Banjir Rendam Ratusan Rumah di Lumajang, Warga Mengungsi

LUMAJANG – Hujan deras yang terjadi sejak Rabu 20 April 2022 sore hingga malam mengakibatkan debit Sungai Menjangan dan Bondoyudo di Lumajang, Jawa Timur meluap ke permukiman warga, para Rabu malam.

Akibat luapan ini, ratusan rumah warga di tiga desa terendam banjir hingga ketinggian 1 meter. Sejumlah warga mengungsi ke tempat aman karena khawatir ketinggian air terus meningkat.

Banjir merendam ratusan rumah warga di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang. Banjir mulai merendam rumah-rumah warga sejak menjelang buka puasa dan terus meningkat akibat hujan lebat juga terjadi di lokasi.

Bahkan, di sejumlah titik, ketinggian air terus bertambah hingga mencapai 1 meter yang membuat sejumlah warga terdampak memutuskan untuk mengungsi secara mandiri.

Sementara sejumlah petugas BPBD Kabupaten Lumajang terus menyisir lokasi banjir sambil membawa perahu karet sebagai upaya antisipasi untuk evakuasi warga. Sejumlah warga juga berusaha menyelamatkan perabotan ke tempat yang lebih tinggi karena khawatir ketinggian air terus meningkat.

Salah seorang warga, Dian Wulandari berharap, banjir akibat luapan sungai yang sudah jadi langganan ini segera surut. Sehingga mereka bisa kembali beraktivitas dan menjalankan ibadah puasa secara normal.

Berdasarkan data sementara, kata Camat Sukodono, Indriyono, tercatat ada tiga desa di Kecamatan Sukodono, Lumajang yang terendam banjir. Di antaranya Desa Kebon Agung, Desa Karang sari dan Desa Kutorenon.

Petugas hingga kini masih mendata dampak banjir luapan Sungai Karang Menjangan dan Sungai Bondoyudo ini untuk menyiapkan bantuan logistik jika banjir belum surut.

 
 

(Ari)

Banjir Rob Terjang Pesisir Medan, Warga Mengeluh Ibadah Puasa Jadi Terganggu

MEDAN – Banjir rob menerjang permukiman warga di Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara. Banjir dari air pasang laut tersebut, sudah terjadi sepanjang bulan puasa Ramadhan, sehingga cukup mengganggu aktivitas warga saat berpuasa.


Air banjir biasa mulai naik dan merendam permukiman serta jalan, sekitar pukul 13.00 WIB. Kondisi tersebut akan terus terjadi hingga pukul 18.00 WIB, atau menjelang saat berbuka puasa air baru mulai

Ciliwung Meluap, 29 RT di DKI Jakarta Terendam Banjir

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan, 29 rukun tetangga (RT) terendam banjir akibat luapan Sungai Ciliwung.

Titik banjir tersebar di Jakarta Timur sebanyak 28 RT, dan satu RT di Jakarta Selatan. Ini berdasarkan data per 19 April 2022 pukul 09.00 WIB.

“Update info genangan sampai dengan pukul 09.00 WIB saat ini 29 RT atau 0,095 persen dari 30.470 RT yang ada di DKI Jakarta,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI, M Insaf, dalam keterangan, Selasa (19/4/2022).

Insaf mengatakan, ketinggian banjir rata-rata di atas 40 sentimeter. Untuk wilayah Jakarta Timur, ketinggian banjir di 9 RT Kelurahan Cawang sekitar 50 sampai 130 sentimeter.

Kemudian di Kelurahan Kampung Melayu terdapat 19 RT dengan ketinggian banjir 50-125 sentimeter.

Selanjutnya, ketinggian banjir di satu RT Kelurahan Rawajati, Jakarta Selatan, mencapai 90 sentimeter.

Kendati demikian, kata Insaf, saat ini tidak ada warga yang mengungsi. “Kondisi genangan sedang ditangani oleh DSDA, Damkar dan PPSU Kelurahan. Genangan ditargetkan akan surut dalam waktu cepat,” tutur dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Jadi Tuan Rumah GPDRR, RI Dorong Dunia Perkuat Mitigasi Bencana

Jakarta – Indonesia tengah mematangkan persiapan menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) tahun 2022. Ini merupakan forum dua tahunan yang digagas oleh Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana atau United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR).

Bagi Indonesia, panduan pelaksanaan terhadap pengurangan risiko bencana sangat penting, apalagi Indonesia berada di ring of fire yang membuatnya lebih rentan terhadap bencana seperti gunung meletus dan gempa bumi.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Infokom PMK), Kementerian Komunikasi dan Informatika Wiryanta mengatakan dengan dipercayanya Indonesia sebagai tuan rumah menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi, praktik baik pengurangan resiko bencana, termasuk penanggulangan bencana secara global dan nasional.

“Forum GPDRR menjadi ajang kolaborasi untuk tangguh bencana. Indonesia dan seluruh negara di dunia membahas pentingnya mitigasi, belajar praktik baik dan pengurangan risiko bencana dalam upaya mencapai ketangguhan bencana dan pembangunan yang berkelanjutan,” kata Wiryanta dalam keterangan tertulis, Selasa (19/4/2022).

Diketahui, GPDRR adalah forum multi pemangku kepentingan dua tahunan yang diinisiasi oleh PBB untuk meninjau kemajuan, berbagi pengetahuan dan mendiskusikan perkembangan dalam Penanggulangan Risiko Bencana (PRB).

Para delegasi yang telah berpengalaman dalam penanganan bencana dari seluruh dunia akan berkumpul dan merumuskan panduan strategis untuk pelaksanaan kerangka global pengurangan risiko bencana (Sendai Framework of Disaster Risk Reduction 2015- 2030).

Selain pembahasan strategis tentang mitigas bencana alam, forum GPDRR juga diharapkan menjadi kesempatan untuk mencari solusi bersama dalam penanganan bencana non alam dalam konteks Pandemi COVID-19.

Badan Dunia berkolaborasi dengan pemangku kepentingan akan membahas studi kasus berbagai negara yang berhasil melakukan penanganan bencana non alam dalam kerangka pengendalian pandemi COVID-19.

Pembahasan di dalam forum GPDRR akan dibagi dalam empat klaster. Pertama adalah ancaman bencana alam klaster geologi dan vulkanologi seperti gempa bumi dan gunung berapi. Kedua yaitu klaster ancaman hidrometeorologi kering seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

Klaster ketiga adalah klaster ancaman hidrometeorologi basah, yaitu banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, dan abrasi pantai. Klaster yang terakhir adalah ancaman bencana non alam, seperti pandemi COVID-19.

Siaga Bencana, BPBD DKI Tempatkan Tim Reaksi Cepat di Setiap Kelurahan

JAKARTA, iNews.id – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Isnawa Adji menempatkan Tim Reaksi Cepat (TRC) di setiap kelurahan. Hal tersebut dilakukan guna memetakan kembali potensi bencana yang ada di wilayah masing-masing.

 Isnawa mengatakan, diturunkannya TRC untuk memantau potensi bencana sejak dini di tiap kelurahan, sesuai dengan tupoksi BPBD yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 260 Tahun 2016.

“Kami menerjunkan pasukan TRC pada setiap kelurahan untuk mulai mendalami profil kelurahan dan menginventarisir setiap potensi bencana yang ada, seperti kebakaran, banjir, tanah longsor dan sebagainya,” kata Isnawa dalam keterangannya, dikutip Senin (18/4/2022).

 Tidak hanya itu, menurut Isnawa, TRC juga ditugaskan untuk mendata sarana, prasarana dan segala aspek pendukung yang dibutuhkan ketika terjadi bencana.

“TRC akan meninjau kembali lokasi-lokasi pengungsian yang sudah ditetapkan, untuk memastikan segala unsur pendukung siap dan layak ketika terjadi bencana, khususnya dalam aspek kesehatan, kedaruratan, dan logistik,” katanya.

Isnawa mengimbau masyarakat yang terkena atau melihat bencana di tiap-tiap daerah, bisa cepat menghubungi Call Center Jakarta Siaga 112. Masyrakat juga bisa menggunakan tombol darurat pada aplikasi Jakarta Aman.

“Sinergitas ini sangat penting, sembari TRC mensosialisasikan layanan aduan kedaruratan Jakarta Siaga 112 kepada masyarakat” katanya. 

Editor : Reza Fajri

Bencana Chernobyl, Salah Satu Kecelakaan Nuklir Terbesar di Dunia

Berita tentang Chernobyl menjadi perbincangan banyak orang beberapa waktu terakhir. Hal ini berkaitan dengan keberhasilan pasukan rusia merebut pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah tersebut.

Pengambilalihan ini menyebabkan muncul api di pembangkit nuklir tersebut, sebagai akibat dari baku tembak antara pasukan Rusia dengan Ukraina. Walaupun api berhasil dipadamkan dan tidak ada pelepasan bahan radioaktif, namun baku tembak tersebut berisiko memicu ledakan.

Tentu saja ledakan yang terjadi di daerah pembangkit nuklir bisa mengancam keselamatan warga Rusia, Ukraina, dan negara-negara disekitarnya. Pasalnya, sebelumnya sudah pernah terjadi ledakan di wilayah tersebut yang memakan banyak korban jiwa.

Mengenal Chernobyl

Chernobyl adalah nama kota yang berada di utara Ukraina dekat dengan Belarusia. Sebagian besar wilayah Chernobyl telah ditinggalkan penduduk setempat akibat bencana di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl yang terjadi beberapa tahun lalu.

Ketika bencana tersebut terjadi, Ukraina masih menjadi bagian dari Uni Soviet. Namun, saat ini Chernobyl berada di Zona Pengecualian 30 km yang mengelilingi PLTN.

Perang Ukraina dan Rusia turut mengancam wilayah ini. Pasukan Rusia bahkan dikabarkan berhasil merebut PLTN Chernobyl. Pejabat Ukraina menyebut, perebutan tersebut merupakan ancaman serius bagi Rusia.

Sementara itu, sumber Rusia mengatakan bahwa penguasaan reaktor nuklir Chernobyl atas Rusia memberikan pesan kepada NATO agar tidak campur dalam urusan ini. Seolah mengamini pesan Rusia, Joe Biden (Presiden Amerika Serikat), menyampaikan bahwa NATO dan Amerika tidak akan mengirimkan tentara bantuan ke Ukraina.

Kronologi Peristiwa Bencana Chernobyl

Bencana Chernobyl merupakan peristiwa yang terjadi saat pembangkit listrik tenaga nulir di wilayah tersebut meledak. Mengutip dari tulisan di drive.batan.go.id, disebutkan bahwa pembangunan pembangkit ini sudah dimulai seak akhir 1970-an. Rencananya, PLTN ini akan memiliki empat reaktor nuklir yang masing-masing bisa menghasilkan 1000 megawat.

Pada 1983, empat reaktor tersebut selesai dibuat dan terdapat penambahan dua reaktor lagi di tahun-tahun berikutnya. Beragam metode pengujian dan pengamatan dilakukan pada keempat reaktor tersebut.

Setelah pembangunan selesai, teknisi mulai menguji rekator tersebut. namun, pengujian yang dilakukan tidak sesuai dengan harapan. Kecerobohan teknisi dalam mengecek turbin menyebabkan reaktor tidak stabil.

Hanya dalam hitungan detik saja, reaktor nomor empat mengeluarkan uap panas bersama dengan embusan radiaktif nuklir. Dan dalam hitungan detik, terjadi ledakan yang menyebabkan kebakaran di atas reaktor nomor tiga.

Sistem secara otomatis tidak bekerja maksimal. Petugas kebakaran tiba beberapa menit setelahnya dan mulai mencoba memadamkan api di tempat itu. Dari penjelasan tersebut kita bisa mengetahui bahwa penyebab bencana Chernobyl karena kelalaian manusia dalam hal ini yaitu teknisi.

Ledakan yang terjadi pada saat itu menyebar ke sepanjang perbatasan Ukraina, Rusia, Belarusia, dan negara Eropa Timur lainnya. Berdasarkan keterangan di situs dlhk.jogjaprov.go.id disebutkan bahwa ada sekitar 100 orang meninggal secara langsung akibat ledakan itu.

Sementara itu, PBB dan WHO melaporkan bahwa sekitar 4.000 korban Chernobyl meninggal dunia secara tidak langsung. Mereka umumnya terkena penyakit kanker dan penyakti kronis lainnya akibat paparan radiasi nuklir.

Banyaknya korban yang jatuh akibat peristiwa tersebut menjadikan bencana Chernobyl menjadi kecelakaan nuklir terbesar setelah kecelakaan nuklis di Fukushima, Jepang.

Hal tersebut disampukan oleh Statista, yang menyebutkan setidaknya ada 12 kecelakaan nuklir tersebut di seluruh dunia yang terjadi di periode 1957 – 2011. Di posisi pertama ada ledakan nuklir di Fukushima, Jepang dan yang kedua bencana Chernobyl di Ukraina.

Dampak Chernobyl

United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) memperkirakan terjadi kontaminasi radiaktif akibat bencana Chernobyl yang memicu lebih dari 6000 kasus kanker tiroid pada remaja dan anak-anak di Rusia, Belarusia, dan Ukraina. Selain itu, terjadi pula peningkatan kasus leukimia dan katarak di wilayah tersebut.

Selain memakan banyak korban manusia, peristiwa Chernobyl juga berdampak pada lingkungan sekitar termasuk satwa yang tinggal di wilayah tersebut. Menurut keterangan di dlhk.jogjaprov.go.id, zona larangan yang berjarak 30 kilometer (km) dari pembangkit nuklir tersebut merupakan wilayah yang paling terkontaminasi radioaktif.

Sekitar 400-an hektar hutan pinus musnah seketika. Keanekaragaman hayati dan sumber air di lokasi tersebut juga sangat terkontaminasi zat berbahaya itu. Meski demikian, kini dikabarkan ekosistem di wilayah tersebut mulai pulih.

Hal tersebut bisa dilihat dari meningkatkan jumlah keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Para peneliti bahwa menemukan satwa langka seperti Lynx dan bison Eropa (Wisent) hampir punah di wilayah tersebut.

Salah satu faktor yang mendorong pulihnya populasi satwa liar dengan cepat di zona larangan yaitu tekanan pemburuna liar yang berkurang. Tidak adanya manusia di tempat tersebut membuat tumbuhan dan satwa bisa kembali pulih secara alami dengan cepat.

Meskipun demikian, para ilmuan yang meneliti tanaman pangan, masih menemukan gandum hitam dan haver yang memiliki kandungan isotop radioaktif level tinggi. Maka dari itu, makanan tersebut masih belum bisa dikonsumsi.

Jutaan Orang di Sudan Selatan Terancam Kelaparan, Imbas Bentrokan hingga Bencana Alam

PIKIRAN RAKYAT – Lebih dari 7,7 juta orang di Sudan Selatan terancam kelaparan.

Krisis pangan tersebut disebabkan banjir, kekeringan, hinggq bentrokan senjata yang kian memanas di Sudan Selatanm

Hal ini diketahui usai PBB dan pemerintah Sudan Selatan, menjelaskan bahwa cuaca ekstrim, dan bentrokan senjata yang terjadi beberapa tahun ini menyebabkan jumlah pengungsi mengalami peningkatan.

“Kami akan terus menghadapi situasi yang kami alami di Sudan Selatan jika kami tidak memulai transisi itu untuk memastikan perdamaian di tingkat masyarakat,” kata Koordinator Kemanusiaan PBB di Sudan Selatan, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Al Jazeera pada Minggu, 10 April 2022. 

Sementara itu, laporan yang dikeluarkan oleh PBB dan pemerintah Sudan Selatan mengatakan bahwa, populasi yang paling menderita kekurangan pangan terletak di negara-negara Unity, Jonglei, Upper Nile, Warrap, dan Equatorial Timur.

“Sampai konflik diatasi, kami akan terus melihat angka-angka ini meningkat karena itu artinya orang tidak memiliki akses yang aman ke tanah mereka untuk bercocok tanam,” kata Adeyinka Badejo, penjabat direktur negara Program Pangan Dunia di Sudan Selatan.

“Kami mengimbau para pemimpin negara untuk terus menuju jalan perdamaian,” tambahnya.

Dalam menghadapi situasi krisis ini, Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan wakil presidennya, Riek Machar, telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan tentang mengintegrasikan pasukan saingan mereka di bawah komando terpadu setelah berminggu-minggu berkonflik.

Terlepas dari kesepakatan itu, pertempuran baru meletus pada hari Jumat antara pemerintah dan pasukan oposisi di Negara Persatuan yang kaya minyak.

Meskipun menandatangani kesepakatan damai pada 2018 yang mengakhiri perang saudara selama lima tahun, dan membentuk pemerintah persatuan dua tahun lalu, bentrokan antara pihak lawan Kiir dan Machar terus berlanjut di tengah ketidaksepakatan, tentang bagaimana mereka akan berbagi kekuasaan.

Diketahui, Sudan Selatan terus mengalami ketidakstabilan sejak merdeka pada 2011. Kedua pemimpin itu pun telah dikritik oleh PBB atas peran mereka dalam mengendalikan kekerasan, serta karena dianggap mencekik kebebasan politik dan telah menjarah uang kas negara.

Selain itu, konflik yang terjadi di Sudan Selatan pun telah banyak menelan korban. Tercatat hampir 400.000 jiwa telah mengungsi dan meninggalkan rumah mereka.***

Pemkab Pemalang Tambah Alat Deteksi Bencana Tanah Longsor

PEMALANG, suaramerdeka.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang menambah kembali alat sistem deteksi dini bencana alam tanah longsor atau early warning system (EWS).

Sebelumnya alat EWS tersebut sudah terpasang di 15 lokasi.

Kepala Bappeda Kabupaten Pemalang Sujarwo mengatakan tambahan EWS ini dipasang di Dusun Kalibengang, Desa Cikadu dan Dusun Tundagan, Desa Tundagan Kecamatan Watukumpul.

“Prioritas pemilihan titik lokasi EWS adalah daerah dengan jumlah potensi warga dan fasilitas umum yang terdampak bencana terbanyak,” kata Sujarwo.

Menurutnya EWS yang sudah terpasang di 15 titik terdapat di sembilan desa di wilayah Kecamatan Watukumpul. Antara lain Desa Tundagan, Cikadu, Bongas, Pagelaran, Majalangu. Lalu di Desa Majakerta, Tlagasana, Cawet dan Bodas.

Sementara itu Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Sugiyanto menilai jumlah EWS yang ada saat ini dianggap masih kurang.

“Masih dibutuhkan (lagi) sebanyak 17 titik lokasi EWS tanah longsor dan tiga titik EWS banjir/rob,” kata Sugiyanto.

BNPB: 1.137 Bencana Alam Terjadi Januari hingga Maret 2022

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, ada 1.137 kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia dalam tiga bulan terakhir atau Januari hingga Maret 2022.

“Jadi kalau kita rata-rata secara harian dalam satu hari, paling tidak kita memiliki tiga kali kejadian bencana. Ini cukup luar biasa,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers melalui kanal YouTube BNPB, Jumat (1/4/2022).

Abdul mengatakan, bencana alam yang paling banyak terjadi bersifat hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

Ia mengatakan, bencana alam tersebut terjadi di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

“Pulau Sumatera, tren bencana alam terjadi di Aceh dan Sumatera Barat. Di Jawa itu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Kalimantan itu, Kalimantan Selatan, dan di Sulawesi itu Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Berdasarkan hal tersebut, Abdul meminta pemerintah di tujuh provinsi tersebut untuk memonitor kondisi lingkungan, kondisi sungai, dan kondisi pegunungan yang menjadi resapan air untuk mengantisipasi terjadinya bencana.

“Yang mungkin selama ini terjadi penyempitan, terjadi pendangkalan, itu harus benar-benar kita benahi bersama,” ucap dia.

10 Bencana Alam Terbesar di Indonesia, Pernah Tewaskan Sebagian Besar Penduduk Bumi

BENCANA alam seringkali melanda Indonesia. Dikutip dari situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hal ini karena Indonesia berlokasi di pertemuan tiga lempeng tektonik; lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.

Kondisi itulah yang menimbulkan potensi bencana alam seperti gunung berapi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Beberapa bencana alam yang terjadi bahkan cukup besar untuk sampai terasa atau disoroti oleh negara-negara lain.

Berikut ini adalah 10 bencana terbesar di Indonesia yang mengguncang dunia.

1. Letusan Gunung Merapi (1930 dan 2010)

Dikutip dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tercatat sejak tahun 1600-an, Gunung Merapi telah meletus lebih dari 80 kali, dengan interval letusan 4 tahun sekali.

Erupsi terbesarnya terjadi pada tahun 1930. Awan panas menuruni lereng 20 kilometer ke arah barat, memporak-porandakan 23 desa dan menewaskan 1.369 penduduk.

Gunung Merapi

Erupsi lainnya kembali terjadi 80 tahun kemudian, tepatnya pada 5 November 2010. Debu vulkaniknya tidak hanya menutupi wilayah Yogyakarta, tapi juga sampai ke sejumlah wilayah di Jawa Barat.

BNPB menyatakan bahwa jumlah korban tewas Merapi mencapai 275 orang, termasuk sang juru kunci, Mbah Maridjan alias Ki Surakso Hargo yang ditemukan tewas akibat terjangan awan panas di rumahnya. Peristiwa meletusnya gunung merapi sontak menjadi sorotan media internasional, di antaranya Inggris, Jerman, Prancis, dan Singapura.

2. Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi di Palu dan Donggala (2018)

Pada 28 September 2018, warga di wilayah di Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala dan Kota Palu dikejutkan dengan guncangan gempa. Guncangan di Palu sebesar 7,4 SR, dengan kedalaman 10 km, sementara posisinya berada 27 meter arah timur laut Donggala.

Lalu, lima menit kemudian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan tsunami. Namun, gelombang tsunami setinggi enam meter telanjur menyapu Kota Palu sebelum warga sempat melarikan diri ke daratan tinggi.

Selain tsunami dan gempa, bencana likuifasi juga terjadi, membuat tanah melarut dan membawa apa pun yang berada di atasnya untuk mengalir. BBC menyebut bahwa jumlah korban tewas mencapai 2.045 orang. Sejumlah negara pun mengulurkan bantuan kepada Indonesia, di antaranya Inggris, Amerika, Australia, dan Selandia Baru memberikan total bantuan USD20,8 juta dalam bentuk uang maupun barang.

3. Gempa Sumatera Barat (2009)

Pada 30 September 2009, terjadi sebuah peristiwa memilukan di Sumatera Barat. Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR terjadi di lepas pantai 17:16:10 WIB dengan kedalaman 87 km, di sekitar 50 km barat laut kota Padang.

Kerusakan terjadi di banyak wilayah, seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Kekuatan gempa bahkan terasa sampai luar Indonesia, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Berdasarkan data pemerintah daerah Sumatera Barat, korban jiwa yang ditimbulkan sekitar 1.115 orang tewas, 2.32 terluka, dan 279.000 bangunan mengalami kerusakan. Banyak negara yang membantu Indonesia atas peristiwa tersebut seperti Australia, China, Uni Eropa, Hongkong, Jepang Malaysia, Korea Selatan, Qatar, Thailand, Taiwan, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.

4. Letusan Gunung Toba 74.000 Tahun Lalu

Seperti yang diketahui, Danau Toba adalah ikon dari Sumatera Utara dan didapuk menjadi danau terbesar di Indonesia dengan luas 1.130 kilometer persegi.

Namun, dikutip dari situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Danau Toba dulunya merupakan supervulcano dan gunung api yang sudah tidak aktif (Tipe B).

Dipercaya sekitar 74.000 lalu, letusan Gunung Api Toba mampu meluluhlantahkan sebagian besar umat manusia. Letusannya menjadi yang paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi. Hanya 5.000-10.000 orang saja yang mampu bertahan.

Bahkan perubahan iklim global sempat terjadi. Gunung tersebut memuntahkan 2.800 kilometer kubik abu dan menutup atmosfer bumi hingga 6 tahun lamanya, menurunkan suhu udara.

5. Gempa Yogyakarta (2006)

Pada 27 Mei 2006, tepat di pagi hari pukul 05.53, terjadi gempa bumi berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya. Orang-orang banyak yang masih dalam kondisi terlelap, sehingga mereka terjebak di dalam rumah yang roboh.

Sebanyak lebih dari 5.800 orang meninggal dan 20.000 lainnya terluka. Bangunan dan infrastruktur hancur. Bahkan Candi Prambanan ikut menjadi korban.

Diyakini gempa Yogyakarta menjadi gempa terbesar kedua di Indonesia setelah peristiwa yang menimpa aceh di tahun 2004. Akibat dari peristiwa gempa 2006, Yogyakarta mulai meningkatkan migasi bencana.

Menteri-menteri penanggulangan bencana se-Asia Pasifik mengadakan pertemuan pada tahun 2012 di Yogyakarta untuk memaparkan pelajaran yang bisa diambil dari gempa 2006, dan Deklarasi Yogya ditetapkan sebagai Dokumen PBB.

6. Tsunami Flores (1992)

Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan 6,8 skala liter mengguncang Laut Flores. Pusat gempa terletak di kedalaman laut, 35 km arah barat Kota Maumere, tepatnya pukul 13.29 WITA.

Tidak hanya itu, tsunami setinggi 30 meter juga menerjang selama 15 menit, meluluhlantahkan rumah yang hancur karena gempa. Wilayah yang terkena dampak tsunami berada di Kabupaten Sikka, Ende, Ngada, dan Flores Timur.

Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 3.000 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 warga terpaksa mengungsi. Tercatat pula 18.000 rumah, 113 sekolah, dan 90 tempat ibadah hancur. Karena saat itu Indonesia belum memiliki ahli tsunami, maka riset mengenai peristiwa tsunami Flores banyak dilakukan oleh peneliti asal Jepang.

selengkapnya

https://nasional.okezone.com/read/2022/04/06/337/2574354/10-bencana-alam-terbesar-di-indonesia-pernah-tewaskan-sebagian-besar-penduduk-bumi?page=3