Petugas SAR Terus Cari Penyintas Gempa di Jepang, Korban Jadi 78

Para petugas penyelamat di Jepang pada Kamis (4/1) terus berupaya mencari orang-orang yang belum ditemukan setelah gempa kuat pada Senin (1/1) di pesisir barat negara itu.

PM Fumio Kishida mengatakan jumlah tentara yang ditugaskan untuk upaya penyelamatan itu ditingkatkan dari sekitar 1.000 menjadi 4.600.

Gempa itu menewaskan sedikitnya 78 orang dan mencederai lebih dari 330. Hingga Kamis, 51 orang tercatat belum ditemukan.

“Ini berpacu dengan waktu, dan saya merasa kita berada pada momen genting,” kata Kishida kepada para wartawan pada Rabu (3/1).

“Kami telah menerima laporan banyak orang masih menunggu penyelamatan di bawah reruntuhan bangunan,” lanjutnya.

Gempa itu menghancurkan jalan-jalan dan meretakkan sebuah landasan pacu di sedikitnya satu bandara regional, mempersulit para petugas untuk menilai kerusakan yang terjadi.

Kerusakan terparah terjadi di Ishikawa, di kota pelabuhan Wajima. Para petugas bekerja berjam-jam pada Senin malam untuk memadamkan kebakaran hebat yang menghancurkan banyak bangunan.

Di antara korban tewas, 44 orang ditemukan di Wajima.

Gempa itu memicu tsunami setinggi lebih dari satu meter yang melanda wilayah tersebut, menyapu mobil-mobil dan rumah-rumah ke laut dan menenggelamkan sejumlah perahu nelayan. Hampir 33 ribu warga yang mengungsi sebelum tsunami berlindung di pusat-pusat evakuasi yang penuh sesak. [uh/ka]

Sumedang 10 Kali Diguncang Gempa Terdata 1.325 Bangunan Rusak

POSKO -Data terbaru yang dikumpukan Pemkab Sumedang, dampak gempa bumi  yang menguncang Sumedang telah merusak 1.325 bangunan di 12 kecamatan.  “Data terkahir ada 12 kecanatan yang terdampak. Berdasarkan laporan dari warga, RT/ RW, desa, kecamatan dan Forkopimcam jumlah kerusakan ada 1.325 bangunan  di 12 kecamatan. Sebanyak 1.019  rusak ringan, 176  rusak sedang dan 130  rusak berat. Data ini terus diverifikasi,” kata  Pj. Bupati Sumedang Herman Suryatman saat siaran pers di Posko Utama Alun-alun Sumedang, Kamis (4/1/2024).

Untuk korban manusia, 10 orang mengalami luka-luka dan tidak ada korban meninggal atau hilang. Sampai hari keempat ini tercatat ada ebanyak 1.603 jiwa mengungsi di 10 titik pengungsian. “Ada yang mengungsi siang malam dan juga yang mengungsi saat malam. Mereka mengungsi karena takut terjadi  gempa susulan. Namun beberap diantaranya sudah berangsur pulang ke rumah,” katanya

Informasi dari BMKG, gempa bumi dengan pusat gempa di Kabupaten Sumedang sudah terjadi 10 kali sampai dengan hari keempat dengan magnitudo menurun. “Puncaknya pada malam tahun baru dengan kekuatan M 4,8 yang memantik kerusakan di beberapa tempat. Dalam satu dua hari ini magnitudo gempa mulai menurun yaknu dikisaran 2 dan ke dalamannya lebih dalam dari sebelumnya,” katanya.

Herman menghimbau  warga masyarakat tenang tetapi p waspada, apalagi sekarang musim penghujan karena Sumedang rawan juga potensi longsor dan banjir. Jangan sampai ada hal yang tidak kita inginkan, untuk itu kami mendorong secara terus menerus dengan literasi dan edukasi kebencanaan ke berbagai lapisan masyarakat,” katanya.

Menurutnya, target Pemda Sumedang dalam masa tanggap darurat yakni menjamin keselamatan dan pelayanan warga masyarakat. “Selain itu terkait dengan pendataan, ini harus optimal sehingga pada saat tanggap darurat nanti berakhir  akan masuk di masa ditransisi dan lanjut rehabilitasi dan rekontruksi. Mudah-mudahan secepatnya bisa pulih dan masyarakat bisa beraktifitas sebagaimana biasanya,” katanya. [*]

sumber: https://sumedangkab.go.id/berita/detail/sumedang-10-kali-diguncang-gempa-terdata-1-325-bangunan-rusak

Titik Banjir Pagi Ini: 21 RT di Jakarta Masih Terendam Banjir

Jakarta – BPBD DKI Jakarta memperbarui data titik genangan yang ada di wilayah Jakarta. BPBD mencatat saat ini ada 21 RT yang masih terendam banjir karena intensitas hujan kemarin.

“BPBD mencatat genangan yang sebelumnya terjadi di 27 RT dan 2 Ruas Jalan, saat ini menjadi 21 RT atau 0.068% dari 30.772 RT dan 2 ruas jalan tergenang,” bunyi keterangan BPBD DKI yang diterima, Jumat (5/1/2024).

Jakarta Barat terdapat 6 RT yang terdiri dari:

– Kelurahan Rawa Buaya
Jumlah: 2 RT
Ketinggian: 30 cm
Penyebab: Curah Hujan Tinggi Dan Luapan Alirah PHB Mookevart

– Kelurahan Kamal
Jumlah: 2 RT
Ketinggian: 30 cm
Penyebab: Curah hujan tinggi

– Kelurahan Tegal Alur
Jumlah: 2 RT
Ketinggian: 20 s.d 30 cm
Penyebab: Curah hujan tinggi
Pengungsi: 26 Jiwa
Lokasi Pengungsi: RPTRA Anggrek 04

Jakarta Selatan terdapat 2 RT yang terdiri dari:

– Kelurahan Rawajati
Jumlah: 2 RT
Ketinggian: 30 cm
Penyebab: Curah hujan tinggi

Jakarta Timur terdapat 13 RT yang terdiri dari:

– Kelurahan Cililitan
Jumlah: 1 RT
Ketinggian: 70 cm
Penyebab: Curah Hujan Tinggi Dan Luapan Kali Ciliwung

– Kelurahan Cawang
Jumlah: 5 RT
Ketinggian: 30 cm
Penyebab: Curah hujan tinggi & Luapan Kali Ciliwung

– Kelurahan Bidara Cina
Jumlah: 3 RT
Ketinggian: 35 s.d 60 cm
Penyebab: Curah hujan tinggi & Luapan Kali Ciliwung

– Kelurahan Kampung Melayu
Jumlah: 4 RT
Ketinggian: 80 cm
Penyebab: Curah hujan tinggi & Luapan Kali Ciliwung

Sementara itu, jalan tergenang terdapat di 2 ruas jalan yakni Jalan Prepedan Rt 003/011, Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat dengan ketinggian 20 cm. Titik kedua di Jalan Mangga, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara dengan ketinggian 10 cm

Sedangkan wilayah yang sudah surut adalah sebagai berikut:
1. Kelurahan Petogogan: 30 RT
2. Kelurahan Kalibata: 2 RT
3. Kelurahan Cilandak Timur: 2 RT
4. Kelurahan Jatipadang: 1 RT
5. Kelurahan Pejaten Barat: 2 RT
6. Kelurahan Kebon Pala: 1 RT
7. Kelurahan Pela Mampang: 11 RT
8. Kelurahan Duren Tiga: 2 RT
9. Kelurahan Kuningan Barat: 8 RT10. Kelurahan Pegadungan: 1 RT
11. Kelurahan Pejaten Timur: 4 RT

Jalan Tergenang yang sudah surut adalah sebagai berikut:
1. Jl. Taman Kemang, Kel. Bangka, Kec. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
2. Jl. Empang 3 Rt 01/01, Kel. Pejaten Timur, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan
3. Jl. AUP (Depan Bank BNI Pasar Minggu), Kel. Pasar Minggu, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan
4. Jl. Bank Raya, Kel. Pela Mampang, Kec. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
5. Jl. Pinang Ranti II, Kel. Pinang Ranti, Kec. Makasar, Jakarta Timur
6. Jl. Perjuangan Ceger, Kel. Ceger, Kec. Cipayung, Jakarta Timur
7. Jl. Pelita No.5, Kel. Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Jakarta Timur
8. Jl. Pusdiklat Depnaker, Kel. Makasar, Kec. Makasar, Jakarta Timur
9. Jl. TMII 1, Kel. Pinang Ranti, Kec. Makasar, Jakarta Timur
10. Jl. Madrasah RW 001 , Kel. Batu Ampar, Kec. Kramat Jati, Jakarta Timur
11. Jl. Komodor Halim, Kel. kebon Pala, Kec. Makasar, Jakarta Timur
12. Jl. Gang 8, Kel. Tugu, Kec. Koja
13. Jl. Bhayangkara Koja Tretmall, Kel. Tugu, Kec. Koja
14. Jl. Keramat Jaya Raya, Kel. Tugu, Kec. Koja
15. Jl. Kemang Utara IX, Kel. Duren Tiga, Kec. Pancoran, Jakarta Selatan
16. Jl. Pelabuhan Nizam Zachman, Kel. Penjaringan, Kec. Penjaringan
17. Jl. Kamal Raya, Kel. Tegal Alur, Kec. Kalideres, Jakarta Barat

BPBD DKI Jakarta mengatakan hingga saat ini masih mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengkoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat. Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat.

Gempa M5,9 Guncang Bayah Banten, Enam Rumah Rusak

LEBAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mencatat kerusakan akibat gempa bumi 5,9 magnitudo Bayah-Banten mengalami peningkatan.

Update pukul 10.00 WIB kerusakan yang terdata berjumlah tiga rumah. Namun, tepat pukul 13.00 WIB terdapat tiga rumah lainnya yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.

Kepala BPBD Lebak, Febby Rizki Pratama mengatakan, keenam rumah yang terdampak gempa itu tersebar di empat Kecamatan yakni Lebakgedong, Cirinten, Malingping dan Cijaku.

“Lebakgedong 1 rumah, Malingping 3 rumah, Cirinten 1 dan Cijaku 1. Semuanya rusak ringan,”kata Febby, Rabu, 3 Januari 2024.

Kata dia, kerusakan didominasi oleh retak dinding bahkan roboh dan atap ambruk sebagian.

“Tim relawan tangguh sudah di masing-masing lokasi untuk melakukan evakuasi hingga distribusi bantuan kedaruratan,”kata dia.

Lebih jauh Febby menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan penelusuran mengenai dampak yang ditimbulkan akibat gempa bumi Bayah-Banten.

“Gempa yang dirasak 1-3 detik, tidak ada korban jiwa. Saat ini kita masih telusuri, nanti pukul 16.00 WIB kita update lagi,”tandasnya.

Pakar ITB Soal Gempa Sumedang: Waspadai Gempa Bumi yang Kekuatannya Tidak Terlalu Besar, Namun Tetap Berdampak Signifikan

BANDUNG, itb.ac.id – Gempa bumi dengan kekuatan 4,8 Magnitudo mengguncang Sumedang dan sekitarnya pada Minggu (31/12/2023) malam. Bahkan, guncangan pun terasa hingga Bandung, Subang, Garut, Cirebon, dan beberapa kawasan lainnya di Jawa Barat.

Berdasarkan informasi resmi dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyatakan lokasi gempa berada di koordinat 6.85 derajat Lintang Selatan (LS) dan 107.94 derajat Bujur Timur (BT). Gempa ini memiliki kedalaman 5 kilometer. Sementara itu, pusat gempa berada di 2 kilometer Timur Laut, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

BMKG pun mencatat gempa sudah empat kali mengguncang wilayah Sumedang mulai 31 Desember 2023 hingga 1 Januari 2024.

Gempa pertama terjadi pada pukul 14.35 WIB dengan kekuatan M 4,1 serta kedalaman 7 kilometer. Pusat gempa berada di 1 kilometer Timur Laut Kabupaten Sumedang.

Kemudian gempa kedua terjadi saat 15.38 WIB dengan kekuatan M 3,4 serta kedalaman 6 kilometer. Sedangkan pusat gempanya berada di 1 kilometer Timur Laut Kabupaten Sumedang.

Lalu gempa ketiga dengan kekuatan M 4,8 terjadi pada pukul 20.34 WIB.

Gempa susulan pun kembali terjadi di Kabupaten Sumedang Senin (1/1/2024) pada pukul 20.46 WIB dengan kekuatan M 4,5 serta kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa berada 4 kilometer sebelah Utara Kabupaten Sumedang.

Diketahui akibat rentetan gempa bumi yang terjadi itu, ratusan bangunan di Kabupaten Sumedang mengalami kerusakan. Pj Bupati Sumedang, Herman Suryatman menyebut sekitar 138 unit rumah rusak ringan dan 100 unit rumah rusak berat. Bahkan, RSUD Sumedang pun menjadi salah satu bangunan yang terdampak gempa. Sehingga ratusan pasien harus dievakuasi.

Berdasarkan keterangan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Badan Geologi (PVMBG), gempa bumi tersebut diperkirakan terjadi karena adanya aktivitas Sesar Cileunyi-Tanjungsari.

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., turut membenarkan keterangan dari PVMBG. Menurutnya ada kemungkinan pemicu gempa karena adanya pergerakan sesar aktif tersebut.

“Saya setuju dengan apa yang telah disampaikan oleh Badan Geologi. Kemungkinan ada sumber gempa di sana, yakni aktivitas dari Sesar Cileunyi-Tanjungsari. Namun, masih perlu dicari untuk detailnya. Baik parameter sumber gempanya, panjangnya, tingkat aktivitasnya, maksimum magnitudonya, serta lain sebagainya,” katanya saat dihubungi Senin (1/1/2024).

Di Indonesia sendiri terdapat berbagai lembaga yang tergabung dalam Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), ITB pun termasuk salah satu di antaranya. Beliau menyatakan, ITB bersama beberapa lembaga terkait lainnya, akan bersama-sama mencari parameter dari sumber-sumber gempa baru, untuk mengidentifikasi lebih detail mengenai gempa yang terjadi di Sumedang.

“Belajar dari gempa yang terjadi di Sumedang, kami akan mencari parameter yang lebih detail. Kemungkinan nanti akan dimasukkan ke dalam sumber-sumber gempa baru yang terjadi di Indonesia,” tuturnya.

Selain itu, hal lain yang menurutnya menjadi perhatian adalah kekuatan gempa yang tidak terlalu besar, namun dapat menimbulkan dampak kerusakan yang signifikan.

“Terdapat tiga hal yang menjadi concern, pertama adalah ternyata ada sumber gempa yang tidak terlalu besar dari Magnitudo-nya, namun ternyata cukup dangkal kedalamannya. Kedua bagaimana karakteristik lapisan tanah di Jawa Barat yang mempunyai berbagai produk vulkanik, sehingga dapat meningkatkan guncangan gempa,” ungkapnya

“Hal inilah yang membuat gempa dengan kekuatan yang kecil tapi guncangannya terasa keras di permukaan,” lanjutnya.

Kemudian yang ketiga adalah kondisi geografis wilayah di Sumedang dan sekitarnya yang memiliki banyak penduduk dan telah dipadati bangunan, sehingga dapat berpotensi menimbulkan banyak kerusakan saat terjadi bencana.

Maka dari itu, beliau pun meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana gempa yang walaupun kekuatannya tidak terlalu besar, namun tetap dapat menimbulkan dampak kerusakan.

“Hal inilah yang perlu menjadi pembelajaran, khususnya bagi masyarakat di Jawa Barat. Sebab, kita juga pernah ada kejadian yang mirip, yakni gempa Cianjur pada November tahun lalu. Meski kekuatannya berbeda, tapi tetap memberikan kerusakan yang signifikan,” tandasnya.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih meningkatkan kesiapsiagaan serta kewaspadaan terhadap gempa bumi susulan maupun potensi bencana lainnya. Jangan lupa juga untuk tetap mengikuti petunjuk dari pemerintah, instansi, serta otoritas setempat mengenai informasi terkini bencana. Tetaplah tenang dan hindari kepanikan, agar dapat berpikir dengan lebih jernih guna mengambil langkah-langkah yang selanjutnya diperlukan.

Gempa Magnitudo di Jepang Menewaskan 30 Orang

RADAR JOGJA – Gempa dengan magnitudo 7,6 M yang melanda Jepang, pada 1 Januari 2024 menewaskan sedikitnya 30 orang tewas. Gempa bumi dengan kekuatan 7,6 Magnitudo yang mengguncang Jepang pada Senin lalu pukul 16.10 sore waktu setempat di Prefektur Ishika kota Shika.

Kawasan ini sebelumnya sudah pernah diguncang gempa dengan kekuatan 5,4 magnitudo pada Juni 2022 dan gempa demnghan kekuatan 6,5 magnitudo pada mei 2023 lalu.

Setelah terjadinya gempa dengan magnitude 7,6 yang mengguncang kota Shika dan Semenanjung Noto dan sekitarnya mengalami gempa susulan dengan kekuatan 5 magnitudo.

Gempa tersebut diakibatkan oleh pergeseran patahan yang membentang sekitar 150 kilometer di bawah Semenanjung Noto

Para pakar memperingatkan bahwa gempa dengan intensitas yang sama memungkinkan terjadi pada pekan depan terutama beberapa hari kedepan.

Selain itu 100 rumah lebih dan beberapa ruko mengalami kebakaran setelah terjadinya gempa.

Badan Meteorologi jepang mengatakan setelah terjadinya gempa akan terjadi sekitar 100 guncangan di wilayah tersebut.

Sementara itu Japan Meteorological Agency (JMA) atau yang disebut Badan Meteorologi Jepang mengheluarkan peringatan tsunami besar akibat gempa.

Japan Times juga melaporkan bahwa beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir di sepanjang laut Jepang terhindar dari kerusakan akibat gempa yang terjadi.

Namun gempa yang memicu akan terjadinya tsunami dari Hokkaido hingga Kyushu, dapat memicu kekhawatiran publik akan keselamatan Tenaga Nuklir di area tersebut. (Firda Zahrotun/Radar Jogja)

Tim Penyelamat Mencari Korban Gempa di Bawah Reruntuhan Kota Wajima

REPUBLIKA.CO.ID, WAJIMA. —  Petugas penyelamat mencari orang hilang di sebuah bangunan yang runtuh di Kota Wajima yang dilanda gempa, Prefektur Ishikawa, Jepang tengah, Rabu (3/1/2024).

Tim penyelamat berlomba dengan waktu seiring pihak berwenang mengingatkan adanya hujan lebat, tanah longsor, dan gempa susulan berulang yang bisa menghambat upaya pencarian.

Diketahui, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengatakan hujan lebat di wilayah tersebut akan meningkatkan risiko tanah longsor. Hingga Rabu (3/1/2024), korban gempa telah mencapai 62 orang dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat.

Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, mengatakan pihaknya telah menambah jumlah personel dan anjing penyelamat untuk mempercepat pencarian korban gempa. Pemerintah pusat saat ini memberikan bantuan ke wilayah yang paling terkena dampak di Semenanjung Noto.

 Karena jalanan hampir tidak dapat dilalui, bantuan itu dikirim menggunakan kapal.

Pemerintah Jepang Jadikan Sekolah Tempat Evakuasi Warga

KBRN, Jakarta: Pemerintah Kota Kanazawa, Prefektur Ishikawa menjadikan sekolah, mulai dari sekolah dasar dan menengah sebagai pusat evakuasi warga. Data resmi Pemkot Kanazawa hingga Senin (1/1) pukul 17.30 menunjukkan terdapat total 46 pusat evakuasi dengan 1.300 pengungsi.

“Saat ini, sekolah dasar dan menengah dibuka sebagai pusat evakuasi,” demikian yang tertulis dalam imbauan resmi pemerintah Jepang dikutip Antara, Selasa (2/1/2024). Imbauan tersebut menyusul prakiraan gempa susulsan yang masih akan terjadi sepanjang pekan ini.

“Gempa dengan magnitudo yang sama diperkirakan masih akan terjadi sepanjang pekan ini. Dengan kekuatan yang lebih besar dalam waktu dekat ini,” demikian imbauan tersebut.

Gempa berkekuatan 7,6 magnitudo yang berpusat di Semenanjung Noto, Prefektur Ishikawa pada Senin (1/1) pukul 16.10 waktu setempat (14.10 WIB). Pada pukul 17.04 waktu setempat (15.04 WIB) tsunami setinggi 70 cm muncul di Pelabuhan Kanazawa dan terkonfirmasi menyebabkan kerusakan.

Salah satu warga negara Indonesia (WNI) di Kanazawa, Dian Novitasari mengatakan, saat ini dia dan keluarga mengungsi di Masjid Kanazawa. “Malam ini kita menginap di masjid sampai gempa susulannya reda,” katanya.

Dia menambahkan sejumlah pengungsi masih bertahan di masjid karena masih terjadi gempa susulan. Gempa tersebut juga dirasakan di Fukui, Nagano, Gifu, Tokyo, Yamagata, Fukushima, Ibaraki, Tochigi, Gunma, Saitama, Shizuoka, Aichi, Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara, Tottori, Iwate, Miyagi, dan Akita.

Belajar dari Jepang, Manusia Bisa Berdamai dengan Gempa

Jakarta, CNBC Indonesia – Secara geografis, Jepang merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap gempa. Namun, Negara Sakura mampu membuktikan diri bisa berdamai dengan gempa melalui bantuan teknologi, termasuk di bidang perumahan. 

Pulau-pulau di Jepang terletak di tempat pertemuan empat lempeng tektonik bumi. Negara ini juga merupakan rumah bagi sekitar 10% gunung berapi aktif di dunia.

Artinya, Jepang mengalami lebih banyak gempa bumi dibandingkan negara lain, sekitar 1.500 gempa per tahun. Daftar panjang gempa bumi di Jepang sudah ada sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Selain itu, ketika gempa bumi terjadi di bawah atau dekat laut, hal tersebut dapat memicu gelombang pasang (disebut tsunami).

Sebanyak 9.661 gempa bumi berkekuatan empat atau lebih telah terjadi dalam jarak 300 kilometer (186 mil) dari Jepang dalam 10 tahun terakhir. Hal ini berarti rata-rata tahunan terjadi 966 gempa bumi per tahun, atau 80 gempa per bulan. Rata-rata gempa bumi terjadi di dekat Jepang kira-kira setiap 9 jam.

Jumlah gempa bumi yang relatif besar terjadi di dekat Jepang pada tahun 2022. Sebanyak 1.253 gempa bumi (magnitudo 4+) terdeteksi dalam jarak 300 km dari Jepang pada tahun itu, yang terkuat berkekuatan 7,3.

japanFoto: earthquakelist

Adapun, tabel di bawah ini memvisualisasikan distribusi seluruh gempa bumi yang terjadi dalam jarak 300 km dari Jepang dalam 10 tahun terakhir. Tidak ada gempa bumi berkekuatan 8 atau lebih yang terjadi di dekat Jepang selama ini. Biasanya, magnitudo yang lebih tinggi lebih jarang terjadi dibandingkan dengan magnitudo yang lebih rendah. Gempa bumi kecil dengan kekuatan di bawah 4 skala Richter tidak dimasukkan dalam tinjauan ini.Karena sejarah gempa bumi yang dimilikinya, Jepang sangat siap menghadapi kejadian seperti ini. Semua ponsel di Jepang dilengkapi dengan sistem peringatan gempa, yang berpotensi memberi pengguna waktu 5 hingga 10 detik untuk mencari perlindungan sebelum gempa terjadi. Rumah dan bangunan tahan gempa dirancang agar dapat bergerak mengikuti gempa, dan tidak roboh atau melukai orang-orang di dalamnya.

Jepang juga menjadi tuan rumah sistem pencegahan bencana terpadu. Pemerintah telah mengeluarkan pedoman ekstensif yang mencakup pembuatan peralatan darurat sebelum terjadinya bencana. Sesi pelatihan dan pameran adalah hal biasa, dan partisipasi dalam latihan bencana alam dimulai sejak taman kanak-kanak. Pusat evakuasi lokal dan fasilitas darurat lengkap tersedia untuk melayani masyarakat.

Mengapa bangunan jepang tahan gempa?

Peraturan bangunan Jepang mempertimbangkan berbagai faktor seperti jenis tanah, kedalaman pondasi bangunan, dan ketinggian bangunan. Hal ini juga mengharuskan bangunan memiliki struktur fleksibel yang dapat bergerak bersama tanah saat terjadi gempa, serta sistem peredam untuk meredam guncangan gempa.

Salah satu fitur utama bangunan Jepang adalah penggunaan bantalan isolasi seismik. Bantalan ini memungkinkan bangunan bergerak secara horizontal saat terjadi gempa, sehingga mengurangi tekanan pada struktur dan meminimalkan kerusakan. Selain itu, banyak bangunan di Jepang memiliki kerangka beton bertulang, yang memberikan stabilitas tambahan dan perlindungan terhadap keruntuhan.

Kemahiran Jepang dalam merancang bangunan tahan gempa sebagian besar lahir dari kebutuhan. Negara kepulauan ini terletak di Cincin Api Pasifik, sebuah zona di mana lempeng tektonik Eurasia, Pasifik, dan Filipina dipaksa berada di bawah satu sama lain. Tekanan yang sangat besar ini secara berkala mengakibatkan pelepasan energi dalam jumlah besar yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi di nusantara.

Setelah Perang Dunia II, pemerintah Jepang memperkenalkan serangkaian tindakan yang semakin ketat untuk memaksa para pembangun membuat struktur tahan gempa (hal ini sangat penting karena bangunan-bangunan semakin tinggi).

Standar bangunan tahan gempa di Jepang adalah sebagai berikut:

• Taishin: yakni persyaratan minimum untuk bangunan tahan gempa di Jepang, dan mengharuskan balok, pilar, dan dinding memiliki ketebalan minimum untuk menahan guncangan.
• Seishin: bangunan tahan gempa tingkat berikutnya di Jepang, Seishin direkomendasikan untuk bangunan bertingkat tinggi. Ia menggunakan peredam yang menyerap banyak energi gempa. Intinya, lapisan peta karet tebal ditempatkan di tanah di bawah pondasi, sehingga meredam getaran.
• Menshin: yakni bentuk bangunan tahan gempa tercanggih di Jepang, dan juga paling mahal. Struktur bangunannya sendiri diisolasi dari permukaan tanah oleh lapisan timah, baja, dan karet yang bergerak secara independen dengan tanah di bawahnya. Ini berarti bangunan itu sendiri hanya bergerak sangat sedikit, bahkan saat gempa paling parah sekalipun.

japanFoto: housingjapan

Terdapat pula fitur umum tahan gempa pada bangunan Jepang. Namun, tergantung pada lokasi dan tujuan bangunan, arsitek Jepang dapat memilih di antara banyak fitur bangunan tahan gempa lainnya termasuk:

• Penggunaan rangka baja pada inti bangunan, berbeda dengan inti beton bertulang yang umum digunakan pada struktur Barat
• Penggunaan peredam diagonal, balok dan kolom baja dibandingkan kolom beton
• Pendulum pada inti atau pada atap bangunan
• Peredam dipasang di antara tingkat bangunan
• Struktur jaring untuk membantu memperkuat bangunan
• Sambungan T yang dibuat untuk mematahkan
• Banyak bangunan baru juga terhubung dengan sistem peringatan dini di negara tersebut, yang memperingatkan penduduk akan adanya gempa yang akan datang
• Penggunaan pintu lipat yang memberikan lebih banyak cara untuk melarikan diri
• Lampu tertutup untuk melindungi orang jika bola lampu meledak

Adapun, tiga contoh bangunan tahan gempa jepang. Semua bangunan di Jepang saat ini harus mematuhi peraturan bangunan tahan gempa yang ketat. Berikut tiga contoh struktur inovatif yang memenuhi standar:

• Tokyo Skytree
Sebagai salah satu gedung tertinggi di dunia, menara Tokyo Skytree diyakini benar-benar tahan gempa. Ini menggunakan peredam seismik pada dasar struktur yang terhubung ke pilar tengah yang mampu meredam guncangan gempa.
• Gedung Shinjuku Mitsui
Gedung Shinjuku Mitsui telah menggunakan beberapa pendulum seberat 300 ton dipasang di atap gedung pencakar langit. Pendulum bergoyang maju mundur saat terjadi gempa sehingga membantu menangkal pergerakan bangunan dari sisi ke sisi.
• Rumah mengambang Air Danshin
Perusahaan Jepang Air Danshin telah menciptakan solusi unik terhadap masalah gempa bumi. Rumah-rumah penduduk dilengkapi dengan alat pendeteksi gempa. Jika terjadi getaran, kompresor akan mendorong udara ke ruang di bawah bangunan, mengangkatnya satu hingga tiga sentimeter dari fondasi bangunan. Hal ini membuat bangunan tidak mungkin berguncang dan oleh karena itu membantu menghindari kerusakan.

Apa yang bisa dipelajari dari bangunan Jepang?

Jepang dikagumi di seluruh dunia karena inovasi teknologi tinggi di berbagai bidang, termasuk dalam hal ketahanan infrastruktur, Jepang merupakan negara yang terdepan. Sehingga hal yang dapat Indonesia dan negara lainnya pelajari dalam menghadapi bencana alam yakni:

• Regulasi yang kuat sangat penting: Undang-undang yang jelas tentang standar minimum ketahanan berarti bahwa para pembangun di Jepang tahu apa yang harus dilakukan. Hal ini juga memberikan keamanan dan kepercayaan lebih kepada pelanggan.
• Inovasi sangatlah penting: para desainer Jepang terus berinovasi untuk membuat bangunan tahan gempa yang lebih canggih.
• Investasi sangat penting: membangun bangunan tahan gempa membutuhkan biaya hingga 20% lebih mahal dibandingkan struktur standar. Namun, dalam jangka panjang, pendekatan ini menghemat uang pemilik karena bangunan mereka aman dari kerusakan saat terjadi gempa bumi.

CNBC Indonesia Research

Takut Pulang ke Rumah Usai Gempa Dahsyat Jepang, Ribuan Warga Tinggal di Kamp Evakuasi

Jakarta – Gempa dahsyat baru saja menghantam Jepang pada Senin kemarin. Menurut Survei Geologi AS, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (2/1/2024), gempa tersebut merupakan yang terkuat di kawasan ini dalam lebih dari empat dekade terakhir.

Rumah-rumah hancur, kebakaran terjadi dan personel militer dikerahkan untuk membantu operasi penyelamatan, kata juru bicara pemerintah Yoshimasa Hayashi kepada wartawan.

Seorang pria lanjut usia dinyatakan meninggal setelah sebuah bangunan runtuh di Kota Shika di Ishikawa, menurut laporan stasiun televisi NTV yang mengutip lpaoran polisi setempat.

Ribuan warga bahkan takut kembali pulang ke rumahnya lantaran gempa dahsyat yang terjadi masih menyisakan beberapa getaran gempa susulan yang rawan memicu runtuhnya bangunan.

Sebuah foto yang dilaporkan Reuters, menunjukkan bagaimana warga memilih tinggal menghabiskan malam di sebuah gedung sekolah dasar yang disulap menjadi kamp evakuasi setelah gempa melanda wilayah Kanazawa, Jepang.

Seorang snowboarder yang sedang berlibur di Pegunungan Alpen Hakuba Jepang mengatakan seluruh kamar hotelnya berguncang. Kepada Reuters Baldwin Chia mengatakan bagaimana ia sangat khawatir dengan longsoran salju tetapi belum menerima laporan mengenai hal tersebut.

Ia mengatakan bahwa gempa bumi sering terdengar di Jepang. “Tapi anda tidak menyangka akan benar-benar mengalaminya”.

Andy Clark, seorang warga Inggris di Jepang, menggambarkan kepada BBC bahwa ini menjadi satu sore dan malam yang menakutkan ketika ia berada di kota pesisir Toyama yang terkena dampak gempa ketika gempa terjadi.

“Saya mulai memegang tembok agar tetap tegak,” tutur dia sebelum menuju ke atap sekolah untuk menyelamatkan diri.

Usai gempa dahsyat yang dialaminya, Clark mengaku sangat khawatir dengan potensi gempa susulan dan tsunami yang mungkin terjadi hingga ia sulit tidur.

Jeffrey Hall, dosen Universitas Kanda, mengaku merasakan getaran sekitar dua menit meski berada di Yokohama, di seberang pulau utama Jepang.

“Gempa tersebut sangat, sangat serius,” kata dia kepada BBC.