UPDATE Erupsi Semeru: 34 Orang Meninggal Dunia, 22 Orang Hilang

JAKARTA, KOMPAS.com – Komandan Posko Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru Kol Inf Irwan Subekti melaporkan, hingga Selasa (7/12/2021) tercatat 34 orang meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru dan 22 orang hilang.

“Sampai saat ini, korban jiwa tercatat di posko kami adalah 34 orang ini terdata, kemudian 22 orang hilang dan 22 orang luka berat,” kata Irwan dalam konferensi pers melalui kanal YouTube BNPB, Selasa.

Irwan mengatakan, selain korban jiwa, sebanyak 4.250 orang mengungsi di 19 titik pengungsian. Kemudian, sebanyak 5.205 unit rumah terdampak erupsi Gunung Semeru.

“4.250 orang mengungsi di mana ini tersebar di beberapa tempat di antaranya adalah sekolah, masjid, balai desa termasuk ada di rumah-rumah penduduk,” ujarnya.

Lebih lanjut, Irwan mengatakan, tercatat 10 kecamatan dan 17 desa yang terdampak erupsi Semeru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Ia mengatakan, pencarian korban akan terus dilakukan secara optimal hingga satu minggu mulai dari pagi hingga sore dengan memerhatikan situasi dan cuaca di Kabupaten Lumajang dan di sekitar Gunung Semeru.

“Mengingat setiap hari setiap sore turun hujan sangat berpengaruh terhadap proses pencarian,” pungkasnya.

Gunung Semeru yang berada di dua kabupaten, yakni Malang dan Lumajang, Jawa Timur mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021) sekitar pukul 15.20 WIB.

Erupsi Gunung Semeru mengeluarkan lava pijar, suara gemuruh serta asap pekat berwarna abu-abu.

Selain menimbulkan korban jiwa, erupsi juga mengakibatkan puluhan korban luka hingga sejumlah rumah warga rusak sedang hingga berat.

Rumini Pilih Temani Bunda Saat Diterjang Erupsi Gunung Semeru, Keduanya Ditemukan Berpelukan

TRIBUNNEWS.COM, LUMAJANG – Korban bencana alam erupsi Gunung Semeru kini mulai ditemukan.

Dua diantaranya adalah Salamah seorang wanita lanjut usia dan anaknya, Rumini (28).

Salamah yang berusia 70 tahun ditemukan meninggal dunia dengan Rumin, posisi mereka dalam keadaan berpelukan.

Warga Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro ditemukan tewas di dapur rumah.

Mereka menjadi korban reruntuhan bangunan yang roboh

Legiman, adik ipar Salamah cerita, ketika Gunung Semeru erupsi semua orang lari berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri.

Diduga, Salamah tidak sanggup berjalan karena faktor usia.

Sedangkan anaknya, Rumini tak tega meninggalkan ibunya seorang diri.

Sehingga keduanya ditemukan meninggal dunia dalam keadaan berpelukan.

“Tadi pagi kan saya cari adik ipar sama ponakanku.

Pas bongkar rontokan tembok dapur terus tangannya kelihatan dan langsung kami bersihkan dan di bawa ke rumah untuk dimakamkan,” kata Legiman.

Dua anggota keluarga Salamah, kata dia, juga bernasib malang.

Suami dan anak Salamah mengalami luka cidera akibat reruntuhan bangunan rumah.

“Suami Rumini dan anaknya selamat, mereka sekarang dirawat di puskesmas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lumajang Bayu Wibowo mengatakan, total jumlah korban yang meninggal dunia terus bertambah.

“Untuk siapa-siapanya kami masih melakukan pendataan dan konfirmasi namanya beserta keluarganya,” pungkasnya.

Desa Supit Urang Luluh Lantak akibat Erupsi Semeru, Warga Minta Direlokasi

LUMAJANG – ‘Lindungilah hamba ya Allah’  Kalimat itu tertulis dalam coretan di jendela kaca salah satu rumah di Dusun Sumbersari Umbulan, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021).

Coretan tangan itu telihat jelas karena debu yang menempel di jendela kaca cukup tebal imbas terpaan awan panas dan abu vulkanik Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021).

Kepanikan warga

Kala itu sebelum kejadian, warga masih tenang meski tahu Gunung Semeru akan memuntahkan awan panas.

Biasanya, material awan panas memang melintas di kampung tersebut, tapi dalam kapasitas kecil melintasi Sungai Umbulan.

Sebab, awan panas biasanya lebih banyak melalui Sungai Curah Kobokan yang ada sebelah utara kampung tersebut.

Namun, warga mendadak panik. Aliran awan panas sangat besar dan cepat hingga melintasi ladang dan permukiman warga.

“Saya sempat melihat datangnya (awan panas). Waktu itu alirannya masih kecil. Kalau keluarga saya sudah mengungsi. Saya masih di sini melihat datangnya, tapi saya sedia motor buat kabur,” kata Ponidi (40), warga Dusun Sumbersari, Senin.

Umi Kulsum (48) warga lainnya mengatakan, awalnya, sekitar pukul 15.00 WIB, warga masih tenang dan tak ada kepanikan.

Warga langsung berhamburan masuk ke rumah ketika abu yang berasal dari muntahan Gunung Semeru membumbung dari atas.

“Awalnya biasa, tidak ada yang panik. Akhirnya datang abu. Orang-orang langsung lari masuk ke rumah. Kondisinya gelap akibat datang abu,” katanya.

Di rumah, Umi Kulsum mengaku sesak karena abu vulkanik juga masuk ke rumahnya. Listrik juga tiba-tiba padam sehingga kondisi menjadi gelap.

Dirinya keluar rumah ketika ada sedikit cahaya dan langsung menuju masjid setempat.

Di sana, warga sudah lalu lalang berhamburan. Warga berusaha keluar dari kampung tersebut untuk mencari tempat aman.

Kondisi luluh lantak

Awan panas turut membuat Dusun Sumbersari hancur. Ladang warga yang ada di pinggir aliran sungai ludes.

Rumah warga juga banyak yang hancur terendam lumpur dan diselimuti abu vulkanik. 

Ternak warga juga banyak yang mati. Sapi bergelimpangan di kandangnya tanpa sempat melarikan diri.

Barang-barang berharga tergeletak, sebagian tertimbun lumpur.

Saat kondisi mereda, warga memberanikan diri untuk menengok rumahnya, sembari menyelamatkan barang berharganya yang masih utuh.

Mereka tidak ingin menempati kampung itu lagi dan ingin direlokasi ke tempat yang aman.

“Sudah tidak aman dan ingin menempati yang lebih aman,” kata Toha (40).

Begitu juga dengan Ponidi. Dia sudah tidak ingin berada di kampung itu.

Menurutnya, jika masih berada di kampung tersebut, warga tetap dibayangi ancaman awan panas Semeru.

“Tidak menargetkan membuat yang bagus, yang penting ada tempat berteduh dan aman. Meski sederhana asal tidur nyenyak, kan nyaman,” kata Ponidi.

Saat ini, warga di kampung tersebut masih mengungsi. Mereka kembali ke rumahnya hanya untuk mengamankan barang-barang yang masih tersisa.

 

sumber: KOMPAS.com

Update Erupsi Gunung Semeru 2021: Daftar Daerah Terdampak Hujan Abu

sumber: tirto.id – Gunung Semeru mengalami erupsi pada hari Sabtu, 16 Januari 2021 pukul 17.24 WIB. Bahkan, ada lima kecamatan yang diguyur hujan abu vulkanik. Lima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Candipuro, Kecamatan Pasrujambe, Kecamatan Senduro, Kecamatan Gucialit, dan Kecamatan Pasirian, demikian seperti dilansir Antaranews.

Berikut adalah daftar nama, dusun, desa dan kecamatan yang terdampak langsung hujan vulkanik sebagaimana dilaporkan oleh Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo.

1. Kecamatan Candipuro

  • Dusun Kajar Kuning;
  • Desa Sumbermujur;

2. Kecamatan Pasrujambe

  • Dusun Munggir;
  • Dusun Sumberingin;
  • Dusun Tulusrejo;
  • Dusun Tawon Songo;
  • Desa Pasrujambe;
  • Desa Kertosari;
  • Desa Jambearum;
  • Desa Jambe Kumbu;
  • Desa Sukorejo.

3. Kecamatan Senduro

  • Desa Senduro;
  • Desa Burno;
  • Desa Kandangtepus;
  • Desa Wonocempokoayu;
  • Desa Ranupane;
  • Desa Pandansari;
  • Desa Kandangan;
  • Desa Bedayu.

4. Kecamatan Gucialit

  • Desa Sombo;
  • Desa Gucialit.

5. Kecamatan Pasirian

  • Desa Pasirian;
  • Desa Nguter.

Sejauh ini, tidak ada korban jiwa dan pengungsi akibat erupsi tersebut. Status gunung masih pada Level II (Waspada), masyarakat/pengunjung/wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 4 km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, demikian dilaporkan laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Status ini akan selalu dipantau, mengingat potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak.

Apabila hujan, maka dapat terjadi lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak. Dengan terjadinya erupsi gunung Semeru ini, PVMBG mengimbau:

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  2. Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  4. Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yang berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

BPBD Lumajang sendiri telah mengakhiri masa tanggap darurat Gunung Semeru sejak 24 Desember 2020 lalu. Sebelumnya guguran awan panas Semeru Lumajang juga terjadi pada 1 Desember. Pada saat itu tidak ada korban jiwa namun 7 ekskavator terbawa lahar dingin di Curah Kobokan, menurut laporan BPBD Lumajang.

Erupsi Gunung Semeru, BNPB: 902 Warga Mengungsi

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendapat laporan dari BPBD Kabupaten Lumajang bahwa terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik akibat erupsi Gunung Semeru.

Abdul Muhari, pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan sebanyak 305 orang mengungsi di beberapa fasilitasi pendidikan dan balai desa di Kecamatan Pronojiwo, dengan rincian :

– SDN Supiturang 04:  80 orang
– Masjid Baitul Jadid Dsn. Supiturang: 50 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 3: 20 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 2: 35 orang
– Masjid Pemukiman Dusun Kampung Renteng Desa Oro-oro Ombo: 20 orang
– Balai Desa Oro-Oro Ombo:  40 orang
– Balai Desa Sumberurip: 25 orang
– SDN Sumberurip 2: 25 orang
– Sebagian masyarakat mengamankan diri di rumah keluarganya di sekitar ketinggian Dusun Kampung Renteng dan Dusun Sumberbulus, Desa Oro-Oro Ombo.

Kemudian sebanyak 409 orang di lima titik balai desa di Kecamatan Candipuro. Yaitu balai desa Sumberwuluh; balai desa Penanggal; balai desa Sumbermujur; Dusun Kampung Renteng dan Dusun Kajarkuning, Desa Sumberwuluh.

Sebanyak 188 orang mengungsi di empat titik yang terdiri dari rumah ibadah dan balai desa di Kecamatan Pasirian. Yaitu balai desa Condro, balai desa Pasirian, masjid Baiturahman Pasirian, dan masjid Nurul Huda Alon-Alon Pasirian.

Menurut Abdul, kejadian sebaran awan panas guguran Gunung Semeru juga menyebabkan beberapa rumah warga tertutup material vulkanik serta jembatan Gladak Perak di Curah Kobokan yang menjadi akses penghubung Lumajang dan Malang terputus. “BPBD Kabupaten Lumajang menggunakan alat berat wheel loader untuk membuka akses jalan Curah Kobokan serta melakukan pendataan lanjutan terkait kerugian materil lainnya akibat peristiwa ini,” ujar Abdul dalam keterangannya, Ahad, 5 Desember 2021.

BPBD Ungkap Alasan Tak Ada Peringatan Dini saat Bencana Semeru

Merdeka.com – Manager Pusat Pengendalian Ops Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Dino Andalananto mengungkap, alasan tak ada peringatan dini awan panas guguran (APG) Gunung Api Semeru, Kabupaten Lumajang pada Sabtu (4/12). Menurutnya, aktivitas Gunung Semeru saat itu masuk kategori rapid-onset.

“Nah kebetulan ini kemarin kan awan panas guguran yang sifatnya rapid-onset. Jadi tiba-tiba. Kayak longsor, longsor itu juga bencana yang tiba-tiba, rapid-onset,” katanya kepada merdeka.com, Senin (6/12).

Dino menyebut, ada dua kategori bencana, yaitu rapid-onset dan slow-onset. Bencana rapid-onset merupakan bencana yang terjadi secara mendadak sehingga tidak bisa diamati tanda-tandanya, seperti awan panas guguran.

Sedangkan bencana slow-onset ialah bencana yang terjadi perlahan dan dapat dilihat gejalanya, misalnya erupsi. Bencana slow-onset bisa diprediksi dan diikuti peringatan dini.

“Makanya saya bilang tadi, ini bukan erupsi. Kalau erupsi bisa diamati karena ada kegempaan yang meningkat, kemudian ada parameter-parameter yang bisa dilihat lainnya,” jelasnya.

Sementara ahli vulkanologi, Surono menilai, tak semua bencana harus disampaikan peringatan dini sebelum kejadian. Sebab, Gunung Semeru sudah menunjukkan tanda-tanda aktivitas jauh-jauh hari.

“Kalau tinggal di daerah rawan kan risikonya banyak sekali,” ujarnya.

Surono megibaratkan tinggal di kaki Gunung Semeru seperti hidup di tengah jalan tol. Masyarakat tidak bisa menyalahkan pemerintah soal peringatan sebelum kecelakaan. Masyarakat seharusnya sudah tahu tinggal di tengah jalan tol bisa menjadi korban kecelakaan.

Menurutnya, bencana yang terjadi pada Gunung Semeru itu bukan aktivitas baru. Guguran kubah yang menghasilkan awan panas itu sudah sering terjadi. Bahkan, laharnya selalu melewati Besuk Kobokan.

“Sudah sering terjadi makanya Besuk Kobokan itu menjadi ajang pencarian pasir karena di situ-situ juga,” ucapnya.

Surono mendorong pemerintah Jawa Timur dan masyarakat terdampak awan panas guguran Gunung Semeru duduk bersama. Membahas jalan keluar bagi daerah yang rawan bencana Gunung Semeru.

“Kita evaluasi saja yang terdampak di situ tempatnya bahaya atau enggak. Kalau daerah bahaya ada jalan enggak untuk mengurangi risiko bahaya. Kalau enggak ada hanya satu pilihan relokasi, enggak usah marah-marah lah,” kata dia.

 

Peringatan Dini PVMBG

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengaku telah mengeluarkan peringatan dini sebelum Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran pada Sabtu 4 Desember 2021. Peringatan itu dikeluarkan bersamaan dengan 69 gunung api aktif lainnya.

“Peringatan dini untuk bahaya erupsi gunung api sudah dilakukan bukan hanya di Semeru, tetapi juga di 69 gunung api aktif yang dipantau oleh PVMBG melalui pemasangan peralatan pemantauan, serta pengamatan visual selama 24 jam,” kata Andiani kepada merdeka.com dalam pesan singkat, Senin (6/12).

Dia menjelaskan pada 1 Desember 2021 sudah terjadi guguran lava pijar di lereng Gunung Semeru. Bahkan, pada 2 Desember, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru sudah mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak beraktivitas di sekitar Besuk Kobokan, Besuk Kembar, Besuk Bang, dan Besuk Sarat, untuk mengantisipasi kejadian awan panas guguran.

15 Orang Meninggal

Jumlah korban meningggal dunia akibat guguran awan panas Gunung Api Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, bertambah satu. Sehingga total keseluruhan menjadi 15 orang.

“Ada tambahan satu korban meninggal dunia, jadi total 15. Cuma tambahan satu belum dirilis,” kata Manager Pusat Pengendalian Ops Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Jawa Timur Dino Andalananto saat dihubungi merdeka.com, Senin (6/12).

Dino menjelaskan, peristiwa yang terjadi di Gunung Semeru pada Sabtu (4/12) merupakan guguran awan panas . Bukan erupsi. Erupsi merupakan aktivitas gunung vulkanik aktif yang mengeluarkan gas dan lava dari lubang vulkanik.

Sementara guguran awan panas merupakan peristiwa ketika suspensi dari material gunung berupa batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas keluar dari gunung berapi.

“Masih banyak yang belum memahami ini padahal kita sudah kasih pengertian di awal. Makanya di keadaan darurat itu kan awan panas guguran,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, guguran awan panas Gunung Semeru mengakibatkan 10 kecamatan terdampak dan 8 kecamatan terdampak debu vulkanik. Total jiwa dari 4 kecamatan terdampak yaitu 5.205 jiwa. Namun hanya 1.300 jiwa memilih untuk mengungsi di tempat pengungsian yang telah disediakan.

BPBD Kabupaten Lumajang melaporkan terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik kecamatan, antara lain :

305 orang mengungsi di beberapa fasilitasi pendidikan dan balai desa di Kecamatan Pronojiwo dengan rincian :

– SDN Supiturang 04 ± 80 orang
– Masjid Baitul Jadid Dsn. Supiturang ± 50 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 3, ± 20 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 2, ± 35 orang
– Masjid Pemukiman Dusun Kampung Renteng Desa Oro-oro Ombo ± 20 orang
– Balai Desa Oro-Oro Ombo ± 40 orang
– Balai Desa Sumberurip ± 25 orang
– SDN Sumberurip 2, ± 25 orang
– Sebagian masyarakat mengamankan diri di rumah keluarganya di sekitar ketinggian Dusun Kampung Renteng dan Dusun Sumberbulus, Desa Oro-Oro Ombo.

409 orang di lima titik balai desa di Kecamatan Candipuro dengan rincian :

– Balai desa Sumberwuluh
– Balai desa Penanggal
– Balai desa Sumbermujur
– Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh
– Dusun Kajarkuning, Desa Sumberwuluh

188 orang mengungsi di empat titik yang terdiri dari rumah ibadah dan balai desa di Kecamatan Pasirian dengan rincian :

– Balai desa Condro
– Balai desa Pasirian
– Masjid Baiturahman Pasirian
– Masjid Nurul Huda Alon² Pasirian.

sumber: https://www.merdeka.com

BNPB usung konsep mitigasi bencana tsunami berbasis ekosistem

Jakarta (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengusung konsep mitigasi bencana tsunami berbasis ekosistem dengan merawat vegetasi mangrove untuk menjamin fungsi proteksi dalam jangka waktu hingga ratusan tahun.

“Salah satu pilihan dalam penanganan bencana adalah hidup berdampingan dengan bencana. Salah satunya dengan menanam mangrove, sebagai upaya preventif untuk mengurangi dampak dari terjangan tsunami,” kata Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Menurut dia, hidup berdampingan dengan bencana juga mengharuskan semua pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapinya, baik melalui infrastruktur maupun kultur, seperti pengetahuan tentang potensi risiko bencana sehingga mampu meminimalisasi dampak ketika bencana terjadi.

“Penanaman mangrove merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesiapsiagaan akan tsunami. Kemudian masyarakat diharapkan mengetahui apa yang harus dilakukan, sehingga kita bisa paham bagaimana menyelamatkan diri dari tsunami,” ujar dia.

Hal itu pula yang BNPB lakukan, dengan melakukan mitigasi berbasis vegetasi yang sejalan dengan kegiatan Rumah Zakat Indonesia di mana pada saat yang sama membina Desa Kembang di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, untuk dijadikan desa wisata berbasis “eco-tourism” melalui kawasan Watu Mejo Mangrove Park.

“Dengan adanya lahan mangrove Desa Kembang yang berlokasi di sepanjang bantaran Sungai Grindulu, maka jika terjadi tsunami yang masuk dari muara sungai, energi limpasannya dapat direduksi oleh keberadaan mangrove,” ujar dia.

BNPB, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten dan Kota se-Jawa Timur, DPRD Kabupaten Pacitan, unsur TNI dan Polri, forkopimda, Forum PRB Jawa Timur, dan Kabupaten Pacitan, organisasi kemanusiaan wilayah Jawa Timur dan Kabupaten Pacitan, kelompok relawan, perwakilan sekolah, madrasah, Pramuka dan perwakilan masyarakat desa pesisir selatan melakukan penanaman mangrove bersama pada Minggu (28/11).

Kegiatan yang juga ditujukan untuk memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia itu diawali dengan peresmian lokasi wisata Watu Mejo Mangrove Park oleh Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Wakil Bupati Pacitan Gagarin dan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Budi Santosa, serta CEO Rumah Zakat Nur Effendi.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Budi Sentosa mengatakan upaya penanganan yang dilakukan oleh berbagai pihak harus dimulai dari saat prabencana.

“Salah satunya dengan menanam mangrove, mangrove dapat mencegah abrasi laut, mengurangi gelombang tsunami dan dapat dimanfaatkan secara ekonomi,” katanya.

Vegetasi dapat mengurangi gelombang tsunami, maka dari itu diperlukan perawatan serta pemeliharaan setelah ditanam sehingga dapat berfungsi optimal jika bencana datang.

Seperti di Pantai Teleng Ria Kabupaten Pacitan, ia mengatakan sejak tahun 2010 sudah ada vegetasi cemara, ketapang dan trembesi di sepanjang pantai yang penting untuk dijaga, karena keberadaan vegetasi di sepanjang pantai bisa mereduksi tsunami dengan signifikan pada batas-batas tertentu.

Pemerintah daerah perlu memperhatikan kondisi vegetasi yang membentuk hutan pantai.

“Jika pada setiap batang pohon, jarak antara muka tanah dengan tinggi ranting pertama sudah lebih dari 1,5 meter, maka perlu ditanami vegetasi baru diantara tegakan yang sudah ada agar fungsi reduksi tsunami bisa optimal,” ujar dia.

Siaga Bencana, Menko PMK Upayakan Tambahan Dapur Umum

KEMENKO PMK — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa curah hujan meningkat di hampir seluruh wilayah Indonesia hingga 70% mulai November 2021 dan mencapai puncaknya di Januari-Maret 2022. La Nina diprediksi terus berkembang di Indonesia dengan intensitas lemah sampai sedang setidaknya hingga Februari 2022. 

Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh merupakan daerah yang kerap memiliki beberapa potensi bencana, seperti gempa, maupun bencana hidrometeorologi diantaranya banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengingatkan agar tiap level pemerintahan dan masyarakat melakukan tindakan antisipasi bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi oleh La Nina. 

“Saya senang sekali hari ini dari seluruh kekuatan yang ada di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh menunjukkan kesiapannya menghadapi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana. Yang sebetulnya ini tidak kita kehendaki, yang bisa saja terjadi menimpa kepada rakyat dan penduduk yang ada di sini,” ujarnya saat menjadi Pembina dan memberikan arahan di Apel Kesiapsiagaan Bencana La Nina di Halaman Kantor Wali Kota Sungai Penuh, Minggu (28/11). 

Pada apel tersebut, bertindak selaku Pemimpin Apel ialah Mayor Inf. Liswar, SH, Pamen Kodim 0417 Kerinci. Turut pula mengikuti apel Bupati Kerinci Adirozal dan Wali Kota Sungai Penuh Ahmadi Zubir.

Menko PMK menekankan, kesiapsiagaan bencana sangat penting untuk meminimalisir risiko serta dampak yang tidak diinginkan. Sebagaimana dilaporkan, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh menjadi ‘langganan’ banjir dan dampaknya sawah di sana hanya mampu panen sekali dalam setahun. 

Selain itu, dalam rangka mempersiapkan kemungkinan terjadinya bencana alam yang memang seringkali terjadi tiap tahunnya, baik Kabupaten Kerinci maupun Kota Sungai Penuh, saat ini hanya memiliki satu dapur umum. 

“Itu nanti mesti saya bicarakan dengan kementerian terkait yang membidangi dan akan kita koordinasikan, termasuk kekurangan-kekurangan peralatan misalnya dapur umum yang saat ini hanya ada satu.  Terutama Kemensos untuk membantu pengadaan dapur umum,” tuturnya. 

Kerja Bersama 

Pada saat memberikan arahan di Apel Kesiapsiagaan Bencana, Muhadjir menekankan kerja sama semua pihak sangat diperlukan agar antisipasi bencana dapat lebih maksimal. Mulai level provinsi, kabupaten/kota diharapkan melakukan kesiapsiagaan di daerah, OPD Provinsi menyiapkan sumber daya, melakukan simulasi bencana kontijensi, serta menghimpun relawan dan dukungan lainnya untuk kesiapsiagaan. 

Pada level kabupaten/kota, yaitu melakukan sosialisasi daerah rawan bencana hidrometeorologi, memastikan tempat evakuasi, memastikan kesiapsiagaan, memastikan seluruh OPD siap sumber daya, dan melakukan aktivasi Pusdalops di BPBD. 

Pada level kecamatan/desa/kelurahan perlu memastikan kesiapan tempat evakuasi, melakukan sosialisasi informasi kepada masyarakat dengan protokol kesehatan, memperkuat desa/kelurahan tangguh bencana, juga melakukan simulasi mandiri sesuai rencana evakuasi yang sudah dibuat. 

“Pada level masyarakat yaitu harus memastikan masyarakat tangguh, informasi terkait kebencanaan benar-benar sampai. Tidak kalah penting harus dilakukan penguatan manajemen bencana mulai dari rumah, sekolah, tempat ibadah, pelayanan kesehatan, kantor, pasar, dan fasilitas-fasilitas umum yang ada,” papar Muhadjir. 

Ia pun berharap melalui Apel Kesiapsiagaan Bencana akan dapat mendorong upaya peningkatan antisipasi dan kesiapsiagaan hidrometeorologis serta mulai membudayakan kapasitas adaptasi dan tanggap bencana untuk mewujudkan Indonesia yang tangguh. (*) 

sumber: https://www.kemenkopmk.go.id/siaga-bencana-menko-pmk-upayakan-tambahan-dapur-umum

Reboisasi Diyakini Efektif Meredam Bencana Banjir

Jakarta: Reboisasi diyakini dapat meredam bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor. Hal itu yang membuat Partai Gelora tergerak untuk aksi menanam 10 juta pohon di momen Hari Menanam Pohon Nasional.
 
Hal itu diungkapkan Ketua DPW Partai Gelora Indonesia DKI Triwisaksana, saat
melakukan aksi menanam 100 pohon produktif di Waduk Rawa Lindung Kecamatan Pesangrahan, Jakarta Selatan.
 
“Dengan anggota partai 25 ribu di DKI Jakarta dan setiap anggota menanam 20 pohon maka Partai Gelora DKI Jakarta di akhir tahun 2021 menargetkan berkontribusi menanam 500 pohon,” kata Triwisaksana.
 
Pria yang akrab disapa Sani ini menyebut aksi menanam pohon untuk mencegah banjir, mengurangi polusi, mengatasi krisis air, dan memperindah serta membuat lingkungan lebih asri dan lestari.
 
“Saya Ketua DPW bersama Ketua DPD se-DKI Jakarta dan para juru bicara partai alhamdulillah telah menanam 100 pohon di sekitar Waduk Rawa Lindung, Kecamatan Pesangrahan Jakarta Selatan. Mudah-mudahan memberikan manfaat dan keberkahan untuk kita semua khususnya warga Jakarta”, keterangan Triwisaksana.
 
Partai Gelora Indonesia secara nasional merencanakan menanam 10 juta pohon sampai tahun 2023. Aksi ini adalah kontribusi Partai Gelora Indonesia dalam melawan perubahan iklim.
 
Triwisaksana atau Bang Sani menyampaikan aksi menanam pohon Partai Gelora Indonesia DKI Jakarta ini adalah wujud kepedulian dan tawaran solusi Partai Gelora Indonesia DKI Jakarta terhadap persoalan lingkungan khususnya di Jakarta.
 
“Partai Gelora Indonesia adalah partai yang ingin mewujudkan kolaborasi dalam berbagi dan peduli di tengah-tengah persoalan masyarakat Jakarta, semoga ikhtiar ini mendapatkan sambutan hangat dari warga Jakarta”, pungkas Triwisaksana.

Ciamis Siap Siaga Hadapi Bencana Alam

Ciamis – Kabupaten Ciamis merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang rawan bencana alam. Untuk itu, Pemkab Ciamis melakukan apel siaga bencana di Halaman Pendopo Bupati, Senin (29/11/2021).

Unsur yang terlibat antara lain BPBD Ciamis, PMI, TNI-Polri, Tagana, relawan dari Rafi dan Orari. Sejumlah alat berat, kendaraan, armada pemadam kebakaran, ambulans dan penanganan bencana pun dicek dan dipersiapkan.

Selain apel, dilaksanakan juga latihan penanganan bencana longsor dan pohon tumbang. Serta melakukan penanganan penyelamatan terhadap korban bencana agar cepat saat melakukan evakuasi guna mendapat perawatan medis.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan sejumlah daerah di Kabupaten Ciamis termasuk dalam rawan bencana. Bencana yang sering terjadi di Ciamis adalah tanah longsor dan pergerakan tanah. Selain itu, banjir dan puting beliung kerap melanda sejumlah wilayah di Ciamis.

“Ini kesiapsiagaan kita, latihan ketika menghadapi kejadian bencana alam. Intinya untuk penyelamatan. Dalam penanganan bencana ini tidak hanya pemerintah, tapi semua elemen turut terlibat termasuk masyarakat,” katanya.

Herdiat mengatakan menurut prakiraan dari BMKG, kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi terjadi pada Oktober 2021 hingga Februari 2022. Untuk itu kewaspadaan harus ditingkatkan agar saat terjadi bencana bisa langsung dilakukan penanganan cepat.

Kondisi cuaca cukup ekstrem intensitas hujan cukup tinggi. Diperkirakan dari Oktober hingga Februari. “Ciamis masuk salah satu daerah dengan rangking ketujuh dalam kerawanan bencana,” ucap Herdiat.

Bupati menyatakan kesiapan sarana dan prasarana secara umum dalam penanganan bencana sudah lengkap. Meski ada beberapa yang kurang dan harus dilengkapi.

“Anggaran juga sudah kami siapkan. Intinya semua pihak harus bahu-membahu menjadi garda terdepan dalam menangani bencana alam,” kata Herdiat.