katanya seperti diberitakan Reuters, Senin (22/5/2017).

Pada 2016, sebanyak 922.000 orang harus direlokasi dari kediamannya Republik Demokratis Kongi akibat konflik. Hal yang sama juga mengakibatkan 824 ribu jiwa di Suriah dan 659 ribu lainnya mengungsi.

Namun, jumlah pengungsi akibat bencana jauh lebih banyak, hingga tiga kali lipat. Sekitar 7 juta orang di China terpaksa harus meninggalkan rumah mereka akibat bencana diikuti hampir 6 juta orang di Filipina dan hampir 2.5 juta orang di India.

Bilak menyampaikan para pembuat kebijakan harus segera menangani akar masalah yang menyebabkan banyak orang mengungusi. Mereka, katanya, juga harus memberikan perhatian lebih bagi para pengungsi lokal karena dorongan untuk mengungsi ke luar negeri akan sangat potensial jika keadaan mereka memburuk.

“Orang-orang yang mengungsi dalam jangka waktu lama menghadapi ancaman keselamatan dan keamanan yang besar, dan mereka pastinya harus mencari perlindungan dari mana saja jika mereka tidak mendapatkanya dari negara mereka sendiri,” katanya.

PENANGGULANGAN BENCANA KESEHATAN : PEDOMAN UNTUK EVALUASI DAN PENELITIAN

Health disaster management

Health disaster managementHealth Disaster Management: Guideline for Evaluation and Researchmemperkenalkan kerangka kerja struktural untuk investigasi aspek kesehatan medis dan masyarakat di bencana. Terdapat 8 chapter yang membahas tentang setiap komponen pedoman atau kerangka kerja. Kerangka kerja tersebut meliputi serangkaian definisi umum dan standar, model konseptual untuk bencana, indikator dan standar. Terdapat deskripsi tentang 14 fungsi dasar yang terikat oleh fungsi koordinasi dan kontrol, template untuk respon bencana dan 2 template untuk penelitian. Template tersebut harus digunakan dalam perancangan, pelaksanaan, analisis dan pelaporan penelitian dan/atau evaluasi intervensi yang ditujukan untuk mencegah bahaya berubah menjadi kejadian bencana. Isu tentang masalah etik juga menjadi salah satu bagian dalam buku tersebut. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

BPBD Sekadau Beri Pelatihan Dasar Tangani Kondisi Darurat ke Masyarakat

BPBD Sekadau Beri Pelatihan Dasar Tangani Kondisi Darurat ke Masyarakat

SEKADAU, TRIBUN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sekadau menggelar pelatihan kepada masyarakat, agar memiliki kemampuan dasar dalam menangani kondisi darurat saat bencana. Kegiatan tersebut digelar di Kecamatan Nanga Mahap sejak 8-10 Mei.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sekadau Akhmad Suryadi mengatakan, pelatihan penanganan kondisi darurat bencana itu agar masyarakat memiliki kemampuan dasar dalam menangani kondisi darurat bencana. Pelatihan itu, kata dia, juga diisi dengan simulasi mitigasi bencana.

“Pelatihan itu diberikan untuk membentuk desa tangguh bencana (Destana). Artinya Desa Nanga Mahap akan jadi pilot project destana di Kabupaten Sekadau,” ujarnya kepada Tribun Kamis (11/5/2017).

Ia juga mengatakan, masyarakat akan diberikan pelatihan tentang kondisi darurat saat bencana, seperti banjir, longsor, angin puting beliung hingga kebakaran lahan maupun permukiman.

“Harapannya tentu masyarakat memiliki kemampuan untuk menangani kondisi darurat,” katanya.

Untuk itu, masyarakat diharapakn memiliki kepekaan akan potensi terjadinya bencana. Sehingga, bila bencana benar-benar terjadi maka masyarakat sudah siap. “Mereka tahu kemana tempat berlindung dan bagaimana menangani kondisi darurat. Ini untuk menghindari jatuhnya korban jiwa saat bencana itu terjadi,” tuturnya.

Akhmad menuturkan, pelatihan tersebut berdasarkan Perbup Nomor 18 tahun 2017 tentang Pedoman Umum Pembentukan Desatana dan SK Bupati Nomor 360/262/BPBD-PB/2017 tentang Penetapan Destana.

“Pemilihan Desa Nanga Mahap, karena potensi bencana di desa ini cukup tinggi, terutama bencana banjir,” pungkasnya.

Cegah Korban Bencana, Pemprov Jateng Minta Kabupaten/Kota Bentuk PSC 119

Banyumas – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta agar kabupaten/kota segera membentuk Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) melalui layanan Public Safety Centre (PSC) 119. Layanan ini berguna untuk menekan angka kematian akibat kondisi gawat daurat bagi korban sebelum ditangani oleh rumah sakit. Kondisi kritis itu terjadi akibat kecelakaan maupun bencana alam.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr Yulianto Prabowo mengatakan PSC 119 merupakan layanan cepat tanggap darurat kesehatan. Layanan ini dibentuk tahun 2016 bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk membantu penangan kesehatan terhadap masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan kecelakaan tetapi juga dalam situasi kritis, misalnya bencana alam.

Yulianto mengungkap, dari 35 kabupaten/kota, baru 21 daerah yang telah membentuk PSC 119. Padahal, kata dia, Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu provinsi dengan tingkat bencana yang tinggi. Menurut dia, diperlukan langkah cepat menangani kondisi gawat darurat jika terjadi bencana.

“Jawa Tengah merupakan ‘supermarket’ bencana seperti tanah longsor, angin ribut, gunung meletus, banjir dan bencana lainnya. Untuk menekan korban jiwa maka. Kementerian Kesehatan telah meluncurkan program ini,” tandasnya.

Yulianto menjelaskan, Gubernur Jawa Tengah juga telah mengeluarkan Peraturan Gubernur nomor 18/2017 tertanggal 18 April 2017 tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) melalui layanan Public Safety Centre (PSC) 119.

“Oleh karena kami meminta kabupaten/kota di Jateng agar segera membentuknya. PSC 119 dibentuk untuk mempercepat penanganan dan pertolongan pada korban yang membutuhkan penangan segera,” ujarnya.

SPGDT melalui PSC 119 merupakan sistem yang menaruh perhatian untuk pelayanan emergensi sehari-hari. SPGDT merupakan koordinasi berbagai unit kerja dan didukung berbagai kegiatan profesi untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita gawat darurat dalam keadaan sehari-hari.  Keberadaan leyanan ini ditandai dengan sistem komunikasi yang dikendalikan di call center sebagai pusat komunikasi dalam mengatur lalu lintas rujukan emergensi.

“Keberadaan call center harus didukung petugas yang jaga online 24 jam. Dengan penanganan gawat darurat yang direspon secara cepat, maka diharapkan akan menurunkan angka kematian dan angka kecacatan,” bebernya.

Yulianto mengemukakan, sejumlah kabupaten/kota dinilai telah berhasil membangun layanan PSC 119 ini. PSC 119 yang sudah terbentuk dan dinilai berhasil antara lain Kabupaten Banyumas, Wonosobo dan Kabupaten Batang.

Yulianto mengemukakan, Layanan PSC 119 Kabupaten Batang yang hanya menempati ruangan bekas Satpam dinilai yang terbaik dan mampu merebut inovasi dalam bidang kesehatan. Layanan PSC 119 di Batang diberi nama ‘Si Slamet’. Layanan ini bisa diunduh melalui playstore dan bisa digunakan oleh masyarakat luas guna melaporkan kejadian gawat darurat seperti kecelakaan lalu lintas sehingga korban cepat ditangani.

sumber: GATRAnews

Mensos Pastikan Gizi dan Nutrisi Korban Bencana Alam Terpenuhi

Mensos Khofifah Indar Parawansa memberikan bantuan bagi korban longsor di Ponorogo, Jawa Timur.

Jakarta – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa memastikan nutrisi dan gizi pengungsi korban bencana alam dalam masa tanggap darurat bencana terpenuhi.

Kementerian Sosial (Kemsos) dalam masa tanggap darurat bencana bertugas menyiapkan dapur umum dan logistik. Namun selain cukup pasokan makanan, gizi dan nutrisinya pun harus terpenuhi.

“Dalam koordinasi akselerasi perlindungan sosial kita antisipasi saat tanggap darurat jangan sampai logistik tidak tercukupi. Justru harus pula tercukupi gizi dan nutrisinya,” katanya di Jakarta, Rabu (3/5).

Untuk itulah Kemsos menggandeng World Food Programme dalam komitmen tersebut.

Mensos mengungkapkan, selama periode hingga Mei 2017, Kemsos mencatat ada 961.440 orang yang terpaksa mengungsi karena terdampak bencana alam. Sementara itu 146 orang meninggal dunia karena terdampak bencana alam.

Sedangkan di tahun 2016 terdapat 2,87 juta pengungsi korban bencana alam dan 567 orang meninggal dunia.

“Kita ingin lakukan layanan pertama untuk bisa membantu dan melayani. Kita sudah punya tekad satu jam tiba di tempat bencana,” ucapnya.

Tahun 2015 lanjut Mensos, taruna siaga bencana (tagana) telah berkomitmen satu jam setelah bencana, tagana siap melayani di lokasi kejadian.

Hanya saja yang perlu dilakukan saat ini adalah penguatan personel, armada dan sahabat tagana. Ia menambahkan saat ini Kemsos memiliki sekitar 31.000 tagana dan 600.000 sahabat tagana.

Menurutnya jumlah itu memang besar, namun melihat cakupan wilayah Indonesia yang begitu luas maka personel tagana perlu ditambah. Apalagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut 323 kabupaten/kota memiliki resiko tinggi bencana alam.

Mensos: Segera Relokasi Warga di Zona Merah Bencana

Mensos: Segera Relokasi Warga di Zona Merah Bencana

Magelang – Kabupaten Magelang merupakan salah satu dari 323 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki resiko bencana tinggi. Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, mendesak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat segera melakukan deteksi zona merah oleh pembuatan peta daerah rawan bencana.

“Deteksi zona merah itu bisa dilakukan oleh seluruh aparat BPBD maupun BMKG. Namun untuk menyampaikan ke masyarakat, perlu ada sosialisasi kontinyu dan komprehensif oleh lembaga-lembaga terpercaya,” jelas Khofifah di sela meninjau lokasi bencana banjir bandang di Kecamatan Grabag, Magelang, Selasa (2/5/2017).

Dia menyebutkan, hal ini pernah dilaksanakan di titik Sampang, Banjarnegara. “Saat itu memang Pemerintah Daerah menggandeng UGM untuk turun dan menyampaikan sosialisasi ke masyarakat,” katanya.

Setelah sosialisasi zona merah, lanjut Khofifah, Pemda memiliki pekerjaan rumah untuk menyiapkan relokasi bagi warga. Pemda harus mencari lahan baru. Menurutnya, relokasi penting dilakukan untuk menghindari bencana alam dan kerugian yang lebih besar, terutama kehilangan nyawa.

“Kementerian Sosial nantinya akan memberi bantuan isi hunian tetap berupa perabotan rumah, peralatan dapur, tempat tidur dan lain sebagainya senilai Rp 3 juta,” lanjutnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah melalui Kemensos juga akan mengembangkan dan memperbanyak keberadaaan Kampung Siaga Bencana (KSB). Kampung ini dimaksudkan untuk mempersiapkan warga di daerah rawan bencana menghadapi bencana alam. Target hingga 2019, berdiri sebanyak 1000 KSB.

Dalam kunjungan itu Mensos berkesempatan menengok korban luka, Aryati Rahayu (29) di RSUD Tidar Kota Magelang. Selanjutya Mensos juga menyerahkan bantuan sejumlah Rp 321 juta terdiri dari santunan kematian bagi 13 ahli waris korban meninggal sebanyak Rp195 juta, korban luka sejumlah Rp 15 juta kepada tiga orang, dan bantuan logistik sejumlah Rp 116,5 juta.

Optimalisasi Tim Respons Untuk Antisipasi Korban Bencana

SOREANG, (PR).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung terus berupaya mengoptimalisasikan time response atau waktu tanggap evakuasi korban saat terjadi bencana. Diharapkan, semakin cepatnya time response untuk mengevakuasi korban ini mampu mengurangi jumlah korban jiwa akibat dampak bencana alam.

Demikian diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Tata Irawan di sela-sela pelaksanaan simulasi kesiapsiagaan bencana gempa bumi yang digelar di Kompleks Pemerintahan Kabupaten Bandung, Rabu, 26 April 2017.

“Time response ini yang akan terus kita bina. Jadi saat kita menerima kebencanaan maka BPBD bisa merespons dengan cepat, tidak lelet apalagi terlambat. Sehingga pertolongan kebencanaan kepada korban bencana dapat dilakukan dengan baik. Tentu saja ini harus dilakukan dengan latihan dan kesungguhan dari setiap personel BPBD terutama tim reaksi cepat BPBD,” ungkap Tata.

Dari pantauan, dalam simulasi yang digelar itu sebanyak 8 adegan diperagakan. Di antaranya mulai dari penerimaan informasi kebencanaan, evakuasi korban bencana, mendirikan posko bencana, hingga membawa korban bencana ke rumah sakit.

Semua adegan yang diperagakan terutama upaya evakuasi korban dilakukan personel BPBD Kabupaten Bandung sesuai berdasarkan standar operasional prosedur evakuasi korban bencana.

Kesiapsiagaan kebencanaan ini, ditegaskan Tata, sangat dibutuhkan karena wilayah Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah dengan potensi bencana alam tertinggi. Berdasarkan hasil pemetaan BPBD Kabupaten Bandung, bencana alam berupa banjir, angin kencang, kekeringan, gempa bumi, epidemi dan wabah penyakit, serta kebakaran lahan merupakan bencana yang kerap mendera wilayah Kabupaten Bandung.

Dari sisi alat pendukung kesiapsiagaan bencana, lanjut Tata, saat ini pihaknya telah menempatkan alat early warning system (EWS) di beberapa titik rawan bencana. Untuk EWS banjir, BPBD Kabupaten Bandung menempatkan di antaranya di Kecamatan Majalaya, Dayeuhkolot, dan Baleendah. Selain memasang EWS, lanjut Tata, pihaknya pun memasang APCL dan APCH untuk memantau intensitas hujan.

“Sedangkan EWS untuk mendeeksi pergerakan tanah, kita simpan di Ciwidey dan Pasir Jambu. Untuk di Kecamatan Pangalengan dan Kertasari, EWS yang dipasang itu untuk gempa. Secara teknis alat EWS ini terhubung langsung ke Pusdalops BPBD Kabupaten Bandung. Jika ada indikasi akan terjadinya bencana, EWS ini akan memberikan laporan realtime kepada kita,” ucap dia.***

 

BNPB Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana

BNPB Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengadakan simulasi bencana gempa bumi dan kebakaran di kantor BNPB, Jakarta Timur. Kepala BNPB Willem Rampangilei mengajak seluruh pegawai BNPB beserta tamu undangan ikut serta dalam simulasi tersebut.

Pantauan detikcom, di kantor BNPB, Jalan Pramuka Raya, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (26/4/2017), sekitar pukul 10.00 WIB, simulasi ini dimulai. Simulasi ini diskenariokan dengan bunyi sirine terjadinya gempa bumi. Lalu setelah itu ada kebakaran di lantai 5 gedung.

Seluruh pegawai serta tamu undangan berhamburan keluar melalui tangga darurat. Mereka keluar dengan menutup bagian kepala untuk dilindungi. Dalam simulasi ini pemadam kebakaran sigap datang ke tempat kejadian. Terdapat 4 korban luka yang diselamatkan oleh pemadam kebakaran. Keempatnya diterjunkan dari lantai 5 dengan menggunakan tali penyelamatan.

Willem mengatakan simulasi ini perlu diadakan untuk pelatihan dasar setiap individu. Namun ia melihat kecekatan yang dilakukan pegawainya belum mencapai taraf maksimal.

“Saya lihat kita belum merespon dengan tepat, begitu ada info kita berlindung di bawah meja atau melindungi kepala membawa bangku, ini saya lihat belum terlatih dengan baik,” ucapnya saat sambutan.

“Tapi sistem sudah saya lihat dengan baik. Saya lihat juga blangwir menyemprot sampai lantai atas, catatan ini jangan hanya dijadikan kegiatan seremonial, saya berharap adanya ini kita dapat meningkatkan kemampuan masing-masing, saat individu mengalami keadaan darurat ini bisa kita gunakan,” imbuhnya.

Simulasi ini diikuti pula oleh perwakilan dari Japan International Coorperation Agency (JICA), Ishigaki Shingeki dan perwakilan dari Pasific Disaster Center, Chris Chiesa, serta perwakilan dari BMKG Jaya Murjaya.

Ishigaki mengatakan Jepang juga memperingati hari kesiapsiagaan bencana setiap tanggal 1 September. Menurutnya Jepang adalah negara yang paling sering mengalami gempa bumi, jadi masyarakatnya selalu diberi pembekalan dalam kesiapsiagaan bencana.

“Kita juga melakukan simulasi, dan memperingati hari kesiapsiagaan bencana pada 1 September, latihan kita biasanya diadakan secara berkala setiap tahun, kegiatan pelatihan kita adakan di 9 provinsi dan melibatkan seluruh stakeholder terutama di Tokyo.Melibatkan kendaran laut dan helikopter, saluran air yg ada diana. Pemerintah setempat ikut berperan dalam tiap pelatihan. Simulasi hari ini, semoga pelatihannya bisa lebih besar,” kata Ishigaki saat sambutan.

BNPB Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana
Foto: Simulasi penyelamatan korban bencana (Cici-detikcom)

Sedangkan Chris mengatakan pelatihan seperti ini sangat penting dilakukan karena kita tidak akan tahu kapan bencana akan terjadi. “Kita harus selalu siap melakukan pelatihan seperti ini, bahkan saat kita sedang ke kantor, ke sekolah, pergi kemanapun, kita harus membawa ‘go bag’, atau biasa disebut tas siaga,” ucapnya.

Simulasi ini dilakukan selama kurang lebih 30 menit. Simulasi yang dilakukan selesai sekitar pukul 10.30 WIB.

Nepal’s earthquake disaster: Two years and $4.1bn later

The Nepalese government demolished the only earthquake shelter in Kathmandu, where hundreds sought temporary sanctuary after the 2015 earthquake [EPA/Narendra Shrestha]

On April 25, 2015, a powerful earthquake killed nearly 9,000 people and destroyed more than 824,000 homes in Nepal. Shortly after, the country’s Reconstruction Authority published a vision for “well-planned resilient settlements and a prosperous society”. But it is clearly falling short of that goal because of poor coordination between government and donors, a lack of understanding of local concerns, and a dearth of civic engagement.

Two years after a series of earthquakes devastated Nepal, barely 5 percent of the destroyed houses have been rebuilt, according to the National Reconstruction Authority. That 800,000 families still do not have their houses rebuilt is simply a disaster.  

Two winters without shelter

There is plenty of blame to go around for the slow reconstruction. The government bears responsibility for failing to work with ministries responsible for distributing reconstruction funds and some donors have been slow to pay out promised funds.

Immediately after the disaster, the international community came together to raise $4.1bn for Nepal’s reconstruction, which is less than half of the total cost of $9bn. Those funds, plus locally raised revenues, were meant to be disbursed in tranches to households needing to rebuild their homes.

The process, however, is onerous. Only 12 percent of the money has been distributed. Only 544,996 families have received their first payment, which is only 17 percent of the total government grants for house building. Just 20,889 homes had been rebuilt as of April 6, according to the National Reconstruction Authority.

Progress has been painfully slow for families who have now spent two winters without proper shelter. Many live in makeshift huts and bamboo tents.

Further, problems on the ground have been ignored. Shortages of water and other raw materials mean that even families that receive payouts are unable to begin building. Some families have had to travel for several days to reach local government offices to sign up for the compensation they have been promised. Others struggle to find materials and skilled workers to build walls. Still others have waited months for inspectors to check the foundation work so that the next tranche of funding can be released. 

Lack of information

Part of the problem has been lack of transparency and information for the general public on how the process of reconstruction should proceed. Whether it’s making sure that people understand the timeline for compensation disbursements or knowing where to go for help, the government must be transparent and proactive in communication. The lack of information has been a major challenge for many Nepalis, especially the poor and the disadvantaged.

Take Sunita Danuwar as an example. She is a single woman who was unable to access the rebuilding funds because she had no citizenship card. She had been married as a child and her husband left her for another woman. In Nepal, women obtain citizenship cards through their fathers or husbands. Having neither, Sunita was left unable to access government relief funds. It took more than a year and the assistance of a nonprofit organisation for Sunita to connect with a government official who helped her obtain a citizenship card.

Another man, Kabiraj Pariyar, waited for more than five months for an engineer to inspect his rebuilt foundation so that he could qualify for another government grant. It wasn’t until he connected with an advocate that he was able to get past this first step in rebuilding.

At the Accountability Lab, my colleagues and I set up a resource called Citizen Helpdesks to gather and disseminate details to close information gaps between the government, the media, donor organisations and communities. This has grown into a platform for feedback from citizens on a range of issues such as migration, government services and education. Armed with feedback from the Helpdesks and other groups working in Nepal, government should be more responsive and citizens can better understand their role in recovery.

Local elections coming

While it is encouraging that Pariyar and Danuwar found resources to help in their efforts to rebuild, the process can’t be this burdensome or slow. There is much more to be done and the biggest step forward may come in May, when Nepal will hold local elections for the first time in 20 years. These 34,203 directly elected representatives will give local communities a louder voice in national decisions. Their first priority should be completing the earthquake recovery.

These local elected officials have the independent authority to mobilise local resources to make faster decisions. They can monitor progress in reconstruction efforts, provide oversight on the quality of the work and guard against the misuse of funds. The local authority can solve problems raised by citizens by providing space to discuss issues within the village and municipal council. They are a strong connection between central government, citizens and donor agencies. They are the voices of citizen. 

In times of crisis, international aid is essential to help alleviate suffering. But the international community can bring about more lasting change by directing their support towards citizens and local organisations committed to solving the root problems of corruption and lack of information.

My hope is that when the next earthquake anniversary rolls around in 2018, all Nepali citizens will have rebuilt both their homes and their hope as they strive towards a more prosperous, safe and inclusive future.

Narayan Adhikari leads Accountability Lab’s work in Nepal, including designing an incubator that trains young people to build innovative solutions for accountability. He is a 2017

The views expressed in this article are the author’s own and do not necessarily reflect Al Jazeera’s editorial policy.