100 Rumah-Jembatan Rusak Sejak Hujan Deras Mengguyur Banyuwangi

Banyuwangi – Sekitar 100 rumah dan sebuah jembatan di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi terendam banjir bandang. Musibah terjadi usai hujan deras mengguyur selama 4 jam.

Tak ada korban jiwa dalam musibah ini. Banjir diketahui terjadi pukul 15.00 WIB akibat luapan air sungai Karang Tambak dan merendam Dusun Sumbergendang dengan ketinggian air mencapai 30 cm.

Kapolsek Pesanggaran AKP Subandi mengatakan air banjir yang merendam rumah warga setinggi 30 cm. Adapun yang terdampak yakni Dusun Sumbergandeng, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran.

“Dusun yang terendam Dusun Sumbergandeng,” ujar Subandi, Senin (21/3/2022).

Subandi menyebut akibat banjir ini, setidaknya ada 100 rumah dari 63 KK yang terendam air. Banjir juga merusak sebuah jembatan penghubung antara Dusun Sumberjambe dan Sumberdadi.

“Air sempat masuk ke beberapa rumah warga. Sementara ada juga jembatan penghubung antara Dusun Sumberjambe dengan Dusun Sumberdadi Desa Kandangan mengalami kerusakan, roboh diterjang derasnya arus sungai Karang Tambak. Jembatan tersebut tidak dapat dilalui oleh masyarakat setempat,” jelas Subandi.

Subandi menyebut banjir terjadi karena intensitas hujan yang tinggi. Hujan diketahui terjadi sejak pukul 11.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Derasnya hujan yang turun mengakibatkan volume air di sungai Karang Tambak meningkat hingga akhirnya meluap.

“Hujan dengan intensitas tinggi terjadi selama 4 jam-an. Langsung meluap ke rumah warga. Sementara laporan tidak ada korban jiwa,” kata Subandi.

Naiknya debit air sungai dan merendam di wilayah Dusun Sumbergandeng bukan yang pertama kali ini saja. Sebab sebelumnya juga sudah beberapa kali terjadi.

Salah satu penyebab mudahnya air sungai meluap saat hujan karena dangkalnya dasar sungai. Selain itu, pertemuan antara aliran sungai Karang Tambak dengan sungai Cawang juga menjadi faktor lain pemicu banjir.

Tak ada laporan korban jiwa dalam musibah ini. Namun kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Usai banjir, warga dan petugas setempat bahu-membahu membersihkan sisa-sisa lumpur banjir.

“Sementara tidak ada korban jiwa. Warga bersama aparat keamanan dan pemerintahan setempat membersihkan sisa-sisa banjir. Kerugian estimasi sekitar Rp 100 juta,” tandasnya.

sumber: detik.com

BPBD Gorontalo Utara tetapkan status siaga bencana banjir

Gorontalo – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, menetapkan status siaga bencana banjir di daerah itu, menyusul bencana banjir yang terjadi sejak Ahad, 20 Maret 2022.

“Hari Ahad kemarin, sebagian besar wilayah di Kecamatan Kwandang terendam banjir dengan ketinggian air merata setinggi paha orang dewasa. Begitupun di beberapa desa di Kecamatan Tomilito yang terendam banjir sejak pukul 15.00 WITA dan mulai berangsur surut pukul 20.00 WITA,” kata Kepala BPBD Gorontalo Utara, Asri Ode Muisi, di Gorontalo, Senin.

Banjir juga melanda wilayah Kecamatan Atinggola pada hari ini (21 Maret 2022), banjir merendam Desa Posono dengan ketinggian air bervariasi hingga mencapai lutut orang dewasa.

Pihaknya, terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan, serta instansi teknis terkait dalam upaya penanggulangan bencana banjir.

“Kami pun berkonsentrasi pada penanganan pasca banjir, termasuk menyiapkan surat resmi ditanda tangani Bupati/Wakil Bupati yang menerbitkan status siaga bencana. Mengingat dokumen itu diperlukan untuk penanganan bencana banjir bagi instansi berwenang lainnya, seperti pihak Balai Sungai,” katanya.

Sejauh ini BPBD menyampaikan kepada warga untuk mewaspadai curah hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut.

Warga yang bermukim di daerah aliran sungai, juga di bawah lereng bukit agar senantiasa waspada saat cuaca ekstrem melanda.

“Jika hujan deras terus mengguyur dalam waktu panjang, agar warga segera melakukan upaya evakuasi dini. Jangan berdiam di dalam rumah untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan,” katanya.

Mengingat pemicu banjir tidak hanya curah hujan tinggi yang menyebabkan luapan air dari daerah aliran sungai.

Namun, banjir pun disebabkan luncuran air dari wilayah perbukitan yang gundul. “Tidak ada pohon keras yang mampu menahan air menyebabkan luncuran cukup deras dari perbukitan ditambah material batu dan tanah,” katanya pula.

Ia berharap, upaya tercepat dalam penanggulangan banjir agar warga tidak membuka areal pertanian di daerah kemiringan di atas 15 derajat.

“Kondisi itu sangat beresiko menyebabkan banjir,” katanya lagi.

Pihaknya mencatat, sejumlah wilayah terdampak seperti Desa Leboto, Titidu, Posso, Moluo, Molingkapoto dan Katialada Kecamatan Kwandang terendam banjir.

Kondisi tersebut juga melanda Desa Jembatan Merah dan Milango Kecamatan Tomilito dengan ketinggian air mencapai 1 meter bahkan belasan rumah di Jembatan Merah tertutup air hingga atap.

“Penyebabnya, pintu air di daerah aliran sungai jembatan dua di Desa Jembatan Merah rusak berpapasan dengan air pasang laut menyebabkan banjir dengan ketinggian air cukup ekstrem,” ujarnya.*

sumber: https://www.antaranews.com/berita/2773761/bpbd-gorontalo-utara-tetapkan-status-siaga-bencana-banjir

Banjir di Banyuwangi Sebabkan Jembatan Ambruk dan 100 Rumah Tergenang

Merdeka.com – Jembatan penghubung antara Dusun Sumberjambe dan Sumbergeneng, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi ambruk diterjang banjir, Senin (21/3). Banjir diakibatkan oleh meluapnya sungai Karang Tambak yang dipicu hujan deras di wilayah Kecamatan Pesanggaran mulai pukul 11.00 WIB hingga 15.00 WIB.

“Salah satu jembatan ikut roboh, tapi warga masih bisa melintas karena jembatan itu bukan satu-satunya akses,” kata Camat Pesanggaran, Agus Mulyono, Senin (21/3).

Tidak hanya jembatan saja, sedikitnya 100 rumah warga yang ada di dua dusun juga ikut terendam air.

Tinggi banjir mencapai setengah meter, dan air masuk ke rumah-rumah warga. “Ada 63 KK dan kurang lebih 100 rumah. Air masuk ke rumah warga,” ujarnya.

Dalam peristiwa ini, tidak ada korban jiwa. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Forkopimca Pesanggaran masih berada di TKP sekaligus melakukan kalkulasi mengenai banjir tersebut.

“Tidak ada korban jiwa, perihal kerugian materil masih kami kalkulasi,” tandasnya.

[cob]

Gunungkidul Diminta Segera Susun Skema Penanganan Dampak Bencana

GUNUNGKIDUL, iNews.id-Pemerintah Gunungkidul diminta segera menyusun skema penanganan cepat dampak bencana, seperti angin kencang di Desa Mulusan, Kecamatan Paliyan, dan Semanu. Pemkab dinilai sangat lamban dalam menangani dampak bencana ini. “Kami merekomendasikan agar Pemkab Gunungkidul menyusun skema penanganan cepat dampak bencana, jangan sampai masyarakat terdampak bencana semakin menderita karena kurang sigapnya pemkab dalam penanganan bencana,” kata anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, Ery Agustin .

Berdasarkan pengamatannya di lapangan, petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan tim reaksi cepat (TRC), serta relawan bergerak cepat dalam pendataan, menyalurkan bantuan kedaruratan, penanganan pasca bencana. “Aksi di lapangan sudah luar biasa cepat, hanya proses di belakang mejanya yang lambat. Kami minta ada perubahan skema penanganan pasca bencana,” harapnya. BACA JUGA: Bocorkan Rahasia, Pejabat Rusia Dipecat Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Sri Suhartanta mengakui ada kendala dalam penanganan pasca bencana. menurutnya untuk mencairkan anggaran harus ada verifikasi data di lapangan dan membuat kriteria penerima bantuan dari yang ringan hingga skala berat. Seperti di Kalurahan/Desa Mulusan, Kecamatan/Kapanewon Paliyan.

Artikel ini telah tayang di yogya.inews.id dengan judul ” Gunungkidul Diminta Segera Susun Skema Penanganan Dampak Bencana “

Selengkapnya: https://yogya.inews.id

Bayang-Bayang Bencana di IKN Nusantara: Banjir hingga Karhutla

Penajam Paser Utara, CNN Indonesia — Pemerintah pusat dan DPR akhirnya bersepakat memindahkan ibu kota negara (IKN) dari Jakarta di Pulau Jawa ke Kalimantan Timur.

Berdasarkan UU 3 tahun 2022, wilayah IKN itu akan berada di wilayah yang saat ini merupakan bagian dari sejumlah kecamatan di Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara (Kukar).

Kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) atau ring 1 IKN akan berada di Kecamatan Sepaku, PPU. Sementara daerah pengembangan atau penyangga akan berada di sejumlah kecamatan baik PPU maupun Kukar. Salah satu alasan pemilihan Sepaku menjadi IKN adalah terkait minimnya catatan bencana alam.

Minim bukan berarti tidak ada. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Penajam Utara mencatat dalam tiga tahun terakhir bencana yang terjadi wilayah yang bakal masuk dalam IKN adalah banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), longsor, dan angin kencang.

Sebagai catatan, pada 2019 hingga Januari 2022 tercatat bencana banjir 15 kali di beberapa wilayah Sepaku yakni desa Suka Raja, Karang Jinawi, Binuang, Kelurahan Sepaku, dan Kelurahan Pemaluan.

Sebanyak 395 kepala keluarag (KK) terdampak banjir dan ada 1 korban tewas karena terseret arus. Korban tewas itu ada di Desa Suka Raja pada 22 Agustus 2021.

Sementara karhutla tercatat pernah terjadi di desa Bukit Raya, Sukomulyo, Maridan, Semoi Dua, Tengin Baru, serta Kelurahan Maridan dan Pemaluan dengan luas lahan terdampak total mencapai 7,5 hektare.

Longsor tercatat pernah terjadi di desa Bukit Raya pada 2019 yang menyebabkan jalan rusak di pinggir gedung SD Sepaku. Sementara Longsor pada 2021 menyebabkan jalan poros Mentawir rusak.

Angin kencang juga menghantam di kelurahan Maridan yang merusak atap sebuah bangunan dan menumbangkan pohon pada 5 Januari 2021.

Mitigasi Bencana

Sebagai salah satu bentuk mitigasi, Sekretaris Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Waluyo mengatakan selama ini pihaknya bekerjasama dengan aparat kecamatan hingga RT di Sepaku guna membentuk Desa Tangguh Bencana.

Desa tangguh bencana ini, kata Waluyo, berasal dari warga lokal yang senantiasa melaporkan dan melakukan tindakan mitigasi dan tindakan saat bencana terjadi.

“Kita membentuk desa tangguh bencana di kecamatan Sepaku yang melibatkan warga setempat. Selain dia melapor ke BPBD dia bertindak juga. Bentuknya relawan,” ujarnya.

Waluyo mengatakan mitigasi bencana BPBD Kabupaten PPU bekerjasama dengan masyarakat dan pemerintah Kecamatan hingga tingkat RT.

Terkait bencana banjir yang kerap terjadi di wilayah Sepaku, Waluyo menyebut tak berada di kawasan inti atau KIPP.

“Jauh dari titik (inti) IKN, kebanyakan yang sering banjir di desa Suka Raja dan Bukit Raya,” ujarnya.

Di Kelurahan Pemaluan, kata Waluyo juga terjadi banjir. Namun, sejauh ini tercatat memilki siklus hingga sepuluh tahun baru terjadi lagi banjir. Waluyo menjelaskan banjir yang terjadi di wilayah Sepaku itu umumnya karena pasang air laut yang bertepatan dengan curah hujan tinggi. Diketahui, sejumlah sungai yang mengalir melintasi Sepaku itu bermuara di Teluk Balikpapan.

“Banjir bersamaan dengan air laut naik. Tetapi banjir surut kembali. Bukan berarti rutin banjir setiap hujan, tidak,” katanya.

Selain itu, sambungnya, banjir-banjir yang selama ini terjadi di Kecamatan Sepaku hanya sesaat.

“Tidak sampai berhari hari. Saya tahu betul, karena saya tinggal di kecamatan itu,” ucap Waluyo.

Insert Grafis Selayang Pandang IKN

Ia menjelaskan banjir di wilayah Sepaku lebih banyak disebabkan karena sungai yang dangkal dan berbelok belok serta menyempit. Kondisi seperti itu kemudian direspons dengan normalisasi sungai.

“Saat ini BPBD bekerjasama dengan UPTPU ada pekerjaan normalisasi sungai yang dangkal dan kaitannya dengan arah laut,” ucapnya.

Salah satunya normalisasi sungai yang berlangsung di Desa Suka Raja, Sepaku, sehingga saat ini tak lagi banjir.

Berdasarkan Kecamatan Sepaku dalam Angka 2018 (BPS), di wilayah itu setidaknya melintas 18 sungai dari mulai Sungai Trunen hingga Sungai Muntayo.

Sungai juga masih menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitarnya di kecamatan Sepaku. Salah satunya untuk sumber air keperluan rumah tangga seperti yang terpantau di Kelurahan Sepaku dan Semoi.

Di sana, rumah-rumah warga masih menggunakan sungai sebagai sumber air mereka untuk keperluan mandi dan cuci. Air dari sungai itu dialirkan ke rumah atau kamar mandi mereka lewat pipa menggunakan pompa mesin.

“Untuk keperluan minum, masak, kami beli air bersih,” kata Mustafa salah satu ketua kelompok tani di Kelurahan Sepaku.

sumber: CNN Indonesia

PPP Minta Pemerintah Antisipasi Potensi Bencana di Semua Daerah

Jakarta – Ketua Lembaga Lingkungan dan Siaga Bencana (Ligana) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Iip Miftahul Choiri mengimbau pemerintah mengantisipasi potensi bencana di berbagai daerah di Nusantara seiring meningkatnya intensitas hujan. Antisipasi ini dilakukan agar bencana dapat dimitigasi dan mencegah jatuhnya korban.

“Pemerintah harus siap dan segera mewaspadai peningkatan curah hujan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti longsor maupun banjir,” ujar Iip dalam keterangan tertulis, Rabu (16/3/2022).

Anggota Komisi VIII DPR RI menekankan pemerintah pusat dan daerah harus benar-benar melakukan mitigasi bencana dan melindungi masyarakat. Terlebih, dalam Undang-undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dengan tegas mengamanahkan bahwa rakyat harus dilindungi dan diselamatkan.

“Untuk itu, kami meminta Pemda melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masing-masing bertindak secara proaktif, maksimal, dan antisipatif terhadap potensi bencana alam,” ujarnya.

Iip menyebut semua pihak memiliki posisi strategis terhadap mitigasi bencana. Misalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bisa memberikan informasi terkait prakiraan cuaca di satu wilayah untuk kemudian ditindaklanjuti oleh instansi terkait.

Karena itu, semua pihak harus bisa bekerja sama dan menjadi tim yang kuat. Iip pun meminta pemerintah meningkatkan koordinasi pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan kewaspadaan, menentukan langkah mitigasi dan penanganan.

Sehingga semua pihak harus bisa bekerja sama dan menjadi tim yang kuat. Iip juga meminta pemerintah meningkatkan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh. Hal ini untuk mengoptimalkan kewaspadaan, menentukan langkah mitigasi, dan penanganan

“Kordinasi ini kunci utama dalam menentukan suksesnya mitigasi bencana alam. Upaya ini tidak bisa dilakukan mendadak, harus kerja keras dengan pola manajemen darurat serta sudah melakukan pemetaan, mengerahkan seluruh potensi dengan melibatkan semua unsur di dalamnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Iip meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia mewaspadai terjadinya bencana alam khususnya bagi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana.Sehingga, masyarakat dapat mengevakuasi diri jika akan terjadinya bencana alam.

sumber: detik.com

495 Rumah Terendam Banjir di Sumatera Selatan

REPUBLIKA.CO.ID, BATURAJA — Sebanyak 495 rumah warga di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan terdampak banjir akibat intensitas curah hujan tinggi yang terjadi pada Ahad (13/3/2022) malam. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ogan Komering Ulu (OKU), Amzar Kristopa didampingi Manager Pusdalpos, Gunalfi di Baturaja, Senin (14/3/2022) mengatakan, akibat hujan deras dan berlangsung lama tadi malam merendam ratusan rumah penduduk di dua kecamatan meliputi Baturaja Barat dan Baturaja Timur.

“Rinciannya 88 rumah tersebar di Kecamatan Baturaja Barat dan 407 di Kecamatan Baturaja Timur,” katanya.

Beruntung, dalam musibah bencana alam tersebut tidak menimbulkan korban jiwa karena sebelum banjir datang sebagian besar warga sudah mengungsi ke tempat dataran tinggi. Hanya saja, kata dia, banjir ada yang dengan ketinggian air mencapai 178 sentimeter itu sempat mengganggu aktivitas masyarakat karena sebagian jalan utama terendam.

“Sebelum air surut para pengendara sempat kesulitan melintas khususnya di seputaran Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Baturaja Timur karena dikhawatirkan terjebak banjir,” katanya.

Terkait hal itu, pihaknya telah melakukan kaji cepat dan bersiap untuk melakukan evakuasi terhadap warga apabila kondisi debit air semakin meningkat atau terjadi banjir susulan. BPBD OKU mengerahkan personel dibantu relawan untuk melakukan patroli memantau lokasi banjir agar bencana alam dapat dicegah sedini mungkin supaya tidak menimbulkan korban jiwa. Termasuk menyiapkan peralatan penanggulangan bencana mulai dari perahu karet, pelampung hingga mesin penyedot di setiap posko agar bencana alam dapat ditanggulangi sedini mungkin.

“Untuk masyarakat kami minta tetap meningkatkan kewaspadaan karena banjir susulan dapat terjadi kapan saja. Apalagi curah hujan tinggi diprediksi masih terjadi selama beberapa hari ke depan,” ujar dia.

Banjir Rendam 6 Desa di Kebumen

Jakarta, CNN Indonesia — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak enam desa di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terendam banjir pada Senin (14/3).

Keenam desa tersebut antara lain Desa Pringtutul, Kalisari, dan Redisari di Kecamatan Rowokele, kemudian Desa Tugu di Kecamatan Buayan, serta Desa Jatijajar dan Desa Mangunweni di Kecamatan Ayah.

Banjir dilaporkan terjadi pada Senin (14/3) sekitar pukul 23.50 WIB usai hujan lebat mengguyur tiga kecamatan tersebut. Akibatnya, sungai pun meluap dan menggenangi pemukiman warga dengan tinggi muka air mencapai 30-150 sentimeter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen dengan dibantu TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, dan relawan melakukan upaya penanganan darurat. Sebanyak 8 personel BPBD dikerahkan untuk bersiaga di tiga kecamatan terdampak banjir.

Namun, akibat hujan yang masih mengguyur lokasi, proses evakuasi pun sempat terhambat.

Hingga kini pihak BPBD masih melakukan pendataan terhadap warga yang melakukan evakuasi secara mandiri maupun dengan bantuan petugas.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari pun mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk waspada dan siaga terhadap potensi banjir yang lebih buruk.

Prakiraan cuaca pada hari ini, Selasa (15/3), wilayah terdampak di tiga kecamatan masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

“Warga diharapkan dapat mengantisipasi apabila harus evakuasi atau berada di pos pengungsian, khususnya dalam penerapan protokol kesehatan,” ujar Abdul dalam keterangan resminya, Selasa (15/3).

Pakar: Gempa Nias Merupakan Subduksi Segmen Siberut

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG–Pakar gempa Universitas Andalas (Unand) Dr Badrul Mustafa Kemal menilai gempa yang terjadi di Nias Selatan merupakan subduksi segmen Siberut yang beririsan dengan segmen megathrust Mentawai. “Walaupun di segmen ini terjadi kekosongan seismik, namun berdasarkan prediksi saintifik akan terjadi gempa sebagai pelepasan energi yang terakumulasi selama lebih 200 tahun sejak 1797 pada segmen itu,” kata dia di Padang, Senin (14/3/2022).

 

Menurut dia apakah gempa tersebut jadi pembuka untuk menuju gempa yang lebih besar tidak ada yang tahu. Ia mengatakan belum ada ilmu dan alat teknologi yang dapat memprediksinya. Bisa saja energi yang terakumulasi di zona kosong segmen Siberut ini di lepas dengan kekuatan sedang yaitu 6,0 hingga 7,0 magnitudo selama 10 sampai 20 tahun ini.

“Ini tentu yang kita harapkan. Biarlah agak sering terjadi, tapi tidak terlalu kuat sehingga tidak menimbulkan kerugian,” katanya.

Namun, jika gempa tersebut merupakan gempa pendahuluan, maka masyarakat harus terus meningkatkan kesiapsiagaan. “Kita harus terus berlatih menghadapi gempa yang sangat kuat di megathrust Mentawai ini, sekaligus menghadapi kemungkinan timbulnya tsunami,” katanya.

Ia berharap semoga pemerintah bersama aktivis pengurangan risiko bencana kembali menyiapkan masyarakat untuk ini. Badrul menjelaskan di Pulau Sumatra, terdapat pergerakan lempeng Indo-Australia menabrak dan menujam ke bawah lempeng Eurasia menghasilkan rangkaian busur pulau depan atau zona prismatik akresi yang non-vulkanik, di antaranya Kepulauan Nias dan Mentawai.

Subduksi ini kemudian menghasilkan potensi gempa kuat dan sangat kuat. Di darat ia juga menghasilkan potensi gempa tektonik, di antaranya gempa Talamau di Pasaman yang baru saja terjadi dengan kekuatan M 6,1 pada 25 Februari 2022.

Subduksi yang menghasilkan megathrust Mentawai, terbagi ke dalam dua segmen, yakni segmen Siberut dan Sipora-Pagai. Pada kedua segmen ini terdapat potensi gempa sangat kuat dengan periode ulang antara sekitar 200-300 tahun.

Segmen Sipora-Pagai telah terjadi periode ulangnya setelah 1833, dengan terjadinya rangkaian gempa 12 September 2007 (M8,4), 13 September 2007 (M7,9 dan 7,2), dan 25 Oktober 2010 (M7,4). Yang terakhir pada 25 Oktober 2010 menimbulkan tsunami, karena terpenuhinya syarat terjadinya, yakni yang episentrumnya persis di patahan naik, barat daya Pagai Selatan.

Daftar Wilayah Terdampak Gempa Nias Magnitudo 6,7: Padang hingga Solok

Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah wilayah terdampak guncangan akibat gempa magnitudo 6,7 yang terjadi di wilayah Pantai Selatan Nias Selatan, Sumatera Utara, sekitar pukul 04.09 WIB, Senin (14/3).

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno menyampaikan gempa tersebut berdampak dan dirasakan di daerah Padang, Siberut, Nias Selatan, Gunungsitoli dengan skala intensitas IV MMI.

Lalu di daerah Padang Panjang, Bukittinggi, Pasaman Barat, Tuapejat, Pariaman dirasakan dengan skala intensitas III MMI. Kemudian Dhamasraya, Payakumbuh, Kerinci, Tapanuli Selatan, Pesisir Selatan, Batusangkar, Padang Pariaman, Solok dengan skala intensitas II MMI.

 “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” kata Bambang dalam keterangan tertulis.

Bambang menjelaskan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa yang terjadi itu merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik.

Menurut Bambang hingga pukul 05.10 WIB, hasil monitoring pihaknya menunjukkan 4 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar 6,0.

“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa,” katanya.

(yoa/fra)