Penting ! Mitigasi Bencana di daerah Perkotaan

Mitigasi bencana banjir di perkotaan melibatkan sejumlah strategi dan tindakan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana tersebut. Berikut adalah beberapa langkah mitigasi yang dapat diambil:

Drainase yang Efisien: Perbaikan dan pemeliharaan sistem drainase perkotaan adalah kunci dalam mengurangi risiko banjir. Sistem drainase yang baik dapat mengalirkan air hujan dengan cepat, mencegah genangan, dan mengurangi risiko banjir.

Ruang Terbuka Hijau: Meningkatkan ruang terbuka hijau di perkotaan dapat membantu menyerap air hujan dan mengurangi aliran permukaan. Taman, taman kota, dan lahan terbuka lainnya dapat berfungsi sebagai resapan air.

Zonasi Banjir dan Pemetaan Risiko: Pemetaan wilayah yang rentan terhadap banjir dan identifikasi risiko merupakan langkah awal dalam pengembangan strategi mitigasi yang efektif. Hal ini memungkinkan pihak berwenang untuk mengarahkan sumber daya mereka ke area yang paling membutuhkan.

Bangunan Tahan Banjir: Penerapan teknologi dan desain bangunan yang tahan terhadap banjir dapat membantu mengurangi kerusakan akibat banjir. Ini mencakup penggunaan material yang tahan air dan peninggian bangunan.

Pemantauan Cuaca dan Sistem Peringatan Dini: Pengembangan sistem pemantauan cuaca dan peringatan dini yang efektif dapat memberikan waktu yang lebih panjang bagi warga untuk mengambil langkah-langkah persiapan sebelum banjir terjadi.

Penataan Ruang Kota yang Bijak: Pengaturan tata ruang kota yang bijak dapat membantu mengurangi risiko banjir. Hal ini mencakup pembatasan pembangunan di daerah rawan banjir, peningkatan infrastruktur, dan peningkatan kualitas tata ruang.

Pelibatan Masyarakat: Melibatkan masyarakat dalam perencanaan mitigasi banjir sangat penting. Pengetahuan lokal dan partisipasi aktif masyarakat dapat memperkuat upaya mitigasi.

Pemeliharaan Sungai dan Daerah Aliran Sungai: Pemeliharaan sungai dan daerah aliran sungai yang baik dapat membantu mengurangi risiko banjir. Ini melibatkan pencegahan erosi sungai, pemeliharaan vegetasi, dan pengelolaan air sungai yang berkelanjutan.

Infrastruktur Penanggulangan Banjir: Pembangunan infrastruktur seperti bendungan, pintu air, dan tanggul merupakan bagian penting dari mitigasi banjir di perkotaan.

Pelatihan dan Simulasi Bencana: Melakukan pelatihan dan simulasi bencana dapat membantu meningkatkan kesiapan masyarakat, petugas pemadam kebakaran, dan pihak berwenang dalam menghadapi banjir serta merespons dengan cepat dan efektif saat terjadi bencana.

Pendekatan terpadu dan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat penting untuk mencapai mitigasi banjir yang efektif di perkotaan.

Kemensos bantu tenda hingga makanan untuk pengungsi erupsi Lewotobi

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Sosial (Kemensos) menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kemensos melalui Sentra Efata Kupang sudah hadir di tengah-tengah pengungsi dan terus memberikan bantuan,” kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Sentra Efata Kupang Tota Oceanna Zonneveld dalam keterangan, di Jakarta, Selasa.

Penyaluran bantuan terus dilakukan karena jumlah masyarakat terdampak dan jumlah pengungsi terus bertambah seiring dengan kembali erupsi Gunung Lewotobi.

Kemensos yang diwakili Sentra Efata Kupang dan Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam sudah menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji, kasur, selimut, perlengkapan keluarga, perlengkapan anak-anak, tenda gulung, tenda serbaguna, tenda keluarga portable, dan toilet portable.

Selain itu, kata dia, ada juga bantuan bahan makanan untuk dapur umum dan masker untuk pengungsi dan petugas lapangan.

Kemensos juga menyalurkan bantuan melalui Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sikka berupa makanan siap saji, perlengkapan anak-anak, kasur, velbed, selimut, terpal, tikar, pembalut, dan dua unit tenda Merah Putih.

Melalui Dinas Sosial Kabupaten Lembata, lanjutnya, Kemensos juga menyalurkan bantuan logistik berupa tenda Merah Putih, tenda serba guna, tenda portable, selimut, kasur, dan satu set dapur umum lapangan.

Sedangkan melalui Dinsos Kabupaten Flores Timur, Kemensos menyalurkan bantuan logistik berupa tenda Merah Putih, tenda portable, tenda keluarga, tenda payung, dan lima set dapur umum lapangan.

Gunung Lewotobi Laki-laki pertama kali erupsi pada Selasa (2/1/2024) dan erupsi kembali pada Minggu (7/1) serta Senin (8/1) sore pukul 17.22 WITA.

Laman Magma ESDM menyebutkan tinggi kolom abu letusan teramati mencapai 1.500 meter di atas puncak atau sekitar 3.084 meter di atas permukaan laut.

Akibat erupsi tersebut, ribuan orang mengungsi ke pos pengungsian di Kantor Camat Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur.

Saat ini Kemensos elah mendirikan posko pengungsian di depan Kantor Desa Konga, Kecamatan Titehana, yang berada pada radius 15 km dari titik erupsi.

Pada Kamis (4/1) sebanyak 1.103 orang telah mengungsi di posko tersebut dimana terdapat kelompok rentan diberikan perlakuan khusus.

Jumlah tersebut masih terus bertambah mengingat banyak warga yang masih bertahan di rumah masing-masing dan gunung api yang masih berstatus siaga.

Tota mengatakan dapur umum masih tetap berjalan selama dibutuhkan dan tetap ada petugas yang berada di lokasi hingga siaga darurat usai.

“Dapur umum tetap berjalan, tim dari Sentra Efata juga tetap ada yang berada di lapangan hingga siaga darurat selama 14 hari selesai,” kata Tota.

Gunung Ibu Erupsi Lagi, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.000 Meter ke Arah Barat

Liputan6.com, Jakarta – Gunung Ibu di Pulau Halmahera, Maluku Utara, kembali mengalami erupsi, Selasa (9/1/2024), pukul 09.41 WIT. Laporan Magma ESDM menyebutkan, tinggi kolom letusan Gunung Ibu teramati 1.000 meter di atas puncak, atau 2.325 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu erupsi Gunung Ibu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 28 mm dan durasi 65 detik.

Warga dan wisatawan yang berada di sekitar Gunung Ibu diimbau tidak beraktivitas di dalam radius 2 kilometer dan perluasan sektoral berjarak 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif Gunung Ibu.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

Erupsi Sebelumnya

Sebelumnya Gunung Ibu juga mengalami erupsi, Jumat pagi (5/1/2024) lalu. Menurut informasi yang dikutip dari Magma ESDM, kolom abu letusan mencapai 1.000 meter ke arah barat daya dan barat. 

 Petugas Pos Pengamatan Gunung Ibu Efrita Lusy Andriany Saragih mengatakan, kolom abu teramati berwarna kelabu.

“Saat laporan ini dibuat erupsi masih berlangsung,” kata Efrita.

Gunung Ibu merupakan gunung api bertipe strato volcano yang memiliki ketinggian 1.325 meter di atas permukaan laut terletak di barat laut Pulau Halmahera, Maluku Utara. Puncak gunung merupakan kawah vulkanik. Pusat kawah memiliki lebar 1 kilometer dan kedalaman 400 meter, sedangkan bagian luar memiliki lebar 1,2 kilometer.

Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, 26 Warga Nawakote Dievakuasi Tim SAR Gabungan ke Boru

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 26 warga yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi laki-laki di Desa Nawakote, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Senin, 8 Januari 2024.

Mereka dievakuasi dari Desa Nawakote  menuju tenda pengungsian di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang sementara 3 orang lainnya memilih bertahan untuk menjaga kebun mereka. 

Jarak Desa Nawakote dari Gunung Lewotobi Laki-laki sekitar 5 Km semantara arahan dari Pos PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) wajib tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 3-4 km dari pusat erupsi Gunung Lewotobi laki-laki. 

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Maumere Supriyanto Ridwan selaku SMC (SAR Mission Coordinator) menjelaskan, tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur Tim Rescue Basarnas, TNI/Polri, BPBD Flores Timur, PMI Sikka, Mapala Unipa, IMM Sikka, Tagana Dinsos Flores Timur, Dompet Duafa, MDMC Muhammadiyah, Pramuka Flores Timur, Ke Bukit Indonesia, Mapala Muhammadiyah, LMI dan relawan dari kecamatan di Flotim akan terus siaga kepada masyarakat yang membutuhkan evakuasi dan kejadian kedaruratan di daerah terdampak erupsi.

Adapun data pengungsi erupsi Gunung Lewotobi laki-laki per tanggal 08 Januari 2024 pukul 18:00 Wita dari data BPBD Kabupaten Flores Timur sebanyak 4.788 jiwa. *

Korban Erupsi Lewotobi Kekurangan Obat-obatan, Kades Diminta Laporkan ke Posko Pusat

FLORES TIMUR, KOMPAS.com – Camat Wulanggitang Fredy Moat Aeng menanggapi kekurangan obat-obatan untuk para korban erupsi gunung Lewotobi Laki-laki yang mengungsi di rumah warga di Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan data Posko Penanganan Erupsi Lewotobi Laki-laki di Desa Hewa, selama sepekan terakhir dari 551 pengungsi, ada 274 orang yang mengeluh sakit akibat terpapar debu vulkanik.

Mereka mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), alergi kulit akibat belerang, dan demam berdarah dengue (DBD). Namun hampir sepekan terakhir mereka mengalami kekurangan obat, khususnya untuk malaria.

Ferdy berujar, seharusnya pemerintah desa setempat melaporkan kondisi yang dialami para pengungsi, termasuk kekurangan obat-obatan, ke pusat posko penanganan bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Dengan begitu, masalah tersebut akan mudah ditindaklanjuti. Apalagi saat ini banyak pengungsi yang menyebar di beberapa desa.

“Semua bantuan obat yang masuk kita langsung serahkan ke puskesmas. Kalau ada yang kekurangan obat-obatan, kadesnya harus lapor ke posko pusat,” ujarnya.

Fredy juga menambahkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Penjabat Bupati Flores Timur, Doris Alexander Rihi untuk mengerahkan petugas kesehatan dari beberapa puskesmas ke posko pengungsian.

Dengan demikian, pelayanan kesehatan untuk para pengungsi bisa dilakukan lebih baik dan cepat.

“Sampai saat ini beberapa puskesmas itu sudah mengirimkan stafnya ke sini. Sekarang mereka sudah menyebar ke beberapa posko dan desa,” pungkasnya.

Berdasarkan data Posko Penanganan Erupsi Lewotobi Laki-laki, per Minggu (7/1/2024) jumlah pengungsi mencapai 4.681 jiwa.

Mereka tersebar di sejumlah posko dan desa yaitu posko Wulanggitang, Desa Boru dan Desa Boru Kedang.

Kemudian, Desa Pululera, Hewa, Watotikaile, Lamika, Tuakepa, Ile Gerong, dan Desa Tanawahang.

Lalu, Desa Konga, Ile Noheng, Waiula, Watowara, dan Desa Lewokluok.

Potret Jalan Rusak Berat Tapi Rumah di Sekitarnya Berdiri Kokoh Usai Gempa Jepang

Jakarta – 

Gempa bumi dengan kekuatan 7,6 magnitudo baru saja mengguncang Jepang pada Senin (1/1/2024). Hal ini mengakibatkan berbagai jalanan di Jepang hancur.

Seperti dilihat detikProperti dari akun X @SaudiNewsFR, Selasa (2/1/2024), jalanan di wilayah Uchinada, Ishikawa tampak retak bahkan hingga terangkat. Namun, terlihat bangunan rumah di sekitarnya masih berdiri tegak.

Namun perlu dicatat, peristiwa tersebut tidak terjadi di seluruh wilayah Jepang, karena ada beberapa area yang bangunan seperti rumah atau gedung yang mengalami kerusakan.

Bangunan rumah yang kokoh tersebut bukan tanpa alasan. Jepang memang merupakan negara yang rawan mengalami gempa bumi karena terletak di wilayah yang aktif secara seismik. Untuk mengatasi hal tersebut, Jepang mengembangkan infrastruktur bangunan yang tahan gempa.

Dalam catatan detikcom, inti dari infrastruktur tahan gempa ini terdapat 3 desain utama, yaitu:

Struktur Taishin

Struktur ini merupakan desain dasar tahan gempa yang harus diikuti oleh setiap bangunan di negara ini. Ketebalan minimal harus bisa menahan tekanan getaran tanah baik pada balok, pilar, dan dinding. Kelemahan model struktur ini adalah kerusakan struktur terhadap guncangan yang terus berulang atau adanya gempa susulan. Oleh karena itu, struktur ini hanya disarankan pada bangunan bertingkat rendah.

Struktur Seishin

Rangka bangunan pada struktur ini harus diisolasi dari dasar pondasinya dengan cara menempatkan peredam kejut, lapisan karet, atau isolator seismik di antara keduanya. Hal ini agar bangunan dapat menahan guncangan seismik. Model struktural ini opsional bagi hukum jepang, tetapi jika ingin menggunakan model ini disarankan untuk bangunan bertingkat tinggi.

Struktur Menshin

Dasar pada pondasi bangunan ini bertumpu pada timah, baja, atau lapisan karet tebal yang memungkinkan pondasi dari bangunan bergerak dan meminimalisir pergerakan gempa dari rangka atas. Metode konstruksi ini sering digunakan pada konstruksi bangunan menara tinggi serta apartemen.

struktur rumah tahan gempa
struktur rumah tahan gempa Foto: Housing Japan

Tak hanya itu, masih ada beberapa fitur yang perlu diperhatikan agar bangunan di Jepang tahan gempa. Fitur-fitur ini mampu membantu ketahanan bangunan dari kerusakan, yaitu:

Top to Toe Resilience

Metode konstruksi ini melibatkan pemasangan pada peredam blok demi blok untuk membangun kerangka dasar bangunan. Pada saat terjadi gempa bumi, peredam ini bisa bergerak maju mundur serta menahan energi dari getaran tersebut.

Pendulum Peredam Gempa

Fitur ini berupa adanya bola seperti pendulum yang bekerja ketika terjadi gempa, Metode ini diciptakan untuk membuat menara langit lebih tahan terhadap guncangan gempa bumi. Salah satu caranya adalah dengan menggantungkan sebuah bola besar bermassa tinggi dengan tali baja pada struktur di bagian atap gedung. Bola besar ini akan bergerak seperti pendulum dan berayun ke arah berlawanan melawan gempa untuk membantu membuat bangunan stabil.

Pelindung Seismik

Pelindung ini bentuknya seperti jubah yang bisa menyelamatkan struktur gempa. Getaran gempa ini merambat ke daratan seperti gelombang dan membuat bangunan terguncang. Fungsi dari pelindung ini mencegah pergerakan tersebut dengan cara pemasangan 100 cincin di atas pondasi bangunan dan membuat gelombang gempa tidak terlihat.

Struktur Baja Ringan dan Modular

Struktur baja ringan dan modular ini dipandang sebagai masa depan sektor konstruksi berdasarkan banyaknya faktor struktur ini juga mempengaruhi pengurangan emisi gas rumah kaca, daur ulang, mengedepankan keberlanjutan, produksi massal, dan tahan gempa.

Sementara itu, mengutip dari Housing Japan, bangunan di Jepang juga dilengkapi dengan sistem peringatan dini yang dapat mendeteksi gempa bumi dan mematikan gas dan listrik secara otomatis untuk mencegah terjadinya kebakaran. Selain itu, banyak juga bangunan yang memiliki sistem pemadam kebakaran kebakaran otomatis dan penerangan darurat untuk menjamin keselamatan penghuni saat gempa terjadi.

Jepang juga memiliki aturan gedung yang ketat dan sistem inspeksi yang memastikan bahwa bangunan dibangun tahan gempa bumi dan bencana alam lainnya. Selain itu, seluruh bangunan di Jepang juga wajib menjalani pemeriksaan keselamatan secara rutin setiap 10 tahun sekali untuk memastikan tetap tahan gempa dan aman untuk dihuni.

Peraturan-peraturan tersebut tak hanya berlaku untuk gedung baru, tetapi juga pada bangunan lama yang telah dibangun sebelum peraturan tersebut diterapkan. Maka dari itu, walaupun sebuah bangunan sudah berusia lebih dari 10 tahun, jika telah menjalani pemeriksaan dan renovasi yang diperlukan, bangunan akan dianggap aman untuk dihuni.

Korban tewas gempa di Jepang capai 100 orang, 211 belum ditemukan

Tokyo (ANTARA) – Korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang melanda Semenanjung Noto dan daerah sekitarnya di Jepang tengah pada Hari Tahun Baru mencapai 100 orang,  Sabtu, dengan lebih dari 200 orang masih belum ditemukan, menurut otoritas lokal pada Sabtu.

Gempa berkekuatan 7,6 skala Richter tersebut menyebabkan kerusakan struktural yang luas dan kebakaran di Prefektur Ishikawa di pesisir Laut Jepang, dan pejabat kota di Wajima, salah satu daerah yang terkena dampak paling parah, yakin ada sekitar 100 lokasi di mana orang-orang masih terjebak di bawah bangunan yang hancur dan menunggu untuk diselamatkan.

Hingga Sabtu pagi, 211 orang masih belum ditemukan di prefektur tersebut saat tim penyelamat secepatnya menyelamatkan orang-orang dari reruntuhan, dengan hujan diperkirakan akan turun hingga Minggu diikuti oleh salju di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan kepada para pejabat dari kementerian dan lembaga terkait dalam sebuah pertemuan markas tanggap bencana di kantornya untuk “dengan gigih dan menyeluruh melakukan operasi penyelamatan untuk menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin.”

PIhak berwenang masih kesulitan mengirimkan pasokan bantuan akibat kerusakan jalan di Ishikawa akibat gempa, di mana lebih dari 31 ribu orang masih dievakuasi di 357 tempat penampungan.

Beberapa tempat penampungan memiliki akses yang terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali terhadap air mengalir untuk menyiram toilet, sehingga menyebabkan masalah kebersihan dan kesehatan mental.

Pemerintah prefektur Ishikawa berencana membangun rumah sementara bagi warga yang terdampak gempa, namun pembangunan tersebut baru akan dimulai Jumat.

Gempa susulan terus mengguncang wilayah Noto, termasuk gempa berkekuatan 5,3 yang tercatat di atas lima pada skala intensitas seismik Jepang tujuh pada Sabtu pagi.

Sumber: Kyodo-OANA

Khawatir Bencana Susulan, Warga Jepang Ogah Balik ke Rumah dan PilihTidur di Mobil

Jakarta – Kendati Jepang dikenal dengan bangunan tahan gempa-nya, namun sebagian penduduk masih trauma dan enggan kembali ke rumah mereka setelah gempa yang mengguncang negeri matahari terbit itu.

Alih-alih tinggal di rumah mereka, banyak di antaranya yang malah memilih tidur di dalam mobil mereka.

Ini seperti yang dilakoni Ayuko Noto, pendeta di kuil Juzo Wajima. Sebuah yang sejarahnya sudah ada sejak 1.300 tahun yang lalu.

Mengutip Reuters, Minggu (7/1/2024), Noto juga memilih untuk tidur di mobilnya bersama anggota keluarganya, meski rumah mereka tahan gempa. Dengan cara ini mereka berharap dapat melindungi diri mereka dari gempa besar lebih lanjut dan kemungkinan gelombang tsunami.

“Gempa susulan masih terus terjadi,” kata pria 47 tahun itu dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Reuters.

“Kami memilih mobil daripada rumah agar kami dapat segera mengungsi jika terjadi gempa besar lagi,” sambung dia.

Berapa lama mereka akan terus melakukan hal itu?

“Saya tidak punya jawaban untuk itu,” aku dia.

Noto dan keluarganya hanya segelintir orang yang enggan kembali ke rumah mereka setelah gempa dahsyat mengguncang Jepang awal tahun ini. Bahkan, banyak di antara mereka juga ogah tinggal di pusat evakuasi bersama korban gempa lainnya.

Meskipun para pengungsi telah memadati pusat evakuasi di Wajima untuk mendapatkan makanan, air dan kebutuhan pokok lainnya, beberapa dari mereka ada yang memilih untuk tidur di dalam mobil mereka.

Yutaka Obayashi 75 tahun, dan istrinya Akiko 73 tahun kehilangan rumah kayu dalam bencana hebat kemarin. Namun setelah bermalam di tempat evakuasi darurat di pusat komunitas, mereka memutuskan untuk pulang dan tidur di mobil kecil mereka.

“Mata orang-orang membuatku sangat gugup,” kata Obayashi kepada Reuters, saat istrinya beristirahat di kursi bersandar di mobil mereka.
“Aku hanya tidak suka hidup dengan banyak orang di sekitarku,” sambungnya.

Pejabat cuaca memperingatkan kemungkinan hujan salju lebat di wilayah tersebut mulai Minggu malam hingga Senin pagi, yang dapat memicu bencana susulan, seperti tanah longsor.

Gemuruh seismik terus berlanjut, dengan gempa berintensitas 5 skala seismik Jepang di kota Anamizu pada Sabtu pagi.

Amukan Longsor di Subang yang Telan Korban

Bandung – Minggu (7/1/2024) sore itu, suasana perkampungan warga di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Kasomalang, Subang tiba-tiba berubah mencekam. Bencana longsor datang tanpa diduga-duga yang akhirnya dilaporkan menimbulkan korban jiwa.

Berdasarkan informasi, longsor terjadi di sekitar mata air Cipondok, Subang. Bencana alam mengerikan ini dilaporkan menerjang sekira pukul 17.45 WIB.

Dari laporan awal yang diterima, 2 warga meninggal dunia akibat insiden tersebut. Tim rescue pun dikerahkan karena ada warga yang dilaporkan hilang setelah longsor menerjang Subang.

“Petugas Damkar Subang bersama dengan BPBD dan petugas yang lain kami kerahkan semuanya saat ini ke lokasi kejadian,” kata Kabid Damkar Subang, Dede Rosmayadi saat dikonfirmasi.

Informasi korban jiwa yang tewas dalam insiden ini turut dibenarkan Kepala Puskesmas Kasomalang Andri Suratman. Ia mengatakan, pihaknya telah menerima 3 pasien korban dari bencana longsor, yang satu di antaranya meninggal dunia.

“Betul, kami telah menerima pasien korban longsor Cipondok. Ada tiga pasien yang dibawa ke UGD Kasomalang, dari tiga pasien itu satu orang meninggal dunia, dan dua pasien lainnya mengalami luka ringan,” ujar Andri saat dihubungi detikJabar.

Menurut Andri, korban tewas tersebut bernama Oom (50), warga dari sekitar terjadinya longsor. “Korban meninggal dunia di lokasi longsor. Sementara dua pasien lainnya berhasil selamat,” katanya.

Andri menuturkan, korban akibat bencana longsor tidak hanya dibawa ke Puskesmas Kasomalang. Ada juga yang dibawa ke Puskesmas Cisalak.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Subang Udin Jazudin menyebut, sejauh ini ada dua warga yang dilaporkan meninggal dunia. “Ada korban jiwa, dua orang meninggal dunia, lain luka-luka,” ujar Udin.

Rencananya, proses pencarian korban akan dilanjutkan esok hari, Senin (8/1/2024). Kondisi lokasi kejadian yang terkena longsor tidak memungkinkan dijangkau petugas karena kurangnya penerangan.

“Pencarian dihentikan sementara mengingat waktu sudah malam,” ujarnya.

Camat Kasomalang Tatang Saepulloh mengatakan, pihaknya mencatat sebanyak 300 warga Kampung Cipondok yang terdampak bencana longsor ini. Dari ratusan warga tersebut, 60 warga di antaranya sudah mengungsi karena khawatir terjadinya longsor susulan.

“Sementara 300 orang warga Cipondok akan diungsikan ke Majlis Ta’lim Bantar Panjang. Sekarang yang sudah masuk di lokasi pengungsian kurang lebih ada 60 orang,” ujar Tatang kepada detikJabar, Minggu (7/1/2024).

Dari informasi sementara yang diperoleh pihaknya, diduga masih terdapat korban yang masih tertimbun dan masih belum diketemukan. “Menurut informasi masih ada korban yang belum ditemukan. 11 orang luka-luka dirawat di Puskesmas Kasomalang dan Cisalak,” katanya.

(ral/sud)

Teknologi Mitigasi Gempa Jepang

Gempa yang terjadi pada awal tahun 2024 di Jepang, tak menyebabkan korban jiwa yang banyak. Padahal gempa itu bermagnitudo 7,6.

Jepang diguncang gempa besar, magnitudo 7,6 pada Senin (1/1) waktu setempat. Pusat gempa di dekat Noto, Prefektur Ishikawa, sekitar 300 kilometer dari Tokyo. Gempa itu sempat memicu peringatan tsunami. Di beberapa tempat, muncul gelombang setinggi satu meter.

Merujuk situs Earthquake List, tahun 2023 Jepang menempati urutan kelima negara dengan jumlah gempa bumi terbanyak, yakni 879 kejadian, di bawah Indonesia (2.205), Meksiko (1.833), Filipina (1.336), dan Chili (924). Jepang adalah negara paling rentan terhadap gempa bumi karena terletak di wilayah cincin api Pasifik.

Dilaporkan the Asahi Shimbun, hingga Kamis (4/1) ada 73 orang tewas di Jepang bagian barat dan 15 lainnya dinyatakan hilang. Rumah-rumah dan fasilitas publik memang ada yang rusak, tetapi dengan magnitudo 7,6 korban jiwa terbilang sedikit.

Sejarah mencatat, Jepang beberapa kali diguncang gempa besar. Misalnya, gempa Kanto pada 1923, yang menghancurkan Tokyo dah Yokohama. Gempa tersebut dikenang sebagai gempa paling dahsyat, yang menewaskan lebih dari 140.000 orang. Pada Maret 2011, Jepang pernah pula diguncang gempa besar magnitudo 9,0. Saat itu, gempa memicu tsunami besar, terutama di Prefektur Iwate, Miyagi, dan Fukushima. Setidaknya, 18.000-an orang tewas atau hilang.

“Gempa Tohoku 2011 mendorong banyak perusahaan untuk memperketat langkah-langkah penanggulangan gempa,” kata ahli manajemen risiko di Universitas Keio Tokyo, Atsuomi Obayashi kepada Nikkei Asia.

Salah satu teknologi mitigasi gempa yang dibangun Jepang adalah sistem peringatan. Dikutip dari the Mainichi, sistem peringatan sebelum guncangan kuat dari gempa diluncurkan pada 2007.

Japan Meteorological Agency (JMA) atau Badan Meteorologi Jepang lantas menggunakan sistem ini untuk mengeluarkan peringatan lewat televisi dan perangkat seluler kepada warga yang ada di daerah dengan kemungkinan akan terdaftar 4 atau lebih tinggi pada skala intensitas seismik maksimum (5-7 poin).

Jaringan pengamatan seismometer lalu disebar ke laut. Sistem ini bisa mendeteksi gempa tipe palung lebih awal daripada seismometer darat. JMA secara bertahap juga menggunakan teknologi dense ocean floor network system for earthquake and tsunami (DONET) dan S-net dalam sistem peringatan dini antara tahun 2015 dan 2020.

“Secara teoritis, S-net memungkinkan mengeluarkan peringatan dengan lebih cepat sekitar 30 detik dari sebelumnya, sedangkan DONET mempercepat proses tersebut sekitar 10 detik,” tulis the Mainichi.

Kemudian, pada 2016, JMA memperkenalkan metode iterative proportional fitting (IPF), yang memungkinkan beberapa titik data diproses secara bersamaan. Teknik ini memperbaiki ketidakakuratan ketika mengestimasi lokasi hiposenter dan magnitudo.

Tahun 2018, JMA pun memperkenalkan metode propagation of local undamped motion (PLUM), yang memungkinakan untuk memprediksi intensitas seismik dalam radius 30 kilometer dari setiap seismometer, berdasarkan rekamannya.

Di Kota Choshi, Prefektur Chiba, dilansir dari Prevention Web, dibangun menara evakuasi tsunami. Diterbitkan pula rencana dengan tujuan baru selama 10 tahun untuk mengurangi jumlah kematian akibat gempa besar di Palung Kuril sebesar 80%.

“Pentingnya komunikasi kunci untuk meminimalkan korban jiwa akibat tsunami adalah evakuasi ke tempat yang lebih tinggi segera setelah gempa bumi,” tulis Prevention Web.

“Ketika gempa bumi terjadi, pemerintah setempat sering menggunakan sistem radio pencegahan bencana untuk menyampaikan informasi evakuasi.”

Kota Sendai di Prefektur Miyagi adalah satu dari 108 area yang berisiko terdampak tsunami. Kota ini sudah berinvestasi dalam sistem pengumuman darurat menggunakan drone otomatis untuk memerintahkan orang mengungsi saat peringatan tsunami dikeluarkan. Pada Oktober 2022, sistem baru ini mulai beroperasi.

“Sistem inovatif ini direalisasikan melalui kemitraan antara pemerintah kota dan empat perusahaan: Nokia, Hitachi, Blue Innovation, dan Andex,” tulis Prevention Web.

Sistem drone memakai jaringan komunikasi nirkabel. Kamera inframerah yang terpasang di drone bisa mengambil gambar korban bencana dan objek lain, lalu mengirimkannya ke markas tanggap bencana kota. Hal ini memungkinkan untuk memantau kerusakan di daerah terpencil secara real-time.

Yang juga cukup penting, demi meminimalisir korban jiwa, Jepang membangun bangunan tahan gempa. Ikon gedung tahan gempa yang dibangun di Tokyo pada 2012 adalah Tokyo Sky Tree, setinggi 634 meter. Melansir Direct Industry, gedung tersebut merupakan salah satu bangunan paling tahan gempa di Tokyo.

“Selain pondasi yang sangat kuat dan pegas penahan gempa di dasarnya, desainnya menggunakan sistem kolom pusat yang unik, yang mengurangi getaran seismik sekitar 50%, serta dua sistem pegas pengurang massa yang dipasang di bagian atas,” tulis Direct Industry.

“Ketika terjadi gempa bumi, sistem ini bergerak tidak searah dengan struktur bangunan untuk menjaga pusat gravitasi segaris dengan dasar.”

Ada pula Toranomon Hills Mori Tower setinggi 247 meter di Roppongi, Tokyo. Bangunan 54 lantai ini, disebut Euronews, merupakan apartemen mewah, toko-toko, dan kantor beberapa merek terkenal, yang dibangun dengan sistem antigetaran seismik mutakhir untuk mengendalikan guncangan selama gempa.

“Gempa bumi membuat kami menyadari bahwa kami harus mengambil tindakan untuk membuat orang di dalam gedung merasa aman dan nyaman,” ujar kepala departemen rekayasa struktural perusahaan kontraktor Kajima, Haruhiko Kurino kepada Nikkei Asia.

Kajima adalah salah satu kontraktor terbesar di Jepang, yang banyak membangun gedung tahan gempa. Menurut Nikkei Asia, gedung pencakar langit cenderung bergoyang saat gempa bumi terjadi. Namun, memang dirancang seperti itu.

“Gedung pencakar langit modern dibangun fleksibel, menyerap energi seismik gempa bumi daripada menolaknya,” tulis Nikkei Asia.

Selain Kajiman, perusahaan kontraktor lainnya, yakni Shimizu, mengembangkan jenis langit-langit tahan gempa, setahun setelah gempa 2011. Lalu, Mori Building, salah satu pengembang komersial terbesar di Jepang, mengembangkan teknologi bangunan tahan gempa, sejak gempa Kobe tahun 1995. Pada 2003, kompleks perkantoran Roppongi Hills di Tokyo, yang menjadi landmark perusahaan Mori, dilengkapi pipa baja dan teknologi penyerap gerakan yang disebut peredam oli. Saat terjadi gempa 2011, gedung itu tak mengalami kerusakan berarti.

“Pekerjaan ini merupakan tanda Jepang, negara dengan seismik paling aktif di bumi, setiap gempa besar dan merusak memicu kemajuan dalam teknologi yang digunakan untuk menghadapinya—dan memberikan peluang bagi bisnis inovatif untuk menyebarkan pengetahuan di dalam dan luar negeri,” tulis Nikkei Asia.

sumber: https://www.alinea.id/gaya-hidup/ketika-jepang-membangun-teknologi-mitigasi-gempa-b2kzZ9PzN