REGIONAL SUMMARY:
For the nineteenth week of 2022, a total of 30 disasters (22 floods, 4 wind-related, 3 landslides, and 1 storm) affected the region. Indonesia, Malaysia, and the Philippines have reportedly been affected. Prolonged heavy rainfall and overflowing of the rivers have caused flooding and rain-induced landslides and strong winds/tornadoes were experienced over Aceh, North Sumatra, Banten,
West and East Java, Central and East Kalimantan, Central, South, and West Sulawesi, and North Maluku as reported by BNPB. The NADMA reported that flooding occurred in Pahang State. Lastly, the NDRRMC reported that the InterTropical Convergence Zone (ITCZ) has caused flooding, landslides, and storms in Regions IX, XI, and BARMM in Mindanao.
HIGHLIGHT:
According to the NDRRMC, on 10 May 2022, the municipal disaster management agency of Data Abdulla Sangki reported that flooding occurred in the municipality as a result of continuous heavy rains brought by the ITCZ. Several municipalities have reported flooding due to the continuous light to moderate with at time heavy rains. A total of 4,249 families (21.2K persons) were reportedly affected and displaced. A total of 1K hectare of agricultural lands were also affected. The municipal disaster risk reduction and management council has carried out necessary actions to address the impacts of the flood i.e., coordination with relevant authorities, rapid assessments and evaluation, and evacuation.
HYDRO-METEO-CLIMATOLOGICAL:
For the past week, data from the ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) showed relatively high 7-day average rainfall in the Philippine Sea, across Northern Borneo, and Northern Sulawesi, Papua, and North Maluku of Indonesia, and some portions of Myanmar. Fairly high 7-day average rainfall can be observed across ASEAN (in eastern Thailand, Lao PDR, and Northern and Central Viet Nam. As of reporting, there are no active tropical cyclone advisories for the region (JTWC).
GEOPHYSICAL:
Six (6) significant earthquakes (M≥5.0) were recorded in the region by Indonesia’s BMKG. Semeru, Anak Krakatau, and Ili Lewotolo (Alert Level III), and Ibu and Dukono (Alert Level II) in Indonesia, Taal Volcano (Alert level 2) and Kanlaon (alert level 1) in the Philippines reported recent volcanic activity according to Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) and Philippine Institute of Volcanology and Seismology (PHIVOLCS)..
OUTLOOK:
According to the ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), for the coming week, wetter conditions are expected over the region between the equator and 10°N (including the Malay Peninsula, northern Sumatra, northern Borneo, and southern Philippines) and the southern Maritime Continent; drier conditions are expected over central and southern Sumatra; warmer conditions are predicted over the region around Sumatra; cooler conditions are predicted for northern parts of Mainland Southeast Asia. For the regional assessment of extremes, there is a moderate increase in chance for very heavy rainfall event to occur in Malay Peninsula; moderate increase in chance for extreme hot conditions to occur in much of the equatorial region; and small increase in chance for extreme cold conditions to occur in much of Myanmar, northern Lao PDR, northern Thailand, northern Viet Nam.
GPDRR dan pentingnya upaya global mengurangi risiko bencana
Jakarta (ANTARA) – Indonesia akan menjadi tuan rumah rangkaian pertemuan Sesi ke-7 Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana (GP2022) di Bali pada 23-28 Mei 2022.
Acara tersebut akan diketuai bersama oleh pemerintah Indonesia dan Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR).
Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana (Global Platform for Disaster Risk Reduction/GPDRR) merupakan forum internasional untuk mendiskusikan Kerangka Kerja Sendai untuk pengurangan risiko bencana atau Sendai Framework 2015-2030.
Kerangka kerja yang telah disepakati oleh 187 negara itu bertujuan untuk menjadi acuan kerja global dalam mengurangi berbagai risiko bencana di seluruh dunia di masa depan.
Acara GPDRR untuk sesi kali ini akan berlangsung di masa yang sangat penting, tujuh tahun sejak adopsi Kerangka Sendai dan lebih dari dua tahun sejak awal pandemi COVID-19.
Krisis global yang terjadi saat ini telah menyingkap bahwa kerentanan dan ketimpangan sosial yang mendasar memiliki konsekuensi bencana bagi kelompok-kelompok paling rentan di seluruh dunia.
Untuk itu, pencegahan dan agenda mengenai pengurangan risiko bencana sangatlah penting jika dunia ingin mencapai masa depan yang berkelanjutan untuk seluruh umat manusia.
Terkait upaya itu, GPDRR tahun ini akan memberikan kesempatan yang baik dan tepat waktu untuk menunjukkan pentingnya solidaritas dan kerja sama internasional, serta membahas cara-cara untuk mengatasi pemicu risiko yang mendasari terjadinya bencana, baik secara lokal maupun global.
Selain itu, GPDRR 2022 akan mengeksplorasi cara-cara memperkuat tata kelola risiko bencana dan berbagai upaya untuk membangun sistem yang lebih kuat dalam mengelola semua jenis risiko.
Yang tak kalah penting, platform global ini juga merupakan wadah untuk berbagi pengetahuan dan mendiskusikan perkembangan dan tren terkini dalam pengurangan risiko bencana.
Majelis Umum PBB mengakui GPDRR sebagai mekanisme penting untuk meninjau kemajuan implementasi Kerangka Sendai.
Melalui platform global ini, pemerintah negara-negara, sistem PBB, dan semua pemangku kepentingan berkumpul untuk mengidentifikasi cara untuk lebih mempercepat implementasi Kerangka Sendai.
Sejak 2007, enam sesi GPDRR telah digelar dan hasilnya diakui oleh Majelis Umum PBB sebagai kontribusi pada pertimbangan Forum Politik Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan (HLPF) yang diadakan setiap tahun pada Juli.
Dengan demikian, hal itu berkontribusi pada pemantauan berdasarkan risiko dan implementasi dari Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030.
Pada tahun ini, GPDRR kembali menawarkan sebuah kesempatan bagi pemerintah, sistem PBB dan semua pemangku kepentingan untuk berkomitmen kembali untuk segera mempercepat kemajuan upaya pengurangan risiko bencana menuju pencapaian pembangunan berkelanjutan.
Perlindungan Lingkungan
Utusan Khusus PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) Mami Mizutori menekankan pentingnya upaya untuk mengurangi risiko bencana yang dibarengi dengan upaya perlindungan terhadap lingkungan.
Dia mengatakan bahwa tidak ada negara yang luput dari dampak bencana yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19 maupun kejadian-kejadian iklim yang ekstrem.
“Namun, hal yang penting adalah kedua tipe bencana itu dapat dimitigasi dampaknya melalui pengurangan risiko bencana,” ujar Mizutori dalam konferensi pers persiapan Sesi ke-7 GPDRR.
Forum GPDRR yang akan diselenggarakan di Bali, menurut dia, akan membahas upaya membangun ketahanan bencana yang berkesinambungan dengan perlindungan lingkungan.
“Saya rasa Indonesia adalah tuan rumah yang tepat. Meski rentan terhadap bencana dan telah menghadapi berbagai bencana, (Indonesia) telah menemukan cara untuk mengatasi risiko bencana di tingkat nasional dan daerah,” kata Mizutori.
Dia berpendapat bahwa kepemimpinan politik dari berbagai lapis teratas pemerintah, baik di daerah maupun di pusat, diperlukan dalam upaya mengurangi risiko bencana yang dibarengi dengan perlindungan lingkungan.
Dia pun menyebutkan bahwa selama konferensi iklim PBB (COP26) pada 2021 tampak jelas bahwa ketahanan terhadap bencana memiliki peranan penting.
Pada COP27 tahun ini di Mesir, kata dia, akan ada pembahasan lebih lanjut tentang cara dan upaya adaptasi terhadap iklim dapat menyatu dengan upaya penurunan risiko bencana secara komprehensif.
“Hal tersebut menjadi penting, khususnya bagi negara berkembang, negara kepulauan, serta negara-negara kecil,” kata Mizutori.
Untuk itu, dia meyakini bahwa GPDRR sebagai platform global akan dapat menjembatani kepentingan yang dibahas dalam COP26 dan COP27 melalui diskusi terkait iklim dan pengurangan risiko bencana.
GPDRR juga merupakan sebuah platform global yang sangat penting untuk Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang sangat rentan terdampak cuaca ekstrem akibat krisis iklim.
Selain itu, Indonesia juga merupakan negara yang berada di area Cincin Api Pasifik yang rentan dengan peristiwa bencana geologi seperti gempa bumi, termasuk gempa yang dapat memicu tsunami.
Secara global, Indonesia berharap negara-negara di seluruh dunia dapat berkolaborasi membangun ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai bencana di masa depan.
Indonesia sebagai tuan rumah GPDRR 2022 ingin menggaungkan tema “Memperkuat Kemitraan Menuju Ketangguhan Berkelanjutan”.
Tema itu sejalan dengan tema besar Presidensi G20 Indonesia yang ingin membangun ketahanan dunia lebih baik lagi agar dapat segera pulih bersama dari dampak bencana pandemi COVID-19.
Untuk itu, pemerintah Indonesia berharap penyelenggaraan GPDRR tahun ini dapat menjadi bagian dari upaya untuk membangun ketangguhan dan ketahanan bersama menuju pemulihan, sesuai tema Presidensi G20 “Recover Together, Recover Stronger”.
Warga korban bencana alam di Lebak berharap rumah hunian tetap
Masyarakat korban bencana tanah bergerak di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten berharap rumah hunian tetap yang dijanjikan pemerintah daerah hingga segera terealisasi untuk tahap kedua.
“Kami kini sangat mendambakan rumah hunian tetap, karena kondisi tempat tinggalnya sudah terancam roboh, ” kata Marhudi (45) warga Rt01/09 Kampung Jampang Cikuning Desa Sidamanik Kabupaten Lebak, Senin.
Kondisi rumah miliknya kini cukup prihatin dan sebagian besar tiang penyangga dan tembok dinding sudah terlepas akibat pergerakan tanah.
Saat ini, warga yang terdampak tanah bergerak sejak tahun 2019 tahap kedua sebanyak 41 kepala keluarga belum direalisasikan pembangunan rumah hunian tetap.
Mereka warga kini sebagian tetap nekat mengisi rumah, meski kondisinya nyaris roboh, sedangkan sebagian lainnya tinggal di tenda pengungsian.
Oleh karena itu, pihaknya bersama warga lainnya berharap pemerintah setempat dapat mengalokasikan dana stimulan untuk pembangunan rumah hunian tetap.
“Kami sejak sepekan terakhir mendirikan tempat tinggal di samping rumah yang nyaris roboh untuk bertahan hidup dengan keluarga, ” katanya menjelaskan.
Ketua RT 01/09 Kampung Jampang Cikuning Sidamanik Kabupaten Lebak Sukanta mengatakan saat ini warganya yang belum direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman pergerakan tanah tercatat 41 KK.
“Kami minta tahun ini pemerintah setempat dapat merealisasikan rumah hunian tetap karena sudah tiga tahun kondisi mereka menempati kondisi rumah nyaris roboh, ” katanya.
Iyan (60) Ketua Rukun Tetangga (RT) di lingkungan Huntara I Cigobang Kabupaten Lebak mengatakan warganya menempati gubuk-gubuk tenda hunian sementara yang dibangun oleh relawan karena belum dibangun rumah hunian tetap.
Masyarakat hingga kini cukup memprihatinkan tinggal di hunian sementara dengan ruangan sekitar 4×4 meter terpaksa tidur bersamaan dengan istri dan anak-anak hingga saling berdesakan dengan ruangan sempit itu.
Warga yang menempati gubuk di Blok Huntara I sekitar 86 kepala keluarga (KK) Cigobang Kecamatan Lebak Gedong terkadang mengalami gangguan kesehatan lingkungan.
“Kami hampir setiap hari menerima laporan warga sakit akibat tinggal di lokasi hunian yang tidak layak huni itu,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizki Pratama mengatakan pemerintah daerah hingga kini terus mengajukan untuk pembangunan rumah hunian tetap yang terdampak bencana pergerakan tanah di Kecamatan Cimarga juga Cikulur.
Tercatat korban bencana pergerakan tanah di Kecamatan Cimarga sebanyak 41 keluarga di Cikulur 48 keluarga.
Selain itu juga ada korban bencana banjir bandang di Kecamatan Lebak Gedong, Cipanas, Sajira dan Curugbitung pada awal 2020 yang berharap mendapat bantuan hunian tetap untuk 378 keluarga.
sumber: elshinta.com
Buat Aplikasi Mitigasi Bencana, Zola Saputra Raih Prestasi di Ajang Esri Young Scholar Award 2022

BANDUNG, itb.ac.id –Mahasiswa Institut Teknologi Bandung dari Program Studi Geodesi dan Geomatika, Zola Saputra, melakukan penelitian terkait edukasi mitigasi bencana melalui aplikasi. Aplikasi tersebut bisa menampilkan informasi dalam bentuk virtual reality. Aplikasi ini juga memungkinkan masyarakat bisa melihat ketinggian tsunami di sekeliling mereka.
“Kalau ada masyarakat di daerah Pangandaran yang terdampak, mereka juga bisa tahu shelter terdekat mana yang bisa mereka tuju,” jelas Zola terkait hasil risetnya.
Riset dengan judul “MIGAMI (Mitigasi Bencana Tsunami) – An AR&VR Mobile Application using Artificial Intelligence for Tsunami Mitigation” itu berhasil membuat Zola meraih juara 2 (runner up) pada kompetisi Esri Young Scholar Award 2022.
Esri Young Scholar Award merupakan kompetisi yang diadakan oleh perusahaan ESRI, perusahaan yang merupakan penyedia perangkat lunak terkenal seperti ArcGIS, ArcMap, dll. Pada kompetisi ini, Muhammad Faisal Anshory, Mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika ITB yang meraih juara 1.
Dengan adanya penelitian ini, Zola ingin membuat masyarakat yang resilien akan tsunami dan tangguh ketika ada bencana sejenis. Untuk menjadi tangguh, dibutuhkan pelatihan yang dilakukan terus-menerus. Pelatihan tersebut harus mirip dengan kondisi aslinya. “Jadi, semoga manfaat aplikasi ini bisa diimplementasikan ke masyarakat, dimulai dari Pangandaran. Kalau terbukti berhasil, mungkin bisa dipakai di daerah sekitarnya,” ujarnya.
Uniknya, topik ini merupakan Tugas Akhir dari Zola untuk menuntaskan pendidikan sarjananya. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Antusiasmenya terkait topik ini berawal dari cerita dosen yang menjelaskan bahwa potensi tsunami di Pangandaran cukup tinggi. Oleh karena itu dia berniat membuat aplikasi mitigasi bencana tersebut.
Ilmu terkait pengembangan aplikasi tidak pernah ia dapat selamat berkuliah. “Jadi topik ini juga jadi keuntungan tersendiri untuk menambah ilmu,” ucap Zola. Kendala dalam presentasi bahasa Inggris cukup membuatnya gerogi. Hal yang pertama baginya melakukan presentasi dalam bahasa Inggris. Tekanan itu bertambah ketika hendak melakukan presentasi di depan para ahli.

Zola berterima kasih pembimbing Dr.rer.nat. Wiwin Windupranata yang telah membimbing penelitiannya itu. Ia juga berpesan kepada semua orang agar mengerjakan suatu hal dengan sepenuh hati dan semangat.
“Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang mudah di hidup ini, semuanya pasti butuh perjuangan, walaupun yang kamu usahakan atau gapai itu bisa dibilang sederhana oleh orang lain, tapi kalau kamu bisa jalankan itu dengan sepenuh hati dan semangat, itu bisa menjadi proses menuju hal yang berbuah manis,” pesannya di akhir wawancara.
Reporter : Kevin Agriva Ginting (Teknik Geodesi dan Geomatika, 2020)
Komisi X DPR Desak Kemdikbud-Kemkes Buat Mitigasi Hepatitis Misterius
Jakarta – KPAI meminta kebijakan pembukaan kantin sekolah saat pembelajaran tatap muka (PTM) dievaluasi akibat adanya hepatitis misterius. Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mendesak Kemendikbud dan Kemenkes melakukan koordinasi.
“Saya mendesak Kemendikbud untuk koordinasi dengan Kemenkes untuk mengantisipasi dan membuat rekomendasi yang sifatnya lebih detail terkait dengan tindakan prefentif adanya hepatitis misterius,” ujar Syaiful Huda saat dihubungi, Kamis (12/5/2022).
Syaifuk Huda menyebut koordinasi dilakukan untuk memitigasi dan memberikan rekomendasi tindakan prefentif. Nantinya hasil koordinasi dinilai dapat dituangkan dalam surat edaran kepada pihak sekolah.
“Secepatnya memitigasi dan memastikan terkait hepatitis misterius ini bagaimana tindakan prefentifnya yang harus disiapkan oleh pihak sekolah. Dengan cara itu nanti akan ada SOP yang bisa dikeluarkan oleh pihak Kemendikbud yang berupa surat edaran kepada sekolah-sekolah apa saja tindakan prefentif yang harus disiapkan sekolah,” kata Syaiful Huda.
“Terkait dengan usulan KPAI kan mungkin ini sifatnya masih semacam opini yang kira-kira diasumsikan oleh pihak KPAI penutupan kantin menjadi penting, tingkat urgensinya yang tau kan sebenarnya Kemenkes,” tuturnya.
Ia meminta agar penanganan tidak dilakukan cepat agar tidak terlambat. Sebab menurutnya kasus hepatitis misterius ini telah banyak dilaporkan di daerah.
“Jangan sampai terlambat, karena kasusnya kita sudah dapat di Jawa Timur juga, besar juga di Tulungagung itu dan cukup membahayakan kalau kita analisa dari berbagai berita,” tuturnya.
Sarankan Buat Protokol Masuk PTM
Senada dengan Syaiful Huda, dihubungi terpisah Wakil Ketua Komisi X Dede Yusuf meminta agar Pemerintah Daerah (Pemda), Kemekes dan Kemendikbud untuk berkoordinasi.
“Sebaiknya Pemda dan Kemkes harus berkoordinasi dengan Kemdikbud, untuk membuat protokol masuk PTM,” ujar Dede Yusuf.
Dede Yusuf menilai protokol masuk PTM diperlukan untuk mempermudah penanganan bila ditemukan gejala terkait hepatitis misterius di Sekolah.
![]() Dede Yusuf (Foto: Wisma Putra) |
“Agar semua bisa merespon jika ditemukan tanda tanda di sekitar sekolah,” kata Dede.
Namun Dede meminta masyarakat agar tidak takut berlebihan. Sebab menurutnya yang terpenting adalah pencegahan dan koordinasi.
“Tetap tidak boleh takut berlebihan juga. Karena tiap epidemi intinya adalah pencegahan dan koordinasi,” tuturnya.
Perkuat Mitigasi Bencana, FMMH Kembalikan Ekosistem di Lereng Merapi
SLEMAN, iNews.id – Forum Merapi Merbabu Hijau berupaya mengembalikan kelestarian ekosistem alam di lereng Gunung Merapi. Mereka menggencarkan penghijauan untuk memperkuat mitigasi bencana erupsi berbasis kearifan lokal warga setempat.
“Kami berupaya mengembalikan ekosistem alam di Merapi dengan kearifan lokal dengan memperkuat fungsi mitigasi bencana warga,” kata Pegiat Forum Merapi Merbabu Hijau (FMMH) Lilik Rudiyanto di Yogyakarta, Kamis (12/5/2022).
Salah satu tanda alam yang diyakini menjadi peringatan dini erupsi Merapi adalah kemunculan satwa-satwa liar yang turun dari puncak gunung. Jika hewan-hewan seperti monyet atau rusa sudah memasuki permukiman warga, masyarakat bergegas meningkatkan kesiapsiagaan karena aktivitas Merapi sedang di atas normal.
Hanya saja fenomena ini tidak bisa lagi sebagai patokan. Hewan-hewan itu banyak turun gunung bukan membawa pesan aktivitas Merapi yang naik. Namun mereka mencari makan karena ekosistem alaminya rusak.
“Kalau sekarang hewan turun itu mencari makan,” ujarnya.
Pascaerupsi Merapi 2010 hingga saat ini FMMH terus menjaga keseimbangan alam di kawasan Merapi. Mereka terus melakukan penanaman pohon menggandeng Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). beberapa pohon yang dipilih seperti pohon gayam, pohon pule, tengsek, hingga puspo.
“Setiap penghijauan kami selalu melibatkan warga serta tokoh-tokoh agama di Merapi,” ujar dia.
FMMH juga melakukan pembibitan tanaman bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) dan Hutan Lindung Serayu Opak Progo.
SNI Kebencanaan untuk acuan bersama penanggulangan bencana
Jakarta (ANTARA) – Ketua Komisi Teknis (Komtek) 13-08 Badan Standardisasi Nasional (BSN) Udrekh mengatakan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kebencanaan dapat menjadi acuan standar bersama bagi semua pihak untuk penanggulangan bencana.
“Dengan menggunakan standar acuan yang dituangkan dalam setiap dokumen SNI, akan sangat membantu mencapai standar minimal mutu, kualitas, dan keseragaman barang/jasa yang dihasilkan untuk upaya penanggulangan bencana di daerah terkait,” kata Udrekh saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Komite Teknis 13-08 merupakan komite teknis yang dibentuk pada 2011 untuk merumuskan dan menyusun SNI di bidang penanggulangan bencana.
Ia menjelaskan pengembangan SNI Kebencanaan terutama dilatarbelakangi oleh kebutuhan terhadap acuan standar minimal para pihak dalam melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana.
Sebanyak 23 SNI terkait kebencanaan dibuat sejak 2011 hingga 2022, dengan satu SNI telah direvisi dan telah terbit yang terbaru yaitu SNI ISO 22301:2019, yang ditetapkan BSN pada 2021.
Sebanyak 23 SNI tersebut meliputi antara lain SNI 7743:2011 Rambu evakuasi tsunami, SNI 7766:2012 Jalur evakuasi tsunami, SNI 8288:2017 Manajemen pelatihan penanggulangan bencana, dan SNI 8357:2017 Desa dan kelurahan tangguh bencana.
SNI 8357:2017 Desa dan kelurahan tangguh bencana menetapkan indikator desa dan kelurahan tangguh bencana yakni memiliki indikator dasar dan hasil.
Indikator dasar antara lain berupa penguatan kualitas dan akses layanan dasar seperti penguatan kualitas layanan dan akses pendidikan formal maupun non formal, layanan kesehatan yang dapat diakses oleh semua masyarakat, serta sarana dan aksesibilitas transportasi.
Sedangkan indikator hasil meliputi antara lain penguatan pengelolaan risiko bencana di mana desa dan kelurahan memiliki hasil kajian wilayah dengan perspektif kebencanaan, pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan risiko bencana, serta kegiatan aksi masyarakat dalam pengelolaan risiko bencana.
SNI-SNI tersebut diharapkan dapat diterapkan di tingkat tapak/daerah dengan melibatkan komunitas atau masyarakat setempat untuk mendukung upaya tanggap bencana dan pengurangan risiko bencana.
Komite Teknis 13-08 memiliki ruang lingkup yang mengacu pada ISO/TC 292, Security and Resilience yaitu Standardisasi bidang keamanan untuk meningkatkan keselamatan dan ketangguhan masyarakat.
Kegiatan pada standar tersebut bertujuan untuk melindungi kehidupan dan penghidupan masyarakat serta lingkungan dari ancaman bencana alam dan non alam, sehingga standar ini dapat dikembangkan mengacu pada standar tentang penanggulangan bencana dan risiko.
Tujuan berikutnya adalah melindungi masyarakat dari bahaya tindakan yang mengancam dan merugikan sehingga tercipta rasa aman, stabil dan bebas dari gangguan fisik dan mental, demikian Udrekh.
BNPB: Kolaborasi dan kesiapsiagaan kunci kurangi kehancuran bencana RI

Jakarta (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan adanya kolaborasi antar pihak dan sikap kesiapsiagaan pada setiap diri individu menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak kehancuran akibat bencana di Indonesia.
“Perayaan Idul Fitri menjadi titik awal kita dalam menjalani kehidupan yang berbeda dengan beradaptasi bersama situasi pandemi yang belum berlalu. Semangat berbagi kegotong-royongan, kerelawanan dan spirit kemanusiaan harus tetap terpatri dalam jiwa kita,” kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi dalam Webinar “Membangun Kesiapsiagaan yang Kolaboratif” yang diikuti di Jakarta, Rabu.
Prasinta menuturkan tugas pemerintah untuk membangun ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana dan membangun resiliensi, tidak bisa dipisahkan dari membangun sikap kesiapsiagaan.
Sikap tersebut merupakan hal penting yang harus di bangun pada setiap tingkat kelompok masyarakat. Supaya seluruh lapisan masyarakat lebih siap menghadapi bencana, maka diperlukan sebuah strategi yang lebih efektif yakni kolaboratif, ujarnya.
“Untuk membangun kesiapsiagaan yang kolaboratif, seluruh pihak dapat membagi perannya masing-masing untuk mencapai tujuan dan visi membangun ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana yang dijadikan sebagai acuan bersama,” katanya..
Selanjutnya, sikap semangat dan saling mendukung di dalam setiap jiwa penduduk Indonesia harus terus tersemat guna memberikan dukungan emosional ataupun bantuan fisik yang dapat mempermudah alur kerja kemanusiaan.
Kemudian, seluruh lapisan masyarakat mampu membangun komunikasi yang profesional. Tujuannya adalah untuk membangun lingkungan kerja yang positif dan suportif antarsesama, kementerian/lembaga terkait maupun organisasi dan relawan kebencanaan, ujarnya.
Prasinta juga menjelaskan dalam melakukan sebuah pekerjaan kemanusiaan, keterlibatan aktor-aktor manusia dengan gaya kerja yang beragam, nilai-nilai budaya, pendidikan dan latar belakang yang berbeda bisa saling melengkapi satu sama lain dan menghadirkan pemikiran yang berbeda sehingga kebencanaan bisa ditangani dengan lebih baik di berbagai sisi kehidupan.
8 Lokasi di Tangerang Terendam Banjir Usai Diguyur Hujan Deras
Tangerang – Hujan deras mengguyur kawasan Tangerang dan sekitarnya kemarin malam. Akibatnya, delapan titik di wilayah Kota Tangerang terendam banjir.
Ketinggian air di tiga dari delapan titik banjir di Tangerang itu kurang-lebih 1 meter. Ketiga titik banjir itu terjadi di Jalan Bumi Mas Raya Cikokol, Jembatan Alamanda Periuk, dan bawah flyover Taman Cibodas.
“Jalan Bumi Mas Raya, Cikokol, Tangerang, pukul 00.22 WIB kurang-lebih 1 meter, Jembatan Alamanda, Gembor, Periuk, pukul 01.08 WIB kurang-lebih 1 meter, dan di bawah flyover Taman Cibodas pukul 01.22 WIB kurang-lebih 1 meter,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tangerang Ghufron Falfeli kepada wartawan, Rabu (11/5/2022).
Empat titik banjir lainnya direndam air kurang-lebih 40 cm dan satu titik dengan ketinggian sekitar 60 cm. Banjir mulai menggenangi kelima titik itu mulai dini hari tadi.
“Taman Royal 3, Poris Plawad, Cipondoh pukul 00.30 WIB kurang-lebih 40 sentimeter, Mutiara Pluit, Periuk, pukul 00.47 WIB kurang-lebih 40 sentimeter, Jalan Sinar Hati, Sukajadi, Karawaci, pukul 00.47 WIB kurang-lebih 40 sentimeter, Jalan Cimone Alfa Raya Nomor 1 RT 006, Cimone, Karawaci, pukul 01.08 WIB kurang-lebih 40 sentimeter dan Cimone Mas Permai, RW 05 pukul 01.20 WIB kurang-lebih 60 sentimeter,” jelas Ghufron.
Tidak hanya banjir, hujan deras juga menyebabkan dua pohon tumbang di Tangerang. Kedua pohon tumbang itu berada di Perumahan Taman Cibodas dan Jalan Bayur.
“Pohon tumbang di Jalan Anggrek, Perumahan Taman Cibodas, RT 003 RW 06, Sangiang Jaya, Periuk, dan Jalan Bayur titik kenal dekat PLN, pinggir kali,” ujar Ghufron.
5 Fakta Banjir Menerjang Sebab Tanggul Bocor di Tangerang
Jakarta – Banjir melanda sejumlah titik di Kota Tangerang usai hujan deras. Pemkot menyebut banjir diakibatkan luapan air sungai dan tanggul bocor.
Hujan deras semalaman mengguyur Kota Tangerang pada Selasa (10/5/2022). BPBD Tangerang kemudian melaporkan banjir di sejumlah titik. Berikut rangkuman banjir di Tangerang:
1. Ketinggian Air Capai 1 Meter di 3 Titik
Berdasarkan data dari BPBD Tangerang, pada Rabu (11/5) pagi, ada 8 titik banjir. Ketinggian air bervariasi.
Ketinggian air di tiga dari delapan titik banjir di Tangerang itu kurang-lebih 1 meter. Ketiga titik banjir itu terjadi di Jalan Bumi Mas Raya Cikokol, Jembatan Alamanda Periuk, dan bawah flyover Taman Cibodas.
“Jalan Bumi Mas Raya, Cikokol, Tangerang, pukul 00.22 WIB kurang-lebih 1 meter, Jembatan Alamanda, Gembor, Periuk, pukul 01.08 WIB kurang-lebih 1 meter, dan di bawah flyover Taman Cibodas pukul 01.22 WIB kurang-lebih 1 meter,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tangerang Ghufron Falfeli kepada wartawan, Rabu (11/5/2022).
Empat titik banjir lainnya direndam air kurang-lebih 40 cm dan satu titik dengan ketinggian sekitar 60 cm. Banjir mulai menggenangi kelima titik itu mulai dini hari tadi.
“Taman Royal 3, Poris Plawad, Cipondoh pukul 00.30 WIB kurang-lebih 40 sentimeter, Mutiara Pluit, Periuk, pukul 00.47 WIB kurang-lebih 40 sentimeter, Jalan Sinar Hati, Sukajadi, Karawaci, pukul 00.47 WIB kurang-lebih 40 sentimeter, Jalan Cimone Alfa Raya Nomor 1 RT 006, Cimone, Karawaci, pukul 01.08 WIB kurang-lebih 40 sentimeter dan Cimone Mas Permai, RW 05 pukul 01.20 WIB kurang-lebih 60 sentimeter,” jelas Ghufron.
2. Pohon Tumbang
Tidak hanya banjir, hujan deras juga menyebabkan dua pohon tumbang di Tangerang. Kedua pohon tumbang itu berada di Perumahan Taman Cibodas dan Jalan Bayur.
“Pohon tumbang di Jalan Anggrek, Perumahan Taman Cibodas, RT 003 RW 06, Sangiang Jaya, Periuk, dan Jalan Bayur titik kenal dekat PLN, pinggir kali,” ujar Ghufron.
3. Motor Sempat Tak Bisa Lewat di Banjir Gembor
Pantauan detikcom, Rabu (11/5), pukul 10.13 WIB, Jalan Raya Villa Tangerang Indah, Gembor, Periuk, Tangerang, terendam banjir sekitar 60 centimeter. Terlihat beberapa warga yang sedang berjalan di Jalan Raya Villa Tangerang Indah sambil melewati banjir.
Di pinggir Jembatan Alamanda dekat Jalan Raya Villa Tangerang Indah, tampak petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang sedang membersihkan sampah di Kali Ciledug. Mereka mengangkut sampah itu ke truk yang berada di pinggir jembatan.
“Motor (putar) balik aja motor, nggak bisa (lewat),” kata petugas kepada pemotor yang ingin melewati jalan yang terkena banjir.
4. Pintu Air 5 Situ Bulakan Ditutup
Kepala UPT Periuk BPBD Kota Tangerang, Syahrial, menuturkan Pintu Air 5 Situ Bulakan ditutup untuk mengantisipasi masuknya air dari Kali Cirarab menuju Kali Ledug.
“Periuk ini ada dua aliran sungai, Sungai Cirarab sama Sungai Ledug, bermuaranya ke satu. Jadi Sungai Ciledug punya pintu air, namanya Pintu 5. Nah, Pintu 5 ini aksesnya ke Cirarab,” kata Syahrial kepada wartawan, Rabu (11/5).
“Posisi Cirarab lebih tinggi. Air di sini nggak bisa keluar karena kita tutup Pintu 5-nya. Sebab, kalau kita buka, air dari Cirarab yang masuk. Nah karena kita tutup, maka Kali Ledug ini airnya nggak bisa keluar,” tambahnya.
Pintu Air 5 Situ Bulakan sudah ditutup sejak Selasa (10/5) malam. Penutupan itu dilakukan jika intensitas hujan tinggi.
“Dari tadi malam. Pokoknya kalau hujannya agak besar, intensitasnya tinggi, itu petugas sana langsung menutup (pintu air),” imbuh Syahrial.
5. Banjir Akibat 2 Tanggul Bocor
Wakil Wali Kota (Wawalkot) Tangerang Sachrudin meninjau sejumlah wilayah di Kota Tangerang yang masih tergenang banjir. Sachrudin menyebut banjir disebabkan meluapnya air sungai serta tanggul bocor.
Tanggul bocor terjadi tepatnya di wilayah Alamanda, Periuk, Tangerang, dan Situ Bulakan, Tangerang. Saat ini, petugas membuat tanggul sementara untuk menanggulangi kebocoran tanggul.
“Berdasarkan pemantauan langsung yang dilakukan di sejumlah lokasi tersebut, didapati bahwa banjir yang masih terjadi disebabkan oleh meluapnya air sungai serta tanggul yang bocor, seperti yang terjadi di wilayah Alamanda dan Situ Bulakan,” jelas Sachrudin dalam keterangannya, Rabu (11/5).
“Penanganan awal dibuat tanggul sementara untuk menanggulangi kebocoran tanggul, kalau sudah surut langsung diperbaiki,” tambahnya.
